[Another Story] Passionate Love -Chapter 7-

Chapter 7

 

 10406823_335685739934361_3356047657527712673_n

Credit Pict: Almida Rahayu (Park Min Hyun)

 

“Tidak. Jangan—“ Panas yang pekat menyentakku. Tanganku yang secara refleks menahan dada Donghae dan hanya terpisah oleh bahan linen kemejanya, terasa terbakar oleh panas tubuhnya yang melebihi normal. Pandanganku naik ke wajahnya. Ia terengah, kedua matanya terlihat lelah, dan bibir yang biasanya berwarna merah muda alami, kini tampak pucat pasi.

Ke mana saja pandanganku selama ini? Mengapa tidak menyadari detail-detail perubahan di wajahnya?

Aku tidak ingat kapan tanganku berpindah dari dada ke keningnya, dan terkejut mendapati panas membara menyambut sewaktu sentuhan itu berlangsung.

“Kau… sakit.” Adalah kalimat pertamaku yang membuatnya praktis menjauh, dan kembali ke posisinya semula di sofa lain.

Selama beberapa detik, keheningan menyambut. Aku tidak mengerti harus bereaksi seperti apa? Di satu detik, ia terlihat seperti pemangsa yang bersiap menyerang korbannya, tapi pada detik berikutnya, ia tampak luar biasa lemah seperti seekor harimau yang terluka parah.

Dia sakit. Ketegarannya tidak mampu membohongi itu. Mungkin karena inilah dia pulang lebih cepat dari yang semula dijadwalkan. Tapi, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku membantunya? Tidakkah dia akan menyengatku lagi bila aku melakukannya?

“Tidak perlu mengkhawatirkanku! Aku baik-baik saja.”

Otomatis, kepalaku terangkat sewaktu ia beranjak dari sofa, meraih tas jinjingnya dan mulai melangkah menuju tangga. Langkahnya tampak berat, dan aku tidak mampu menahan diri lagi sewaktu ia nyaris tersaruk dan jatuh di anak tangga pertama. Setengah berlari, aku berhasil meraih lengannya, melingkarkannya di pundakku, dan membantunya berjalan.

Ia sempat menolak, dan menggumamkan. ‘Aku tidak selemah itu’ beberapa kali. Tapi aku menolak untuk melepaskan tangannya. Tidak ada gunanya menjadi gengsi dalam situasi seperti ini. Dia sedang sakit, dan dia tidak perlu berpura-pura kuat untuk memperlihatkan otoritasnya di hadapanku.

“Kau boleh kembali menjadi sedingin es bila sudah sembuh nanti, tapi saat ini… biarkan aku merawatmu!”

Aku merasakan ketegangannya melalui lengannya yang melingkar di pundakku. Tapi aku bersyukur karena akhirnya dia menurut dan membiarkanku membawanya ke kamar.

Selepas malam pertama dulu, aku belum pernah lagi memasuki kamar Donghae. Tidak heran bila selintas perutku terasa melilit dan perasaan asing menyergapku ketika pertama kali melangkah masuk. Mendadak, keberadaan pria itu dengan tangannya yang melingkar di pundakku, membangunkan segenap sarafku yang tertidur. Berat dan hangat tubuhnya yang menempel di tubuhku, helaan napas lemahnya yang berhembus di tengkukku, menimbulkan sesuatu yang lain padaku. Sesuatu yang sebelumnya sama sekali tidak kusadari karena terlalu khawatir terhadap kondisinya. Aku menggeleng pelan. Mencoba mengenyahkan bayangan-bayangan memabukkan yang kini bermain dalam benakku.

Cekalan tanganku yang mulai mengendur di pergelangan tangannya, rupanya dimanfaatkan Donghae untuk menjauh dariku. Terlalu resah dengan pikiran-pikiran yang berkelebat di otakku, aku membiarkan Tuan Salju-musim-panas itu melangkah sendirian hingga merebahkan diri di tempat tidur. Menyelimuti dirinya dengan selimut tebal berwarna coklat gelap.

