[Another Story] Passionate Love -Chapter 5-

Ringkasan cerita sebelumnya:

Yoohee menemani Seungho berbelanja dan membuatnya mendapat tiket gratis menonton pertunjukan orchestra pertama Yang Seungho bersama SPO. Siapa yang menyangka jika di gedung itu ia bertemu Donghae yang saat itu sedang menemani salah satu klien terbaiknya. Sesampainya di rumah, Donghae menginterogasi Yoohee tentang Seungho, dan lelaki itu marah besar saat mendengar pengakuan Yoohee tentang perasaannya pada Seungho. Ia bahkan mengancam akan melakukan hal terburuk yang tidak pernah dibayangkan Yoohee sebelumnya.

 

 

Chapter 5

 

 

 10406823_335685739934361_3356047657527712673_n

 Credit Pict: Park Min Hyun

 

Seungho marah besar. Ia mencuri tiga puluh menit waktuku pagi ini, hanya untuk mendengarkan omelannya yang sepanjang kereta api melalui telepon. Aku tahu, sikapku memang keterlaluan. Pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan terlebih dulu. Padahal aku sudah berjanji akan menunggunya hingga pertunjukan usai. Bagi lelaki yang harga dirinya setinggi Namsan Tower seperti Yang Seungho, tentu saja hal tersebut menjadi masalah besar.

            Aku pun telah mencoba menjelaskan alasanku. Sayangnya… sepertinya suasana hati Seungho sedang buruk, hingga ia tidak mau menerima apapun alasan yang kuberikan. Satu-satunya jalan adalah dengan datang langsung ke apartemennya. Mungkin membujuknya secara langsung akan mampu meluluhkan hatinya.

            Aku mengenal Seungho dengan baik. Beberapa bungkus snack kentang, dan satu tempat besar es krim coklat Haagen daz, pasti mampu meluluhkan kemarahannya. Seringaiku melebar sewaktu kenangan manis masa lalu kami melintas dalam benakku. Saat itu Seungho sedang marah karena aku meninggalkan buku partitur musiknya di ruang musik saat terburu-buru pulang, dan hanya dengan satu bungkus es krim coklat, kemarahannya langsung memudar. Seperti monyet yang baru menemukan pohon pisang berbuah lebat, Seungho tidak sekalipun menoleh sebelum es krim-nya habis.

            Aku sudah berdiri untuk membuka lemari kayu berukuran sedang di hadapanku, ketika kata-kata dan ekspresi kemarahan Donghae melintas dalam benakku.

“Jangan coba-coba membuat skandal dengan memperlihatkan hubunganmu yang tidak lazim dengan lelaki itu di depan umum. Atau… aku akan melakukan hal terburuk yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya!”

Otomatis, langkahku terhenti, tanganku terdiam di udara dan aku begidik membayangkan apa yang akan dilakukan Donghae bila dia sampai tahu aku mengunjungi Seungho hari ini. Oh, Demi Tuhan, dia benar-benar mengerikan bila sedang marah. Seperti ada api yang berkobar pada sepasang mata tengah malamnya saat menatapku. Tidak bisa kubayangkan hal terburuk apa yang mampu dilakukan lelaki itu bila aku sampai mengabaikan ancamannya. Tapi bila aku tidak menemui Seungho hari ini, maka hubungan kami akan semakin memburuk. Dan aku tidak mau kehilangan sahabat terbaikku pada masa-masa seperti ini.

Sial!

Aku mengacak rambut frustrasi, dan berjalan mondar-mandir seperti orang bingung. Berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari situasi menyulitkan ini dengan selamat. Ancaman Donghae, dan juga kemarahan Seungho. Keduanya membuatku takut.

Bibi Han. Ya, mungkin dia bisa membantu…

“Hyukjae-ssi, tapi—“

Aku mengernyit, dan langsung terdiam di depan pintu kamar mendapati Bibi Han dan seorang lelaki berkemeja biru muda sedang beradu argumen di depan ruang kerja Donghae. Mendengar suara pintu terbuka, keduanya langsung menatapku.

“Oh, hai… Yoohee-ssi.”

Lelaki itu. Ya, aku mengenalinya sebagai salah seorang rekan Donghae yang ia kenalkan di pesta pernikahan kala itu. Selain lelaki pemilik senyum lebar ini, tidak ada satu pun rekan Donghae yang memberiku tatapan bersahabat. Karena itulah aku tidak mungkin melupakannya.

