[OriFict] Second Door -Chapter 11-

CHAPTER 11

 

Second Door

 

Kupandangi Jong Hee yang kini menunduk sembari mengaduk kopinya. Setelah mendapat telepon dari Neo Ra bahwa Jong Hee kini berada di kafe dekat kampusnya, aku langsung melesat ke mari tanpa menghiraukan apapun yang mungkin akan dikatakan Jong Hee. Benar, dia marah pada Neo Ra dan menuduh gadis itu telah bersekongkol denganku. Untungnya kemarahan Jong Hee bisa dihentikan setelah aku meminta maaf atas nama Neo Ra dan berjanji tidak akan memanfaatkan gadis itu lagi dalam masalah ini.

Suasana kafe bergaya minimalis modern dengan nuansa putih dan hitam ini sedikit lengang. Hanya ada tiga sampai empat meja yang terisi. Termasuk mejaku dan Jong Hee. Lagu My Love milik Westlife yang mengalun lembut menjadi musik latar perbincangan kami.

“Jongie-ya—“

“Apapun yang kau lakukan, Noona. Tidak akan menyurutkan niatku untuk mundur dari militer.”

Aku menghela napas mendengar nada dingin Jong Hee. Adik lelakiku itu kini sudah berubah menjadi orang lain. Ya, dia memang selalu bersikap dingin pada setiap orang yang ditemuinya. Tapi tidak begitu pada anggota keluarganya. Setidaknya pada kami, ia bisa membuka diri.

“Kau boleh marah padaku, Jongie-ya. Tapi, tidak bisakah kau memaafkan Eomma?”

Jong Hee menghentikan kegiatannya mengaduk kopi, lantas menatapku. Mata hitamnya yang sekelam malam, menusuk indra penglihatanku. “Kau tidak dengar apa yang dikatakan Eomma hari itu? Dia tidak mau mengakuiku lagi sebagai putranya. Lantas mengapa kau repot-repot menyuruhku minta maaf padanya?”

“Jong—“

“Kalau kau memang ingin aku kembali. Sebaiknya bujuk eomma untuk dapat menerima impianku sebagai tentara.”

Kupijat pelipisku yang mendadak terasa nyeri. Harusnya aku menyadari kekeraskepalaan Jong Hee dan mengakui bahwa misi menyadarkannya tidak akan semudah yang kukira. Menghancurkan batu mungkin akan lebih mudah, dibandingkan bicara padanya. Bila Jong Hee sudah memutuskan, tidak akan ada yang dapat mempengaruhinya meski dunia runtuh sekalipun. Keputusan itu harus berasal dari dorongan hatinya sendiri, bukan paksaan pihak lain.

“Aku tahu. Baiklah. Terserah kau,” kataku ketika kulihat Jong Hee akan beranjak dari kursinya. Ia bahkan sudah memasang earphone di telinganya, menandakan bahwa ia ingin segera mengakhiri pembicaraan ini. “Tapi dengarkan aku dulu.” Terpaksa kutarik salah satu earphone-nya dan kudengar ia menggerutu tak jelas.

“Apa lagi kali ini?” tanyanya tidak sabar.

“Berjanjilah bahwa kau akan hidup dengan baik.” Kuangsurkan sebuah amplop berisi uang padanya. “Ini memang tidak banyak. Tapi kau bisa menggunakannya untuk membayar biaya kuliah.”

Ekspresi keras Jong Hee seketika melunak. “Noona—“

“Kudengar dari Neo Ra, kau bekerja paruh waktu di sebuah minimarket,” potongku cepat dan kudengar Jong Hee kembali memaki tidak jelas. “Kau jangan marah padanya. Sudah kukatakan bahwa aku yang memintanya melakukan ini,” tambahku ketika menyadari perubahan air muka Jong Hee.

“Aku tidak suka dengan caramu.”

“Tidak ada cara lain,” bantahku dan Jong Hee mendengus. “Kau tidak memberi akses pada kami untuk bisa menemuimu.”

“Lantas mengapa harus Neo Ra?”

Aku mengernyit. Heran, tentu saja. “Memangnya kenapa dengan gadis itu? Kau tahu hanya dia yang kukenal akrab di kampusmu.”

Kudengar Jong Hee mendesis, lalu ia kembali menempelkan earphone ke telinganya. Bila tidak mengenal Jong Hee, aku pasti melewatkan ekspresi kesalnya tepat sebelum ekspresi itu kembali datar dalam hitungan detik. “Kalau sudah selesai, aku pergi dulu. Sore nanti ada latihan.”

