[Another Story] Passionate Love -Chapter 8-

<<< Previous Part:

Lee Donghae jatuh sakit, dan Yoohee berusaha untuk merawatnya. Sayangnya, lelaki itu terlalu gengsi untuk tampak tidak berdaya di hadapan Yoohee. Dan keengganannya itu, justru membawa Donghae pada kecelakaan. Di luar dugaan, kecelakaan yang diperkirakan polisi sebuah percobaan pembunuhan itu, justru membuat hubungan Yoohee dan Donghae menjadi lebih baik.

Chapter 8

10406823_335685739934361_3356047657527712673_n

Credit Pict: Almida Rahayu (Park Min Hyun)

Menolak bukanlah cara yang tepat untuk melepaskan diri darinya. Dia pria yang bisa melakukan apa saja agar keinginannya dapat terpenuhi. Seperti iblis licik yang siap memberikan muslihatnya sampai si korban bertekuk lutut padanya. Apapun yang kulakukan, ia pasti tidak akan melepasku sampai aku menyerah.

Membawa baskom besar berisi air hangat dan sebuah washlap di tangan, aku keluar dari kamar mandi. Langkahku sempat berhenti sejenak mendapati Lee Donghae tengah sibuk bergulat dengan kancing kemejanya. Satu per satu kancing kemeja itu terbuka, hingga memperlihatkan bagian depan tubuhnya. Aku menunduk, sebelum pipiku terasa lebih panas dari bara api.

“Aku ragu jika air itu lebih menarik dariku.” Suaranya terdengar dan aku terpaksa mengangkat kepalaku menatapnya. Dia memamerkan senyum simpul penuh pertimbangan. Aku yakin dia menyadari keenggananku, tapi rupanya Tuan Salju-musim-panas itu senang membuatku salah tingkah. “Kemarilah! Bantu aku membuka kemeja ini.”

Sial! Menelan ludah gugup, kulangkahkan kaki mendekati tempat tidur. Seiring dengan semakin dekatnya jarak antara diriku dan dirinya, jantungku semakin kuat memompa darah ke sekujur tubuh.

Kuletakkan baskom itu di nakas, dan membantunya melepas kemeja. Tanganku gemetar sewaktu meraih washlap dan mulai menyeka dadanya yang kini telah terbuka sepenuhnya. Kulitnya benar-benar sempurna. Putih mulus tanpa cela. Aku bersumpah ia memiliki kulit selembut kulit bayi. Jika aku—oh, Tuhan! Apa yang sedang kupikirkan?

Suasana mendadak hening, hingga aku bisa mendengar degup jantungku sendiri. Aku menolak menatap wajahnya dan mencoba memfokuskan diri dengan pekerjaanku. Sebisa mungkin aku mempercepat melakukan tugas itu supaya jantungku berhenti bekerja terlalu kuat. Kalau begini terus, aku ragu dokter jantung akan mengatakan kondisi jantungku baik-baik saja.

“Aaargh!”

Terkesiap, aku mengangkat tanganku yang masih menggenggam washlap. Karena terlalu terburu-buru, tanpa sengaja tanganku menyenggol luka di lengannya. Aku melihatnya meringis sembari memegangi lengan atasnya yang terluka.

“Maaf,” gumamku penuh sesal, lalu meraih kotak P3K di laci nakas. “Biarkan aku mengganti perbannya sekalian,” tawarku yang disambut dengan anggukan kepala.

Hening lagi. Harus kuakui, aku benci keheningan itu. Ayolah katakan sesuatu! Setidaknya, aku tidak akan berpikir macam-macam dan bisa lebih fokus lagi mengerjakan tugasku.

Selesai membalut lukanya, aku berniat segera pergi dari hadapannya, tapi urung ketika ia bersuara. “Lee Yoohee!”

Aku diam di tempatku berdiri, menantinya melanjutkan apa yang akan dia katakan. Ketika satu menit berlalu tapi tidak ada kata apapun yang terlontar darinya, aku memberanikan diri menatapnya.

