[OriFict] Second Door -Chapter 6-

CHAPTER 6

 

 

Second Door

 

 

Seperti dugaanku, jalanan Paldal sudah ramai ketika aku tiba. Banyak pengunjung yang datang dari berbagai penjuru kota, memadati halaman depan benteng Hwaseong hingga aku harus berdesakan saat melewatinya. Padahal, parade budaya baru akan dimulai sekitar setengah jam lagi.

Beruntung aku memiliki teman yang bekerja di Apotek dekat persimpangan menuju benteng Hwaseong. Jadi, selama menunggu Choi Wook Gi dan sepupunya—Song Jia—aku memilih duduk di kursi panjang depan apotek itu. Menghindar dari keramaian yang membuatku sesak. Jujur, aku tidak terlalu suka keramaian. Saat masih bersama Jang Hyuk Oppa dulu, dia selalu mengerti dan lebih senang membawaku jalan-jalan ke pantai atau mendaki gunung.

Bukan berarti ini pertama kalinya aku menghadiri festival budaya. Selama appa masih hidup, beliau sering mengajakku, eomma dan Jong Hee menghadiri acara-acara seperti ini. Hal itu semata-mata dilakukan appa agar putra-putrinya tidak lantas melupakan sejarah dan budaya bangsa ini.

“Di mana Mae Ri? Biasanya kalian selalu bersama. Seperti kembar siam.”

Shin Hyo Rin. Apoteker pemilik apotek ini. Kami berkenalan dua tahun lalu saat masih praktik kerja bersama di Rumah Sakit kampus. Hyo Rin gadis yang baik. Biasanya pada jam-jam istirahat, Aku, Mae Ri dan dia selalu menyempatkan diri makan bersama. Beberapa bulan lalu ia menikah, dan kini sedang mengandung anak pertamanya.

Benar. Disinggung soal Mae Ri, aku jadi merasa bersalah. Dengan sangat terpaksa kemarin aku berbohong padanya, mengatakan bahwa hari ini harus menemani Min Hee periksa ke dokter. Kalau Mae Ri tahu aku di sini, bisa-bisa dia langsung menusukku dengan pisau bedah.

“Hey, kau mendengarku?”

“Oh? Emm… Mae Ri sedang berkencan dengan kekasihnya.” Aku menjawab, dan memang itu benar.

Hyo Rin tertawa. “Ah, si polisi mesum itu? Mereka masih bersama?”

Spontan aku ikut terbahak. Apa kata Hyo Rin? Polisi mesum? Oh, yeah. Hyun Jae memang terkenal gila. Itu bukan rahasia lagi. Dan anehnya, semakin gila Hyun Jae, semakin cinta pula Mae Ri padanya. Terbukti mereka bisa bertahan selama 3 tahun bersama.

“Tentu saja, dia kan tidak sepertimu. Yang berpacaran dan menikah dengan lelaki berbeda,” sindirku.

Hyo Rin tergelak, nampak sama sekali tidak terganggu dengan ucapanku. “Sepertinya benar kalau Hyun Jae punya ilmu sihir hingga membuat Mae Ri tidak bisa lepas darinya.”

Lagi-lagi aku tertawa. “Yeah, begitulah.”

“Lalu bagaimana denganmu? Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini sendirian? Tidak mungkin kalau kau mau menyaksikan acara ini tanpa teman, kan?”

Aku lantas melirik Hyo Rin yang kini memberiku tatapan penasaran. Setengah tergelak kutunjuk dirinya dan berkata. “Lalu, kau ini apa? Bukan temanku?”

“Ah, jangan menipuku!” Hyo Rin melambaikan tangannya di depanku seolah ia mengerti apa yang kupikirkan. “Sangat mengherankan jika ‘gadis sepertimu’ tiba-tiba memutuskan menemuiku di tengah cuaca yang cerah ini. Katakan saja, kau juga sedang menunggu kekasihmu. Iya, kan?”

Gadis sepertiku? Ah, Hyo Rin terlalu berlebihan! Dia tidak perlu menekankan pada dua kata itu, aku sudah tahu kalau diriku memang bukan seseorang yang suka keluar rumah tanpa tujuan yang jelas.

