[OriFict] Second Door -Chapter 18-

CHAPTER 18

 

Second Door

 

Satu demi satu salju turun dari langit. Aku bertopang dagu sembari terus memerhatikan jalanan gelap di luar kafe yang mulai memutih melalui kaca besar di sampingku. Lantunan lagu Missing You dari duo R & B terkenal Fly To The Sky menyapa telingaku. Seminggu berlalu setelah kepergian Min Hee, kini kepedihanku berangsur-angsur pulih. Begitu pula dengan eomma. Dia tidak lagi menyalahkan diri sendiri atas kejadian pahit yang menimpa keluarga kami, dan mulai bisa menerima kenyataan yang harus kami hadapi saat ini. Sedangkan Jong Hee, seperti sebelumnya. Adikku itu tegar dan selalu mencoba menguatkanku dan eomma. Meyakinkan kami bahwa Min Hee sudah tenang dan bahagia di sana bersama appa.

Pagi tadi aku sudah mulai bekerja dan langsung disambut dengan berita pemindahanku. Ya, kini aku tidak lagi bertugas di UGD, melainkan ke bagian infeksius, khususnya ruangan yang menangani pasien-pasien tuberculosis[1]. Ruangan itu berada jauh di bagian belakang rumah sakit karena sifatnya yang menular dan siapa pun yang bertugas di sana diwajibkan menggunakan pengamanan ekstra terutama masker. Tidak diragukan lagi siapa yang melakukannya, karena setelahnya Mae Ri langsung melaporkan kejadian saat Hyo Jin dan In Sung menyarankan pada dokter Kim agar memindahkanku ke bagian lain. Well, aku tidak peduli. Mungkin dengan begini aku bisa belajar untuk lebih berhati-hati lagi dalam menangani pasien. Aku bahkan terkejut mereka tidak menyarankan dokter Kim untuk memecatku.

“Aku senang kau datang.”

Segera aku memutar pandanganku dan langsung menemukan Choi Wook Gi, tengah berdiri di sisi mejaku. Lelaki itu tersenyum padaku. Rasanya sudah lama aku tidak melihat senyum itu. Tapi kali ini berbeda, bila dulu jantungku akan berdebar kencang, sekarang… senyum itu hanya menyisakan rasa dingin berselimut dendam di hatiku.

“Duduklah!” balasku acuh.

Dia mengangguk, dan duduk tenang di kursi di hadapanku. Seperti biasa, dia tetap menawan dalam balutan sweater abu-abu dan beanie hitamnya. Tapi kini, aku tidak akan tertipu pada kebaikan dan sorot polos yang berusaha dipancarkan sepasang mata teduhnya.

Ya, aku memang menuruti keinginannya bertemu. Semenjak kejadian di makam Jang Hyuk Oppa hari itu, Wook Gi tidak berhenti mencoba menghubungiku. Dia terus mendesakku bertemu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia bahkan datang di acara pemakaman Min Hee, tapi syukurlah perlindungan Jong Hee berhasil menjauhkannya dariku.

Aku sadar, ia tidak akan berhenti memaksaku sebelum aku menuruti keinginannya. Akhirnya dengan pertimbangan selama berhari-hari, aku memutuskan menemuinya. Ya, aku akan membuatnya menyesal telah menghancurkan hidupku.

“Aku turut berduka untuk Min Hee.” Lagi. Senyum itu tersungging di bibir tipisnya. “Kuharap kau bisa tegar menghadapinya.”

“Terima kasih.” Dan seperti sebelumnya, aku membalas dengan acuh. Berjuang menahan diri untuk tidak mengamuk di hadapannya. “Aku sudah menuruti keinginanmu untuk bertemu. Sebaiknya cepat katakan apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan. Aku tidak punya banyak waktu.”

Dia berdeham canggung. Lalu menyodorkan sebuah amplop cokelat lebar padaku. “Aku tahu kau akan mengatakan itu. Makanya, aku sengaja merangkumnya untukmu dalam bentuk tulisan. Agar kau bisa merenungkannya sendiri dan memutuskan apa yang terbaik untuk kita.”

Aku mendengus. Kita?

“Oh, ya. Aku memang belum cukup dewasa untuk memutuskan sendiri apa yang terbaik bagiku, hingga aku membutuhkan bantuanmu,” balasku skeptis.

Dia diam dan hanya menatapku. Tatapan teduh yang dulu sempat kurindukan. Bagaimana aku bisa begini bodoh hingga memercayai lelaki sepertinya? Orang asing yang kemunculannya sangat mencurigakan. Oh, benar-benar menyebalkan!

“Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan. Aku pergi dulu.” Kuraih tas tanganku di meja. “Kekasihku sudah datang menjemput,” tambahku sengaja. Bisa kulihat Wook Gi mengurungkan niatnya bicara.