            Perutku terasa melilit menatap senyum yang kini tersungging di bibirnya. Bukan senyum sinis seperti yang biasa ia berikan padaku, tapi senyum tulus yang bahkan tidak kusangka pernah dimiliki lelaki sepertinya.

“Katakan, apa lagi yang kau inginkan?” Aku bertanya ketika ingat untuk kembali bersuara.

Ia masih bergeming, dan senyum itu tetap tersungging di bibirnya. Hingga beberapa menit berlalu, aku mendengarnya berkata. “Aku tidak tahu kau sangat suka melihatku bertelanjang dada seperti ini.”

Oh, sial! Aku lupa mengambilkan pakaian ganti. Jika kupikir ia akan berubah dalam satu menit dan menjadi Lee Donghae yang baik dengan mengucapkan terima kasih, aku telah salah besar menilainya.

Cepat, aku masuk ke ruang pakaian. Mengambil T-shirt secara acak dari tumpukan pakaiannya yang telah digosok dengan rapi oleh Bibi Han, dan berjalan menghampirinya. Ia masih diam di sana, dengan senyumnya yang kini semakin lebar hingga nyaris mencapai telinga.

“Ini, pakailah! Kalau kau—“

Kehilangan keseimbangan, aku tersentak maju dan mendarat dengan mulus di dadanya sewaktu ia menarik lenganku dengan satu sentakan cepat. Mata tengah malamnya mengunci tatapanku seolah sedang mencari sesuatu di sana. Napasnya berhembus menghangatkan wajahku yang terasa beku. Aku membisu, tidak mampu mengucapkan apapun, sementara dadaku seperti akan pecah karena jantungku berdentum kuat seperti baru saja berlari berkilo-kilo meter jauhnya.

“Lepaskan!” Aku berjengit berusaha melepaskan diri sewaktu tangannya melingkari punggungku, menekanku semakin dekat ke tubuhnya. Aku yakin, ia juga bisa merasakan hentakan liar jantungku di dadanya.

“Katakan, kenapa kau mau melakukan semua ini?” Suaranya rendah ketika berbicara, tapi posisiku terlalu dekat untuk tidak mendengarnya.

“A-apa?” pekikku linglung. Dalam situasi seperti ini, aku tidak mampu berpikir dengan jernih.

“Kau bersedia merawatku, membawakanku makanan, mengingatkanku minum obat, merawat luka-lukaku, bahkan menyeka tubuhku.”

“Aku… aku… aku hanya…” Sial! “Lepaskan aku!”

“Jawab dulu pertanyaanku!”

Aku menggeliat sekali lagi, hanya untuk mendapati tubuhku semakin rapat ke tubuhnya. Untuk ukuran seorang pasien yang terluka, dia bisa dibilang cukup kuat.

“Jawab!”

Aku mendesis dalam usahaku melepaskan diri. Setelah apa yang kulakukan untuknya, dia masih mempertanyakan ketulusanku?

“Bukankah kau yang memintanya? Kau membuatku tidak bisa menolak permintaanmu! Kenapa sekarang kau bertanya padaku?” Entah mendapat keberanian darimana, aku berhasil mengomelinya dalam satu tarikan napas.

“Tapi kau membenciku, iya kan? Bisa saja kau memanfaatkan ketidakberdayaanku untuk membalas dendam.”

Oh, persis seperti yang kuduga. Kukira dia sudah menyerah pada kecurigaannya terhadapku. Ternyata… aku salah.

“Lee Donghae, bisakah kau tidak mencurigai siapapun dalam hidupmu? Bisakah kau menghargai apa yang orang lain lakukan untukmu? Kenapa kau menganggap semua orang ingin menyakitimu? Kenapa?” Aku nyaris berteriak saat mengatakannya, tapi berhasil meredam amarahku sendiri karena takut keributan ini sampai ke telinga Bibi Han. Tinjuku berulang kali mendarat di dadanya, tapi tampaknya… ia sama sekali tidak terganggu.

Hening. Ia bergeming, tapi rengkuhannya terasa semakin erat hingga aku kesulitan bernapas.