“Ehm… tidak benar seperti itu,” balasku canggung sembari melarikan tatapanku ke mana-mana. Kenapa aku harus merasa begini kikuk? Bukankah memang tidak ada apa-apa antara aku dan lelaki itu? Lagi pula… hari ini aku tidak hanya pergi berdua dengannya. Ada Song Jia bersama kami.

“Eun Hee-ya?!”

“Oh, kami hanya berteman. Sungguh!”

Hyo Rin tergelak, nampak terhibur dengan tingkahku. “Tidak perlu ngotot begitu. Aku hanya bertanya.”

Sial. Aku salah bicara! Sepertinya bantahanku semakin membuatnya penasaran. Tidak nyaman terus dipojokkan, aku pura-pura sibuk memerhatikan kerumunan orang di pinggir jalan. Satu kelompok tampak asyik mengobrol dan tertawa bersama, sedangkan kelompok lainnya sibuk mengunyah makanan ringan mereka. Ada pula sepasang kekasih yang tidak memedulikan keramaian di sekitarnya.

“Siapa dia, huh? Tampan tidak?” Sekali lagi, Hyo Rin menggodaku. Ia bahkan memberiku senyum khas andalannya. Oh, ya. Hyo Rin memang tidak jauh berbeda dengan Mae Ri. Selalu ingin tahu urusan orang lain. “Apa aku mengenalnya? Dia teman sesama dokter atau—“

“Sudah kukatakan, kami hanya berteman!” selaku jengkel dan Hyo Rin lagi-lagi tertawa.

“Hubunganku dan Min Ho juga awalnya hanya berteman, Eun Hee-ya.”

Aku segera beranjak dari kursi panjang itu. Bila terus menanggapi Hyo Rin, aku yakin pipiku akan berubah semerah tomat. Dan aku tidak mau menemui Wook Gi dalam keadaan seperti itu.

Aku berani bersumpah, Hyo Rin memiliki mulut setajam pisau milik Paman Jang si tukang daging langganan eomma di pasar. Komentar-komentarnya yang walaupun diucapkan dengan nada santai, hampir selalu dapat menusuk tepat di sasaran.

“Oh, baiklah… baiklah. Kau memang masih setia dengan mantan kekasihmu yang sudah meninggal itu,” katanya dengan tawa terhibur. “Tapi tidak ada salahnya untuk membuka hati pada orang lain. Memangnya kau mau hidup sendiri terus?” Aku mendengus menyadari kebenaran dalam kata-katanya.

“Seperti kutipan terkenal dari Alexander Graham Bell ‘When one door closes, another door opens; but we so often look so long and regretfully upon the closed door, that we do not see the ones which open for us.’” Hyo Rin tersenyum lebar setelah mengutip kata-kata dalam bahasa Inggris itu. “Jangan biarkan penyesalan membuatmu kehilangan kesempatan, Eun Hee-ya. Kau harus mempertimbangkan satu pintu yang saat ini tengah terbuka untukmu,” pungkasnya dengan sepasang mata berkilat geli. “Sebelum pintu itu tertutup kembali, dan menghilangkan kesempatanmu untuk mendapatkan kebahagiaan.”

Memang, apa yang dikatakan Hyo Rin benar, tapi terlalu dini untuk mengartikan hubunganku dengan Choi Wook Gi adalah hubungan spesial. Tidak ingin mendapat ceramah panjang lagi, aku berpamitan. “Kalau begitu aku pergi dulu. Mungkin dia tidak bisa menemukanku kalau aku tetap di sini.”

Hyo Rin mengangguk. Senyum geli tertahan di bibirnya yang dihias lipstik berwarna pastel. “Oke, aku juga sedang menunggu jemputan suamiku. Semoga berhasil.”

Semoga berhasil? Apa-apaan dia?

Mengabaikan komentar terakhir Hyo Rin, aku mempercepat langkah. Menembus kerumunan orang yang sedang menunggu di pinggir jalan. Langkahku berhenti tepat di depan benteng Hwaseong. Aku ingat kemarin kita janji bertemu di sini.

Bodoh! Mungkinkah Wook Gi sudah mencariku di sini? Dan aku malah asyik-asyikan ngobrol dengan Hyo Rin. Oh, bagus Song Eun Hee!

“Hey!”

