[Another Story] Passionate Love -Chapter 6-

Chapter 6

 

10406823_335685739934361_3356047657527712673_n 

 Credit Pict: Park Min Hyun

 

Hidup itu seperti sebuah permainan judi, ada kalanya harus jatuh miskin karena keberuntungan tidak berpihak pada kita, dan ada pula saat-saat di mana kita dapat menikmati kemenangan besar. Semuanya serba tidak pasti, bergantung dengan waktu. Detik ini mungkin kau merasa bahagia, tapi tidak ada yang tahu apa yang akan kita rasakan pada beberapa detik yang akan datang. Bahkan, permainan waktu jauh lebih rumit dari judi itu sendiri. Seperti yang baru saja kualami. Nyaris saja aku menjadi perempuan paling malang di seluruh dunia karena harus menerima hukuman atas ancaman Donghae beberapa waktu lalu, tapi kini… semua keadaan sudah berbalik.

Dengan santai, Seungho membalas ancaman Donghae. “Oh, kenapa kau tidak bilang kalau suamimu juga hadir di sini?” Senyum lebar ia arahkan pada pria yang kini berdiri kaku di sampingku. “Apa kabar Lee Donghae-ssi, aku Yang Seungho sahabat baik istrimu. Kuharap dia sudah pernah bercerita tentangku padamu.” Tidak ada perasaan terganggu, takut ataupun khawatir yang membuatku harus memuji Seungho atas ketenangannya itu. Sangat tidak mungkin jika dia tidak menyadari kemarahan Donghae. Atau… yeah, mungkin Seungho memang lelaki paling tidak peka di seluruh dunia.

Aku menunduk, selama keheningan berlangsung. Kupikir, aku akan mendengar kemarahan Donghae, tapi lelaki itu hanya diam di sampingku, tanpa melepas rangkulannya dari pundakku. Seolah bila ia melepasku, aku akan melarikan diri dari sisinya dan masuk ke pelukan Seungho. Oh, ini gila!

“Ya, dia pernah menyebut tentangmu.” Suaranya yang dingin terdengar datar. Namun jauh lebih beradab dari nada bicaranya beberapa saat lalu.

“Oh, benarkah?” Kulihat, keduanya kini berjabat tangan. “Sudah lama aku memintanya mengenalkanku padamu. Tapi rupanya, kau selalu sibuk.”

Hening lagi. Aku bisa menangkap keterkejutan dan kebingungan Donghae mendengar komentar Seungho. Mungkin ia berpikir aku telah menceritakan semuanya tentang pernikahan ini pada Seungho. Faktanya, itu tidak pernah kulakukan. Aku sendiri tidak mengerti mengapa harus menutupinya.

“Yeah, urusan kantor. Tidak bisa ditinggalkan.” Pada detik ini, aku menyadari kemarahan yang sebelumnya menguasai si Tuan salju-musim-panas telah mereda. Semoga saja dugaanku benar dan aku harus berterima kasih pada Seungho untuk hal ini.

Mungkin saat ini Donghae mengira bahwa Seungho bukanlah ancaman. Terbukti dari cara Seungho berbicara, bahwa hanya aku yang memendam cinta di antara kami. Aku ragu Donghae tidak akan mengejekku untuk hal ini. Mungkin aku hanya perlu menunggu waktu sampai kita ditinggalkan berdua saja.

“… meja makan bersama-sama.” Hanya potongan kalimat Seungho yang sempat kuperhatikan sebelum akhirnya aku merasakan tanganku ditarik ke arah berlawanan.

“Maaf, tapi kami harus pulang lebih awal. Ada urusan mendadak.”

“Ah, sayang sekali. Kalau begitu, sampai jumpa lagi.”

Aku bahkan belum sempat menjawab salam perpisahan Seungho, sewaktu Donghae menarikku menjauh dan membawaku keluar dari kerumunan orang di pesta itu.

“Sangat mengejutkan, dia tidak tahu apa-apa tentang kita.” Adalah kalimat pertamanya setelah kami berdua meninggalkan gedung hotel tempat pesta itu berlangsung dan berkendara menembus jalanan yang mulai sepi. “Kenapa?”

