The Ruined Lily -Chapter 2-

Chapter 2

 

CoverBaru

Kehidupan sebagai anggota gangster rupanya tidak semudah yang Donghae duga. Selain harus merelakan lengan mulusnya di-tattoo dengan gambar naga melingkar—tattoo yang merupakan identitas mutlak Yonggwapi—Donghae harus tahan terhadap peloncoan yang datang dari anggota lain lantaran statusnya sebagai ‘orang baru’. Lebih-lebih pekerjaan itu amat bertentangan dengan hati nuraninya.Tidak ada belas kasih di sana, hanya persaingan kuat memperebutkan posisi terbaik. Siapapun yang berhasil menjalankan misi dengan sukses, maka kepercayaan sang pemimpin akan meningkat terhadapnya.

tattoo-naga-3

Setelah selingan tidak menyenangkan dengan Lee Yoohee seminggu lalu di balkon. Pertemuan yang nyaris saja membuat misinya gagal. Donghae merasa yakin gadis itu belum membongkar motifnya di hadapan Kim Jungmyun. Setidaknya sampai saat ini, tidak ada kecurigaan apapun yang ditunjukkan Jungmyun terhadapnya. Ia bahkan dipercaya mendampingi Lee Jaehee—tangan kanan Jungmyun—yang juga ayah Yoohee, untuk menjalankan sebuah misi. Misi ini berhubungan dengan penyaluran tenaga kerja ilegal dari Filipina.

Bekerjasama dengan sebuah agen tenaga kerja ilegal di Negeri Lumbung Padi tersebut, Jungmyun mendapat pasokan dua puluh orang pekerja dalam menjalankan bisnis hotelnya yang kini berkembang pesat. Empat di antara pekerja tersebut, adalah wanita penari striptis terlatih. Hari ini ia dan Lee Jaehee ditugaskan mengawal para pekerja itu dari perbatasan sampai ke hotel dengan selamat. Tentu saja arti selamat dalam hal ini adalah tanpa sepengetahuan petugas Migrasi dan tidak tertangkap patroli polisi air. Hal ini memang belum dapat dikatakan Human Traficking, seperti yang ditengarai pemerintah sebagai salah satu bisnis berbahaya yang dilakukan Yonggwapi. Namun ia tidak akan menghentikan penyelidikan sampai di sini. Salah satu caranya adalah dengan meraih posisi lebih tinggi dalam kekuasaan Yonggwapi.

Demi mendapat kepercayaan mutlak Jungmyun, Donghae bertekad tugasnya kali ini harus berhasil dengan baik. Setidaknya ia bersyukur ditemani Lee Jaehee, seseorang yang tentunya lebih berpengalaman. Meski usianya nyaris mencapai lima puluh, Lee Jaehee adalah pria tua bertubuh tinggi dengan stamina kuat. Tubuhnya ramping, tangkas dan gesit. Jelas amat terlatih dalam melawan setiap pengganggu yang menghalangi jalannya. Pantas saja bila ia mendapat posisi orang nomor dua di Yonggwapi.

Mengenakan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya, Lee Jaehee memancarkan kewibawaan yang tak terbantahkan. Matanya mengingatkan Donghae pada Lee Yoohee. Menyimpan banyak sekali misteri yang menuntut segenap perhatiannya untuk dipecahkan. Lelaki itu tidak banyak bicara. Tipe seseorang yang akan mengemban tugas dengan sepenuh hati dan berkemauan tinggi.

965

Ia hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin Jaehee merelakan putrinya yang cantik menjadi bagian dari dunia hitam. Apalagi dengan resiko yang akan membahayakan nyawanya. Kecuali bila ia salah menilai Jaehee. Bisa saja lelaki tua itu berhasrat menguasai sang pemimpin gangster dengan menyerahkan sang putri kepadanya. Setidaknya Donghae mendapat satu pelajaran berharga selama bersinggungan dengan dunia hitam. Jangan percayai siapapun, kecuali dirimu sendiri.