“Aku sudah memintanya menunggu di bawah.” Suara Bibi Han mengalihkan perhatianku. “Tapi Hyukjae-ssi tidak mau—”

“Bibi Han yang baik, percayalah! Tuanmu yang sudah berubah menjadi monster es galak itu benar-benar memintaku untuk mengambil berkas-berkas pinjaman di ruang kerjanya. Kalau kau tidak percaya, telepon saja dia.”

Monster es galak. Aku nyaris terkikik mendengar komentarnya tentang si Tuan Salju-musim-panas. Bila dilihat dari caranya membicarakan Donghae, sepertinya pria ini memiliki hubungan yang tidak biasa dengan suamiku itu.

“Tapi aku tidak mau dia memarahiku lagi hanya karena—“

“Ajumma, kau tidak perlu khawatir, aku akan menemaninya. Kau ambilkan saja makanan dan minuman untuknya,” selaku yang langsung disambut dengan senyum lebar lelaki itu. Kalau tidak salah, tadi Bibi Han menyebutnya Hyukjae.

“Betapa aku bersyukur, Donghae telah memilihmu sebagai istrinya.” Aku membisu, walau ingin sekali mendebat karena merasa pendapat Hyukjae benar-benar telah salah besar.  “Oh, Ajumma… jangan lupa, minuman untukku jus stroberi seperti biasa.” Dia menambahkan dengan tenang sebelum Bibi Han menghilang di tangga dengan gelengan pelan.

Masih setia dengan senyum terhibur di bibirku, kubuka pintu kayu berwarna putih di depanku. “Masuklah! Aku yakin Lee Donghae tidak memberimu banyak waktu untuk mengambil berkas-berkas itu.”

“Ah, benar!” Hyukjae tertawa renyah sambil memasuki ruang kerja Donghae yang sangat kukagumi, karena perabotnya dipilih dengan warna-warna sejuk hingga menimbulkan kesan nyaman bagi siapa pun yang berada di dalamnya. “Aku tidak tahu apa yang telah merasukinya pagi ini, hingga ia menjadi tidak sabaran. Memang, beberapa tahun terakhir dia telah berubah, tapi sikapnya tidak pernah seburuk ini.”

Aku mendengarkan keluhan Hyukjae sambil mengernyit. Merasa bersalah, jika benar Donghae menjadi semarah itu karena perbuatanku semalam. Tapi apakah itu mungkin?

“Dia bahkan memarahi beberapa karyawan hanya karena masalah sepele yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.” Menggigit bibir, kupaksakan sebuah senyum ketika Hyukjae melirikku dari balik bulu matanya. “Kuharap ini tidak ada hubungannya denganmu.” Ada nada menyelidik yang ditunjukkan Hyukjae untukku.

Sial! Aku pun berharap begitu. Dan kumohon, Hyukjae… jangan melirikku dengan cara seperti itu. Aku jadi merasa bersalah.

“A-apakah ada yang bisa kubantu?”

Hyukjae menghentikan kegiatannya memilah beberapa map di atas meja untuk berbalik menghadapku dan tertawa. “Aku hanya bercanda. Kemarilah, kau bisa membantuku mencari map berisi formulir pinjaman bank.”

Tanpa diminta dua kali, aku berjalan mendekat dan mulai memeriksa map-map itu. “Sepertinya… dulu kalian berhubungan baik,” gumamku sambil lalu, yang tanpa kusangka justru mengundang tawa kesal Hyukjae.

“Ya, kau benar tentang dulu. Kami bersahabat dekat karena menjalani pendidikan di tempat yang sama. Tapi semenjak gadis jahat itu menghancurkan hatinya, Donghae benar-benar telah menjauh dari dunia yang disebutnya kenyamanan.” Hyukjae mendecak. “Dia seperti sedang membentengi dirinya dalam lapisan es yang tebal. Dan siapa pun yang berani mendekat, akan merasa kedinginan. Menyebalkan!”

Aku menghela napas, tapi memutuskan untuk tidak berkomentar apa-apa. Mungkin dengan begitu, Hyukjae bisa meneruskan ceritanya. Suasana berubah sunyi selama beberapa saat selagi kami berdua sibuk memilah beberapa dokumen, pekerjaan kami hanya terhenti ketika Bibi Han masuk membawa nampan berisi sepiring biscuit coklat dan dua gelas jus stroberi lalu meletakkannya di atas meja.

