[OriFict] Second Door -Chapter 21 END-

CHAPTER 21

 

Second Door

 

Cuaca di bulan November yang dingin dan lembab, menjadi saksi bisu kepedihanku pagi ini. Selain peti mati berwarna cokelat dari kayu eboni berpelitur yang bagian atasnya ditutupi bendera Korea, tidak ada lagi yang menarik minatku. Bukan karena keindahan ukirannya dan juga bukan seberapa mengilap peti itu terlihat, tapi sosok yang kini terbujur kaku di dalam sana, adalah poros hidupku selama ini. Kim Jang Hyuk. Lelaki yang telah berjanji akan menikahiku jika ia pulang nanti.

Sebagaimana sesuatu yang kehilangan porosnya, aku limbung. Tidak sanggup lagi berdiri tegak. Tangan-tangan kepedihan yang besar dan kuat itu seolah mencengkeram tubuhku, mencekik leherku dan menyayat setiap jengkal kulitku. Sakit, sesak, perih menjadi satu. Meski begitu, tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis seperti orang bodoh.

Kim Jang Hyuk memang pulang lebih awal dari yang dijadwalkan. Alih-alih pernikahan indah ala pasangan-pasangan dalam novel fiksi romantis yang kudapatkan, tapi tubuh tanpa nyawa yang terbungkus rapi dalam sebuah peti mati. Hatiku seperti disiram air sedingin es. Menggigil sampai kurasakan gigiku bergemeletuk satu sama lain.

Dia menjadi salah satu dari dua korban tewas dalam tragedi perang nuklir antara Korea Utara dan Korea Selatan di Pulau Yeonpyeong pada 24 November lalu. Siapa yang mengira itu akan terjadi? Padahal sebelum pergi, dia sudah berjanji akan pulang dengan selamat dan segera menjadikanku istrinya.

Namun kini, semuanya berakhir. Benar-benar berakhir seperti kata FIN yang dibubuhkan pada akhir sebuah cerita. Ya, kisah cintaku dengannya berakhir sampai di sini.

Aku menggeleng panik, ketika beberapa orang mulai menurunkan peti itu perlahan-lahan ke dalam lubang yang telah disiapkan.

“Tidak, hentikan!”

Aku nyaris bergerak ketika sepasang lengan memegangi kedua sikuku. Menahanku tetap berdiri di antara kerumunan pelayat berpakaian hitam.

“Kumohon! Jangan kubur dia! Jang Hyuk Oppa belum mati. Ini hanya lelucon!” Meski rasanya tenggorokanku sakit karena berteriak, orang-orang itu tidak pernah berhenti. Mereka terus menutupi lubang berisi peti mati itu dengan tanah, hingga membentuk satu gundukan kecil.

Sebuah gumpalan menyesaki tenggorokanku. Tidak sanggup membayangkan hidupku tanpa dirinya. Aku geram, letih, dan tidak berdaya ketika prosesi itu usai. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanya meringkuk di antara kaki-kaki yang mulai melangkah menjauh. Air mata turun menggenangi pipiku, tapi aku tidak mau repot-repot menghapusnya. Rasanya seluruh tubuhku lumpuh, dan untuk sepersekian menit yang panjang, aku berpikir ingin menyusulnya.

Dua kali aku merasakan kesakitan ini. Tujuh tahun silam, berita kematian appa bagai petir di siang bolong yang berhasil melobangi hatiku hingga terasa hampa. Bertahun-tahun aku mencoba bertahan dari kegetiran yang kurasakan setiap kali ada orang-orang yang mencibir kematian yang menimpa appa. Mereka bahkan tidak segan-segan menuduh bahwa kematian itu pantas diterimanya setelah apa yang dia lakukan. Hanya Jang Hyuk Oppa-lah yang behasil menenangkanku. Memberiku semangat layaknya seorang kakak, teman, sahabat dan kekasih yang terbaik. Namun hari ini, Tuhan juga mengambilnya dari hidupku. Seolah aku tidak berhak mendapatkan secuil kebahagiaan dalam hidupku.