“Jongie-ya.”

Jong Hee lagi-lagi mengurungkan niatnya pergi dan menatapku bingung. Ada keheningan sesaat, ketika kami saling beradu pandang. Jong Hee adik kecilku yang dulu bisa dibilang manja, kini berubah menjadi lelaki tampan nan rupawan yang berperangai dingin. Aku tidak pernah mendengar ada satu wanita pun yang mengisi hari-harinya.

“Aku janji akan hidup dengan baik,” katanya, mengerti kekhawatiranku. “Sampaikan salamku untuk Min Hee. Katakan aku sangat menyayanginya.”

Aku mengangguk. Sesuatu yang besar seperti menyesaki tenggorokanku. Tidak. Aku tidak boleh cengeng. “Kalau kau butuh sesuatu, hubungi aku. Jangan pernah berpikir bahwa kau tidak memiliki keluarga sama sekali.”

Kuraih tangan Jong Hee. Membaliknya, dan meletakkan amplop tadi di sana. “Jangan membuatku khawatir. Ingat itu.”

Dia tersenyum tipis. “Aku bukan anak kecil lagi.” Aku terkejut ketika mendadak Jong Hee kembali duduk di kursinya padahal kukira dia akan segera pergi. “Ah, Noona. Aku lupa mengatakannya padamu,” katanya dengan tatapan serius yang semakin membuatku bingung.

“Mengatakan apa?”

Senyum terukir di wajahnya sebelum menjelaskan. “Beberapa malam lalu, Jang Hyuk Hyeong datang ke mimpiku.” Desir hangat mengaliri jantungku. Jang Hyuk… Oppa? Apa yang sebenarnya ingin dikatakan Jong Hee? “Dia terlihat murung dan tidak bersemangat,” tambah Jong Hee lagi, yang seketika menghapus senyum dari bibirku.

Kurasakan tepukan pelan Jong Hee di bahuku dan kudengar ia berkata. “Bukalah hatimu untuk lelaki lain, Noona. Jangan biarkan Jang Hyuk Hyeong sedih melihatmu yang sampai saat ini masih saja meratapi kepergiannya.”

 

***

 

Melangkah gontai, kuperhatikan daun maple cokelat kemerahan yang berguguran di tanah berumput. Daun-daun itu beterbangan mengikuti arah angin musim gugur yang dingin. Ya, daun maple itu telah usai menjalankan tugasnya memberi kehidupan pada si pohon dengan melakukan proses fotosintesis. Dia bahkan rela menggugurkan dirinya demi kelangsungan hidup si pohon di tengah cuaca ekstrim pada musim dingin nanti. Meski ditinggalkan si daun, pohon maple tidak pernah merasa sedih. Karena dia tahu, saat musim semi tiba, akan bermunculan kuncup-kuncup baru yang mampu menjadi penopang hidupnya di masa yang akan datang.

Seharusnya aku mampu meniru sikap si pohon. Merelakan yang telah pergi dengan keyakinan suatu saat nanti pasti muncul orang baru yang dapat membahagiakan hidupku. Seperti janji Tuhan, bahwa Dia tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat-Nya. Setelah badai besar berlalu, pasti akan muncul pelangi indah dan cuaca yang bersahabat.

“Bukalah hatimu untuk lelaki lain, Noona. Jangan biarkan Jang Hyuk Hyeong sedih melihatmu yang sampai saat ini masih saja meratapi kepergiannya.”

Kata-kata Jong Hee tadi kembali terngiang di telingaku. Mungkin benar apa yang dikatakannya. Tidak seharusnya aku terus meratapi kepergian Jang Hyuk Oppa. Ya, dia pasti sedih dan tidak tenang melihatku yang terus-terusan meratapi kepergiannya. Hingga bisa dibilang menghancurkan diriku sendiri dengan terus menutup diri dari orang lain.

Tuhan pasti sudah menyiapkan pria baik di luar sana, yang akan mampu membuatku merasakan kebahagiaan lagi. Seperti Choi Wook Gi, misalnya. Oh, Eun Hee… kau mulai lagi.

Aku menghela napas berat. Lalu duduk di kursi kayu panjang di bawah pohon maple yang daunnya terus berguguran terbawa angin.