Pipiku memanas, diikuti gelenyar halus di punggungku yang menjalar hingga ke tulang ekor. Tidak menyangka jika hanya dengan memandang tempat tidur king size berlapis sprei berwarna coklat itu mampu membangkitkan kenangan-kenangan lamaku bersamanya. Aku bahkan mampu membayangkan setiap detail yang terjadi malam itu. Bagaimana aku memohon padanya untuk memenuhi setiap kebutuhanku. Dan ia menyiksaku dengan segenap rayuan memabukkan hingga rasanya setiap sarafku bernyanyi. Ya Tuhan! Betapa memalukannya sikapku malam itu.

Aku mengutuki diriku sendiri dengan segera mengalihkan perhatianku pada pintu kaca geser yang mengarah langsung pada kolam renang pribadi di koridor. Seharusnya aku tidak menawarkan diri untuk membantunya, jika akan berakhir dengan perasaan canggung seperti ini.

“Pergilah! Aku sudah bilang bahwa aku baik-baik saja.” Suaranya terdengar, menarikku kembali ke masa kini. “Aku hanya perlu istirahat. Itu saja.”

Sebelum ia mengusirku untuk yang kedua kalinya, dengan cepat aku melangkah pergi dan menutup pintu di belakangku dengan bunyi yang cukup nyaring. Jantungku masih berpacu cepat dan kedua pipiku memanas sampai ke telinga. Hal menyedihkan apa yang sedang kupikirkan ini?

Aku membayangkan semua hal itu di saat ia sedang sakit. Demi Tuhan! Aku baru saja bertingkah seperti perempuan mesum yang tidak mengerti tempat dan situasi.

***

Menghitung menggunakan rumus aljabar terasa jauh lebih mudah dibandingkan memperhitungkan sikap manusia. Jangankan memperkirakan sikap orang lain, sikapku sendiri pun terkadang terasa sulit untuk diperhitungkan. Dengan tololnya, beberapa menit lalu aku menawarkan diri untuk membawakan sarapan Donghae ke kamarnya dan membuat Bibi Han memandangku dengan takjub. Aku masih ingat senyum lebar yang ditunjukkannya padaku beberapa saat lalu. Senyum yang seolah menyiratkan ‘aku-tahu-kau-cukup-peduli-padanya’. Oh, ini gila! Dan bagaimana caraku menghadapi reaksi Tuan-salju-musim-panas itu nanti bila ia tahu aku yang datang membawakan sarapannya?

Meski sudah berusaha sepelan mungkin melangkahkan kaki, waktu untuk mempermalukan diri itu datang juga. Menarik napas dalam sebanyak tiga kali untuk mempersiapkan diri menghadapi yang terburuk, kuketuk pintu berwarna gading itu sebanyak tiga kali.

Tidak ada jawaban. Aku memutuskan untuk mengetuknya sekali lagi, hanya untuk mendapati keheningan yang sama. Tidak ada tanggapan apapun dari dalam.

Pikiran-pikiran buruk mulai berkelebat di otakku. Ya Tuhan! Bagaimana bila terjadi sesuatu padanya? Seharusnya aku tidak meninggalkannya sendirian. Panik, kuraih kenop pintu—yang ternyata tidak terkunci—lalu menerobos masuk.

“Donghae-ssi, kau—Omo!”

Cepat, aku memutar tubuh membelakanginya. Berharap memiliki kemampuan disapparate seperti Harry Potter dan pergi sejauh mungkin dari hadapannya, atau bahkan dari hidupnya.

Lee Donghae tidak mengenakan apa-apa di tubuhnya selain sehelai handuk putih yang menutup dari pinggang sampai ke lutut. Ia baru keluar dari kamar mandi, dan masih berbau seperti sabun, shampoo dan sabun cukur pria. Sial!

“Maaf, kupikir… kupikir kau masih sakit. Kalau begitu aku—“

“Jangan bertingkah seperti gadis polos yang tidak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya.” Suaranya tenang saat memotong ucapanku. “Kau bahkan pernah melihat lebih banyak dari ini.”

Double sialan! Panas yang pekat itu kini menyebar bukan hanya di pipi, tapi ke seluruh bagian di tubuhku. Terutama di tempat-tempat itu. Seharusnya aku pergi, tapi sengaja kutahan diriku karena tidak ingin ia menganggapku sebagai pengecut.