Astaga! Jantungku berdentum kuat seperti akan melompat keluar dari rongganya sewaku merasakan tepukan seseorang di bahuku. “Wook Gi-ssi?” panggilku spontan, antara bingung dan terkejut.

Senyum tipis yang ramah tersungging di bibirnya. Dan aku harus mengakui bahwa hari ini ia tampil luar biasa tampan. Hoodie biru muda yang membalut tubuhnya membuat Wook Gi terlihat lebih cerah.

Sadar hanya ada dia di sini, aku mencoba bertanya. “Di mana Jia?” seraya menyapukan pandanganku ke sekeliling. Mencoba mencari keberadaan gadis itu.

“Oh, Jia baru saja bertemu temannya. Lebih tepatnya, teman chattingnya di dunia maya. Dan yeah, mereka meninggalkanku.” Wook Gi mendengus. “Dia bahkan tidak pernah mengatakannya padaku.”

Aku mengernyit. Bingung, tentu saja. “Teman chatting?”

“Ya, mereka berkenalan lewat SNS[1]. Dan Jia ke sini ternyata juga untuk menepati janji temunya dengan lelaki itu.”

“Eh? Lelaki?”

Wook Gi menggaruk belakang kepalanya sembari terkekeh. “Kau pikir kalau temannya wanita, aku akan rela ditinggalkan begitu saja?”

Demi Neptunus! Dia benar juga. Tentu saja tidak masalah jika Jia bertemu teman wanitanya. Tapi ini lelaki, yang sudah pasti akan membuat Wook Gi tampak seperti diriku bila sedang pergi bersama Mae Ri dan Hyun Jae. Seorang satpam galak!            “Kalau tidak salah tadi namanya Taek Woon. Lee Taek Woon? Ah, entahlah! Yang jelas lelaki itu agak menakutkan,” gumaman pelan Wook Gi otomatis membuatku tergelak, sedetik kemudian ia ikut tertawa denganku. “Aku sungguh-sungguh. Lelaki itu menakutkan. Bagaimana menjelaskannya ya? Dia terlihat seperti… oh, entahlah. Aku merasa ada aura-aura gelap bila menatapnya. Mungkin Hitler pun akan gentar bila berhadapan dengan pria tanpa ekspresi itu.” Wook Gi memasang ekspresi ngeri di wajahnya. “Kalau kau melihatnya sendiri, pasti akan sependapat denganku. Aku sampai berpikir, bagaimana Jia yang polos dan manis bisa bertemu pemuda seperti itu?”

Tawaku semakin keras. Jelas terhibur dengan celotehan Wook Gi yang sepanjang kereta api. “Kau ada-ada saja. Mana mungkin begitu? Pasti hanya perasaanmu saja karena kau kesal ditinggalkan sendirian.”

“Sungguh!” Wook Gi menatapku serius, tidak ada jejak tawa di wajahnya hingga aku terpaksa menghentikan kekehanku.

“Oh, baiklah kalau begitu. Aku percaya padamu,” kataku canggung, kubalas tatapan Wook Gi dengan tidak nyaman. “Jadi… sekarang kita pergi berdua saja?” Pertanyaan bodoh! Ya, ya… berhenti mempermalukan dirimu sendiri, Song Eun Hee!

“Kau keberatan?” Dia balas bertanya, sembari menaikkan salah satu alisnya, menatapku penuh pertimbangan.

Aku berdeham kikuk. Baru saja aku membuka mulut, terdengar musik keras drumband dari jalan raya. Dan di kejauhan, aku dapat melihat puluhan orang berpakaian kerajaan dan membawa-bawa bendera berwarna kuning, merah dan jingga, muncul.

“Oh, lihat! Paradenya dimulai!”

***

 

Pawai budaya telah berakhir. Banyak sekali kumpulan institusi yang ikut serta, baik dari dalam maupun luar negeri. Mulai dari perguruan taekwondo, barongsai, mahasiswa dari berbagai universitas di Suwon, para pelajar asing, hingga pemuda berseragam prajurit masa Josen. Mereka semua menampilkan yang terbaik. Aku bahkan merasakan telingaku pengang saking lamanya mendengar teriakan-teriakan dari sisi kiri dan kananku. Perutku pun mual berada berdesakan dalam banyaknya orang dengan berbagai macam aroma yang mampir di hidungku. Inilah mengapa aku tidak terlalu suka keramaian.