“Rasanya nyaris seabad aku tidak ke mari setelah hari itu. Kau tidak tahu betapa aku merindukan pertemanan kami dulu.” Tarikan napas cepat terdengar ketika Hyukjae mengambil jeda. Pria itu lantas menyapukan pandangannya ke sepanjang dinding bernuansa biru langit di samping kiri kami. Ada senyum tipis yang mengembang di wajahnya. “Ke manapun kami selalu bersama. Ia bahkan mengabaikan statusku sebagai salah seorang staf-nya di kantor bila kami sudah menghabiskan waktu bersama. Tapi sekarang, semua itu berubah. Donghae menjauh dari segalanya. Bukan hanya padaku, tapi pada setiap orang yang pernah berhubungan dengannya. Hari itu aku sadar, betapa sebuah kepercayaan sangatlah penting. Dan gadis itu telah merusak pilar kepercayaan di hati Donghae.”

Tanpa sengaja, aku meremas tanganku sendiri. Jika saja gadis itu ada di hadapanku, mungkin aku sudah menjambak rambutnya dan meminta gadis itu bertanggung jawab atas segala nasib buruk yang kualami saat ini.

“Emm… apakah aku telah berbuat kesalahan karena mengungkit semua itu padamu?”

Mendengar kekhawatiran dalam nada suara Hyukjae, membuat senyumku mengembang sampai ke telinga. “Aku telah mendengar semuanya dari Bibi Han. Jangan khawatir.”

Hyukjae menghela napas lega sambil menyunggingkan senyum lebar. Yeah, wajar saja jika dia khawatir apa yang dikatakannya padaku akan memancing amarah Donghae. Seperti yang Hyukjae katakan sebelumnya, lelaki itu memang telah berubah. Terkutuklah perempuan itu!

“Aku sudah menemukannya.” Ia melambaikan sebuah map biru padaku, sebelum berpaling dan meraih segelas jus stroberi yang tadi dipesannya pada Bibi Han, lalu menyeruput isinya hingga tandas. “Ahh… Bibi Han masih hafal betul dengan jus stroberi favoritku. Kurasa aku harus memberinya kecupan di pipi setelah ini.”

Tawaku lepas untuk pertama kalinya hari ini. “Kau bisa meminum yang satu lagi jika mau.” Aku menawarkan dengan senang hati, dan Hyukjae langsung menyambutnya dengan seringai kemenangan.

“Sepertinya aku akan lebih sering lagi mengunjungi apartemen ini seperti dulu. Jika Donghae tidak mau menemuiku, setidaknya… masih ada kau, Yoohee-ssi.”

Sekali lagi aku tertawa, dan mengangguk kecil ketika ia berpamitan sembari mengucapkan sampai jumpa lagi. Tentu saja setelah menghabiskan segelas jus stroberi yang disiapkan Bibi Han untukku. Terima kasih pada Hyukjae karena setidaknya dia telah membuat hariku menjadi lebih baik.

Sepeninggal Hyukjae, apartemen ini kembali sunyi. Aku baru saja kembali ke ruang kerja Donghae untuk merapikan beberapa dokumen di atas meja, ketika pembicaraan tentang tawaran membalas dendam dari Paman Taejung menghantam kembali ingatanku. Sekaranglah waktuku untuk mewujudkannya, atau… tidak akan ada kesempatan sama sekali. Donghae pasti menyimpan dokumen-dokumen itu di suatu tempat di ruangan ini. Ya, aku harus menggunakan segenap kemampuanku untuk menemukannya sebelum ia kembali.

 

***

 

Aku melompat turun dari tempat tidur ketika kudengar derik pintu terbuka dan mendapati Tuan Salju-musim-panas itu berdiri di ambang pintu seperti patung batu yang dingin. Sesuatu seperti melesak turun ke dasar perutku menyadari tatapan tengah malamnya dipenuhi emosi yang tak terucap. Secara otomatis, peristiwa semalam terputar kembali dalam benakku. Ketika dengan penuh penekanan ia mengancam akan melakukan hal terburuk yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku bungkam, dia pun bungkam. Ada kecanggungan merambat di kamar ini selagi dia melangkah mendekatiku.

            Benar kata Hyukjae, saat ini Lee Donghae terlihat luar biasa menakutkan dibandingkan beberapa waktu lalu ketika pertama kali aku mengenalnya. Ada yang mengganggunya, aku sadar itu. Dan kuharap, semua itu tidak ada hubungannya denganku dan kejadian semalam.