Satu kesalahan lagi yang kulakukan hari ini adalah, memutar tubuhku menghadapnya. Hanya untuk mendapati, ia menjulang di hadapanku dan hanya berjarak beberapa senti saja. Senyum licik itu merekah di bibirnya yang tipis.

“Apa kau berpikir, dengan membawakanku makanan, aku akan menyetujui usul perdamaianmu tanpa mempertimbangkan jaminan semalam?”

Jaminan. Aku menelan ludah susah payah. Mengingat caranya mengucapkan ‘bayi’ berulang kali. Ya Tuhan! Aku membuat kesalahan besar!

“Aku tidak bermaksud seperti itu!”

“Jadi kau setuju dengan jaminan itu?”

“Tidak!” bantahku cepat, mengabaikan dorongan kuat dalam diriku untuk tidak menyurukkan diriku ke tubuhnya yang berbau seperti campuran lemon, vanilla dan mint. Ia tampak luar biasa menggoda dengan cara yang keji. Dibutuhkan pengendalian diri seorang resi untuk menolak godaan itu.

Aku menarik napas cepat, lalu berjalan menjauh. Memantapkan langkahku masuk lebih dalam ke kamar itu, lalu meletakkan nampan yang tadi kubawa di atas meja.

“Makanlah sebelum pergi. Bibi Han membuatkannya untukmu.”

“Tawaran perdamaian itu—“

“Lupakan saja!” potongku secepatnya. “Anggap kau tidak pernah mendengarku berkata begitu.” Setelah mengatakannya dengan ketegasan yang bahkan aku tidak tahu dari mana datangnya, aku berlalu pergi dengan seringai senang tersungging di bibirku.

Bagus. Rupanya aku masih mampu menghadapinya dengan kepala dingin. Seandainya aku tahu ia bisa pulih secepat itu, aku tidak mungkin repot-repot membawakannya makanan dan mempermalukan diri lebih jauh lagi di hadapannya.

“Bagaimana kondisinya?” Kudengar pertanyaan Bibi Han sewaktu aku sampai di lantai bawah dan berniat ke ruang baca untuk menghabiskan waktu senggangku.

Praktis aku mendengus. “Dia sudah pulih dengan cepat.”

“Apa kau yakin?” Bibi Han menatapku bingung. “Yoohee-ssi, tapi semalam kau bilang demamnya—“

“Aku melihatnya sendiri Bibi Han. Dia…” hanya mengenakan handuk di tubuhnya. Ya Tuhan! Lupakan!

“Dia bagaimana?”

Menggeleng untuk mengenyahkan bayangan menggoda itu, aku menjawab. “Dia sudah bersiap untuk pergi. Aku tidak tahu dia akan pergi ke mana, jadi tolong jangan bertanya lagi.”

“Baiklah kalau begitu. Kuharap kau benar.” Bibi Han menghela napas resah sebelum melanjutkan. “Karena aku tahu semenjak dikhianati kekasihnya saat itu, Tuan Lee tidak pernah mau lagi terlihat tidak berdaya di hadapan wanita. Karena itulah dia sering menyembunyikan apa yang ia rasakan sebenarnya.”

Aku tertegun. Memandangi punggung Bibi Han yang menjauh dan menghilang di balik dinding menuju dapur. Mungkin saja Bibi Han benar, karena semalam pun ia juga berusaha menyembunyikannya dariku dengan bertingkah seperti lelaki tidak bermoral. Padahal sebenarnya, kondisinya sudah cukup parah untuk mampu berjalan sendiri.

Menit di saat aku memutuskan untuk mengabaikan semua itu demi kebaikanku sendiri, aku mendengar langkah kaki menuruni tangga. Dan dia di sana. Si Tuan-salju-musim-panas itu. Memakai T-shirt V-neck putih yang dipadu dengan jas hitam dan jeans hitam panjang. Rambutnya sudah kering dan tersisir rapi. Begitu pula dengan wajahnya, hanya saja, mata lelah itu tidak bisa berbohong.

“Kau yakin sudah sepenuhnya pulih?” Lagi-lagi aku tidak bisa mengontrol kata-kataku sendiri.

Sebagai akibatnya, dia memberiku tatapan takjub yang hanya mampu diberikan orang-orang saat melihat salah satu keajaiban dunia. “Kau benar-benar mengejutkanku dalam dua hari ini, istri kecilku yang manis.”

