[Another Story] Passionate Love -Chapter 10-

Chapter 10

 

 10406823_335685739934361_3356047657527712673_n

 Credit Pict: Almida Rahayu (Park Min Hyun)

 

“Pertanyaannya adalah, dari mana dia tahu bahwa kau ingin balas dendam?”

Aku mengernyit, baru menyadari pertanyaan yang tidak sempat terpikirkan olehku sebelumnya. Seungho benar. Dari mana Donghae tahu bahwa aku ingin membalaskan dendam Appa terhadapnya? Apakah sikapku terlalu jelas selama ini, ataukah memang masalahnya tidak sesederhana perkiraanku sebelumnya. Sial! Aku tidak bisa menemukan jawabannya.

Setelah menceritakan semuanya pada Seungho, aku pikir aku akan merasa lebih baik. Tapi faktanya, aku belum mampu menemukan alasan untuk merasa tenang. Pertengkaran hebatku dan Donghae berhasil membuatku gelisah. Di satu sisi aku merasa puas karena berhasil memberi pelajaran pada lelaki yang telah menghancurkan hidupku, namun di sisi lain… aku merasa bahwa ada bagian-bagian dalam diriku yang tidak menginginkan perpisahan itu terjadi.

Menatap jauh pada Sang Surya yang mulai menyembunyikan dirinya di ujung cakrawala, aku mendesah berat. Membiarkan rambutku tertiup semilir angin sore musim gugur yang dingin. Pantai Incheon sudah sepi, hanya menyisakanku dan Seungho yang sedang sibuk bergulat dengan pikiran masing-masing. Aku menggerakkan kakiku di atas pasir putih yang lembut. Mengusir pikiran-pikiran gelisah yang terus menyelubungi benakku.

“Menurutmu, apakah keputusanku ini sudah benar?” Meski amat lirih, aku tahu Seungho bisa mendengar pertanyaanku dengan baik. Karena itulah ia beralih menatapku.

“Sudahlah! Lupakan dia. Setidaknya, kau bebas sekarang.” Ia menyahut setelah melepaskan sebuah desahan berat. “Satu yang kusesalkan darimu, kenapa kau tidak menceritakan semua ini sejak awal? Apakah kau begitu tidak percaya pada—”

“Bukan begitu, Ssong!” selaku muram lalu menunduk, menolak bertemu mata dengannya. “Aku minta maaf karena menyembunyikannya darimu. Lagi pula, apa yang bisa kau lakukan untuk meringankan bebanku?”

Seungho mendesis. Ia tampak sangat gusar, tinjunya mengepal dan dihantamkan ke tengah udara kosong. Tapi aku sadar kemarahannya bukan ditujukan untukku. Seungho terlihat marah pada dirinya sendiri. “Aku tahu, aku datang terlambat,” suaranya terdengar penuh emosi dan penyesalan. “Tapi setidaknya, aku bisa memberinya sedikit pelajaran.”

Ya Tuhan! Segera aku beranjak, menyusul Seungho yang sudah berdiri dan berlari menuju bibir pantai. “Kalau kau berani melakukan itu, aku akan marah padamu.” Aku mencoba memperingatkannya.

Seungho kontan berbalik. Kernyit dalam timbul di keningnya selagi menatapku dengan tajam. Sementara bibirnya yang tebal menyunggingkan senyum mengejek yang sanggup membuat bidadari menangis. “Sudah kuduga sebelumnya,” katanya dengan nada menyindir.

Kontan aku mengernyit. “Apa maksudmu?”

Ia tidak menjawab, dan hanya menatap ke kejauhan. Satu sudut bibirnya terangkat dengan sinis. “Aku tidak membutuhkan pendapat darimu untuk melakukan apa yang kuanggap benar.”

Aku terkesiap. Menyadari bahwa ia pasti memikirkan sebuah rencana jahat untuk membalas perbuatan Donghae. “Ssong, ini masalah pribadiku. Kau tidak—”

“Di sini semakin dingin, sebaiknya kau pulang.”

Aku mendengus, mendengar ia menyela. “Sial! Inilah yang kutakutkan, hingga aku memutuskan untuk menyembunyikan semuanya darimu.”

Lagi-lagi ia tidak merespon, dan hanya menarik lenganku, memintaku masuk ke dalam mobil. Tapi aku tidak menyerah, sewaktu KIA merahnya berjalan melintasi jalanan yang mulai gelap, aku mencoba memperingatkannya. “Aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani menyentuhnya.”

Tawanya yang mampu membuat Hitler gentar pun mengalun. “Itulah yang berbeda darimu, Lee Yoohee,” ia menukas dengan tajam. “Di saat teman-teman yang lain tidak berani menentangku, kau malah mencoba mengancamku.”

“Ssong! Aku serius!??” Pekikku jengkel.

