[Another Story] Passionate Love -Chapter 9-

>>> Previous Part :

Salju itu mulai mencair dan memperlihatkan kehangatannya. Seperti itulah yang dirasakan Yoohee ketika menyadari sang suami yang dingin tetapi juga hangat di saat bersamaan mulai memperlihatkan sisi lainnya yang berbeda. Lee Donghae sudah bisa tersenyum tulus dan tertawa bersamanya, dan Yoohee tidak ingin salju itu kembali membeku hanya karena satu kesalahan darinya. Namun sepertinya, Lee Donghae telah memergoki Yoohee yang sedang mengobrol di telepon bersama Seungho. Dan lelaki itu bersikeras menanyakan bagaimana perasaan Yoohee untuk Seungho saat ini, yang bahkan Yoohee sendiri pun tidak tahu harus menjawab apa.

 

Chapter 9

 

10406823_335685739934361_3356047657527712673_n

Credit Pict: Almida Rahayu (Park Min Hyun)

Dua cangkir espresso hangat, dan sepiring biscuit gandum berlapis cokelat yang baru saja diangkat dari oven memang merupakan teman yang menyenangkan di saat hujan begini. Terima kasih pada Bibi Han karena telah mempersiapkannya untuk kami.

Aku melihat Lee Donghae merebahkan dirinya di punggung sofa. Tampak letih setelah seharian ini melatih dirinya berjalan kembali. Ia tampak menderita tapi puas karena berhasil menaklukkan rasa sakitnya sendiri.

“Aku bosan,” gumamannya yg pelan terdengar.

Sangat masuk akal jika dirinya merasa bosan. Lelaki sepertinya, yang telah terbiasa dengan kesibukan penuh sepanjang hari, selama dua minggu lebih harus terkurung di dalam rumah. Mobilitasnya yang tinggi, kini terbatasi. Seperti seorang tahanan yang tidak bisa pergi ke manapun. Aku tidak bisa mencegah diriku merasa kasihan padanya. Mungkin hal ini pulalah yang membuatnya semakin giat berlatih, agar ia bisa segera terbebas dari jeruji besi tak kasat mata ini.

Mengunyah biscuit yang masih hangat itu dengan santai, aku mencoba mengusulkan, “Bagaimana jika menonton film? Kau punya seperangkat home theatre lengkap. Jadi tidak perlu pergi ke manapun untuk menonton.”

Ia menoleh, terkekeh pelan, lalu menyeruput espressonya. “Tidak ada film yang menarik,” keluhnya berlebihan. “Aku belum membeli yang terbaru.” Ia bertopang dagu dengan sedih, helaan napasnya terdengar beberapa saat setelahnya.

“Menyanyi. Ya, bagaimana jika kau menyanyi?”

Ia tersedak dan aku nyaris terkikik melihatnya kesulitan menelan. “Kau memintaku menyanyi?” pekiknya takjub. Ia menatapku seolah-olah aku telah memberikan sebuah ide teraneh di sepanjang hidupnya.

Aku tidak tahu mengapa kata-kata itu terlontar dari bibirku, tapi setidaknya… aku sudah mencoba.

“Tentu saja,” Aku bersedekap. “Semua orang pasti bisa menyanyi. Terlepas suaranya bagus atau tidak,” cobaku lagi. Berharap apa yang kulakukan bisa menghidupkan suasana.

“Tidak. Lupakan saja!” Ia menggeleng. Tapi aku menangkap seringai terhibur di bibirnya.

“Ayolah!” Tanpa diperintah, aku beranjak. Mencari-cari sebuah CD ditumpukan koleksi miliknya. “Kau suka lagu apa? Biar aku yang memilihkan.”

“Kubilang tidak. Apa kau mengerti bahasaku?” Ia mendegus, tapi akhirnya tertawa geli sewaktu aku memutar sebuah lagu trout ‘Tok tok tok’ kesukaan ayahku.

“Aku tidak tahu kau menyimpan lagu ini,” tanpa sadar aku bergumam.

“Sial! Itu milik Hyukjae, dia pasti lupa tidak membawanya…”

Aku tidak memerhatikan lagi gerutuan Donghae selanjutnya, sewaktu ingatanku melayang pada kegemaran Appa menyanyikan lagu ini. Setiap kali kami sekekuarga pergi ke Noraebbang untuk merayakan sesuatu. Lagu inilah yang dipilih Appa untuk dinyanyikannya.

Senyum pahit tersungging di bibirku. Seandainya Appa masih hidup, aku tidak tahu apa yang akan dikatakannya jika melihat kebersamaanku dengan putra dari musuh terbesarnya sendiri. Alih-alih membalas dendam atas kematiannya, saat ini aku malah berusaha menghibur sang musuh karena ia merasa bosan.

Tapi, ia tidak bersalah. Ayahnya yang melakukan itu pada Appa. Ayahnya yang telah bermain kotor hingga perusahaan Appa bangkrut dan ia menjadi putus asa, lalu memutuskan untuk meninggalkan hidup ini, hati nuraniku mencoba mengingatkan aku dengan nasihat-nasihat bijaknya.

