The Ruined Lily -Chapter 1-

The Ruined Lily

CoverBaru

Cast

Lee Donghae Super Junior as Lee Donghae

smtown-hae7605

 

Kim Nam Gil as Kim Jungmyun

1858_4966_l

 

Park Soyeon T-ara as Lee Yoohee

tiara0266

 

Chapter 1 – That Girl-

 

Pesta yang meriah. Puluhan pria dan wanita berpakaian bagus, memenuhi ballroom hotel yang dikemas dalam nuansa emas dan putih. Sebuah komposisi lembut dari Mozart mengalun, memberi kesempatan pada setiap pasangan untuk berdansa. Berbagai suguhan ditawarkan di atas meja panjang berlapis satin putih, yang dihiasi Lily cantik di sepanjang pinggir meja. Mulai dari sirloin steik, salmon asap, spaghetti, aneka seafood, hingga salad buah yang menggugah selera. Belasan pelayan berseragam putih dan hitam, membawa nampan berisikan sampagne kualitas terbaik, yang disambut para tamu dengan penuh antusias.

Lee Donghae, meraih satu gelas sampagne dan menghirup aroma kuat yang menguar dari cairan berwarna keemasan tersebut. Tatapannya masih terfokus pada pria bertubuh tinggi tegap yang berdiri di dekat panggung. Kim Jungmyun. Sang tuan rumah. Pria berusia awal 40-an itu adalah bos besar Kkangpae–gangster–terkenal yang menguasai hampir seluruh wilayah Incheon.

534799_266288456802234_100002632446152_487221_864603637_n

Bila ada kemarahan besar di hatinya, Donghae berhasil menutupi dengan baik. Senyum palsu senantiasa tersungging di bibir tipis Donghae. Menyembunyikan niat yang terpendam sejak bertahun-tahun silam. Kini ia telah dekat dengan tujuannya, dan kata gagal adalah hal yang harus ia hindari.

Prince, alihkan tatapanmu pada hal lain. Sebelum lelaki itu sadar kau terus memerhatikannya.” Bisikan pelan Jongmin menghidupkan alarm waspada di otak Donghae, yang secara refleks mengalihkan perhatian pada gelas-gelas kristal cantik yang disusun menjadi gunungan berisi sampagne berbuih. Jongmin benar tentang itu. Ia tidak boleh terlihat terlalu mencurigakan, jika tidak ingin rencananya gagal.

Matanya beralih lagi pada objek-objek tidak penting menyusuri seluruh ruangan pesta, hingga secara tidak sengaja sebuah objek cantik menarik perhatian Donghae. Di sana, di lantai dua. Tersembunyi di antara tanaman merambat yang menghiasi dinding, sepasang mata bulat jernih balas menatap padanya. Mata itu milik seorang gadis, bergaun putih bersih dan rambut ikal sepunggung. Ada senyum tipis tersungging pada bibir berwarna merah membara, yang kontras dengan kulit seputih susu miliknya. Bila gangster adalah dunia hitam buruk yang serupa selokan busuk, maka gadis bergaun putih itu adalah Lily cantik yang tumbuh tidak pada tempatnya.

tiara0838

Untuk sepersekian menit napas Donghae serasa terhenti. Sesuatu dalam tatapan gadis itu, seolah meminta Donghae untuk memindahkannya ke tempat yang benar. Ke sisi yang bersih dan sesuai untuk bunga lambang kesucian seperti Lily.

Siapa dia? Donghae tidak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya. Jika dia adalah putri Jungmyun, maka Donghae berharap gadis itu tidak berhubungan dengan setiap kekejaman yang dilakukan ayahnya. Lebih mengherankan lagi, karena ia pun berharap dapat melindungi gadis itu demi menjaganya tetap murni. Seolah tugasnya saja belum cukup membuat Donghae bermain-main dengan bahaya.

Hanya beberapa menit setelahnya, pertanyaan Donghae pun terjawab sewaktu sang pembawa acara mengumumkan, “Kita sambut pasangan yang berbahagia, Tuan Kim Jungmyun dan Nona Lee Yoohee.”