Tawanya kembali mengalun, “Aku bahkan lebih dari serius.”

Sial! Jika sang Raja iblis telah memutuskan, aku tahu satu bantahan saja tidak akan mampu menggoyahkannya.

 

***

 

Meski tidak wajar bagi seorang wanita pulang di malam hari, terlebih ia ditemani lelaki lain alih-alih suaminya sendiri, Eomma memilih untuk bersikap tenang. Ia berhasil memberikan kesan baik-baik saja di permukaan, meski aku yakin di dalam hatinya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Makanlah!” Ungkapnya selagi meletakkan mangkuk berisi telur gulung di atas meja. “Seharusnya kau bilang dulu kalau mau pulang hari ini. Jadi Eomma bisa memasak lebih banyak. Apalagi kau membawa Seungho bersamamu.”

Aku tersenyum tipis. “Seungho bisa makan apa saja asal bukan racun.” Aku mencoba bergurau, meski rasanya terlalu sulit untuk bisa menarik sudut-sudut bibirku ke atas.

“Kau akan menginap berapa hari di sini, Noona?” Sial! Pertanyaan yang kutakutkan justru terlontar dari bibir adikku sendiri.

Minhee bahkan menimpali dengan, “Di mana Hyeong-bu? Apa dia tidak akan hadir di pesta ulang tahunku?”

Bagus. Pertanyaan polosnya berhasil membuatku tersedak makananku sendiri. Selagi semua mata tertuju padaku, telur gulung dan nasi yang berada di mulutku, terasa seperti rumput liar yang liat. Sulit sekali untuk ditelan.

“Eonnie?!” Minhee mengguncang lenganku. Memaksaku menjawab pertanyaannya.

“Ehm… Ya.” Aku bergerak-gerak gelisah di tempatku duduk bersila. “Dia sedang sibuk… Jadi, dia minta maaf tidak bisa hadir.”

“Yah, sepertinya Hyeong-bu tidak pernah menyukai keluarga kita.” Adik bungsuku itu merengut. “Buktinya, dia jarang datang berkunjung ke mari. Apa karena kita orang miskin?”

“Hush! Jangan bicara sembarangan!” gertak Eomma cepat. “Kalau kakakmu bilang begitu, maka itu pasti benar.”

Minhee cemberut. Ia hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa minat. “Hyeong-bu menitipkan sesuatu untukmu.” Bisikanku itu berhasil menarik perhatian Minhee kembali. Dengan senyum lebar, ia menatapku penuh harap. “Apa itu?” Tanyanya riang.

Aku memberinya senyum tidak nyaman, selagi membalas tatapan kesal Seungho. “Kalau kuberikan sekarang, itu bukan kejutan namanya.” Minhee mengangguk-angguk. “Sekarang, kau makan dulu.”

Dengan patuh, ia menyuap nasinya banyak-banyak. “Aku akan menanti kejutan itu!” gumamnya tidak jelas selagi mengunyah. “Tolong kau sampaikan permintaan maaf dan ucapan terima kasihku pada Hyeong-bu!”

Aku mengangguk tidak yakin, seraya membelaikan tanganku di rambut sebahu Minhee. Meski sadar kebohonganku tidak disukai Seungho, tapi aku tidak ingin mengurangi kebahagiaan Minhee dengan kabar perpisahanku dengan Donghae. Nanti, setelah menemukan waktu yang tepat, aku akan menceritakan semuanya pada mereka.

“Sudahlah! Tidak baik mengabaikan makanan.” Eomma memperingatkan. “Nak Seungho, apa kau akan menginap? Aku akan mempersiapkan kamar Jonghee kalau begitu.”

“Tidak, Bibi. Ada pekerjaan yang masih harus kuselesaikan di Seoul. Mungkin tiga hari lagi, aku akan datang.” Ia mengedipkan sebelah matanya pada Minhee. “Jangan lupa, berikan potongan kue yang paling besar untukku, adik kecil.”

Minhee menjulurkan lidahnya. “Hanya jika hadiahmu lebih baik dari milik Hyeong-bu.”

“Oh, tentu saja. Milikku adalah yang terbaik!” Lirikannya yang sarat makna membuatku menelan ludah tidak nyaman.

Oh, Tuhan! Perasaanku mendadak tidak enak sewaktu menatap senyum sinis yang secara samar diberikan Seungho untukku. Semoga saja urusannnya yang belum selesai itu bukan termasuk ‘memberi sedikit pelajaran’ pada Donghae.

 

Lee Minhee

Lee Minhee

***

 

Naluri seorang Ibu memang selalu benar. Eomma menyadari semuanya bahkan sebelum aku menceritakan apapun. Memang aku memilih waktu yang tidak tepat dan bersama orang yang salah ketika pulang, tapi Eomma mampu menebaknya hanya dengan menatap ke dalam mataku dan mengamati gerak-gerikku.