Kepedihan itu menghantamku lagi, seperti ombak besar bergulung-gulung yang menerpa batu karang. Jika saja aku memiliki hati sekuat karang, mungkin aku mampu bertahan dengan kokoh mendapat terjangan ombak sekuat itu. Faktanya, hatiku tidak lebih rapuh dari sebuah permen kapas, yang akan hancur hanya dalam sekali remas.

Jang Hyuk Oppa… tidak bisakah aku ikut bersamamu ke surga?

“Eun Hee-ya, ayo kita pulang!”

Sebuah suara yang familiar namun terasa jauh, menyapaku. Berikutnya, kurasakan sepasang tangan hangat membantuku berdiri. Eomma. Matanya yang gelap, menatapku sedih. Meski tidak ada jejak air mata di sana, aku tahu apa yang berusaha disembunyikannya dariku.

“Udara semakin dingin. Kita harus—“

Aku menyurukkan diriku dalam pelukan eomma. Tak kuasa menahan diri untuk tidak menangis. Kehangatan lembut dan tepukan pelan tangan eomma di punggungku, semakin meruntuhkan pertahanan diriku.

Eomma, tolong katakan padaku bahwa ini hanya mimpi. Katakan!” Aku merengek seperti bayi. Menolak kenyataan menyakitkan ini. “Jang Hyuk Oppa tidak mungkin meninggalkanku secepat ini. Dia hanya tidur. Iya, kan?”

Eomma tidak mengatakan apa-apa, hanya mempererat pelukannya di tubuhku. Selama beberapa menit, aku bertahan dalam posisi ini, hingga kudengar suara eomma. “Tidak ada gunanya menyangkalnya terus. Kau harus tetap bertahan untuk melanjutkan hidupmu. Bagaimanapun sulitnya itu.”

Eomma melepaskan dekapannya di tubuhku. Tangannya yang kapalan membersihkan sisa air mata di pipiku. Dengan ketenangan seorang ibu, ia kembali melanjutkan. “Ayo pulang. Jangan membuat Jang Hyuk semakin sedih dengan ketidakrelaanmu melepasnya.” Eomma lantas menggiringku berjalan bersamanya. “Lagi pula, tangisanmu tidak akan pernah membawa Jang Hyuk kembali ke sisimu.”

Satu duri tajam, terasa menusuk jantungku. Ya, eomma benar. Meski menyakitkan, aku tahu bahwa apa yang dikatakannya benar. Jang Hyuk Oppa tidak akan pernah kembali lagi, walaupun aku menangis hingga air mataku kering. Dia sudah pergi. Pergi untuk selamanya.

Aku menghentikan langkah, memutar tubuhku untuk kembali menatap makam itu. Maafkan aku, Jang Hyuk Oppa. Berbahagialah di sana. Jangan hiraukan aku lagi.

Kutarik napasku dalam-dalam, kemudian mulai memantapkan langkahku bersama eomma meninggalkan makam itu. Dalam perjalanan pulang, aku melirik beberapa prajurit berseragam angkatan darat yang masih bertahan di lokasi pemakaman. Mereka pasti teman-teman seperjuangan Jang Hyuk Oppa. Kulihat rombongan itu sedang bersiap-siap naik ke sebuah truck tentara yang sebelumnya membawa mereka ke mari.

Tanpa sadar, aku bertemu pandang dengan sepasang mata teduh beriris kelam salah seorang pemuda yang berdiri di antara rombongan itu. Mata itu mengisyaratkan kepedihan mendalam, melebihi yang lainnya. Dan ada sesuatu dalam matanya yang membuatku untuk beberapa menit, tidak dapat mengalihkan perhatianku darinya.

Satu hal yang membuatku bingung, apa arti tatapan pemuda itu? Aku tidak tahu.

 

***

 

Butiran-butiran salju menyambutku ketika aku turun dari bus. Kurapatkan mantel putih panjang dan syal biru tua yang kupakai. Dingin. Suhu udara hari ini nyaris mencapai – 4 ºC, tapi sama sekali tidak menyurutkan niatku untuk bangun pagi-pagi sekali dan berangkat menuju distrik Gwangseon. Wilayah Flat Wook Gi berada.

Jantungku menghentak cepat ketika tiba di depan pintu berwarna putih itu. Berpikir apa yang harus kukatakan padanya saat bertemu nanti. Perlukah aku meminta maaf? Atau… haruskah kukatakan kalau aku juga mencintainya? Dan aku datang ke mari karena terlampau merindukannya.