            “Pakai ini, dan kutunggu kau lima belas menit lagi di bawah.”

            Aku tersentak, dan hanya mampu menatap kotak pink berpita putih yang dilemparkan Donghae ke atas tempat tidur. Ketika bibirku baru terbuka untuk mendebat, pintu kamarku sudah kembali tertutup dan ia tidak terlihat di mana pun. Sial!

            Membuat Lee Donghae semakin hilang kesabaran, kurasa bukanlah keputusan yang bijaksana untuk malam ini. Jadi tepat sebelum lima belas menit berakhir, aku telah berdiri di hadapannya, menggunakan gaun—halter neck hitam berbahan chiffon sepanjang mata kaki—pemberiannya.

            Dalam balutan jas hitam mahal, Lee Donghae terlihat sangat menawan. Jika saja tatapan sedingin es itu bisa berubah menjadi lebih hangat, mungkin aku akan mulai bersyukur bisa mendapatkan suami sepertinya. Dia tampan, kaya dan sukses. Hal yang akan dipertaruhkan gadis manapun di seluruh dunia untuk mendapatkannya. Membayangkan Lee Donghae seperti sosok dalam foto yang tidak sengaja kutemukan di sebuah laci tersembunyi dalam ruang kerjanya, sungguh sangat sulit. Dalam foto itu, ia bisa tertawa lepas, ada binar kebahagiaan yang memancar di sepasang mata kelamnya. Terkutuklah seseorang yang telah menghapus binar itu dan menggantinya dengan kesuraman yang pekat.

            “Ayo pergi!” Suaranya terdengar dingin dan jauh.

            “Kita… maksudku, kau akan membawaku ke mana?” Sembari mengangkat rok gaunku untuk memudahkan langkah mengejarnya, aku memberanikan diri bertanya. Bagaimana mungkin dia begitu saja menyuruhku ikut, tanpa memberi tahu ke mana arah tujuan kami yang sebenarnya.

            Lee Donghae tidak menjawab, dan hanya terus berjalan menuju Audi A5 putihnya yang sudah terparkir di halaman depan. Seolah pertanyaanku hanya suara radio rusak yang tidak penting untuk mendapat perhatiannya.

            Kontan saja amarahku meledak, dan sebelum ia sempat membuka pintu mobilnya untuk masuk, aku membentak. “Lee Donghae-ssi, aku bukan—aah!”

            Aku memejamkan mata karena kupikir pantatku akan mendarat dengan menyakitkan di aspal, alih-alih sepasang tangan hangat merengkuh tubuhku dengan cepat dan sigap. Jantungku berdenyut kencang merasakan hangat napas dan aroma tubuhnya merebak dalam setiap mili udara yang kuhirup. Tubuhku menegang, merasakan segenap antisipasi setiap kali dirinya berada di dekatku.

            Lee Donghae. Tatapan kami bertemu ketika aku membuka mata. Aku bodoh jika tidak menyadari ada binar gairah pekat memancar dari tatapan tengah malamnya selama beberapa detik yang singkat, sebelum mata itu kembali diselimuti lapisan es yang dingin.

            “Aku bisa saja melepasmu sekarang juga, jika kau tidak segera berdiri dengan kakimu sendiri.”

            Sial! Kontan saja aku berdiri dan langsung menunduk untuk menyembunyikan pipiku yang terasa panas. Seperti ada bara api pekat yang menjalar hingga ke telinga. Aku malu sekali. Jangan sampai dia berpikir aku menikmati sentuhannya di tubuhku. High heels sialan! Betapa aku benci rok gaun sempit dan heels setinggi 7 cm semacam ini!

            “Masuk! Jangan membuatku terlambat menghadiri pesta itu.”

 

***

 

            “Ah, aku senang kau datang, Donghae-ssi.”

            Seperti De javu, suara lelaki itu mengingatkanku pada kejadian semalam. Suara lembut dan berat yang memuji kepiawaian putrinya di atas panggung dengan penuh kebanggaan khas seorang ayah.

            Aku membeku di tempat. Membayangkan scenario terburuk yang akan terjadi malam ini. Jika lelaki tua itu ayah Go Youngri—si pemain cello—dan putrinya tergabung bersama SPO, maka tidak menutup kemungkinan jika Seungho juga akan hadir di acara ini. Sial!

            “… istriku, Lee Yoohee.” Sikutan Donghae mengembalikanku ke masa kini, membuatku terpaksa mengukir senyum palsu sebagai bukti ramah tamah.