“Masih bisakah diselamatkan?” komentar itulah yang diberikan Eomma sewaktu ia masuk ke kamarku setelah makan malam usai.

Aku mendesah, dan membiarkan kepalaku beristirahat di pangkuannya yang hangat. “Untuk apa menyelamatkan pernikahan yang tidak pernah kuharapkan sejak awal?” Kupejamkan mata, menikmati nyamannya belaian Eomma di rambutku. Berpura-pura tidak peduli dengan masalah ini.

“Yoohee, aku mengenalmu dengan baik.”

“Apa maksud Eomma?” Kontan aku duduk tegak, mengabaikan keinginanku untuk terus berada dalam buaian Eomma.

Wanita yang telah melahirkanku itu, tersenyum hangat. “Kau mulai peduli padanya.”

Untuk sejenak, aku membisu. Lalu kemudian, menggeleng sembari tertawa pahit. “Tidak. Itu tidak benar!”

“Jika dugaanku salah, lalu bisakah kau menjelaskan alasan kemuramanmu sepanjang hari ini?”

Aku memeluk lututku sendiri, mencoba merenungkan pertanyaan Eomma. Sialnya, aku tidak mampu menemukan jawabannya. Jika apa yang dikatakan Eomma benar, apakah itu artinya… aku mulai menyukainya?

“Mungkin kau bisa mendustai dirimu sendiri. Tapi kau tidak akan mampu membohongiku, Nak.”

Tangan Eomma yang hangat menyentuh pundakku. Aku mengangkat wajah untuk menatapnya sewaktu Eomma membelaikan tangannya di sisi wajahku.

“Itu tidak mungkin, Eomma,” bantahku dengan cepat. “Tidak mungkin!”

217651_10151088946919127_1916857943_n

“Apa yang membuatnya tidak mungkin?”

Aku mendengus muak. Mengingat kesalahan kecilku yang langsung berujung pada pertengkaran hebat kami. Lelaki itu tidak akan pernah bisa memercayai siapapun lagi. “Kuakui, aku memang telah mencoba. Dan hubungan kami sempat membaik selama beberapa waktu. Tapi—“

“Tapi apa?”

“Ia mengecewakanku, Eomma.” Aku mendongak, menahan agar air mataku tidak tumpah. “Dia menuduhku yang bukan-bukan, hanya karena kesalahan kecil yang pernah kulakukan.” Kugigit bibirku menahan agar tidak terisak. “Aku sudah lelah. Aku menyerah untuk menghadapinya lagi. Usahaku sia-sia, Eomma. Lelaki itu… hatinya terlalu beku untuk bisa dicairkan.”

Membisu selama beberapa saat, aku membiarkan diriku tenggelam dalam kenanganku bersamanya. Senyum mengejek tersungging di bibirku selagi kejadian menyakitkan itu melintas dalam benakku. Bagaimana ia membiarkan kepercayaan yang telah terbangun di antara kami, hancur tanpa sisa. “Aku kasihan padanya. Tapi sayangnya, ia tidak pantas mendapatkan itu. Dia bahkan tidak pantas mendapat kebaikan apapun.”

“Jangan berkata begitu,” Eomma menyahut dengan sabar. “Jika kau pikir hatinya beku, maka kau harus menjadi sepanas api untuk bisa mencairkannya.”

“Eomma—“

“Suami dan istri harus saling melengkapi, Yoohee.” Eomma menepuk kepalaku lembut. “Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur,” gumamnya santai. “Tenangkan dirimu dulu. Membiarkan emosi memengaruhimu dalam mengambil keputusan, akan menjerumuskanmu pada jurang penyesalan di kemudian hari.”

Aku membisu menatap Eomma yang tersenyum tulus. Kuraih tangannya yang mulai keriput, dan menggenggamnya erat di dekat dadaku. “Apakah kau akan marah padaku… jika kuputuskan untuk berpisah dengannya?” Tanyaku hati-hati, dan kudengar Eomma tertawa kecil.

“Aku yang telah membuatmu terjebak dalam situasi ini.” Mata Eomma berkaca-kaca selagi mengatakannya “Jika pada akhirnya kau menemukan jalan keluar yang lebih baik untuk dirimu sendiri, aku tidak punya hak untuk menentangmu, Anakku.” Ia mengambil jeda sejenak untuk memberiku senyum menenangkan. “Aku hanya bisa mendoakan, semoga keputusanmu memang benar, dan bukan hanya karena emosi sesaat.”

Tidak terasa, air mataku jatuh. Kupeluk Eomma dengan erat sampai-sampai aku bisa merasakan degup jantungnya yang berirama. Merasa sesak dan bahagia di saat bersamaan. “Tolong! Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Eomma,” isakku pedih. “Jangan membuatku merasa buruk karena tidak bisa membahagiakanmu dan adik-adik.”

