[OriFict] Second Door -Chapter 16-

CHAPTER 16

 

 

Second Door

Seikat Krisan dan sebotol Soju kupengang erat-erat. Sekali-kali kuhirup aroma manis Krisan putih itu sambil terus melangkah menyusuri jalan sunyi berhias ilalang tinggi di kiri kanannya. Ya, entahlah. Mendadak aku merindukan Jang Hyuk Oppa, dan hari ini kuputuskan untuk mengunjungi makamnya. Mungkin aku bisa mencurahkan semua isi hatiku padanya, tentang Jong Hee yang hingga kini belum muncul, tentang kondisi Min Hee, dan… Choi Wook Gi. Tidak mungkin aku mengabaikan nama terakhir itu mengingat perhatiannya selama beberapa hari terakhir ini. Wook Gi benar-benar menepati janjinya menjagaku.

Hampir setiap hari ia datang ke rumah sakit dan memberiku banyak sekali dukungan. Ia bahkan rela menggantikanku menjaga Min Hee selama aku beristirahat makan dan mandi sebentar. Tentu saja aku terharu, senang dan juga sedih di saat bersamaan. Terharu karena perhatiannya, senang mendapat kasih sayang darinya dan juga sedih mengapa semua itu terjadi di saat kondisi Min Hee seperti ini?

Tadi pagi eomma menggantikanku menjaga Min Hee setelah semalam aku tidak tidur menungguinya. Kondisi Min Hee belum berubah, dia masih lemas dan membutuhkan oksigen untuk membantunya bernapas. Aku hanya bisa berharap yang terbaik, meski aku sadar itu sangat sulit kecuali ada keajaiban Tuhan.

“… mencintainya, Hyeong.”

Terkesiap bingung, aku menghentikan langkah. Rasanya jantungku memberontak di dalam sini mendapati sosok bersweater abu-abu yang memakai beanie hitam tengah berjongkok di sisi makam Jang Hyuk Oppa. Aku kenal betul sosok berpunggung lebar itu dan suara sengau khasnya.

Dia… Choi Wook Gi.

Apa yang dilakukannya di sini? Mengunjungi makam Jang Hyuk Oppa untuk mengatakan bahwa ia menyukaiku? Oh, betapa manisnya. Seulas senyum otomatis tersungging di bibirku.

Tenang saja, cintamu berbalas… Choi Wook Gi-ssi.

“Sebenarnya aku tidak bermaksud begitu, Hyeong.”

Lagi. Kuurungkan niatku melangkah mendekatinya. Mungkin lebih baik aku menunggunya sampai ia selesai berbicara dengan Jang Hyuk Oppa.

Lama, ia diam. Hingga nyaris saja aku bersuara ketika kudengar ia berkata dengan amat pelan dan serak. “Kuharap kau tidak marah padaku. Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan rasa ini. Tapi nyatanya, aku gagal.”

Seyumku memudar. Wook Gi… dia… kenapa dia harus…

“Aku begitu mencintainya, Hyeong. Sejak pertama melihatnya menangisi kematianmu di sini tiga tahun lalu. Ia telah menarik perhatianku.”

Jantungku seperti tercecer di tanah. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mematung, mendekap erat botol soju dan bunga Krisan di dadaku.

Wook Gi… kenapa dia bicara begitu? Apa maksudnya? Tiga tahun lalu? Jadi, dia hadir di pemakaman Jang Hyuk Oppa? Bagaimana mungkin. Apa hubungannya dengan Jang Hyuk Oppa? Begitu banyak pertanyaan menyesaki kepalaku.

“Maafkan aku, Hyeong. Kenapa kau menghukumku seberat ini?” Ia terisak. “Seharusnya aku tidak menuruti keinginanmu untuk menjaga dia. Seharusnya aku tidak pernah berjanji untuk melakukannya.” Wook Gi terlihat sedang menghapus air matanya kasar, dan setengah menit kemudian, ia melanjutkan. “Aku tahu, aku salah. Aku mengerti, karena kesalahanku pulalah kau terpaksa meregang nyawa—“

Spontan aku melepas peganganku pada botol Soju dan bunga Krisan yang tadi kubawa, untuk menutup mulut. Dadaku seperti dihantam batu super besar yang dilemparkan Wook Gi dalam jarak beberapa meter. Nyeri itu menjalar ke sekujur tubuhku.