Oh, tidak! Itu akan sangat memalukan! Tapi, tidak ada sesuatu yang terlampau memalukan demi cinta.

Angin dingin berhembus lagi melalui celah koridor yang terbuka. Kucoba menghangatkan telapak tanganku dengan meniupnya lalu menggosok-gosokkannya pelan. Mencari secuil kehangatan yang tidak kunjung kudapatkan karena kini aku begitu gugup.

Aku menghitung sampai tiga, pelan tapi pasti… kutekan bel pintu itu. Menunggu dengan cemas, tapi beberapa menit berlalu, pintu itu tetap tidak terbuka.

Tidak menyerah, aku menekan lagi bel pintu itu lalu menghitung dalam hati. Kali ini sampai sepuluh. Tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam.

Sial! Aku nyaris frustrasi dan menghela napas gusar. Sebenarnya ke mana dia pergi sepagi ini? Ya, harusnya aku menghubunginya dulu sebelum datang ke mari.

Tanpa sadar, aku telah menghentakkan kaki kesal, lalu kembali menekan bel itu. Masih sama, tidak ada jawaban.

Oppa, ayolah! Buka—“

“Maaf, Sonnim[1].”

Terkesiap, cepat-cepat kuputar tubuhku dan langsung berhadapan dengan seorang wanita setengah baya berambut ikal dengan tubuh sedikit gempal. Wanita itu berdiri di ambang pintu flat yang berada tepat di kiri flat Wook Gi.

“Ya?”

“Kau mencari pemuda tampan itu?”

Aku mengangguk sewaktu menyadari ‘pemuda tampan’ yang wanita itu bicarakan adalah Wook Gi.

“Beberapa hari lalu, aku melihatnya berkemas.” Wanita itu berkata sembari menunjuk pintu flat Wook Gi yang hingga kini masih tertutup.  “Sejak saat itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Sepertinya dia sudah pindah”

Aku terpaku. Seperti ada cakar besar dan tajam yang mengoyak jantungku. Menyakitiku hingga ke tempat paling dalam.

Dia sudah pergi. Wook Gi memilih meninggalkanku sendirian tanpa memberiku kesempatan untuk meminta maaf.

Tapi, kenapa dalam suratnya dia meminta ijin untuk dapat terus menjagaku dari jauh? Sedangkan kenyataannya, dia malah pergi tanpa memberi penjelasan apapun. Apa itu yang disebutnya janji dan tanggung jawab?

Sonnim?!”

“Oh?” Tersenyum kikuk, aku membungkuk singkat pada wanita itu sebagai bentuk sopan santun. “Baiklah kalau begitu. Terima kasih. Aku permisi dulu, Ajumma.”

Wanita itu membalas senyumku dan masuk ke dalam flatnya. Ketika sendirian lagi, aku nyaris lemas jika tidak segera berpegangan pada dinding di sisi kiriku.

Choi Wook Gi… kenapa kau meninggalkanku begitu saja?

Tunggu dulu! Meski tidak yakin cara ini akan berhasil, aku mencari-cari ponselku di tas. Mengetik namanya dalam daftar kontak, dan segera menekan tombol panggil ketika nomornya kutemukan. Aku sampai menahan napas, menantikan jawaban darinya. Namun ketika suara operator yang menyatakan bahwa nomor itu tidak lagi aktif, paru-paruku seperti kehilangan kemampuannya bernapas.

Rupanya, dia benar-benar tidak mau berhubungan denganku lagi. Bahkan walau hanya melalui telepon.

Sialan!

“Kalau begitu, keberadaanku tidak diperlukan lagi. Selamat tinggal.”

Ingatanku kontan melayang pada pertemuan terakhir kami. Ya, kata-katanya hari itu, terngiang di telingaku. Begitu juga raut terluka yang diperlihatkannya ketika Seung Ho datang dan memelukku. Bayangan punggung lebar Wook Gi dengan kedua bahunya yang bergelayut turun ketika meninggalkan pelataran AK Plaza, juga terulang jelas dalam benakku.