“Lepaskan aku! Sialan kau! Aku hanya ingin bersikap baik, apa itu salah? Tidakkah kau bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak?” Aku tidak menyadari ada air mata yang lolos dan jatuh membasahi dadanya.

Dalam satu detik, rengkuhannya mengendur, dan aku berhasil melepaskan diri hingga berdiri tegak meski rasanya kedua lututku masih lemas seperti jelly.

“Maaf. Jangan menangis,” bisiknya selagi aku mengatur napas menjadi lebih tenang.

Kuhapus air mataku dengan kasar, dan mengutuki diri sendiri mengapa bertingkah selemah ini di hadapannya? Tapi, seharusnya dia mengerti. Setelah apa yang kulakukan untuknya dalam beberapa hari terakhir, alih-alih berterima kasih, ia malah mencurigaiku? Oh, dia benar-benar keterlaluan!

“Tidak apa-apa. Aku hanya lelah,” desisku jengkel. “Kalau kau tidak suka aku melakukan ini, aku akan dengan senang hati berhenti merawatmu!”

“Yoohee-ssi, tunggu!”

Kuurungkan niatku pergi, dan menoleh menatapnya. Tapi bukan untuk mendengar apa yang akan dikatakannya, karena sebelum lelaki itu sempat melontarkan sesuatu, aku memotong dengan tajam. “Kau telah bersikap tidak adil dengan mencurigai hampir semua orang di sekelilingmu, hanya karena satu kesalahan yang pernah dilakukan mantan kekasihmu di masa lalu. Kalau kau membencinya, tidak seharusnya kau menghukum semua orang atas apa yang telah dilakukannya padamu!”

Aku berjalan pergi tanpa menoleh lagi, dan membanting pintu cukup keras. Setidaknya, dia harus belajar menghargai orang lain.

***

Hari sudah sore sewaktu Lee Hyukjae keluar dari kamar Donghae dengan wajah tertekuk-tekuk seperti pakaian tidak digosok. Sepertinya, Lee Donghae membuat masalah lagi. Lelaki pemilik senyum lebar itu menghampiriku yang kini tengah duduk di ruang santai sembari membaca buku. Aku kasihan padanya, setiap saat harus menghadapi emosi Donghae yang tidak bisa diperkirakan. Seperti halnya yang terjadi padaku, oh… sial!

“Sepertinya, pembicaraan kalian tidak berjalan baik.”

Hyukjae mendesah, lalu melemparkan dirinya di sofa. Tanpa permisi, meraih gelas orange jus milikku dan meminumnya hingga tandas. Aku hanya bisa menahan senyum melihat tingkahnya itu.

“Aku ragu Donghae sedang sakit jika sikapnya seperti itu,” keluh Hyukjae seraya menyandarkan tubuhnya di sofa. Tampak tidak bersemangat dan sangat tertekan.

“Aku minta maaf. Karena pertengkaran kami, kau jadi kena imbasnya.”

Dia mengangkat wajah, dan menatapku dengan terkejut. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng sembari tersenyum. “Tidak, tidak. Bukan sepenuhnya salahmu. Apa yang terjadi di perusahaan, lebih banyak memengaruhi emosinya.”

“Di perusahaan?” Kutegakkan punggung, terkejut mendengar penjelasannya. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Sudahlah! Tidak apa-apa, ini tidak ada hubungannya denganmu,” sangkal Hyukjae lalu memperlihatkan senyum tidak nyaman. Yah, tidak seharusnya aku ikut campur masalah pekerjaan mereka “Tapi sepertinya, kau harus lebih bersabar menghadapinya,” tambah Hyukjae selagi ia mengecek jam tangannya.

Oh, bagus. Apa yang terjadi di perusahaan, dan dia melimpahkan semua emosinya padaku. “Kurasa, aku sudah mulai kebal menghadapi semuanya.”

Hyukjae menyeringai. “Syukurlah! Kau memang harus terbiasa menghadapinya, Yoohee-ssi.”

