[OriFict] Second Door -Chapter 10-

CHAPTER 10

 

 Second Door

 

 

Aku menatap sedih wanita paruh baya berbadan gempal yang kini menangis dalam pelukan lelaki muda berusia sekitar lima belas tahun di depan UGD. Lima menit lalu, aku baru saja mengumumkan kematian suaminya yang pagi ini ditemukan tenggelam di Sungai Suwon. Aku jadi merasa seperti seorang raja yang baru saja mengumumkan eksekusi mati pada keluarga tawanan. Padahal kami—aku dan timku—sudah mengusahakan yang terbaik, namun lelaki malang itu meninggal di ruang resusitasi[1] setelah beberapa kali percobaan CPR[2] yang kami lakukan. Menurut perkiraanku, lelaki ini terlambat mendapat penanganan dan kondisinya sudah benar-benar parah ketika dibawa ke rumah sakit.

Memang, hal seperti ini bukanlah yang pertama kutemui selama bekerja di rumah sakit. Tapi aku tidak bisa mengurangi traumaku sendiri bila melihat mereka bersedih setelah ditinggalkan orang tercintanya. Dua kali aku mengalaminya, dan hingga kini ketakutan itu belum juga sirna dari hatiku.

Aku sepenuhnya sadar, setiap ada pertemuan… perpisahan pun sudah menunggu untuk terjadi. Hanya saja, itu terlalu berat untuk dijalani. Seperti halnya bila seorang teman meminjamimu mainan yang kau sukai, dan suatu saat kau pun harus rela jika si pemilik mengambilnya kembali.

“Daripada bersedih, bagaimana jika bersantai di atap?”

Aku menoleh mendengar suara Mae Ri. Pagi ini tim-nya berada satu shif dengan tim-ku. Kurasakan tepukan hangat Mae Ri di pundakku. “Sudahlah, kau telah mengusahakan yang terbaik. Jangan terlalu sensitif.”

Kuhela napas berat, lalu berputar ke arahnya. Mae Ri belum pernah mengalami hal itu, dia tidak mengerti apa yang kurasakan. Mungkin seperti ini juga yang dirasakan appa saat seorang pasiennya tidak berhasil diselamatkan. Sedih dan kecewa. Namun itulah permainan takdir. Siapapun tidak dapat menolaknya.

“Mae Ri-ya?”

“Hmm?”

Aku menunduk menatap sepatuku, kemudian melanjutkan. “Apa kau punya coklat untuk kumakan? Kurasa, aku membutuhkan pemicu endorfin[3].”

Tawa pelan meluncur dari tenggorokan gadis itu. “Bagaimana bila kita ke kantin dan memesan secangkir coklat hangat?”

Aku mengangkat wajah, lalu tersenyum. “Yah, bukan ide buruk,” setujuku sambil mengangguk. “Tapi kau yang traktir,” tambahku sebelum ia sempat berbalik.

“Baiklah, aku yang bayar.” Seringaiku melebar. “Tapi pakai uangmu.” Sial! Bicara dengan Mae Ri, sama halnya dengan mengobrol bersama komedian gila! Tapi anehnya, mengapa aku malah suka berteman dengan si gila itu?

Kami berdua lantas berjalan beriringan melewati koridor rumah sakit yang lengang. Kantin ada di lantai tiga, dan biasanya pada pagi menjelang siang begini, tidak terlalu ramai. Itu menguntungkan karena kami tidak perlu mengantre untuk mendapat tempat duduk.

“Eun Hee-ya, bisakah sore nanti sepulang kerja kau menemaniku? Aku butuh teman ke toko buku, ada novel incaranku yang baru terbit. Dan aku harus segera membelinya sebelum kehabisan.”

Aku menyeret kursi kosong di depanku, lalu duduk di sana. Sebelum menjawab, kutopangkan daguku di atas meja. Menatap Mae Ri heran. “Tumben kau mengajakku? Di mana kekasihmu itu?”

Mae Ri melambaikan tangannya seolah mengusir lalat. “Sudahlah. Jangan bahas dia.”

Kontan aku mengernyit bingung. Tidak biasanya Mae Ri begini. Setahuku, ia selalu bersemangat jika disinggung soal kekasihnya. “Kalian bertengkar?” tanyaku penasaran.

Dengusan Mae Ri meyakinkanku bahwa memang ada sesuatu yang terjadi dengan mereka. “Ayolah. Kubilang jangan singgung tentang dia lagi. Aku sedang kesal padanya,” kata Mae Ri dengan bibir mengerucut sebal. “Bayangkan, dia melupakan tanggal jadian kami. Dan malah pergi bersenang-senang dengan temannya, alih-alih merayakan hari spesial itu bersamaku. Menyebalkan!”

