[OriFict] Second Door -Chapter 3-

CHAPTER 3

 

Second Door

 

Aku melangkah melalui jalan setapak berbatu yang di kiri kanannya ditumbuhi rerumputan tinggi sebatas mata kaki. Kompleks pemakaman ini sepi. Tidak ada orang lain kecuali aku, hingga yang kudengar hanya hembusan angin dan cicit burung gereja di dahan pohon Ek yang tegak menjulang di tengah pemakaman.

Kuletakkan seikat bunga Krisan di sisi nisan bertuliskan nama Kim Jang Hyuk sembari berjongkok. Entah sudah berapa kali aku ke mari dalam tiga tahun terakhir. Meski begitu, rasanya aku masih tidak percaya bahwa yang kini bersemayam di bawah gundukan tanah itu adalah kekasihku yang gagah dan tampan. Seorang perwira Angkatan Darat yang hebat.

Oppa, bagaimana kabarmu?” Aku berdeham canggung menahan kegetiranku, lalu membuka botol Soju[1] yang kubawa dan menyiramkan isinya ke sisi makam. “Semalam, nyaris saja aku berbuat kebodohan lagi.” Tersenyum kecut, aku kembali melanjutkan. “Dan ya, aku baru ingat. Lelaki yang menyelamatkanku, adalah orang yang sama dengan yang telah menolongku setahun yang lalu.” Saat itu aku juga nyaris saja berbuat tolol dengan mengira telah melihat Jang Hyuk Oppa di sisi jembatan yang sedang diperbaiki dan orang itu menghalangi tepat sebelum aku terperosok di sana.

Aku mendesah frustrasi dan meletakkan botol Soju yang kini tinggal seperempat bagian di tanah berumput. “Tapi aku tidak sempat mengucapkan terima kasih padanya, Oppa. Bodoh, kan?”

Tawa hambar meluncur dari tenggorokanku. “Ya, kapan seorang Song Eun Hee tidak bodoh?” Aku meringis. Merasakan tenggorokanku mengering mengingat betapa dulu ia sering mengataiku bodoh setiap kali aku membuat kecerobohan.

“Katakan itu, Oppa. Aku ingin mendengarnya sekali lagi dari mulutmu.” Kusentuh nisan dingin di hadapanku dengan perasaan hampa. “Katakan bahwa aku bodoh. Eun Hee bodoh seperti Patrick Star yang idiot!”

Kali ini aku tidak kuasa menahan isakanku. Air mataku jatuh membasahi pipiku yang dingin. Dadaku terasa amat sesak, seolah tidak ada lagi oksigen yang bisa kuhirup. Kenangan tentang dirinya kembali mengisi memori otakku. Seperti kelebatan-kelebatan film pendek yang terasa indah dan menyakitkan di saat bersamaan.

Aku merindukannya. Amat sangat merindukannya. Seandainya di otakku ada karet penghapus yang bisa menghapus memori menyakitkan yang pernah kualami. Sayangnya, memori itu tertulis dengan tinta permanen, yang tidak akan pernah terhapus sampai kapan pun.

“Maafkan aku, Oppa. Beberapa minggu ini sangat sibuk. Jadi baru sempat mengunjungimu sekarang,” kataku akhirnya, setelah berhasil kembali bersuara. Kuseka air mataku secepatnya dan mencoba tersenyum.

Aku menggigil ketika merasakan angin dingin musim gugur membelai sisi wajah dan rambutku. Bila Jang Hyuk Oppa masih hidup, dia pasti akan memelukku. Mendekapku dalam kehangatan dadanya yang bidang.

Kapan aku bisa merasakan dekapan hangatnya lagi? Kapan?

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan hingga kurasakan oksigen memenuhi paru-paruku. Mencoba menenangkan diri. Setelah merasa yakin tidak akan menangis lagi, aku beranjak. Eomma akan marah kalau tahu aku berlama-lama di sini.

Beranjak berdiri dengan satu hembusan napas berat, aku menggumamkan selamat tinggal pada Jang Hyuk Oppa. Ketika memutar tubuh, aku terperanjat mendapati sosok pria yang kini berdiri sekitar dua setengah meter jauhnya dariku.