Selepas mengucapkan salam perpisahan, Hyukjae pergi dengan alasan ia masih harus mengurus banyak hal. Ya, aku memang akan bersabar menghadapinya. Tapi aku sudah memutuskan untuk berhenti merawatnya. Apa yang dilakukan Tuan Salju-musim-panas tadi pagi, sudah sangat kertelaluan.

Hanya sekitar lima belas menit setelah kepergian Hyukjae, aku mendengar suara Bibi Han yang kini berdiri tepat di depanku. “Tuan Lee ingin kau yang menyuapinya.”

“Apa?” Kontan saja aku mendengus. “Katakan padanya, Ajjumma. Aku tidak mau merawatnya lagi.”

Bibi Han tersenyum sedih. “Yoohee-ssi, saya sudah mengatakannya. Tapi Tuan Lee berkeras meminta kau datang. Jika tidak, dia tidak mau makan dan minum obatnya.”

Aku mendesis muak. Mengancam, dan selalu mengancam. Hanya itu yang bisa dilakukannya. “Aku tidak peduli!” balasku tak acuh. “Dia diperbolehkan melakukan apa saja yang diinginkannya!” pungkasku, lalu beranjak dari sofa dan memutuskan mengunci diri di kamar.

***

“Tuan muda belum mau makan. Makanan yang kubawakan untuknya sore tadi sama sekali belum tersentuh. Otomatis, obatnya pun belum diminum.”

Aku masih ingat kata-kata yang diucapkan Bibi Han beberapa menit lalu. Ia yang biasanya pukul 4 sore sudah pulang, malam ini terpaksa tidak pulang karena mengkhawatirkan kondisi Donghae. Lelaki itu benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan permohonan Bibi Han yang begitu menyayanginya seperti putranya sendiri?

Tanpa mengetuk pintu, aku masuk ke kamarnya. Gelap. Lee Donghae bahkan tidak menghidupkan lampu tidur berbentuk bola yang menggantung di kedua sisi tempat tidurnya. Hanya cahaya lampu kota dari luar jendela yang masuk dan memberikan penerangan remang dalam kamar.

“Pergilah! Aku tidak butuh belas kasihmu!”

Dengusanku lepas begitu saja sewaktu kudengar suaranya yang terkesan dingin di balik kegelapan malam. Kuberanikan diri melangkah, dan menghidupkan lampu kamar hingga kini suasana jadi terang berderang.

Tuan Salju-musim-panas itu sedang berbaring di tempat tidur, tubuhnya tertutup selimut hingga sebatas leher. Jika ia tidak bersuara, aku pasti berpikir ia sedang pulas.

“Bibi Han mengkhawatirkanmu.” Aku menjaga suaraku agar tetap datar.

Ia berguling, menatapku yang kini berdiri hanya beberapa senti saja dari tempat tidurnya. “Lalu bagaimana denganmu?”

Tidak bisa lagi menahan desisanku, aku membiarkan dia mendengarnya. Bahkan dengan sengaja berpaling untuk menunjukkan ketidakpedulianku. “Kau mau makan ataupun tidak, kau mau sembuh atau ingin tetap begini, itu semua bukan urusanku!”

Tawa datar itu terlontar darinya. “Kau tidak terlalu pandai menutupi perasaanmu, istri kecilku yang manis.”

Sialan! Kontan aku mendelik, memasang wajah segalak mungkin di hadapannya. Walau aku sadar, di dalam hati harus membenarkan apa yang dikatakannya. “Ya, aku bahkan menunjukkannya secara langsung bahwa aku membencimu!”

“Membenci dengan cara merawatku dengan penuh perhatian. Sungguh mengesankan.”

“Kau?!”

Tawanya meledak hingga memenuhi seluruh ruangan. Alih-alih marah karena dia menertawakanku, aku justru merasa bahwa tawa itu terdengar sangat tulus. Mungkin aku sudah gila, bahkan ketika mendengar ia berkata. “Maafkan aku, Lee Yoohee. Kemarahanmu tadi pagi cukup beralasan. Dan aku sadar itu semua salahku.”