Inilah yang kutakutkan, dia pasti akan menanyakannya. Kupalingkan wajahku ke kiri, pura-pura sibuk menyaksikan beberapa pejalan kaki di trotoar. Apa yang harus kukatakan padanya? Sial!

“Apa alasanmu tidak mau memberitahunya? Bukankah kalian bersahabat?” Donghae kembali bertanya ketika aku tidak juga menjawab. “Yoohee, kau—“

“Aku yakin kau tidak akan suka reaksinya terhadapmu bila dia sampai tahu tentang alasan dibalik pernikahan ini.” Kuberanikan diri menatapnya, dan terkejut menemukan ekspresi terhibur di sana.

Tawa hambar kini mengalun dari tenggorokannya. “Jadi… kau sengaja melakukan ini untuk melindungiku? Oh, baik sekali.”

Sial! Aku salah bicara, tapi sama sekali tidak berniat untuk mengoreksinya. Tidak ada gunanya, karena kurasa pembicaraan kita sudah cukup untuk malam ini. Selama sisa perjalanan, kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Entahlah, aku tidak bisa menebak apa yang ada dipikirannya tentangku saat ini. Aku hanya berharap, ia tidak lagi semarah tadi.

Mengira ia tidak akan mengungkit tentang pertemuan kami dengan Seungho lagi, rupanya bukanlah sesuatu yang bisa kuharapkan. Karena tepat saat aku akan membuka pintu mobil, ia menambahkan dengan tenang. “Mempertahankan cinta sepihak, sama halnya dengan menambahkan arsenik pada makananmu sendiri. Kau akan mati secara perlahan.”

“Ya, seperti halnya yang terjadi padamu. Terima kasih atas nasihatnya.” Tidak tahu mendapat keberanian darimana, aku berhasil mengatakannya dengan penuh penekanan, dan aku sepenuhnya menyadari komentarku itu mengganggunya. Karena beberapa detik setelahnya aku mendengar pintu mobil terbanting dengan debaman keras.

Bagus, Yoohee… kau berhasil membuatnya marah lagi. Sial!

***

Suamimu… emmm, maksudku… kau tidak apa-apa? Sepertinya kalian sedang ada masalah.

Refleks, aku beranjak duduk dan menyandarkan diri di pangkal ranjang. Tadinya aku sudah nyaris tertidur sewaktu ponselku berbunyi dan menemukan nama Seungho di layar. Namun kini, kantukku hilang seketika.

Seungho menyadarinya. Ya, aku tahu dia tidak sebodoh itu.

Hey! Apa aku membuat masalah? Seharusnya kau mengatakannya padaku bahwa suamimu orang yang posesif.

“Ya, aku… aku baik-baik saja, Ssong!”

“Syukurlah!” Desah napasnya terdengar.

“Terima kasih, kau sudah—“

Ucapanku terpotong derik pintu terbuka, dan aku langsung mematikan lalu menyembunyikan ponselku ke bawah bantal mendapati Lee Donghae kini berdiri di ambang pintu. Berselimut kegelapan, hanya mengenakan kaus putih dan celana kain berwarna biru, ia masih saja tampak mengintimidasi dengan tatapan tajamnya. Apa yang diinginkannya malam-malam begini di kamarku? Memikirkannya saja, membuat bulu kudukku meremang. Bayangan malam pertama kami dulu, bermain di otakku seperti lidah api yang panas.

Aku masih ingat caranya membelaiku, caranya memelukku, caranya mencumbuku… seolah kejadian itu baru terjadi beberpa jam yang lalu. Demi Tuhan! Yoohee, hentikan pikiran kotor itu!

“Aku—“

“Kenapa dimatikan? Kudengar, kau sedang bicara dengan seseorang di telepon beberapa detik lalu.” Suaranya datar, tidak ada kesan mengintimidasi, tapi tetap ada gelenyar dingin menakutkan yang menjalari punggungku.

“Aku sudah selesai bicara,” balasku, dengan sengaja mengangkat dagu untuk menutupi kegugupanku sendiri.

Lee Donghae mendengus. “Dari Yang Seungho.” Bukan pertanyaan, karena itulah aku tidak mau repot-repot menjawab. Sepertinya dia memang sempat mendengarkan pembicaraanku dengan Seungho.

“Apa yang kau inginkan?” desisku penuh antisipasi. “Tidak mungkin kau datang ke mari tanpa maksud tertentu.”