Namun aku mensyukuri keberadaan Wook Gi di sisiku. Ia tidak segan-segan melindungiku dari risiko tergencet di tengah banyaknya orang yang berdesakan. Aku masih ingat, saat seorang lelaki gendut berdiri tepat di sampingku. Lelaki itu terdorong sewaktu segerombolan gadis memaksa berdiri di baris paling depan, hingga aku nyaris saja tersuruk ke aspal jika bukan karena Wook Gi yang segera melindungiku.

Dengan sigap, ia memegang tanganku. Menarikku menjauh dari kerumunan. Bahkan hingga acara usai, ia sama sekali tidak melepaskan tangannya. Seolah, aku akan menghilang jika dia tidak melakukan itu.

Untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, sepanjang hari aku merasa ingin terus tersenyum. Mungkin karena kini hubungan kami semakin akrab. Dari obrolan-obrolan ringan yang tercetus, aku bisa menilai bahwa ia pria baik, suka bercanda dan pekerja keras. Hanya saja, terkadang ia bisa bersikap menyebalkan dengan bercandaannya yang payah. Oh, aku tidak heran. Setiap orang pasti memiliki kekurangan. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Benar, kan?

Bisa dibilang, pertemuan hari ini berjalan lancar. Hanya saja pada saat kami tengah berjalan pulang menuju halte, dengan seenaknya perutku yang manis ini bernyanyi. Rasanya aku ingin mengutuki diri sendiri karena tidak bisa berkutik lagi saat Wook Gi menawariku makan bersama. Dia membawaku ke sebuah kedai barbecue di pinggir jalan dan kini kami sedang duduk berhadapan sembari menunggu daging dalam pemanggangan itu matang.

“Tenang saja, hari ini aku yang traktir,” katanya ceria, seraya membalik daging dengan sumpitnya.

“Jangan katakan kalau kau akan mengungkitnya sebagai utang di kemudian hari.” Aku mencoba berkelakar.

Dia tertawa. Dan seperti yang kubilang, tawanya benar-benar renyah, membuat siapa pun yang mendengarnya juga ingin tertawa bersamanya. “Jangan berprasangka negatif dulu. Apa aku terlihat seperti debt collector[2]?”

Tentu saja tidak. Kau tampan. Tidak mungkin ada debt collector setampan dirimu. Oh, Song Eun Hee… Hentikan!

Wook Gi menyumpit salah satu daging yang sudah matang dan meletakkannya di mangkukku. Di atas nasiku. “Makanlah. Aku tahu kau lapar.”

Aku tidak sanggup menahan dengusan yang keluar dari tenggorokanku. “Oh, ya. Terima kasih atas kedermawananmu.”

Lagi-lagi dia terbahak. Memperdengarkan tawa renyahnya yang selalu mampu membuatku senang. “Kau tahu? Rasanya, untuk saat ini menggodamu menjadi sesuatu yang menyenangkan untukku.”

Ha! “Apa katamu?” Aku melotot horor. Dipikirnya aku ini mainan?

“Nah, lihat! Harusnya aku mengabadikan posemu yang seperti itu.”

“Hey!” Bibirku meruncing marah, hanya untuk mendapati Wook Gi mengeluarkan Canon DSLR-nya dari dalam tas hitam yang sejak tadi dibawanya. Menyebalkan!

Ya, tadi dia memang bercerita tentang hobinya dengan dunia fotografi. Walaupun orangtuanya menentang, Wook Gi tetap melanjutkan impiannya menjadi fotografer handal. Itulah sebabnya ia memilih melarikan diri ke Suwon. Jauh dari pengawasan orangtuanya yang kini tinggal di Seoul. Untuk membuktikan bahwa pilihan karirnya juga mampu menghidupinya dengan baik, saat ini ia tengah mempersiapkan foto-foto terbaik untuk pameran foto pertamanya.

“Berhenti menggodaku!” hardikku jengkel karena dia terus saja membidikkan kameranya hingga aku terpaksa menutup wajahku dengan kedua tangan.

Ketika tidak lagi terdengar tawanya, aku mengira ia sudah berhenti. Pelan, kuturunkan kedua tanganku. Hati-hati. Tapi suara jepretan kamera membuatku membeku.

Sial! Ia berhasil mengambil fotoku!

