[OriFict] Second Door -Chapter 15-

CHAPTER 15

 

Second Door 

 

 

Musim gugur hampir berakhir, semua itu ditunjukkan dengan semakin turunnya suhu udara minggu ini. Hanya tinggal menunggu waktu hingga salju pertama turun dan mewarnai seluruh sudut kota Suwon dengan warna putih. Namun, dinginnya udara hari ini tidak sedingin rasa yang melingkupi hatiku. Tidak ingat sudah berapa lama aku menangis, hingga kini rasanya mataku berat dan panas. Kendati begitu, air mata itu tidak mau berhenti turun. Aku sesak. Seolah sebuah batu super besar membebani dadaku. Dinginnya udara siang ini bahkan tidak menyurutkan nyaliku duduk di sebuah bangku panjang di atap rumah sakit.

“Kau tahu Song Hye Gyo, Kim Tae Hee atau Yoon Eun Hye?”

Lekas, kuhapus air mata yang baru saja menyelinap turun di pipiku. Mengernyit bingung mengapa tiba-tiba Wook Gi menanyakan itu, bahkan setelah aku menceritakan semua masalah yang menimpaku. Mulai dari kasus yang menimpa appa, meninggalnya Jang Hyuk Oppa hanya sebulan sebelum rencana pernikahan kami, perginya Jong Hee dari rumah, sakitnya Min Hee, hingga kesalahan besar yang kubuat di UGD beberapa jam lalu. Semua kuceritakan tanpa terkecuali atau pun dikurang-kurangi. Dengan harapan ia dapat membantuku. Tapi kini dengan wajah tanpa dosanya, dia malah menanyakan aktris-aktris cantik itu, alih-alih memberiku kata-kata penyemangat seperti yang dulu selalu diberikan Jang Hyuk Oppa saat aku sedang terpuruk?

Menyebalkan! Lelaki macam apa dia? Tentu saja aku mengenal aktris-aktris itu. Tapi terlalu malas untuk menjawab pertanyaan tidak pentingnya ini. Seharusnya aku tidak perlu mencurahkan semua perasaanku padanya bila pada akhirnya dia tidak memberiku solusi apa-apa.

“Hey, aku tanya padamu.”

Aku mendengus. “Ya, dan sebenarnya kenapa kau menanyakannya? Aku tidak berniat untuk bercanda,” hardikku jengkel. Mengerucutkan bibir tanda marah.

Senyum Wook Gi merekah. Aku begidik merasakan tangannya yang besar dan hangat kini menghapus sisa air mata di pipiku. “Kalau menangis, mereka akan tetap terlihat cantik.”

“Lalu?” Sekian lama menunggu ia tidak juga melanjutkan, aku terpaksa bertanya.

Kini ia mendekatkan wajahnya padaku yang membuatku refleks menjauh. Takut tidak bisa mengontrol detak jantungku sendiri bila berada sedekat itu dengannya. “Sayangnya, kau tidak seperti mereka.”

Kontan aku mengernyit. “Apa maksudmu?” desisku bingung.

Jelas saja aku tidak seperti mereka. Song Hye Gyo, Kim Tae Hee dan Yoon Eun Hye adalah aktris-aktris papan atas negeri ini yang tentu saja dipuja banyak orang, sedangkan aku hanya gadis biasa yang berasal dari pinggiran kota Suwon. Kenapa dia malah membandingkan mereka denganku?

“Kau benar-benar tidak enak dipandang dengan mata sembab, hidung dan bibir bengkak begitu. Sungguh!” Dia mengucapkannya dengan sangat tenang, serius dan tanpa senyum sedikit pun. “Kau terlihat seperti monster!”

Hey! “Kau mengataiku jelek?” Refleks, aku melotot dan meninju pelan dadanya yang baru kusadari ternyata begitu bidang dan kokoh. Dengan menyebalkannya, dia malah tertawa. Keras. Anehnya, tawanya justru berhasil menghangatkan hatiku.

“Lihat, ingusmu bahkan keluar ke mana-mana.”