Dia tertawa. Hambar dan terkesan menusuk. “Aku sedang tidak berminat untuk bercinta,” sahutnya, diikuti dengusan keras.

Spontan, kutatap diriku sendiri, yang tanpa kusadari kini sedang terbungkus selimut tebal di tempat tidur. Double sialan! Karena ketakukan, secara refleks aku menyembunyikan diriku di bawah selimut. Dia pasti berpikir aku sangat menyedihkan. Oh, Tuhan!

“Lalu?”

Ia melipat tangannya di depan dada, pandangannya menyusuri seisi kamar, tanpa sedikit pun mengarahkannya padaku, bahkan ketika ia berkata, “Aku hanya lupa mengatakannya padamu, bahwa besok pagi kita harus pergi ke rumah keluargaku karena akan ada acara keluarga di sana.”

Oh, bagus! Hanya dengan memikirkan akan bertemu dengan keluarganya lagi, sudah membuat kepalaku pusing. Drama macam apa lagi yang harus kuhadapi di sana nanti?

“Jam 9 pagi, kau sudah harus siap.” Setelah mengatakan itu, ia berjalan pergi, seolah berlama-lama di sini akan membuatnya terserang alergi. Dan yang membuatku terkejut, sebelum menutup pintu ia menambahkan. “Jangan lupa mengunci pintu kamarmu.”

Aku mengerjap beberapa kali. Lee Donghae. Lagi-lagi lelaki itu mengejutkanku dengan sikapnya yang berubah-ubah. Sore tadi, ia terlihat luar biasa dingin dan menakutkan, sampai-sampai aku merasa ia akan memakanku hidup-hidup jika aku berani melawan keinginannya. Tapi malam ini, tepatnya beberapa detik lalu, ia mengingatkanku untuk mengunci pintu kamarku sendiri? Dia dan aku tahu tidak ada orang lain di kondominium ini selain aku dan dirinya sendiri. Itu artinya, ia memintaku mengunci pintu untuk melindungi diri darinya? Oh, ini membingungkan!

Selagi merebahkan diri di tempat tidur, aku meraba ponselku yang tadi kusembunyikan sembarangan di bawah bantal, hanya untuk menemukan sebuah pesan masuk. Aku meringis bersalah membaca pesan yang dikirimkan Seungho beberapa menit lalu.

From: Ssong

Jag-eunnie. Aku lupa. Maaf. Seharusnya kau tidak mengangkat teleponku. Jangan katakan kalau aku membuat suamimu marah lagi. Oh, seharusnya aku tidak mengganggu wanita yang sudah menikah pada tengah malam begini. Selamat malam!

 

***

 

Aku berjongkok di sisi meja, menata buku, uang, palu mainan, benang, kue dan juga pedang plastik untuk perayaan doljabi putra pertama kakak perempuan Donghae. Menurut kepercayaan masyarakat kami, benda-benda yang dipilih si bayi nanti akan menentukan masa depannya. Yeah… terdengar tidak masuk akal memang, tapi begitulah tradisi yang harus dilakukan.

“Kelihatannya kau begitu menginginkan anak, Adikku.”

Spontan, kepalaku menoleh sewaktu mendengar suara Lee Jinhae—kakak kedua Donghae—ibu dari si kecil Kyungjae yang kini tengah bermain di pangkuan Donghae. Menatap pemandangan itu, relung hatiku menghangat. Lelaki sedingin dan semenakutkan Donghae, mampu bersikap hangat pada si bayi kecil. Bila dilihat dari wajahnya yang berseri-seri, Kyungjae pun tampak sangat menikmati permainannya dengan sang paman. Sesekali bayi berusia satu tahun itu bahkan tertawa terbahak-bahak ketika Donghae mulai menggodanya.

“Kenapa? Istrimu belum mampu memberikan anak? Atau…”

“Itu urusanku.” Donghae menyela dengan datar, ia bahkan tidak melirik Jinhae eonnie sama sekali karena sibuk menggoda Kyungjae.

“Jinhae benar.” Aku terpaksa mengalihkan perhatianku pada sumber suara lain. Lee Hyunhae—kakak pertama Donghae—yang baru saja tiba bersama putrinya yang kini sudah berusia empat tahun. Wanita itu tampak sangat cantik walaupun di usianya yang mulai menginjak 32 tahun.