Ledakan bom artileri pun tidak mampu menggambarkan keterkejutan Donghae. Alih-alih gadis Lily itu putri Jungmyun, ia adalah calon istrinya. Wanita yang akan segera dinikahinya. Donghae tahu malam ini adalah pesta pertunangan Jungmyun dengan kekasihnya. Lelaki yang telah menduda cukup lama itu kehilangan istri pertamanya dalam peristiwa kecelakaan tragis dua tahun silam. Bahkan ada dugaan bahwa Jungmyun sendirilah dalang di balik kecelakaan tersebut. Namun seperti biasa, dengan kekuasaan besar yang dimilikinya, Jungmyun dapat membungkam pihak kepolisian dan menutupi keterlibatannya.

Ketakutan yang tidak beralasan menjalari tulang punggung Donghae. Bagaimana bila hal serupa terjadi pada gadis itu? Donghae yakin, bila Jungmyun telah bosan, maka ia tidak akan segan untuk menyingkirkan gadis itu seperti ia membuang istri pertamanya.

Tidak. Donghae tak akan membiarkan hal yang sama kembali terulang. Terutama pada gadis itu, yang Donghae yakini sama sekali tidak paham dengan dunia yang baru saja dimasuki.

“Lee Yoohee, putri Lee Jaehee. Tangan kanan Jungmyun…” Sayup, terdengar bisikan samar Jongmin—salah seorang rekannya, yang malam ini menyamar sebagai pelayan—selagi tatapan Donghae mengikuti sosok bergaun putih yang tengah menuruni tangga. Bergandengan mesra dengan musuh terbesarnya. Hanya Tuhan yang tahu, betapa Donghae berharap dapat memenggal kepala Jungmyun, dan menggantikan posisinya detik ini juga.

 

 

 

Dibawa ke ruang pribadi Jungmyun, Donghae mengatur napas cepat. Mencoba menenangkan diri dari amarah yang terus timbul setiap kali matanya menangkap sosok kejam sang ketua gangster. Lelaki itu memang tidak tampak setua perkiraan Donghae, dengan kumis tipis, seringai licik serta tatapan setajam mata pisau, Jungmyun mampu menakuti singa lapar sekalipun hanya dengan kehadirannya. Pesta di lantai bawah masih berlangsung, setelah prosesi penyematan cincin pertunangan dari pasangan—yang menurut Donghae sama sekali tidak cocok itu—kini diisi dengan acara makan-makan santai. Sesuai janji, dua orang anak buah Jungmyun membawa Donghae ke lantai atas untuk bertemu Jungmyun secara pribadi.

13731457_988525087934512_8955436121832178925_n

“Jadi kau… anak buah Jung Mokbin.” Suara bariton tegas seolah menjadi pelengkap yang menyempurnakan otoritas tak terbatas Jungmyun. Namun Donghae tidak takut. Ia mungkin sedikit tegang, Donghae harus mengakui itu. Sedangkan takut adalah hal yang telah lama ia lupakan. Lebih-lebih malam ini sudah ia tunggu sejak lama.

Dengan santun, Donghae mengangguk diikuti jawaban, “Benar, Tuan Kim.” Walau dalam hati ia memaki sekuat tenaga. Berharap dapat melenyapkan Jungmyun dalam sekali tebas. Kebencian Donghae terhadap Jungmyun bukanlah tanpa alasan. Dan ia benci harus mengakui, lelaki itu masih menikmati kehidupan yang nyaman, setelah bertahun-tahun menyengsarakan kehidupannya. Merampas mimpi beserta cintanya.

“Aku turut berduka untuknya,” Jungmyun membalas, walau Donghae menyadari tidak ada sedikit pun rasa simpati di matanya.

“Ya, sangat disayangkan. Karena dia tidak mampu meloloskan diri dari kejaran polisi,” dusta Donghae lancar.

“Tapi bisnis tetaplah bisnis, dan aku senang kau berhasil mengamankan benda itu. Apalagi sukses membawanya ke mari,” tambah Jungmyun selagi bersandar pada kursi kulit dengan gaya santai. Donghae menyadari ada tatapan meneliti yang diarahkan lelaki itu padanya, seolah ia objek penelitian yang menarik. Karena itulah Donghae tidak boleh menggagalkan sandiwara ini dengan membuat sedikit pun kesalahan.