“Jangan menyebutku seperti itu!” dengusku kesal. Merasa sangat dipermainkan. Aku sudah tahu seekor kalajengking tidak pantas untuk diselamatkan, lalu untuk apa aku melakukannya?

“Kau memang istriku, lalu kenapa aku tidak boleh menyebutmu begitu?”

Sial! “Pergilah! Aku tidak peduli apapun yang terjadi padamu,” desisku muak, lalu memutuskan untuk menjauh dari hadapannya.

Demi Tuhan! Dia benar-benar sudah tidak tertolong.

***

Enam puluh detik lagi, jam akan menunjukkan pukul satu dini hari. Tapi hingga kini, aku belum mendengar tanda-tanda Donghae pulang. Aku tidak tahu urusan apa yang sedang ia kerjakan, tapi seharusnya ia tidak pergi sampai selarut ini. Apalagi dengan kondisi seperti itu…

“Tuan Lee tidak pernah mau lagi terlihat tidak berdaya di hadapan wanita.”

Demi Tuhan! Bagaimana bila terjadi sesuatu yang buruk padanya? Oh, tidak tidak tidak. Pagi tadi aku mengkhawatirkannya, hanya untuk mendapati diriku dipermalukan kesekian kalinya. Mungkin sekarang dia justru sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Ya, aku sama sekali tidak peduli padanya. Tidak!

Beranjak dari sofa ruang tamu dengan cepat, aku melangkah panjang-panjang menuju tangga. Sebaiknya aku tidur. Tidak ada gunanya menunggu lelaki itu. Dia tidak peduli padaku, dan untuk apa aku peduli padanya?

Dia sedang sakit, Yoohee. Hati nuraniku cemberut padaku yang seketika membuatku menghentikan langkah saat itu juga. Dan ingat, Tuan Salju-musim-panas itu juga tidak memiliki teman baik. Oh, sial!

Aku menghela napas frustrasi, lalu kembali menatap jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit. Haruskah aku menelepon seseorang untuk memastikan dirinya baik-baik saja? Tapi untuk apa? Dia…

Kugelengkan kepala sewaktu ingatan tentang dirinya yang sedang menungguku beberapa waktu lalu. Kala itu aku juga pulang terlambat setelah mengunjungi Eomma di Incheon. Jika dia mengkhawatirkanku, lalu bagaimana aku bisa tenang jika sampai sepagi ini dia belum pulang?

Aku meraih ponselku di atas meja, dan nyaris menekan nomor Lee Hyukjae—satu-satunya teman Donghae yang kukenal—sewaktu telepon rumah ini berdering. Tersentak bingung, aku langsung berlari dan meraihnya.

“Selamat pagi, benar ini kediaman Tuan Lee Donghae?” Adalah kalimat pertama yang kudengar bahkan sebelum aku mampu mengucapkan kata halo.

“Ya, benar.” Ada perasaan takut dan bingung yang seketika menyergapku. Aku tidak mengerti, tapi nada resmi yang digunakan si penelepon menjalarkan sinyal negatif ke dalam pikiranku.

“Kami dari kepolisian.” Jantungku terasa merosot ke dasar perut. “Tuan Lee mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit…” Aku merasakan duniaku berputar-putar, hingga secara refleks aku berpegangan pada pinggiran meja telepon untuk menyeimbangkan tubuh.

Ya Tuhan! Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi.

***

Perjalanan ke rumah sakit terasa amat membingungkan, aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Di satu sisi, secara emosi kami tidak memiliki ikatan kasih sayang berupa apapun, namun di sisi lain, secara hukum… dia adalah suamiku. Aku tidak mungkin mengabaikan kenyataan itu.

Segera setelah menanyakan di mana kamar rawatnya pada perawat yang bertugas, aku menemuinya. Mungkin ini adalah pemandangan paling tidak biasa yang pernah kulihat, di saat seseorang sekuat dan seperkasa lelaki dingin ini… terbaring tidak berdaya dengan beberapa luka di bagian tubuhnya. Syukurlah tadi sang perawat mengatakan bahwa ia tidak dalam kondisi kritis. Hanya beberapa luka gores, dan kemungkinan mengalami patah tulang kaki sebelah kiri. Setelah perawatan beberapa hari, ia sudah bisa kembali pulang.