“…hee, Yoohee. Ada apa denganmu?”

Aku terkesiap merasakan satu sentuhan hangat di bahuku. Otomatis, tatapan kami bertemu. Mata sekelam malam itu telah berubah, tidak lagi dingin seperti salju abadi di kutub utara. Tuan Salju musim panas itu telah berubah. Hatinya yang semula sekeras batu granit, kini mulai melembut.

Mungkin memang benar jika ia tidak bersalah atas apa yang telah dilakukan ayahnya di masa lalu. Bahkan mungkin ia sama sekali tidak mengerti tentang permainan kotor itu.

Jika aku masih memiliki hati, tidak pantas bagiku untuk melimpahkan beban dosa itu padanya. Ia sudah cukup menderita atas pengkhianatan orang-orang yang dicintainya, sangat tidak bijaksana jika aku menambahkan luka baru di hatinya yang kini sudah mulai pulih.

Oh Lee Donghae, katakan jika anggapanku benar.

“Aku tidak percaya kau mengabaikanku.”

Lagi, aku terkejut mendengarnya bersuara. Mengalihkan perhatian, aku mencoba menyibukkan diri dengan menata ulang CD yang tadi telah kuobrak-abrik.

“Kau memang pantas untuk diabaikan,” gurauku, dan kudengar ia mendengus sebagai jawaban.

“Ya, dan coba katakan padaku, Manis. Bahwa kau juga akan mengabaikan ciumanku jika aku melakukannya.”

Sial! Aku beranjak dan duduk di tempat kosong sofa di sisinya. Jangan ingatkan aku pada ciuman yang dulu sering dipaksakannya padaku. Oke, baiklah! Sebenarnya tidak benar-benar dipaksakan, karena harus kuakui aku menikmatinya juga.

“Lihat, pipimu merah seperti kepiting rebus. Dan itu semakin membuatku gemas untuk—”

“Dasar mesum!” Aku melempar bantalan sofa yang telak mengenai wajahnya. “Berhenti menggodaku, karena itu tidak seperti yang kau pikirkan!”

Tawanya berderai, dan harus kuakui kini aku mulai terbiasa dengan sikapnya yang sangat bersahabat. Lee Donghae yang dingin telah pergi, dan kuharap… kehangatan itu bertahan untuk waktu yang lama. Yang ia butuhkan hanya seseorang yang dapat dipercaya, dan aku akan mencoba jika memang itu bisa memperbaiki hubunganku dengannya.

“Baiklah.” Dehaman meluncur dari tenggorokannya. “Mungkin kau hanya belum menyadarinya, tapi aku bisa membuktikannya kepadamu.”

Dengan gugup, aku beringsut mundur sewaktu ia mendekatkan diri padaku. Mengutuki lengan sofa yang menahanku menjauh darinya, kedua tangannya dengan sigap mengunciku di pojok sofa. Aku mengkerut, tersesat dalam kabut sensasi sewaktu napasnya yang hangat membelai wajahku.

“L-lee Donghae… a-apa yang sedang kau lakukan?” Alih-alih bentakan keras, suaraku hanya serupa bisikan lirih seperti kucing yang menggerung. Sama sekali tidak menyiutkan nyali seekor harimau yang siap menyantap kudapan malamnya.

Demi Tuhan! Bagaimana aku harus bereaksi?

“Hey, kenapa kau memejamkan mata?”

Sontak, aku terkejut dan membuka mata dengan perlahan. Selama beberapa detik, aku kebingungan. Tidak terjadi apapun. Tidak ada siapapun di hadapanku. Aku mengalihkan tatapanku pada Donghae yang kini tegak di tempat duduknya, alih-alih membungkuk untuk menciumku.

Double sialan! Apa aku baru saja bermimpi? Tapi, kenapa semua…

“Aku hanya mengambil remote,” senyum geli tersungging di bibirnya sewaktu mengarahkan remote itu ke depan televisi. “Pilihan lagumu payah, biar aku yang memilihnya, dan kau harus menyanyi untuk menghiburku.”

“Apa?” Menggeleng kesal, aku menggumamkan kata “tidak” berulang kali.

“Baiklah kalau kau tidak mau menyanyi untukku.” Ia memutar-mutar remote di tangannya sembari menatapku dengan penuh pertimbangan. “Kurasa… satu ciuman darimu akan lebih menyenangkan. Itu yang kau harapkan bukan, istri kecilku yang manis?”

Oh, sial! “Kenapa kau tidak mati bosan saja di neraka?!!”

Sewaktu aku beranjak pergi untuk meninggalkannya, ia melepaskan tawa paling indah yang pernah kudengar. Dan tawa renyah itu berhasil menghangatkan hatiku seperti belaian lembut seorang Ayah di rambutku.

Lee Donghae, gurauanmu memang tidak lucu. Tapi aku senang bisa melihatmu tertawa lepas seperti ini. Seolah kau telah melepaskan semua beban berat di bahumu dan bangkit kembali seperti bayi yang baru lahir.

“Terima kasih sudah berusaha menghiburku, Lee Yoohee!”

