[OriFict] Second Door -Chapter 9-

CHAPTER 9

 

 Second Door

 

 

Kesan pertama yang kudapatkan ketika sampai di tempat bersejarah ini adalah aku merasa seperti seorang puteri kerajaan masa Joseon yang sedang berjalan-jalan di perbatasan. Jangan-mun, gerbang kuno berarsitektur khas jaman Joeson yang dibangun pada masa Raja Jeongjo itu masih berdiri tegak sejak ratusan tahun silam. Walau seperti yang pernah diceritakan appa padaku pada tahun 1970-an gerbang sebelah utara dari benteng Hwaseong ini, sempat direkonstruksi ulang karena adanya perang Korea.

Di luar semua itu, aku suka tempat ini. Selain karena Jangan-mun adalah salah satu situs sejarah populer di Suwon, aku juga memiliki banyak kenangan indah di sini. Dulu saat aku kesal, appa sering membawaku jalan-jalan ke Jangan-mun. Bahkan appa seringkali memperlakukanku seperti puteri-puteri kerajaan di masa lalu dengan memakaikan hanbok[1] dan membelikanku bermacam-macam Daenggi[2] cantik berwarna-warni cerah agar aku bisa tersenyum kembali.

Sensasi sebagai seorang puteri pada masa Joseon bahkan masih melekat sampai sekarang meski semua itu sudah bertahun-tahun berlalu. Bisa dipastikan, bila aku merindukan appa, kau akan menemukanku menyendiri di tempat ini.

“Itulah mengapa aku menyukai Suwon, banyak sekali tempat bersejarah yang bisa kudatangi di sini.”

Itu suara Wook Gi yang kini sibuk memotret keindahan klasik Jangan-mun dari bagian depan gerbang. Benar. Saat ini berbeda karena aku berada di Jangan-mun bukan semata-mata untuk menyendiri, melainkan bersama Wook Gi.

Ya, terdengar gila memang, tapi aku sendiri terkejut saat menyetujui ajakan Wook Gi untuk menemaninya memotret. Padahal setelah pertemuan kami di Benteng Hwaseong seminggu yang lalu, ia tidak pernah lagi menghubungiku. Kami memang sempat bertukar nomor telepon, dan baru kemarin dia menelponku. Katanya, ia sangat membutuhkan teman untuk mencari obyek foto menarik di kota ini, karena Jia—adik sepupunya—masih disibukkan dengan draft novel  terbarunya. Jangan-mun menjadi destinasi pertama yang kami pilih.

Kebetulan aku sedang bebas tugas. Pagi-pagi sekali, Wook Gi sudah menunggu di taman dekat rumahku. Aku melarangnya menjemput ke rumah karena takut eomma mengira yang tidak-tidak tentang hubungan kami. Padahal, seperti yang kubilang hari itu. Kami hanya berteman. Dan aku menikmati hubungan kami ini.

“Bagaimana menurutmu? Bagus tidak?”

Aku menatap hasil fotonya dan mengangguk. “Yeah, lumayan.”

Kuperhatikan kening Wook Gi berkerut. “Hanya lumayan?” Dia kini tampak sibuk memerhatikan kameranya, lebih tepat lagi hasil fotonya. Tampak tidak puas dan mencari-cari sesuatu di foto bergambar Jangan-mun yang sebenarnya tampak megah karena diambil dari sudut bawah. “Hmm… kira-kira, apa yang kurang ya?”

“Tapi sudah bagus kok,” ralatku buru-buru, menyadari tatapannya kini beralih padaku. Takut kalau-kalau ia merencanakan ide gila yang membuatku susah.

Aku menangkap seringai jahil tersungging di wajahnya. Dan menelan ludah bingung ketika tatapannya kini menelusuri tubuhku. Dari atas hingga bawah. “Tapi kau benar.” Oh, tidak. Jangan katakan itu. Seringai tipis itu membuatku yakin ada yang tidak beres. “Bagaimana kalau menambahkan kau sebagai obyek fotonya?” Sial. Tepat seperti yang kutakutkan.

Tidak, tidak, tidak. Sebisa mungkin aku harus menolaknya. Sengaja aku mendengus berkali-kali untuk menunjukkan ketidaksetujuanku. “Tapi tarifku mahal, Tuan. Kau tidak bisa begitu saja memintaku menjadi obyek fotomu.”

Tawa Wook Gi seketika meledak, seolah apa yang baru saja kukatakan adalah lelucon terbaru tahun ini. Oh, dia berlebihan sekali!

“Benarkah?” Wook Gi masih tetap tertawa ketika melanjutkan. “Kalau begitu, katakan berapa tarifmu? Aku akan membayarnya.”

Tsk, lihat! Kini Wook Gi merogoh saku celana jeansnya lalu mengeluarkan dompet kulit hitam dari sana. “Kau yakin sanggup membayarnya, Tuan?” Aku bertanya. Dengan sengaja, memperdengarkan nada tidak yakin.

“Tentu saja.” Ia kini mengeluarkan beberapa lembar won dari dalam dompet agar aku dapat melihatnya. “Kau masih tidak percaya? Asal kau tahu, aku juga masih punya tabungan.”

