[OriFict] Second Door -Chapter 4-

CHAPTER 4

 

 

 Second Door

 

 

Lantunan lembut gitar akustik membujuk telingaku agar segera bangun. Aku mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mataku. Sudah pagi. Tapi rasanya masih sangat mengantuk. Semalam, aku baru bisa tidur setelah lewat tengah malam. Eomma dan Jong Hee bertengkar hebat. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah hingga berakhir dengan debaman pintu kamar Eomma yang membuat semua orang di rumah ini membisu.

Topiknya masih sama. Eomma tidak setuju Jong Hee menjadi tentara, sedangkan Jong Hee berkeras tetap melanjutkan keinginannya. Bahkan pada saat eomma mengancam akan memutuskan tali kekerabatan dengannya, Jong Hee tidak luluh juga. Sementara mereka berdua bertengkar, aku hanya bisa memeluk Min Hee yang ketakutan dan menenangkannya di kamar. Gadis itu gemetar takut, seperti seseorang yang baru saja menonton film horor The Ring.

Sampai kapan semua ini akan berlanjut? Jika saja appa masih hidup, pasti semua ini tidak akan terjadi. Dengan kelembutannya, dia akan menenangkan kekeraskepalaan eomma dan Jong Hee. Memberi mereka petuah yang tidak ada habis-habisnya. Oh, sudahlah. Lupakan! Tidak ada gunanya menyesali yang telah terjadi.

Setengah mengantuk, kuseret kakiku menuju pintu. Seperti dugaanku, Jong Hee sedang duduk bersila di pojok ruangan sembari memetik gitarnya. Gitar berwarna cokelat itu pemberian Jang Hyuk Oppa di ulang tahun Jong Hee yang ke-15. Masih melekat dalam ingatanku bagaimana ekspresi bahagia Jong Hee saat mendapat hadiah ulang tahun dari kakak favoritnya. Sehari setelahnya, Jong Hee berusaha keras belajar bermain gitar. Aku juga tahu, setiap kali merasa sedih dan terluka, gitar itulah yang menemani Jong Hee sepanjang hari.

“Jongie-ya…” panggilku dengan nama kecilnya.

Ia menoleh dan menatapku dalam diam. Aku mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Memang sulit untuk membujuk eomma membatalkan keputusan itu, dan ya, sedikitnya aku setuju dengan kekhawatiran eomma. Biar bagaimanapun, Jong Hee adalah anak lelaki satu-satunya di keluarga ini. Eomma pasti tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.

“Sebaiknya kau turuti perintah eomma, Jongie-ya,” kataku, ketika tiba di sisi Jong Hee dan berjongkok, menghadapnya.

Kudengar Jong Hee mendengus. “Oh, jadi sekarang kau juga berpihak pada eomma?” balasnya sinis.

“Bukan begitu.” Aku menggeleng. Sedikit bingung harus mengatakan apa. Sejak dulu aku memang tidak pernah pandai bernegosiasi. “Aku tahu ini impianmu. Tapi, tidak bisakah kau membuat eomma tenang?”

Jong Hee mengalihkan perhatiannya dari gitar ke wajahku. Ia lantas memberiku tatapan sedingin es dan berkata. “Kalau begitu, kau juga. Turuti perintah eomma dan segeralah menikah!”

Jantungku mencelos. Seolah hanya dengan kata-katanya, Jong Hee berhasil meninju dadaku dengan kuat. Aku sadar apa yang dikatakannya benar. Tapi setidaknya, aku selalu menurut setiap kali eomma memintaku kencan buta dengan lelaki pilihannya. Walau pada akhirnya, tidak pernah sesuai harapan.

“Kau tidak bisa, kan?” Dia kembali bersuara. Ada nada sinis dalam suaranya yang menusuk hatiku dengan sangat tajam.