Suara itu berhasil menghentikan langkahku. Dengan cepat aku menoleh, dan langsung bertatapan dengan sepasang mata tengah malam yang lembut. Kami bertukar senyum dalam diam.

“Selamat malam!” gumamku, lalu pergi meninggalkannya dengan senyum puas yang terus terukir di bibirku. Merasa senang karena sepertinya, ‘terima kasih’ sudah menjadi penghuni tetap di dalam kamusnya.

 

***

 

“Kau kelihatan seperti akan pergi berkencan.” Aku sedang menuruni tangga sewaktu kudengar sapaan sinis itu dari arah sofa ruang tamu. Otomatis, pandanganku mencari sumber suara itu. Dan langsung bertatapan dengan sepasang mata tengah malam yang kelam.

Lee Donghae. Lelaki itu sedang duduk di sofa sembari memangku buku tebal bersampul merah. Kakinya yang patah sedikit demi sedikit telah mulai pulih. Dan ia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk bermalas-malasan di tempat tidur, dan terus melatih dirinya berjalan meski masih harus menggunakan kruk. Aku harus mengagumi kegigihannya, karena hal itu sama sekali tidak mudah. Apalagi mengingat rasa sakit yang harus ditanggungnya setiap kali  menggerakkan bagian sendinya yang kaku.

“Aku akan keluar sebentar membeli kado untuk Minhee.” Aku membalas selagi menghampirinya. “Beberapa hari lagi dia berulang tahun.”

Sejenak, tatapannya melunak. Ada pancaran kasih di matanya sewaktu ia membalas. “Oh, perlu kutemani? Kurasa, aku pun harus memberinya kado.”

Aku tersenyum tulus. Menggeleng, lalu tertawa kecil. Hubungan kami memang telah membaik semenjak ia mengakui kesalahannya malam itu. Dan saat ini kami tak ubahnya seorang teman yang terpaksa tinggal bersama dalam satu atap. Aku tidak tahu apakah diriku masih berambisi untuk membalaskan dendam Appa, bila keadaannya terus membaik seperti ini.

“Kau yakin?” balasku seraya menatap tidak percaya padanya. “Jangan memaksaku untuk mendorong kursi roda ke Mall.”

Dia mendengus, tapi beberapa detik kemudian akhirnya tertawa. “Aku tidak selemah itu. Sialan kau!”

Jika ada yang harus kusyukuri dari musibah kecelakaan yang menimpanya kemarin, adalah perubahan sikap Tuan Salju-musim-panas itu. Senyum dan derai tawa tulus yang kini dengan mudah diberikannya, mampu menghangatkan hatiku dengan getaran aneh yang membuat perutku tergelitik. Mungkin benar jika Lee Donghae yang dulu telah kembali.

“Kau memang harus datang saat ulang tahunnya nanti. Tapi jangan memaksakan diri untuk menemaniku hari ini.”

“Baiklah kalau begitu.” Ia meletakkan buku yang ada di pangkuannya pada tempat kosong sofa di sisinya. “Kau bisa membawa kartu—“

“Tidak, Donghae-ssi. Kau tidak perlu melakukan itu,” selaku cepat, sebelum ia mampu berdiri untuk mengambilkan kartu yang dimaksud. Yang aku yakini itu adalah kartu kredit tanpa batas miliknya. “Aku masih menyimpan uang yang kau berikan padaku setiap bulannya. Karena aku tidak tahu harus menggunakan uang-uang itu untuk apa, jadi kubiarkan saja menumpuk dalam rekeningku.”

Aku melihat kernyitan dalam di keningnya selagi memberiku tatapan tidak percayanya. “Oh istri kecilku yang malang, apa maksudmu? Mengapa kau tidak menggunakannya sama sekali di saat wanita lain mungkin sudah menghabiskannya?”

“Jangan memanggilku begitu!” keluhku muak. “Berhentilah mengirimkannya, karena aku berencana untuk mengembalikan semuanya padamu, jika kelak…” Demi Tuhan! Aku menutup mulutku dengan tangan. Apa yang baru saja akan kukatakan?

“Jika kelak?” Ulangnya dengan intonasi yang sama sekali berbeda. Senyum yang semula tersungging di bibirnya, kini memudar. Sadar, jika ia sangat terganggu dengan ucapanku yang tidak selesai itu.

“Maksudku… aku tidak membutuhkannya, karena kau telah memenuhi kebutuhan sehari-hariku dengan sangat baik.” Sialan! Aku tidak ingin menghancurkan lagi dinding kepercayaan yang kini telah berdiri di antara kami, karena aku tahu… dinding itu masih serapuh permen kapas.

Keheningan yang terjadi selanjutnya, nyaris membuatku frustrasi. Suasana nyaman yang selama hampir dua minggu ini berlangsung, mungkin akan berakhir saat ini juga karena satu kesalahan yang kubuat. Lelaki itu sudah pernah tersakiti, dia tidak ingin tersakiti lagi dengan memberikan kepercayaannya pada seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Walaupun orang itu telah berstatus sebagai istrinya.