“Ayolah, jangan menangis.” Eomma melepaskan pelukanku. Dengan ujung jarinya, ia menghapus air mata yang kini mengalir di pipiku. “Tenangkan dirimu, dan biarkan akal sehatmu berhasil mengalahkan emosi sesaat itu.”

Aku mengangguk, dan tersenyum padanya. Senyum tulus pertamaku hari ini. Jika ada yang pantas mendapatkan seluruh kebahagiaan di dunia ini, dia adalah Ibuku. Wanita tegar yang rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan anak-anaknya. Aku tahu Eomma pernah melakukan kesalahan karena telah membuat kesepakatan dengan iblis, tapi semua itu untuk kebahagiaan kami juga.

“Terima kasih, Eomma. Aku akan mengingatnya.”

 

***

 

Tiga hari berlalu dengan lambat. Aku tidak tahu mengapa merasa begini lesu hanya untuk memulai aktivitas. Memang benar sekarang perasaanku menjadi lebih tenang. Setelah Eomma memberiku beberapa pencerahan malam itu, aku merasa seolah beban di pundakku sedikit demi sedikit mulai terangkat. Meski belum sepenuhnya merasa lega, setidaknya aku sudah bisa berpikir dengan jernih.

Semalam Seungho datang, ia tidak mengatakan apapun padaku. Bahkan ia terkesan menghindar setiap kali bertemu pandang denganku. Seolah-olah ia telah melakukan sebuah kesalahan besar. Seungho tidak pernah begini sebelumnya. Aku takut dia benar-benar melakukan sesuatu pada Donghae. Jika benar demikian, Seungho harus menjelaskan semuanya padaku.

Pagi ini, kami sekeluarga sibuk mendekorasi ruangan dengan pita dan balon untuk merayakan ulang tahun Minhee. Berlarian ke sana ke mari, Minhee nyaris menabrak Seungho yang tengah berdiri di atas kursi tinggi untuk melekatkan pita panjang dan balon-balon di dinding.

“Hey! Hati-hati, Nona kecil! Kau baru saja membahayakan nyawaku,” Seungho menegur, dan justru dibalas kikikan geli Minhee.

“Ooops… maaf, Tuan besar. Kau menghalangi jalanku,” balasnya riang lalu menghilang ke ruangan lain.

Aku hanya mampu menggeleng, dan tertawa kecil melihat tingkahnya. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan Minhee hari ini. Dan aku senang bisa melihat Minhee segembira itu menyambut ulang tahunnya. Merasa tidak ada yang bisa kulakukan lagi di sini, karena semua pekerjaan telah diambil alih para lelaki, aku memilih menghampiri Eomma yang tengah menyiapkan hidangan lezat di dapur. Sup rumput laut buatan Eomma adalah yang terbaik. Aku ingat selalu menghabiskan semangkuk besar sup itu di setiap ulang tahunku.

Sewaktu mencapai dapur, kulihat Eomma sedang menambahkan beberapa mili susu cair ke dalam campuran coklat dalam panci. Sepertinya ia sedang membuat coklat hangat untuk kami semua.

Melihat kehadiranku, Eomma menghentikan kegiatannya sebentar. “Udara sedang sangat dingin pagi ini, jadi Eomma membuatkan coklat hangat untuk kalian.”

“Ide yang bagus,” sambutku sembari meraih wadah gula di lemari gantung. “Gulanya jangan terlalu banyak, karena dia tidak suka manis. Dan dia lebih suka kalau ditambahkan cinnamom karena aromanya lebih wangi. Dia juga—”

“Dia siapa?”

“Tentu saja Dong…” Senyumku kontan memudar. Eomma seolah-olah baru saja mencubitku dengan amat keras, hingga untuk beberapa detik setelahnya aku hanya bisa diam mematung. Sial! Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa melupakannya sejenak pun?

Kulihat Eomma menyunggingkan senyum simpul penuh pengertian. Sedangkan aku hanya mampu menunduk tanpa suara. Sial, sial, sial!

Aku mengangkat kepala sewaktu kurasakan tangan Eomma menyentuh bahuku. “Kau sudah dewasa, Yoohee. Kau sudah sangat mampu memutuskan apa yang terbaik untukmu.”

“Tapi…”

“Tapi apa?”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Tidak! Aku harus mempertahankan harga diriku,” ringisku gusar. “Dia sudah mengusirku dari rumahnya, aku tidak akan kembali kecuali jika ia memohon untuk itu.”

“Jangan keras kepala!” Eomma memperingatkan dengan sabar. “Atau kau akan menyakiti dirimu sendiri.”

“Eomma?!” Aku mendesis muak sebagai tanda protes. “Sudahlah! Lupakan dia, kita siapkan saja makanannya.”

Lekukan bibir Eomma membuat wajahku terasa panas. “Bukan aku. Tapi kau yang tidak bisa berhenti memikirkannya.”

