[OriFict] Second Door -Chapter 20-

CHAPTER 20

 

Second Door

 

Bersandar pada dinding kamarku, mataku tidak lepas menatap amplop cokelat besar yang selama beberapa hari ini tergeletak di atas meja belajarku. Tidak ada sedikit pun semangatku untuk membukanya. Apalagi mengingat gencarnya Seung Ho mendekatiku hingga hampir setiap hari dia datang hanya untuk mengajakku jalan. Ya, sebagai teman dia cukup menyenangkan. Hanya saja percaya dirinya yang begitu besar berpotensi membuatku menderita stroke[1] dalam waktu dekat.

Bayangkan saja, saat itu aku diajak Seung Ho menghadiri reuni SMA-nya. Tentu aku tidak dapat menolak mengingat perjanjian kami sebelumnya bahwa aku akan memberinya kesempatan mendekatiku. Kau tahu apa yang dia lakukan? Dengan percaya diri memperkenalkan aku sebagai ‘takdirnya’ bahkan ia bilang kami akan segera menikah dalam waktu dekat, itu semua dikatakan di hadapan seluruh teman-temannya. Gila! Ya, benar-benar gila. Apalagi dengan ekspresi seriusnya itu, siapa yang tidak akan percaya? Sial! Ingin rasanya aku merebut microphone di tangannya dan memukulkan benda itu ke wajah Seung Ho hingga berdarah. Tapi aku menahan diri demi menjaga nama baik Mae Ri—yang saat itu juga hadir bersama Hyun Jae—dan juga rumah sakit kami. Aku tidak mau dicap sebagai dokter yang tidak tahu aturan dengan mengamuk di depan umum.

Kuhela napas berat sembari melangkah ke depan meja belajarku. Lebih dekat dengan amplop itu, membuat rasa penasaranku meningkat. Ya, entahlah. Seperti ada dorongan kuat dalam diriku untuk segera meraih dan membukanya. Mungkin ini sesuatu yang penting, yang sekiranya berhubungan dengan Jang Hyuk Oppa.

Pelan, kuraih amplop besar itu dan mundur beberapa langkah untuk menempatkan pantatku di tempat tidur. Setelah mengambil napas panjang beberapa kali, aku membukanya. Bisa kurasakan tanganku bergetar saat melakukannya.

Hal pertama yang kulihat setelah mengeluarkan lembar demi lembar isi dalam amplop itu adalah 5 lembar foto berukuran 5R. Foto pertama, adalah foto Jang Hyuk Oppa yang diambil secara diam-diam saat sedang berlatih di camp militer. Melihat sosoknya, kerinduanku memuncak, mengundang setetes air mata jatuh di pipiku. Jang Hyuk Oppa, betapa gagahnya dia dalam balutan seragam lengkap beserta sebuah senapan laras panjang di tangannya. Foto kedua, masih Jang Hyuk Oppa. Kali ini dengan latar berbeda. Masih diambil secara diam-diam pada saat latihan. Foto ketiga, adalah foto Jang Hyuk Oppa beserta kelima orang temannya yang sedang berkumpul di meja makan. Tidak ada yang istimewa di foto ini kecuali cara mengeditnya yang unik dan terkesan artistik. Foto keempat, bukan lagi foto yang diambil diam-diam, karena di foto itu, Jang Hyuk Oppa tengah melambaikan tangannya ke kamera. Latarnya adalah pantai cantik di pulau Yeonpyeong. Air mataku semakin deras begitu melihat foto terakhir. Memang, di antara keempat foto yang lain… foto inilah yang paling buruk kualitasnya. Tapi, dua sosok yang saling berangkulan sembari memamerkan tanda V itu adalah dua orang lelaki yang berhasil menarik hatiku. Jang Hyuk Oppa dan… Choi Wook Gi. Mereka tampak bahagia dalam foto itu dengan senyum tampan yang tersungging di bibir masing-masing.

Dadaku sesak, dan aku terpaksa membungkam mulutku dengan punggung tangan. Mencegah isakanku terdengar yang lainnya. Bila Jong Hee tahu aku menangis lagi, ia pasti kecewa.

Pelan, kuletakkan foto-foto itu di atas tempat tidur berlapis sprei katun putih bermotif Lily dan beralih pada lembar surat yang dilipat rapi. Sembari menguatkan hati, kubuka lipatannya dan mulai membaca surat yang sangat panjang itu.

 

Hai Uisanim, kuharap kau mau membaca suratku. Entahlah, aku tidak punya cara lain lagi untuk menjelaskan duduk masalah yang sebenarnya. Aku juga tidak terlalu pandai bercerita. Mungkin setelah membaca surat ini kau akan membenciku, atau bahkan bersumpah untuk membalas dendam dengan membunuhku.