“Lee Donghae-ssi, kuharap kau—“

Ucapanku terputus oleh dentangan bel pintu. Refleks, kepalaku menoleh pada monitor yang tertempel di sisi foyer. Demi Tuhan! Seungho. Aku merasakan darah menyurut dari wajahku. Ya, aku sudah berjanji akan pergi bersamanya hari ini. Dengan cepat, aku kembali berpaling pada Donghae, yang kini juga telah mengarahkan pandangannya ke sana. Mustahil jika Tuan Salju-musim-panas itu tidak mengenali wajah Seungho di sana.

Tawa sinis terlepas dari tenggorokannya. “Jadi karena dia kau tidak ingin aku menemanimu.”

“Tidak, Lee Donghae. Kau jangan—“

“Pergilah! Jangan buat Yang Seungho-mu menunggu terlalu lama!”

Double sialan! Kurasa, aku telah membangunkan singa yang tertidur!

 

***

 

Betapa sebuah kesalahan mampu menghapuskan seluruh kebaikan yang telah diberikan. Seperti angin kuat yang merontokkan daun-daun maple di musim gugur. Tidak peduli seberapa pun baiknya dirimu, bila sekali saja kau membuat kesalahan, kau akan dianggap sama tak berharganya dengan pendosa besar.

Aku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana kerasnya ekspresi Donghae saat itu. Senyuman yang semula terus menghiasi bibirnya, sirna tanpa bekas. Aku tahu seharusnya aku tidak pergi, dan mencoba menjelaskan semua itu padanya. Namun, harga diriku melarangku melakukannya. Lee Donghae menyuruhku pergi dengan suaranya yang keras dan dingin, lalu bagaimana mungkin aku bisa bertahan untuk tetap berdiri di hadapannya tanpa kehilangan harga diriku?

“… Jageun-ie, hey!”

“Oh, maaf!” Aku tersentak merasakan tepukan pelan di lenganku dan hanya mampu meringis membalas tatapan bingung Seungho.

“Kau terdengar baik-baik saja saat di telepon tadi malam, tapi sewaktu aku menjemputmu, kau terlihat—“

“Sudahlah, itu tidak penting!” potongku dengan nada diriang-riangkan. “Kau jadi memilih boneka yang mana?” Aku mengalihkan perhatian pada boneka-boneka lucu yang berjejer rapi pada rak di hadapanku.

“Jangan mengalihkan topik,” keluh Seungho. Tatapannya yang tajam menuntutku untuk mengatakan yang sebenarnya.

Merasa tidak ada gunanya terus mengelak, aku menjawabnya dengan, “Hanya pertengkaran kecil.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja, Ssong! Dia tidak akan tahan terlalu lama marah padaku.” Dusta! Oh, kian hari aku semakin pandai berdusta.

Seungho tertawa renyah. “Ya, suami mana yang tahan tidak menyapa istrinya yang rela tidak keluar rumah selama berminggu-minggu hanya untuk merawatnya yang sedang sakit?” Kurasakan Seungho menepuk-nepuk pundakku. “Harus kuakui jika dia sangat beruntung bisa memilikimu sebagai istrinya.”

Seperti ada yang meninju dadaku, aku terdiam dengan perasaan terguncang. Oh, seandainya saja Seungho tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana pernikahan ini bisa berlangsung. Jika saja ia menyadari hal itu lebih awal, dan datang menemuiku sebelum Tuan Salju-musim-panas itu masuk ke dalam hidupku. Mungkin keadaannya akan berbeda.

“Hey, kau yakin tidak membutuhkan tempat sampah untuk membuang semua masalahmu?” Ia memamerkan senyum menghibur yang menular. “Aku ingat dulu kau pernah bilang, bahwa seorang sahabat itu seperti tempat sampah yang mampu menampung semua bebanmu. Jadi, biarkan aku menjadi tempat sampahmu hari ini.”

Aku tertawa sembari menggeleng. Air mata nyaris turun di pipiku bila aku tidak segera menahannya. Mengetahui ia masih mengingat semua ucapanku di masa lalu, membuatku merasa lebih baik. “Tidak, Ssong! Aku hanya bercanda saat itu. Sahabat tidak pantas disebut sebagai tempat sampah. Dia lebih mulia dari itu.”

“Baiklah, apapun sebutannya. Aku bisa meminjamkan telingaku untuk mendengar semua keluh kesahmu.”

Aku menggeleng bingung. Sempat tergoda untuk menceritakan semua masalahku padanya, tapi aku mencoba menahan diri. “Bukan hal yang serius. Kau tidak perlu khawatir,” elakku selagi meraih boneka monyet bertopi yang ada di hadapanku.

Aku mendengar Seungho mendecak, tapi aku harus berterima kasih padanya karena ia tidak lagi memaksaku bercerita. Betapa ingin aku menceritakan semua padanya, tapi tidak… masalahnya akan semakin runyam bila ia sampai tahu kenyataannya. Kenyataan bahwa aku menikahi Lee Donghae karena terpaksa.