“Oh, kekasihmu?” tanyanya seraya menatap sosok jangkung Seung Ho yang kini berjalan ke meja kami. Dari sudut mataku, kutangkap sorot terluka pada tatapan Wook Gi.

Senyum sinis kontan tersungging di bibirku. “Ya. Silakan pilih, aku yang pergi. Atau kau.”

Selanjutnya, kudengar bunyi kursi digeser tepat ketika Seung Ho tiba di depanku. Dengan sengaja kulemparkan senyum penuh sayang pada detektif itu yang dibalas Seung Ho dengan senyuman bingung. Mengabaikan harga diriku, kulingkarkan lenganku di lengan Seung Ho. Walau pada awalnya kurasakan lelaki itu terkejut, tapi dengan cepat Seung Ho menyesuaikan diri. Ia bahkan melepaskan pegangan tanganku di lengannya hanya untuk beralih merangkul pundakku.

“Kenalkan, Choi Wook Gi-ssi. Dia, Jung Seung Ho,” gumamku kaku. Entah mengapa, seperti ada perekat kuat di bibirku yang mencegah diriku untuk tersenyum.

“Kalau begitu, keberadaanku tidak diperlukan lagi. Selamat tinggal,” balas Wook Gi kering. Ia tersenyum tipis menatap ‘kemesraan’ kami. Senyum palsu, yang tidak sampai ke sepasang mata teduhnya. Menjabat tangan Seung Ho sebentar, lalu pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

Aneh! Seharusnya aku senang balas dendamku berjalan sesuai rencana, iya kan? Wook Gi terluka, ia marah melihatku bersama lelaki lain. Tapi mengapa setelah berhasil melukainya, aku justru merasakan lubang di hatiku semakin membesar? Lubang yang bahkan lebih menyakitkan dari tiga tahun silam, saat Jang Hyuk Oppa pergi untuk selamanya. Kenapa? Apa yang terjadi padaku?

“Aku begitu mencintainya, Hyeong.”

Kata-kata Wook Gi di makam hari itu, kembali terngiang di telingaku. Ia terdengar begitu tulus dan sungguh-sungguh saat mengucapkannya. Suaranya yang parau karena tangis, terasa seperti pisau yang menembus jantungku. Sakit. Sangat sakit.

Sudah benarkah apa yang kulakukan ini? Salahkah caraku menuntut balas atas apa yang telah ia lakukan padaku dan Jang Hyuk Oppa?

Dia mencintaimu. Menyakitinya, sama halnya dengan menyakiti dirimu sendiri. Suara-suara kecil dari sudut terdalam hatiku, berbisik pelan. Refleks, tanganku terangkat dan menekan dada kiriku yang mendadak terasa nyeri. Aku seperti orang bodoh yang baru saja menggali lubangnya, dan kini malah terperosok di dalam lubang itu sendiri.

“Lelaki itu… siapa dia?”

Terperanjat, aku langsung menurunkan tanganku dan mengerjap cepat sebelum air mata itu lolos dan mempermalukan diriku sendiri di hadapan Seung Ho. Bodoh! Seung Ho pasti tidak akan tinggal diam bila tahu aku menyetujui ajakannya bertemu hanya untuk dijadikan alat menyakiti Wook Gi.

“Kau memanfaatkanku?” Ada senyum sinis yang tersungging di bibirnya saat menatapku. Senyum itu, tentu saja membangkitkan rasa bersalah di lubuk hatiku.

“Maafkan aku, Seung Ho-ssi,” tukasku cepat dan segera mengekor di belakangnya ketika ia melangkah pergi. “Maafkan aku…” ulangku lagi.

“Siapa dia?”

Aku menelan ludah bingung. Tidak tahu harus menjawab apa. Wook Gi bukan kekasihku, kami belum memiliki kesepakatan apa pun untuk menjalin hubungan. Aku hanya tahu, kami saling menyayangi. Dan rasa sayang itu, mendadak dirusak oleh masa lalu kelam yang terbentang di antara kami. Memisahkan kami berdua secara paksa.

“Apa yang dilakukannya padamu hingga kau menjadi semarah ini?”

Tubuhku menegang bingung ketika dengan cepat Seung Ho berbalik, dan menatapku tajam. Ada kilat marah membayang di matanya yang beriris hitam pekat. “Seung Ho-ssi—“

“Haruskah aku mengeluarkan kemampuanku sebagai detektif untuk menyelidikinya sendiri?”

Kugelengkan kepalaku cepat. Butuh beberapa saat bagiku untuk mampu menjawab pertanyaannya. “Kita cari tempat yang tenang, dan akan kuceritakan semuanya padamu.”