            “Oh, aku hanya pernah mendengar tentangmu selama ini. Senang karena akhirnya bisa bertemu denganmu, Yoohee-ssi.”

            Aku mengangguk, dan membiarkan lelaki tua itu menjabat tanganku. Melalui sudut mataku, aku melihat seorang gadis cantik mengenakan back-drop dress berwarna merah menyala mendekat. Ia terlihat luar biasa spektakuler dalam balutan gaun yang memamerkan kaki jenjangnya yang mulustanpa cela, seolah ingin mengukuhkan dirinya sebagai ratu di pesta ini.

            “Kau sudah melihatnya kemarin malam, dia putriku. Go Youngri.”

            Berharap bunga cherry mekar di musim dingin, terasa sama mustahilnya dengan mengharapkan Go Youngri melupakan kejadian di kafe sore itu. Saat aku menemani Seungho berbelanja. Dari caranya menatapku, aku hampir yakin dia akan mengungkitnya di hadapan Donghae malam ini. Demi Tuhan, semoga dugaanku salah.

            “Selamat ulang tahun, Youngri-ssi.”

            Gadis itu memamerkan senyum satu juta dollarnya yang menawan, selagi menjabat tangan Donghae. “Terima kasih. Kau pasti Lee Donghae. Papa sering membicarakan tentangmu, Tuan Lee.”

            “Kuharap bukan cerita yang buruk.”

            “Justru sebaliknya.” Youngri memperdengarkan kikikan riang yang membuat perutku mulas. “Dia justru berharap aku mendapatkan suami sepertimu.”

            “Ah, Tuan Go terlalu berlebihan.”

Ingin rasanya aku menampar Donghae saat ini juga. Jika dia mampu bersikap lebih manis pada orang lain, tapi mengapa padaku tidak? Apakah karena Tuan Go adalah klien-nya, jadi dia memilih berpura-pura agar dapat memenangkan hatinya? Dasar licik! Hanya bisnis dan bisnis yang ada di kepalanya.

“Sebelumnya aku tidak percaya, tapi setelah bertemu langsung denganmu. Kurasa, Papa ada benarnya. Istrimu sungguh beruntung bisa memilikimu sebagai suaminya.”

Donghae tertawa, dan aku tahu itu hanya tawa palsu belaka. “Sayangnya dia tidak sependapat denganmu, Youngri-ssi. Benar kan, Yoohee-ya?”

Aku menelan ludah saat semua mata tertuju padaku. Sadar, bahwa Youngri mungkin sedang menunggu waktu yang tepat untuk membawa topik itu di sini.

Mata bulat Youngri terlihat semakin lebar saat ia menunjukkan keterkejutannya. “Oh, jadi… dia istrimu?” Ia menunjukkan ekspresi bersalah yang dibuat-buat. “Maaf, tadi aku bicara seenaknya. Kupikir kau sekretaris Tuan Lee.”

Seraya meremas bahan logam tali tas tanganku, kupaksakan sebuah senyum. “Tidak apa-apa, aku—“

“Sepertinya kita pernah bertemu,” selanya dengan riang, sama sekali mengabaikan keterkejutan Donghae dan Tuan Go yang langsung menatap kami dengan curiga.

“Kau pernah bertemu dengannya?” Tuan Go bertanya hati-hati.

Double sialan! Dia benar-benar menemukan saat yang tepat untuk meluncurkan serangan itu. Jika ada tempat bersembunyi yang bagus, mungkin aku akan melarikan diri sekarang juga.

“Ya, Papa. Aku tidak mungkin salah.” Youngri mengalihkan tatapannya lagi padaku, dilengkapi sebuah senyum palsu yang dibuat-buat. “Bukankah kau… yang bersama Seungho sunbae di kafe sore itu? Ah, kupikir kalian sepasang kekasih—“

“Youngri-ya, jangan bicara sembarangan.” Tuan Go menyela ucapan putrinya. Sayangnya terlambat, gadis itu sudah mengatakannya, dan aku dapat merasakan tatapan menusuk Donghae yang berdiri diam di samping kiriku. Ancamannya kemarin kembali terngiang-ngiang di kepalaku seperti nyanyian kematian yang menakutkan.

Dia akan melakukan hal terburuk yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Oh, sial, sial, sial!