Bagus. Sepertinya drama akan segera dimulai. Haruskah aku mempersiapkan popcorn dan diet coke untuk menikmatinya? Sial!

“Kalian sudah menikah hampir tiga bulan, tapi kelihatannya belum ada tanda-tanda istrimu sedang hamil.” Donghae mengabaikan sindiran itu, dan aku pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama.

“Eonnie, syukurlah kau sudah datang. Aku merasa akan mati bosan karena tidak ada yang bisa kuajak mengobrol.” Aku mendengar Lee Jinhae menimpali, lengkap dengan nada menyindir dan tatapan kesal yang diarahkannya padaku. “Kau tahu kan, adik kita dan istrinya itu tidak terlalu pandai mengobrol.”

“Wajar saja, tingkat pendidikan dan lingkungan ‘gadis itu’ sangat berbeda dengan kita. Bagaimana mungkin ia mampu mengimbangi obrolanmu, Jinhae-ya?”

“Benar, aku—“

“Cukup!” Aku terkesiap sewaktu bentakan Donghae terdengar. Pelan, ia menyerahkan Kyungjae pada sang ibu dan berdiri. “Aku datang kemari bukan untuk menerima sindiran dan hinaan,” lanjutnya dengan nada suara yang mampu membuat Hitler berjengit. “Kalau aku masih mendengar ucapan sampah itu terlontar dari mulut kalian, aku akan pergi sebelum acara dimulai.”

Aku menggigit bibir bawahku, lalu menatap pedang plastik yang tanpa sadar telah kugenggam kelewat erat hingga telapak tanganku terasa nyeri.

“Namanya Lee Yoohee, bukan ‘gadis itu’, kalau kalian lupa.”

Spontan aku menganga sembari menatap punggungnya yang menjauh dan menghilang di ujung ruangan. Aku masih tidak memercayai apa yang baru saja kudengar, sebelum aku mendengar gerutuan lirih kedua kakak Donghae yang menggumamkan ‘apa hebatnya gadis itu?’

Haruskah aku mengucapkan terima kasih padanya?

Acara itu dimulai jam setengah sebelas pagi. Banyak anggota keluarga Donghae yang hadir, dan memberikan doanya untuk si kecil Kyungjae. Meski mereka semua berkumpul, aku belum mampu menangkap rasa kekeluargaan yang hangat di tempat ini. Tidak seperti yang kualami di rumahku sendiri. Di sini, semuanya berselimut kepalsuan. Aku kasihan pada Donghae. Wajar saja jika sikapnya berubah menjadi sedingin es, bila lingkungan tempatnya tumbuh tidak memberinya kehangatan.

Bosan dan haus, aku melangkah ke dapur untuk mencari air putih. Minuman-minuman manis yang disajikan di atas meja itu sama sekali tidak mampu menghilangkan hausku. Aku meraih satu botol air mineral di kulkas dan menenggaknya.

“Pelan-pelan.”

Aku tersentak dan nyaris tersedak jika tidak segera menelannya. Lee Donghae, ia melangkah pelan dari ambang pintu dan dengan santai merebut botol air mineral dalam genggamanku yang masih tersisa setengah, lalu meminumnya hingga tandas.

Aku melongo. “Kau—“

“Kenapa?” selanya santai, seraya membuang botol itu ke tempat sampah.

‘Jika kau minum dari gelas atau botol yang sama, itu sama saja dengan berciuman secara tidak langsung.’ Aku memejamkan mata dan menggeleng mengingat salah satu dialog yang pernah kubaca di sebuah novel fiksi remaja.

“Itu… itukan—“

Dia tertawa. Memotong protesku dengan tenang. “Kita sudah melakukan lebih dari sekedar berciuman. Apa kau lupa itu?”

Aku menelan ludah, menahan napas sewaktu ia melangkah mendekatiku. Kenapa ia harus mengingatkan hal itu di saat seperti ini? Aku ingat seharusnya aku mengucapkan terima kasih atas pembelaannya tadi pagi, tapi kehadirannya membuat bibirku beku.

“Lee Donghae—“

“Haruskah aku memenuhi keinginan kakakku agar mereka berhenti menghinamu?”