Sial! Meski kesal, aku sadar jika apa yang dikatakan Eomma memang benar. “Bukan begitu, aku—“

“Siapa yang tidak bisa kau lupakan?”

Aku dan Eomma spontan menoleh sewaktu mendengar suara berat Seungho. Dengan senyum lebar, ia melangkah mendekati kami. “Ruangannya sudah siap.” Ia memberitahu. “Dan Bibiku tersayang, sekarang aku lapar sekali.”

Eomma terkekeh pelan. Melanjutkan kegiatannya mengaduk campuran coklat, susu dan gula dalam panci yang sedang dipanaskan dengan api kecil. “Salahkan Yoohee, bukannya membantuku, dia malah mengalihkan perhatianku dari masakan.”

Seungho beralih menatapku. Aku membalasnya dengan menjulurkan lidah dan ia tertawa. “Kau masih marah padaku, Jageun-ie? Karena itukah kau mengganggu Bibi menyiapkan makanan untuk kami?”

Tanganku berhenti mengatur beberapa cangkir di atas meja, dan mendongak menatapnya. “Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau menghindariku dari semalam?”

Seungho terlihat kaget. Seolah ia tidak mengerti apa yang kubicarakan. Semoga itu bukan sandiwaranya saja. “Aku?” Tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri. “Untuk apa aku menghindarimu?”

“Sudahlah! Jangan bertengkar di sini,” elakku, merasa tidak nyaman mengikutsertakan Eomma dalam pembicaraan kami. “Jika kau ingin cepat makan, menjauhlah!”

Seungho menyeringai tanpa suara. “Baiklah! Kutunggu di beranda jika kau memang sangat ingin bicara denganku,” Ia mengedipkan sebelah matanya, dan berlalu pergi.

Ya, kita memang harus bertemu. Dan kau wajib menjelaskan semuanya padaku, Ssong.

 

 

Segera setelah makanan siap, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. Aku tidak bisa menahan senyum mendapati Minhee terus memaksa Seungho untuk memperlihatkan kado yang Seungho siapkan untuknya.

“Pesta ulang tahunmu nanti sore, jadi kado itu hanya akan ada di tanganmu pada saat itu.”

“Ah, Ssong Oppa pelit!” Minhee merengut. “Kalau begitu, aku tidak akan memberikan potongan kue terbesar untukmu.”

Seungho mencubit pipi tembamnya, hingga ia menjerit. “Kau tidak boleh melakukan itu pada kekasihmu.”

Kontan saja aku tersedak, hingga nyaris memuntahkan kembali nasi dan kimchi yang telah kutelan. Lalu terbatuk-batuk sampai mataku berair.

“Oh, lihatlah! Ada yang cemburu, Minhee-ya.”

Kulihat Minhee menggeleng-geleng tidak setuju dengan ekspresi serius. “Tidak Oppa. Kau salah!” tukasnya lambat-lambat. “Eonnie tidak mungkin cemburu padamu, karena dia sudah memiliki Hyeong-bu di sisinya.” Jika saja Minhee tidak melanjutkan dengan berkata, “lagi pula, kapan aku bilang setuju kau menjadi kekasihku?” yang disambut kikikan keras Eomma dan Jonghee, mungkin aku sudah memilih untuk meninggalkan meja makan karena tidak sanggup mempertahankan diri dari rasa malu.

Hingga makanan dalam piringku habis, aku tidak berani mengangkat wajah untuk menatap wajah Eomma dan Seungho. Kata-kata Minhee tadi seperti tamparan telak di pipiku. Hyeong-bu yang diagung-agungkannya, tidak akan pernah ada lagi dalam hidupku. Sial!

Selagi membenahi piring-piring kotor di atas meja, aku buru-buru mengatakan, “Kita harus bicara,” pada Seungho sebelum ia menghilang dari ruangan itu.

Seungho tersenyum kecil, “Kutunggu di ayunan,” kemudian ia pergi dengan cepat.

Aku tidak ingat seberapa cepat diriku mencuci piring-piring kotor itu hanya agar aku bisa mendengar penjelasan Seungho secepatnya. Namun sebelum aku beranjak pergi dari dapur, Eomma memintaku menggantikannya membalurkan krim gula pada roti yang baru saja diangkatnya dari oven.

“Aku lupa membeli lilinnya,” begitu yang diucapkan Eomma sebelum ia mengajak Jonghee pergi ke minimarket terdekat.

Oh, baiklah! Kuharap Seungho tidak marah karena aku membuatnya menunggu terlalu lama. Sementara aku meminta Minhee mencuci strawberry segar yang baru dibeli Eomma di pasar, aku meraih krim gula dalam baskom besar, lalu membalurkannya dengan hati-hati di atas roti.