Silakan. Aku serahkan semua keputusannya padamu, asal kau mau membaca dulu penjelasan yang akan kusampaikan dalam surat ini. Jika tidak, aku akan berhutang penjelasan untuk selamanya padamu. Kau berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba mencari kekuatan sebelum mengetahui kebenaran yang selama ini tersimpan.

 

Pagi yang tenang di pulau Yeonpyeong, dihancurkan ketika suara peluit keras memekakkan telinga terdengar. Aku bahkan nyaris melompat dari matrasku karena terkejut dan sempat merasa pusing karena kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul. Memang, belum setahun aku bergabung bersama angkatan darat Korea untuk menjalankan wajib militerku. Jadi, aku masih belum terlalu terbiasa dengan kondisi seperti ini. Bersama kawan lainnya, aku bergegas memakai seragam dan keluar basecamp, hanya untuk mendapati pemimpin regu kami yang kharismatik, berdiri di sana dengan peluit dan seragam lengkap.

Kim Jang Hyuk.

Seperti yang kau tahu, dia begitu berwibawa. Aku selalu dibuat kagum dengan ketegasannya memimpin kami semua. Dalam satu jam, dia membuat kami berkeringat dengan olah raga pagi yang amat keras. Pagi itu, Jang Hyuk Hyeong juga mengumumkan bahwa hari ini akan ada latihan gabungan di laut Yeonpyeong, dan kami semua diperintahkan untuk segera bersiap.

Tidak bisa dibayangkan seberapa cepat aku dan semua kawanku mandi, berganti pakaian dan akhirnya siap dalam waktu kurang dari setengah jam. Setelah sarapan yang juga tidak lama, kami semua berangkat ke tepi pantai untuk melaksanakan latihan gabungan.

Latihan itu berjalan amat berat. Aku memang belum terbiasa dengan semua ini, tapi mau tidak mau aku harus menyesuaikan diri. Desingan peluru terdengar di mana-mana, seolah-olah terjadi perang sungguhan.

Latihan itu berakhir ketika hampir tengah hari. Saat itu, kami sedang berjalan bersama-sama untuk istirahat makan siang. Aku yang memang tidak bisa lepas dari kameraku, terpikir untuk mengambilnya di markas. Oh, ya, memang benar mereka sempat melarangku membawa benda itu, tapi karena aku memaksa, dan aku berjanji akan menggunakannya pada waktu-waktu tertentu saja, hingga tidak akan mengganggu jadwal latihan kami, Jang Hyuk Hyeong akhirnya mengijinkan.

Siang itu, aku juga sedikit memaksa Jang Hyuk Hyeong untuk mengijinkanku pergi sebentar mengambil kameraku. Dan ya, dia akhirnya memberiku ijin meski dengan syarat aku harus segera kembali. Dengan riang, aku memeluknya sebentar, dan berlari ke basecamp kami. Sama sekali tidak menyadari, bahwa inilah yang mengawali mala petaka itu.

Saat sedang mengemas kameraku ke sebuah tas hitam kecil, sebuah ledakan dahsyat menghantam pulau yang kami tinggali. Bukan hanya sekali, tapi berpuluh-puluh kali, hingga rasanya bumi yang kupijak terasa bergetar.

Seperti yang kau baca di berita, Korea Utara menghujani wilayah itu dengan bom artileri yang menyebabkan beberapa tempat terbakar. Termasuk markas kami sendiri. Semua itu mereka lakukan karena mengira, latihan gabungan kami di laut Yeonpyeong beberapa saat lalu, adalah aksi provokasi untuk mencetuskan perang.

Aku panik menyadari apa yang baru saja terjadi. Suasana begitu mencekam, dan aku merasa tidak bisa bergerak di balik kabut asap hitam yang menyesaki ruang napasku. Nyaris saja aku mati terjebak di dalam dengan pekatnya asap yang menusuk dan menyesakkan seluruh jalan napasku, atau bahkan terpanggang api yang mulai menyebar ke seluruh ruangan, jika saja tidak ada Jang Hyuk Hyeong yang datang menolong.

Dia terpaksa kembali ke markas untuk menyelamatkanku, mengabaikan luka-luka di tubuhnya sendiri karena tanggung jawab yang ia emban sebagai pemimpin regu. Aku tidak bisa berkata apa-apa untuk keberaniannya itu. Ia tahu aku ada di markas yang sedang terbakar, dan kembali untuk menyelamatkan anak buah yang suka membantah perintahnya.

