[OriFict] Second Door -Chapter 17-

CHAPTER 17

 

 Second Door

 

 

 

“Pagi, Sunshine! Sudah lama menunggu?” Senyum otomatis merekah di bibirku mendapati sosok tampan berkemeja abu-abu berdiri di hadapanku. Jang Hyuk Oppa. Tidak ada kata yang dapat kugunakan lagi untuk menggambarkan ketampanannya. Ia benar-benar lelaki impian para gadis. Tampan, tinggi, berotot bagus dan juga baik. Nyaris sempurna.

Apalagi yang perlu kutakutkan bila sudah bersamanya? Aku merasa menjadi gadis paling beruntung di muka bumi ini. Karena wajahku tidak seberapa cantik, tubuhku juga bisa dibilang pendek, jauh dari bayangan tubuh ideal model-model cantik yang ada di majalah-majalah mode saat ini, lantas atas dasar apa Jang Hyuk Oppa memilihku sebagai kekasihnya? Padahal bisa saja dia mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku. Ya, pasti itu pulalah yang akan dibicarakan gadis-gadis lain setiap kali melihat kami berjalan beriringan di pusat kota. Aku sama sekali tidak peduli dan sudah kebal mendapat sorotan iri gadis-gadis itu.

            “Belum lama. Kau bisa lihat sendiri, belum ada jamur yang tumbuh di tubuhku.”

            Jang Hyuk Oppa tertawa, lalu merangkulkan lengannya di pundakku. Hari ini adalah hari terakhir sebelum dia harus kembali ke Yeonpyeong untuk menjalankan tugas. Dan dia sudah berjanji akan menemaniku sepanjang hari.

            “Ke mana dulu kita hari ini, Gongjunim[1]?”

            Aku tersenyum girang, menikmati peningkatan denyut jantungku saat tangannya yang besar menepuk puncak kepalaku. “Terserah padamu saja, pengawal.”

            “Eh?” Dia melotot. “Masa lelaki setampan dan segagah ini kau sebut pengawal? Aku pangeran!”

            Aku tertawa lagi, lalu melingkarkan lenganku di pinggangnya. Mempersempit jarak di antara kami. Hangat. Aku suka sensasi seperti ini. Aroma tubuhnya yang maskulin merupakan campuran antara lemon, bergamot dan bunga zaitun.

            “Ya, baiklah. Terserah kau, Pangeran. Kalau perlu, bawa aku ke hatimu hingga aku tidak bisa keluar lagi dari sana.”

            Dadanya bergetar ketika ia tertawa. “Kalau itu tidak perlu. Karena kau sudah ada di sana sejak dulu.”

            Pipiku memanas dan aku terpaksa menunduk untuk menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah bersemu seperti kepiting rebus. “Ya sudah. Jangan membuang waktu lagi. Bawa aku ke manapun kau mau.”

            Jang Hyuk Oppa melepaskan pelukanku, lantas berganti meraih tanganku dan menggenggamnya. “Ayo! Jangan coba-coba melepaskan diri. Aku tidak ingin kau tersesat.”

            “Apa? Aku bukan anak kecil lagi!” protesku sambil terus berjalan di sampingnya. Menikmati kehangatan yang menjalar dari genggaman tangan besar itu ke seluruh tubuhku.

            “Tapi bagiku, kau tetap gadis kecilku yang manis.”

            Aku menghentikan langkah dan cemberut. “Kalau aku memang masih kecil? Mengapa kau melamarku?”

            “Astaga! Lihat dirimu!” Ia menunduk sedikit untuk mengecup keningku. Dan baru kusadari perbedaan tinggi kami lumayan jauh. “Bagaimana aku bisa bilang kau sudah dewasa bila kelakuanmu begini. Bersikaplah lebih anggun sebagai wanita. Jangan sedikit-sedikit cemberut seperti anak kecil. Kau dengar itu? Kau bahkan masih saja menonton kelakuan aneh SpongeBob dan Patrick setiap hari.”

            Mau tidak mau aku tersenyum saat kedua tangan Jang Hyuk Oppa menarik pipiku ke samping. “Nah, begini lebih baik.”