Eomma memilih membuat sendiri kue ulang tahun untuk Minhee, dengan pertimbangan selisih harga yang amat jauh jika kami membelinya di toko roti. Meski Seungho telah menawarkan untuk membelikannya, tapi Eomma menolak dengan halus. Aku tahu dia tidak ingin berhutang budi pada siapapun. Seperti yang dialaminya dengan Donghae.

Sial! Seharusnya aku bisa berhenti memikirkan lelaki itu. “Eonnie, strawberry-nya sudah bersih.”  Suara bening Minhee mengembalikanku ke masa kini.

“Ya, kemarilah! Letakkan di meja,” balasku, tanpa mengalihkan perhatian dari roti yang sedang kubalur. Takut kalau-kalau kecerobohanku akan menghancurkan kue ulang tahun impian Minhee, atau ia tidak akan pernah memaafkanku karenanya.

“Berhati-hatilah! Jangan merusak kue-ku.” Aku mendengus sewaktu Minhee memperingatkan. Nah, dia mulai bersikap posesif terhadap kuenya.

Terlalu sibuk dengan roti itu, aku tidak menyadari keberadaan Seungho di dekatku, hingga ia mengejutkanku dengan berkata. “Sial! Kau memintaku menunggu, tapi kau malah bermain-main dengan kue itu sekarang.”

“Hussh! Ssong Oppa, jangan mengganggu Eonnie,” Minhee menyahut. “Aku tidak akan memberimu sepotong pun jika kue itu sampai rusak.”

Melalui sudut mataku, aku melihat Seungho menghampiri Minhee. Ia lalu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan adik bungsuku itu. “Hey, tadi kau menolakku. Sekarang kau juga mengancamku.” Seungho pura-pura marah. “Rupanya kau tidak jauh berbeda dengan kakakmu,” protes Seungho, yang membuatku untuk sejenak menghentikan pekerjaanku hanya agar bisa terkikik tanpa merusak kue yang kubuat.

“Tentu saja, kau tahu jika kami bersaudara,” Minhee mendorong Seungho menjauh. “Pergilah! Jangan mengganggu kami!”

Seungho memperlihatkan ekspresi sedih yang sangat kacau. “Kau jahat sekali padaku, Minhee-ya,” rengeknya seolah benar-benar menderita. “Apa kau begitu tidak menyukaiku, Nona kecil?”

Minhee menempelkan jari telunjuknya di dagu seperti sedang berpikir. “Aku menyukaimu,” putusnya, yang mengundang senyum lebar di bibir Seungho. “Tapi hanya segini,” tambah Minhee sembari mensejajarkan kedua tangan di depan tubuhnya dengan jarak yang tidak begitu jauh. “Sedangkan untuk Hyeong-bu… segini,” Minhee merentangkan tangannya lebar-lebar membuatku tersedak tawaku sendiri.

“Hey!” Seungho mengernyit tidak suka. “Apa hebatnya kakak iparmu itu? Hingga kau lebih menyukainya daripada aku?” Protesnya tidak terima.

Tidak kusangka diriku benar-benar menantikan jawaban Minhee kali ini. Aku tidak tahu bahwa Minhee menyukai Tuan Salju-musim-panas itu. Karena seingatku, sejak kami menikah, ia tidak pernah berkunjung ke Incheon walau sekedar untuk menanyakan kabar. Terakhir kali Minhee bertemu dengannya adalah saat pesta pernikahan kami.

“Karena dia tampan seperti tokoh utama dalam serial manga yang kubaca, dan juga kaya.” Tanpa sadar aku tersenyum mendengar jawaban polos Minhee.

“Ah, kalau hanya itu, aku rasa… aku juga memiliki kualitas yang sama dengannya.” Seungho membalas, tidak mau kalah.

“Tidak, tidak, tidak!” Minhee menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri sembari menggeleng dengan gaya mengamati. “Kau memang tampan, tapi gendut seperti Panda.” Saat itu juga aku terbahak, hingga nyaris saja merusak lapisan krim gula kue ulang tahun Minhee.

“Hey! Apa kau bilang?”

“Kau. Seperti. Panda,” Minhee berteriak sebelum ia menyembunyikan dirinya di belakangku.

Kemudian, kekacauan pun terjadi. Berawal dari Seungho yang berhasil mencolek sedikit krim gula lalu mengoleskannya di pipi Minhee, kemudian Minhee membalas dengan mengambil setangkup krim untuk dilemparkan pada Seungho. Sialnya, lelaki itu berhasil menghindar tepat waktu dan krim tadi mendarat dengan telak di wajahku. Sial!

“Hey!!!” Pekikku kesal. Mendengar mereka berdua tertawa cekikikan.

Baiklah! Sekarang giliranku membalas. Menangkup sejumlah besar krim gula di tanganku, kuarahkan tatapan membunuh pada dua makhluk menyebalkan yang mulai berlari ketakutan.

