[OriFict] Second Door -Chapter 12-

CHAPTER 12

 

Second Door 

 

 

Aku tidak ingat bagaimana bisa sampai ke tempat ini. Yang kutahu, tiga puluh menit lalu Wook Gi meneleponku dan mengatakan bahwa ia sedang sakit. Ia membutuhkan bantuanku untuk memeriksa kondisinya karena tidak ada siapa pun di rumahnya yang bisa membantu Wook Gi ke rumah sakit. Tanpa pikir panjang, aku bergegas ke rumahnya.

Kini, aku malah bediri diam di depan pintu kayu berwarna putih. Ini pertama kalinya aku ke mari dan untung saja aku langsung menemukan flat ini tanpa membutuhkan waktu lama berdasarkan alamat yang dituturkan Wook Gi di telepon. Letaknya cukup strategis dan dekat dengan jalan raya, hingga tidak terlalu sulit untuk dicari. Pemikiran tentang ‘aku yang mulai menyukainya’ membuatku ragu untuk menekan bel pintu flat Wook Gi. Kedua pipiku memanas, dan degup jantungku meningkat seperti baru saja ikut kejuaraan marathon hanya dengan memikirkan aku bisa bertemu lagi dengannya. Aku memang bukan gadis remaja lagi yang dengan naifnya berkata tidak tahu gejala apa yang kualami saat ini. Hanya saja, setelah sekian lama kekosongan itu mengisi hati dan hidupku, rasa canggung saat harus berhadapan dengan seseorang yang kusukai, menguasai diriku.

Demi Tuhan! Eun Hee… tenanglah. Dia membutuhkan bantuanmu! Sebagai teman yang baik kau harus membantunya. Setelah menarik dan mengeluarkan napasku panjang-panjang sebanyak tiga kali, aku memberanikan menekan bel pintu itu. Sekian menit kemudian, kudengar bunyi ‘tililit’ yang menandakan pintu itu telah dibuka dari dalam.

Bau coklat, cedarwood dan kertas pelapis dinding menyambutku tepat saat pintu kubuka lebih lebar. Kulihat punggung lebar Wook Gi menjauh dan lelaki itu langsung merebahkan dirinya di sofa bahkan sebelum menyapaku. Walau masih pusing, sepertinya ia terpaksa bangun untuk membuka pintu karena tidak ada lagi yang dapat melakukannya.

“Masuklah,” sambutnya dengan suara serak dari atas sofa.

Aku tersenyum tipis, seraya melepas sepatuku di foyer. Ruangan bernuansa cokelat dan pastel itu tidak terlalu penuh dengan perabotan. Hanya ada satu sofa panjang dan satu sofa single yang menghadap langsung pada televisi di bagian kiri ruangan. Di sebelah kanan foyer, ada dapur yang hanya disekat dengan meja makan kecil dengan dua kursi di sekelilingnya. Di belakangnya, ada dua pintu yang aku yakini salah satunya adalah kamar Wook Gi, dan satu lagi kamar Jia.

Kuhampiri Wook Gi yang kini rebahan di sofa kotak-kotak berwarna beige. Wajahnya pucat, rambut cokelat gelapnya berantakan dan lepek. Meski hanya menggunakan baju tidur biru dan bersandal rumah putih, ia tetap terlihat menawan.

Oh, ini gila! Aku menggeleng pelan untuk menyingkirkan pikiran-pikiran aneh itu dari otakku. Pria itu sedang sakit, dan aku malah sibuk memikirkan penampilannya. Dokter macam apa kau ini?

Oppa, kau baik-baik saja?” Panas menyengat membakar permukaan kulitku ketika kuletakkan punggung tanganku di keningnya. “Demammu tinggi.” Aku membantunya duduk. “Ayo, kuantar kau ke kamar. Kau harus beristirahat di tempat yang lebih nyaman.”

Ia mengangguk lemah sembari terbatuk. Melalui kain flanel tipis baju tidurnya, rasa panas kulitnya masih bisa kurasakan ketika lengannya melingkari pundakku. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa sampai sakit begini? Di mana Jia?”

Kubantu Wook Gi merebahkan dirinya di tempat tidur, dan menyelimutinya dengan selimut tebal berwarna biru. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” ulangku ketika ia diam saja dan malah memejamkan matanya.

“Kemarin aku kehujanan ketika sedang mencari objek foto di taman kota,” Wook Gi batuk lagi, “dan tidak menemukan tempat berteduh.” Ia mennghela napas bingung. “Sedangkan Jia, sejak kemarin siang pergi bersama Taek Woon dan sampai saat ini belum kembali.” Bisa kutangkap kekhawatiran di wajah Wook Gi ketika mengatakannya. “Sebenarnya aku ingin mencari Jia, tapi tubuhku menolak berkompromi.” Ia mendesah dramatis, lantas memijit pelipisnya yang aku yakin terasa nyeri.