“Papa. Ayolah! Aku hanya mencoba berteman.” Youngri melirikku dengan senyum puas tersungging di bibirnya. Ya, dia telah berhasil menghancurkan hariku hanya dengan satu kalimat. Sialan! “Senang bertemu denganmu, Yoohee-ssi. Tapi aku harus pergi karena teman-temanku sudah menunggu. Bye!”

“Maafkan putriku, dia memang suka sembarangan bicara.”

Aku mengangguk pasrah pada Tuan Go yang menatapku penuh harap, walau ingin rasanya menarik rambut bergelombang perempuan itu hingga lepas dari gelungannya. Meski Donghae tidak berkata apa-apa, aku bisa merasakan kemarahannya. Seperti kata orang bijak, air yang tenang bukan berarti keselamatan, sewaktu-waktu ia dapat menenggelamkan apapun yang ada di hadapannya.

“Aku permisi untuk menyapa tamu lain.”

“Silakan!” Suara Donghae terdengar rendah dan berbahaya. Walaupun aku melihat ada senyum di bibirnya, tapi senyum itu tidak sampai ke sepasang matanya yang serupa langit tengah malam. Sebaliknya, aku dapat menangkap percikan api amarah di sana. Api yang mungkin bisa membakarku hidup-hidup.

“Lee Donghae, aku bisa menjelaskannya.”

Dia mengabaikanku, dan memilih berpaling. Berjalan ke pinggir ruangan. Aku melihatnya mengambil segelas sampagne yang ditawarkan salah seorang pelayan berseragam putih dan hitam, lalu meminumnya. Beberapa menit berlalu tanpa jawaban darinya. Aku merasa seolah-olah lantai tempatku berpijak tidak lagi rata. Kebungkamannya membuatku takut. Jika benar dia akan menghukumku, aku berharap tidak di tempat ini.

Menit di saat aku tidak mampu lagi menahan diri, suaranya terdengar lirih dan dalam. “Aku serius dengan ucapanku semalam.”

Jantungku seperti terjun bebas ke dasar perut. Sekian detik aku merasa paru-paruku berhenti menjalankan tugasnya untuk menopang hidupku. Bisikannya seolah mengacaukan kerja otakku. “Donghae-ssi, aku—“

“Kali ini aku bisa melepaskanmu, tapi bila semua itu sampai terulang. Aku tidak akan main-main dengan hukumannya.”

Tanpa sadar, aku menghela napas mendengar ucapannya. Sama sekali tidak menyangka, keberuntungan akan menghampiriku. Bersyukur mungkin kata yang tepat untuk kulakukan sekarang. Ya, kurasa dia tidak sekejam yang kupikir.

“Terima—“

“Donghae-ssi, bisakah kau bergabung dengan kami? Ada hal penting yang harus kita bicarakan.” Seseorang berpakaian parlente yang sama dengan setiap tamu yang hadir di tempat ini, menyela ucapanku. Menit berikutnya, Lee Donghae sudah meninggalkanku seorang diri.

Sial! Ditinggalkan sendirian di tengah lautan manusia asing membuatku kikuk. Perlahan, aku berjalan menjauhi keramaian. Berdiri di pinggir ruangan, tepat di sebelah pilar besar sembari menyaksikan beberapa tamu yang sibuk mengobrol dan berdansa mengikuti irama musik waltz yang dimainkan para musisi.

“Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di sini. Tapi bila kau ingin aku memaafkan kesalahanmu, berdansalah denganku.”

Mataku melebar terkejut. Sosok yang ingin kuhindari itu, kini menjulang di hadapanku dengan tawaran yang akan menjerumuskanku ke dalam panasnya api. Yang Seungho. Demi Tuhan, tidak! Aku baru saja terbebas dari hukumanku, dan belum tiga puluh menit berlalu, godaan itu datang lagi.

“Hey, Jag-eunnie. Kau mendengarku?”

“Oh, S-ssong! Kau di sini juga.” Suaraku terdengar seperti orang tercekik.

Kernyit dalam timbul di kening Seungho. “Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang sebenarnya kau lakukan di pesta ulang tahun Youngri?” Terdengar desah berat Seungho. “Ah, sudahlah! Itu tidak penting sekarang.” Ia menepiskan tangannya seperti sedang mengusir lalat. “Aku nyaris mati bosan di sini, dan ketika aku melihatmu berdiri sendirian di sisi pilar, aku hampir mengira diriku sudah gila karena berhalusinasi.”