Aku terkikik geli karena kini ia tampak seperti sales yang sedang menawarkan barang dagangannya. “Ada yang salah dengan ucapanku?”

Berusaha keras menahan tawa adalah hal yang sangat sulit, kuperingatkan kalian. “Begini, aku lupa kalau kau juga harus membuat kontrak dengan manajerku,” ungkapku serius.

Dia mendekat, dan aku mengutuki reaksi tubuhku yang mendadak panas dingin menyadari kini kami hanya berjarak beberapa senti saja. Aku bisa merasakan hembusan napasnya menghangatkan keningku yang dingin. Baunya seperti coklat dan mint yang menyegarkan, yang kali ini aroma itu bercampur dengan bau keringat dari kulit yang sehat.

“Manajermu? Baiklah, apa yang harus kupersiapkan untuk meyakinkan manajermu agar ia mengijinkan kerja sama ini?”

Aku menjilat bibirku yang terasa kering, lalu tertawa. Entahlah, kurasa tawaku terdengar aneh. Tiba-tiba menyesal telah mencetuskan lelucon itu. “Aku hanya bercanda. Sudahlah!” sergahku, seraya mendorongnya menjauh.

“Tapi aku serius.” Dia kembali lagi ke tempatnya dan menatapku dalam.

Aku menegang. Terpaksa kularikan tatapanku ke gerombolan turis asing yang tengah asyik memerhatikan pintu gerbang kuno di belakangku, karena aku yakin bila terus membalas tatapannya, cepat atau lambat dia akan menyadari perubahan raut wajahku.

“Wook Gi-ssi, bagaimana kalau sekarang kita—Oh?”

Suara jepretan kamera membuatku tersentak kaget. Hey, dia baru saja memotretku? Lagi. Sialan!

Bisa kudengar tawa renyah Wook Gi diikuti suaranya yang berkata, “Ah, berhasil. Kau harus tahu ekspresi wajahmu sangat lucu kalau sedang tegang.”

“Aiishh…” Aku menggaruk belakang kepalaku frustrasi, lantas berteriak. “Berikan padaku! Kau harus menghapusnya!”

“Tangkap aku kalau bisa.”

“Apa? Hey, jangan lari!”

 

***

 

Lelah berlari-lari, aku dan Wook Gi memilih duduk di sebuah bangku taman dengan napas terengah. Kupijat lututku yang terasa nyeri karena timbunan asam laktat di persendianku. Lama tidak berolah raga, membuat tubuhku terasa kaku walau hanya berlari kecil mengelilingi halaman luar Jangan-mun. Biasanya bila bersama Jang Hyuk Oppa, pagi-pagi sekali dia selalu membangunkanku bahkan sampai menyeretku agar aku mau menemaninya lari pagi. Katanya, olah raga itu baik untuk kesehatan. Ya, itu memang benar. Tapi aku terlalu pemalas untuk melakukannya.

“Ck, begini saja kau sudah lelah?” Cibiran Wook Gi membuatku terpaksa menoleh.

Teringat kembali pada foto itu, aku mendengus. “Berikan kameramu padaku!” jeritku dengan delikan horor.

“Tidak mau!” Ia menjulurkan lidahnya dan menyeringai.

“Aish… Choi Wook Gi!”

Wook Gi tertawa. Begitu keras hingga aku terpaksa melirik ke kanan dan ke kiri, takut kalau-kalau menjadi pusat perhatian. Dan benar saja, ada beberapa orang yang menatap kami heran bercampur aneh. Orang-orang itu pasti berpikir, ada dua orang berisik yang dengan seenaknya mengganggu aktivitas siang mereka.

“Tapi ada syaratnya.” Aku terkesiap merasakan hangat napasnya di telingaku, ketika ia berbisik.

Setelah berhasil meminimalisir hentakan keras di dada kiriku, aku bertanya, “Katakan apa syaratnya?”

Lagi-lagi, seringai tipis tersungging di bibirnya. Terpaksa aku menahan napas saat ia mencongdongkan tubuhnya sedikit ke arahku. “Panggil aku Oppa.”

“Apa?”

“Kau lahir tahun 1987, kan?” Wook Gi berkata lambat-lambat dan aku mengangguk. “Nah, aku 86 line. Jadi, satu tahun lebih tua darimu. Panggil aku Oppa.”

Dengusan keras otomatis meluncur dari tenggorokanku. “Oh ya, kau tua sekali,” cibirku jengkel. “Bagaimana kalau kupanggil Ajeossi[3]saja? Kurasa lebih cocok untukmu.”

“Aiisshh…”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tertawa menyadari keterkejutan Wook Gi dan raut tidak terimanya. Ia pasti kaget karena ternyata aku malah membalasnya, alih-alih terpancing gurauannya seperti yang sudah-sudah. “Kurasa, ekspresimu saat terkejut jauh lebih lucu daripada aku. Bagaimana kalau kau pinjamkan kameramu padaku,” komentarku geli dan dia langsung menepuk kepalaku pelan sementara tangannya menjauhkan Canon DSLR-nya dari jangkauanku.

