[OriFict] Second Door -Chapter 2-

CHAPTER 2

 

Second Door

 

“Aku tampan. Iya, kan?”

Sengaja aku mendengus sebagai jawaban, dan Jang Hyuk Oppa tertawa. Kuakui, dia memang tampan dalam balutan seragam hijau tua berloreng cokelat itu. Tubuhnya yang tinggi, didukung dengan dadanya yang bidang dan otot bisepnya yang terbangun sempurna, memperlihatkan betapa gagahnya ia sebagai seorang prajurit.

Walau bukan pertama kalinya aku melihat Jang Hyuk Oppa dalam balutan seragam Angkatan Darat Korea, tapi aku tetap tidak bisa berhenti memuji ketampanannya. Dan seolah ingin mempermainkanku, dia malah semakin senang menunjukkan diri dengan seragam tentaranya, padahal saat ini ia sedang tidak bertugas.

Sebulan ini Jang Hyuk Oppa libur dari tugasnya di Angkatan Darat, dan aku dengan senang hati menyambut bahagia kesempatan itu. Bayangkan saja, setelah menunggu sekian lama, akhirnya kami memiliki banyak waktu untuk kuhabiskan bersama.

“Besok ada ujian, Oppa. Jangan ganggu aku.” Kucoba memusatkan perhatian pada diktat tebal di hadapanku, tapi kekehan pelan Jang Hyuk Oppa justru lebih menarik minatku.

“Berhentilah sebentar. Jangan terlalu memaksakan diri. Kau juga butuh istirahat.”

Tubuhku menegang merasakan belaian lembut tangan Jang Hyuk Oppa di rambutku. “Aku tahu, Oppa. Kau tidak perlu mengingatkanku,” kataku pasrah lalu menutup diktat tebal tadi untuk beralih menatapnya. Rupanya, tekadku untuk belajar tidak cukup teguh bila sedang dihadapkan pada godaannya yang semanis madu.

Pria pemilik hidung mancung dan tatapan tajam itu tersenyum padaku dari atas tempat tidur. Dan seperti biasa, senyum itu membuatku merasa tenang. “Aku tahu betapa tidak nyamannya digunjingkan. Apalagi untuk sesuatu yang tidak pernah kau lakukan.” Desir hangat mengalir di jantungku ketika tangannya yang besar mengelus punggung tanganku dan menggenggamnya erat. “Hanya saja, kalau pada akhirnya kau sakit karena kelelahan. Apakah itu tidak semakin mengurangi kesempatanmu untuk menunjukkan pada mereka bahwa kau bisa melakukannya dengan baik?”

Aku merenungkan kata-katanya, lalu mengangguk setuju. Sepenuhnya sadar bahwa apa yang dikatakannya benar. Selama ini aku memang sangat berambisi untuk menyelesaikan studiku sebagai dokter dengan baik, hanya agar dapat menghentikan gunjingan miring yang dialamatkan padaku.

Semua gunjingan itu berawal dari kasus malpraktik yang menimpa appa tujuh tahun silam. Aku tahu saat itu appa memang salah, dan ia telah membayar dengan seluruh harta dan hidupnya untuk itu. Setelah divonis bersalah, mereka mencabut ijin praktik appa sebagai dokter dan appa masih harus membayar ganti rugi pada keluarga korban sebesar 2 juta Won. Jumlah yang sangat besar kala itu.

Harta kami ludes dan kami terpaksa pindah ke rumah yang lebih kecil di pinggiran kota untuk dapat bertahan hidup. Tapi bukan itu yang kusesali. Beberapa bulan setelahnya, appa meninggal karena depresi berat yang dideritanya. Kematian appa, otomatis menimpangkan kehidupan kami.