“Hey!” Kutinju lengannya agak keras lalu menyusut hidungku. “Beginikah caramu menenangkan teman yang sedang sedih?” Aku bersungut-sungut, sembari melipat tangan di depan dada. Sengaja berpaling untuk menyembunyikan kegugupanku. Menyebalkan!

Bagaimana bisa orang seperti dirinya membuat jantungku terus menggila? Padahal bila dibandingkan dengan Jang Hyuk Oppa, dia jelas berbeda. Oppa begitu dewasa, tampan, baik, banyak sekali petuah bijak yang kudapat darinya, sangat romantis dan tubuhnya tinggi tegap khas seorang perwira. Tapi dia? Ya, Wook Gi memang tampan. Hanya saja, sikapnya lumayan menyebalkan. Tubuhnya juga tidak tinggi, walau otot dada dan lengannya tidak jauh berbeda dengan Jang Hyuk Oppa.

“Aku bisa habis kalau kau pandangi terus.”

Astaga! Eun Hee bodoh!

“Kau tahu?” tanyaku lambat-lambat. “Song Seung Hun, Kim Nam Gil, dan Lee Seung Gi. Meski mereka bertingkah menyebalkan, aku rela terus-terusan digoda. Tapi karena ini kau—“

“Jadi, aku menyebalkan?” potongnya dan kulihat seringai tipis tersungging di wajah tampan Wook Gi.

“Ya,” balasku pendek.

Wook Gi kini melipat tangan di depan dada, dan bersandar di kursi yang kami duduki. Tatapannya lurus ke depan, seperti orang yang sedang berpikir dengan satu tangan ditempelkan di dagu. “Seharusnya kalau aku menyebalkan, kau tidak akan mau berteman denganku. Tapi sekarang kau malah menelponku dan memintaku datang ke mari. Bahkan kau menceritakan semua—”

“Cukup!” selaku cepat, lalu beranjak dari tempatku duduk. Panas merayap di kedua pipiku. Aku yakin kini kedua pipiku memerah. “Tidak ada gunanya aku bercerita padamu. Kau sama sekali tidak bisa membantu.”

“Hey, tunggu!”

Terpaksa aku berbalik ketika kurasakan tangan Wook Gi menahan pergelangan tanganku. Jantungku seketika menghentak cepat saat tangan besar itu kini beralih menangkup wajahku. Aku yang semula menunduk, kini mendongak menatapnya. Ada kilau kepedulian di tatapan matanya yang teduh. Kepedulian yang sebelumnya sama sekali tidak kusadari. Kontan saja detak jantungku kembali menggila. Semoga saja dia tidak bisa mendengarnya dalam jarak sedekat ini.

O-oppa, apa yang kau lakukan?” Aku bisa mendengar diriku sendiri tergagap.

Senyum hangat tersungging di bibir tipisnya. Tampan. “Aku hanya ingin membuatmu berhenti menangis. Maaf kalau caraku justru membuatmu kesal.”

Aku menahan napas. Rasanya seluruh udara di sekelilingku menipis. Demi Tuhan! Sensasi apa ini? Sepertinya aku membutuhkan Beta-Blocker[1] untuk mencegah jantungku tidak korslet karena bekerja terlalu keras.

Kedua tangan Wook Gi kini memang sudah pindah ke pundakku, tapi hentakan liar di dada kiriku belum juga mereda. “Kau tidak marah, kan?”

Susah payah aku menelan ludah. Membasahi tenggorokanku yang mendadak kering. “Kau menyebalkan!” Sial! Tidak seperti yang kuharapkan, suaraku malah terdengar seperti gerungan kucing. Lirih dan tidak jelas.

“Memang,” katanya, lalu terkekeh pelan setelah mendapat pelototanku. “Duduklah, aku belum selesai bicara denganmu.”

Dingin dan hampa menyergapku ketika sosoknya menjauh dan kini duduk di kursi panjang bercat putih yang tadi kami tempati. Wook Gi menepuk-nepuk tempat kosong di sisinya. Memintaku duduk.

Aku menurut dan menempatkan diriku di sana. Terkejut karena aku tidak meleleh setelah merasakan sentuhannya. Setelah menghitung pelan-pelan sampai sepuluh, dia baru mulai bicara.