            Aku mendengus, lantas melingkarkan lenganku di lengan kokohnya semakin dekat. Bergelayut manja. “Oppa?!”

            “Hmm?”

            “Aku punya satu pertanyaan yang sama untukmu.”

            “Katakan, apa itu?” tanyanya sambil terus melangkah bersama. Persis seperti dugaanku, banyak gadis-gadis muda yang menatap kami iri.

            “Mengapa kau menyukaiku? Sementara di luaran sana masih banyak wanita lebih cantik yang menginginkanmu.”

            Dia diam, dan menatapku. Aku meringis ketika tangannya memencet hidungku. Kebiasaan yang selalu dilakukannya setiap kali aku berbuat bodoh. “Itu kan pertanyaanku tadi pagi, huh? Dan kau tahu aku harus menunggu berapa lama agar kau menjawabnya.”

            “Jawab saja,” paksaku. “Kau boleh bertanya, kenapa aku tidak?”

            “Baiklah.” Dia tampak berpikir sejenak dengan menempelkan satu tangannya di dagu berhias jambang tipis miliknya. Beberapa menit menunggu, Jang Hyuk Oppa akhirnya menatapku. “Justru karena kau berbeda dari gadis-gadis cantik itu. Makanya aku menyukaimu.”

            Aku mengernyit. “Jadi, kau mau bilang aku jelek?”

            Dia tertawa. “Bukan jelek. Kau… unik.”

            “Oh?” Aku melepaskan genggaman tangannya dan berjalan lebih dulu. Kecewa? Ya, tentu saja. Setidaknya aku berharap ia berbohong untuk menyenangkanku. Apa dia tidak tahu betapa besar arti pujian bagi wanita? Oh, seharusnya dia bisa belajar lebih banyak tentang ‘White Lies’.

            “Kau marah?” Dia mengekor di belakangku dan beberapa detik setelahnya kurasakan lengannya melingkar di pundakku.

            “Lumayan,” balasku pendek.

            Lagi-lagi tawanya mengalun. “Aku hanya bercanda,” katanya santai. “Kau cantik Eun Hee-ya. Setidaknya bagiku, kau adalah wanita paling cantik di dunia ini.”

            Senyumku mengembang merasakan kehangatan yang mengalir di jantungku. Ya, Jang Hyuk Oppa-ku yang tampan. Dia memang pandai merayu.

            “Hey, berhenti dulu.”

            Aku terpaksa menghentikan langkah dan menghadapnya. “Karena aku sudah membuatmu tersenyum. Sekarang, beri aku hadiah.” Ia menangkupkan tangannya di pipiku. Tubuhku merinding nyaman saat bibir penuh dan hangat itu membungkam bibirku sendiri dengan lembut.

            Jang Hyuk Oppa… aku mencintaimu…

            “Aku juga mencintaimu, Eun Hee-ya…”

            Suara sengau itu…

            Mataku kontan melebar ketika alih-alih mendapati wajah Jang Hyuk Oppa yang berada di dekatku, tapi Wook Gi. Choi Wook Gi. Dia…

            “Eonnie… aku haus.”

            Tersentak bangun, aku langsung dihadapkan pada sebuah ruangan persegi yang dipenuhi bau obat dan alkohol. Bunyi monitor detak jantung yang berdengung seiring waktu berlalu, menjadi musik latar yang memilukan.

Lagi-lagi aku memimpikannya. Mengingat kembali kebersamaan kami dulu. Tidak bisakah semua itu kembali terulang? Dan akhir mimpiku yang aneh. Oh, mengapa aku harus memimpikan Choi Wook Gi sialan itu?

            “Eonnie…”

            Astaga! Lekas, aku melirik Min Hee yang masih terbaring lemah di hadapanku. “Sebentar, Sayang,” kataku lalu meraih segelas air di atas lemari besi samping tempat tidur. Aku membelai rambutnya yang lepek karena beberapa hari ini tidak dikeramasi. Syukurlah ia sudah bisa berbicara walau masih sangat lemah. Semenjak Jong Hee datang dan berbaikan dengan eomma, kondisi Min Hee menunjukkan perbaikan. Walau masih belum bisa dibilang sepenuhnya baik, setidaknya kini Min Hee sadar dan bisa tersenyum.