“Kuharap kau siap menjalankan tugas pertamamu malam ini.” Lee Jaehee menukas, mengingatkan Donghae bahwa misinya telah menanti.

Dengan sikap tegas, Donghae beranjak. Menunduk sebentar memberi salam, sebelum membalas. “Kau dapat mengandalkanku, Hyeongnim.” Donghae memang belum berpengalaman dalam hal ini. Namun sebagai agen rahasia pemerintah, pelatihan militer yang dijalaninya selama bertahuan-tahun, telah memberi Donghae ketangkasan dalam menghadapi bahaya apapun di lapangan.

“Bagus. Ikuti aku!”

Ditemani beberapa orang anggota lain, Donghae dan Jaehee berangkat menuju pelabuhan. Hari masih sore sewaktu Donghae menaiki kapal bermotor dan mulai berlayar menuju perbatasan.

Berdiri di atas geladak utama, senyum Donghae mengembang. Sejak kecil ia dan Youngri selalu menyukai laut. Rasanya damai hanya dengan menatap birunya permukaan samudera yang tak terbatas, menghirup aroma segar lautan dan merasakan angin kencang bertiup di sekelilingnya.

Jika saja Youngri masih hidup, ia pasti telah mengabulkan impian gadis itu untuk berlayar keliling dunia menggunakan kapal pesiar. Namun sayang, impian itu tidak akan pernah terwujud. Kim Jungmyun penyebabnya. Lelaki kejam itu telah merenggut Youngri dari hidup Donghae untuk selamanya.

“Merindukan sesuatu, eh?” Gumaman pelan Jung Dobin—salah seorang rekannya—mengalihkan perhatian Donghae. Lelaki bertubuh kekar itu menatapnya penuh minat. “Ah, kurasa mungkin bukan sesuatu. Tapi seseorang,” tambahnya dengan nada menggoda.

Setelah satu minggu bersama, Donghae tidak dapat memungkiri bahwa Dobin adalah sosok yang cukup menyenangkan untuk diajak berteman. Selalu memberi Donghae dukungan di saat yang lain terus mengerjainya. Ia hanya tidak ingin terlalu membuka diri, atau bahkan memiliki perasaan emosional yang berlebihan terhadap salah seorang di antara anggota gangster. Tujuannya di Yonggwapi bukan untuk mencari teman, tetapi menjalankan misi penting yang membuatnya harus ekstra waspada terhadap ikatan emosional berupa apapun.

“Tidak ada,” balas Donghae sambil merenung. “Hanya memikirkan masa kecil.”

“Kau suka pantai.” Itu bukan pertanyaan, tapi Donghae tetap mengangguk.

“Selalu memberi ketenangan,” Donghae menambahkan tanpa dipikir lebih dulu. Ia menghirup napas dalam-dalam. Mencoba menyadarkan diri sendiri, agar menghentikan mulutnya memberi informasi lebih banyak.

Setelah berlayar kurang lebih tiga jam, kapal yang ditumpanginya berhenti tepat di belakang sebuah kapal lain, hingga haluannya nyaris menyentuh buritan. Donghae menduga, kapal itu adalah kapal agen yang memuat keduapuluh pekerja ilegal.

Melalui sudut mata, Donghae melihat Jaehee menghampiri lelaki asing berkulit kecokelatan yang menyambut lelaki tua itu dengan wajah penuh seringai. Keduanya melakukan negosiasi singkat dalam bahasa Inggris. Hanya sepuluh menit setelahnya, Donghae dan teman-temannya menggiring keduapuluh pekerja ilegal menuju geladak utama.

“Lee Donghae, pastikan mereka semua sesuai dengan daftar,” datang perintah dari Jaehee yang langsung disambut Donghae dengan sigap.

Berbekal kertas berisi nama dan foto keduapuluh pekerja, Donghae memanggilnya satu per satu. Memastikan mereka adalah orang yang sama.

“Jemuel.” Donghae memulai.