“Aku tahu ini berat. Dan aku tidak akan berpura-pura sok suci dengan mencoba mengguruimu. Karena jujur, kalau aku berada di posisimu, belum tentu aku juga bisa bertahan.” Kutolehkan kepalaku cepat ketika kurasakan tangannya menggenggam kedua tanganku. Menangkupkannya, hingga kurasakan hangat menjalar ke sekujur tubuhku. “Tapi jangan khawatir, aku akan selalu ada di sini untuk menguatkan dan mendukungmu. Aku juga yakin, kau gadis yang kuat Eun Hee-ya. Kau pasti bisa melewati cobaan ini dengan baik.”

Ia menatapku dalam. Dan aku membalasnya. Selama beberapa detik setelahnya, kami masih saling menatap. Satu yang kusadari, mata teduh itu memberiku banyak kekuatan.

Setetes air mata turun di pipiku, diikuti tetesan lainnya yang memburamkan sosok Wook Gi di hadapanku. Bukan, bukan karena sedih. Tapi rasa haru dan terlindungi memenuhi perasaanku. Entah sudah berapa lama perasaan seperti ini tidak pernah kurasakan lagi semenjak Jang Hyuk Oppa meninggal.

“Wook Gi Oppa—“

Hangat. Satu kata yang bisa mengungkapkan bagaimana perasaanku saat ini. Dia memelukku. Erat. Tubuhku seperti dilingkupi kehangatan beraroma cokelat dan mint. Manis dan segar. Dadanya yang lebar terasa begitu kuat dan kokoh seperti pagar besi. Sedangkan detak jantungnya yang terdengar jelas di telingaku, memberiku sensasi aneh menggelikan di perutku. Ya, baru kusadari kalau dia pulalah yang hari itu tidak sengaja menumpukan kepalanya di pundakku dalam bus. Oh, jika mengingatnya, mengingat ekspresi polosnya saat bangun tidur dan matanya yang merah, rasanya aku ingin tertawa. Mungkinkah… Wook Gi masih mengingatnya?

“Jangan menangis lagi. Kau dengar?”

Wook Gi melepaskan pelukannya dan menatapku. Walau kecewa karena aku masih ingin merasakan dekapan hangatnya lagi, kupaksakan sebuah senyum. “Ya, aku tahu. Karena aku tidak secantik Yoon Eun Hye, Kim Tae Hee dan Song Hye Gyo saat menangis. Puas kau?”

Tawa Wook Gi kontan meledak dan sensasi aneh itu datang lagi saat tangannya menepuk-nepuk kepalaku pelan. “Bagus. Kau pandai menghafal. Pasti nilaimu baik.”

Responku di luar dugaan. Alih-alih mendengus, aku malah tertawa karena tidak tahan lagi dengan gurauannya. Sungguh, jika kau menginginkan sebuah tawa, datanglah padanya. Dia pasti akan membuatmu tertawa atau setidaknya tersenyum dengan gurauan aneh tapi lucunya itu.

Terima kasih banyak, Wook Gi Oppa… Kuharap kau benar-benar ada di saat aku membutuhkanmu.

“Ya, aku memang pandai. Bahkan aku ingat dengan jelas dulu kau pernah menghadiahi pundakku dengan air liurmu,” sengaja aku menyindir. Mencoba mengingatkannya pada pertemuan kami pagi itu.

Lama, Wook Gi hanya diam. Bola matanya berputar cepat, dan beberapa menit setelahnya, ia tertawa keras. “Anggap saja itu hadiah dariku.”

“Apa tidak ada hadiah yang lebih bagus lagi?” Aku memberengut. Walau dalam hati mengagumi ingatannya yang lumayan baik. “Lagi pula, masa lelaki tampan sepertimu kalau tidur berliur juga. Menjijikkan!”

Aku terpaksa mundur ketika ia mendekatkan kepalanya padaku. “Apa kau bilang?”

“Kau menjijikkan!”

“Yang sebelum itu?”

Sial! Aku salah bicara. Lagi, pipiku memanas. Mungkin warna kulitku sudah memerah sekarang.