Tawa Wook Gi meledak, rasanya aku ingin menjitak kepalanya dengan sendok. Namun, alih-alih melakukannya… aku hanya menggeram rendah, seperti kucing yang sedang marah ketika ikan incarannya direbut kucing lain.

“Oh, kau  harus melihat ini. Besok, aku akan mencetaknya dalam ukuran besar.”

“Hey!” Dia lagi-lagi tertawa.

Di sela-sela tawanya, Wook Gi berkata dengan riang. “Coba saja cemberut lagi, dan aku akan mendapat obyek foto menarik.”

Kukatupkan bibir rapat-rapat. Membuang muka ke samping kiriku. Berjuang meredakan kekesalan yang bergemuruh di dalam dadaku. Aku tidak akan membuatnya semakin senang dengan bertingkah seperti anak kecil yang suka merajuk.

“Eun Hee-ssi?”

“Ya—uhuk!” Aku terbatuk dan nyaris tersedak. Terpaksa aku mengunyah dan menelan daging berbungkus daun selada yang dengan seenaknya disuapkan Wook Gi ketika mulutku terbuka, dengan susah payah.

Yang menyebalkan, dia malah terbahak melihatku gelagapan karena perbuatannya. “Maaf, aku lihat kau baru makan satu suap saja. Kasihan perutmu diabaikan terus.”

Berjuang menelan habis daging sekaligus bantahan yang nyaris kulontarkan padanya, aku mencoba untuk tenang. Maksudnya baik. Aku tahu, dan aku menghargainya.

“Apakah… orangtuamu tidak mencarimu?” mulaiku, setelah ia berhenti tertawa. Sebenarnya untuk mengalihkan topik. Karena aku malas bertengkar lagi dengannya.

Ekspresi Wook Gi seketika berubah. Ia memang tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke sepasang mata kelamnya. “Mungkin… mereka menganggap putranya telah mati.”

“Jangan bicara begitu.” Aku menyuap nasi dan daging panggang lagi ke mulutku. Memutuskan untuk menghabiskan makananku secepatnya. “Sejahat-jahatnya orangtua. Tidak mungkin mereka sampai hati berpikir demikian.”

“Kau mencoba menasihatiku?”

“Tidak juga.” Dengusan keras otomatis meluncur dari tenggorokanku. “Untuk apa menasihatimu, bila aku sendiri pun belum benar?”

“Ah, kupikir kau tidak menyadarinya.” Wook Gi menyeringai bodoh. Ada kilat geli yang membayang di sepasang matanya.

Sialan! Aku tahu seharusnya bisa menahan diri dan tidak terpancing emosiku sendiri saat berhadapan dengannya. Tapi aku tidak dapat mencegah mulutku untuk berkata. “Apa katamu?”

Kontan saja dia terbahak. “Jangan marah terus. Nanti kau cepat tua.”

“Yang tua itu aku, lantas kenapa kau yang repot?” balasku ketus, lalu meletakkan sumpit di tanganku ke atas meja. Mendadak malas melanjutkan makan malamku.

Kulihat Wook Gi mengangkat bahu tak peduli. “Aku hanya tidak ingin merasa malu bila harus jalan berdua denganmu lagi.”

Gagasan untuk jalan berdua lagi dengannya, membuat pipiku memanas. Aku tahu ini tidak pantas, tapi aku tidak bisa mencegah diriku sendiri memikirkan kemungkinan bahwa ia menyukaiku. Apa lagi alasannya jika bukan itu?

Tidak, tidak, tidak. Itu tak mungkin terjadi. “Siapa bilang kita akan bertemu lagi?” Aku harus bertepuk tangan untuk diriku sendiri karena mampu menyembunyikan kecanggunganku.

Wook Gi terkejut, dan menampakkan ekspresi terluka. “Oh. Jadi, kau menolakku?”

Menolaknya. Kata itu terus terulang di kepalaku, hingga kurasakan panas di pipiku memekat dan merambat sampai ke telinga.

“M-maksudmu?” Sial! Aku tidak suka kenyataan bahwa diriku hampir selalu merasa canggung dan gugup saat berhadapan dengannya.

Wook Gi menghentikan makannya dan menatapku serius. “Masa kau tidak mengerti yang kubicarakan?”