Dua kali. Ya, dua kali aku menyakitinya! Tidak terbayangkan betapa sakitnya hati Wook Gi. Dan aku masih mengharap dia mau menungguku kembali? Sebaik-baik hati seseorang, pasti akan hancur juga bila disakiti sedemikian rupa.

Bodoh! Tentu saja dia pergi karena menganggap aku sudah memiliki orang lain yang dapat menjagaku. Seperti dalam suratnya, ia bilang akan mundur apabila aku sudah menemukan lelaki lain yang bisa memberiku kebahagiaan. Dan dia benar-benar percaya, bahwa lelaki itu adalah… Jung Seung Ho.

Sial! Terlalu lama menahan diri untuk membaca surat itu. Dan kini, aku terlambat. Benar-benar terlambat! Lelaki yang kucintai sudah pergi. Parahnya, dia mungkin tidak akan mau bertemu denganku lagi.

Berjuang menahan diri untuk tetap berdiri tegak, aku menggigit bibir bawahku. Mencegah air mata penyesalan turun membasahi pipiku. Aku menyunggingkan tawa mengejek diri sendiri.

Pintu kedua telah benar-benar tertutup, ya, pintu itu sudah tidak terbuka lagi untukku. Semuanya terjadi karena aku terlalu lama meratapi tertutupnya pintu pertama.

Menyedihkan! Penyesalan memang selalu datang ketika semua sudah terlambat untuk diperbaiki.

 

 

FIN (?)

[1] Tamu (Bahasa Korea)

 

==================================================

 

 

 

 

EPILOG

 

 

Grand Hyatt hotel Seoul, berdiri megah di hadapanku. Jujur, ini pertama kalinya aku berada di sebuah hotel mewah bergaya modern yang berlokasi di distrik Yongsan. Dan kuakui, hotel ini memang pantas mendapat predikat bintang lima.

“Hey, jangan mempermalukanku dengan bertingkah seperti orang bodoh!”

Aku terperanjat ketika Mae Ri menepuk bahuku agak keras. Argh… sial! Gadis ini. Sebenarnya apa yang dia makan, hingga tenaganya sebesar itu? “Kau itu laki-laki apa perempuan sih?” hardikku lalu melangkah masuk ke lobby hotel.

Ya, hari ini aku dan Mae Ri akan menghadiri seminar kedokteran tentang penanganan tepat untuk pasien tuberculosis. Karena dianggap telah berhasil menangani pasien-pasien TB di rumah sakit semenjak dipindahkan ke bagian itu setahun lalu, aku dan Mae Ri mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar ini. Bahkan, dua bulan yang akan datang, rencananya rumah sakit tempat kami bekerja akan membiayai kami untuk melanjutkan kuliah spesialis paru di Universitas Seoul.

Senang? Ya, tentu saja. Akhirnya aku dapat mematahkan anggapan miring oknum-oknum yang dulu selalu meremehkanku dengan prestasi gemilang yang kuraih saat ini. Terima kasih juga untuk Mae Ri yang dengan setia menemaniku, bahkan setahun lalu ia juga menawarkan diri untuk ikut pindah ke bagian infeksius bersamaku. Mengabaikan cibiran miring rekan lain tentang keputusannya itu.

“Mae Ri-ya, aku ke toilet dulu,” kataku pada Mae Ri yang kini sedang berdiri di depan meja resepsionis untuk menanyakan tempat seminar kami.

Dia mengangguk. “Baiklah. Aku tunggu kau di sini.”

Cepat, aku melangkah menuju toilet mengikuti tanda penunjuk di sisi kiri meja resepsionis. Seperti dugaanku, toilet di hotel ini benar-benar bersih dan bagus. Aku langsung masuk ke salah satu bilik yang masih kosong karena sudah tidak sanggup menahan diri lagi. Udara dingin di luar memacu kantung kemihku mengirimkan sinyal ke otak untuk segera ke toilet.

Selesai melaksanakan hajat, aku keluar dan langsung mencuci tanganku di wastafel. Terpaksa, kuhentikan kegiatanku mencuci tangan saat merasa mengenali gadis berambut hitam panjang yang kini sedang mengeringkan tangannya di bawah Hand Dryer. Mataku terbelalak. Dia…

“Song Jia?”

Gadis itu menoleh cepat. “Oh, kau… Song Eun Hee. Benar, kan?”

