[OriFict] Second Door -Chapter 7-

CHAPTER 7

 

Second Door

 

 

“Kenapa kau menyukaiku?” Pertanyaan itu diulang untuk yang ke sekian kalinya karena aku terus saja menolak menjawab. Kurasakan sepasang lengan menahan bahuku sebelum aku sempat berdiri. “Kau mau ke mana? Jawab dulu!”

Aku mendengus. Kupikir dia akan menyerah begitu saja. “Apa itu penting?”

Jang Hyuk Oppa mengangguk yakin. “Tentu saja. Segala sesuatu memiliki alasan. Pasti kau juga memiliki alasan untuk mencintaiku,” katanya tenang, sementara seringai tipis terlihat jelas di wajahnya. Ya, selain baik, ia juga sangat suka menggodaku. “Sekarang katakan padaku, apa alasanmu menyukaiku? Apa karena aku tampan?”

Nah, lihat! Dia mulai lagi. “Ya, kau memang tampan. Bahkan luar biasa tampan. Tapi jangan lupa, banyak juga lelaki yang lebih tampan darimu di luaran sana,” ejekku dan dia tertawa.

“Maka dari itu, aku bertanya. Kenapa gadis kecilku ini malah menjatuhkan pilihan padaku?” Dia menaikkan salah satu alisnya, menatapku penuh minat. “Aku pasti memiliki nilai lebih di matamu, iya kan?”

Kuletakkan kembali handuk dan peralatan mandiku, lalu membelaikan tanganku ke sisi wajahnya yang tampan meski ia belum mandi setelah lari pagi bersama-sama. Titik-titik keringat di kening dan wajahnya membasahi telapak tanganku.

Bukan hanya lebih, ia bernilai segalanya bagiku. Tapi aku tidak mau mengatakan itu, hal seperti itu terdengar terlalu berlebihan. Setidaknya bagiku.

“Hatiku bukannya memilihmu,” kataku lambat-lambat. “Karena cinta bukan pilihan, dia bisa datang pada siapapun, kapan pun dan di mana pun tanpa disadari.” Senyumku mengembang selebar-lebarnya selagi mengatakan itu. “Jadi, kalau kau tanya alasanku mengapa aku menyukaimu. Aku tidak mungkin bisa menjawabnya karena hal terbaik itu, adalah mencintai seseorang tanpa alasan. Seperti halnya Orangtua yang mencintai anaknya tanpa memperhitungkan anak itu pantas dicintai atau tidak.”

Dia melongo untuk sesaat, dan tidak lama setelahnya, aku merasakan rambutku diacak-acak penuh sayang. “Sejak kapan kekasihku yang pemarah dan bodoh jadi bijak begini?”

Mendengus, kutinju dadanya yang keras dan hangat. “Sejak kau memaksaku menjawab pertanyaan tidak pentingmu itu.”

Dia lagi-lagi tertawa, lalu memencet hidungku pelan. Sepasang tangannya yang lebar kemudian menangkup wajahku, mengirimkan sensasi menyenangkan ke sekujur tubuhku.

“Ya sudah. Mandi sana! Nanti kita terlambat ke toko. Banyak yang harus kubeli sebelum kembali ke Yeonpyeong.”

Mendadak aku merasa sedih. Sebulan cepat sekali berlalu, dan besok dia sudah harus kembali meninggalkanku. Betapa tidak nyamannya bila harus berjauhan dengannya dan kami hanya bisa berkirim surat untuk berkomunikasi. Prajurit-prajurit itu tidak diijinkan menggunakan ponsel. Mereka hanya diijinkan menghubungi keluarga ketika akhir pekan tiba, melalui telepon yang disediakan pihak militer.

“Tidak bisakah kau menunda kepergianmu?” Aku memberanikan diri memohon.

Sadar, bahwa pembicaraan ini akan berubah menjadi isak tangis. Jang Hyuk Oppa langsung menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya membelai punggungku dengan lembut. Tubuhku merinding nyaman ketika kurasakan hangat bibirnya mengecup keningku. Berlama-lama, menghirup aroma rambutku.