Aku menggeleng lagi. Tanganku bahkan sudah basah saking groginya. Mungkinkah dugaanku benar bahwa ia menyukaiku? Karena itukah dia patah hati setelah mendengar penolakanku?

Kali ini Wook Gi meletakkan sumpitnya. Memberiku tatapan tidak percaya sembari mendengus. “Sesulit itukah untuk berteman denganmu? Oh, kau terlalu menutup diri, Nona! Pantas saja temanmu tidak banyak.”

Seperti baru saja ditampar, aku langsung menunduk menatap nasiku yang tinggal setengah. Bagus! Aku mempermalukan diriku lagi di hadapannya.

Teman. Ya, benar. Aku memang tidak memiliki banyak teman, entah itu laki-laki atau perempuan. Semua itu karena aku terlalu menutup diri pada siapa pun yang mencoba mendekat. Seperti yang selalu Mae Ri lontarkan padaku, ilmu pergaulanku nol besar. Dan dalam keadaan seperti itu, aku selalu berdalih bahwa aku mungkin memang tidak memiliki kecerdasan bersosialisasi sepertinya.

Hah… betapa menyedihkannya diriku. Dalam pikiranku, aku membayangkan sedang membenturkan kepalaku sendiri ke tembok.

“Kenapa? Makananmu tidak enak?”

“Oh… eh… tidak.” Lagi-lagi kurasakan hawa panas merayapi kedua pipiku. Aku bodoh jika mengira Wook Gi tidak menyadari pipiku yang memerah.

Untuk menutupi kegugupanku, sengaja aku mendengus dan berkata. “Kau mengejekku, huh?”

“Tidak. Kecuali kau merasa demikian.”

Oh, ya. Dan memang benar aku tersindir. Sial! Untuk mengisi keheningan yang menggantung di antara kami, aku mencoba meneruskan makanku. Meski saat ini, rasa daging itu berubah menjadi sekeras batu di kerongkonganku.

“Ngomong-ngomong, kau serius tidak mau berteman denganku?”

Demi Tuhan!

Aku menghentikan makanku, dan melempar tatapan jengah padanya. “Coba kau pikirkan, Wook Gi-ssi,” kataku lambat-lambat. “Kalau memang aku tidak mau berteman denganmu, untuk apa hari ini aku di sini?”

Seringai puas seketika menghiasi wajah tampan Wook Gi. “Kau benar.” Dia memperdengarkan tawa renyah itu lagi, seolah mengerti bahwa aku selalu menyukainya dan berusaha membuatku tidak marah dengan melakukannya.

Aku terkejut sewaktu ia mencondongkan tubuh dan berbisik. “Kalau begitu, beri tahu aku nomor ponselmu.” Seringainya melebar hingga hampir mencapai telinga, ketika melanjutkan. “Aku harus memastikan bahwa aku masih bisa mengontakmu meski kau pergi jauh sekalipun.”

Kalimat terakhirnya berhasil mengundang tawa keluar dari tenggorokanku. “Memangnya kau pikir aku akan pergi ke mana?”

Wook Gi diam. Terlihat merenungkan ucapanku sebelum akhirnya berkata. “Yah, kau benar lagi. Dunia ini bulat, jadi tidak peduli seberapa jauh kau pergi, sama seperti bus sihir, kau segera akan kembali ke tempat di mana kau berada.”

Nyaris saja aku tersedak jika tidak segera menelan habis air dalam mulutku. “Sepertinya kalimat itu tidak asing,” balasku seraya terkikik geli. “Apa kau baru saja mengutip ucapan seseorang dalam drama?”

Tawa pelan meluncur begitu saja ketika Wook Gi menggaruk belakang kepalanya. Kebiasaan yang sepertinya selalu dia lakukan saat merasa canggung. “Yah, kupikir kau tidak akan menyadarinya.” Ia membalik daging di pemanggangan, tapi matanya masih tertuju padaku. “Itu memang salah satu kalimat yang pernah diucapkan Hwang Tae Kyung di You’re Beautiful.”

 

[1] Social Networking Site

[2] Penagih utang

4 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 6-

  1. sepertinya Eun Hee sudah mulai membuka dirinya Lagi… apa itu karna tawa renyah Choi Wook Gi…
    *kriuk..kriuk..

    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s