Tentu saja ia selamat. Karena ia sendirilah yang membunuh Jung Mokbin dan mengarang semua kisah ini. ”Saya hanya menjalankan tugas. Tuan Jung mengatakan, bahwa ini adalah tugas yang amat penting,” balasnya dengan amat meyakinkan. Mensyukuri ketekunannya mempelajari setiap dialog yang harus diucapkan. “Karena itulah, harus dilaksanakan sampai tuntas.”

Seringai tipis tersungging di bibir Jungmyun. Seringai yang sama sekali tidak melambangkan keramahan. “Aku mengagumi tekadmu untuk itu,” katanya, tanpa sedikit pun nada memuji. “Jadi, di mana barangnya?”

Meletakkan tas besar yang tadi dibawanya di atas meja, Donghae menjawab. “SPS SR1M kualitas terbaik, diimport langsung dari Rusia. Pistol ini dikenal akan akurasinya yang luar biasa, bahkan di tangan penembak awam sekalipun, sepuluh tembakan mencetak 2,5 inci dari jarak 25 meter, dan 12,5 inci dari jarak seratus meter.”

1443257818

Ada anggukan dan senyum puas di wajah Jungmyun selagi tangannya membuka tas, dan mengeluarkan pistol buatan Rusia beserta selongsong pelurunya yang amat mematikan tersebut. Dengan berhati-hati, lelaki itu menyentuh dan menimang, seolah pistol tersebut adalah benda paling berharga di seluruh muka bumi.

“Satu tembakan dari pistol ini, khususnya dengan kaliber SP10 9×21 mm yang dikembangkan khusus untuk SPS, dapat menembus hingga tiga lapisan Kevlar yang dilengkapi baik dengan titanium hingga 1,4 mm atau baja hingga 4 mm,” Donghae melanjutkan monolognya. Puas menyadari betapa  lancar dialog yang telah ia latih.

“Kau pantas mendapat penghargaan atas keberanianmu, Anak muda.” Yang membuat Donghae terkejut, adalah nada suara Jungmyun yang mulai melunak. Sepertinya lelaki itu telah belajar untuk mempercayai Donghae.

Ha! Bagus, pikir Donghae muak. Rupanya tidak sulit mendapatkan kepercayaan Kim Jungmyun sang ketua gangster Yonggwapi yang tersohor.

“Katakan padaku… apa yang kau inginkan?”

Donghae menyembunyikan seringainya selagi menunduk. “Lantaran Tuan Jung telah tiada, akan lebih baik jika kau mengijinkanku menjadi bagian dari Yonggwapi.”

Sekilas, Donghae menangkap kernyitan di kening Jungmyun sebelum wajah kejamnya kembali tanpa ekspresi. “Jadi… kau ingin bergabung dengan kami?”

“Jika kau mengijinkan.”

Tawa tanpa humor meluncur dari tenggorokan Jungmyun. “Kau tahu peraturannya, bukan?” tanyanya santai. “Setelah masuk, tidak ada jalan keluar selain kematian.”

“Aku tidak akan menawarkan diri jika tidak tahu.”

Jungmyun memilin jari-jarinya menjadi satu, tampak lebih puas dari sebelumnya. “Kau memenuhi karakteristik yang kuinginkan sebagai anggota Yonggwapi.” Jeda singkat sewaktu Jungmyun berdiri dari kursi kebesarannya, lalu melanjutkan dengan, “Siapkan upacara pelantikannya besok,” perintah Jungmyun pada anak buah yang masih setia menemani di ambang pintu. “Dan untuk malam ini, kau dapat menikmati kemewahan hotel sebagai tamu kami,” tambahnya pada Donghae.

Mungkin merasa lega bukanlah pilihan yang tepat. Tugas awal memang telah usai. Ia berhasil mengelabui Kim Jungmyun dengan baik. Kini, ia masih perlu masuk lebih dalam lagi, hanya untuk menghancurkan kekuatan mereka dan membawanya pada kehancuran total.

Baru saja Donghae memutar tubuh setelah menggumamkan terima kasih dan pamitan singkat, ia dikejutkan dengan sosok bergaun putih yang kini berdiri di ambang pintu. Lee Yoohee. Menatapnya dengan pandangan menilai. Seolah mempertimbangkan maksud dan tujuan Donghae memilih bergabung dengan gangster pimpinan sang calon suami. Oh, Donghae merasa muak mengingat status tersebut.