Dia. Lelaki tampan yang semalam menolongku. Ya, benar. Itu memang dia!

“K-kau? Apa yang kau lakukan di sini?” Tanpa bisa dicegah, aku menyuarakan isi kepalaku.

Sepertinya ia sama terkejutnya denganku, tapi dengan cepat pria itu menyesuaikan diri. “Ini tempat umum. Kenapa kau bertanya?” Lelaki itu lantas berjalan ke samping kiri dan meletakkan bunga Krisan dalam dekapannya ke makam yang ada di hadapannya.

Untuk sesaat aku hanya memandanginya dalam diam. Seolah dia adalah sebuah tontonan yang memang seharusnya kuperhatikan. Lelaki itu membungkuk untuk berdoa dan mengosongkan botol Soju-nya, lalu berjongkok.

“Apa ada yang ingin kau katakan?” Suaranya yang sengau membuatku tersentak saat bertanya.

Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, sekedar untuk memastikan bahwa ia benar-benar berbicara padaku. Sadar, bahwa di sini memang tidak ada siapa pun selain kami berdua.

“Namaku Choi Wook Gi jika kau ingin berterima kasih.” Sekali lagi ia bersuara dan kali ini ia mengangkat wajahnya. Menatapku.

Laksana pencuri yang baru saja dipergoki, aku merasa kikuk. Sial. Apa yang harus kukatakan padanya? Seharusnya aku memang tidak memandanginya seperti seorang mata-mata yang mengincar targetnya.

“Ehm… ya. Terima kasih untuk semuanya, Choi Wook Gi-ssi[2].” Aku memberanikan diri bersuara. Tidak ada salahnya jika aku meminta maaf pada seseorang yang sudah dua kali menyelamatkan nyawaku.

Dia tersenyum miring dan mendengus. “Lain kali kalau ingin bunuh diri jangan di depanku—“

“Aku tidak ingin bunuh diri!” selaku tajam. Tiba-tiba merasa sedikit kesal.

Kulihat lelaki itu berdiri dan berjalan mendekatiku. Aroma mint dan coklat dari parfum yang dipakainya tercium ketika ia tiba di depanku. Ia lantas memberiku tatapan tidak percaya, seolah apa yang baru saja kukatakan hanya sebuah lelucon anak kecil yang tidak berarti.

“Lalu apa alasanmu? Kau hanya bosan hidup? Begitu?”

“Sudah kukatakan aku tidak ingin bunuh diri!” bentakku jengkel dan dia tertawa mengejek. Bahunya yang lebar, yang tertutup kemeja linen biru lengan panjang, berguncang hebat. Aku yakin, dia pasti akan semakin menganggapku gila, kalau kukatakan alasan yang sebenarnya.

“Terserah padamu! Asal lain kali kau berjanji tidak akan melakukannya di hadapanku lagi.”

Sial. Memangnya aku tahu kalau dia ada di sana bersamaku? Aku bahkan tidak mengenalnya. Apa urusannya semua itu baginya?

“Aku mau bunuh diri atau tidak. Sama sekali tidak ada hubungannya denganmu,” balasku cepat, benar-benar tersinggung dengan tuduhannya yang tidak berdasar. Tahu apa dia tentang hidupku, mengerti apa dia tentang kepedihanku. Kenal saja tidak. Dan dia sudah berani memarahiku. Menuduhku yang bukan-bukan.

Oh, benar-benar…

Dengan penuh penekanan, aku menambahkan, “Jadi, kalau lain kali kau melihatku dalam bahaya lagi, tidak perlu repot-repot menyelamatkanku.”