“Memenuhi keinginan kakakmu?” ulangku bingung, kepalaku serasa berputar-putar dan sama sekali tidak mampu berpikir dengan jernih. Aroma tubuhnya yang bercampur dengan keringat dan sedikit bau bedak bayi, benar-benar melumpuhkanku.

“Hmmm… kurasa mereka benar tentang anak.”

Anak? Demi Tuhan! Aku mundur selangkah, dan menyumpahi kulkas yang menghalangi jalanku untuk menjauh darinya.

“Tidak. Aku—“

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, kurasakan Donghae menarik lenganku dan membawaku bersembunyi di sebuah ruangan berisi puluhan botol anggur. Ruangan itu sempit dan memanjang, hanya diterangi sebuah lampu remang di sisi dinding sebelah kiri. Dari arah dapur, aku mendengar suara langkah kaki, diikuti dengan ucapan lirih seorang wanita yang kukenali sebagai Lee Jinhae.

“… ya, dia putri Lee Jaehee.”

Mendengar nama ayahku disebut, spontan aku menegakkan punggung penuh antisipasi. Memberanikan diri, aku melirik Donghae yang berdiri tegang di hadapanku. Tatapannya ia arahkan dengan marah ke arah pintu yang tertutup. Seolah dengan begitu, ia bisa mencabik-cabik siapapun di balik ruangan itu.

“Kau pasti tidak percaya dengan apa yang kudengar tadi pagi.” Obrolan mereka berlanjut.

“Benarkah? Apa?” Aku sama sekali tidak mengenali suara yang ini. Mungkin gadis itu adalah salah satu kerabat Donghae.

“Adik ‘kesayanganku’ itu membelanya. Oh, ini gila! Aku tidak menyangka ia melakukan itu pada putri dari musuh besar ayahnya sendiri.” Lagi-lagi aku melirik Donghae yang hingga kini masih kaku di tempatnya, dengan punggung tegak dan kepalan tinju di kedua sisi tubuhnya. Ia tampak sedang menahan diri untuk tidak mengamuk.

“Kupikir mereka hanya pura-pura menikah untuk membuat Bibi marah.”

“Awalnya, kupikir juga begitu. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Donghae pikirkan dengan menikahinya. Oh, Tuhan! Semoga kami dilindungi. Gadis itu sama sekali tidak pantas untuk Donghae.”

Dengan sigap, aku menahan lengan Donghae sebelum lelaki itu sempat keluar dan menunjukkan keberadaannya pada mereka. Kugelengkan kepala pelan sewaktu ia menatapku tidak setuju. Aku tahu ia akan keluar untuk membelaku, dan aku merasa luar biasa senang untuk itu. Tapi aku tidak mau ada keributan yang akan memancing permasalahan lebih jauh lagi. Apalagi bila ibu Donghae sampai tahu. Tentu saja posisiku tidak akan baik-baik saja.

Di saat aku merasa kedua gadis tadi telah meninggalkan dapur, aku melepas genggamanku dari lengan Donghae dan menunduk. “Terima kasih,” gumamku lirih, tidak lebih dari sebuah bisikan.

“Apa?”

“Terima kasih.” Kuulangi sekali lagi, kali ini lebih jelas dan tegas.

Aku mendengar dia tertawa. “Terima kasih? Untuk apa?”

“Karena telah membelaku.”

Lee Donghae mendengus. “Anggap saja sekarang kita impas.”

Kali ini aku benar-benar bingung, dan mengekor di belakangnya ketika Donghae keluar dari gudang anggur menuju dapur. “Impas?”

Dia menghentikan langkah untuk menghadapku. “Ya, impas.”

“Aku tidak mengerti,” tuntutku bingung.

“Bukankah kau telah melindungiku di hadapan sahabatmu itu. Jadi sekarang, kita impas.”

“Oh?” Aku diam. Merasa sangat konyol karena menganggap ia bersedia melindungi dan membelaku karena… Demi Tuhan, Yoohee… apa yang kau harapkan dari seorang pria yang tidak lagi memercayai cinta? Bodoh!

“Sepertinya kau kecewa.”

“Tidak!” tegasku seraya berbalik. Tidak mau mempermalukan diriku lebih jauh lagi di hadapannya.