Aku tertawa pelan. Dulu, saat masih berhubungan dengan Jang Hyuk Oppa. Justru aku yang sering melupakan tanggal jadian kami. Sedangkan Jang Hyuk Oppa yang memiliki jiwa romantis seperti pangeran berkuda putih impian banyak gadis, hampir selalu menyempatkan dirinya mengirimkan ucapan selamat meski itu hanya melalui surat karena kondisi kami yang tidak memungkinkan untuk bertemu. Sampai saat ini, aku masih menyimpan surat-surat itu. Baunya harum seperti bunga Lily. Bunga kesayanganku. Bila aku sedang merindukannya, surat-surat itulah yang akan menemaniku sepanjang hari.

Jang Hyuk Oppa… bisakah kau mengirimkan satu surat lagi untukku?

“Hey, bagaimana? Kau mau tidak?”

Dikembalikan ke masa kini, aku menghela napas. Ayolah, Eun Hee… berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi!

“Baiklah,” balasku dan kutangkap senyum samar di bibir Mae Ri. “Tapi ada syaratnya.”

Kudengar Mae Ri mendesis. “Baiklah, baiklah… aku yang traktir coklat hangat ini. Deal?”

Hahaha… aku menang juga. “Oke, deal!”

 

***

 

Sesuai janji, sepulang bekerja aku menemani Mae Ri ke toko buku. Sudah lama kami tidak pergi berdua saja semenjak Mae Ri disibukkan dengan hubungannya bersama Hyun Jae. Bukannya mensyukuri pertengkaran Mae Ri dengan lelaki itu, hanya saja terkadang kita sebagai wanita membutuhkan waktu sendiri tanpa adanya lelaki yang ikut campur. Sebut saja itu ‘Woman Time’. Waktu wanita bergosip bersama. Waktu wanita mengurus dirinya bersama. Waktu wanita saling mencurahkan isi hatinya. Waktu wanita menjalankan hobi-nya bersama. Ya, kita benar-benar membutuhkan waktu-waktu seperti itu.

“Kau tahu Cha Eun Joo?” Mae Ri berceloteh sembari memilah-milih buku yang akan dibelinya. Senyum Mae Ri mengembang ketika akhirnya menemukan buku yang dicarinya. Buku bersampul merah jambu itu berjudul ‘Love Under The Rain’. “Dia novelis favoritku,” katanya riang dan bersemangat. “Novelnya yang terakhir mendapat predikat best seller…”

Aku tidak mendengarkan lagi celotehan Mae Ri, saat mataku menangkap sampul buku berwarna merah pekat seperti kelopak mawar berjudul ‘A Lady’s Dignity’ di deretan novel laris. Di sana tertera nama Song Jia sebagai penulisnya.

Bukankah Song Jia itu adik sepupu Wook Gi? Benar. Saat itu Wook Gi pernah cerita kalau adik sepupunya datang ke Suwon untuk mengerjakan novel terbarunya. Wah, aku tidak menyangka kalau novel gadis China itu juga dicetak dalam versi Korea. Dan yang lebih mengejutkan lagi, berada di barisan novel laris saat ini. Aku jadi penasaran, sebagus apa tulisan gadis itu?

“Hey, kau mendengarku tidak?”

Menoleh cepat, kutemukan Mae Ri kini telah berdiri di sampingku. Aku meringis aneh mendapati raut kesal Mae Ri. “Sayangnya tidak.” Jujur adalah yang terbaik, bukan?

Mae Ri mendesis. “Ya sudah. Kalau sudah menemukan buku yang akan kau beli. Kita pergi saja. Aku lapar.”

“Hmm… baiklah.” Mengangguk singkat, kuraih novel bersampul merah pekat itu. Sepertinya aku akan mencoba membacanya.

 

***

 

Aku dan Mae Ri kini sampai di restoran favorit kami. Restoran barbecue di dekat stasiun Suwon ini sudah menjadi langganan kami sejak masih kuliah di Dongnam Health College. Daging sapinya yang berkualitas baik dan juga si pemilik yang ramah, membuat kami betah berlama-lama di sini. Ajumma[4]Min—pemiliknya—sampai-sampai hafal apa saja pesanan kami. Jadi, bila kami mampir, tidak perlu repot-repot memesan. Ajumma Min sudah tahu apa saja yang harus disiapkan.

“Nah, itu meja kita.”

Tertegun bingung, untuk sesaat aku hanya berdiri di depan pintu. Di dalam sana, tepatnya di baris kedua dari depan ada Hyun Jae dan kawannya—Seung Ho—melambai pada kami. Sial! Bukankah tadi Mae Ri bilang bahwa dia dan Hyun Jae… Demi Tuhan! Tolol! Itu pasti hanya akal-akalannya saja. Bagaimana aku bisa tertipu?

“Kau menyebalkan!” desisku pada Mae Ri dan dengan keterlaluan dia malah tertawa keras.

“Aku hanya menjalankan amanah ibumu.”

“Terima kasih banyak kalau begitu,” balasku dingin, lalu dengan terpaksa aku melangkah masuk, sebelum beberapa pengunjung di belakangku berteriak marah karena terlalu lama berdiri di pintu.

“Daripada marah-marah, lebih baik kita habiskan sore ini dengan bersenang-senang,” pelan, Mae Ri berbisik di telingaku, lalu melangkah mendahuluiku untuk menyambut kekasihnya yang sok tampan itu. Ah, harusnya aku memberitahumu bahwa kekasih Mae Ri itu lebih mirip monyet ketimbang tampan.