            “Eonnie… aku ingin keluar.”

            Aku mendesah panjang lalu menggeleng untuk menunjukkan penolakanku. Bukannya tidak ingin menuruti permintaannya, tapi dalam kondisi seperti ini Min Hee harus istirahat total. Apa kata dokter Jang bila aku nekad membawanya keluar?

            “Eonnie… kumohon!”

            “Jangan, Sayang. Kau harus sembuh dulu. Baru kau bisa keluar—“

            “Apa aku bisa sembuh?”

            Tenggorokanku tercekat. Seperti ada batu besar yang menyesaki di jalan napasku. Pelan, aku mengangguk meski air mata mulai mendesak keluar. Aku mengerjap cepat untuk menghalanginya jatuh.

            “Pembohong!”

            Dadaku seperti ditinju oleh petinju profesional mendengar tuduhan Min Hee. Sakit. Sakit sekali, karena aku sadar tuduhannya benar.

“Siapa yang pembohong?” Sekuat mungkin kujaga nada bicaraku terdengar datar. “Percayalah, kau akan baik-baik saja.” Kupaksakan sebuah senyum, meski sulit. Mungkin Min Hee memang terlalu pandai untuk dibodohi.

            “Lantas mengapa kau menangis?”

            Kugelengkan kepalaku cepat. “Aku tidak menangis, Min Hee-ya. Aku—“

            “Aku hanya ingin melihat langit, Eonnie.” Min Hee terisak dan aku menggenggam tangannya yang bebas dari selang infus. Menempelkan tangan kecil itu ke pipiku. Dingin. Tangan mungil itu dingin sekali.

“Aku bosan di sini terus,” tambah Min Hee, seraya memalingkan wajahnya dariku. Nada suaranya datar dan dingin. Dia pasti marah. Ya, marahlah padaku, Min Hee-ya. Marahlah jika itu dapat memuaskanmu.

            Susah payah kutahan napas, dan menggigit bibir bawahku agar tidak terisak. Air mataku bahkan sudah menggenang, dan aku menengadahkan kepalaku untuk menahannya jatuh. “Bagaimana kalau kubacakan buku cerita?” tawarku serak.

            Kepala Min Hee menggeleng lemah. “Tidak mau! Aku ingin jalan-jalan.”

            “Min Hee-ya…” Air mata terus memburamkam pandanganku, hingga sosok Min Hee hanya berupa bayangan tanpa wajah.

            “Aku takut tidak akan bisa melihat langit lagi, Eonnie.”

            Tidak sanggup lagi, aku beranjak dari tempatku duduk. Rasanya air mataku sudah mendesak untuk segera dikeluarkan. Sakit. Sakit sekali menyaksikan orang yang kusayangi berkata seperti itu sementara aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa.

            Cepat, aku berlari keluar kamar. Tersentak kaget ketika menabrak dada hangat dan kuat di hadapanku.

Noona, ada apa?”

            Jong Hee. Mendapat perhatian darinya, benteng pertahananku runtuh. Air mataku jatuh tanpa bisa dicegah saat Jong Hee mendekapku erat.

            “Noona, kau belum menjawabku. Ada apa dengan Min Hee? Perlukah kupanggilkan dokter?”

            Lekas-lekas aku menggeleng. Tapi air mataku tidak mau berhenti turun. Sesak itu masih memenuhi tenggorokanku. Menghantuiku seperti awan mendung yang bersiap menurunkan hujan.

“Jongie-ya, aku tidak sanggup melihatnya seperti itu.” Lagi. Aku meledak dalam tangis. Kutumpahkan semua kepedihanku di dada Jong Hee. Adik laki-lakiku itu hanya diam, mendekapku erat dan sesekali tangannya menepuk-nepuk punggungku pelan.

            “Menangislah, Noona. Menangislah!”

 

***

 

Satu tetes air mata turun di pipiku. Rasanya masih belum memercayai apa yang ada di hadapanku saat ini. Hampa. Ya, kehampaan menyelimuti hatiku menatap peti mati yang tergeletak diam di sana. Min Hee. Gadis kecil pemilik mata kopi itu telah tiada.