Senyumku mengembang dan membalas jabatan tangan gadis itu. “Sudah lama tidak bertemu,” kataku sembari memerhatikan penampilan Song Jia yang kini mengenakan gaun halter neck selutut berwarna hitam. Cantik dan elegan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan hanya dijepit menggunakan jepitan rambut berhias kristal berbentuk bintang. Gayanya sangat sederhana, namun berkelas.

“Ya, tidak menyangka bisa bertemu lagi. Eun Hee-ssi. Ada acara apa kau ke mari?” Tanya Jia seraya merapikan pakaiannya yang sama sekali tidak kusut.

Aku meraih tas tanganku yang tadi kuletakkan di pinggiran wastafel. “Ada seminar yang harus kuhadiri jam 10 nanti. Kau sendiri?”

Jia diam sebentar, lalu menjawab. “Aku sedang menghadiri pernikahan kakak sepupuku.”

Apa? Seperti dihantam palu super besar, jantungku terasa sakit. Kakak sepupunya? Jangan bilang itu Wook Gi. Jadi, hari ini adalah pernikahannya? Setahun kami tidak bertemu, tentu saja pria setampan Wook Gi sudah menemukan penggantiku. Demi Tuhan, Eun Hee! Lupakan! Dia sudah tidak peduli padamu lagi!

“Hey, kau tidak apa-apa?”

Lekas-lekas, aku menggeleng. “Ehm… tidak.” Aku tidak yakin suaraku terdengar tegar. “Kalau begitu, aku per—“

“Eun Hee-ssi, kau tidak ingin mampir sebentar untuk mengucapkan selamat? Sesaat lagi prosesi pernikahannya dimulai. Bukankah acaramu masih satu jam lagi.”

Untuk alasan yang tidak ingin kupikirkan, kakiku melemas seperti tidak ada lagi tulang-tulang penyusunnya. Bagaimana ini? Kalau aku menolak, dia pasti akan curiga. Aku berdeham canggung setelah sekian menit hanya menatap gadis itu dalam diam.

“Jia-ssi. Begini, bukannya aku tidak mau. Hanya saja, temanku menunggu di lobby. Dia pasti akan—“

“Kau bisa mengajaknya sekalian. Ayo!”

Jantungku menghentak liar saat memasuki ballroom hotel yang dipenuhi banyak sekali tamu. Ya, aku terpaksa menghadiri pernikahan Wook Gi karena sialnya, Mae Ri sama sekali tidak membantu. Ia malah beralasan ingin makan gratis karena memang sejak pagi kami belum sempat sarapan ketika berangkat ke Seoul. Kalau begini, aku jadi berpikir ulang tentang statusnya sebagai sahabatku.

Jia membawaku dan Mae Ri ke sebuah meja bundar dengan kursi berlapis satin putih mengilat. Aku terpaksa duduk dan langsung mengarahkan pandanganku ke depan. Sudut mataku kontan memanas menatap punggung pria yang kini berdiri menghadap altar. Tubuhnya terbalut tuksedo putih dengan celana putih yang membungkus kaki panjangnya dengan pas.

Oh! Tidak, tidak, tidak. Kaki panjang? Aku mengerjap bingung. Seingatku… kaki Wook Gi tidak… sepanjang itu.

“Mencariku?”

Terkesiap, spontan saja aku berdiri mendapati sosok bertuksedo hitam di hadapanku. Getaran halus menjalari dadaku menyadari dia adalah Choi Wook Gi. Lelaki yang setahun belakangan menghuni sebagian besar tempat di hatiku, hingga betapapun aku mencoba membuka hatiku untuk Seung Ho, belum dapat mengusir sosok pria bermata teduh itu dari sana.

Kalau Choi Wook Gi ada di sini. Lalu… siapa yang berdiri di depan sana?

O-oppa, kau—“

“Duduklah!” Terpaksa, aku kembali duduk saat lantunan piano berdenting lembut menyambut kehadiran seorang wanita bergaun pengantin putih yang memasuki ruangan bersama pria paruh baya di sisinya. Wanita itu tampak cantik dan mewah dalam balutan gaun berlapis yang dipenuhi tulle dan renda.