Aku melangkah perlahan mendekati ranjang rumah sakit supaya tidak membangunkannya. Pandanganku menyusuri satu per satu luka di tubuhnya yang kini telah terbalut rapi oleh perban rumah sakit. Kaki sebelah kirinya berada dalam posisi menggantung.

Tanpa sadar, tanganku terangkat untuk menyentuh keningnya dan terkejut menemukan fakta bahwa suhu tubuhnya masih setinggi kemarin. Kontan saja aku mendengus. “Beginilah yang terjadi jika kau berpura-pura baik-baik saja,”desisku muak. “Kalau kau mau jujur, mungkin kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi.”

“Permisi!”

Terkesiap, aku memutar tubuh ke arah pintu masuk. Dua orang pria berjaket kulit hitam berdiri di sana. “Ya?” balasku dengan kebingungan yang tidak ditutup-tutupi.

“Benarkah Anda istri dari Tuan Lee Donghae?”

“Benar. Saya sendiri.”

“Kami dari kepolisian. Bisakah kita bicara sebentar?”

Mengangguk bingung, aku menjawab. “Baiklah.”

Kedua lelaki itu memintaku keluar sebentar ke lorong rumah sakit. Semoga saja Lee Donghae tidak membuat masalah dengan membahayakan nyawa orang lain karena menyetir dalam kondisi tidak sehat. Sudah cukup beruntung tidak terjadi sesuatu yang lebih berbahaya dari patah tulang kaki padanya, tidak perlu lagi menambahkan kemalangan lain pada orang yang tidak berdosa.

“Kami hanya ingin memberitahukan bahwa ada kemungkinan kecelakaan ini direncanakan.”

“Apa?!” Di luar dugaanku, polisi itu mengatakan hal yang mengejutkan. “Jadi, ini bukan murni kecelakaan?”

“Menurut perkiraan kami begitu. Karena kami menemukan beberapa kejanggalan pada rekaman CCTV ketika kecelakaan itu berlangsung.”

Tidak mungkin! “Tapi, Pak. Kondisi suamiku sedang tidak sehat ketika mengemudi. Tidakkah itu berpengaruh?”

“Menurut pengamatan kami, Tuan Lee mengemudi dengan kecepatan konstan dan tidak ada yang salah dengan jalur mengemudinya,” sangkal lelaki itu. “Sebaliknya, mobil boks yang nyaris menabrak mobil Tuan Lee sebelum suami Anda membanting stir ke arah pembatas jalan, menghilang seolah ditelan bumi setelah kecelakaan berlangsung. Kami curiga ada sesuatu yang salah dengan itu.”

Ya Tuhan! Aku tidak tahu lagi harus beraksi bagaimana. Ini benar-benar di luar dugaan.

“Jika Anda mengenal beberapa orang yang mungkin terlibat masalah dengan Tuan Lee, mohon bantuannya untuk melapor.” Lelaki yang satu lagi menyambung, membuatku semakin bingung karena terlalu banyak informasi mengejutkan yang disampaikan.

Dengan canggung, aku mengangguk sembari menerima kartu nama yang disodorkan lelaki itu. “Ya, baiklah.” Oh, bagus. Apa yang harus kulaporkan jika aku sama sekali tidak mengetahui tentang kehidupannya?

“Terima kasih atas kerja samanya.”

Mereka pergi, dan aku hanya bisa tercengang. Jika benar kecelakaan ini telah direncanakan, lalu siapa yang tega melakukannya?

Sewaktu kembali ke kamar rawat, kudapati Lee Donghae sudah bangun dan tengah mengobrol dengan seorang dokter yang sedang melakukan visite. Dia melirikku sekilas. Aku tahu dia terkejut, walau telah berusaha menutupinya.

Sepeninggal dokter itu, aku memberanikan diri mendekat. Jika benar apa yang dikatakan kedua polisi itu, mengenai fakta bahwa ada seseorang yang dengan sengaja ingin mencelakakannya, menimbulkan secuil perasaan iba di hatiku untuknya. Aku tahu dia memang keterlaluan, tapi tidakkah orang-orang itu mengerti bahwa seorang Lee Donghae berubah menjadi monster juga karena mereka?