“Jongie-ya…”

“Itu semua karena kau masih mencintainya.” Jong Hee memberiku tatapan menuduh yang sarat akan rasa sakit. “Kau belum bisa melupakan Jang Hyuk Hyeong[1]hingga detik ini!” Ia bersungut-sungut. “Jadi, kau selalu membanding-bandingkan semua lelaki yang dikenalkan eomma dengannya yang terlihat begitu sempurna di matamu!”

Aku menggeleng frustrasi, mencoba membantah asumsinya. “Jongie-ya, aku tidak—“

“Jadi, berhentilah ikut-ikutan mendikteku!”

Jong Hee beranjak, meninggalkanku dalam kebingungan yang menyesakkan. Baru kali ini Jong Hee membentakku, dan itu sangat menyakitiku. Ada air mata yang nyaris turun, dan aku dengan cepat mengerjap. Menahannya agar tidak jatuh.

EonnieEonnie… kau tidak apa-apa?”

Sepasang lengan kecil kurasakan melingkari leherku. Min Hee. Dia memelukku erat dari belakang. Tubuh kecilnya menempel di punggungku. Menimbulkan rasa hangat yang menjalar hingga ke jantungku. Pasti ia ketakutan karena mendengar bentakan Jong Hee.

“Aku tidak apa-apa, Sayang,” dustaku muram. “Ngomong-ngomong, di mana Eomma?”

“Pagi-pagi sekali Eomma berangkat ke pasar.”

Aku menarik lengan Min Hee agar berdiri di hadapanku. Berjuang keras membuang jauh-jauh kesedihanku. Mata kopi Min Hee menatapku dengan kekhawatiran yang polos.

“Kau bosan?” Min Hee mengangguk. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman? Tapi ingat, kau harus tetap mengenakan jaket dan payung yang kubelikan untukmu tempo hari.”

Dengan semangat menggebu, Min Hee mengangguk. “Kau memang yang terbaik, Eonnie! Aku ingin makan ddeokbokki[2]!”

“Baiklah. Kutraktir kau ddeokbokki dan apapun yang ingin kau beli nanti. Tapi, biarkan aku mandi dan ganti baju dulu.”

“Siap, Bos!” Min Hee meletakkan sebelah tangan di sisi kepala seperti seorang prajurit yang baru mendapat perintah dari atasannya. Pasti Jong Hee yang mengajarinya. Aku lantas tertawa dan mencubit pipi tembamnya yang serupa bakpao. Tidak ada yang lebih melegakan saat ini, selain melihat Min Hee gembira.

 

***

 

“Aku kenyang.” Min Hee mengelus perutnya yang buncit sembari menyeringai.

Kami baru saja keluar dari kedai ddeokbokki di ujung jalan, dan kini sedang melangkah berdua di pinggir taman kota, tempatku biasa berjalan-jalan saat sedang bosan. Syukurlah matahari tidak terlalu terik, hingga aku tidak perlu khawatir Min Hee akan lemas lagi sepulang kita berjalan-jalan.

“Kau lelah?” tanyaku sambil terus melangkah dan mengeratkan pegangan pada payung besar di tanganku. Masa bodoh, orang-orang menatap kami aneh karena membawa payung di tengah cuaca yang sangat bersahabat.

Kulihat Min Hee menggeleng. “Aku mau main ayunan!” katanya seraya menunjuk ayunan kayu di taman yang baru saja ditinggalkan seorang anak lelaki kecil.

“Tapi ini sudah jam 10. Sebentar lagi guru les-mu akan datang, Min Hee-ya.”

Min Hee mendengus. “Biarkan saja,” bantahnya cepat lalu tanpa menunggu persetujuanku, langsung berlari ke tengah taman.

Astaga! Terpaksa aku mengikutinya, dan memayungi Min Hee yang dengan riang duduk di ayunan itu. Mengayunkannya ke depan dan ke belakang dengan keriangan yang murni. Tawa riangnya mengalun, mengurangi sedikit beban kekhawatiran di pundakku.

“Neo Ra Eonnie tidak akan marah,” tambahnya setelah sekian lama bermain-main, kaki kecilnya menendang-nendang kerikil dan pasir di bawah. Menimbulkan sebuah kabut debu kecil di udara. “Justru dia akan sangat senang ditinggalkan berdua saja dengan Oppa.”