Pemuda tinggi dengan rambut plontos maju. Menemukan kemiripan dengan foto yang terlampir, Donghae mengangguk. Mempersilakan lelaki itu masuk ke geladak dasar. Tersembunyi dari penglihatan para pengawas. Nyaris semua pekerja sesuai, termasuk keempat perempuan penari striptis yang dijanjikan. Mengabaikan lirikan menggoda dari salah seorang di antara mereka, Donghae melanjutkan membaca nama dalam daftar. “Saber.”

Lelaki bertopi baseball maju. Kepalanya tertunduk, seperti menyembunyikan sesuatu. Sejak awal gerak-geriknya memang telah mencurigakan. Hanya saja, Donghae menunggu hingga gilirannya tiba, untuk menghindari keributan.

Memang ada yang aneh, pikir Donghae dengan mata menyipit curiga. Wajah lelaki itu jelas berbeda dengan foto yang terlampir. Namun dengan tenang, Donghae menyembunyikan kecurigaannya. Seolah ia sama sekali belum menyadarinya. Tepat sebelum lelaki itu mengikuti yang lain masuk ke geladak, Donghae mengedik. Memberi isyarat pada Lee Jaehee.

Menangkap isyarat yang diberikan Donghae, dengan gesit Jaehee menyergap dari belakang. Melumpuhkan si penyusup hingga tersungkur dengan kepala terhimpit di antara kakinya dan lantai geladak. “Who are you? Where is Saber?” Lee Jaehee membentak, yang hanya dibalas dengan erangan kesakitan, Saber palsu.

Menyadari gerakan tangan si penyusup yang mencurigakan, Donghae mendekat. Menyiagakan diri kalau-kalau lelaki itu memiliki senjata rahasia. Tepat seperti dugaan Donghae, Saber palsu itu meraih pisau lipat di saku celana jeansnya. Berniat menusuk kaki Jaehee, agar melepas himpitan di kepalanya. Untungnya Donghae bergerak cepat. Menendang tangan lelaki itu, mengakibatkan pisau yang digenggamnya melayang dan jatuh ke dasar laut dengan bunyi plung keras.

Semua yang terjadi tidak lepas dari pengamatan Jaeehee. Lelaki yang biasanya terlihat tenang itu, berubah menjadi sebuas macan. “Bedebah!” Jaehee meraung marah. Dengan kecepatan efisien yang terlatih sejak bertahun-tahun lamanya, ia menendang, menarik lengan lelaki itu dan memitingnya ke belakang tubuh. Mengabaikan kesiap kesakitan yang terlontar dari mulut Saber palsu. Anggota lain melempar tampar setelah mendengar perintah untuk menyekap si penyusup.

“Kita harus membawanya pada Tuan Kim. Dan mencari tahu siapa yang dengan berani mengirimkan lelaki ini,” putus Jaehee tegas.

Tidak ada bantahan. Semuanya diam seribu bahasa, hingga suasana menjadi sesunyi kuburan. Jaehee membiarkan beberapa orang membawa penyusup itu ke bawah. Disekap dengan tubuh terikat dan mulut terkunci rapat.

Menyadari tidak ada yang berani membahas hal ini lagi. Donghae kembali ke tempat semula, melanjutkan memanggil dua orang pekerja yang tersisa. Wajah keduanya pucat pasi, seolah darah menyurut entah ke mana. Terlalu syok menyaksikan perkelahian yang baru saja terjadi. Elyk dan Finn, nama yang tertera di sana dan semuanya cocok.

Donghae mendesah pelan. Mengingat yang baru saja terjadi. Bisa saja hal yang sama terjadi padanya seminggu lalu, jika dirinya tidak dapat berperan sebagai anak buah Jung Mokbin—yang sesungguhnya tidak pernah ada—dengan baik dan cukup meyakinkan. Menyusup dalam kesatuan kuat seperti Yonggwapi bukan hal mudah. Satu kesalahan kecil saja, dapat membahayakan nyawa. Mungkin penyusup itu tidak memperhitungkan bahwa akan ada proses pemeriksaan lebih dulu, sebelum dibawa ke hotel. Siapapun yang mengirim lelaki itu untuk menyusup, Donghae tak bisa menghentikan diri merasa iba.

