[OriFict] Second Door -Chapter 5-

CHAPTER 5

 

Second Door

 

“Mengenang masa lalu itu, sama halnya dengan berusaha menyatukan pecahan-pecahan piring. Semakin kita melakukannya, semakin kesal pula karena nyatanya tidak akan memperbaiki apapun.”

Aku mendengus mendengar Mae Ri bersuara. Gadis itu baru saja kembali setelah beberapa saat lalu membeli dua botol air mineral untukku dan dirinya di mesin penjual minuman. “Sejak kapan kau jadi bijak begini?”

“Siapa bilang aku bijak? Aku hanya mengungkap ulang dari apa yang pernah kubaca,” katanya santai, lalu menenggak air mineral dalam botolnya banyak-banyak.

Saat ini aku dan Mae Ri sedang menyantap makan siang di kantin rumah sakit. UGD sedang sepi, syukurlah karena itu artinya penduduk Suwon banyak yang sehat.

“Aku bosan!” Mae Ri menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap ke kejauhan melalui jendela besar di sisi meja kami. “Sudah lama kita tidak jalan-jalan bersama, Eun Hee-ya,” katanya tanpa menatapku.

“Hmm… sepertinya begitu.” Aku mengangguk lalu menyuap sepotong kimbab[1] ke mulutku. Oh, aku terpaksa makan lebih banyak karena sudah berjanji pada eomma akan menambah berat badanku lagi. Aku benar-benar tidak tega mengingat cara eomma menangis di pelukanku beberapa hari lalu. Ia terlihat begitu… menyedihkan.

“Bagaimana kalau lusa kita jalan-jalan? Ke noraebang[2], mungkin? Atau—“

“Aku mau-mau saja asal kau tidak membawa kekasihmu yang gila itu,” selaku tenang. Mengabaikan pelototan Mae Ri yang diarahkannya padaku.

“Aiiishh…” Mae Ri merengut. “Memangnya kenapa kalau dia ikut? Pasti akan menyenangkan kalau beramai-ramai. Dan aku juga bisa memintanya mentraktir kita, bagaimana? Ide bagus, kan?”

Aku mendengus. “Yeah, dan aku akan menjadi satpam galak di antara sepasang kekasih yang berpacaran.”

Mae Ri tergelak, membuatku semakin jengkel. “Kalau masalah itu, tenang saja. Aku bisa meminta Seung Ho—“

“Oh, tidak lagi. Terima kasih!” selaku dingin, setelah menelan habis kimbab dalam mulutku.

Jung Seung Ho. Detektif gila dan aneh itu? Oh, tidak. Tidak. Tidak. Itu ide tergila yang pernah ada! Aku bahkan masih ingat saat pertama dan—semoga untuk—yang terakhir kalinya bertemu dengan Seung Ho, nyaris saja ia membuat kepalaku panas karena sikap protektifnya padaku.

“Tapi Eun Hee-ya, kurasa Seung Ho menyukaimu. Dia tidak akan—“

“Apa katamu?”

Mae Ri langsung diam ketika aku memberinya delikan tajam. “Ah, ayolah. Jangan marah. Aku hanya—“

“Menjalankan keinginan eomma untuk menjodohkanku, begitu?” Aku mencibir. Sepertinya ini tak-tik baru eomma. Dengan memanfaatkan Mae Ri, huh? Bagus sekali!

“Oh, kenapa kau pandai sekali menebak?” Mae Ri pura-pura terkejut. Ia lantas tertawa keras. Tawa yang terdengar aneh di telingaku. “Jangan-jangan kau saudara jauh Edward Cullen—awww!”

Aku tersenyum puas ketika berhasil mencubit lengannya dan kini Mae Ri mengelus permukaan kulitnya yang memerah. “Sekali lagi kau lakukan itu, aku tidak akan mau berteman denganmu lagi,” tandasku dengan nada mengancam, lalu beranjak dari tempat dudukku. Pura-pura marah.

Mae Ri membalasku dengan dengusannya. “Oh, ya. Coba saja. Aku yakin kau tidak akan bisa hidup tanpa sahabatmu yang manis ini.”

Mengabaikan Mae Ri yang berceloteh di belakangku seperti radio rusak, aku terus melangkah tanpa menoleh. Ya, sialnya Mae Ri benar. Walau jauh dari kata manis, memang hanya dia sahabatku satu-satunya selama ini. Menyebalkan!

Malas kembali ke ruangan karena jam istirahat masih berlangsung, aku memilih melarikan diri ke taman. Setidaknya menikmati angin dingin musim gugur untuk sejenak dapat mendinginkan pikiranku.