Eh? Otomatis aku mengalihkan perhatianku dari tumpukan daun maple di tanah, ke wajah riang Min Hee. “Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

Min Hee terkekeh tanpa beban. “Eonnie pasti tidak tahu, kan?”

Aku menggeleng. “Apakah Neo Ra pernah mengatakan sesuatu tentang Jong Hee?”

Dengan santai, Min Hee malah menggelengkan kepalanya. “Dia tidak mengatakan apa-apa.”

“Lalu?”

“Aku bisa merasakannya,” kata Min Hee yakin. “Neo Ra Eonnie menyukai Oppa. Walau Jong Hee Oppa tidak pernah bersikap ramah padanya.”

Aku mengernyit. Mencoba mencerna informasi yang diberikan Min Hee satu per satu. Ya, Cho Neo Ra. Gadis manis berusia 20 tahun dengan rambut sebahu itu memang telah sebulan ini menjadi guru les Min Hee. Neo Ra gadis yang menyenangkan. Ia menerima pekerjaan itu sebagai kerja sampingan sementara menyelesaikan kuliahnya sebagai guru di Kyonggi. Tapi aku tidak tahu tentang hubungan gadis itu dengan Jong Hee. Mungkin saja Min Hee salah.

Eonnie, apa yang kau pikirkan?”

Aku tersentak dan otomatis menggeleng. Merasa bodoh menemukan diriku percaya pada bualan seorang gadis kecil yang tentu saja tidak mengerti tentang hubungan asmara.

“Tidak.” Kutatap Min Hee serius dan berkata lambat-lambat untuk memperingatkannya. “Sepertinya mulai sekarang, kau harus berhenti menonton drama, huh? Drama-drama itu tidak cocok dengan usiamu!”

“Aku sudah dewasa, Eonnie,” protes Min Hee tidak terima. Bibir gadis itu mengerucut kesal. “Jangan memaksaku menonton Larva dan Pororo terus. Aku bosan!”

“Oh, ya. Kau bahkan 7 tahun lebih tua dari kucing Tae Hwan yang kini sudah berusia 3 tahun,” ejekku dan kudengar Min Hee mendengus.

Setelah puas bermain-main, Min Hee akhirnya mau diajak pulang juga. Selain karena tidak enak membiarkan Neo Ra menunggu lama, Min Hee juga kelihatan agak lelah. “Kau tidak apa-apa?” tanyaku khawatir, ketika Min Hee tidak juga bersuara. “Mau minum dulu?”

“Aku baik-baik saja.” Min Hee menjawab pendek. “Hanya sedikit kesal padamu.”

Aku tergelak menyadari betapa jujurnya dia. “Oh yeah, marahlah. Dan besok aku tidak akan membelikanmu Choco Pie.”

“Kau mengancamku?” Min Hee tiba-tiba berhenti berjalan dan mendongak. Mata kopinya menatapku kesal. Aku tahu dia sangat mencintai Choco Pie, tentu saja ancamanku akan berhasil.

“Yeah, anggap saja begitu.”

Eonnie!” Dengan imutnya, Min Hee mencebikkan bibir dan sebelah kakinya dihentakkan ke tanah.

Dengan lagak tidak peduli, aku sengaja berdiam diri. Pura-pura sibuk berpikir dengan meletakkan sebelah tangan di dagu.

“Aku janji tidak akan nakal lagi. Sungguh!” Akhirnya Min Hee bersuara. “Tapi jangan berhenti membelikanku Choco Pie. Kumohon!”

Seringai kemenangan, kontan kusunggingkan. “Baiklah. Tapi kau harus berjanji—oh?“

“Maaf!”

“Neo Ra?”