“Jangan lari kalian!” Dengan semangat membara, aku mengejar keduanya sampai ke ruang tengah. Sialnya, baik Minhee dan Seungho berhasil bersembunyi dengan baik. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku pasti akan menemukannya, pasti!

Mengabaikan kemungkinan Eomma akan memarahiku karena telah ikut serta dalam kekacauan ini, aku menajamkan pendengaranku. Berjalan dengan langkah berjinjit sembari mengamati keadaan sekeliling. Sewaktu kudengar langkah kaki mendekat, aku segera bersembunyi di balik tembok.

Nah! Itu pasti mereka. Bagusnya, mereka tidak tahu aku ada di sini. Diam-diam aku menunggu, dengan seringai lebar di bibirku. Tepat ketika aku yakin mereka berada di samping tembok tempatku bersembunyi, aku melompat dan membalurkan krim itu sembari berteriak. “Gotcha!!!”

Seperti ada tombol pause yang ditekan, tubuhku seketika mematung. Wajah berlumur krim gula di hadapanku bukanlah Minhee ataupun Seungho. Tapi… wajah tampan yang familiar itu berhasil meningkatkan degup jantungku seperti dipacu listrik berjuta-juta volt. Aku pasti sudah gila, tapi aku tidak mungkin salah mengenali suamiku sendiri.

Tidak mungkin! Aku menggeleng bingung. Mengutuki diri sendiri karena tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Dengan cepat aku berbalik, menampar pipiku sendiri supaya sadar. Ini pasti hanya halusinasiku saja. Tidak mungkin Lee Donghae ada di sini. Tidak mungkin! Ketika aku memutar lagi tubuhku, aku lega saat tidak menemukan siapapun di sana.

Sial! Kegilaanku semakin parah. “Berhentilah memikirkannya, Yoohee!” Aku mendesis muak pada diriku sendiri. “Dia tidak pantas untuk dipikirkan. Ya, dia—”

“Rasanya manis.”

Sial! Bukan hanya sosoknya, bahkan kini aku bisa mendengar suaranya dengan jelas. Apakah lelaki itu memiliki ilmu sihir hingga membuatku tidak bisa melupakannya? Kututup kedua telingaku sembari menggeleng. Ayolah, Yoohee! Lupakan dia!

“Omo! Hyeong-bu, kau benar-benar datang?”

Suara Minhee seperti pukulan telak untukku. Laksana dihadapkan pada keajaiban dunia yang langka, aku membelalak. Jantungku serasa tercecer di tanah mendapati lelaki itu berdiri di sana. Memeluk erat Minhee dengan senyum sayang tersungging di bibirnya.

“Cheo-je, selamat ulang tahun!”

Menggeleng bingung, aku mundur selangkah. Tidak memercayai apa yang terjadi di hadapanku. Aku tidak sedang berhalusinasi. Ia nyata. Lelaki yang saat ini mengenakan kaus V-neck putih dan mantel cokelat itu nyata. Senyata dua kali dua sama dengan empat. Lalu, pertanyaan terbesarnya adalah… Apa yang membawa Tuan Salju-musim-panas itu datang ke mari?

Perlahan ia melepas pelukan Minhee, lalu berdiri tegak. Matanya yang kelam berhasil menemukan keberadaanku. Aku menyadari, krim gula yang tadi belepotan memenuhi wajahnya, kini nyaris bersih. “Lee Yoohee, kita harus bicara.”

Aku menelan ludah gugup. Tidak memercayai euforiaku sendiri sewaktu menyadari sosoknya benar-benar nyata. “Kau—“

“Kupikir setelah apa yang terjadi malam itu, kau tidak akan pernah lagi menginjakkan kakimu di tempat ini.”

Suara Seungho seperti hantaman keras di dada kiriku. Kejadian malam itu? Demi Tuhan! Memar biru keunguan di sudut bibir Donghae… aku baru menyadarinya setelah semua krim itu berhasil dibersihkan dari wajahnya. Yang Seungho… apa yang telah kau lakukan?

 

TBC

41 thoughts on “[Another Story] Passionate Love -Chapter 10-

  1. yeahh the first comment.. suka banget sama karakter donghae… tuh kan yoohee sebenere suka jg sama donghae cm pada punya gengsi yg gede sihh… aww aku penasaran sama next.nya.. ow ia aku mw mnta PW part2 tp kok bngung gmna cara.a,,??

  2. yaakk seungho, apa yg km lakukan trhadap donghae?.. apa yg trjdi? kyaaaa penasaran.
    part ini, gk bnyak moment hae dan yoohee. pdhl aku menantikan kebersamaan mereka. tpi yesung dah lah, smga di part selanjtnya bnyk moment tntg mereka. di tunggu lho^^

  3. Jadi si Seungho udah mukulin wajah tampan DongHae-ku? Aduh, teganya dirimu, bang. Meski julukannya adalah Tuan Salju Musim Panas, tapi tetap saja dia imut, tidak pantas dipukuli. Pantasnya dicium. Lol. Semoga masalahnya cepat selesai, kan rugi suami panas yang menggairahkan itu dianggurin. Wkwkwkwk….