Tepukan pelan di bahu membuat Donghae tersentak. Lee Jaehee, menggariskan sebuah senyum. Senyum puas yang Donghae yakin jarang ditunjukkkannya pada siapapun. “Kerja bagus,” gumamnya singkat, sebelum melenggang pergi menuju ruang kemudi.

Setidaknya Donghae bersyukur, dan berterima kasih pada penyusup itu. Berkat kehadirannya, ia menuai pujian. Tentu saja, Lee Jaehee tidak akan segan untuk menceritakannya pada Kim Jungmyun. Mendapat kepercayaan mutlak Jungmyun, bukan lagi sebuah tugas yang sulit.

 

***

5ae601555e48dc4cf8ac0419f2e06efe

Bersandar di dinding selagi memerhatikan pintu ruang pribadi Jungmyun yang tertutup, Donghae mendesah jengkel. Mengutuki kegagalannya memasang alat penyadap dalam ruang pribadi Jungmyun yang selalu dijaga ketat selama dua puluh empat jam. Tidak ada seorang pun yang tidak berkepentingan, dapat masuk dengan bebas ke ruangan itu. Jika saja ia memiliki otoritas lebih dibandingkan status sebagai anggota baru, pasti ia sudah berada di dalam. Bergabung dengan Lee Jaehee—tangan kanan—Jo Minwook—tangan kiri—serta Baek Junho—seseorang yang Donghae kenal sebagai pemilik rumah bordil terbesar di Seoul. Aksi kepahlawanannya, dan beberapa tugas lain yang Donghae laksanakan dengan baik nyatanya belum cukup memenangkan kepercayaan mutlak Jungmyun. Ia masih berada pada tingkatan orang terluar. Tidak lebih penting dari Dobin dan Jinki yang tengah asyik membicarakan keempat penari striptis baru.

Sial! Jelas, tugasnya masih jauh dari kata berhasil. Ia belum memiliki hak akses lebih untuk menemukan jaringan sindikat Human Traficking yang diduga dilakoni Yonggwapi secara terselubung. Namun keberadaan Baek Junho sang pemilik rumah bordil terbesar di negeri ini, jelas menjadi sebuah indikasi bahwa dugaan itu benar.

“… melirikmu. Hei, Donghae! Apa kau mendengarku?” pukulan bersahabat Dobin mengagetkan Donghae, dan ia hanya mampu memberikan seringai bingung sebagai jawaban.

“Sial! Teman kita yang satu ini sepertinya sedang kasmaran. Di manapun selalu melamun,” komentar Jinki dengan satu lirikan menggoda.

“Setuju denganmu,” Dobin mengerucutkan bibir sembari mendesah. “Ia bahkan mengabaikan godaan Kathleen si penari tercantik itu. Oh, andai saja aku yang digoda. Pasti menyenangkan memiliki wajah tampan…”

Hyeongnim… Hyeongnim…” Interupsi Hojung yang datang tergopoh-gopoh, menghentikan kalimat Dobin. Lelaki kurus dan jangkung itu mengatur napas lebih dulu sebelum melanjutkan. “Jinkook dan salah seorang anak buah ketua Baek bertengkar. Aku sudah mencoba melerai, tapi—“

Tanpa menunggu cerita Hojung selesai, Donghae melesat ke luar. Menghampiri keributan yang terjadi di basement. Benar seperti yang diceritakan Hojung, Jinkook dan anak buah Baek Junho sedang saling menyerang sewaktu Donghae tiba. Meski sudah nyaris sepenuhnya babak belur, rupanya belum ada yang mau menyerah. Keduanya saling meninju, menendang dan menghantam dengan membabibuta. Sementara beberapa orang lain hanya bertindak sebagai penonton yang setia.

Menggunakan manuver yang telah diajarkan dalam setiap latihan yang dijalaninya, Donghae melesat ke tengah-tengah. Kedua pemuda itu memang jauh lebih tinggi darinya. Tapi dengan cerdik Donghae menggunakan keuntungan tersebut, untuk menyelip. Menendang tungkai anak buah Baek Junho yang langsung jatuh tersungkur, selagi menahan tinju Jinkook dalam prosesnya.