Tawanya mengalun. “Benarkah?” Aku membisu. “Baiklah, kalau kau berkeras ingin berterima kasih padaku…”

Tanpa sadar aku menahan napas, menanti dengan resah apa yang akan dikatakannya padaku. Entahlah, aku merasa ini bukan hal yang bagus.

“Turutilah keinginanku, dengan begitu kita akan membuat kedua orang itu semakin kesal dan kesal.”

Menuruti keinginannya? Aku membeliak terkejut. Tidak, jangan bilang…

Aku memutar tubuh, dan terkejut mendapati Lee Donghae telah berdiri setengah sentimeter di hadapanku dengan seringai licik tersungging di wajahnya. Menyadari tubuh kami nyaris bersentuhan, bulu kudukku meremang penuh antisipasi. Aku tidak mengerti mengapa kehadirannya selalu membuat tubuhku bereaksi seperti ini.

“Berikan aku seorang anak, dan mereka akan berhenti meremehkanmu.”

“Tidak! Lupakan saja!” Dengan kekuatan yang tersisa, aku berhasil membentak dan pergi menjauh sebelum ia sempat menyudutkanku lebih jauh lagi. Samar, aku mendengarnya tertawa di belakangku.

Lelaki itu pasti sudah gila! Ia meminta anak seperti orang kelaparan yang minta sepiring nasi. Memangnya untuk mendapatkan seorang anak bisa semudah itu?

***

Sudah tiga hari Lee Donghae tidak pulang karena harus menghadiri acara perusahaan di Jinan. Kesepian kembali menghantuiku. Apalagi saat hari menjelang malam dan Bibi Han sudah pulang. Yang membuatku kesal, Seungho juga terkesan menjauh dariku setelah kejadian beberapa malam lalu. Sore kemarin ketika aku memintanya menemaniku jalan, ia menolak dengan alasan sedang sibuk mempersiapkan konser keduanya bersama SPO. Oh, baiklah! Sekarang aku merasa benar-benar sendirian.

Aku bergelung di atas sofa dengan muram, memeluk erat bantal berwarna maroon dalam dekapanku. Mengabaikan Lee Jongsuk dan Park Haejin yang tengah sibuk bersaing memperebutkan posisi dokter terbaik di televisi. Jika aku menuruti keinginan Donghae untuk memiliki seorang anak, aku pasti tidak akan pernah kesepian seperti ini.

Demi Tuhan! Dengan cepat aku beranjak duduk dan menggeleng kuat-kuat. Mengutuki pikiranku sendiri tentang gagasan konyol itu. Bagaimana mungkin aku sampai memikirkannya?

Gebrakan keras dari pintu depan, membuatku secara refleks melompat berdiri. Siapa itu? Setahuku, Donghae masih akan pulang dua hari lagi. Lalu siapa yang berani mendobrak pintu?

Aku meraih vas bunga di atas meja, dan pelan-pelan melangkah ke ruang tamu. Jika kutemukan penyusup itu, aku akan memukulkan vas bunga ini padanya. Kuangkat vas bunga itu ke atas kepalaku, bersiap untuk memukulkannya sewaktu aku menangkap siluet seorang lelaki di balik dinding. Perlahan aku mendekatinya, meski rasanya kaki dan tanganku gemetaran. Aku harus…

“Hey, hey! Apa yang kau lakukan?”

Aku membeliak, dan langsung menurunkan tanganku mendapati Lee Donghae tengah berdiri di foyer, alih-alih penyusup. “K-kau? Bukankah… kau masih akan pulang sehari lagi?”

Ia melirikku dan mendengus. “Ada urusan mendesak di Seoul. Kenapa? Seharusnya kau senang suamimu pulang lebih cepat.”

Tidak mau repot-repot membalasnya, aku mundur dan meletakkan vas itu di tempatnya semula. Bila dilihat dari rambutnya yang acak-acakan, kemejanya yang lusuh, bibir tipis yang melengkung muram, dan sepasang mata lelah itu, sepertinya Lee Donghae sedang memiliki masalah serius.

Melalui sudut mataku, kulihat Tuan salju-musim-panas itu merebahkan dirinya di sofa. Ia menengadah, memejamkan kedua matanya. Tampak luar biasa lelah.