“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu menatapku seperti itu.”

Demi Tuhan! Dalam kondisi seperti ini, dia masih bisa berpura-pura sehat? Apakah dia tidak melihat perban-perban yang menutupi beberapa bagian tubuhnya? Aku tidak buta! Sialan!

“Aku akan menelepon ibu dan—“

“Tidak! Kalau kau berani memberitahu mereka tentang keadaanku, kau akan tahu pembalasan apa yang akan kau terima.”

Aku membelalak. Sama sekali tidak percaya dengan jawaban yang dia berikan. “Oh, jadi kau mengancamku?”

“Aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan.” Suaranya terdengar rendah dan berbahaya. Menyiratkan otoritasnya yang masih setinggi raja hutan.

Sial! Lelaki macam apa yang kuhadapi saat ini? Dalam keadaan sakit, dia masih bisa mengancam? Apakah dia pernah belajar sopan santun?

“Kau saja yang merawatku. Jangan katakan apa-apa pada mereka.”

Jantungku terasa berhenti bekerja untuk beberapa detik, sewaktu tangannya yang panas, melingkari pergelangan tanganku. Otomatis, aku menatapnya. Ada perasaan sakit yang membayang di sepasang mata tengah malam itu. Perasaan sakit yang tidak ingin ia ungkapkan pada siapa pun. Dia mungkin punya alasan di balik keengganannya bertemu ibu dan kakak-kakaknya. Dan aku harus menghormati keputusannya.

Menghela napas cepat, aku mengangguk. “Baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk tidak membuat masalah.”

Dia melepaskan cekalannya di pergelangan tanganku dan mendengus. “Kau meminta hal itu pada orang yang sedang sakit?”

Kontan saja tawa tanpa humor meledak dari tenggorokanku. “Oh, jadi sekarang kau mengakui bahwa dirimu sedang sakit? Sungguh mengejutkan!”

Tidak ada jawaban. Satu detik, dua detik, hingga satu menit berlalu. Aku meliriknya, dan mendengus mendapati Tuan Salju-musim-panas itu tertidur.

Sialan!

“Kau memang lelaki paling aneh yang pernah kutemui.”

“Dan kurasa, kau mulai menyukai kenyataan itu, istri kecilku yang manis.”

Double sialan! Demi dinginnya salju abadi di kutub utara, seharusnya aku sadar dia tidak mungkin tidur secepat ini!

***

Hari ini Donghae memaksa pulang, meski sebenarnya dokter belum mengijinkan. Ia beralasan tidak suka berlama-lama di rumah sakit, dan memintaku berkemas secepatnya. Sebagai akibatnya, dokter melimpahkan beberapa tanggung jawab untuk merawat pasien-menyebalkan-itu padaku.

Lee Donghae terserang demam typhoid, yang mengharuskannya beristirahat total. Ia tidak diperbolehkan beraktivitas sebelum benar-benar pulih. Mungkin terdengar kejam, tapi aku harus bersyukur karena kini kaki kirinya patah setelah kecelakaan itu, hingga mau tidak mau dia harus terus berbaring di tempat tidur. Jika tidak, mungkin dia masih akan pura-pura sehat dan terus bekerja sampai larut seperti beberapa waktu lalu.

Selama tiga hari dirawat di rumah sakit, ibu dan kakak-kakaknya hanya berkunjung satu kali. Itu pun hanya setengah jam yang singkat. Mereka tidak sudi berlama-lama karena dengan terang-terangan Lee Donghae mengusirnya. Donghae sengaja besikap tidak kooperatif pada keluarganya itu. Karena itulah mereka menolak untuk datang lagi.

Sejatinya, semua itu menguntungkanku. Karena jujur saja, keberadaan mereka semua membuatku tidak nyaman. Dan aku harus mengucapkan terima kasih pada Lee Donghae karena telah mengusir dan membuat keluarganya yang sombong itu tidak pernah datang lagi.