“Sebaiknya memang bukan hal yang serius.” Terkesiap, aku langsung memutar tubuh menghadap Seungho sewaktu mendengarnya berkata. “Atau… ia akan berhadapan denganku.”

Oh, Ssong! Jangan membuatku semakin menyesali jalan hidupku sendiri.

 

***

 

 

Bertekad memperbaiki hubunganku dengan Donghae, kulangkahkan kakiku ke lantai dua dengan senampan Samgyetang di tangan. Sadar, Tuan Salju-musim-panas itu mungkin belum menyantap apapun malam ini, aku meminta Seungho mampir ke kedai Samgyetang dalam perjalanan pulang. Aku ingat dulu Eomma sering memasakkanku Sup Ayam Gingseng di saat aku sakit, dan aku merasa sedikit lebih baik setelah memakannya. Mungkin Donghae juga akan merasakan hal yang sama.

Pelan, kuketuk pintu kamarnya. Namun keheningan yang panjang menyambutku. Nyaris saja aku menyerah dan memilih kembali ke bawah karena tidak ada jawaban apapun dari dalam setelah untuk kesekian kalinya aku mengetuk. Tapi sewaktu pertengkaran kecil kami tadi pagi terulang dalam benakku, aku memantapkan diri membuka kenop pintu itu yang ternyata tidak terkunci.

Aku melangkah masuk, hanya untuk menemukan kamar itu kosong. Tidak ada siapapun di sana. Begitu pula suara kucuran air yang menunjukkan keberadaannya di kamar mandi. Yang membuatku bingung, kamar itu terang berderang, tapi… ke mana Donghae pergi? Jika aku tidak melihat pintu balkon yang terbuka, dan menemukan punggung lebar berbungkus kaus putih lelaki itu di pinggir kolam renang, mungkin aku sudah mengira sesuatu yang buruk telah terjadi padanya.

Mendesah lega, kuletakkan nampan itu di atas meja dan melangkah menghampirinya. Sama sekali tidak menyangka bahwa diriku menjadi segugup ini hanya untuk mengucapkan maaf padanya. Jika dia yang sedingin es di kutub utara saja mampu mengatakan itu, lalu mengapa aku harus merasa enggan?

“Ehm..” Aku berdeham canggung, untuk mengumumkan kehadiranku. Sayangnya, Tuan Salju-musim-panas itu tetap bergeming. Seolah-olah jiwanya tidak sedang berada di tempat ini.

Angin dingin musim gugur berhembus, membuatku terpaksa memeluk tubuhku sendiri untuk menghangatkan diri. Keheningan panjang yang berlangsung nyaris membuat nyaliku surut.

Baru saja aku membuka mulut untuk menyapa sewaktu suara berat dan dingin itu menyela, “Pergi!”

Aku membeku. Satu kata darinya seperti hujan es yang membasahi sekujur tubuhku. Ia bahkan tidak repot-repot menoleh untuk mengatakannya, seolah kehadiranku sama sekali tidak penting baginya

Mengumpulkan segenap keberanianku yang tersisa, aku mencoba lagi. “Lee Donghae-ssi, aku—”

“Pergi!”

Terkesiap. Sekali lagi, perasaan dingin itu membanjiriku. Kali ini, aku bahkan bisa merasakan tubuhku gemetar, dan itu tidak ada hubungannya dengan dinginnya udara malam ini. Secepat itukah lapisan es di hatinya membeku kembali? Dan itu hanya karena satu ucapanku yang tidak disengaja?

Aku mundur selangkah dengan perasaan terguncang. Kemudian dengan linglung aku tertawa pedih. Menertawakan kebodohanku sendiri. Aku tahu dinding kepercayaan di antara kami memang rapuh, tapi tidak pernah kuduga bahwa kesalahan kecil saja mampu menghancurkannya. Aku tertawa lagi, kali ini bahkan lebih keras. Melalui sudut mataku, aku melihatnya menoleh. Kedua alisnya bertaut sembari menatapku.

Memanfaatkan momen itu, aku dengan sengaja menggumam, “Jadi hanya karena satu kesalahan kecil, pertemanan kita berakhir?” Aku mendengus muak. “Aku bodoh karena mencoba bersikap baik padamu!”

Aku melihat Lee Donghae beranjak dari tempatnya duduk. Meski tidak sekalipun mengaduh kesakitan, aku tahu ia kesulitan untuk berdiri dan menyeimbangkan tubuh di antara genangan air yang terciprat di pinggir kolam renang. Jika situasinya tidak seperti ini, aku akan dengan senang hati membantunya berdiri. Tetapi kalajengking memang tidak seharusnya ditolong, aku mencoba mengingatkan diriku sendiri.

Dengan langkah tertatih, ia mendekat. Matanya nyalang menatapku seperti seekor singa yang terluka. “Untuk apa bersikap baik?” teriaknya lantang. “Untuk apa mencoba berteman jika nantinya kau juga akan meninggalkanku?”

“Kau salah paham, Lee Donghae. Aku bisa menjelaskannya padamu.”