Aku terkejut mendapati Neo Ra-lah yang tidak sengaja menabrak punggungku hingga nyaris saja aku tersungkur dan jatuh mencumbu tanah. Pipi gadis itu bersemu dan ia buru-buru menunduk ketika aku memerhatikannya. Sepertinya ia baru saja keluar dari pintu rumahku. Terlalu asyik berdebat kecil dengan Min Hee, aku sampai tidak sadar kalau kini sudah berdiri di depan rumahku sendiri.

“Apa yang terjadi?” tanyaku bingung.

“Oh, tidak ada—maksudku… aku harus ke kampus. Min Hee-ya, belajarnya besok saja ya. Barusan temanku telepon kalau ada kuliah dadakan. Eonnie, aku permisi dulu!” Aku mengernyit menyadari sesuatu yang aneh dari raut wajahnya. Neo Ra berbicara terlalu cepat untuk bisa dibilang baik-baik saja. Gadis itu terbiasa riang, bila kikuk begini… aku yakin ada sesuatu yang telah menganggunya.

“Kau yakin baik-baik saja, Neo Ra-ya?” ulangku sekali lagi.

“Tentu saja, Eonnie.” Neo Ra tersenyum, hingga matanya yang kecil nyaris tertutup. “Sampai jumpa besok.”

Dia melambaikan tangan dengan keriangan yang dipaksakan, lalu tergesa-gesa pergi, membuatku semakin yakin ada yang tidak beres dengan dirinya.

“Pasti Oppa mengganggunya lagi.”

Komentar spontan Min Hee, membuatku terpana. Kutatap Min Hee untuk mendapat jawaban, tapi adik bungsuku itu rupanya tidak berniat menjelaskan karena kini ia memilih masuk ke rumah, meninggalkanku sendirian di luar. Kuputar kembali tubuhku untuk menatap punggung Neo Ra yang sudah jauh di ujung jalan sana.

Satu yang mengganggu pikiranku, benarkah… Jong Hee yang telah mengganggu Neo Ra? Tapi kenapa?

Cepat, aku masuk dan menemukan Jong Hee sedang menuang air dingin dari kulkas ke gelasnya. Yang membuatku membelalak kaget adalah apa yang dipakainya saat ini. Jong Hee sepertinya baru selesai mandi, ia hanya melilitkan handuk biru sebatas pinggang sampai ke lututnya. Memperlihatkan dada telanjangnya yang—ternyata—mulai berotot. Mungkin karena efek latihan keras yang dilakoninya selama ini.

“Jongie-ya, kau pikir badanmu bagus, huh?” Aku mencibir dengan tangan terlipat. “Kau membuat Neo Ra takut.”

Jong Hee tidak merespon dan hanya menatapku melalui pinggiran gelasnya. Ia tetap diam sampai air dalam gelas itu habis. “Aku sedang marah padamu, Noona. Jadi jangan sok akrab denganku,” pungkasnya dengan tenang, menutup pintu kulkas dan berlalu pergi dengan senandung kecil di bibirnya.

Tentu saja aku melongo. Apa lagi yang bisa kulakukan? Oh, di mana kau bisa menemukan seseorang yang mengumumkan bahwa ia sedang marah padamu? Selain Min Hee dan Jong Hee, tentu saja. Menyebalkan. Adik dan kakak sama saja.

Bisa kudengar kikikan geli Min Hee di ambang pintu kamarnya. “Benar kan, apa yang kubilang?” katanya dengan kepuasan seorang yang baru saja berhasil menebak jawaban kuis paling sulit di seluruh dunia, lalu masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.

Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Setahuku, Jong Hee dan Neo Ra memang berkuliah di universitas yang sama. Mengenai hubungan mereka… oh, aku tidak tahu. Mungkinkah… mereka menjalin hubungan romantis?

 

[1] Sebutan untuk kakak laki-laki oleh adik laki-laki.

[2] Jajanan Korea berupa tteok dari tepung beras yang dimasak dalam bumbu gochujang yang pedas dan manis.

3 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 4-

  1. yeahh.. pertengkaran adik kakak. sudah biasa…
    seru kayanya tuh punya adik cewek kecil sprti Min Hee

    Lanjut ke chapt.4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s