[OriFict] Second Door -Chapter 8-

CHAPTER 8

 

 Second Door

 

 

Terkadang hidup menjadi lebih rumit dari apa yang pernah kita bayangkan. Di suatu masa Tuhan dapat memberikan senyum dan tawa bahagia, namun di saat lain tidak ada yang bisa menghindarkan kita dari isak tangis yang mengancam. Memang, semua itu misteri Tuhan. Tidak ada yang tahu kapan berada di atas dan kapan harus bersiap-siap untuk yang terburuk. Kita manusia, hanya perlu menjalankannya dengan baik seperti aktor dalam sebuah pementasan drama. Siapa mampu menjadi yang terbaik, layak mendapat penghargaan. Dan yang terburuk, berharaplah untuk tidak dilupakan.

Tentu saja, aku berharap menjadi sosok yang mendapat predikat Daesang[1] dari Tuhan. Oh ya, pasti itu tidak akan mudah. Ada banyak rintangan yang harus kulalui seperti halnya yang dikatakan appa saat aku kecil dulu, bahwa untuk menjadi yang terbaik tidak bisa instan, semuanya membutuhkan proses yang berat dan berliku. Bila salah satu dari kita menolak proses, jangan harap dapat menikmati hasil terbaik.

Seminggu berlalu semenjak Jong Hee pergi dari rumah. Dan eomma benar-benar menjalankan niatnya dengan tidak menyebut-nyebut nama Jong Hee lagi sekalipun aku dan Min Hee sudah sangat khawatir dengan keberadaannya. Ponsel Jong Hee mati. Beberapa teman Jong Hee yang kuketahui dekat dengannya juga menyatakan ketidaktahuan mereka. Entah itu hanya berpura-pura atau memang benar-benar tidak mengetahuinya. Aku tidak tahu.

Sialnya, saat beberapa hari lalu kuceritakan semua yang menimpa Jong Hee pada Mae Ri, dengan harapan dia dapat membantuku mencari solusi. Mae Ri malah memintaku melapor ke kantor polisi agar mereka memasukkan Jong Hee ke daftar orang hilang. Gila! Hey, tentu saja aku sadar maksud Mae Ri yang sesungguhnya agar aku dapat bertemu lagi dengan Seung Ho. Dia melakukan itu setelah mendengar cerita yang sebenarnya tentang hubunganku dengan Wook Gi, yang hanya sebatas teman.

Hah… sepertinya, cara terakhir yang paling tepat untuk mengetahui keberadaan Jong Hee adalah dengan datang langsung ke kampusnya. Setidaknya, mendatangi tempat latihan ROTC yang sudah tentu menjadi tempat nongkrongnya sehari-hari. Dengan begitu, dia tidak akan bisa mengelak lagi. Hanya saja, aku tidak tahu di mana tepatnya dan kapan mereka berlatih.

Berbekal niat dan tekad yang sebenarnya tidak sekuat baja, aku melangkahkan kakiku di Kyonggi untuk mencari keberadaan Jong Hee. Memang agak sulit bila mengingat betapa luas kampus ini dan aku juga tidak pernah menjalani kuliah di sini. Namun, bila tidak dicoba… siapa yang bisa memastikan aku akan berhasil atau tidak?

Kuhentikan langkah di depan monumen simbol universitas Kyonggi yang terbuat dari logam mengilat dengan pola rumit yang cantik. Suasana masih sepi ketika aku tiba. Hanya ada beberapa orang mahasiswa yang tengah sibuk mengobrol dalam kelompok-kelompok kecil di tangga pada sebuah gedung bergaya melingkar. Aku mendesah pelan. Sejenak memandangi bangunan megah berarsitektur unik di hadapanku.

Aku harus bertanya. Ya, setidaknya mereka pasti tahu di mana gedung ROTC di kampus ini atau kalau aku beruntung, mereka bisa memberitahuku di mana Jong Hee berada.

Eonnie!

Mataku menyipit bingung dan terpaksa menoleh ketika kurasakan seseorang menepuk bahuku pelan. “Astaga! Neo Ra.”

Ya, itu dia. Oh, Tuhan begitu baik padaku.

“Ternyata benar kau.” Gadis itu tertawa. “Ada maksud apa kau datang ke Kyonggi?” Neo Ra memiringkan sedikit kepalanya sembari tersenyum. Manis. Ia tampak santai dengan sweater abu-abu dan jeans hitam panjangnya. Sedangkan rambut hitam sebahunya ia biarkan tergerai tertiup angin. “Jangan bilang kau akan melanjutkan kuliah spesialis di kampus ini.”

Tsk, melanjutkan kuliah? Jong Hee lebih membutuhkan biaya daripada aku. Biarlah untuk saat ini aku bekerja dulu. Eomma sudah cukup membanting tulang untuk membiayai kuliahku dulu. Beruntung saat itu keluarga Jang Hyuk Oppa bersedia membantu, bila tidak… mungkin aku hanya harus puas sampai lulus SMA.