Aku mendengarnya mendengus. “Menjelaskan apa?” desisnya dengan nada rendah berbahaya. Ia mendekat dan mencengkeram kedua lengan atasku hingga aku nyaris memekik kesakitan. “Bahwa kau sengaja berbuat baik padaku, membuatku percaya pada kebaikankmu, lalu setelah itu… kau akan mengatakan padaku bahwa kau masih mencintai Yang Seungho, dan berniat mengajukan perceraian padaku agar kau bisa menikah dengannya?”

“A-apa? Bagaimana kau bisa…“

“Sungguh sebuah rencana balas dendam yang menakjubkan, Lee Yoohee!” Ia berpaling, melepaskan cengkeramannya dan berjalan menjauh ke sisi kamar yang lain. Seolah berdekatan denganku saja akan membuatnya tertular penyakit mematikan.

“Pergi! Jika memang itu yang kau inginkan! Seperti tujuan awalmu, kau memang telah berhasil membalaskan dendammu padaku,” putusnya dengan nada final, meninggalkanku membisu tanpa mampu membalas ucapannya yang setajam mata pisau.

12

 

***

 

Hujan lebat di luar belum reda, tapi aku memaksakan kakiku melangkah meski terasa amat berat. Tanganku menjinjing sebuah tas besar berisi pakaian dan perlengkapanku sendiri. Setelah berpikir semalaman, mungkin meninggalkan tempat ini memang jalan terbaik yang harus aku pilih.

Aku mencoba mengingatkan diriku sendiri bahwa memang inilah yang kuinginkan. Menyakitinya untuk membalas dendam, dan sekarang aku seharusnya pergi karena sudah tidak ada lagi urusan di antara kami. Alih-alih merasa puas, aku bahkan tidak punya alasan untuk tersenyum.

Sewaktu mengingat caranya menatapku semalam, aku gagal menghibur diriku sendiri bahwa aku memang telah melakukan hal yang benar. Mungkin aku memang naïf, tapi di sudut terdalam hatiku merasa, bahwa sungguh akan jauh lebih baik jika ia mau bersikap seperti dulu. Menjadi suami yang posesif dengan bersikap kasar dan tidak membiarkan siapapun mendekati istrinya. Bukannya menyerah dengan begitu cepat dan justru mengusirku pergi dari sisinya.

Aku tersenyum mengejek diriku sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Benarkah jika aku telah belajar untuk menyukainya? Menyukai seorang lelaki yang telah menghancurkan hidupku sendiri? Menjauhkanku dari impian bersama cinta pertamaku? Tidak. Itu pasti tidak benar!

Saat menuruni tangga, sudut mataku menangkap sosoknya yang tengah berlatih berjalan di ruang tengah. Mendengar gemerisik langkahku di tangga, ia menghentikan kegiatannya untuk menatapku. Matanya setajam mata elang, tapi gerakannya seanggun kucing yang siap memangsa. Lee Donghae telah kembali pada pribadinya yang dulu. Dingin dan tak tersentuh. Semua karena aku… Sesuatu seperti menghantam dadaku dengan amat keras. Rasanya sangat menyakitkan.

“Seperti yang kau inginkan, aku akan pergi,” sengaja kuumumkan padanya, seolah ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ia bergeming. Tapi aku bisa melihat tinjunya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya.

“Silakan! Aku tidak akan menahanmu.” Dari nada bicaranya yang tenang, aku tahu ia telah berhasil menyembunyikan emosinya dengan sangat baik.

“Kau mungkin menganggapku pengkhianat. Tapi ketahuilah bahwa aku tidak sama seperti mantan kekasihmu itu.”

Seperti halnya Donghae, aku pun terkejut mengapa kata-kata itu bisa keluar dari bibirku?

Sedetik kemudian, aku mendengar Donghae tertawa sinis. “Ya, kau bahkan lebih buruk darinya.” Ia mengabaikan bantahanku dengan terus berkata, “Kau sepertinya sengaja memanfaatkanku untuk mendapat perhatian dari Seunghomu itu. Dan kini kau telah berhasil.”

Aku mengernyit bingung. Seungho. Apa hubungannya semua ini dengan Seungho? Mungkinkah ia melihat kebersamaanku dengan Seungho semalam?

“Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Semalam kau menuduhku mengkhianatimu tanpa bukti yang jelas, dan sekarang kau bilang aku memanfaatkanmu?”

“Memang itu kan yang kau inginkan?”

“Omong kosong apa ini?” Aku mendesis muak. Dengan tegas aku melanjutkan pembelaanku sebelum ia sempat menuduhku dengan hal gila lainnya. “Kemarin, harus kuakui jika aku memang telah salah bicara. Karena sebelumnya aku ragu dapat menjalin hubungan baik denganmu. Tapi karena kau telah berubah, aku memutuskan untuk memberi hubungan ini kesempatan. Faktanya, kau mengecewakanku dengan pikiran dangkalmu itu!”

Dengan gusar, aku melangkah ke hadapannya. Memberanikan diri menatap mata kelam itu dengan intensitas emosi yang sama. “Berhentilah berpikiran bahwa semua wanita sama saja, karena faktanya… Tidak ada pribadi yang sama di dunia ini.”