Pada saat itu aku benar-benar tidak berdaya. Bahkan aku tidak menyadari bahwa luka di tubuh Jang Hyuk Hyeong lebih parah dari luka bakar yang kualami sendiri. Ketika tengah menyelamatkanku, rupanya sebuah besi panas dari atap markas kami jatuh tepat di punggungnya. Ia mengerang kesakitan, tapi aku tidak memerhatikannya karena terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Asap tebal itu membuat tubuhku lemas, dan mataku terasa pedih sampai terus-terusan berair. Dan ketika akhirnya kami berhasil keluar, aku baru menyadari Jang Hyuk Hyeong tidak dalam keadaan baik-baik saja.  Bahkan pertolongan petugas medis yang datang beberapa menit berikutnya, tidak mampu meringankan kondisinya.

Aku masih ingat kata-kata terakhirnya saat itu. Kata-kata yang diucapkannya tepat di depan wajahku setelah aku berkali-kali meminta maaf atas apa yang telah kusebabkan itu.

Satu. Hanya satu pesannya padaku sewaktu aku menggenggam tangannya yang lemah dan bertanya, “Hyeong, katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk menebus semua kesalahanku?”

Dan dia menjawabnya dengan, “Kau harus menjaga Eun Hee untukku.”

 

Kugigit bibir bawahku menahan setiap ledakan emosi yang muncul ke permukaan. Aku merasakan dadaku sesak bagai dihantam benda yang sangat keras.

Jang Hyuk Oppa… di saat terakhirnya, dia bahkan masih menyebut namaku. Aku tidak tahu harus senang atau sedih mendengarnya. Rasanya aku bisa turut merasakan sakit yang dialaminya ketika ajal menjemput.

Setelah kuhapus kasar air mata yang mengalir di pipiku, aku membuka lembaran kedua surat itu. Dan kembali terlarut di dalamnya.

 

Awalnya, aku tidak tahu siapa Eun Hee yang dia maksud. Sampai pada saat pemakaman, seseorang memberitahuku bahwa kau… gadis yang tengah menangis di atas pusara Jang Hyuk Hyeong itu adalah calon istri yang akan segera dinikahinya bulan depan. Luka menganga yang bahkan belum sempat diobati itu kembali tercabik melihat tangismu, mendengar teriakan kepedihanmu dan menyadari kerapuhanmu. Aku mengutuki diri sendiri karena telah menghancurkan hati seorang gadis menjelang pesta pernikahannya.

Saat pemakaman itu, aku sempat terpikir untuk mendatangimu. Meneriakkan padamu, bahwa akulah yang telah menyebabkan semua kekacauan ini terjadi. Bila bukan karena ingin menyelamatkanku, mungkin Jang Hyuk Hyeong tidak akan menjemput ajalnya secepat itu. Berharap dengan begitu, mampu meringankan beban rasa bersalah yang bertumpu di pundakku. Namun kau tahu, aku terlalu pengecut untuk melakukan itu, dan hanya memilih untuk diam dan menjagamu dari jauh.

Aku tahu. Aku memang tidak pantas dimaafkan. Dan aku yakin kau juga sepakat untuk itu. Hanya saja, di tengah usahaku menjagamu… hatiku terdorong untuk mencoba mendekatimu. Terdorong untuk bisa mengenalmu lebih dekat. Karena satu hal, niat melindungimu itu telah berganti menjadi sesuatu bernama cinta.

Ya, tiga tahun aku membuntutimu. Menjagamu dari kejauhan untuk melaksanakan pesan terakhir Jang Hyuk Hyeong. Bahkan mengabaikan perintah orangtuaku sendiri untuk meneruskan usahanya agar aku bisa berada lebih dekat denganmu. Tapi dengan bodohnya, aku malah jatuh cinta padamu. Dan aku rasa sudah cukup terlambat untuk mundur kembali.

Rasa itu sudah terlanjur dalam, bahkan melebur ke dalam diriku dan menjadi kebutuhanku sehari-hari seperti halnya kebutuhanku akan oksigen. Saat melihatmu tersenyum, aku merasakan duniaku begitu indah. Dan begitu pula sebaliknya, saat kau terlihat murung, aku tidak mampu menahan diri untuk dapat menghiburmu. Aku ingin selalu di dekatmu, mengisi hari-harimu dengan cinta baru, dan menjadi seorang paling berarti dalam hidupmu.

Apa itu salah? Apakah cinta ini tidak boleh tumbuh hanya karena aku yang telah menghancurkan hidupmu?