Mendengar gedebuk keras yang ditimbulkan benturan botol Soju dengan tanah berbatu di bawah, Wook Gi berdiri. Dan perlahan, kulihat lelaki itu memutar tubuhnya. Sama sepertiku, ia terperanjat. Matanya yang sembab menatapku. Ada campuran rasa kaget, sedih dan bingung yang membayang di sana.

“Eun Hee-ya…”

Aku menggeleng kalut. Rasanya seluruh duniaku runtuh dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Tenggorokanku sesak, aku bahkan sulit untuk menelan ludahku sendiri. Sosok itu memburam seiring dengan mendesaknya air mataku.

Bagaimana bisa kebahagiaan itu berubah hanya dalam waktu beberapa detik saja? Kegembiraan yang disebabkan pernyataan cintanya, kini berganti rasa sakit yang menusuk tepat di jantungku.

“Katakan itu tidak benar…” desisan pelan otomatis keluar dari bibirku. Mencoba untuk tidak memercayai apa yang baru saja kudengar.

Kulihat Wook Gi mendekat, dan refleks aku mundur untuk menjauhinya. “Eun Hee-ya—“

“Katakan itu tidak benar, Cho Wook Gi-ssi!!!”

Ia mematung. Terkejut karena pekikan kerasku. Ada jarak tak terlihat di antara kami yang membuat seluruh tubuhku menggigil. Ia diam saja, tidak membantahnya. Choi Wook Gi tidak mengelak dari pertanyaan itu.

Jadi benar, karena dia Jang Hyuk Oppa meninggal? Aku memeluk diriku sendiri, menghalau dingin yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan cuaca hari ini.

“Eun Hee-ya, biar kujelaskan—“

“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.” Aku mengatupkan bibir rapat-rapat selagi menekan emosiku sendiri ke tingkat terendah. Aku tidak mau dia tahu ada luka menganga di hatiku. Seseorang yang berhasil membuka pintu hatiku setelah sekian lama tertutup, adalah orang yang telah menghancurkan kehidupan cintaku sebelumnya. Dia yang kupikir mampu mengobati lukaku, kini malah memberiku luka baru lagi. Katakan padaku untuk tidak menusuk lelaki ini dengan pisau, karena di kepalaku sudah terpikir untuk melakukannya.

“Hee—“

“Jangan pernah muncul di hadapanku lagi.” Cepat, aku berbalik dan berjalan meninggalkannya.

Separuh hatiku berharap ia akan menghentikanku. Menarik pergelangan tanganku, lantas memelukku erat dan mengatakan bahwa semua ini hanya candaannya seperti biasa. Ia tidak tahu apa-apa tentang Jang Hyuk Oppa, ia datang ke mari untuk memberiku kejutan. Tapi semua itu hanya ada dalam pikiranku. Nyatanya, kini aku benar-benar sendiri. Tidak ada kehangatan beraroma coklat dan mint yang kurindukan itu. Yang ada hanya kesakitan yang membuat jantungku hancur berkeping-keping.

Harusnya aku menyadarinya sejak awal, mengingat kemunculannya yang aneh. Ia tiba-tiba saja datang dan menarikku menjauh dari jembatan, begitu pula malam itu, saat ia menahan lenganku ketika nyaris saja sebuah mobil menabrak tubuhku. Kemudian keesokan harinya, ia muncul di makam. Namun dengan bodohnya aku menganggap semua itu hanya kebetulan. Dan juga luka bakar di lengannya… Oh, Ya Tuhan! Betapa tololnya diriku! Begitu banyak petunjuk yang seharusnya dapat kubaca sejak awal pertemuan kami.

Kuhentikan langkah ketika kurasakan lututku melemas dan mencengkeram batang pohon Kamboja yang menjulang di samping kiriku. Satu tanganku yang lain menekan dada kiriku tak ubahnya penderita jantung koroner. Tepat di mana rasa sakit itu berasal. Tangisku pecah. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan agar isakanku tidak terdengar. Sulit. Semua ini terlalu menyakitkan! Terlalu berat untuk kujalani.

“Choi Wook Gi… kau tahu? Aku sangat membencimu!”