Satu hal yang cukup menggembirakan adalah, es pada diri Donghae perlahan-lahan mencair. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berubah. Hanya saja, tatapan tengah malam yang dulunya terasa dingin dan kaku ketika menatapku, kini menjadi lebih hangat. Sedikit demi sedikit, ia membuka perisai yang selama ini menutupi pertahanannya. Ia bahkan bersedia membagi rasa sakitnya denganku. Tentang bagaimana ia sangat membenci kakak-kakak dan ibunya. Malam itu ia membuatku terkejut dengan kesediaannya membagi beban di hatinya itu. Mungkin benar apa yang dikatakan Bibi Han pagi ini, bahwa Lee Donghae mulai percaya padaku.

Namun, benarkah itu yang kuinginkan? Bukankah aku seharusnya membalas dendam padanya atas kematian Appa? Apa pentingnya rasa percaya itu? Kepercayaan itu bisa kau manfaatkan untuk membalas dendam padanya, iblis dalam hatiku berbisik lantang. Tapi, sanggupkah aku membuatnya terluka lagi setelah ini? Dengan mengkhianati kepercayaannya?

Sial, sial, sial!

“Tidak bisakah kau berhenti bekerja sehari saja?” gumamku, sewaktu menemukannya tengah sibuk mengetik sesuatu pada notebook hitam yang tidak pernah absen menemaninya meski sedang sakit.

Kulihat dia mengalihkan perhatiannya dari notebook padaku. Senyum sinis merekah di bibirnya, yang akhir-akhir ini sudah menjadi pemandangan normal untukku. Senormal memandang matahari terbit di pagi hari.

“Jangan cerewet dan bawakan saja makananku!”

Aku mendengus sebagai jawaban. Namun tidak membantah, dan hanya meletakkan nampan yang kubawa di nakas. Tidak ada gunanya mendebatnya, karena dia memang akan selalu menang.

“Lee Hyukjae menelepon, dia akan datang ke mari untuk melaporkan sesuatu padamu.” Aku memberitahunya, yang tanpa kusadari informasi itu justru membuatnya terkejut.

“Hyuk meneleponmu?” Kerut dalam timbul di keningnya saat menatapku. “Bagaimana bisa?”

Oh, sial! Aku lupa mengatakan padanya bahwa kini hubungan kami cukup dekat semenjak ia menyuruh lelaki menyenangkan itu datang ke mari.

“Ya, dia—“

“Mandikan aku!”

“A-apa?!” Seperti baru saja disengat lebah, wajahku panas sampai-sampai terasa perih.

“Aku memintamu memandikanku,” ulangnya santai. Seolah ia hanya sedang memintaku membacakan dongeng anak-anak pengantar tidur.

“Kau gila?”

Dia tertawa lebar. “Kenapa? Bukankah itu tugas seorang perawat?”

Sial! Kualihkan perhatianku pada sinar matahari yang terpantul pada permukaan kolam renang di balkon. Dalam benakku berpikir mungkin akan lebih mudah jika aku menceburkannya saja ke kolam itu. “Tapi… tapi, dokter tidak memperbolehkanmu turun dari tempat tidur.” Aku mencoba mencari alasan.

“Kalau begitu, seka tubuhku. Aku tidak mau bertemu orang lain dalam keadaan berantakan… dan bau.”

Demi Tuhan! Tidak! Aku tidak mungkin sanggup melakukannya!

“Minta Bibi Han saja!”

“Tapi aku mau kau yang melakukannya.” Tersentak mundur, saat tangannya menangkap lenganku dan menarikku mendekat. Dadanya yang keras dan hangat menjadi tempatku mendarat dengan mulus. Aku menahan napas sewaktu wajahnya nyaris menempel di wajahku dan hangat napasnya menyapu kulitku. Gelenyar halus menggelisahkan itu menjalar di tubuhku seperti api panas yang siap membakar pertahanan diriku. “Itu tugasmu, istri kecilku yang manis. Dan kau tidak boleh menolaknya.”

Jika Tuhan mengijinkan, aku ingin menghilang saat ini juga sebelum neraka itu benar-benar membakarku hingga hangus.