“Aku akan kembali, tenang saja.”

“Kau janji?”

Dia melepas pelukannya tanpa menjawab. Matanya yang hitam seperti langit tengah malam tanpa bintang, menatapku penuh kasih. Sementara bibirnya yang penuh, menyunggingkan senyum sayang. Aku tahu dia juga enggan pergi, tapi menjadi tentara yang membela negara sudah menjadi panggilan hidupnya. Sama halnya dengan profesi dokter bagiku. Bagaimanapun beratnya, pasti akan dilakoninya.

“Bagaimana kalau hari ini kita makan es krim di tempat biasa?”

Kriiing…!!!

Aku tersentak bangun. Bayangan Jang Hyuk Oppa seketika memudar. Memang, latarnya masih sama. Di kamarku. Kamar bernuansa putih dan cokelat yang selalu berantakan. Tapi itu cuma mimpi. Seperti biasanya. Sial! Aku terlampau merindukannya sampai-sampai hampir setiap malam dia selalu hadir di mimpiku.

“… Ya, pergi saja! Anggap kau tidak pernah memilikiku sebagai ibumu!”

Samar, kudengar teriakan eomma di luar. Aku menghela napas bingung. Ada apa lagi kali ini? Tidak bisakah rumah ini tenang sebentar saja? Ini bahkan masih pagi dan mereka sudah bertengkar seperti tidak mengenal waktu.

Sembari menggeliat malas, aku beranjak dari tempat tidur. Pelan-pelan melangkah ke pintu dan membuka kenopnya. Pemandangan Jong Hee sedang memunggungi eomma yang kini duduk di sisi meja makan menyambutku. Jong Hee tidak berkata apa-apa, selain membenahi ranselnya dan memakai sneakers abu-abu miliknya di foyer.

“Kau mau ke mana?” tanyaku serak dan Jong Hee menoleh.

“Aku sudah tidak diinginkan lagi di sini. Sebaiknya aku pergi.“

“Jong Hee—”

“Tidak perlu mencegahnya!” Suara eomma menyelaku. Kualihkan tatapanku pada eomma yang kini sudah beranjak dari duduknya. “Mulai sekarang, dia bukan lagi anggota keluarga ini.”

Eomma! Bisakah kau—“

Debaman pintu depan membuatku terdiam. Seperti ada sebuah tangan besar yang meninju dadaku begitu kuat. Sakit. Jong Hee benar-benar pergi. Ia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal pada kami.

Demi Tuhan! Tidak bisakah mereka berdamai tanpa harus ada yang pergi lagi dari rumah ini?

Eomma, yang kau lakukan ini justru tidak akan membuat perubahan,” ungkapku sebelum eomma menutup pintu kamarnya. Ya, aku memberanikan diri bersuara, meski hatiku seperti tercabik-cabik. “Aku tahu maksud Eomma baik. Tapi Jong Hee adalah pribadi yang keras kepala. Kalau kau melawannya dengan kekerasan juga, dia akan semakin teguh dengan pilihannya. Sebagaimana batu, bila dilawan dengan batu juga, bukannya menyatu, tapi justru akan terpental sejauh-jauhnya.”

“Tidak perlu menasihatiku!” Eomma memutar tubuhnya menatapku. Ada kepedihan di sorot matanya, walau ia berusaha keras untuk menyembunyikan hal itu di bawah topeng ketidakpeduliannya. “Aku tidak peduli lagi apa yang akan dilakukannya. Sebaiknya, jangan ungkit soal dirinya lagi di hadapanku.”

Aku mendesah bingung tepat ketika eomma masuk ke kamar dan membanting pintunya cukup keras. Semuanya berakhir. Ya, berakhir.

Appa, apa yang harus kulakukan untuk menyatukan keluarga ini lagi? Sungguh menyakitkan menyaksikan orang-orang yang kau cintai bertengkar dan tercerai-berai. Oh, semua orang dengan kekeraskepalaannya…

Eonnie… aku lapar!”