“Syukurlah aku bertemu denganmu,” balasku riang dan aku bisa melihat kerutan bingung di kening Neo Ra. “Jong Hee. Aku mencarinya. Bisakah kau membantuku?”

“Oh?” Mata kecil Neo Ra melebar. Untuk sejenak bisa kulihat perubahan raut wajahnya dari bingung, tegang dan kembali menjadi ramah. “M-maksud, Eonnie?”

“Aku terkejut Min Hee tidak menceritakan apa-apa padamu.” Kerutan di kening Neo Ra semakin dalam. Melihatnya tetap diam, aku kembali melanjutkan. “Seminggu yang lalu Jong Hee kabur dari rumah.” Aku berhenti sejenak ketika kurasakan tangan Neo Ra menarik lenganku. Ia membawaku ke sebuah kursi panjang di antara rerumputan hijau dan rumpun kuning daffodil yang cantik,  memintaku duduk di sana.

“Seminggu ini aku disibukkan dengan Ujian Tengah Semester. Jadi belum sempat memberi les untuk Min Hee.”

Oh, pantas saja. Tidak mungkin Min Hee diam tanpa bercerita apapun tentang Jong Hee pada Neo Ra. Padahal suasana di rumah sudah memanas sejak minggu lalu.

“Apa Eonnie sudah tahu di mana dia berada?”

Aku menggeleng muram. “Kalau aku tahu, tidak mungkin aku repot-repot datang ke mari untuk mencarinya.”

Kudengar helaan napas Neo Ra diikuti timbulnya asap tipis yang menandakan betapa dingin cuaca hari ini. “Sebenarnya, dua hari yang lalu aku tidak sengaja bertemu dengannya di perpustakaan. Saat itu aku sedang mempersiapkan materi untuk bahan ujianku.”

“Benarkah?” Aku langsung menegakkan tubuh dan menatap Neo Ra serius. “Apa dia menanyakan sesuatu?” tanyaku penuh harap. “Atau setidaknya, menyinggung tentang kami?”

Kali ini Neo Ra menggeleng. Ada raut kesal di wajahnya ketika menambahkan. “Dari dulu hingga sekarang, Jong Hee tidak pernah menganggapku ada.”

Aku mendesah kecewa. Kutepuk bahu Neo Ra pelan. “Jangan bicara begitu.”

“Tapi itu benar, Eonnie.”

Aku tersenyum tipis, menyadari semburat merah mewarnai pipi Neo Ra. Aku yakin rona merah itu muncul bukan karena cuaca dingin. Oh, ya. Berarti memang benar apa yang dikatakan Min Hee hari itu. Dari gelagatnya, sepertinya Neo Ra memang menyimpan perasaan untuk Jong Hee. Hanya saja… ah, entahlah! Yang kutahu Jong Hee memang hampir selalu bersikap dingin pada perempuan manapun kecuali anggota keluarganya.

“Ehm… baiklah. Anggap saja begitu, tapi setidaknya, kau masih bisa bertemu Jong Hee.”

“Kalau aku tahu dia pergi dari rumah. Pasti aku sudah menyeretnya agar kembali.”

Spontan aku tergelak mendengar gerutuan Neo Ra yang walaupun diucapkan dengan suara sepelan mungkin, tapi mustahil bagiku bila tidak mendengarnya dalam jarak sedekat ini. Seringai tipis tersungging di bibirku ketika sebuah rencana muncul seperti ada lampu yang menyala di otakku. “Neo Ra-ya?”

“Eoh?” Neo Ra mengangkat wajahnya. Menatapku. Sementara rona di wajahnya memekat. Ia pasti malu menyadari aku mendengar gerutuannya.

“Maukah kau membantuku?”

Neo Ra terkejut. Aku berani bersumpah melihat bibir gadis itu bergetar ketika mengulang. “Mem-membantumu?”

“Kumohon!” balasku sembari mengangguk.

Dia diam sebentar. Menatapku bingung. “Sebenarnya aku ingin membantumu, Eonnie. Tapi kau tahu dia—“

“Hanya kau yang bisa melakukannya,” selaku cepat. Sengaja memperdengarkan nada memohon dalam suaraku.

Sekali lagi kudengar Neo Ra menghela napas, sejurus kemudian senyum tersungging di wajah manis Neo Ra. “Walaupun aku belum mengerti apa alasanmu melakukan ini. Tapi demi Min Hee, aku akan membantumu, Eonnie.” Neo Ra memperlebar senyum di bibirnya. “Katakan padaku, apa yang bisa kulakukan?”

Bagus! Aku tidak bisa menahan senyum puas tersungging di bibirku. Setidaknya aku bisa membagi sedikit bebanku dengan orang lain. Dan semoga saja rencanaku berjalan dengan baik.