“Berhenti!” bentak Donghae tegas, yang rupanya tidak perlu lantaran kedua pemuda itu sudah terlalu lelah untuk melanjutkan.

“Dia menyerangku lebih dulu!” Menggunakan sisa-sisa kekuatannya, Jinkook menyahut yang dibalas cibiran sang lawan.

Sebelum terjebak dalam perang kata yang tidak berkesudahan, Donghae memotong cepat. “Biarkan Jungmyun Hyeongnim yang memutuskan kalian bersalah atau tidak.”

Mendengar nama sang pimpinan disebut, refleks membungkam mulut Jinkook dengan sendirinya. Anak buah Baek Junho pun bertindak bijaksana dengan melakukan hal yang sama. Berurusan dengan Kim Jungmyun adalah hal terakhir yang diinginkan kedua pemuda tersebut. Terutama bila mereka masih ingin anggota tubuhnya utuh. Semua orang tahu bahwa Jungmyun tidak akan segan-segan memotong jari-jari mereka, bila terbukti membuat masalah.

“Jangan katakan apapun pada Jungmyun Hyeongnim,” pinta Jinkook. Ia menunduk takut, seperti anak kecil yang kedapatan mencuri. Kesombongan yang semula ditampilkannya, kini runtuh tak bersisa.

Donghae harus mengakui dengan sebal, bahwa pengaruh nama Jungmyun memang besar. Memasang wajah garang yang ia harap dapat menakuti Jinkook dan pemuda lainnya, Donghae mengakhiri dengan. “Baiklah! Tapi jaga sikapmu. Jangan membuat masalah lagi.”

 

 

 

Berkat kejadian di basement malam sebelumnya, tidak ada lagi yang berani mengerjai Donghae atau bahkan menjulukinya sebagai ‘orang baru’. Beberapa orang bahkan mengakui bahwa ia tidak dapat dipandang sebelah mata. Meski masih terbilang sangat baru, Donghae terbukti memiliki kemampuan bela diri yang jauh lebih baik dari anggota lain.

Mengikuti perintah, hari ini akan diadakan pertemuan seluruh anggota Yonggwapi tanpa terkecuali. Ruang pertemuan seluas lima kali lima meter itu sudah penuh sewaktu Donghae tiba. Hanya menunggu kedatangan Jungmyun, beserta beberapa pengawalnya yang baru akan tiba tepat pukul delapan.

Lima menit berselang, lelaki itu tiba. Mengenakan setelan jas hitam mahal, Jungmyun berjalan santai di tengah-tengah semua orang yang berbaris dengan kepala tertunduk. Betapa Donghae mengutuk dalam hati, lantaran bajingan beruntung itu tidak berhak mendapat semua kehormatan yang didapatnya. Ia lebih pantas mendekam di penjara bawah tanah dengan rantai besi mengikat tangan dan kakinya. Tuhan tahu dia akan melakukan apapun demi membuat hal itu menjadi nyata.

1858_4966_l

Setelah dipersilakan duduk oleh Jaehee yang dengan setia berdiri di sampingnya, Jungmyun memulai pertemuan tersebut dengan berkata, “Aku mengumpulkan kalian di sini untuk mengumumkan, bahwa selama satu Minggu ke depan, aku harus ke Shanghai demi menghadiri sebuah pertemuan penting.”

Bagus, apa lagi sekarang? Rutuk Donghae dalam hati. Ia pasti belum cukup dipercaya untuk menemani Jungmyun ke Shanghai. Dan sudah pasti tidak akan ada informasi penting yang akan ia dapat. Satu minggu akan berlangsung sia-sia. Meskipun Donghae sadar, misinya memang tidak akan usai dalam waktu singkat.

“Sementara aku dan Jaehee Hyeongnim pergi, tidak ada yang boleh menentang perintah Minwook. Apalagi berbuat kekacauan tanpa sepengetahuanku.”