Sembari melangkah pelan, aku teringat kembali pada kata-kata Mae Ri tadi. Mungkin karena terlalu frustrasi menghadapiku dan berakhir selalu gagal, eomma memanfaatkan Mae Ri untuk membujukku. Dan Mae Ri, yang memang selalu bersekongkol dengan eomma untuk membuat hidupku menjadi semakin sengsara menyetujui usulan gila itu. Sial. Mereka—oh.

Aku berhenti dan terkejut sewaktu mendapati sosok bersweater toska, celana panjang hitam, dan topi baseball yang sewarna dengan celananya, tengah berjalan tidak jauh di depanku. Setelah pertemuan ketiga yang akhirnya membawa kami berkenalan, tidak mungkin aku salah mengenalinya lagi.

Dia… Choi Wook Gi. Meski ada yang berbeda dari penampilan lelaki itu dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya, aku masih dapat mengingat tatapan matanya yang lembut di balik kacamata berbingkai tebal itu. Aku suka penampilannya hari ini. Dengan kacamata itu, ia justru terlihat lebih santai dan terkesan cerdas.

“Oh, Eun Hee-ssi, tidak menyangka bisa bertemu lagi.” Ia memamerkan senyumnya yang menawan. Aku yakin dunia akan terasa begitu indah bila setiap hari dihiasi senyuman seindah dan semanis itu.

Hey, apa yang sebenarnya kupikirkan? Kutendang jauh-jauh pemikiran itu ke dasar terjauh dalam benakku.

Untunglah Wook Gi hanya manusia biasa dan bukan vampir yang bisa membaca pikiran orang lain. Jika tidak, aku pasti sudah sangat malu karena kedapatan memuji ketampanan lelaki itu.

Berdeham canggung untuk menetralkan pikiranku, aku hanya mampu berkata, “Hai.” Oh, sial!

Tidak ingin terlihat lebih bodoh lagi, aku mencoba bersikap wajar dengan bertanya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Ini tempat—”

“Ya, ya, kau benar ini tempat umum. Jangan menjawabku begitu lagi,” selaku dengan wajah masam.

Dia terkekeh pelan, dan aku benci mengakui bahwa aku suka suara tawanya yang renyah. Aku pasti sudah gila, karena menganggap semua yang berasal darinya begitu indah. Bahkan suara kentutnya pun mungkin akan terdengar merdu di telingaku.

“Aku ke mari untuk mengunjungi temanku.”

“Ah!” Aku mengangguk. Mendadak bingung harus berkata apa lagi. Membahas cuaca bukan satu pilihan yang cerdas. Dan aku tidak mau terlihat bodoh di depan pria ini. “Memangnya temanmu dirawat di mana?” tanyaku berbasa-basi, setelah beberapa saat yang hanya dihiasi kesunyian membingungkan.

“Hmm… tidak, temanku tidak sedang sakit.”

“Oh?” Berdeham canggung, aku merapikan jas praktikku yang sama sekali tidak kusut. Tak memungkiri harapan yang tumbuh dalam hati, bahwa ia datang ke mari untuk mengunjungiku. Tapi, apa itu mungkin? Sekarang baru pertemuan keempat kami, aneh rasanya kalau sampai aku memikirkan hal semacam itu.

“Sepertinya kencanmu hari itu berjalan lancar.”

Eh, apa? Kulempar tatapan bingung padanya. “Apa yang kau bicarakan? Kencan?” Aku mengernyit semakin dalam ketika tidak mampu mengaitkan kenangan apapun dalam ingatanku pada pertanyaan ini.

“Lelaki di kedai samgyeopsal itu.”

Ah, Jang Min Hyuk? Sekarang aku benar-benar bingung. Bagaimana mungkin dia selalu ada di manapun aku pergi. Apakah dia Alien yang memiliki sepasang antena tersembunyi di kepalanya, hingga dapat melacak keberadaanku dengan mudah? Aduh, aku geli sendiri membayangkan hal bodoh itu benar terjadi. Mungkin dia akan menjadi Alien paling tampan di seluruh jagad raya dengan sepasang antena berwarna hijau kekuningan itu.

Ingatanku kontan melayang pada kencan butaku hari itu. Min Hyuk lumayan tampan, gaya rambutnya seperti Keanu Reeves di film The Matrix, dia juga kaya dan memiliki pekerjaan yang mapan. Ford silver yang dipamerkannya padaku juga sangat keren. Hanya saja, sikapnya yang terlalu egosentris, membuatku harus berpikir ribuan kali untuk menerimanya. Bisa-bisa aku berakhir menjadi istri malang dengan suami yang lebih suka mengikuti kemauannya sendiri bila memutuskan menikah dengannya.

“Dia bukan kekasihku.” Aku akhirnya menjawab setelah ingat untuk kembali bersuara.

“Syukurlah kalau begitu.”

“Apa?”

“Tidak ada. Lupakan saja!”