Tertegun bingung, aku mendekat ke jendela kaca geser yang menampilkan langit malam berbintang di atas sana. Langit itu masih sama indahnya seperti bertahun-tahun lalu. Tidak ada yang berubah.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya mengecek apakah bulan dan bintang masih menjadi penunggu langit. Karena apa yang baru saja kau katakan, sungguh sangat mustahil bahkan ketika kiamat berlangsung.”

Tawanya terdengar lagi. Kali ini, aku merasakan kehangatan mengaliri dadaku selagi mendengarnya. “Kau mengejekku?”

Aku menoleh, jelas-jelas memberinya tatapan kau-sudah-tahu-itu. Lalu mendekat. “Jika kau sungguh-sungguh ingin minta maaf padaku, lalu kenapa kau tidak mau makan ataupun minum obat?”

Senyum yang pagi tadi diberikannya padaku, kini tersungging lagi di bibirnya. Harus kuakui jika senyum itu manis sekali. Persis seperti senyum lebar yang ditunjukkannya dalam foto yang dulu kutemukan di laci meja kerjanya. Apakah ini pertanda baik? Entahlah!

“Karena jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan datang ke mari.”

Desir hangat menelusup di dadaku. Seperti seorang musafir di gurun yang baru saja menemukan sumber air, perasaan lega itu datang, hingga tanpa kusadari senyum tipis nyaris tersungging di bibirku. Benarkah aku sebahagia itu hanya karena mendengar fakta bahwa dirinya benar-benar membutuhkanku? Oh, ini gila!

“Dan… jika aku tidak muncul, kau akan membiarkan perutmu kelaparan?” Sengaja kuperdengarkan ketidakpercayaanku dengan mendengus. “Aku meragukan itu!”

“Itu tidak akan terjadi,” balasnya tenang. Seringai puas melekukkan bibirnya ke satu sisi.

“Oh, yakin sekali kau.” Aku mendengus.

“Tentu saja,” gumamnya riang. Ada tawa renyah yang menyertai ucapannya. “Kau terlalu baik untuk membiarkanku kelaparan.”

Sekali lagi, aku tertegun. Setelah tadi pagi ia menunjukkan ketidakpercayaannya padaku, sekarang… ia membuatku bingung dengan semua yang dikatakannya.

Kulipat tangan di depan dada, sembari berjalan mendekatinya yang kini sedang dalam posisi duduk, di ranjang. “Jadi, sekarang kau menganggapku baik? Setelah apa yang pagi tadi kau katakan—“

“Kau benar. Aku tidak boleh menyalahkan semua orang atas kesalahan orang lain di masa lalu.” Ada jeda meresahkan yang berlangsung selama beberapa detik. “Aku telah bertindak tidak adil padamu, Lee Yoohee.” Matanya menatap langsung ke dalam mataku, hingga aku sendiri mampu merasakan ketulusannya. Aku tidak tahu jika apa yang kukatakan tadi pagi, telah menyentuh hatinya yang beku dan berhasil mencairkannya. “Aku minta maaf.”

Aku membisu, tidak tahu harus berkata apa lagi. Kalimat pamungkasnya terdengar seperti nyanyian merdu malaikat di telingaku. Kata-kata yang bahkan tidak pernah kubayangkan tertulis dalam kamusnya. Jika ini hanya mimpi indah, lalu mengapa lelaki itu terlihat begitu nyata? Senyum itu, mata tengah malamnya yang melembut, dan—eh?

Suara keroncongan itu… spontan, aku menggigit bibir bawahku supaya tawaku berhasil teredam. Aku tidak ingin merusak moment hangat ini dengan tiba-tiba menertawakannya dan membuat salju itu membeku lagi. Namun, beberapa detik kemudian… tawa keras meledak. Bukan. Bukan dariku, tapi Lee Donghae sendirilah yang terbahak-bahak, menertawakan kekonyolannya sendiri. Membuatku tidak mampu lagi menahan tawa lebarku.