Menangkap raut berseri-seri Jo Minwook—lelaki berambut gondrong pemilik seringai licik—yang berdiri di sisi kiri Jungmyun, Donghae mendengus pelan. Satu lagi bencana, bila mengingat betapa semena-menanya lelaki itu.

“Atau… kalian tahu hukuman macam apa yang akan diberikan.”

Seluruh anggota menunduk paham. Bahkan meski Donghae yakin beberapa orang sangat keberatan dengan posisi Jo Minwook yang baru—walaupun hanya untuk sementara—tidak ada yang berani menyuarakan bantahan. Terlalu takut pada hukuman yang menanti.

Usai pertemuan yang sisanya diisi dengan pengaturan tugas selama Jungmyun pergi, Donghae baru akan melangkah keluar, sewaktu mendengar namanya disebut. “Lee Donghae!”  Jaehee. Suara tegas berwibawa itu, selalu mampu menimbulkan rasa hormat yang tidak ingin diakuinya. “Jangan pergi dulu, ada yang akan kami bicarakan denganmu,” tambahnya sewaktu Donghae berputar. Otomatis bertemu pandang dengan Jungmyun yang memberinya tatapan penuh minat.

“Aku sudah mendengar cerita Jaehee Hyeong tentang kehebatanmu dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan,” pujian itu jelas mengejutkan Donghae, ditambah seringai puas yang tersungging di bibir Jungmyun. Seolah ia baru saja menemukan tambang emas baru dalam diri Donghae.

“Hanya menjalankan tugas,” Donghae sengaja merendah, walau ada senyum kemenangan yang berhasil disembunyikan dalam topeng tidak pedulinya.

Lama hening, sebelum Jungmyun kembali melanjutkan. “Pujian memang tidak bagus untuk peningkatan kemampuan seseorang. Jadi aku tidak akan mengatakannya.” Donghae mau tidak mau harus setuju dengan prinsip Jungmyun. Seperti yang ia tahu, pujian memang bersifat menyenangkan, namun dapat pula menghanyutkan bila terlalu lalai menyikapinya.

“Kalau begitu, hal penting apa yang akan kau sampaikan, Hyeongnim?” Mula-mula memang agak sulit bersikap hormat pada musuh tersbesarnya, namun Donghae sudah mulai terbiasa menjalankan peran sebagai ‘anak buah yang baik’.

“Ada tugas penting yang aku ingin kau lakukan.”

Meledak dalam kemenangan, Donghae nyaris kesulitan menahan ekspresinya tetap datar. Tugas, tugas, tugas. Betapa ia berharap tugas ini berhubungan dengan penyelidikannya selama ini.

Karena tidak ada sanggahan dari Donghae, Jungmyun melanjutkan. “Setelah pertunanganku diumumkan, ada beberapa ancaman yang diarahkan pada Yoohee.” Mendengar nama gadis Lily itu disebut, ada gejolak aneh menggelitik di perutnya. Gejolak yang tidak ingin diakui Donghae sebagai rasa senang. “Sedangkan Sabtu besok, Yoohee harus terbang ke Jeju untuk pementasan musical.”

Seorang aktris musical, renung Donghae. Tidak bisa menghentikan dirinya membayangkan Yoohee memerankan sosok perempuan seksi di atas panggung. Mungkin bakat aktingnya pula yang berhasil mengelabui Donghae pada pertemuan pertama. Hingga ia salah mengira gadis itu terlalu polos dan tidak mengerti bahayanya menjadi bagian dari gangster.

“Mengetahui kehebatanmu, Jaehee Hyeong menyarankan agar aku menyerahkan keselamatan Yoohee padamu.”

Donghae membeku. Tidak berani memercayai telinganya sendiri. Mungkin tugas yang diberikan bukanlah hal yang significant bila menyangkut misi yang dibebankan padanya, tapi tidak dapat disepelekan, lantaran orang yang harus ia jaga adalah calon istri Kim Jungmyun.

“Aku akan berusaha sebaik mungkin.” Donghae memilih menunduk untuk menghindari bertatap muka dengan Jungmyun. Takut kalau-kalau lelaki itu dapat membaca keraguan di wajahnya.