 

***

 

Selepas dari Kyonggi dan berbincang dengan Neo Ra tentang apa yang harus kami lakukan untuk membawa Jong Hee kembali, aku memutuskan mampir ke minimarket sekedar untuk menghabiskan waktu. Rasanya malas berada di rumah dalam situasi seperti ini. Eomma memang tidak pernah mengungkit tentang Jong Hee lagi dan membiarkan masalah itu seolah mengendap begitu saja. Tapi, bila aku menghabiskan sebagian besar waktuku di rumah—karena hari ini sedang libur—bisa dipastikan eomma akan kembali mengomel masalah jodoh, jodoh, dan jodoh.

Aku kesal setiap kali eomma menceramahiku tentang bagaimana aku seharusnya bersikap di depan lelaki yang dijodohkannya denganku. Padahal aku sangat benci dipaksa. Sebaik apapun lelaki yang dikenalkan eomma padaku, tetap saja hatiku tidak bisa menerimanya.

Semalam aku nyaris jengah ketika sekali lagi eomma menyodorkan foto seorang pria padaku. Katanya pria itu baik. Putra sahabat karibnya yang sudah lama hilang kontak, dan beberapa hari lalu mereka bertemu lagi karena suatu dan lain hal. Oh, tentu saja aku menolak. Dalam hati bertanya-tanya, sebenarnya berapa banyak anak sahabat eomma yang laki-laki? Kenapa mereka seolah tidak pernah habis? Menyebalkan!

Kuraih keranjang belanjaan berwarna merah yang disediakan di dekat pintu masuk, dan mulai mengingat-ingat barang apa saja yang harus kubeli. Aku ingat pasta gigi di rumah hanya tinggal setengah, tissu wajah, sabun cuci, serbuk cabe, ramyun—oh! “Maaf!”

Cepat, aku membungkuk dan meraih beberapa barang belanjaan yang berserakan di lantai. Saking fokusnya memilih pasta gigi, sampai-sampai aku tidak sengaja menabrak seseorang di samping kiriku.

Astaga! Dia…

“Tidak kusangka kita bertemu lagi di sini.”

Jung Seung Ho. Si detektif aneh dan nyentrik itu. Lebih tepatnya pria yang berpotensi membuatku sakit kepala saking gilanya. Sial! Padahal aku berharap kemarin adalah pertemuan terakhirku dengannya.

“Bagaimana kabarmu, Song Eun Hee-ssi?” Dia tersenyum lebar hingga sepasang mata berkantung hitam miliknya menyipit.

“Baik,” balasku malas. “Aku permisi dulu!”

“Eh, tunggu!” Ia menahan lenganku dan dengan cepat pula kutepis cekalannya. “Tidak bisakah kita mengobrol lebih lama? Atau setidaknya, kita bisa minum kopi bersama-sama.”

“Aku tidak suka kopi,” hardikku.

Aku sadar, mungkin kata-kataku terlalu kasar padanya. Tapi, ah… sudahlah! Aku hanya tidak suka mengingat sikapnya saat itu, yang bertingkah seolah-olah aku ini miliknya seorang. Padahal malam itu kami baru saja bertemu. Bagaimana bila nanti aku menjadi kekasihnya? Bisa kupastikan hidupku akan terpenjara di dalam rumah.

“Bagaimana kalau es krim? Atau… kau suka soju, aku tahu tempat yang—”

“Seung Ho-ssi,” selaku dingin. “Sebagai detektif, seharusnya kau mengerti bagaimana gelagat seorang gadis saat ia tidak menyukaimu. Jadi, tolong jangan ganggu aku!”

Dia akhirnya diam dan hanya menatapku. Keheningan canggung itu pecah ketika ia bersuara. “Ya, aku tahu itu. Bahkan alasannya pun aku mengerti meski kau tidak pernah mengatakannya.”

Aku terpaksa menunduk menghindari tatapannya yang dipenuhi sorot terluka. Biar bagaimanapun, dia tidak pantas disakiti hanya karena aku tidak bisa membalas perasaannya.

“Tapi justru karena itu, aku memutuskan untuk mengejarmu. Aku ingin membuatmu yakin bahwa kau tidak membutuhkan kenangan untuk bisa tersenyum, karena masa depanmu ada di sini. Di hadapanmu.”

“Seung Ho-ssi—“

“Jadi, apapun usahamu menghindariku. Tidak akan ada gunanya.”

Aku hanya bisa mengerjap menatap senyum tipis yang tersungging di bibir pemuda itu. Dalam hati bertanya-tanya, bagaimana ia bisa begitu yakin aku akan menerima perasaannya?

Masa depanku? Demi langit dan bumi, tolong sadarkan dia!

 

[1] Kemenangan besar.

6 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 8-

  1. Owhh.. detektif gilaa…beneran saarap dia.
    Karna masa depanmu ada dihadapanmu.haa gubraakkkk…😀
    Mungkin klow Yoo Seung Ho yg skrang wamil bisa dipertimbangkan, lhah ini Jung. #Abaikan
    Semangat yaah, ditunggu og lanjutannya, maap baru coment!!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s