Meringis, adalah satu-satunya reaksiku atas pernyataan Seungho. Rasanya, aku benar-benar telah kehilangan kemampuan verbalku. Dengan cepat aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Mencari keberadaan Donghae. Jika Donghae melihat Seungho di sini… Ya Tuhan! Seungho, kumohon. Menjauhlah dariku!

“Hey, apa yang sebenarnya kau cari?”

“Oh? Aku… aku…” Ke mana perginya Tuan Salju-musim-panas itu? Kenapa dia tidak terlihat di manapun?

“Ayolah, Yoohee. Aku mulai bosan. Kalau kau tidak mau berdansa denganku, setidaknya… temani aku ke meja makan.”

Aku terkejut sewaktu tangan Seungho menangkap lenganku. Lalu dengan tenang, ia mulai berjalan membawaku ke tengah kerumunan tamu.

Panik dan gusar, aku mencoba menepisnya. “Ssong, tolong dengarkan aku—“

“Hampir semua orang mengenalku sebagai sosok yang posesif, dan aku benci bila ada seseorang yang berani menyentuh apa yang menjadi milikku.”

Aku membeku. Seperti ada bermili-mili lapisan es dingin yang disiramkan sekaligus ke sekujur tubuhku. Selain tangan kuat dan hangat yang melingkari pundakku dengan posesif, tidak ada yang mampu kurasakan lagi. Semua organ tubuhku serasa berhenti bekerja. Mungkin inilah yang disebut sebagai hal yang lebih menyakitkan daripada kematian.

Demi Tuhan! Tolong lindungi aku dari malaikat maut bernama Lee Donghae ini!

 

 

TBC

 

Hellooooooooooooooooo, there is a good news here. Before I quit writing, I would love to finish this story first. As you wish. Okay? Sorry for the lame update. I will continue it soon. Thank you for your patience🙂

46 thoughts on “[Another Story] Passionate Love -Chapter 5-

  1. Oh akhirnya dilanjut lagi cerita *napaslega
    ihh aku jadi geregetan banget eonnie sama sikap Donghae oppa dichapter ini >.< kalo aku jadi Yoohee, aku udah jambakin tuh rambutnya Donghae oppa karena sikap dingin nya itu *plakk

  2. oh tuan salju musim panas…
    Bisakah sdikit saja kau lelehkan tembok es yg membentengi mu itu ?
    Sungguh unn,skian lama menunggu,akhirnya kluar jg part 5 ny,jd ga sbar bwt yg part 6 n strusnya…
    Hwaiting unn:)

  3. Ayaya.. Akhirnya ada lanjutannya juga! Thanks Eonnie dah mau dilanjut FF-nya🙂

    Aigoo.. Tuan Salju bisa ga kamu berbaring diatas kompor biar meleleh gitu tembok Es yg melingkupimu-_-”

    okee d’tunggu aja deh next-nya! Keep Writing Eonnie.. ^^

  4. huwoooooooooooo aku bca lagi dari awal dan part 2nc nya :v kkkkk lanjutnya jgn lama2 yah ounn n.n gak sabar hukuman apa yang bakal dongek kasih xD itu suara dongek kan?? Benerkan??

  5. kenapa Donghae- sangat menakutkan? ah sungguh sebenarnya Donghae suka tau tidak ke Yoohee
    bener bener menakutkan Donghae disini baca nya deg degan sendiri… kapan kau berubah Donghae??
    di.tinggi kelanjutannya ya Chingu🙂

  6. MAKIN KERENNNNN!! diksinya makin mantepppp makin berasa novelnya kalo kubilang, alurnya juga..
    dan gak tau kenapa dibanding chapter2 sebelumnya di chapter ini aku lebih ngerasain chemistry yoohee-donge *tutup kuping Jjang
    sukakkk banget apalagi pas donge ngebisik bilang dy gak main2 sama ancamannya, gak tau dah napa aku berasa tergoda(?) gitu hoakakakkkkkkk

    soal si youngri.. yahhhh emang tipe2 minta dibejek sih anak begitu pannn
    tapi kalo gak ada dy, kurang bumbu penyedap jugak jelesnya donge :p

    LANJUT LEE!! KALO UDAH KELAR NANTI JUGAK TETEP LANJUT!! *cerita lain, ama shaheer mungkin gituuuuu biar lucuuu kekeke

    • Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh, SONG!!! GOMAWOOOOO! hahaha…. masa sih? Padahal aku ngerasanya malah biasa aja gegara kelamaan gak nulis kkkkkk
      Syukurlah klo emang kamu ngerasanya gitu🙂