Geletak sepatu pantofel terdengar mendekat, hingga Donghae merasakan tepukan pelan tangan besar Jungmyun di bahunya. Seharusnya ia muak, namun Donghae menahan setiap letupan emosi untuk tidak menyingkir dari sentuhan itu. “Bagus, kalau begitu. Aku tidak ingin ada kesalahan. Jika tidak, ada hukuman setimpal yang menantimu.” Setelah mengatakan itu, Kim Jungmyun berlalu pergi bersama Jaehee dan pengawal lainnya.

Donghae sadar, ini hanyalah sebuah tes kesetiaan untuknya. Kim Jungmyun memang bukan lawan bodoh yang dapat dikelabuinya dengan mudah.

 

***

Persiapan mental yang dilakukan sejak malam kemarin, rupanya belum mampu membuat Donghae merasa lega. Pertemuan dengan Lee Yoohee pagi ini, mau tidak mau menghadirkan kegelisahan dalam benak Donghae. Selain fakta bahwa gadis itu mengetahui motif balas dendamnya, ia masih dibingungkan oleh sikap Yoohee yang belum mengadukan semua itu pada Kim Jungmyun. Seolah ada misteri menggantung di antara mereka, yang belum sempat terselesaikan..

Donghae masih ingat kalimat terakhir yang diberikan Yoohee, sebelum meninggalkannya mengerang seorang diri di balkon. “Mungkin… aku akan mengadukanmu. Mungkin juga… tidak.”Ia tidak bisa menghentikan diri bertanya-tanya, mengenai apa tujuan Yoohee menangguhkan pengakuannya terhadap Kim Jungmyun, di saat orang lain tidak perlu menunggu satu menit pun untuk mengatakannya.

Dalam balutan kaus putih yang ditutup kemeja abu-abu serta hotpants berwarna senada, memamerkan kaki mulus tanpa cela miliknya, Lee Yoohee keluar dari pintu rumah bergaya minimalis modern bernuansa cokelat dan putih, yang berdiri megah di hadapannya. Donghae diberitahu bahwa rumah itu merupakan hadiah ulang tahun Yoohee dari Jungmyun beberapa bulan lalu. Meski kacamata hitam lebar dengan bingkai berwarna merah menutupi keterkejutan Yoohee akan kehadiran Donghae, untuk sepersekian detik ketegangan tubuhnya jelas terlihat.

donghaer-horz

“Kau…” sapanya singkat. Sama sekali tak menyangka, Donghae lah yang akan dipilih Jungmyun untuk menemaninya ke Jeju. “Cerdik juga,” Yoohee menambahkan, diikuti senyum misterius yang bermain-main di bibirnya.

Sial! Donghae benci mengakui bahwa gadis ini memegang kartu penting dalam misinya. Yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan atau justru menyelamatkannya.

Melawan musuh frontal seperti Kim Jungmyun akan jauh lebih mudah, daripada menghadapi muslihat wanita misterius yang memegang kunci keselamatanmu sendiri, pikir Donghae muak, selagi menutup pintu mobil dan memerintahkan supir untuk melaju ke bandara.

 

TBC

4 thoughts on “The Ruined Lily -Chapter 2-

  1. Si yoohee misterius bgt ya.. jd penasaran dgn sosoknya, kira2 dia bakal laporin donghae gk ya, ditunggu lanjutannya y😀

  2. bikin penasaran aja ma yoohee ko dia ga cerita ma tunanganya ya klo donghae cm ingin balas dendam doank makanya donhae mau bekerja ma jungmyun.trus ko jungmyun malah nyuruh donghae bt nemenin yoohee ke jeju..sbenarnya yoohee seneng ga sh bertunangan ma jungmyun??

  3. donghae seketika kmbali frustasi ngeliat yoohee yg misterius,, yoohee knp masih menyimpan rahasia donghae? apaa sebenar nya yoohee juga tengah menjalankan misi balas dendam sama seperti hae??
    kkkk~~ hanya author yg tau :v

    makasih udh di post di wp thor :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s