[OriFict] Second Door -Chapter 19-

CHAPTER 19

 

 Second Door

 

 

Aku masih ingat senyum kemenangan yang terukir di bibir eomma, melihat Seung Ho datang menjemputku ke rumah. Matanya bahkan berkilat riang, melihatku pergi berdua dengan Seung Ho. Bahkan, tanpa malu-malu Seung Ho menyatakan bahwa ini adalah kencan pertama kami. Tentu saja, dengan senang hati eomma mengijinkannya. Ini yang sudah lama dinantikan eomma. Putrinya berhasil memiliki pria lain setelah bertahun-tahun ditinggal pergi kekasihnya yang dulu. Jika saja eomma tahu yang terjadi padaku.

Ya, semalam aku menyetujui ajakan Seung Ho. Selain karena merasa bersalah dan ada kemungkinan Wook Gi belum memercayai sandiwara kami, aku juga berniat memberi Seung Ho kesempatan. Mungkin aku terlalu menutup diri, hingga tidak melihat kualitas lain lelaki itu.

“Kupikir kau tidak menyukai detektif Jung,” komentar eomma pagi tadi saat aku menyetujui untuk pergi berdua dengannya. Seketika aku mendengus mengingat usahanya dan Mae Ri saat itu.

“Apa yang kau pikirkan?” Aku mendongak, dan menemukan Seung Ho menyodorkan salah satu es krim cone di tangannya padaku.

Kami berempat—aku, Mae Ri, Seung Ho dan Hyun Jae—memutuskan untuk jalan-jalan di AK Plaza. Mall besar di pusat kota Suwon yang juga berfungsi sebagai stasiun kereta listrik. Dia duduk di sampingku, menghisap es krimnya dengan tenang.

“Kau yakin tidak ingin bermain?” tanyanya, mengacu pada Hyun Jae dan Mae Ri yang kini tengah asyik bermain ‘Dance Game’ di game center.

Otomatis, aku melirik pasangan itu. Melihat betapa lincah Hyun Jae menari mengikuti irama musik, beberapa saat setelahnya, ia mengakhiri permainan itu dengan penuh gaya. Kudengar Mae Ri bersorak dan bertepuk tangan riang ketika angka di monitor menunjukkan nilai sempurna. Mungkin bagi Hyun Jae dan Mae Ri, keramaian di sekitarnya sudah tidak ada lagi dan hanya ada mereka berdua di dunia ini.

Terkadang, aku merasa iri pada mereka. Aku juga pernah merasakan kegembiraan itu. Tapi dulu, dulu sekali, saat awan mendung dan gelombang besar belum menerpa hidupku dan memporak-porandakannya.

Jang Hyuk Oppa… aku merindukanmu!

“Hey!”

“Oh, iya—maksudku… tidak. Aku tidak suka menari,” tolakku datar. Menunduk ketika menyadari tatapan Seung Ho menelusuri wajahku.

“Kau masih memikirkan lelaki itu?” Ada nada tidak senang dalam suaranya ketika bertanya. “Atau jangan-jangan, kau mencari keberadaannya di sekitar sini. Mengira dia akan datang dan menarikmu ke dalam pelukan ketika menyadari kita hanya bersandi—“

“Seung Ho-ssi!” selaku dingin. Merasa tidak nyaman setiap kali ia mengungkit tentang Wook Gi di hadapanku. Walau aku sadar, pembahasan itu tidak mungkin dapat dihindari. Aku yang mulai melibatkannya dalam masalah ini, harusnya aku menyadari itu. “Kau sudah berjanji tidak akan membahasnya lagi.”

Dia diam, lalu mengacak rambutnya frustrasi. “Jika kau mau membuka hatimu sedikit saja untukku!” Aku mendengar gerutuannya, dan hal itu membuat rasa bersalah menyelubungi hatiku.

“Kau tahu ini resikonya dengan menawarkan diri untuk menjadi pelarianku.” Entah bagaimana aku punya keberanian mengatakannya. Setelah menghela napas dalam, aku mengalihkan perhatianku padanya dan berkata dengan amat pelan. “Kalau kau mau, kau masih bisa pergi dan membatalkan semuanya.”