Astaga! Aku tersentak merasakan tangan kecil menarik lenganku. Min Hee. Dia menatapku dengan mata kopinya yang ketakutan.

“Aku lapar. Ingin makan sate ikan.” Dia kembali merengek ketika aku tidak bereaksi apa-apa.

Menghela napas pelan, aku berjongkok. Aku tahu Min Hee pasti terguncang menyaksikan pertengkaran eomma dengan Jong Hee. Jadi ia memutuskan untuk mencari pengalihan di luar rumah.

“Baiklah. Aku mandi dulu. Sebentar lagi kita jalan-jalan.”

Min Hee mengangguk patuh. Lalu duduk diam di sisi meja makan. Ia bahkan tak menunjukkan kegembiraan seperti biasa, setiap kali kuajak jalan-jalan ke luar rumah. Miris. Anak sekecil Min Hee harus mengalami semua kejadian ini di saat teman-teman seusianya masih asyik memikirkan akan bermain apa esok hari. Aku hanya berharap, semua ini tidak berpengaruh buruk terhadap perkembangan kepribadiannya dan juga… kesehatannya.

 

***

 

Aku meletakkan tas tanganku di loker sembari mendesah. Suasana hatiku masih buruk mengingat pertengkaran eomma dan Jong Hee tadi pagi. Setelah menenangkan Min Hee di taman dan mengajaknya bermain-main, aku berangkat ke rumah sakit karena harus bertugas. Sekarang pikiranku malah kacau. Otakku dipenuhi dengan rencana-rencana yang mungkin bisa kulakukan untuk membujuk Jong Hee agar bersedia kembali ke rumah. Namun entahlah, tidak ada satu pun di antara rencana-rencana itu yang bisa kulakukan. Aku seperti menemui jalan buntu. Sifat keras eomma dan Jong Hee semakin memperparah keadaan. Seandainya saja salah seorang di antara mereka mau berdamai, mungkin kejadiannya tidak akan memburuk.

“Sepertinya kencanmu kemarin tidak berjalan lancar, bila dilihat dari wajahmu yang tertekuk seperti pakaian tidak digosok.”

Mae Ri. Ia baru saja memasuki ruang ganti. Dan seperti biasa, selalu ikut campur. Tapi… kencan? Dari mana sebenarnya dia mendapat asumsi bodoh itu?

Aku memberinya tatapan bingung dan Mae Ri malah meletakkan satu tangannya di dagu sedangkan tangan lainnya ia lipat di depan dada. Mengamatiku dengan saksama.

“Jangan pura-pura bodoh!” dengusnya santai, seraya melepas jas putih yang dikenakannya. Mae Ri baru usai dinas pagi, dan aku akan melanjutkan di jam siang hingga jam sembilan malam nanti.

“Aku memang tidak mengerti apa maksudmu,” sergahku cepat. Pura-pura tidak peduli pada dengusannya yang terdengar semakin keras.

“Hyo Rin mengatakannya padaku.”

Oh, sial! Mendadak, kurasakan pipiku memanas. Ini pasti soal janji temuku dengan Wook Gi hari Minggu kemarin. “Mae Ri—“

“Apa kau masih bisa menyangkalnya?” Kini ia menumpukan sikunya di lokerku. Mencegahku untuk menutup pintu dan pergi meninggalkannya. “Apa kau ingin aku menggunakan alat pendeteksi kebohongan agar kau mau jujur padaku?”

Oh, dia terlalu banyak bergaul dengan kekasih polisinya itu. Walau merasa sebal karena keingintahuannya yang berlebihan, aku tidak mampu menghilangkan perasaan bersalahku mendapati raut terluka Mae Ri. Dia pasti kesal menyadari kebohonganku saat festival Hwaseong. Dan yeah, tentu saja aku tak bisa mengelak lagi.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk—“

“Katakan siapa dia? Kenapa kau tidak pernah cerita padaku? Kalau kau mau jujur, mungkin kita malah bisa double date dengan kekasih barumu itu,” tuntut Mae Ri dan itu membuat beban rasa bersalah di hatiku semakin menguat.