Dari sekilas tatapan yang dilemparkan gadis itu untuknya, Donghae menyadari bahwa kesan awalnya salah besar. Gadis itu tidak sepenuhnya awam dengan dunia hitam yang digeluti Jungmyun. Bahkan mungkin ia telah terlibat di dalamnya. Entahlah, Donghae tidak mampu menebak. Ia hanya ingin membenturkan kepala ke tembok, karena sempat tertipu oleh wajah cantik polos sang Lily yang rupanya berduri.

Tidak ingin dicurigai lantaran berlama-lama menatap Lee Yoohee, Donghae bergegas pergi. Membuang jauh-jauh perasaan ibanya yang salah tempat. Sayup, Donghae masih mendengar suara percakapan Yoohee dan Jungmyun, yang membuatnya seratus persen yakin bahwa mengabaikan gadis itu adalah hal yang tepat.

Ajoessi, boleh aku masuk?”

“Tentu saja, Sayang. Kaulah yang kutunggu sejak tadi.”

 

***

 

“Semua berjalan sesuai rencana.” Donghae melapor pada seseorang di seberang telepon, selagi berdiri di balkon kamarnya yang sunyi. Kedua tangannya mencengkeram kuat besi pembatas pagar sewaktu detik demi detik pertemuan dengan Kim Jungmyun kembali terputar, seperti film misteri yang menegangkan.

Langkah awal telah terpenuhi. Dengan pengendalian diri yang nyaris membuatnya gila, ia berhasil mengelabui ketua gangster itu. “Bagus. Tapi ingat, jangan berpuas diri dulu. Sebelum misi ini berhasil,” datang tanggapan dari seberang.

Ia tidak perlu diingatkan tentang itu. Tentu saja misinya masih jauh dari kata berhasil. Tanpa menjawab pesan terakhir tersebut, Donghae memutus sambungan telepon. Ada desah pelan yang meluncur dari tenggorokan, selagi ingatannya melayang pada malam naas bertahun-tahun silam.

 

 

Tas sekolah meluncur turun dari lengan Donghae dengan bunyi gedebug pelan, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Berita itu bagai sambaran petir yang seketika memporak-porandakan hidupnya. Seperti zombie, ia berjalan pelan, menghampiri rumah duka yang kini dipenuhi pelayat berpakaian hitam.

Di sana, di hadapannya. Sesosok mayat terbujur kaku dalam peti mati. Air mata meluncur turun membasahi pipi Donghae yang dingin, selagi bibirnya mengucap kata, “Noona…” berulang kali tanpa suara.

Gadis itu. Shin Youngri, adalah poros hidupnya selama ini. Gadis yang hanya lebih tua 3 tahun darinya itu, telah memberikan segalanya untuk Donghae. Semenjak kematian kedua orang tuanya dalam peristiwa kebakaran besar 5 tahun lalu, kebakaran yang menghanguskan seluruh properti beserta orang-orang yang dicintainya, Donghae mungkin tidak akan hidup layak jika Youngri dan keluarganya tak memberi tempat tinggal dan kasih sayang seperti orang tua kandung.

Berlutut tepat di depan peti mati Youngri, Donghae menangis tanpa suara. Beban berat serasa menghimpit dadanya, membuat Donghae sesak oleh kesedihan pekat. Ia pernah kehilangan segalanya, sebelum akhirnya diselamatkan. Tapi kini, penyelamatnya telah pergi. Youngri yang dicintainya telah tiada. Meninggalkannya tanpa peringatan lebih dulu. Selayaknya gasing yang kehilangan porosnya, hidup Donghae hanya berputar-putar tanpa arah yang jelas, hanya menunggu waktu yang tepat untuk berhenti.

“Donghae, Youngri hanya tidur, bukan? Seharusnya ia sudah bangun dan mengingatkanku untuk minum obat. Tapi… tapi, kenapa sekarang tidak?” Tangis pilu Han Sunyoung—ibu Youngri—yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri, menambah sakit hati Donghae.

Dengan sayang, ia merengkuh tubuh ringkih wanita itu. Memeluknya erat, seolah ingin menyalurkan kesedihannya sendiri.