“Ini pernikahan Choi Hyuk Gi. Kakakku,” jelasnya tanpa diminta.

Seperti dialiri arus kelegaan yang hangat, aku tidak bisa mencegah bibirku melekuk membentuk sebuah senyum. “Tapi, tadi—“

Wook Gi terkekeh pelan, lalu berbisik di depan wajahku karena kini suasana ruangan begitu hening. “Jia membohongimu.”

Demi Tuhan! Gadis itu. Refleks, mataku berputar mencari keberadaan Jia. Aku melihat gadis itu balas menatapku dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Tatapannya seolah berkata selamat-menikmati-reuninya. Di samping Jia, duduk seorang pria bertubuh tegap yang sangat familiar dalam ingatanku.

Oh, sial! Tapi setidaknya, aku harus berterima kasih padanya. Jika bukan karena Jia membohongiku, mungkin aku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Wook Gi lagi.

 

 

“Bagaimana kabarmu?” Wook Gi bertanya, tepat setelah prosesi pernikahan hikmat itu usai dan kini kami sedang melangkah ke luar dari ballroom mewah ini.

“Baik,” balasku, mengutuki Mae Ri yang berjalan lebih dulu beberapa langkah di hadapanku. Akibatnya, kini jantungku seperti diberi arus listrik bertegangan tinggi.

Lama, kami hanya berjalan dalam diam. Hingga aku memberanikan diri bersuara ketika kami nyaris sampai di lobby hotel. “Aku permisi dulu, seminar—“

“Eun Hee-ya.

Tersentak mundur, aku merasakan tangan Wook Gi menahan lenganku dan menarikku mendekat. Aroma cokelat dan mint yang familiar itu menyapa hidungku. Oh, betapa aku merindukan aroma favoritku ini.

Selama beberapa detik yang meresahkan, kami berdua diam dan hanya saling berpandangan. Sudah lama rasanya aku tidak menatap sepasang mata teduh itu. Mata beriris hitam yang nyaris membuatku tenggelam dalam kegelapannya yang seperti langit tengah malam. Bila aku patung lilin, pasti sudah meleleh karena tatapannya.

Menelan ludah gugup, aku bergumam canggung. “Emm… Oppa, Mae Ri menunggu—“

“Sampai saat ini, aku masih mencintaimu.”

Kurasakan jantungku menghentak liar seperti bunyi genderang yang nyaris membuat telingaku pengang. Terpaksa kularikan tatapanku pada ornamen berbentuk naga di dinding hotel seraya menikmati peningkatan denyut jantungku yang mengirimkan sinyal-sinyal menyenangkan ke sekujur tubuhku.

“Aku—“

“Sepertinya kau belum memaafkanku.”

Kehangatan tangan besar itu lenyap saat ia melepaskan cekalannya di lenganku. Otomatis aku kembali mengalihkan perhatian padanya saat ia mulai mengambil jarak. “Tidak, aku… sudah memaafkanmu,” bantahku cepat. Tentu saja dilengkapi senyum tulus yang tersungging di bibirku. Mengingat betapa jahatnya aku karena telah menyakitinya, rasa bersalahku muncul ke permukaan.

Senyum Wook Gi langsung mengembang. Berseri-seri seperti SpongeBob saat berhasil menangkap ubur-ubur. “Benarkah?”

Tanpa ragu, kuanggukkan kepalaku. Dan semua itu menambah lebar senyuman puas  di wajah Wook Gi.

“Baiklah. Karena sepertinya Tuhan memiliki rencana baru dengan mempertemukan kita hari ini, akan kukatakan padamu… bahwa kau belum terlambat.” Seringai lebar kini menghiasi wajah Wook Gi ketika keningku berkerut bingung.

“Sampai saat ini aku masih menunggumu, Eun Hee-ya.” Ia mendekatkan kepalanya padaku, mengabaikan betapa aku kelimpungan menahan setiap debar keras jantungku. “Sekarang terserah kau…” bisiknya tepat di depan wajahku, hingga desah napasnya yang hangat dan beraroma mint membelai pori-pori kulitku.

Lantunan That Woman dari Baek Ji Young, berhasil menjauhkannya dariku. Aku mendesah lega, ketika akhirnya terbebas dan langsung berputar mencari-cari ponselku di tas. Pasti dari Mae Ri.