 

***

 

Kuhapus air mataku sembari menatap salju pertama yang turun dari koridor rumah sakit. Rasa sesak itu masih menyelimuti perasaanku. Kata-kata Choi Wook Gi di makam Jang Hyuk Oppa, juga terus terngiang di telingaku seperti nyanyian malaikat maut yang menyakitkan. Semua terlalu membingungkan dan aku tidak tahu harus bagaimana.

Aku tersenyum miris mengingat pesan Jong Hee di kafe saat itu. Pantas saja Jang Hyuk Oppa datang ke mimpinya dengan wajah sendu dan tak bersemangat. Ia pasti sedih karena aku sedang dekat dengan seseorang yang telah menyebabkan kematiannya. Memang belum jelas apa yang Wook Gi lakukan hingga itu terjadi. Tapi dari semua kata penyesalan yang diucapkannya di makam, aku tidak membutuhkan waktu lama untuk sadar bahwa dia memang bersalah.

Oh, siapapun. Beritahu aku apa yang harus kulakukan untuk mengeyahkan bayangannya dari pikiranku? Aku bodoh karena memutuskan menyukainya. Tidak, tidak, tidak. Cinta bukan pilihan, dan semua rasa itu datang dengan sendirinya. Tapi di antara semua lelaki… kenapa harus dia? Kenapa harus seseorang yang mendorongku ke jurang rasa sakit ini?

“Eun Hee-ya.”

Cepat, kuputar tubuhku dan mendapati eomma tengah menatapku dengan pandangan sendu. “Eomma!” kulangkahkan kakiku mendekatinya dan menuntunnya duduk di salah satu kursi tunggu pasien.

Tidak ada lagi aura angkuh di wajah eomma, semua sirna semenjak Min Hee sakit dan hingga kini kondisinya belum juga membaik. Sedangkan Jong Hee, belum muncul untuk sekedar menanyakan kabar Min Hee.

Di mana sebenarnya dia berada?

“Eun Hee-ya, katakan pada Jong Hee. Datanglah kalau dia ingin menemui Min Hee. Mungkin dia kesal padaku hingga tidak mau menjenguk adiknya.” Suara eomma terdengar pahit. “Beberapa kali kudengar, Min Hee menyebut namanya,” tambahnya pedih. “Ia pasti sangat merindukan Jong Hee.”

Jantungku seperti diremas kuat menyadari betapa rapuh perasaan eomma yang sebenarnya. Selama sepuluh tahun terakhir, dia memang berhasil menutupi semuanya dengan berpura-pura tegar di permukaan. Namun jauh di lubuk hatinya, eomma tetaplah sosok wanita rapuh yang membutuhkan sandaran di saat semua gelombang itu datang menyerang. Dan sekarang, semua benteng pertahanannya runtuh, menyisakan tumpukan rasa sesak yang selama ini ia pendam begitu dalam.

“Aku akan bicara dengan Jong Hee,” balasku kering. Mengutuki air mata yang kini lolos dan terjun bebas di pipiku. Aku tidak ingin menangis di hadapan eomma, dan membuatnya semakin resah. Tapi kelenjar air mataku menolak berkompromi.

“Maafkan aku, Eun Hee-ya. Jika aku tidak egois dan membiarkan Jong Hee memilih apa yang diinginkannya. Kekacauan ini tidak akan terjadi. Dan Min Hee…” Aku menggeleng kalut, mencoba membantah asumsi bodoh eomma. “Dia tidak akan sampai pada kondisi seperti ini.”

“Tidak, Eomma. Jangan berkata begitu.” Kuraih tubuh eomma mendekat dan mendekapnya erat. “Semua sudah menjadi jalan yang digariskan Tuhan.”

“Aku bersalah…. Semua ini salahku, Eun Hee-ya.”

Eomma… Demi Tuhan! Aku tidak sanggup melihatnya begini. Bahu eomma bergetar hebat, dan bisa kurasakan punggung kananku basah oleh air matanya. Eomma menangis.

“Kau boleh menghukumku.” Eomma menjauh dan meraih tanganku, lalu memukulkan pelan di pipinya.

Eomma, jangan!” Cepat, aku menarik tanganku kembali.