Sayangnya, kecaman belum berhenti sampai di sana, karena kini… aku pun terkena imbasnya. Mereka meragukan kemampuanku sebagai dokter dengan beranggapan bahwa suatu saat nanti bisa saja aku melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan appa. Aku tidak peduli mereka mau berkata apa? Keinginanku sudah bulat untuk menjadi dokter, dan tidak ada yang dapat menghentikannya. Sekalipun dunia menentangku.

Oh, tidak. Aku sama sekali tidak menyalahkan appa atas semua yang kualami selama ini. Justru aku ingin berterima kasih padanya, karena dialah yang telah mengenalkan aku pada dunia kedokteran. Sejak kecil, aku suka bermain di ruang kerja appa. Membaca-baca buku tebal yang tersimpan rapi di sana—walau banyak sekali istilah-istilah yang tidak kumengerti—hingga menikmati betapa menyenangkannya mendengarkan detak jantungku sendiri dengan stetoskop milik appa.

Dari sana aku menyadari betapa rumitnya tubuh manusia, dimulai dari sel terkecil hingga organ terpenting yang menjadi penyusun dan bertanggung jawab penuh pada kelangsungan hidup manusia seutuhnya. Kerusakan sedikit saja pada salah satu komponen penyusunnya, mampu menimbulkan masalah yang serius, bahkan bisa saja mengakibatkan kematian.

Hampir setiap malam sepulang bekerja, appa juga selalu menyempatkan waktu untuk bercerita tentang pekerjaannya di rumah sakit. Aku tertarik, tentu saja. Apalagi saat melihat kepuasan yang terpancar di wajah appa setelah menceritakan keberhasilannya menyelamatkan nyawa seseorang. Ya, betapa mulia profesinya. Namun aku sadar, profesi dokter juga memiliki risiko besar bila tidak benar-benar menjalaninya dengan baik.

“Eun Hee-ya, jangan melamun terus!” Aku terkesiap dan langsung mengerjap bingung mendengar suara eomma. Kepalaku kontan menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencermati keadaan di sekelilingku.

Aneh. Di mana Jang Hyuk Oppa? Seingatku, dia tadi di sini.

Eomma—“

“Berhenti hidup dalam kenangan! Nasimu tidak akan habis kalau kau pandangi terus,” komentar eomma masam, lalu kembali menyuap Sundubu Jjigae[1] dalam mangkuknya.

Baru kusadari kini aku sedang duduk di ruang makan, alih-alih kamarku sendiri. Bersama eomma dan Jong Hee yang sedang terburu-buru menghabiskan makanannya. Desah kecewa otomatis meluncur dari tenggorokanku.

Lagi. Kenangan-kenangan kebersamaan kami itu muncul di kepalaku seperti sebuah roll film yang baru saja diputar. Begitu jelas dan nyata. Sial!

“Tadi Mae Ri meneleponku, menanyakan apa kau sudah makan. Sepertinya kau lupa makan lagi semalam,” tegur eomma. Ada nada menuduh dalam suaranya yang berat.

Aku mendesah. Kenapa Mae Ri terus saja mengadukanku? Dia memang selalu bertingkah seperti dokter pribadi yang bertanggung jawab penuh atas kesehatanku. Oh, ya… kuakui itu baik. Hanya saja…

“Aku berangkat latihan dulu.” Pandanganku langsung teralih pada Jong Hee, yang kini tengah beranjak setelah makanan di mangkuknya habis. Ia masih setia mengenakan seragam tentaranya. Pasti karena Jong Hee, kenangan itu muncul kembali. Sejak kecil Jong Hee memang mengidolakan Jang Hyuk Oppa. Hingga ia pun bercita-cita menjadi tentara sepertinya. Ia tidak pernah berhenti meniru gaya Jang Hyuk Oppa. Mulai dari rambut sampai gaya berpakaiannya. Terkadang aku ingin tertawa bila Jong Hee mulai mengeluh karena tubuhnya yang kurus itu tidak kunjung berotot walaupun ia telah berolah raga setiap hari.