“Lihat! Kau terlalu banyak bertanya, sedangkan perutku sudah tidak sabar untuk segera diisi.”

Aku terkikik. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Jika benar ini hanya mimpi, maka biarkan malam ini berlanjut hingga selamanya. Lee Donghae telah kembali. Mungkin itu yang akan dikatakan Hyukjae bila ia ada di sini.

***

Aku merindukanmu!” Suara Seungho terdengar. Jika suasana hatiku tidak sedang baik, mungkin aku akan langsung mengomelinya karena dalam beberapa minggu terakhir, secara terang-terangan ia telah menjauhiku. “Bagaimana kabarmu?

“Sangat baik,” balasku, seraya menyisir rambutku yang berantakan dengan tangan.

Pagi ini aku bangun lebih awal. Ada yang berbeda, dan aku tidak mampu menghapus senyum yang terus-terusan tersungging di bibirku. Kuharap, apa yang terjadi semalam bukan hanya mimpi yang akan lenyap saat pagi menjelang.

Kau marah padaku?

“Kalau kau belum sadar,” balasku ketus.

Tawa Seungho terdengar di seberang sana. “Aku hanya tidak ingin membuat suamimu marah.” Aku mendengus sebagai jawaban. Dia memang benar, tapi setidaknya… ia bisa menghiburku di saat aku sedang terpuruk. “Kalau kau begitu merindukanku, bagaimana jika aku mampir ke apartemen—

“Tidak, tidak, tidak!” potongku cepat. Aku baru saja berdamai dengan Lee Donghae. Bila Seungho datang di saat yang tidak tepat, perdamaian itu hanya akan tinggal kenangan.

Aku sedang membuka pintu kamar sewaktu kudengar Seungho mendengus. “Lihat! Siapa yang sedang menghindariku?

“Aku tidak sedang menghindarimu, Ssong. Kau boleh datang, tapi tidak sekarang.”

Hening sejenak, hingga kupikir Seungho baru saja memutus sambungan teleponnya. Nyaris saja aku menutup telepon itu jika tidak kudengar jawaban darinya. “Oke, aku mengerti. Sepertinya, suamimu yang posesif itu sedang tidak dalam mood yang baik.”

Suamiku? Ck… justru sebaliknya, dia sedang dalam mood terbaiknya. Ah, sudahlah! Aku menggeleng sewaktu mengingat senyum lebar dan tawa renyahnya semalam. Semoga semua itu masih bertahan hingga pagi ini. Aku sudah terlalu lelah dengan sikap dinginnya.

Sampai jumpa nanti. Kita perlu membicarakan kejutan untuk ulang tahun Minhee dua minggu lagi.

Ah, Seungho benar! Hampir saja aku lupa. “Baiklah. Sampai jumpa nanti, Ssong. Miss you too!”

Kuletakkan ponsel di saku celana tidurku dan melanjutkan langkahku menuju dapur. Hanya beberapa detik sebelum kakiku mencapai tangga, kudengar sesuatu yang pecah di belakang. Spontan aku berbalik, dan terkejut mendapati Tuan Salju-musim-panas itu berpegangan pada meja. Guci yang sebelumnya berada di sana, telah pecah berkeping-keping di lantai.

“Omo! Apa yang kau lakukan?” Buru-buru aku menghampirinya, membantunya berdiri di atas kedua kruk yang diapit di kedua lengannya. “Seharusnya kau meminta bantuanku sebelum memutuskan turun dari tempat tidur.”

Ia tidak menjawab dan hanya fokus dalam usahanya berdiri kembali. Yang patut kukagumi darinya, tidak sekalipun ia mengaduh kesakitan meski aku yakin rasa sakitnya tidak tertahankan.

“Aku akan mengantarmu kembali ke kamar, dan akan kubereskan sisanya.”

“Tidak.” Kuangkat kepalaku sewaktu kudengar sanggahannya. Gelenyar dingin menjalari punggungku menyadari emosi Lee Donghae tidaklah sebaik semalam. Mungkinkah… kehangatannya telah lenyap secepat petir menyambar?