Setelah mengatakan itu, aku langsung melangkah melewatinya. Menyebalkan sekali dia. Kupikir lelaki itu orang baik, hingga rela menolongku sampai dua kali. Tapi ternyata, dia sama saja dengan lelaki brengsek lain. Wajahnya memang tampan, seperti tokoh-tokoh pria utama dalam serial komik Jepang. Sepasang matanya teduh dan berkilau hangat, bibirnya tipis memesona, berhidung tinggi dan memiliki dagu lancip. Bila diperhatikan dari dekat, kulitnya begitu halus seperti kulit bayi. Rambutnya yang hitam kecokelatan, dibiarkan berantakan tertiup angin. Hanya saja, hatinya tidak seindah penampilannya. Sayang sekali. Lelaki tampan sepertinya, memiliki hati sebusuk iblis!

“Tunggu dulu!”

Geraman protes keluar dari tenggorokanku, ketika kurasakan tangannya yang besar menahan pundakku supaya tidak pergi. “Lepaskan!” desisku jengkel. “Apa lagi yang kau inginkan?”

Dia menatapku serius, sebelum akhirnya bersuara. “Apakah seperti ini caramu memperlakukan seseorang yang telah menyelamatkan nyawamu?”

“Apa?” Jadi, sekarang dia ingin mengungkit kebaikannya? Oh, bagus. Aku akan membayar jika memang uang yang diinginkannya.

“Setidaknya, traktir aku makan. Aku lapar.”

“Hey!” Aku terkesiap ketika dengan seenaknya ia menarik lenganku agar berjalan bersamanya. Seolah-olah, aku ini tawanan yang akan dibawanya kembali ke penjara. “Di dekat sini ada kedai Kimchi Jjigae[3]. Kita bisa makan di sana.”

Demi Tuhan, apa-apaan dia?

 

***

 

Aku menatap pria di depanku ini dengan saksama. Lima menit yang lalu, ia telah menghabiskan satu porsi Kimchi Jjigae, dan sekarang sudah dalam proses menghabiskan porsi kedua. Dia seperti orang yang tidak makan apapun selama dua hari. Menjijikkan!

Bila dilihat dari tubuhnya—yang tidak seberapa besar bahkan bisa dibilang tidak terlalu tinggi—sungguh mengejutkan jika lelaki sepertinya bisa makan sebanyak itu. Apakah perutnya terbuat dari karet yang bisa melentur dan menyesuaikan dengan jumlah makanan yang masuk?

“Beginikah pekerjaanmu yang sebenarnya? Memeras orang-orang yang telah kau selamatkan?” Aku mencibir sembari meminum teh hijauku. “Aku pernah mendengar ada beberapa orang yang memiliki modus semacam itu untuk menjerat korbannya.”

Dia akhirnya menghentikan makannya untuk menatapku. Heran. Seolah aku baru saja mengatakan hal paling aneh di dunia ini. Setelah menelan habis makanan dalam mulutnya, ia membalas, “Seperti inikah yang kau katakan memeras, Nona? Oh ayolah, aku yakin satu atau dua porsi Kimchi Jjigae tidak akan membuatmu miskin.”

Sengaja aku mendengus. “Lalu, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Uang? Katakan saja! Anggap aku sedang membayar utangku padamu.”

Ia meneruskan makannya dan tidak menjawab sebelum makanan dalam mulutnya habis tertelan. “Sayangnya aku masih punya banyak uang dan tidak membutuhkan santunan darimu.”

“Kalau begitu, bayar sendiri makananmu!”

Lagi-lagi aku tersentak ketika ia menahan lenganku, sebelum aku sempat beranjak dari kursi. “Aku hanya ingin mengajarimu cara berterima kasih dengan benar, Nona.”

Apa katanya? “Kau pikir aku gadis tidak berpendidikan?”

Kulihat lelaki bernama Choi Wook Gi itu melambaikan tangannya seperti sedang mengusir lalat. “Aku tidak bilang begitu. Aku tahu kau seorang dokter yang tentu saja berpendidikan tinggi,” katanya enteng, lalu menyeruput teh dalam gelasnya hingga isinya tinggal setengah. “Hanya saja, bila begini caramu memperlakukan pasien. Bisa dipastikan mereka tidak akan kembali berobat padamu lagi.”

Demi menyebalkannya Mae Ri yang keterlaluan, rasanya aku ingin membentak lelaki ini sekarang juga. Menjambak rambutnya hingga ia berhenti mengatakan sesuatu yang membuatku kesal. Tapi, hati nuraniku menahannya.