Tapi, kekasihku? Oh, tidak, tidak, tidak. Hyo Rin terlalu banyak menambahkan bumbu dalam ceritanya. “Dia bukan kekasihku!” Aku terpaksa berteriak dan sedetik kemudian, menyesalinya karena beberapa teman dokter menatap kami curiga. “Kita bicara nanti saja.” Kututup lokerku dan dengan cepat menggunakan jas putih yang sebelumnya kusampirkan di pundak.

“Baiklah. Besok pagi kutunggu di kafe biasa.” Tawanya semakin lebar ketika melanjutkan. “Anggap saja kau mentraktirku untuk kabar bahagia ini, hmm?”

Kabar bahagia?

“Aissh…” Aku menggerutu sebal. Dia terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. “Baiklah! Pergi sana! Kau membuat hidupku semakin rumit saja,” keluhku dan Mae Ri malah tertawa puas.

“Makanya, jangan coba-coba membohongi sahabat terbaikmu ini.”

Aku tidak menjawab dan hanya menyibukkan diri dengan beberapa catatan kesehatan pasien yang tergeletak di atas meja. Sepertinya pagi tadi pasien cukup ramai.

“Oh ya.” Terpaksa kuangkat kepalaku menatap Mae Ri ketika mendengar ia sekali lagi bersuara.

“Ada apa lagi?” tanyaku malas. Lalu kembali memusatkan perhatian pada kertas-kertas itu.

“Tadi pagi aku bertemu Jong Hee di bus saat akan berangkat ke rumah sakit.” Ucapan Mae Ri kali ini berhasil membuatku mengalihkan perhatian padanya. Bahkan aku sampai menahan napas menantikan informasi apa lagi yang akan diberikan Mae Ri tentang Jong Hee. Mungkinkah Jong Hee mengatakan sesuatu pada sahabatku itu? Entahlah.

“Benarkah?” tanyaku dan Mae Ri mengangguk riang.

“Kau tahu? Aku sempat tidak mengenalinya dengan seragam militer itu.” Mae Ri tertawa renyah dengan sepasang mata berbinar. “Tapi jujur, adikmu tampan juga. Dia terlihat sangat gagah dan memesona. Seandainya aku belum memiliki Hyun Jae…”

Demi semua lubang di tubuh SpongeBob! Kugelengkan kepalaku jengah. Kupikir dia akan memberiku informasi yang bisa kugunakan untuk menemukan keberadaan Jong Hee. Tapi lagi-lagi hanya soal penampilan.

“Sejak kapan kau menyukai lelaki tampan?” ejekku enteng hingga kudengar Mae Ri mencibir.

“Siapa bilang aku suka?” Ia menggebrak meja di depanku dengan gaya kesal. “Ya, kau memang benar. Aku hanya menyukai lelaki jelek seperti Hyun Jae. Puas kau?”

Tidak tahan lagi, aku terkikik. Bila Mae Ri sudah begini, aku tidak akan bisa marah lagi padanya. Ajaib bukan? Ya, memang. Padahal sedetik sebelumnya kami seperti akan terlibat perang dunia ketiga. Oh, ya. Aku memang melebih-lebihkan.

Obrolan kami terhenti ketika seorang perawat mendorong brangkar dengan pasien kecelakaan terbaring di atasnya. Kepala, kaki dan tangannya terluka parah dengan darah segar menyeruak di mana-mana. Segera aku beranjak, meraih stetoskopku dan menepuk bahu Mae Ri pelan.

“Sampai jumpa besok.”

Mae Ri mengangguk dan tersenyum padaku. “Aku berharap mendapat kabar baik,” katanya riang kemudian melambaikan tangan dan pergi.

Sepeninggal Mae Ri, aku menemukan diri mendesah pasrah.

Jika yang dimaksudkan Mae Ri adalah hubunganku dengan Choi Wook Gi, harapannya sia-sia saja. Ya, karena pada kenyataannya, kami hanya berteman. Tidak lebih. Dan anehnya, kenapa aku harus merasa murung?

2 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 7-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s