Aku terdiam dengan bingung. Merasa yakin bahwa tadi ia memang menyatakan rasa syukurnya. Apakah mungkin telingaku yang bermasalah? Keheningan merebak, diikuti suasana canggung yang tidak bisa ditutupi. Tiba-tiba, aku merasa udara dingin musim gugur di sekelilingku menjadi lebih panas. Aku bingung, sebenarnya apa maksud Wook Gi mengatakan itu? Dia bilang, dirinya bersyukur aku tidak memiliki kekasih? Begitu? Oh, tidak Eun Hee, Lupakan! Kau pasti salah dengar.

“Kalau begitu, aku permisi—“

“Ngomong-ngomong, apakah Sabtu kau ada acara?”

“Ya?” Benar, sepertinya telingaku memang agak bermasalah. Perlukah aku datang ke dokter THT untuk memeriksakannya?

“Apakah Sabtu besok kau punya acara?” ulangnya sekali lagi, menyadarkanku bahwa apa yang kudengar bukanlah kesalahan, dan telingaku rupanya baik-baik saja.

Ketika aku menggeleng sebagai jawaban, ia melanjutkan. “Bagaimana kalau menemaniku ke festival musim gugur di benteng Hwaseong?”

Benar dia gila. Pria itu mengajakku jalan bersamanya? Yang benar saja! Apa sesuatu yang keras baru saja membentur kepalanya? Atau jangan-jangan… ia baru saja kerasukan jin penunggu pohon itu, hingga membuat lelaki itu bicara sekenanya.

“Hey, kau mau tidak?”

“Maaf, Wook Gi-ssi… Aku sibuk akhir minggu ini. Banyak pekerjaan yang harus kukerjakan.” Dengan sedikit perasaan tidak nyaman, aku menjawab.

Ha! Enak saja jika dia berpikir aku mau diajaknya berkencan. Aku bukan gadis murahan yang bisa dia bawa begitu saja. Apalagi aku baru saja aku menolak tawaran Mae Ri, mana mungkin aku malah menerima ajakan Wook Gi? Kami memang sudah saling mengenal, tapi masih terlalu dini untuk dapat sampai ke tahap itu.

Ia memamerkan ekspresi sedih, hingga aku nyaris terkikik karena dirinya terlihat seperti Tuan Krab yang baru saja kehilangan 1 dollar kesayangannya. “Tapi, aku tidak menerima penolakan, Nona.”

Nah, dia mulai bertingkah menyebalkan lagi. Apa perlu aku meneriakinya dengan kata-kata ‘memangnya kau siapa berani-beraninya memaksaku?’, alih-alih aku hanya diam dengan bibir terkunci rapat. Satu lagi kehebatannya yang tidak dimiliki lelaki lain, ia mampu membuat bibirku kelu walau hanya untuk melontarkan sebuah kata-kata pembelaan.

Sial!

“Anggap saja sebagai ucapan terima kasihmu. Yah, kau pikir cukup membayarnya hanya dengan dua mangkuk Kimchi Jjigae?”

Hey! Demi keegoisan Squidward, meski ada nada bercanda dalam suaranya, aku merasa dia menyebalkan sekali! Kenapa malah mengungkit hal itu? Apa dia berniat memanfaatkanku?

Kontan saja, aku memasang wajah bermusuhan. “Jadi, kau sengaja datang ke mari untuk menagih utang padaku? Atau jangan-jangan… teman yang ingin kau kunjungi itu aku?” Aku melipat tangan di depan dada dengan gaya menantang, untuk menunjukkan sedikit wibawaku.

Dengan tenangnya dia malah tertawa. Mengabaikan betapa kesalnya aku saat ini. “Begini, Song Eun—“

Oppa!”

Seketika kami berdua menoleh ke asal suara lembut di belakang. Seorang gadis. Secantik boneka dengan rambut hitam lurus panjang, bermata bulat dan kulit putih mulus tanpa cela. Gadis itu mengenakan gaun santai berwarna baby pink yang memamerkan lekuk tubuh indahnya dengan baik. Seulas senyum cantik yang bagi sebagian besar pria adalah senyum ‘menggetarkan’ diberikannya padaku dan Wook Gi.

Sesuatu mengusikku. Siapa dia? Dari mana datangnya gadis yang kecantikannya mampu membuat Aphrodite iri ini? Apa dia kekasih Wook Gi?

“Namanya Song Jia. Adik sepupuku yang dua hari lalu baru tiba dari Beijing,” jelas Wook Gi, sebelum aku sempat menyuarakan isi kepalaku. “Dia mengunjungi rumah sakit ini agar dapat mengobservasi langsung pasien-pasien HIV[3] untuk keperluan pembuatan novel terbarunya yang bersetting Korea.”

Senyum Wook Gi mengembang yang aku yakini karena ia menyadari perubahan raut wajahku. “Walau baru pertama kali ke mari, sejak kecil dia sudah sangat pandai berbahasa Korea,” tambahnya, seraya melambaikan tangan pada gadis itu.