Aku menyesal, sungguh. Aku menyesal. Seharusnya aku menuruti permintaan terakhirnya untuk jalan-jalan di taman. Seharusnya aku membiarkannya melihat indahnya langit, bintang serta bulan di saat-saat terakhirnya. Bukannya malah membiarkan Min Hee terpenjara di ruangan sempit berteman alat-alat kedokteran yang mengerikan itu.

            Aku menekan mulutku dengan punggung tangan. Mencoba menahan isakanku. Namun gagal. Aku kembali menangis, bahkan semakin keras.

“Maafkan aku, Min Hee-ya.” Aku terduduk lemas di depan peti mati dan membiarkan diriku melampiaskan kepedihan yang memenuhi dadaku. “Maafkan aku!”

            Dini hari tadi, kondisi Min Hee memburuk. Paru-parunya nyaris tidak berfungsi. Dokter Jang sudah mengusahakan yang terbaik, tapi tetap tidak berhasil. Pada jam empat pagi, ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Eomma yang pada saat itu sedang menunggu di luar bersama Jong Hee, langsung tidak sadarkan diri dan hingga kini masih dirawat di rumah sakit karena syok berat yang dideritanya.

            Demi Tuhan! Kenapa semua ini terjadi pada kami? Apa salah keluarga kami hingga Dia memberi cobaan sebesar ini?

            “Min Hee-ya, maafkan aku. Seharusnya aku menuruti keinginanmu. Maafkan aku, Sayang.” Aku menumpukan kepalaku di atas lengan yang kuletakkan di peti mati Min Hee dan menangis tersedu di sana.

            “Noona, sudahlah!”

            Kurasakan tubuh hangat mendekapku erat. Menarikku menempel pada tubuh hangat dan kokoh. Jong Hee. Aku mensyukuri kehadirannya karena dialah seseorang yang paling tegar di antara kami. Jong Hee berkali-kali berupaya menenangkanku dan eomma. Meski usahanya nyaris tidak berhasil.

            “Tenanglah, Noona. Mungkin ini yang terbaik untuk Min Hee.” Ia bergumam lagi, dengan suaranya yang tenang dan dalam.

            “Jongie-ya…” Aku mempererat pelukanku di tubuhnya. Menumpahkan semua kepedihanku. Mungkin Jong Hee benar ini yang terbaik untuk Min Hee. Namun siapa yang sanggup ditinggalkan dengan cara seperti ini? Siapa? Gadis itu terlalu kecil untuk meninggalkan dunia ini? Aku bahkan belum sempat membahagiakannya.

            “Noona, Min Hee sudah tidak sakit lagi sekarang. Aku yakin, dia akan baik-baik saja. Mungkin Min Hee ingin segera bertemu Appa, hingga ia pergi secepat ini.”

            Aku melepaskan pelukan Jong Hee dan menatap adik lelakiku satu-satunya itu muram. Ada kepedihan membayang di mata hitamnya, tapi tidak ada satu tetes pun air mata yang mengalir di wajah pucatnya. Seandainya aku bisa setegar Jong Hee.

            “Tuhan sudah menggariskannya, Noona.” Jong Hee bicara lagi, sama sekali tanpa nada putus asa. Mungkin masalah yang menimpanya beberapa saat lalu, berhasil mendewasakannya. “Min Hee tidak benar-benar pergi. Ia hanya menuju tempat pemberhentian selanjutnya dan cepat atau lambat, kita juga pasti akan menyusulnya.”

            Kugigit bibir bawahku menahan pedih. Lagi-lagi dia benar. Jong Hee-ku sudah dewasa. Bahkan jauh lebih dewasa dariku. Muncul setitik rasa bangga di hatiku. Sekarang, dialah satu-satunya adikku. Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.

            “Jangan menangis lagi, kau akan membuat Min Hee sedih.” Tangannya menghapus air mata di pipiku.

            Kupaksa diriku mengangguk. “Jongie-ya, aku menyayangimu!”

            Dia tersenyum, dan memelukku erat. Ya, cepat atau lambat kami pasti akan menyusul Appa dan Min Hee ke sana…

 

***

 

Kurasakan tepukan pelan Mae Ri di pundakku dan gumaman pelannya untuk menenangkanku, sebelum ia pergi bersama pelayat lain yang mulai meninggalkan makam. Proses pemakaman baru saja usai dan kusadari kini Min Hee sudah benar-benar pergi.