“Pergi!” Ia membentak. Wajahnya memerah karena emosi yang sengaja dipendamnya.

“Ya, aku memang akan pergi. Tapi setelah kau mendengar semua penjelasanku.”

Ia bergeming. Matanya menatapku tajam dalam ketidakpercayaan, seolah gagasanku hanya sebuah lelucon tidak penting. “Untuk apa?”

“Aku telah mendengar semua tuduhanmu padaku, dan sekarang kau memiliki kewajiban untuk mendengarkan semua penjelasanku.” Aku tidak tahu mendapat keberanian dari mana, tapi sekarang aku harus bertepuk tangan untuk diriku sendiri karena telah berhasil membuatnya bungkam.

“Aku sungguh tidak menyangka bahwa dinding kepercayaan di antara kita serapuh ini. Hanya karena satu kesalahan, kau menuduhku lebih buruk dari mantan kekasihmu itu. Oh, lelucon macam apa ini?” Tertawa muak, aku melanjutkan, “Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.”

Ia masih bergeming, dengan kedua tangan mengepal sampai buku-buku jarinya memutih. Menahan emosi.

“Aku tahu dulu kau pernah terluka, tapi bukan begini caranya memperlakukan orang lain.”

“Jangan mengajariku cara bersikap!” Ia menggeram penuh emosi, tapi aku terlalu marah untuk merasa takut padanya.

“Oh, baiklah! Lupakan apa yang telah kukatakan. Dan hiduplah seperti yang kau inginkan!” Aku mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah. “Aku tidak peduli lagi padamu. Kau benar, Yang Seungho sudah menungguku di depan. Dan terima kasih karena telah memberikan kebebasanku kembali. Aku akan mencoba mencicil sejumlah uang yang telah kau berikan pada Ibuku,” meski gusar, aku mencoba untuk menahan emosiku ke tingkat paling rendah. “Aku hanya kasihan padamu. Jika sikapmu terus seperti ini, kau bisa mati karena kesepian yang kau buat sendiri. Selamat tinggal!”

Sebelum ia sempat mengucapkan apapun lagi, aku berlari keluar dan membanting pintu dengan keras. Mengabaikan pakaianku yang basah terkena rintik hujan di luar. Aku tidak mengerti mengapa rasanya sesesak ini. Bukankah seharusnya aku bahagia? Aku sama sekali tidak mengerti dengan reaksi tubuhku sendiri.

Menggigil kalut, aku memeluk diriku sendiri. “Yoohee, kau baik-baik saja?”

Kuangkat kepalaku, dan langsung berhadapan dengan ekspresi khawatir Seungho. Sahabat karibku dan juga cinta pertamaku itu kini berdiri di hadapanku dengan sebuah payung besar yang melindungi kami berdua dari hujan. Aku memarahi diriku sendiri karena tidak mampu menyambutnya dengan senyuman.

Terkesiap bingung, aku hanya bisa mematung sewaktu ia menarikku ke dalam pelukannya yang hangat.

“Ssong, pakaianku basah.” Aku mencoba menghindar, tapi ia tidak mau melepasku. Bahkan, ia harus merelakan payungnya terbang terbawa angin dalam usahanya menahanku menjauh.

“Sekarang, bajuku juga sama-sama basah,” bisiknya. “Kalau kau sakit, aku juga sakit.”

Aku tertawa pahit, dan membalas dekapannya dengan erat. “Itu sama sekali tidak lucu!”

Seungho tidak menjawab, dan hanya terus memelukku erat seperti seorang kakak yang siap memberikan perlindungan terhadap adiknya. Setelah sekian menit berlalu, ia berkata, “Menangislah! Jangan menahan dirimu terlalu lama. Saat ini, aku tidak akan memaksamu menjelaskan.” Ia membelaikan tangannya di punggungku, menjalarkan getaran hangat di sudut terdalam hatiku. “Tapi nanti, kau harus menjelaskannya padaku. Harus!”

 

 

TBC

 

Maaf yaaa lanjutannya lamaaaaaa sekali, dan tolong jangan digampar karena makin ke sini ceritanya makin aneh. #Kaburrrrr

53 thoughts on “[Another Story] Passionate Love -Chapter 9-

  1. padahal udh mulai waras dongenya..knp pke keceplosan sih yooheenya??
    setelah nunggu lama, part ini malah bikin gregetan~ pdhl g pendek lho..cma masih ngerasa kurang..
    abis…gregetan~
    baiklah..ditunggu next partnya, semangat onnie~

  2. di awalnya so sweet bgt, aku bcanya ampe senyam senyum sendiri. tiba2 senyumku luntur lagi, cm gara2 seungho, donghae mulai berubah menjdi pribadi yg dingin. kasian bgt hidupmu yoohee. kalian itu seperti kucing dan tikus, gk pernh bisa akur. ternyata bahagia itu hanya sesaat. oke di tunggu next partnya.