Hujan lebat di luar, menghalangi kami untuk segera pulang. Mungkin bagi Mae Ri dan Hyun Jae semua itu sebuah keuntungan, tapi bagiku… ini adalah kesialan. Seharusnya sejam yang lalu aku sudah bisa merebahkan diri di tempat tidur dan meringkuk di bawah selimut tebal dengan nyaman, bukannya berada di sini berteman si aneh Seung Ho yang sejak tadi terus saja menatapku seolah aku makhluk asing yang terdampar di muka bumi ini.

Kulirik kesal Mae Ri yang sedang tertawa lebar di samping Hyun Jae setelah gadis itu berhasil menyuapkan sepotong daging ke mulut kekasihnya. Sedangkan Hyun Jae, kini menyodorkan pipinya untuk mendapat hadiah ciuman karena telah menjadi anak baik dengan menerima suapan Mae Ri.

Sok mesra. Menyebalkan! Apa yang dikatakannya tadi? Dia sedang kesal pada Hyun Jae karena lelaki itu melupakan hari jadi mereka? Omong kosong!

“Jangan marah terus, Eun Hee-ya. Nanti kau cepat tua,” kata Mae Ri padaku sambil tertawa.

Oh, kata-kata Mae Ri itu entah bagaimana mengingatkanku pada Wook Gi. Bayangan lelaki tampan pemilik senyum menawan itu tiba-tiba saja bermain dalam benakku. Sudah cukup lama kami tidak bertemu. Apa yang dilakukannya sekarang? Apa dia sedang memotret seperti biasa? Tapi kenapa tidak memintaku menemaninya? Demi Tuhan! Eun Hee, apa yang kau pikirkan?

“Sebenarnya aku tidak terbiasa berbagi makanan dengan orang lain. Tapi kalau kau mau, ambillah.”

Aku terkesiap ketika Seung Ho menyodorkan separuh jeruknya kepadaku. Hey, apa-apaan dia? Aku tidak ingat pernah meminta jeruk padanya. Lantas untuk apa dia memberikannya padaku, dengan berlagak seolah-olah aku yang memaksa meminta jeruknya.

“Menikmati buah sehabis makan itu baik untuk kesehatan.” Dia tersenyum. “Bukan begitu, Uisanim?”

Mendengus keras, aku menoleh ke jendela kecil di samping kiriku. Mengutuki hujan yang masih mengguyur kota Suwon dengan begitu derasnya. Kapan aku bisa pulang dan pergi dari sini secepatnya?

“Tersenyumlah, jangan cemberut terus.” Terdengar suara santai Seung Ho. Dengan tenang ia mengunyah sepotong jeruk hingga habis. “Seperti kata Bunda Theresa, ‘Biarkan senyuman selalu menghiasi pertemuan kita, karena senyum itu awal dari cinta.’”

Kontan saja aku mendengus. “Seung Ho-ssi.

“Ya?”

“Pernahkah kau ditolak seorang gadis?”

Dia tertawa sinis. “Sayangnya belum, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

“Bagaimana bila sekarang telah terjadi, tapi kau belum menyadarinya?”

Lagi. Dia tertawa, membuatku semakin jengkel. “Makanya, kukatakan tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau tidak akan bisa menolakku, bila aku belum memintanya padamu.”

Sial. Dia benar juga. Aku ingat, dia memang belum pernah menawarkan hubungan apapun padaku. Namun dari sikapnya, aku tahu benar apa yang ia inginkan.

“Ya, tapi…” Aku menelan ludah. Ragu, untuk melanjutkan perkataanku.

“Tapi apa?” tanyanya, setelah menelan habis jeruk dalam mulutnya. Sejak tiba tadi, kulihat ia tidak pernah berhenti mengunyah. Entah itu makan besar, atau sekedar mengunyah snack yang dibawanya. Pantas saja jika tubuhnya mengembang sebesar ini.

“Bagaimana bila gadis itu mempunyai orang lain?”

Aku terpaksa mundur ketika kulihat ia mencondongkan tubuhnya padaku. “Aku tidak akan menyerah, apalagi lelaki itu sudah tidak di dunia ini lagi.”

Tidak. Lelaki itu di sini. Masih hidup dan tampan. Ia juga baik dan periang. Senyumnya yang menawan, mampu membuatku lupa pada kesedihanku bila sedang bersamanya. Ya, semua itu memang hanya ada di pikiranku dan tidak sempat kukatakan. Hanya saja, apa benar itu terjadi? Choi Wook Gi… benarkah aku telah menyukainya? Tidak mungkin!

“Hey, Song Eun Hee… hujannya sudah reda. Ayo kita pulang!”

 

[1] Tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu.

[2] Cardiopulmonary Resusitation.

[3] Senyawa kimia yang dibuat oleh tubuh dan dapat membuat seseorang merasa senang.

[4] Bibi/Nyonya

One thought on “[OriFict] Second Door -Chapter 10-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s