Gadis cantik dan baik seperti Youngri harusnya hidup bahagia. Menikah dengan suami yang baik, dan membesarkan anak-anak yang baik pula. Tapi, saat ini semua itu hanya angan semata. Youngri pergi lebih cepat dari yang mampu dipikirkannya. Bahkan ia tidak memiliki hari esok, untuk mendengarkan kabar kelulusannya yang sudah dekat.

“Polisi dan para saksi bilang, Youngri menyeberang sembarangan. Tapi aku yakin, putriku tidak seperti itu. Dia gadis paling taat aturan yang pernah kutemui.” Shin Jaehyung—ayah Youngri—memprotes entah pada siapa. Tinjunya terkepal erat, seolah ingin menyalurkan emosinya yang menggelegak. Ayah mana yang akan rela, bila putri semata wayangnya direnggut paksa seperti ini?

Meskipun orang-orang percaya bahwa kematian Youngri murni sebuah kecelakaan, namun Donghae yakin ada keterlibatan pihak lain di dalamnya. Bukan rahasia lagi bila dua hari sebelum kematiannya, Youngri menolak tegas rencana penggusuran daerah yang ia tinggali.

Satu yang amat dikagumi Donghae dari Youngri. Gadis itu pemberani dan tangguh. Bahkan meski harus melawan sekawanan anak buah dari gangster paling ditakuti di Incheon pun, tidak membuatnya gentar. Hari itu Youngri berada di baris terdepan di antara penduduk yang tidak terima rumahnya digusur untuk pembangunan beberapa fasilitas pemerintah.

“Kompensasinya terlalu kecil,” protes Youngri kala itu. Tapi tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan. Menganggap Youngri hanya gadis remaja bodoh yang kelebihan energi. Mirisnya, pemerintah justru menyewa jasa gangster untuk memuluskan rencana penggusuran tersebut. Seolah kompensasi kecil saja, belum cukup membuat warga menderita. Dan Donghae tahu bagaimana prinsip kerja para gangster tersebut. Menghalalkan segala cara, demi mendapat yang diinginkan.

Selagi menatap wajah pucat Youngri yang kini tidak lagi bernyawa, mengingat setiap senyum yang diberikan gadis itu untuknya, Donghae bersumpah akan membalas dendam. Mungkin tidak sekarang, karena Donghae masih terlalu muda untuk dapat melawan setiap ketidakadilan yang menimpa keluarga Youngri. Tapi ia berjanji, segala penderitaan Youngri beserta ayah dan ibunya, akan terbayar di kemudian hari. Bahkan meski ia harus menukar dengan nyawanya sendiri.

 

 

Kini, setelah bertahun-tahun menunggu. Kesempatan itu datang seperti seekor ikan yang dengan senang hati memakan umpannya. Donghae tidak mungkin menyia-nyiakan semua ini dengan membuat satu kesalahan pun. “Kim Jungmyun. Tunggu saja pembalasanku!”

“Membalas dendam. Jadi itu tujuanmu sesungguhnya?”

Sentakan kesadaran mengalihkan perhatian Donghae. Mata lelaki itu melebar terkejut, menyadari adanya penonton. Tepat di sisi balkon kamarnya, Lee Yoohee berdiri. Menatap Donghae dari balkon yang lain.

“Kau… memata-mataiku.” Adalah respon awal Donghae.

Yang segera disesalinya, lantaran ada tawa kecut terlontar dari bibir mungil Yoohee. Siapa sangka bila gadis berwajah polos sepertinya, mampu bersikap sinis. “Tidak ada untungnya bagiku,” balasnya santai. Mengalihkan perhatian pada bulan sabit yang bertengger di langit ditemani bintang-bintang. “Selain sejak awal aku tahu ada hal lain yang kau inginkan, tidak ada yang menyangka bahwa kau akan menempati kamar di sebelahku.”

Tatapan Donghae turun, dan ia baru menyadari bahwa Yoohee tidak lagi mengenakan gaun pesta berwarna putihnya. Gadis itu telah menggantinya dengan gaun tidur tipis selutut. Memperlihatkan lekuk tubuh sempurna miliknya. Belahan dadanya rendah, namun tidak ada sedikit pun kecanggungan untuk tidak menyombongkan dua gundukan mengagumkan di dadanya. Kulit Yoohee yang seputih susu, tampak selembut sutra. Mungkin menyentuhnya, akan menjadi pengalaman paling menyenangkan, apalagi bila semua itu dapat ia lakukan dengan lidah dan bibirnya. Oh, Sial!