Demi gunung es di kutub utara, aku merasakan panas yang pekat menjalari seluruh wajahku!

“Dan kebetulan lusa ada festival budaya di Hwaseong, jadi ia memintaku menemaninya. Kupikir akan menyenangkan kalau kita bisa pergi bertiga.”

Oh sudahlah, hentikan! Pipiku tidak bisa lebih panas lagi dari ini. Seandainya aku bisa menguburkan diri ke dalam tanah saat ini juga, mungkin aku akan melakukannya.

Aku malu. Betapa bodohnya aku jika sampai berpikir Choi Wook Gi sengaja datang ke mari untuk menemuiku. Sepertinya aku terlalu menganggap tinggi diriku sendiri. Selain kenalan baru, tidak ada hal spesial lain dariku baginya.

“Bagaimana? Kau setuju?”

“Eh?”

Aku mengedip bingung. Satu kali, dua kali, tiga kali. Namun hentakan di jantungku belum juga mereda. Memukul-mukul rusuk kiriku dengan kekuatan yang menyakitkan. Betapa inginnya aku melarikan diri sekarang juga, dan menolak berhadapan dengan lelaki ini lagi.

Haruskah aku menerima tawarannya? Tapi…

Oppa, kau belum mengenalkan kami!” Suara lembut gadis itu, yang bernada merajuk, seketika menyadarkanku.

“Oh ya, benar.” Wook Gi terkekeh pelan lalu menatapku dan Song Jia bergantian. “Jia, ini Eun Hee, temanku dan Eun Hee, dia Jia, sepupuku.”

“Senang berkenalan denganmu, Eun Hee-ssi.” Gadis itu tersenyum ramah. Cantik. Wajahnya yang seperti boneka, tampak begitu lugu dan polos. Persis seperti Barbie versi Asia dengan rambut gelapnya.

“Aku juga, Jia-ssi,” balasku sembari menerima jabatan tangannya. Mempertimbangkan, bahwa dia gadis yang ramah dan sopan.

“Nah, kalian sudah berteman.” Wook Gi memamerkan senyumnya yang berpotensi membuat seseorang menderita diabetes[4] dan langsung beralih menatapku. “Lusa, aku tunggu di taman kota.”

Aku menahan napas. Seperti ada yang menggumamkan skak mat di telingaku keras-keras. Rasanya tidak bisa berkutik lagi.

“Eemm… tapi—“

“Atau mau kujemput—”

“Tidak usah!” selaku cepat, terlalu cepat malah, dan senyum puas langsung menghiasi bibir tipis pemuda itu. “Baiklah, tunggu saja di depan benteng Hwaseong,” tambahku pasrah.

“Oke, kalau begitu… sampai jumpa lusa.” Kurasakan Choi Wook Gi menepuk pundakku pelan dengan tangannya yang besar dan hangat, kemudian merangkul pundak Song Jia.

“Kami permisi dulu, Eun Hee-ssi!”

“Oh, ya…eh, sampai jumpa lagi.” Aku membalas lambaian tangan Song Jia dan tersenyum padanya. Meski aku merasa senyumku tidak sebebas biasanya.

Kupandangi Choi Wook Gi dan Song Jia yang menjauh dengan bingung. Dalam hati mengutuki tingkahku yang amat memalukan. Mungkin mereka sedang menertawaiku saat ini. Menganggapku seorang dokter bodoh yang sama sekali tidak punya wibawa.

Oh, sial!

Rasanya masih terlalu heran, benarkah aku telah menyetujui ajakan lelaki itu? Siapa dia? Kenapa aku begitu saja menerima tawarannya? Padahal selama ini…

Getaran pelan ponsel dalam saku jas-ku, menyentakku kembali ke masa kini. Buru-buru, aku meraih Samsung putih itu, dan mengernyit mendapati nama Mae Ri berada di urutan teratas dalam kotak masuk pesanku.

Mungkinkah secepat ini dia tahu bahwa aku telah menerima ajakan Wook Gi, sementara ajakannya beberapa menit lalu kutolak?

 

Sender: Lee Mae Ri

Di mana kau? Belum kembali ke UGD? Aku lupa kalau lusa akan ada festival budaya di Hwaseong. Bagaimana kalau kita ke sana bersama-sama?

 

Oh, gawat! Mae Ri bisa-bisa membunuhku.

 

[1] Makanan Korea yang terdiri dari nasi yang dibungkus dengan rumput laut.

[2] Tempat karaoke

[3] Human Immunodefisiensi Virus

[4] Penyakit degeneratif yang berhubungan dengan kadar glukosa dalam tubuh.

5 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 5-

  1. Aku suka ceritanya. Maaf, bru comment d part ini. Soalx bingung mau ngomong apa kalau mesti comment d tiap part..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s