TBC

TBC

31 thoughts on “[Another Story] Passionate Love -Chapter 7-

  1. singkat,gaje, n gantunggggggg
    y allah pndek bgt eon😥 tp gpp ak ttep brsyukur koq eonni nyempet”in publish
    :))
    moga yoohee kgak kyak mntan pcar dongek dlu n bsa brubh
    aishhh tp tingkat kegengsian dongek mkin tinggi -.-
    jhil jg lgi pkek mnta dmndiin yoohee
    xD kira” yoohee mw kgak yeth
    aku tunggu part slnjutnya eonni

  2. yaaahhh part 7 nya kependekan thor hehehee.. btw kalo bnr kclakaan itu tlh di rencanakn. kira2 siapa ya pelakunya. apa mungkin donghae puny musuh. tp siapa?.. #mikir keras
    ok next part di tunggu^^

  3. hehehe….hae ny jelous ne kykny hee mli dkt ma hyukjae.bner gk yah kclkaan itu d sgja tp cpa yg ngelkuin ny .mli evil jg ne hae mnta d mndiin sgla,klu moma author ajh pst gk kn nolak hehehe
    Dah d next ajh bru thu klu gk bka fb qm dear ,ktnggln deh

  4. wahh…akhirnya muncul juga setelah nunggu lumayan lama. biarpun pendek g apa2 dehh yang penting udah sedikit keobati penasarannya. unnie aku selalu nunggu next partnya, klo soal ceritanya terserah unnie aja aku percaya dengan kemampuan dan sense kamu sebgai penulis. keep writing..ok?

  5. Eonniiiiiiiiiiiiiiiii. Aku balik lagiii
    Dan sumpah aku suka sama cerita eonni. Aku bicara jujur aja yaa. Klo di bilang konsep ceritanya sih udh biasa. Tapiiiii, eonni keren banget bikin alur yg udh ketebak menjadi cerita yang enak buat di baca. Bikin gak bosen. Kan klo kebanyakan cerita dgn alur yg biasa, ceritanya bakal sama. Bikin bosen. Tapi klo eonni enggak. Dan yg paling bikin suka suka suka… Itu sama sikap Donghae yang udh mulai cerah. Gak sedingin es.
    Dan untuk komen yg banyak ini, saya sangat minta maaf atas gak jelas saya. Dan saatnya untuk
    KABUUUUUUUUR

  6. Hi annyeong ^^ Aku reader baru disini dan aku sudah baca PL dari part 1 – 7 tp baru meninggalkan komentar disini. Cerita ini fresh untuk ku, maksudku karakter Donghae disini seperti karakter Kyuhyun dicerita-cerita yg sebelumnya pernah aku baca. Gelap, misterius, but sexy and wild in the same time. Aku harap ceritanya diteruskan dan diposting secara berkala ^^ dan terakhir aku mau bilang, aku tertarik dan suka sama ceritamu ini author-nim ^.^

  7. Wahhhh… Seru bangettttttt!!!! Aku cinta banget sama Donghae di karakter ini. Dia dingin tapi manis. Omaigatttt!! Love love buat abang Donghaeeee. Aku menunggu kelanjutan ceritanya.😀

  8. Kapan ya mrka akur… Mau tahu mrka akur n mesra2 an hehehe.
    Kecelakan itu sengaja utk dibuat supaya keluarga donghae n keluarga yoo hee semakin panas permusuhannya. Ditunggu ya lanjutannya

  9. Wowowowoww Donghae… Kenapa bisa.kecelakaan??? lebih lembut kah sedikit Donghae.. ah apakan nanti mau di mandikan??? Huh permintaan yang macam-macam saja..
    di tunggu kelanjutan nya Chingu🙂

  10. Makin kesini kisah yoohee sama donghae makin seru…
    Moga aja itu awal hubungan cinta mreka..

    Oenni singkat aja komennya soalnya mau lanjut ke chapter selanjutnya haaha

  11. Waahh, aku baru komen di part ini. Seru ceritanya, sejak awal aku suka sama karakter Donghae yang dingin gitu. Dia seperti menyembunyikan perasaannya😉

    Oke, lanjut next part.

  12. Yaaaaaa…..dikit bgt part yg ini😦 tp sumpah ini keren bgt, donghae mulai jahil nih am yoohee, aq jd ketar ketir nih yakut yoohee ngancurin kepercayaan hae lg , mudah2han yoohee berubah pikiran

  13. kalo ak jd yoohee sih ak dengan senang hati mandiin donghae 😁
    syukurlah klo sifat dingin hae mulai mencair
    smoga ada perkembangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s