Ya, dia memang benar. Tidak seharusnya aku memperlakukan seseorang yang telah menyelamatkan nyawaku dengan kasar. Padahal dia hanya minta dibelikan dua porsi Kimchi Jjigae, bukannya mengancamku untuk memberikan rumah beserta isinya. Apa ruginya untukku?

“Maaf,” ucapku, ketika kurasakan gumpalan emosi dalam diriku mulai mereda. Tidak ada gunanya marah-marah terus padanya.

Dia tiba-tiba saja mendekatkan kepalanya ke hadapanku, membuatku terpaksa mundur untuk menghindarinya. “Aku tidak dengar,” katanya dengan seringai mengejek yang tampak jelas di mataku.

“Jangan mempermainkanku!” Aku memberengut dan dengan tenangnya dia malah tertawa. Sangat renyah, sampai-sampai aku kehilangan keinginanku untuk membentaknya. Bagaimana dia bisa tertawa di saat lawan bicaranya sedang marah?

“Tidak ada yang lucu, Choi Wook Gi-ssi,” kusela tawanya dengan dingin.

“Oh, tentu saja ada.” Dia menyeringai, lalu menepuk dadanya sendiri dengan bangga. “Selama ada aku. Choi Wook Gi. Wook-Gi[4],” Ia menegaskan pada dua suku kata terakhirnya. “Tidak ada yang tidak lucu.”

Tanpa sadar aku ikut terkikik ketika menyadari namanya—Wook-Gi—memang berarti lucu. Apa Orangtuanya tidak bisa menemukan nama lain yang lebih baik?

“Nah, kau bilang tidak ada yang lucu. Kenapa ikut tertawa?”

Double sialan! Pipiku kontan memanas. Ya, dia memang menyebalkan!

Malas menjawab, kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. Jam satu siang. Demi Tuhan, eomma bisa marah kalau sampai aku tidak segera bersiap untuk menghadiri kencan butaku. Jujur, lebih baik aku mengobrol dengan lelaki aneh ini daripada harus repot-repot menemui Jang Min Hyuk si Jaksa itu dan kembali berakhir gagal. Tapi, apa yang harus kukatakan pada eomma kalau nanti dia bertanya?

“Ada masalah?”

Aku spontan menggeleng. “Tidak. Hanya saja…”

“Hanya saja?” Wook Gi menelengkan kepalanya menatapku. Menuntut jawaban.

Sial! Aku harus menjawab apa? Maaf Choi Wook Gi-ssi, sesaat lagi aku harus menemui pasangan kencan butaku. Oh, itu tidak lucu!

“Tidak ada. Tidak ada masalah.” Menunduk sebentar, aku menyumpit Kimchi Jjigae di mangkukku yang sejak tadi sama sekali belum tersentuh. Tapi, tatapan Choi Wook Gi masih menelusuri diriku, hingga aku merasa campuran sawi dan kuah kental di mulutku terasa hambar dan liat.

“Kau ada janji temu dengan kekasihmu?”

“A-apa?” Cepat, aku menggeleng. Ya, tadi aku memang menemui kekasihku. Tapi di… makam.

 

[1] Minuman distilasi asal Korea.

[2] Sufiks yang digunakan untuk menyebut orang yang lebih tinggi derajatnya atau orang yang kita hormati.

[3] Makanan Korea berupa sup pedas yang direbus di dalam panci bersama kimchi dan air cabai dari kimchi.

[4] Lucu (Bahasa Korea)

7 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 3-

  1. Wooki bukan orang yg sama yg tidur dipundaknya EunHee sambil ngiler di dalam bus kan?

    Aq kira Wooki itu teman kencan butannya Eunhee soalnya Wooki tau profesinya sii Eunhee sih

  2. baru selesai baca chapt.3 sementara kau sdh update yg ke 11.
    demi Tuhan… ketinggalan kali kau
    *Nunjuk diri sendiri

    Lanjuttttttttt
    *Baca Marathon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s