Pantas jika Jungmyun tergila-gila padanya, batin Donghae muram selagi mencoba mengendalikan hasratnya sendiri.

Tidak ada waktu untuk bermain-main dengan gadis ini. Ada masalah penting yang harus ia tangani lebih dulu. Jika tidak, rencananya bisa gagal hanya karena satu kesalahan kecil.

“Jadi, kau akan mengadukanku?” pancing Donghae, setelah sekian lama hening. Berhati-hati agar suaranya tidak terdengar terlalu berharap.

Yoohee kembali meliriknya dengan tatapan spekulatif. Satu senyum misterius tersungging, beserta tanggapan menyebalkan yang membuat Donghae nyaris frustrasi. “Bagaimana menurutmu?”

Sial! Apa yang harus ia lakukan untuk membuat Lee Yoohee tutup mulut?

 

 

TBC

 

Okaayyy, this is my new Fict. Sebenernya gak mau dipost di sini, di wattpad ajah. Tapi karena banyak yg gak bisa baca, jadi kupost di sini juga deh…

Enjoooyy~ ^_^

NB: Bagi yg punya wattpad… dan ngerasa lebih nyaman baca di sana… silakan buka link ini😉 ==> The Ruined Lady -Chapter 1-

15 thoughts on “The Ruined Lily -Chapter 1-

  1. Yeaayyy,,,,
    Akhirnya bisa baca juga ^^

    Waw,ini keren..
    Jangan2 nnti Donghae malah jatuh cinta lagi sama YooHee.
    Semoga rencana awal’a Ongek gak gagal deh🙂

    Setelah sekian lama,akhirnya si Eonni bangun dari tidur panjangnya (?) dan kambek dengan FF baru.
    uyeeeee……

  2. finally di post!! Kangen ff mu tau…. Dan suka banget ceritanya! Penasaran sama sosok yoohee, apa alesan dia mau aja tunangan sama jungmyun. Beneran cinta atau punya tujuan lain kaya donghae. Ditunggu next chap nya!

  3. finally dipost! Kangen ff mu tau. Seru ceritanya! Penasaran sama yoohee, apa alesan dia mau aja tunangan sama jungmyun. Beneran cinta atau punya tujuan lain kaya donghae????? Nunggu momen yoohee-donghae nih. Heheeh ditunggu next chap nya!

  4. finally dipost! Nunggu banget ff ini. Penasaran sama yoohee. Kenapa dia mau aja tunangan sama jungmyun. Beneran cinta atau punya tujuan lain kaya donghae? Ditunggu next chap nya!

  5. greget baca nyaa…
    Donghaee kudu ati2 ama si cantik ituu, ati2 jatuh cinta :v

    yoohee knp manggil calon suami nya ahjussi?? :3 rasa nya pen nyodorin ongek aja buat yoohee >.<

    mksh udh di post di wp thor
    ff nya kece sangat (y)

    • Hoakakakkkkk…. Iya bener!!!! Salah-salah jatuh cinta dia yaa~ :v
      Kan calon suaminya jauh lebih tua, jadi dipanggil ajeossi :p #digetokNamgilOppa
      Thank youuuu, dah baca :*

  6. jdi donghae ikt berkabung dgn kim jungmyun cm ingin balas demdan atas meninggal nya org tua jg youngri gadis yg udah menolong jg menyelamat kanya,penasan ma yeonhe apa dia akan mengadu pa tunanganya kenapa yeonhe bs bertunangan dgn kim jungmyun,,,

  7. Maaf ya aq baru bisa bc skrg pdhl udah di tag dari kemarin2😀 cerita awalnya saja sdh bagus apalagi selanjutnya.. penasaran bgt kelanjutannya.. semoga cpt publis capter selanjutnya😀 trimksh y udah di post disini jd aq bisa bc😀

  8. Hai kak akhirnya setelah sekian lama ga update 😢😢😢😢
    Nongol juga astaga i miss youu 😍😍😍😍😍😍😍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s