  4. Wahhh udah lama Ǥ‎​ªќ buka wp ini,trnyata udah ϑΐ lnjut Ɣªª.
    Seru seru seruuuu kelihatanya emang udah saling suka sihh,tpi Ego nya msih lbih tggi.keduanya sm z tuch..
    Yaaaakzzz Seungho..apa Ɣªήğ kau lkukan dgn wajah tampan tuan salju musim panas itu???

    Minhee-ya aku padamuuuu^^

  5. aaaa..Seungho apa yg kau lakukan pd oppaku….!!!!
    Semoga oppa datang untuk ngajak yoohee baikan.
    wah.. gila,minhee cantik banget
    aku senang part yg ini lebih cepat tayang.jd aku ngk harus nunggu sampai lumutan (abaikan )
    ayo eonni,lebih semangat🙂

  6. abang donghae k rmh yoohee gk mau ngnter surat cere kn thor?????
    jangan yaaaaa….
    ksih little lee dong thor…
    next chap segera thor…!!!!!

  7. koq aku jadi ga suka sama Yoohee sech…achhh pria es musim panasku terluka lagi.

    Tidak kah Yoohee mengerti netapa pria es musim panas itu berjuang untuk sebuah kepercayaan,dan saat ia mulai bangkit,ingat masih mulai tapi sudah di hadapkan pada kenyataan yang membuat rasa itu kembali berkeping keping dan bahkan mungkin lebih sakit dari sebelumnya…

  8. sependapat sama komen di atas, aku jadi emess sendiri ama yoohee..
    knp dia batunya parah sangat? trus kenapa si seungho ngeselin sih? dia memperkeruh keadaan tau!!
    next part slalu ditunggu..semangat onnie!!

  9. donghbe diapain tuh sm seungho, sampe mukanya biru, tp lumayan juga setidaknya bikin donghae sadar dan akhirnya dia yg ngalah nyusul yoohee, mudah2an aja donghae mau ngajak baikan.

  10. Kayanya komen aku dari kemarin masih waiting moderation atau masuk spam ya pake akun “haestyle” deh kak padahal udah komen panjang lebar di setiap part huahhhh;”””””
    Finally sang Tuan salju musim panas dateng akhirnya.
    Jadi emesh aja sama mereka bertiga deh alias yoohee x donghae x seungho. Aduh makin penasaran nih.
    Next kak! Can’t wait!

  11. yeay donghae dteng…akhir.xa
    yak knpa wjah donghae jd kyak gitu…ah seungho #pelukdonghae
    eonnie qw tnggu klanjutn.xa ea…jgan lma” eon..fighting…+mian bru bisa comment skrang

  12. ahhhhhhhhhh kenapa harus TBC sih… Itu lagi bagian yang serius banget Chingu… ah apa yang terjadi seungho sama Donghae. Donghae pasti di pukul sama Seungho. Aaaaaa Bagaimana mana kelanjutannya aku penasaran. Huh Apa kah setelah kejadian itu ada yang berubah sama sikap Donghae atau tidak sama sekali. tetapi malah tambah Dingin jangan sampai hubungan Yoohee sama Donghae makin rumit dan saling sakit semua..
    Semoga ada momen manis Donghae sama Yoohee di acara ulang tahun Minhee..
    Di tunggu kelanjutan.nya Chingu🙂

  13. Aku saranin, yoon hae nyerah aja deh, hehehe #ketawajahat
    Daripada disakitin trus, mending pergi, ato ga sama seungho aja ga papa,
    Apa yg dilakuin sma seungho ke donghae, berantem karna apa???
    Aku tunggu chapter slanjutnyaa..

    Keep Writing!!!

  14. kpn nich eon update cerita in. aq uda penasaran pake bingitzzzz #hehehehehe
    ttp semangat nulisnya. d tnggu karya selanjutnya.

  15. sedih🙂 udh tbc lagi,, tapi gpp pasti sbar nunggu lanjutannya,, smga ini couple cepet dpat wangsit biar bisa akur,, fighting!!🙂

  16. tuh kan kaka bikin penasaran trus itu gmana ceritanya si donghae bisa dateng? duh kayanya bener nih dugaan ku klo seungho udah ngelakuin sesuatu ke donghae biar si yoohae bisa balikan lg, ditunggu ka kelanjutannya

  17. Padahal loh tinggal saling jujur apa susahnya siiihhh???

    Oenni berhasil bikin saya greget sama ini couple..
    Itu donghae diapain sama mr song?;-)
    Chap 11 mreka baikan kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s