Kutempelkan stetoskop di dadanya sembari berkata. “Sudahlah, Jia sudah dewasa. Jangan terlalu khawatir. Ia pasti bisa menjaga dirinya sendiri.”

“Kuharap begitu,” balas Wook Gi muram.

Aku sedang mengeluarkan sphygmomanometer[1]-ku ketika ia bersuara. “Terima kasih sudah datang, Eun Hee-ya.”

“Sudah menjadi kewajibanku sebagai dokter,” kataku, berusaha keras terlihat santai meski jantungku rasanya akan melompat keluar melihat senyum yang tersungging di wajahnya yang pucat. “Kau tidak perlu—omo[2]!” Luka bakar yang memanjang di lengan Wook Gi membuatku terkesiap. Aku sedang menyingsing lengan baju tidurnya untuk memeriksa tekanan darah Wook Gi, tapi luka itu…

“Maaf, aku menakutimu.” Wook Gi langsung menarik lengannya dan menyembunyikannya di bawah selimut.

Kugelengkan kepalaku pelan. Bukan masalah baru bagi seorang dokter melihat luka mengerikan seperti yang ada di lengan Wook Gi dan aku sama sekali tidak merasa jijik. Hanya saja, aku tidak sanggup membayangkan orang yang kusayangi pernah menderita luka bakar yang aku yakin begitu parah bila dilihat dari bentuknya yang memanjang hampir di seluruh permukaan lengan luarnya.

Inikah sebabnya ia selalu menggunakan pakaian berlengan panjang? Untuk menutupi luka bakarnya? “Apa… masih terasa sakit?” Aku bertanya hati-hati.

Ia menggeleng dan tersenyum sebagai jawaban. “Tidak. Lukanya sudah sembuh, hanya tinggal bekasnya.”

Tanpa sadar, aku mendesah lega. “Syukurlah,” kataku, lalu melanjutkan kegiatanku memeriksa kondisinya. “Kalau kau mau, aku bisa membantumu untuk menghilangkan bekas luka bakar itu.”

Senyum tampan lagi-lagi mengembang di bibirnya. “Aku belum punya banyak uang untuk membiayainya.”

Kontan aku tertawa. “Bukankah kau pernah bilang bahwa dirimu kaya?” tanyaku geli dan dia menyeringai kecil. “Tenang saja. Aku mengenal dokter bedah plastik ini dengan baik. Mungkin kau bisa mendapat diskon.”

“Kalau kau memaksa, baiklah.”

Aku mendengus sembari membuka perekat Sphygmomanometer di lengannya. “Tekanan darahmu rendah, hanya 100 per 70. Sedangkan demammu tinggi sekali hingga 39,5 derajat celcius.” Kuletakkan kembali alat-alatku di tas yang tadi kubawa. “Kau harus minum obat,” tambahku. “Apa kau punya persediaan Paracetamol?”

Ia mengangguk,” Sepertinya ada di kotak obatku.”

“Baiklah. Biar aku yang mengambilnya.”

“Tapi…”

Aku mengurungkan niatku beranjak dari tepi tempat tidur ketika ia tiba-tiba bersuara. “Ada apa?”

“Aku belum makan.” Nada suaranya terdengar seperti anak kecil berumur 5 tahun yang sedang merajuk.

“Astaga! Pantas saja kau sakit.” Kugelengkan kepalaku seraya mendecak. Ia pasti masuk angin setelah terguyur hujan dan tidak sempat memasukkan makanan apapun ke lambungnya. “Baiklah. Tidak apa-apa minum penurun panas dulu, sementara aku akan membuatkan bubur untukmu.”

“Terima kasih banyak, Uisanim. Pasien spesialmu ini sangat tersanjung atas perhatianmu.”

Kontan saja aku terkekeh menyadari seringai tipis kini tersungging di wajahnya. Syukurlah ia sudah bisa bercanda. “Tapi jangan lupa, bayarannya pun punya angka spesial,” gurauku lambat-lambat lalu membuka pintu dan berjalan menuju dapur.

Samar, kudengar ia bersuara. “Tenang saja. Aku pasti membayarnya dengan spesial juga.”

 

***

 

Wook Gi tidur nyenyak setelah beberapa saat lalu minum obat dan makan bubur buatanku. Sebenarnya aku tidak yakin rasanya enak. Di rumah aku tidak terbiasa masak sendiri, karena ada eomma yang selalu menyiapkan makanan-makanan lezat tanpa harus aku repot-repot memasaknya. Jadwalku yang tidak menentu juga menjadi faktor pemicu yang membuatku malas bersinggungan dengan dapur. Yah, aku tahu ini tidak baik bagiku yang seorang gadis. Biar Bagaimanapun seorang gadis harus mampu memasak untuk suami dan anak-anaknya kelak.