Melihatnya seperti ini, menimbulkan setitik rasa prihatin di sudut terdalam hatiku. Ia berjuang sendirian menjalankan bisnis keluarga, sementara kakak-kakak dan ibunya terus memusuhinya. Aku masih ingat bagaimana ia disalahkan hanya karena telah salah menempatkan kepercayaan pada gadis yang dicintainya. Dan kini, hanya karena satu kesalahan di masa lalu, ia dihukum dengan cara seperti ini. Jika begini, aku tidak akan menyalahkan Donghae bila ia sangat membenci keluarganya dan sangat ingin membuat mereka kesal. Aku sadar, karena alasan itulah ia memilih untuk menikahiku.

“Apa kau akan berdiri terus di sana? Duduklah! Aku tidak akan menggigit.”

Sial! Ia pasti menyadari kalau aku memerhatikannya sejak tadi. “Apa kau sudah makan?” Aku sendiri tidak tahu darimana datangnya kalimat itu, dan mengutuki diri setelahnya menyadari kini Donghae membuka mata dengan seringai terhibur di sudut bibirnya.

“Kalau kau berniat membalas dendam dengan menambahkan racun ke dalam makananku, sebaiknya lupakan saja!”

Apa? Oh, ya. Dia benar-benar membuatku kesal. Aku bersungguh-sungguh ingin membantunya, dan seperti ini balasannya. Begitulah jika kau ingin menyelamatkan kalajengking yang terluka, bukannya berterima kasih, ia pasti akan menyengatmu. Benar kata Hyukjae, dia benar-benar telah kehilangan kepercayaannya pada orang lain.

“Ya sudah kalau kau tidak mau. Aku hanya menawarkan bantuan,” desisku muak, lalu melangkah menjauhinya.

Tapi belum sempat kakiku mencapai anak tangga pertama, kudengar ia bersuara. “Kalau kau tidak keberatan, tolong buatkan aku secangkir cokelat hangat.”

***

Aku melihatnya meraih cangkir berisi cokelat hangat buatanku. “Kuharap kau tidak menambahkan sesuatu yang berbahaya dalam minuman ini.”

Mendengus, aku melipat tangan di depan dada. “Aku bukan gadis bodoh yang akan membalas dendam dengan cara seperti itu,” sindirku, dan ia tertawa.

“Syukurlah!” katanya, sebelum menenggak isi dalam cangkir itu.

“Sepertinya ada masalah serius.” Lagi-lagi aku ingin menampar mulutku sendiri karena berbicara seenaknya.

Donghae melirikku dari balik pinggiran gelasnya, dan kulihat senyumnya mengembang selagi meletakkan cangkir yang nyaris kosong itu di atas tatakannya. “Kau membuatku tersanjung dengan perhatianmu, istri kecilku yang manis.”

Double sialan! Ia menyengatku lagi dan lagi. “Aku hanya ingin kita berdamai. Itu saja.”

Dia terbahak. “Jadi kau sedang menawarkan perjanjian damai padaku?” tanyanya dengan senyum terhibur. “Baiklah. Kalau begitu, apa yang bisa kau tawarkan sebagai jaminan?”

“Apa? Jaminan?” Oh, dia gila! “Kau pikir kita adalah dua orang kepala Negara yang sedang mendiskusikan genjatan senjata di perbatasan?”

Ia menyilangkan kakinya sembari bersandar di sofa dengan santai. “Yah, anggap saja begitu. Kau tahu aku tidak akan menerima sesuatu tanpa jaminan yang jelas.”

Oh, ya. Aku lupa kalau dia sudah tidak mau memercayai siapa pun di dunia ini. Bila sahabat baiknya saja ia tendang, bagaimana denganku? “Aku tidak punya apapun yang bisa kutawarkan padamu,” desisku muak, menyesali apa yang baru saja kuungkapkan padanya.

Refleks, aku berjengit sewaktu ia berdiri dan mendekati sofa tempatku duduk. “Kau punya sesuatu yang bisa kau tawarkan.”

Aku sangat ingin menerjangnya menjauh, faktanya aku malah mengkerut di sofa sementara Lee Donghae menjulang di hadapanku seperti pemangsa yang berhasil menangkap basah korbannya.