Sama sepertiku, saat itu Jong Hee juga terguncang ketika Jang Hyuk Oppa pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Meski tidak sempat menghadiri pemakaman Jang Hyuk Oppa karena ia baru dijemput pulang dari sekolah asramanya, aku menemukan Jong Hee meringkuk di sudut ruangan sembari memeluk lututnya sendiri. Memang tidak ada tangis atau isak pedih yang terdengar. Hanya saja, kebungkamannya menunjukkan kehampaan yang ia rasakan. Selamanya, Jang Hyuk Oppa adalah pahlawan hebat di mata Jong Hee.

“Ingat. Aku masih belum mengijinkanmu menjadi tentara. Jadi lebih baik kau mengundurkan diri saja dari ROTC!” Suara eomma terdengar pahit.

Yeah, aku tahu kekhawatiran eomma memang beralasan. Biar bagaimanapun, dulu Jang Hyuk Oppa adalah calon menantu kesayangannya. Kematian Jang Hyuk Oppa akibat perang saudara Korea Utara dan Korea Selatan di laut Yeonpyeong tiga tahun lalu, menjadi pukulan telak baginya. Tentu ia tidak ingin apa yang terjadi pada Jang Hyuk Oppa juga menimpa Jong Hee. Tapi seperti biasa, Jong Hee tidak menjawab dan berlalu pergi dengan ransel besar di punggungnya.

“Lihat! Kelakuan adikmu itu!” Eomma mulai mengomel. Sembari menunjuk pintu yang kini terbanting tertutup, ia melanjutkan. “Sejak dulu tidak pernah bisa menurutiku. Padahal itu untuk kebaikannya juga. Dasar anak nakal! Apakah ia tidak pernah memikirkan bahwa pekerjaan itu terlalu berisiko?”

Aku bergeming. Tidak ada gunanya mendebat eomma dalam keadaan seperti ini. Ya, satu-satunya orang yang berani melawan keputusan eomma memang hanya Jong Hee. Mungkin karena mereka memiliki sifat keras yang sama. Sebenarnya dulu eomma adalah seorang ibu penyabar, yang selalu memberikan kasih sayang berlimpah pada anak-anaknya. Tapi semenjak appa meninggal dan semua musibah yang menimpa keluarga kami datang seperti air bah yang tidak pernah surut, kepahitan hidup membuat eomma menjadi sinis.

Ia tidak mau lagi menunjukkan sisi hangatnya, dan lebih memilih mengomel menghadapi kenakalan anak-anaknya. Pernah sekali waktu, Jong Hee tidak sengaja menggosongkan ramyun yang dimasaknya, dan eomma memarahinya siang malam. Seolah Jong Hee telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

“Tolong aku, Eun Hee-ya.” Tersentak kaget, aku nyaris melompat ketika tiba-tiba eomma meraih tanganku. Sepasang mata tuanya kini berkaca-kaca, membuatku tertegun dan untuk sejenak mencoba mencerna situasi ini. Aku bersumpah, ini pertama kalinya kulihat eomma menangis setelah bertahun-tahun. Bahkan sehari setelah appa meninggal, air mata eomma seolah kering. Ia menolak menunjukkan sisi lemahnya pada siapa pun dengan terus-terusan mengomel. Tapi kini… semua ketegaran itu hancur tanpa sisa.

Tidak tahan melihat air mata yang kini mengalir membanjiri kedua pipi eomma, aku beringsut mendekat. Meraih tubuhnya yang ringkih, dan mendekapnya ke dadaku. Aku merasakan getaran di bahu eomma menguat, dan isakannya terdengar semakin kencang.

Eomma—“

“Aku tahu itu impiannya sejak kecil,” sela eomma sembari terisak. “Tapi tidak bisakah dia memikirkannya lagi? Dia satu-satunya pria di keluarga ini yang kuharap bisa menjaga kita semua.”