Ah, sudahlah! Aku malas memikirkan itu. Mungkin aku bisa membayar koki bila nanti sudah menikah.

Kurebahkan tubuhku di atas sofa lembut berwarna beige yang tadi ditempati Wook Gi.  Otakku berpikir keras ketika mengingat kembali luka bakar memanjang di lengan Wook Gi. Apa yang menimpa Wook Gi sebelumnya hingga ada luka sebesar itu di lengannya? Sebenarnya, tadi aku ingin bertanya. Tapi kuurungkan mengingat kondisi Wook Gi yang saat ini sedang sakit. Ia butuh istirahat agar kondisinya cepat pulih. Sebagai akibatnya, kini kepalaku dipenuhi pertanyaan yang belum sempat terjawab.

Aku mendesah panjang dan menguap lebar-lebar merasakan kantuk yang kini menyerang. Keheningan panjang yang kurasakan, membuatku rileks dan mataku terasa semakin berat. Mungkin lebih baik aku tidur saja sambil menunggu Jia pulang. Lagipula, tidak mungkin jika kutinggalkan Wook Gi sendirian dalam keadaan seperti ini.

Aku menguap lagi, lalu memeluk bantalan sofa. Meringkuk lebih nyaman, hingga kurasakan sekelilingku menjadi… tenang.

 

***

 

Sesuatu yang lembut, yang bergerak pelan di permukaan tubuhku membuatku terkesiap. Refleks aku membuka mata dan pemandangan tidak familiar menyambutku. Aku mengernyit bingung, di mana aku… mengapa, ada sosok malaikat tampan yang berdiri di hadapanku? Apa aku… ada di surga?

“Kau sudah bangun? Padahal aku baru saja memakaikan selimut di tubuhmu.”

Astaga! Aku tersentak bangun. Menatap bingung lelaki tampan di hadapanku. Dia Choi Wook Gi. Dan rumah ini? Apakah ini rumahnya? Bagaimana bisa aku berada di rumah Wook Gi? Apa yang sedang kulakukan di sini?

“Kenapa? Jangan bilang kau hilang ingatan hanya karena tidur tidak lebih dari tiga jam.” Dia tertawa pelan, lantas memposisikan dirinya di sisiku. “Terima kasih banyak, Dokter Song. Kalau bukan karena kau. Mungkin sampai sekarang aku masih meringkuk tidak berdaya di bawah selimut.”

Demi hidung aneh Squidward! Dia benar. Aku datang ke mari setelah mendapat telepon darinya bahwa ia sedang sakit. Dan aku tertidur di sofa ini karena sedang menungguinya. Bodoh! Sifat pelupaku semakin parah saja. Benar kata Mae Ri, aku membutuhkan asupan Ginko biloba untuk mencegahku tua sebelum waktunya.

“Jia belum pulang?” tanyaku ketika kurasakan suasana hening meresahkan di antara kami.

“Belum,” balasnya pendek lalu meraih remote TV yang ada di atas meja. Suara dari benda persegi itu akhirnya memecah keheningan.

“Bagaimana kondisimu? Sudah lebih baik?”

Kini ia mengalihkan perhatiannya dari layar TV padaku, matanya yang hitam menatapku lekat. Dan dengan seenaknya, jantungku menghentak cepat hingga telingaku terasa pengang. Bila dilihat dari wajahnya yang tidak sepucat saat pertama kali aku datang, sepertinya kondisinya mulai membaik, walau suaranya masih terdengar agak serak.

“Apa yang harus kulakukan untuk membayar semua kebaikanmu hari ini?” tanyanya tepat di depan wajahku, membuat jantungku menghentak semakin intens ketika hangat napasnya membelai pori-pori kulitku.

Aku berpaling cepat, dan pura-pura tertarik pada foto besar bergambar bunga Azalea di sisi dinding sebelah kiri. “Kau tidak kesepian tinggal sendirian?” tanyaku untuk berbasa-basi, sengaja mengalihkan topik.

Kudengar helaan napas panjang, sebelum akhirnya ia menjawab. “Siapa bilang tidak kesepian?” Wook Gi diam sebentar. Tampak tercenung. “Terkadang aku ingin sekali merasakan kasih sayang seperti yang orang lain rasakan. Memakan makanan rumah yang lezat dan dirawat ketika sakit. Tapi kau tahu, aku tidak mungkin kembali ke rumah.”