“Jangan kurang ajar pada yang lebih tua darimu,” katanya sok berwibawa. Ia menunduk sebentar, meraih ransel hitam yang tadi dibawanya di sisi kursi taman dan memasukkan kamera itu ke sana. “Sudah siang. Aku lapar, bagaimana kalau kita makan dulu?”

Hmm… dia benar. Ini sudah jam 12 siang dan tidak terasa kami telah menghabiskan waktu tiga jam bersama-sama. Aku mengangguk setuju karena kurasakan perutku juga mulai berbunyi.

“Kita makan di mana?” tanyaku sembari merapikan mantel cokelat hangatku.

“Kau yang pilih tempatnya, sekaligus kau juga yang mentraktirku. Yah, hitung-hitung—“

“Membayar utang budi karena telah menyelamatkan nyawaku.” Aku melanjutkan dengan nada menyanyi, yang diikuti cibiran kesal. Spontan, Wook Gi mengacungkan jempolnya padaku. Jurusnya masih sama. Tidak kreatif!

“Ah, anak pintar!”

Refleks, aku beranjak sebelum tangan Wook Gi berhasil mendarat di puncak kepalaku. Untuk alasan yang tidak ingin kuakui, caranya menepuk kepalaku, mengingatkanku pada Jang Hyuk Oppa.

 

***

 

Beringsut sedikit untuk membenarkan dudukku di kursi kayu bergaya China, aku lantas melipat tangan di atas meja. Kami sedang menunggu pesanan diantar. Dua mangkuk Jjajangmyun[4] dan dua gelas teh dingin. Bosan karena tidak ada yang bisa dilakukan, aku mengeluarkan ponselku dan menyibukkan diri dengan berbagai aplikasi di sana. Sedikit terhibur membaca twit terbaru Mae Ri tentang kebodohan kekasihnya.

“Aku punya kejutan untukmu.”

Mendengar suara Wook Gi, refleks aku mengangkat wajah dan menatapnya. Bingung, tentu saja. Dia punya kejutan untukku? Dan yah, kuakui… seringai tipis di bibirnya membuat perasaanku jadi tidak nyaman.

“Apa itu?”

Wook Gi tidak menjawab, ia hanya menunduk sebentar untuk meraih ranselnya yang ia letakkan di sebelah kursi dan mencari-cari sesuatu di sana. Jujur, sejak awal aku sudah curiga karena tidak biasanya ia sampai membawa-bawa ransel sebesar itu hanya untuk mencari obyek foto.

“Sebenarnya aku ingin menunjukkannya tiga hari yang lalu. Tapi karena tidak menemukan kesempatan dan alasan bertemu, terpaksa kutunda,” katanya sambil lalu, seolah semua itu tidak membuat rasa penasaranku semakin meningkat.

Jadi, dia sengaja mencari alasan untuk bisa bertemu denganku? Sebenarnya, kejutan apa yang disiapkannya?

Astaga! Aku memekik dan langsung meraih kertas foto berukuran besar yang disodorkan Wook Gi padaku. Secepat kilat, kurobek foto itu menjadi kecil-kecil. Kudengar Wook Gi terbahak di tengah kekesalanku.

Ya, itu fotoku kemarin. Saat di kedai barbecue sepulang dari menghadiri festival Hwaseong. Di foto itu, aku terlihat luar biasa menyedihkan dengan mulut menganga dan mata melebar. Sedangkan rambutku sangat berantakan, dan wajahku kelihatan berminyak karena seharian belum mandi. Menyebalkan! Inikah yang disebutnya kejutan?

“Robek saja. Aku masih memiliki softcopy-nya.”

Sial! Dia menang lagi. Desah pasrah otomatis meluncur dari tenggorokanku. “Baiklah.” Aku berkata dengan nada menyerah. “Wook Gi Oppa, kau baik sekali. Jadi tolong hapus foto itu di foldermu,” kataku, dengan suara direndah-rendahkan. Membuang jauh-jauh, rasa maluku.

Lagi. Wook Gi tertawa, kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya. Sampai-sampai aku harus menutupi wajahku dengan tas karena malu menjadi pusat perhatian.

“Apa? Bisakah kau mengatakannya lebih keras?”

Dengan kesal, aku mendengus. “Wook Gi Oppa! Puas?”

Wook Gi menyodorkan jempolnya padaku seraya berkata, “Bagus,” seolah aku anak kecil yang baru saja membuat orangtuanya bangga karena mendapat juara pertama di kelasnya. Ada senyum puas tersungging di bibir tipisnya yang menawan. Dan sialnya, senyum itu berhasil membangkitkan gajah yang sejak lama bersemayam di perutku.

 

[1] Pakaian khas Korea

[2] Pita yang mengikat rambut atau kepang bagi seorang gadis pada jaman Joseon.

[3] Paman/Tuan

[4] Jenis makanan China yaitu mie saus pasta kacang kedelai hitam.

One thought on “[OriFict] Second Door -Chapter 9-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s