“Maaf, tapi kau—“

“Temani aku jalan-jalan. Aku harus melatih kakiku agar dapat berjalan kembali,” selanya, masih dengan nada dingin yang sama.

Sial! Apakah hatinya kembali membeku hanya dalam waktu singkat? Ataukah benar dugaanku, jika semalam aku hanya bermimpi?

Menuruti keinginannya, aku meminta Bibi Han membereskan pecahan guci yang berserakan di lantai sementara aku menemani Lee Donghae berjalan. Hal yang paling sulit adalah di saat harus membantunya menuruni tangga. Meski Lee Donghae tidak sekalipun mengaduh, tetapi hampir setengah berat tubuhnya ditumpukan padaku hingga nyaris membuatku jatuh berguling di tangga.

Tepat sebelum tubuhku kehilangan keseimbangan, tangannya dengan sigap menangkap pinggangku, membuat salah satu dari kedua kruk di tangannya terlepas dan jatuh berguling-guling ke dasar tangga. Aku gemetar sewaktu merasakan hembus napasnya di wajahku. Kami berdiri sangat dekat, hingga mustahil bagiku untuk mengabaikannya. Ia menatapku dalam diam. Entah untuk berapa lama. Hingga aku mendengarnya berkata. “Kakiku.”

Astaga! Segera aku menyeimbangkan diri. Sadar, bahwa ia kesakitan karena satu kakinya terpaksa menumpu beban tubuh kami.

“Maaf,” desisku penuh sesal. “Tunggu di sini, aku akan mengambilkan—“

“Tidak perlu.” Ia menyela. “Pinjamkan saja bahumu sebagai pengganti tongkat itu.”

Sebelum aku sempat menjawab, ia telah melingkarkan lengannya di pundakku. Menarik tubuhku lebih dekat padanya. Gelenyar aneh seketika menjalari punggungku. Memberikan sinyal-sinyal waspada ke seluruh bagian terkecil di tubuhku. Dan aku merasakan perutku melilit sewaktu ia berbisik tepat di telingaku, “Aku tidak suka caramu berbicara dengan Yang Seungho.”

Aku menegang. Baru menyadari fakta bahwa kemungkinan besar ia telah mendengar obrolanku dan Seungho melalui telepon beberapa saat lalu. Meski terkejut dengan alasan kemarahannya ini, aku memilih tidak bertanya. “Dia sahabatku,” balasku tenang. “Wajar saja jika—“

“Kau masih menyukainya?”

Pertanyaan itu membuatku membisu selama beberapa saat. Hingga aku sadar, bahwa kini kami telah sampai di dasar tangga, dan aku dengan cepat melepaskan diri seraya meraih kruk yang tadi terjatuh di lantai. Selagi menyerahkan kruk itu padanya, aku menjawab. “Itu bukan urusanmu.”

“Jika kau ingin kita berdamai, itu menjadi urusanku.”

Aku melotot. “Tapi—“

“Atau kau lebih tertarik dengan gagasan pertama?”

Oh… sial! Melihat senyum puas di bibirnya, membuatku tidak tahan untuk mendengus. “Baiklah. Aku lupa jika kau harus selalu menang,” keluhku, seraya membanting diri di sofa.

Tawa renyahnya mengalun. Harus kuakui aku menyukainya. Betapa aku berharap ia akan terus memperdengarkannya untukku. Ah, aku pasti sudah gila!

“Ini semua untuk kebaikanmu.” Ia berjalan tertatih dengan kedua kruk diapit di lengan. “Seperti yang pernah kukatakan, bahwa mempertahankan cinta sepihak, sama dengan meracuni dirimu sendiri,” tambahnya sewaktu aku memberinya tatapan tidak mengerti.

“Terima kasih atas perhatianmu. Aku sangat tersanjung.” Nada menyindir tersirat jelas dalam ucapanku. Hanya orang tolol saja yang tidak akan menyadarinya.