“Katakan lagi, aku apa?” Seringai lebar menghiasi wajah Wook Gi. “Ayolah, katakan sekali lagi.”

“Sudahlah! Itu tidak penting,” sergahku, lalu berpaling dan menatap pot bunga di sudut pagar pembatas atap. Berpura-pura sibuk memerhatikan daun-daun hijau dan lebar tanaman Anthurium itu.

Lama, hanya hening dan desir angin musim gugur yang mengisi suasana. Hingga kudengar suara Wook Gi mengalun di dekat telingaku. “Hey, kau sudah makan?”

“Belum,” balasku pendek.

“Kalau begitu, ikut aku. Kau harus kuat, dan salah satu cara membuatmu tegar menjalani semua ini adalah kau harus makan.” Wook Gi berkata dengan ketegasan seorang ayah yang baru saja menasihati putri nakalnya.

Aku mendengus, tapi tentu saja tidak bisa membantah ajakannya. Ya, sudah lama aku tidak diperhatikan seorang pria. Dan kini, perhatian itu kudapatkan darinya. Kulihat Wook Gi berdiri dari kursi dan menepuk-nepuk bagian belakang celananya untuk membersihkan debu yang mungkin menempel di sana.

“Ayo, sebelum kau masuk angin karena udara di sini semakin dingin.”

Mengikutinya, aku beranjak lalu mengekor di belakang. Diam-diam tersenyum memerhatikan punggungnya yang lebar. Tadi, tubuh itulah yang memelukku. Memberiku banyak kekuatan yang amat kubutuhkan saat ini. Meski awalnya aku sempat salah sangka dengan sikap menyebalkannya, tapi kini aku mengerti.

Begitulah Wook Gi. Dia tidak seperti Jang Hyuk Oppa yang dewasa dan bijaksana, yang akan selalu memberiku petuah dengan kata-kata bijaknya. Wook Gi  berbeda. Ia memberiku kehangatan lain yang unik. Perhatian yang tidak luput dari bercandaan khas dirinya. Itulah yang membuatku merasa aman bersamanya.

“Terima kasih banyak, Oppa.”

Dia tiba-tiba saja menghentikan langkah, membuatku terpaksa menabrak punggungnya yang keras. Ia lantas berputar menghadapku, hingga kini posisi kami berhadapan.

Asap tipis berhembus dari mulutnya ketika ia berkata. “Apa katamu? Terima kasih?”

Cepat, aku mengangguk. Tidak salah kan jika kuucapkan terima kasih setelah mendapat perhatiannya? Toh, dia sudah menghiburku. Membuatku untuk sejenak melupakan semua masalah yang menunggu untuk diselesaikan. Ia bahkan menjanjikan akan menemaniku menghadapi semua ini.

Wook Gi memberiku tatapan bingungnya. Dari kedua matanya, aku menangkap kilat jahil dan geli berkumpul menjadi satu. Oh, aku merasa sepertinya ia akan mengerjaiku lagi.

“Aku tidak pernah bilang akan mentraktirmu, Nona Song. Jadi, jangan berterima kasih padaku.” Ia menyunggingkan seringai nakalnya. Tahu, bahwa sesaat lagi aku akan marah.

Dengan mata menyipit curiga, aku sengaja bertanya, “Jadi, aku yang harus membayar makanannya? Lagi?”

“Tentu saja.” Wook Gi berkata dengan amat sangat tenang, sampai-sampai aku mengira dia sungguh-sungguh melakukannya. “Aku kan sudah berbaik hati membantumu. Dan itu tidak murah.”

“Hey!!! Choi Wook Gi, sialan kau!” Tidak ingin kehilangan kesempatan meninju lengannya, aku berlari mengejar Wook Gi yang sudah jauh di depan sembari berteriak riang. “Memangnya berapa tarifmu, huh? Aku harus membayar penuh atau kau bersedia memberiku kredit?

 

[1]Agen yang menghambat norepinephrine dan epinephrine (adrenaline) agar tidak berikatan dengan reseptor-reseptor beta.

2 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 15-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s