Demi Tuhan! Dia pasti marah, karena aku—eh? Aku membelalak, sama sekali tidak mampu menutupi keterkejutanku. Jung Seung Ho?

Lama, aku hanya diam menatap nama lelaki itu di layar. Ya, selama di Seoul… Seung Ho memang berjanji akan menemaniku. Bahkan ia mengatakan akan mengajakku jalan-jalan berkeliling kota bila aku bersedia menginap di rumah kakaknya di kawasan Gangnam.

“Kau masih berhubungan dengannya?”

Terkesiap kaget, aku langsung memutar tubuhku merasakan kepala Wook Gi tiba-tiba menyembul di balik bahuku. “Kau mengintip?” desisku kesal.

Dia tertawa lebar. “Sekarang terserah padamu,” katanya seraya melipat tangan di depan dada. Dengan seenaknya mengabaikan komentarku sebelumnya. “Aku tidak bisa menjanjikan cintaku dapat bertahan selamanya.”

Lagi. Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku. Seolah apa yang dilakukannya itu, tidak membuat jantungku berontak. “Satu pesanku, jangan pernah menyesal jika kelak kehilangan sesuatu yang ‘sebenarnya’ kau inginkan, tapi tidak pernah kau katakan.”

 

OO~**~OO

Nah, selesai~ *fiuhhh*
Maap lama, aku nunggu Wifi dipasang dulu baru bisa post Chapter akhirnya. Dan maaf juga kalau endingnya Datar sedatar papan tulis =,=

Oiya, seperti yang aku bilang di Chapter awal Second Door. Ini bakal jadi Fict perpisahan dari aku. Jadi, mungkin ini postingan cerita terakhir di blog ini. Makasih yang udah nyimak (?) cerita-cerita aneh di blog ini dari awal sampe akhir. Mohon maaf juga kalau aku jarang bisa balesin komen-komen temen-temen, tapi aku baca kok. Dan ngerasa seneng banget dengan masukan-masukan kalian. Selama dua tahun terakhir, aku beruntung banget bisa dapet apresiasi dari temen-temen semua, bahkan ada yang sampe mau jadi MATES aku. Makasih yaa atas dukungannya dan mohon maafkan aku karna gak bisa jadi author yg baik. Sekali lagi, makasih yaa… maaf  karna aku bukan author yang bertanggung jawab dengan ninggalin banyak banget judul FF gak selesai di blog ini. Sorry…. and sorry! Cuma itu yang bisa aku bilang.
Then… Sayonara  (?)
Annyeonghi Gaseyo, Yeorobun! *bow*

16 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 21 END-

  1. terimaksih sudah membuat cerita-cerita yang menarik dan menghibur🙂
    maaf selama ini jarang komen bukan ga mau tapi ga tau harus ngomong apa. yg pasti aku suka dan sangat menikmatinya. akan ada cerita yg lain bukan aku yakin suatu hari nanti pasti ada. terimakasih kaka aika lee ^^

  2. Overall aku suka. Pnggunaan bhasa dan kata2nya jg bkin enak d baca. Tp menurut aku nih, thor. Konflik yg ada d crita ini kurang greget. Tp tetep suka kok. Keep writing ^^

  3. FIN

    semoga ini bukan karya terakhir yg kamu bilang,, aku masih berharap suatu saat nanti kamu nulis lagi entah itu FF, cerpen ataupun cuma sekedar drabble. itu doa dariku untuk semua author yg karyanya udah aku baca namun berhenti di tengah jalan dg berbagai alasan.
    “beruntungLah kalian yg memiliki kemampuan menulis sebuah cerita,, ” gua ajah pengen tapi ngga bisa, huhuhu

    Okehh,, sampai jumpa di karya kamu selanjutnya.. WP kamu ttp kusimpan di bookmars.
    dah Ny.Lee……………….!!!!!!!

  4. Astagaa! Endingnya d luar dugaan >< but, over all suka🙂
    rasanyaa?? Agak nano2 gmn gitu :v manis- sedih- pait/?- terharu- kocak- tegang semua jadi satu ^^ Mian baru komen d part 21, nyimak alurnya dlu hehehe

    GOMAWO FF NYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s