Well, aku tidak bisa memungkiri. Selama beberapa hari ini, bayangan Wook Gi tidak bisa hilang dari ingatanku. Senyum lelaki itu, tawa renyahnya, hingga obrolan-obrolan gila kami terus terputar di kepalaku. Terkadang aku merindukannya. Ingin merasakan keberadaannya di sisiku, meski sering kali aku menekan perasaan itu ke sudut terdalam hatiku. Entahlah, aku merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang mengganjal. Mungkin karena aku terlalu takut mengkhianati cinta Jang Hyuk Oppa. Selalu saja aku mendapati diri berusaha menggantikan wajah Wook Gi dengan wajah Jang Hyuk Oppa dalam benakku.

Dan bila benar apa yang dikatakan Jong Hee tadi. Jang Hyuk Oppa datang ke mimpinya dalam keadaan sedih karena khawatir aku tidak mau membuka diri pada orang lain. Kekhawatiranku sia-sia saja. Mulai kini, aku harus belajar membuka diri untuk orang lain. Setidaknya, agar Jang Hyuk Oppa tenang di alam sana.

Lagu That Woman dari Baek Ji Young yang mengalun dari ponselku, menarikku kembali ke masa kini. Segera aku mengaduk tas tanganku dan mengeluarkan benda persegi berwarna putih itu dari sana.

Seperti baru saja melihat bunga-bunga bermekaran di musim semi yang indah, senyumku otomatis melekuk mendapati nama Choi Wook Gi di sana. Baru saja aku memikirkannya, dan kini ia menelponku. Kami seperti memiliki kemampuan telepati.

“Hallo?” Sekuat tenaga kutahan agar suaraku terdengar sebiasa mungkin.

Eun Hee-ya, kau ada waktu?”

Aku menahan napas ketika merasakan jantungku seperti akan melompat keluar saking bahagianya. Dia menelpon untuk mengajakku bertemu? Oh, bagus. Aku memang sedang ingin bertemu dengannya.

Hey!”

“Oh, ya. Kapan?” Sial. Jaga sikapmu, Eun Hee!

Terdengar kekehan pelan Wook Gi dari seberang sana. “Tidak kusangka kau begitu bersemangat untuk bisa bertemu denganku.”

Perutku seperti dipelitintir. Geli. Sensasi aneh itu kembali menjalar di sekujur tubuhku. “Katakan saja kapan? Aku tidak sebebas seperti yang kau kira.”

Lagi-lagi dia tertawa. Dan suara tawanya yang khas itu mengundang seulas senyum di bibirku. “Lusa, jam sembilan pagi. Aku butuh teman untuk menemaniku memotret. Kudengar Changyongmun—

“Lusa?” potongku cepat dan kudengar Wook Gi berkata ‘ya’. Sial! Hari itu aku sedang dinas pagi. “Apa… tidak bisa hari lain?” tanyaku penuh harap.

Lama, tidak ada jawaban. Hingga aku selesai menghitung sampai lima puluh, kudengar ia bersuara. “Ah, sayang sekali. Aku hanya punya waktu hari itu. Minggu depan aku harus sudah mencetak hasil kerjaku untuk dijadikan sample ke pihak penyelenggara pameran fotoku.”

Aku menghela napas. Kecewa? Ya, itu pasti. Tapi siapa yang bisa menolak tugas? “Kalau begitu, selamat menjelajah sendirian. Aku tidak bisa meninggalkan pasien-pasienku demi dirimu.” Meski sebenarnya aku ingin bertemu denganmu.

Tawa renyah Wook Gi kembali mengalun, membuat darah berdesir hebat di jantungku. “Baiklah kalau begitu. Semoga sukses. Tapi aku sangat berharap kau bisa datang untuk menemaniku.”

Ya, aku pun berharap hal yang sama. Oh, kenapa aku tidak bisa mengucapkannya? “Kau juga. Semoga sukses!”

Senyumku masih belum hilang walau sudah tidak terdengar suaranya lagi dari seberang sana. Meski kecewa kami tidak jadi bertemu, aku tetap senang. Mendengar suara khasnya yang sedikit sengau saja sudah membangkitkan semangatku ke level penuh. Seperti ponsel yang baru saja di-charge.

Hey, benarkah aku menyukai Wook Gi? Secepat itukah? Padahal kami baru saling mengenal empat minggu yang lalu, kalau pertemuan pertama kami setahun silam belum bisa dikatakan saling mengenal.

Dan… hati kecilku menjawab dengan yakin…

YA, AKU MENYUKAINYA!

3 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 11-

  1. wahhh.. Eun Hee sdh menyadari kalo dia suka sama Wook Gi… trus gimana dg Wook Gi…???
    nti ada Wook Gi POV Kah??
    penasaran aku
    hehehe

    kpn diLanjut lagi nih Aika Lee…??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s