      Iyaaaahhh, biasalah… harus ada gadis penggoda (?) #Slapped

      Aduuuuuhhh, Shaheer mah urusan nanti2 aja deh Song! Klo aku gak berubah pikiran lagi hahahha *plin-plan*

      • heh?? enggak kok Song, selama hiatus malah jarang baca novel. Paling sekali doank baca yg LK, abis itu satu novel lagi tapi belom beres sampe sekarang kutinggal tuh hahaha…. >_<

  7. Huaaaa akhirnya ff ini dilanjutin. Aku sedih banget pas denger eonni gak nulis lagi. Tapi yasudahlah gapapa eon. Aku suka deh sama cerita ini. Konfliknya asik, menarik, terus penggambaran donghae tuh gak kayak biasanya. Ditunggu terus deh kelanjutannya. Fightingg !!😀

  8. Eonnnn, setelah sekian lama. Akhirnya di lanjut juga ff ini. Sumpah deh, aku rasanya sedih waktu eonni bilang gak bakal lanjut ini ff. Secara ini ff seru bgt.

    Dan seperti biasa aku gak nemu typo di ff ini. Daebak!! Eonn, mampir2 ke blog aku yaa. Hehe. Aku baru bikin blog baru.

    Klo masalah ff kayaknya ku udh gak bisa komentar apa2. Itu udh keren. Pake banget. Kadang aku pikir yaa, si donghae kan model orang yang lawak, suka ngegombal, pecicilan. Trus klo ngebayangin donghae sama kayak di ff itu sumpah aku rasanya kesel banget. Separah itu kah traumanya si donghae ampe kayak gitu. Jahat banget itu orang. Siapa sih yg berani bikin donghae ampe kayak gitu? Kurang ajar bgt. Dan yg lebih menyebalkannya itu aku jadi makin pnasaran sama kelanjutan ff ini. Onnie, cepet2 di lanjut yooo… OKOK??

  9. Eonnie, aku sempet kaget waktue onni mau berhenti nulis
    Alhamdulillah, eonni masih mau nglanjutin crita ini, makasih eonni!!^^
    Aku tunggu chapter slanjutnya!!!

    Keep Writing!!!

  10. yeay..^^ dilanjut lagi…:) tapi.. tapi.. baru semangat ngelanjutin kok udah mulai gak semangat lagi sih thor…:( semangat yaaaa…:) SEMANGAT..!!!!^^ buat donghae lebih ‘dingin’ lagi… teus, bikin yoohee lebih menderita(?) lagi….. kekekeke^^ ditunggu banget next part nya…:D harapannya semangat author cepet balik buat ngelanjutin ff ini….^^ okeeee???^^

  11. Huft….
    Lega rasanya,nich cerita di sambung jg.Author nch tau bgt cra bkin readers mati penasaran.Apa-apaan ada tulisan TBC,pas lg tegang bgt bcanya.fighting ya eonni,buat next partnya.Jangan lama-lama ya eonniv:-)

  12. oh aikaa finaly…
    makasih bngt dech kau mengobati penasaran q dngn pl ini…
    jgn berhenti mnulis aika…
    mungkin dengan menulis bisa menjadi jln suksesmu…
    good luck ea aika
    di tggu next partnya..

  13. Makin greget aja nih sama donghae … Aigoo … Donghae oppa belum terkena sinar matahari langsung jadi es di dalam dirinya belum juga meleleh … -_-“

  14. Oh ya ampun lee donghae, ketahuan dh sama hae kan Aahahaha,
    Jadi apa nntnya tu, aku malah bayangin mereka nanti pnya baby.. kekekee

  15. Oohh oohh oohhh donghae kayaknya cemburu..
    Apa yg akan terjadi pada yoohee?
    Agak greget juga sama yoohee..
    Dia terlalu bimbang😀

  16. Donghae menyeramkan sekali tapi justru malah membuatku prihatin padanya, pasti ceweknya yg dulu jahat bgt am hae makanya hae berubah begitu drastis

  17. Hari itu aku sadar, betapa sebuah
    kepercayaan sangatlah penting. Dan gadis itu
    telah merusak pilar kepercayaan di hati
    Donghae.”….
    pas baca kalimat itu nyesek deh
    mgkn emang gara gara itu donghae berubah
    smga yoohee jg ga ngebuat pilar kepercayaan dihati donghae runtuh hiks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s