Eomma terpaksa tidak menghadirinya karena masih belum sanggup berdiri. Ia terus menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada Min Hee. Dan aku benar-benar tidak sanggup melihat eomma seperti itu.

Aku berjongkok di sisi makam Min Hee lalu meraih segenggam tanah bersalju dan mengepalkannya erat di tanganku. “Min Hee-ya, baik-baik di sana, Sayang. Sampaikan salamku untuk Appa.” Berjuang untuk tetap tegar, aku mencoba tersenyum. Meski terasa amat getir.

            Setetes air mata turun di pipiku. Membayangkan kini tidak akan ada lagi mata kopi yang menatapku, tidak mungkin lagi kudengar tawanya yang polos dan tidak ada seorang gadis kecil pun yang akan memohon atau bahkan merengek memintaku membelikannya Choco Pie.

Min Hee sudah pergi. Min Hee telah meninggalkanku. Dan tidak akan pernah kembali.

            Kurasakan tangan hangat kembali menyentuh bahuku. Neo Ra. Terima kasih padanya karena ia dengan setia menemani kami sepanjang proses yang melelahkan ini. Dia juga membantu Jong Hee menyiapkan segalanya, karena aku dan eomma sudah tidak sanggup untuk berpikir lagi. Duniaku serasa terbalik akibat goncangan kuat yang terjadi dan menimpa keluarga kecilku beberapa saat lalu.

            “Eonnie, ayo kita pulang. Udara semakin dingin. Aku takut kau jatuh sakit.”

            “Pulanglah lebih dulu,” tolakku halus.

            “Noona, ayolah!” Kali ini suara Jong Hee yang kudengar.

            Aku menatap nanar gundukan tanah itu, lalu beralih menghadap Jong Hee dan Neo Ra yang menungguku dengan sabar di belakang. “Min Hee takut sendirian,” gumamku kalut. “Bagaimana aku bisa meninggalkannya kedinginan di dalam sana?”

            “Noona!

 

***

 

Dia berdiri di sana. Di samping pohon Kamboja yang menjulang di sisinya. Matanya menelusuri tubuhku, dari kaki naik ke kepala. Aku menahan napas ketika tatapan kami bertemu. Seharusnya aku tidak terkejut melihatnya hadir di tempat ini, mengingat usahanya untuk menemuiku selama beberapa hari terakhir.

            Tidak seperti biasanya, ia terlihat luar biasa berantakan. Kemeja hitam yang dikenakannya tampak lusuh, dan rambut cokelat gelapnya acak-acakan. Ada bayangan hitam yang kentara jelas di bawah matanya.

            “Aku turut berduka.” Adalah kalimat pertama yang diucapkannya.

            Tidak tahu harus bereaksi apa, aku mengabaikannya. Kucengkeram lebih erat lengan Jong Hee agar membawaku menjauh dari sini secepatnya. Hatiku terlampau sakit, aku tidak mau menemuinya lagi dengan risiko sakit hati yang lebih parah.

            “Eun Hee-ya, tidak bisakah aku bicara denganmu sebentar?”

            Aku memutar bola mata dan langsung menghentak lenganku ketika dengan berani tangannya meraih pergelangan tanganku. “Aku sudah bilang, jangan menemuiku lagi.” Kudengar diriku sendiri berbisik, walau nada suaraku tidak setegas seperti yang kuharapkan.

            “Aku tahu. Maafkan aku. Aku hanya ingin mengucapkan bela sungkawa untuk Min Hee—“

            “Terima kasih. Kau sudah melakukannya, jadi kita tidak ada urusan lagi.”

            Meski terlihat bingung ketika aku menarik lengannya, Jong Hee tetap menurutiku untuk berjalan menjauh. Ia bahkan bersuara untuk membelaku. “Noona sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk berbicara. Tanpa mengurangi rasa hormatku, tolong tinggalkan kami.”

            Oh, terima kasih, Jong Hee… terima kasih banyak!

[1] Tuan Putri (Bahasa Korea)

3 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 17-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s