“Hukum aku. Kalau bisa, biarkan aku menggantikan posisi Min Hee. Ini semua salahku.”

Eomma…” Aku tidak mampu berbuat apa-apa selain menggeleng dan terus menggeleng. Rasa sesak itu semakin memuncak seolah-olah di sekelilingku tidak ada lagi oksigen yang bisa kuhirup. Semuanya berubah menjadi karbon dioksida yang menyesakkan.

“Katakan padaku, Eun Hee-ya. Apa yang harus kulakukan untuk mengembalikan Min Hee seperti semula?”

Jika saja aku tahu, aku akan melakukannya eomma. Demi Tuhan! Biarkan kami lepas dari kesakitan ini.

Tanganku terangkat dan kuhapus pelan air mata yang mengalir di pipi eomma. “Sebaiknya eomma istirahat. Sepertinya kau terlalu lelah setelah seharian ini menjaga Min Hee.”

Kulihat eomma menggeleng. Ia lantas berdiri dan berjalan mendekati kaca besar ruang ICU yang memperlihatkan Min Hee tengah tidur bertemankan banyak sekali alat kedokteran di sekelilingnya. Kepedihan itu kembali menyergapku. Mengoyak seluruh pertahanan diriku yang masih tersisa. Gadis sekecil itu, seharusnya tidak terpenjara di dalam sana.

“Apa dia benar-benar tidak bisa pulih kembali?”

Aku membisu. Tidak sanggup menjawab pertanyaan eomma.

“Kenapa diam saja?” tuntutnya pedih.

Susah payah aku menelan ludah ketika eomma menatapku meminta jawaban. Senyum pahit tersungging di bibirku. “Kita berharap saja yang terbaik, Eomma,” balasku lugas. Tidak berani menjanjikan apa-apa. “Ayo, Eomma istirahatlah. Pulang, makan dan mandi. Biar aku yang menjaga Min Hee.”

Sekarang justru eomma yang tidak merespon. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Min Hee. Dan kudengar helaan napas panjangnya yang kemudian menimbulkan embun pada kaca besar di hadapan eomma. “Suamiku, aku minta maaf karena tidak bisa menjaga mereka dengan baik. Seharusnya aku ikut denganmu saja saat itu.”

Lagi. Satu tusukan mencabik lukaku yang masih berdarah. Aku mengerjap pelan, menahan air mataku agar tidak jatuh. Cepat, kuraih bahu eomma dan merangkulnya. “Duduklah dulu. Akan kupanggilkan Mae Ri untuk membantu mengantarmu pulang.”

“Tidak usah, Noona. Biar aku yang mengantar Eomma pulang.”

Aku menegang. Kontan, aku terbelalak mendapati pemuda yang kini berdiri di hadapan kami dengan ransel besar di punggungnya. “J-jong Hee?” desisku bingung. Beberapa meter di belakangnya, kutangkap sosok Cho Neo Ra. Gadis itu tersenyum hangat padaku.

Mungkinkah… Neo Ra berhasil membujuknya? Dia… datang. Jong Hee kembali. Demi Tuhan, katakan aku tidak  sedang bermimpi.

“K-kau?”

Jong Hee tersenyum muram. “Maafkan aku.” Suaranya terdengar serak ketika menambahkan. Cepat, kuputar kepalaku menatap eomma yang tidak bereaksi di kursinya. Terlihat sekali ia sedang mencerna situasi yang terjadi saat ini. Aku menangkap, kabut tipis air mata di mata tuanya yang merah.

Bibir eomma bergetar halus ketika akhirnya bersuara. “Jongie-ya, kau pulang, Nak. Maafkan, Eomma… maafkan Eomma…”

Detik berikutnya, kulihat Jong Hee menghambur ke pelukan eomma. Tanpa sadar, senyumku mengembang sementara air mata haru berlinangan di kedua pipiku.

Tuhan! Terima kasih. Setidaknya, Kau memberi keluarga kami lentera di tengah kegelapan yang menyesakkan ini.

4 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 16-

  1. terharu akhirnya jong hee dan eomma berbaikan..

    sbnrnya ada hubungan apa antara wook gi dan jang hyuk ?? knp wook gi merasa bersalah atas kematian jang hyuk ??

    Next..!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s