Tidak. Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku, atau bahkan mengharap kau dapat membalas perasaanku. Tapi… ijinkan aku untuk tetap menyukaimu dan melindungimu dari jauh. Setidaknya sampai kau menemukan lelaki lain yang dapat melindungimu. Aku berjanji pada saat itu, aku akan mundur perlahan.

 

Satu tanganku terangkat dan menekan dadaku yang mendadak terasa nyeri. Air mata kembali memburamkan jarak pandangku pada surat itu. Membuat huruf-huruf yang tertulis di sana seperti menari-nari mengejek kebodohkanku.

Aku benar-benar tidak pernah membayangkan ketulusan Wook Gi dapat menyentuh lubuk hatiku yang paling dalam. Sekarang aku tahu alasan utama Wook Gi meninggalkan rumah bukan semata-mata karena hobi fotografi yang ditentang ayahnya? Melainkan untuk… melindungiku.

Jantungku seperti diremas kuat. Haruskah aku menyalahkan Wook Gi? Haruskah aku menyalahkan cintanya padaku? Tidak, Eun Hee. Cinta itu tidak pernah salah! Ia hanya datang di saat yang tidak tepat.

 

Satu hal yang ingin kukatakan padamu. Kau beruntung telah mengenal Jang Hyuk Hyeong. Setiap malam di tengah penerangan temaram lilin, dia bangun dan menghabiskan banyak waktu untuk menuliskan sebuah surat. Belakangan aku tahu, surat itu ditujukan untukmu. Lelaki baik dan penuh tanggung jawab itu begitu mencintaimu. Bahkan di akhir hidupnya pun, yang ia pikirkan hanya dirimu dan keselamatanmu.

Jadi, kumohon… Song Eun Hee-ssi. Kau boleh marah padaku, kau pun boleh membenciku sesuka hatimu, tapi tolong jangan kecewakan Jang Hyuk Hyeong. Hiduplah dengan baik dan jangan biarkan kenangan pahit menghancurkanmu.

 

Kontan, aku mendekap surat itu ke dadaku. Rasanya begitu sesak dan menyakitkan. Aku tidak tahu, ternyata begitu besar pengorbanan Wook Gi hanya untuk membayar kesalahannya pada Jang Hyuk Oppa. Ya, dia mengorbankan tiga tahun hidupnya untuk menjagaku. Melindungiku dari jauh agar aku tidak melibatkan diriku dalam bahaya.

Padahal bila dirunut dari cerita yang dituturkan Wook Gi dalam surat itu, kematian Jang Hyuk Oppa bukan semata-mata karena kesalahannya. Kami pun tidak bisa menjamin dalam situasi seperti itu, Jang Hyuk Oppa bisa selamat walau tidak diharuskan menyelamatkan Wook Gi. Bisa saja hujan nuklir yang dikirimkan Korea Utara hari itu, mengenainya di mana pun ia berada.

Perang. Ya, perang itulah yang seharusnya tidak perlu terjadi. Perang saudara itu yang telah menghancurkan segalanya.

Bila begini, masih pantaskah aku menghakiminya? Masih pantaskah aku menghukumnya dengan memporak-porandakan hatinya sebanyak dua kali? Seseorang, tolong bantu aku memutuskan!

Merebahkan diri di tempat tidur, aku bergelung dan mendekap erat gulingku. Menangis tanpa suara. Tubuhku seperti tidak bertenaga lagi. Ya, aku merasa menjadi orang paling jahat di muka bumi ini, karena telah menyakiti orang yang kucintai.

Sekarang aku mengalami apa yang sering dikatakan orang lain, bahwa menyakiti seseorang yang dicintai sama seperti menyerang menggunakan boomerang. Beberapa kalipun kita mencoba menyerang untuk menyakitinya, sebanyak itu pula rasa sakit yang kita rasakan.

“Choi Wook Gi-ssi… maafkan aku!”

[1] Kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu.

7 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 20-

  1. eunhee bilang : sakitnya tuh disini😀
    udah begini apa kabar wookgi masih ada kah ? eunhee-ya kembalilah pada choi wook gi aku mendukungmu nak hehe
    aduh ga sabar endingnya . bagaimana sama wook gi kah ? atau detektif tinggi itu ? ayo ayo semangat terus ka nulisnya biar cepet di post🙂

  2. tuh kann… eun hee nyesel bgt tuhh stlh buka amplopnya… kasian Wook Gi.

    kira2 apa yg akan eun hee lakukan yahh,, datang pada wook gi atau menyerah begitu saja dan menerima Seung Ho yg menyebalkan itu

    Part slnjutnya Lee,, jgn lama2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s