Kubelai punggung eomma lembut, tapi sebaliknya isakannya semakin mengencang. Aku bahkan takut untuk mengeratkan dekapanku, seolah tubuh eomma adalah benda pecah belah yang akan hancur berkeping-keping bila aku melakukannya. “Menangislah, Eomma. Tidak baik terus menahannya.”

Beberapa detik berlalu sementara eomma masih terus menangis. Bahuku sampai basah karena air matanya. Beruntung tidak ada Min Hee di sini. Kalau tidak, dia pasti akan ikut menangis bersama eomma. Min Hee anak yang sensitif sejak kecil. Ia sangat rapuh seperti istana pasir yang bisa ambruk kapan saja ombak menerjang.

“Bujuk dia, Eun Hee-ya… bujuk dia… kumohon!” Eomma kembali bersuara. Ia lalu melepas pelukannya dan menatapku serius. “Berjanjilah padaku, bujuk dia agar berhenti.”

Mendesah pelan, aku berusaha mengangguk dan tersenyum untuk menenangkan eomma. “Akan kuusahakan,” kataku, lalu menghapus jejak air mata di pipi eomma dengan jempolku. “Tapi aku tidak bisa berjanji akan berhasil,” tambahku skeptis. “Kau tahu dia sangat mengidolakan Jang Hyuk Oppa sejak kecil. Jang Hyuk Oppa adalah sosok pengganti Appa baginya.”

“Aku tahu.” Eomma menghela napas pasrah, lalu kembali ke tempat duduknya semula di ujung meja. “Makanlah. Sebentar lagi kau harus kembali bekerja. Aku tidak mau kau semakin kurus,” katanya sembari menyusut hidung dengan tisu yang baru saja diambilnya. “Lama-lama pasienmu akan meragukan kemampuanmu sebagai dokter, bila melihatmu kurus kering begini.”

Setidaknya eomma sudah bisa mengomel. Itu artinya, ia baik-baik saja. Kuusahakan sebuah senyum untuk menenangkan eomma. “Aku janji akan menambah beberapa pound berat badanku lagi. Tenang saja, Eomma.”

Eomma mendengus. “Jangan cuma janji. Buktikan!” balas eomma sinis. “Dan oh… jangan lupa, besok jam dua siang di kedai samgyeopsal.”

Sial. Kupikir eomma sudah melupakannya.

Aku tersenyum kecut. Sadar kalau harapanku sia-sia saja. Eomma sudah sangat menginginkanku segera menikah dan memberinya cucu, tidak mungkin bila masalah Jong Hee membuatnya melupakan rencana semula. Eomma selalu berkata bahwa usia 26 bagi seorang gadis, sudah terlalu tua untuk melajang. Menyebalkan!

“Sudah jam 8. Aku harus segera berangkat,” kataku, menyadari tidak ada gunanya meneruskan pembicaraan ini lagi.

Setelah membenahi peralatan makanku dan membawanya ke wastafel, aku masuk ke kamar. Mengambil tas, mantel dan jas praktikku lalu bersiap-siap pergi. Aku berhenti sebentar untuk menatap foto Jang Hyuk Oppa di nakas. Bingkai foto yang sejak dulu tidak pernah absen kupandangi. Untuk alasan yang terdengar gila, senyumnya selalu mampu memanggil semangatku kembali.

Ya, setiap kali aku merasa sedih… aku akan berlama-lama menatap foto itu dan bicara padanya. Terserah mereka mau menyebutku aneh, asal semua itu dapat meringankan beban yang bertumpu di pundakku, aku tidak peduli.

Oppa, bantu aku menjalani semuanya dengan baik. Oke?” Kukepalkan tinjuku ke udara, lalu tersenyum padanya. Aku yakin, dia pasti akan mendoakanku dari Surga.

 

***

 

Jalanan cukup ramai ketika aku turun dari bus yang mengantarku dari Yeongtong. Meski sudah larut, tempat ini tidak pernah sepi. Distrik Gwonseon memang termasuk kawasan terpadat di Suwon. Apalagi jam 9 malam adalah saat pulang kerja bagi pegawai-pegawai toko yang ada di sekitar jalanan ini. Kakiku berhenti melangkah ketika lampu merah untuk pejalan kaki menyala di sisi zebra cross.