“Tidak. Aku tidak mau—sial!”

Mataku melebar terkejut, ketika tiba-tiba saja ia memelukku. Mendekap erat, hingga aku nyaris kehabisan napas.

“Hey, apa yang kau lakukan?” Aku berusaha berontak untuk melepaskan diri, tapi sia-sia saja karena tubuhnya seperti benteng kuat yang mencengkeramku hingga nyaris tidak bisa bergerak.

“Diamlah!” desisnya berbahaya. Kemudian dengan suara pelan, ia berbisik. “Si pendek itu ada di sini.” Dan seketika aku menghentikan perlawananku. Membiarkan tubuhku diam sekaku patung dalam pelukannya. Meski hatiku berteriak meminta melepaskan diri, otakku tidak pernah melakukan itu. Aku hanya diam, diam dan diam.

Wook Gi… ada di sini!

Jantungku menghentak cepat membayangkan betapa sakitnyaWook Gi melihat semua ini. Beberapa menit yang panjang ketika Seung Ho telah melepaskan pelukannya, ia memberiku instruksi dengan cara yang sama sekali tidak mencolok.

“Arah jam dua belas. Lelaki itu berdiri di sana. Mengamati kita.” Aku begidik saat tangan Seung Ho membelai rambutku. “Tidak, jangan menoleh!” tahannya ketika aku akan membalikkan badan untuk memastikannya. Tiba-tiba aku merasakan pipiku ditangkup dengan tangan Seung Ho yang besar, dan untuk sepersekian detik yang aneh, ia mengecup keningku. Begitu hangat, begitu lembut. Jika saja Wook Gi yang melakukannya…

“Dia sudah pergi.”

Lega, aku segera melepaskan diri dan buru-buru menoleh. Di sana, tepat di arah jam dua belas seperti yang dikatakan Seung Ho, aku menangkap sosok berpunggung lebar yang tertutup mantel hitam panjang menjauh, berjalan gontai ke luar gedung. Dia. Ya, aku hafal punggung itu. Choi Wook Gi.

Seketika, tusukan rasa sakit itu muncul kembali. Mencabik hatiku hingga berdarah. Jadi benar, Wook Gi masih meragukan hubunganku dengan Seung Ho dan hari ini ia memutuskan untuk menyelidikinya sendiri.

Mataku memanas. Menyadari aku telah menyakitinya lagi. Tapi, bukankah itu yang kuinginkan?

Tidak, kau tidak pernah menginginkan ini, Song Eun Hee. Kau mencintainya! Hati kecilku memekik dan cemberut padaku. Oh, sial!

“Bagaimana? Aktingku bagus, kan?” Suara Seung Ho mengejutkanku, tapi aku tetap bergeming. Menatap ke kejauhan. Ke tempat Wook Gi tadi berdiri, meski pria itu sudah tidak ada lagi di sana.

“Sebenarnya, aku sudah melihat dia saat tadi pagi menjemputmu di rumah.” Aku menegang. “Dia sedang duduk di ayunan dekat rumahmu. Tapi aku tidak tahu dia sampai mengikuti kita ke mari.”

Kepalaku berdenyut sakit seperti ditusuk jutaan paku. Demi Tuhan! Wook Gi melihat semuanya. Bagaimana aku jalan berdua dengan Seung Ho, kegembiraan eomma menyambut lelaki itu, double date kami. Entah bagaimana, semua kesadaran itu justru mengirimkan rasa sakit tak tertahankan bagiku.

“Hey, kau—“

“Aku tidak apa-apa.” Buru-buru kuhapus air mata yang menyelinap turun di pipiku, ketika kurasakan Seung Ho meraih ke dua lengan atasku dan memintaku berbalik menghadapnya. Aku mengutuki diri sendiri mengapa menjadi selemah ini hanya demi lelaki yang jelas-jelas telah menghancurkan hidupku?

Aku harus tegar. Ya, harus!