Bila sudah begini, aku jadi ingat Jong Hee. Aku yakin dia juga pasti merasakan hal yang sama seperti Wook Gi. Aku jadi bingung harus berpihak pada siapa? Di satu sisi, aku ingin Jong Hee gembira karena dapat meneruskan impiannya menjadi tentara, namun di sisi lain… aku tidak tega jika eomma terus-terusan menangis. Memang, eomma tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di depan kami. Tapi bagaimanapun hati seorang ibu, tidak dapat dibohongi.

“Hey, jangan bilang kau kasihan padaku. Aku tidak butuh dikasihani.”

Spontan aku mendengus. “Untuk apa mengasihanimu?” tanyaku lalu beranjak dari sofa dan meraih tas tanganku. “Sebaiknya aku pulang, kurasa kau sudah cukup sehat untuk menjaga dirimu sendiri.”

“Tapi aku—“

Suara pintu terbuka menghentikan kalimat Wook Gi. Otomatis kami berdua menoleh dan kurasakan udara panas yang pekat merayapi tubuhku mendapati sepasang lelaki dan perempuan, bercumbu mesra di pintu masuk. Kedua tanganku refleks menutupi mulutku yang terbuka. Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan kami karena terlalu terhanyut dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri.

Ya, aku mengenali gadis itu. Dia…

“Song Jia! Apa yang kau lakukan?”

Mendengar itu, Jia terkesiap seperti tersengat listrik ribuan volt dan langsung menjauhkan diri dari kekasihnya. “O-oppa? Kupikir… kau sedang memotret!” Gadis itu mengusap tengkuknya, dan bisa kulihat pipinya bersemu merah. “Oh, Eun Hee-ssi, kau juga di sini.” Ia tersenyum kikuk padaku.

Demi Tuhan, kalau aku yang berada di posisi Jia, mungkin aku memilih menguburkan diriku sendiri dalam tanah. Betapa memalukannya bila seseorang memergokimu sedang bercumbu mesra seperti yang dilakukan Jia tadi. Namun, berbeda dengan Jia… kekasihnya yang berbadan tinggi tegap itu tampak tenang-tenang saja. Lelaki itu hanya menatap kami sekilas, tanpa senyum, tanpa sapa. Lalu kembali menatap Jia. Gila!

“Aku pulang.” Bisa kudengar gumaman pelan lelaki itu. Begitu tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Aku yang melihatnya hanya bisa menganga heran. Bagaimana lelaki itu bisa begini tenang? Apa dia termasuk salah satu orang di dunia ini yang tidak memiliki ekspresi?

Terkesiap kaget, aku melirik Wook Gi yang baru saja menyikut pinggangku. “Kau lihat? Dia yang kubicarakan saat itu,” bisiknya di telingaku.

Butuh beberapa saat untukku mengerti apa yang dibicarakannya. Dan kutahan senyumku ketika mengingat kata-kata Wook Gi saat festival Hwaseong dulu. Benar, saat itu Wook Gi pernah bercerita tentang teman lelaki Jia yang gayanya terlihat menakutkan. Ah, tapi aku lupa siapa namanya.

Oppa, aku ke kamar dulu.” Kudengar suara Jia yang kini membuka lalu menutup pintu kamarnya. Tidak membiarkan Wook Gi bertanya lebih lanjut.

“Sekarang kau sependapat denganku, kan?” Wook Gi kembali berbisik sepeninggal Jia, mungkin agar Jia tidak mendengar komentarnya.

Aku mengangguk. Mengingat lelaki itu, membuatku teringat kembali pada apa yang terjadi beberapa menit lalu. Ciuman ‘panas’ itu. Demi Tuhan! Pantas saja Jia pandai menggambarkan adegan seperti itu dalam novelnya. Ternyata, dia juga mempraktikkannya di dunia nyata! Jujur, aku baru melihat yang seperti ini secara langsung selain di drama-drama roman picisan itu. Selama berhubungan dengan Jang Hyuk Oppa, dia tidak pernah memberiku ciuman se’panas’ itu. Ciuman yang biasa dikenal dengan nama French Kiss. Oh, membayangkannya saja pipiku sudah panas.

“Hey, apa yang kau pikirkan?”

Astaga! Aku mengerjap beberapa kali dan berusaha menarik sudut-sudut bibirku membentuk sebuah senyum. Sulit. Panas di pipiku terasa membakar. Jia yang melakukannya, kenapa justru aku yang malu? “Tidak ada. Hanya—“

“Jangan bilang kau sedang membayangkan berada di posisi Jia.”

“A-apa?”

 

 

[1] Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah.

[2] Astaga! (Bahasa Korea)

6 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 12-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s