Lagi-lagi dia tertawa. Kurasa mood-nya kembali baik dalam hitungan menit. “Sama-sama. Sama halnya dengan yang kau katakan, aku hanya mencoba bersikap baik. Apa itu salah?”

Menyebalkan! Dia meng-copy ucapanku kemarin!

Nyaris saja aku melompat ke sofa lain sewaktu merasakan ia duduk di sampingku dan berbisik, “Ngomong-ngomong, kau belum menjawab pertanyaanku.”

Double sialan! Aku harus menjawab apa? Jika aku sendiri pun tidak mengerti bagaimana perasaanku yang sebenarnya saat ini.

TBC

TBC

27 thoughts on “[Another Story] Passionate Love -Chapter 8-

  1. kurangvpanjang thor..
    dong hee kpan sih akurnya..
    gw png mrka sweet”an gitu…
    gmana kalau tuan slju msim dingin itub ngungkapkan rasa cinta pada yoohee..
    trus munculnya little lee di tengah” mrk..

  2. Akhirnyaaaaaaa..
    Part ini muncul juga..
    Ku pkir ga bkln dlanjutin..
    Donghae meski skit gengsinya setinggi gunung himalaya..
    Tp yoohee bener2 sbar ya ngehadepin donghae yg kyk gitu.. kkkkk..
    Ciyeeee donghae yg udh bisa ktwa..
    Ini psngan emg bkn gemes, trik ulur kyk lygan..

    Ditunggu part selanjutnya..
    Jgn lama2 pelish…

  3. Wowwww,, si tuan musim salju yg hangat perlahan mulai mencairkan bongkahan salju nya dan itu untuk lee yoonhee . Oiya yg dibilang donghae tadi itu apa,kok kedengaranny kyk ungkapan cemburu gtu. Semoga hubungan mereka bisa jadi lebih baik lagi.

  4. Disatu sisi rasanya tuh aku pengen banget nganuin si Donghae aduh gimana ya jelasinnya /? Pokok aku geregetan banget dah sama sikapnya Donghae oppa disini >.<
    Sekarang sikapnya lagi hangat hangatnya(?) nih .. Entar ngapa di episode selanjutnya dia berubah lagi jadi dingin -_-
    Oh iya eonnie, ngomong ngomong tentang kecelakaan donghae oppa yg katanya itu udah direncanakan, kok aku jadi curiga sama Seungho oppa ya ?_? Apa jangan jangan mantan kekasihnya donghae oppa atau jangan jangan salah satu keluarganya donghae oppa ?? Ahh nan molla -_-

    Keep next ya eonnie ff nya jangan sampai diberhentikan lagi kayak kemarin🙂 apa jadinya aku nanti kalo FF ini ceritanya diberhentikan😦

  5. akhirnya di posting di wp juga..
    haaaaaaaaa Donghae udah mulai mecair… Ah bakalan ada momen yang sweet nggak yah di part?? selanjutnya.. Kkk Donghae cemburu liat Yoohee deket sama seungho, mulai ada perasaan nih :)…
    Ah semoga Donghae kembali seperti dulu.. Tapi konflik yang nyesek banget nya belum… bagian Yoohee balas dendam, jadi kah dia balas dendam pada Donghae??? Donghae sakit hati lagi nih

    di tunggu kelanjutan nya Chingu🙂

  6. Ao ao ao….itu donghae cemburu yaa ?
    Akhirnya bisa merubah sifat dinginnya,walo sdikit tp lumayan loh mreka mulai bisa berbaikan..

    Lagian yoohee jadi orang gengsian juga..

  7. Ya amvyuuuuun so sweet bgt sih mereka,akhirnha donghae sudah bida tersenyum kembali dan mudah2han yoohee tdk membuat senyum itu menghilang kembali, uuukh sepertinya si song itu suka yoohee y tp mudah2han hae bisa membuat yoohee menyukainya🙂

  8. ga tau knapa aku berpikir kalau sebenernya Donghae cinta sma Yoohee. malah Donghae yg punya conta sepihak sama Yoohee. cuma menurutku sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s