“Kau menyesal.”

“Tidak.” Aku tahu Seung Ho tidak bertanya, tapi mulutku tetap memaksa menjawab. Seolah dengan begitu, dapat menghilangkan kesan yang kini kutampilkan.

“Kau tidak benar-benar ingin menyingkirkannya.”

Aku diam. Menatap sepatu kets-ku dengan bingung. Nada menuduh dalam suara Seung Ho terasa mengintimidasiku.

“Aku benar, iya kan?” Ia mengguncang bahuku, lalu meletakkan ujung jari telunjuknya di daguku. Memaksaku untuk menatapnya.

“Seung Ho-ssi?!” balasku bingung. Sepasang matanya menuntut penjelasan. Dan aku benar-benar bingung harus mengatakan apa?

“Jawab aku!”

“Begini, aku—“

“Ada apa ini?”

Lega mendapat pengalihan, aku melekukkan senyum selebar-lebarnya pada Mae Ri dan Hyun Jae yang berjalan mendekat. Terima kasih, Tuhan! Pasangan gila ini menyelamatkanku.

“Sepertinya kita datang di saat yang tidak tepat,” komentar Hyun Jae dengan nada diriang-riangkan sesaat setelah mendapat delikan tajam Seung Ho. Ia bahkan berniat untuk segera pergi, tapi aku bersyukur karena rengekan lapar Mae Ri mencegah si bodoh itu untuk meninggalkanku berdua lagi bersama Seung Ho.

Menuruti rengekan Mae Ri, kami berempat akhirnya memilih makan di sebuah kafe yang masih berada dalam kompleks AK Plaza. Meski makanannya tidak seenak di kedai langgananku, tapi ‘bila perut sudah lapar, sendok garpu pun akan terasa sama lezatnya dengan sepotong cheesecake,’ begitulah yang dikatakan Mae Ri untuk meyakinkan kami.

Aku dan Mae Ri duduk bersebelahan di sebuah meja berkursi empat, sedangkan kedua pria duduk bersebelahan di depan kami. Hyun Jae di depan Mae Ri, dan Seung Ho di hadapanku. Kegelisahanku timbul, menatap seringai di wajah Hyun Jae. Dan benar itu terjadi, ketika aku mendengar lelaki itu berkata dengan nada dikeras-keraskan.

“Kalau tidak salah, tadi aku melihat kalian berpelukan. Apa kami melewatkan sesuatu?”

Sial! Kurasa Mae Ri harus mengajarkan Hyun Jae untuk tutup mulut. Ah, tidak! Mae Ri dan Hyun Jae sama saja. Entah bagaimana mereka terlihat sangat cocok dalam hal ini.

“Benar. Jangan membohongi kami dan menghindar dari kewajiban mentraktir.”

Nah, benar kan? Mae Ri dan Hyun Jae sama saja!

Aku sengaja tidak menjawab, dan hanya melanjutkan memakan waffleku. Meski biskuit berlapis es krim vanila itu enak, tapi rasanya seperti papan keras di mulutku. Susah ditelan.

“Baiklah! Aku akan mentraktir kalian sore ini. Jangan khawatir!” Seung Ho membalas dengan seringaian lebar. “Makan yang banyak selagi bisa. Benar kan, Eun Hee-ya?”

Tidak! Oh, sial! Dia sama sekali tidak membantu. Aku membalas tatapan Seung Ho dan dengan sengaja memonyongkan bibirku sebagai tanda protes. Sayangnya, ekspresi cemberutku sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk bercanda. Seung Ho tetap membual pada pasangan itu, mengatakan bahwa aku juga telah membalas perasaannya, dan perlahan-lahan, kita akan berkencan sungguhan. Aku tidak bisa membantah, karena tatapan matanya mengunciku seolah mengatakan ikuti-saja-kemauanku-atau-kau-akan-menyesal!

Menyebalkan! Mengapa aku harus terjebak permainan dengan pria sepertinya?