“Lee Donghae, kau—“

“Seorang bayi. Kau bisa memberiku seorang bayi sebagai jaminan perdamaian.”

TBC

Oke, dont hit me. This is terrible, rite? But I wish you can enjoy it, Mates! Thank you for ur patience. Love you ^^

33 thoughts on “[Another Story] Passionate Love -Chapter 6-

  1. Wallaaa…
    Kayaknya donghae ngebet banget pengen punya anak, yoohae knapa kok kykny bimbang gitu
    Smpe sekarang aku masih bingung, sebenernya masalah donghae,Yoohae, sma kluarga mereka tu apa? Dri awal aku baca tetep aja ga mudeng,
    Yahh semoga part slanjutnya bisa lebih dijelasin konflik sebenernya, hehe
    Aku tunggu part slanjutnya,
    Keep Writing

  2. Gilaaa bangett nih cerita, makin seru deh pokoknya. Kok aku ngerasa Donghae udah mulai punya perasaan yah ke istrinya *sok tau* Huehehehe. Ditunggu deh eon kelanjutan ceritanya. Fighting!!😀

  3. Waaaah. Mu komentar apa yaaa??? Entah knapa di sni feelnya kurang ngena. Bagi aku loh. Kurang greget gitu eonn. Trus juga konflik antara kluarga donghae sama yoohee juga masih kurang jlas. Mungkin disitu yg bkin krang gregetnya. Ini gak ada cerita yg sdut pandangnya dari donghae yaa?? Jadi penasaran kalau ceritanya bersudut pandang dari donghae. Ok eonn, kyaknya aku terlalu byk komentar. Intinya ceritanya masih ngambang, belum ketemu feelnya. Kurang greget juga. Dan sekarang wktunya

    KABUUUUUUUR

  4. waahhh dongek minta anak buat buktiin ke saudaranya apa karna dia emang cinta sama yoohee.??
    tp kalo cinta kok donge dinginnya ampe segitunya..
    pkoknya ditunggu deeh lnjutannya..hehe

  5. masih penasaran konflik antara keluarga Yoohee dan donghae ?_? apa konflik antara perusahaan atau yg lain…..

    ciyeee donghae kya nya gak sabaran banget menimang bayi *.* kkkkk
    naluri seorang ayah sudah terpancar sepertinya hihihi

  6. Ahhhh… rasanya cepet banget tiba-tiba udah TBC..
    Lee Donghae Kau pengen banget yah punya anak?? apa kah bisa di sebut Donghae itu perduli ke Yoohee karena tindakannya Donghae ??? selalu percakapan nya menimbulkan pertengkaran…
    Ahh sebenarnya Donghae punya perasaan tidak ke Yoohee.. Donghae benar-benar orang yang sangat membingungkan!!!! harus sabar menghadapi nya

    Penasaran gimana kelanjutannya🙂 di tunggu kelanjutan ff nya ya Chingu

  7. Yoohae moment kebanyakan berdebat ada, belum ada tanda” konflik yg menyesakkan gitu … Tapi kalo udah ada pasti ikut nyesek sama nangis … Di tunggu kelannjutannya eonni🙂😀

  8. Yoohae momentnya kebanyakan berdebat mulu, belum ada tanda” konflik yg menyesakkan gitu … Tapi kalo udah ada pasti ikut nyesek sama nangis😥 … Di tunggu kelannjutannya eonni🙂😀

  9. Huuuuaaa seorang baby, waahhh.. bakalan seru kalau mereka pnya baby nantinya kekekee.. penasaran dengan motif napa hae nkah sama yoonhee?

  10. Keren donghae keren…
    Pas scene di ruang anggur pas yoohee nahan donghae feelnya dapet bgt oenni..

    Si yoohee kayaknya kesepian bgt ya?
    Jamin dech itu donghae pulang cepet2 emang udah kangen sma yoohee haaha

  11. Kyaaaa dobel kereeeeeennn😀 kok haenya ngebet bgt minta bayi y , mudah2han dikabulin😀 haaaaaahh kuharap istrinya gk jd balas dendam secara hae itukan baik

  12. ya ampun ga bisa berhenti buat lanjut baca dan baca
    mungkinkah yoohee bersedia mengabulkan keinginan donghae bwt pnya bayi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s