 

***

 

“Jadi, kau mencintai pemuda pendek itu?”

Aku menggigit bibir, antara bingung dan geli mendengar komentar sinis Seung Ho. Ya, ya. Wook Gi memang tergolong paling pendek bila dibandingkan Jang Hyuk Oppa dan Seung Ho. Tapi apa kata itu tidak terlalu kasar untuknya?

“Lantas, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Menghela napas berat, aku memundurkan tubuhku dan bersandar di sofa panjang yang kami tempati. Menghiraukan lagu-lagu yang terputar dari audio di ruangan ini. Aneh memang, kami pergi ke tempat karaoke tapi nyatanya tidak ada seorang pun dari kami yang berniat menyanyi. Aku dan Seung Ho hanya duduk diam saling berhadapan, ditemani dua botol Soju  dan sebungkus snack kentang di atas meja.

Well, aku sudah menceritakan siapa dan bagaimana Wook Gi bisa sampai di hidupku. Kukatakan juga pada Seung Ho bahwa aku sangat mencintai lelaki itu, hingga aku tidak tahu bagaimana cara mengeyahkannya dari hati dan pikiranku. Bahkan di saat aku berpikir mampu membalas perbuatannya dengan membuat Wook Gi patah hati, nyatanya justru hatiku lah yang lebih sakit.

“Entahlah. Aku tidak tahu,” balasku gamang.

Seung Ho menggeleng lalu melirikku. “Kalau begitu, bagaimana jika kau membayar kesalahanmu malam ini dengan memberiku kesempatan untuk lebih dekat denganmu?”

Susah payah aku menelan ludah. Berkali-kali aku mengedip untuk meyakinkan diri bahwa benar yang kudengar saat ini. Justru aku sengaja mengatakannya agar ia berhenti menggangguku. Aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun untuk saat ini setelah patah hati untuk yang kedua kalinya. Ternyata respon Seung Ho malah di luar dugaan. Oh, ya. Seharusnya aku menyadari siapa lelaki yang kuajak bicara ini. Dia detektif gila yang aneh. Tentu saja kata normal sangat bertentangan dengannya. “Tapi, aku—“

“Satu-satunya cara untuk dapat menyingkirkannya dari pikiranmu adalah dengan mencari orang baru,” selanya tegas. Tatapannya lurus ke fokus mataku. Mengunci tatapanku dengan tajam.

Aku menegakkan tubuh dan membalas tatapan Seung Ho serius. Jelas merasa aneh dengan penawarannya ini. Bagi lelaki normal di mana pun, pasti akan berpikir ribuan kali untuk melakukannya. “Dengan kata lain, kau bersedia menjadi pelarianku?” tanyaku hati-hati. Menjaga untuk tidak menyinggung perasaannya. Sudah bagus ia mau membantuku malam ini.

“Kenapa tidak?” Seung Ho mengangkat bahu tak peduli.

“Tapi, apa itu tidak akan semakin menyakitimu?”

Senyum tipis tersungging di bibirnya yang penuh. Menandakan kesediaannya melakukan itu. “Sederhana saja. Selama aku bisa mendapatkanmu. Apapun akan kulakukan.”

“Seung Ho-ssi…”

“Lagi pula, bisa saja dia tidak memercayai ‘pertunjukan’ kita malam ini, dan memutuskan untuk menyelidikinya sendiri besok.”

Aku terdiam untuk merenungkan ucapannya, dan mengangguk muram menyadari kata-katanya mungkin benar. Mengingat dulu Wook Gi pernah melakukan hal serupa pada salah satu lelaki pasangan kencan butaku, bisa saja ia meragukan apa yang terjadi di kafe tadi.

“Bagaimana? Kau setuju?” Seung Ho menatapku penuh pertimbangan.

Sejenak aku ragu. Benarkah ini yang kuinginkan? Benarkah aku ingin membalas semua rasa sakitku pada Wook Gi dengan cara seperti ini?

“Aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak ingin.” Seung Ho bersuara lagi, menarikku dari lamunan singkat yang membingungkan. “Tapi kalau kau mau.” Ia berkata lambat-lambat. “Besok pagi, aku akan menjemputmu untuk berkencan.”

[1] Suatu infeksi akibat Mycobacterium tuberculosa yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru dengan gejala yang bervariasi.

3 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 18-

  1. jangan aneh2 deh eun hee,, ajakan seung ho bisa menyakitimu dan wook gi lbh dlm lagi.. oh iya,, amplop coklat yang dikasih wook gi belum dibuka kan sama Eun hee… ??? apa nanti eun hee menyesal stlh membukanya… hmmm…..

    Lanjutttynnnnnn..!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s