  3. aigooo.. aigooo… part kemarin udah baikan, tp skrng…..?
    tuan salju musim panas.. ke mana aku harus membuang(?) mu?
    d padang pasir? agar lebih hangat? hahaha…

    kpn akurnya klo kek gini?
    btw cepat sembuh ya…. hehe

  4. koo donghae bisa tau ea klo yoonhee mau blz dendam???
    pdahal udh pda sling suka knp hrs sling mykti sech…

    lma bbgt aika…
    tpi gpp kok
    tetep di tggu next partnya
    klo bsa jgn lma” hihihi…
    keep writing n good luck

  5. Aishhh si yohe nya nyebelin……. ga suka aku sama dia. Ada perempuan lain ga buat si ongek.kasih chas perempuan lain ajah dech…

    akkkk pangeran es musim panasku… aku padamu.aku lebih suka dia yang sedingin es dikutub utara.. dingin tak tersentuh…..

  6. aaaaaaa….
    aku akan jd gila.karna donghae oppa dan yoonhee,mereka sama -sama nahan GENGSI.
    Kalau suka yang blng suka,kenapa harus di tunda.Keburu yoonhee di ambil senghoo.Ntar donghae oppa kesepian.
    Eonni udh satuin aja mrka langsung.jd mkin greeget akunya
    next part jgn lama -lama ya eonni🙂

  7. akhir’a publish jga setelah penantian pnjang..kekekeke..
    awal bca senyum” gaje eh tiba” lgsung luntur(?)
    greget deh am donghae tinggal blg cemburu aj susah bgt..
    ga ngasih yoonhee kesempatan ngejelasin maen usir aj
    bkin dy nyesel aj eon,,bkin dy makin kesepian
    #maapyaelfhisy abis itu bkin mrka romantis”an lge deh
    hehehehe..(maap klo byk mau’a)
    next chap’a jgn lama” ya eonni…
    FIGHTING…

  8. Wah wah jadi donghae kembali lg seperti semula”” Dan sebenarnya antara donghae yoohee itu sama sama ada cinta hanya keduanya gk sadar

  9. knp donghae nyebut2 ttg bls dendam, apa dia udh tau ttg niat awal yoohee? apa ni rncna ssong?!

    geraaaaaammmm udh sweet sweet diawal eh akhir part mlh kacau mrka… kyaaaaaa cpt publish next eonni!!

  10. Aakh hee kenapa kata2 mu ky malah gitu!! Udah tau si ikan mh krisis kprcayaan malah dikatain kasar ky gtu.. Sm dy mah harus lemah lembut ngejelasinnya klo pke emosi malah makin ga percayaan *sok bijak :p

  11. Geregatan aku sma donghae, knapa dia bisa dengan gampangnya jadi salju lagi cuma gara2 masalah sepele??
    Aku dukung yoonhae pergi dri rumah itu, hehehe… #ketawajahat
    Yahh semoga aja dongahe sadar, dan buat yoonhae balik lagi, tapi kok kyaknya bakal lama yaa…
    Aku tunggu chapter slanjutnyaa..!!!

    Keep Writing!!!

  12. awawa kenapa begini… kenapa Donghae kembali dingin??? menyakitkan.. Kapan Donghae tidak bersikap dingin lagi?? benarkah mereka akan berpisah?? Yoohee sudah pergi??? Donghae… Kau ahh.bagaimana dengan.mu Hah??? Donghae sebenarnya sudah mulai menyukai Yoohee belum?? kenapa kepercayaan mereka sangat mudah untuk di hancurkan… Sedih nya

    di tunggu kelanjutan.nya Chingu.. jangan terlalu lama yah😀

  13. Akhirnyaaaa di post juga lanjutannya😀
    yahh..Aku kira hubungan mereka bakal makin baik eh malah berantemnya kumat lagi -.-
    ditunggu part selanjutnya🙂

  14. Min aku suka ff passionate love >…<
    Feelnya dapet abis T……T
    Ditunggu next part kalo bisa cepet :") aku suka bolak balik cek WD buat liat ff ini dipost T…..T #ngenes :v
    Aku suka banget min

    Keep writting min loveee yaaaa

  15. Edodoee kenapa malah jadi begindang sek? Ckckck -,-

    oun alurnya berasa kecepetan yah? Nyelekit/?nya jadi kurang berasa. Aku kehilangan feel ><

  16. heummmmmmm akhirnya nyesek ,donghae balik lagi jadi dingin😥 awalnya so sweet banget optimis bakal baikan eh ada konflik lagi hehe tapi gk asik sih klo konfliknya udhan gitu aja ^^ joha ditunggu lanjutanya🙂

  17. Ini nih yang namanya cemburu membabi buta.
    Kalian masih aja malu-malu kucying sih bener di pisah aja baru ngeraung hem;(
    Mba Yoohe sabar aja mas Donghae emang suka gitu apalah daya kita.

  18. wah makin bnyak konfliknya ya ka, semoga deh smuanya bakal baik2 aja, aku juga sring ngerasa ko dituduh itu emang saki banget u.u hehe lanjuuuuttt

  19. Dduuhh donghae😥
    Ini loh masalah sebenarnya sepele…kesalahpahaman karena ego dan gengsi masing2..
    Ini couple beneran bikin saya GREGEEETTT…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s