Segera setelah acara ‘kencan’ tidak jelas ini usai, dan kini hanya tinggal aku dan Seung Ho berdua dalam perjalanan pulang, aku tidak kuasa menahan diri bertanya. “Kenapa kau membohongi mereka?” tuntutku tidak terima.

Seung Ho menatapku acuh tak acuh. Sambil terus melangkah gontai di trotoar menuju halte bus terdekat, ia menjawab. “Kau sudah berjanji akan memberiku kesempatan,” katanya tenang. “Kenapa sekarang bertanya?”

“Tapi bukan seperti itu caranya!”

Kini, ia benar-benar berbalik menatapku. Membiarkan dirinya berdiri sedekat mungkin denganku. “Lalu, aku harus bagaimana?” Ia bertanya dengan tatapan tajam ditujukan ke arahku. “Aku tahu kau bukan wanita yang bisa diatur dengan mudah, Song Eun Hee-ssi. Dan jika aku tidak memegangmu dengan erat, aku yakin, kau akan terbang seperti Merpati yang menuntut kebebasan.” Dia memperlihatkan tawa mengejek untuk dirinya sendiri. “Lalu, aku… tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mendapatkanmu.”

“Seung Ho-ssi—“

“Beri aku kesempatan itu, dan aku berjanji akan membahagiakanmu.”

Aku tidak percaya ada air mata menggenangi pelupuk mataku, membuat sosok berwajah tegas itu memudar menjadi bayangan buram. Apa benar ini yang kuinginkan? Sanggupkah aku berpaling secepat itu?

“Aku tidak tahu.” Kugigit bibir bawahku, menjaga emosiku tetap stabil. “Kuharap kau mengerti, Seung Ho-ssi. Aku tidak ingin terus menyakitimu. Kau bisa menemukan wanita lain yang akan membalas perasaanmu dengan mudah. Jangan mempersulit dirimu sendiri dengan—“

“Jadi, kau berencana untuk mencintai si pendek itu selamanya?”

Sialan! Tidak.

“Bukan begitu, aku—“

“Satu-satunya cara membuang cinta lama, adalah dengan mendapatkan cinta baru. Dan aku bersedia sakit hati, asal kau mau menerima cinta baru dariku.”

Aku terbelalak. Dalam hati mengagumi kegigihannya. “Detektif Jung, bukannya aku ingin—“

Aku terkesiap, ketika kedua tangannya yang besar mencengkeram lengan atasku. Ada desakan frustrasi dalam cengkeramannya pada lenganku yang sama sekali tidak bisa kuabaikan. “Aku akan semakin sakit jika kau tidak membiarkanku mencobanya.”

Well, sekarang aku tahu dia tidak akan melepaskanku walau aku menolak dengan cara apapun. Kata menyerah dan dirinya, sungguh bukan suatu kombinasi yang tepat.

“Kumohon jangan menangis, atau aku akan menciummu sekarang juga!”

Eh? Apa?

Aku mengerjap, untuk sejenak terpaku menatap seringai licik di bibir lelaki itu. Saat tangannya menghapus air mata di pipiku dengan lembut, ia menambahkan. “Mulai hari ini, tidak ada lagi nama Choi Wook Gi di hatimu, tapi gantikan itu dengan Jung Seung Ho!”

Ha! Aku mengaga takjub. Dia pikir semudah itu melakukannya?

“Kau mengerti?” Ia menunduk untuk mendekatkan wajahnya padaku. Seringai mengancam, tampak jelas di bibirnya yang penuh. “Kau sudah setuju untuk melakukan ini. Jadi kau tidak punya pilihan untuk mundur lagi. Ingat, aku bukan lelaki yang cukup sabar seperti yang lain. Dan kuharap, kau mengerti itu.”

Sial! Sikapnya berubah secepat arus listrik bertegangan tinggi!

4 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 19-

  1. gimana nasib wook gi???

    ini mah si seung ho memanfaatkan situasi namanya,, apakah dia tulus sama eun hee atau cuma sekedar obsesi ???

    semoga Eun hee sadar secepatnya sblm semuanya terlambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s