Asap tipis berhembus dari hidung dan mulutku ketika kuhela napas. Merasakan udara semakin dingin, kumasukkan tanganku yang tak bersarung tangan ke saku mantel. Dalam hati mengutuki kecerobohanku sendiri. Karena terburu-buru, aku sampai lupa membawa sarung tangan. Untunglah mantel yang kubeli dengan gaji pertamaku ini cukup tebal, dan berkantung lebar.

Malam ini adalah hari keduaku dinas malam di rumah sakit, itu artinya besok jatahku libur dua hari setelah seminggu penuh beraktivitas. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan mengunjungi makam—eh?

Aku mengerjap. Untuk sesaat perhatianku tersedot sepenuhnya pada sosok lelaki yang kini berdiri di seberang jalan. Lelaki bertinggi sekitar 183 cm itu mengenakan kemeja kotak-kotak cokelat dan jeans panjang yang warnanya sudah pudar. Kontan aku terbelalak menyadari sesuatu yang familiar pada dirinya. Dia—pria itu—dalam jarak beberapa meter, aku masih dapat melihat sorot matanya yang tajam, hidungnya yang tinggi, dan bibir tebal memesona yang dulu hampir setiap hari memberi kecupan manis di kening dan pipiku.

Gelenyar aneh menjalari dadaku. Tidak. Aku pasti salah lihat. Kupicingkan mataku untuk meyakinkan diri sekali lagi, dan sosok itu masih berdiri di sana. Di bawah lampu malam yang temaram. Aku mengerjap. Dan debar jantungku meningkat sewaktu menyadari dia… masih di sana.

Jang Hyuk… Oppa. Kau kah itu?

Desir hangat menelusup di jantungku, terlebih saat ia melambaikan tangannya padaku. Senyum itu. Tatapan matanya. Masih seperti dulu.

Demi Tuhan! Dia datang. Jang Hyuk Oppa datang. Ya, dia pasti datang untuk memenuhi janjinya. Mungkin mereka salah. Jang Hyuk Oppa belum meninggal! Kegembiraan seketika menggelegak di hatiku yang selama tiga tahun terakhir nyaris beku. Aku tidak mau mengalihkan perhatianku darinya, takut kalau-kalau ia menghilang secepat kilat menyambar.

Oppa… tunggu aku di sana—Oh tidak, jangan pergi!” Aku menggeleng panik ketika Jang Hyuk Oppa mulai berjalan meninggalkan tempat itu. “Tidak. Dia tidak boleh pergi—hey!”

Tersentak mundur, aku nyaris memaki pemilik tangan yang dengan sengaja menarikku ke belakang, namun makianku terhenti di udara ketika kudengar bunyi klakson yang sangat keras. Nyaris menulikan telingaku. Tatapanku seketika teralih pada sebuah mobil Audi hitam yang berlalu pergi hingga menghilang di tikungan.

Sial!  Siapa yang berani…

“Kau gila? Kau sebut dirimu itu dokter? Padahal kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik.” Suara terengah itu, memakiku lantang. Menimbulkan sesuatu yang aneh menjalari dadaku.

Aku membeku. Butuh beberapa saat untukku menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Pria ini. Berani-beraninya dia mengomeliku di depan umum di saat seharusnya aku yang memarahinya karena telah menggagalkan niatku mengejar Jang Hyuk Oppa. Dengan tidak nyaman, kulirik orang-orang yang kini memandangi kami heran.

Siapa dia? Mengapa wajahnya tidak asing? Aku ingat pernah menatap kilau sepasang mata teduh ini sebelumnya. Tapi… kapan dan di mana? Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya.

“Kau…”

“Lampunya sudah hijau. Pergilah!”

Sentakan lembut tangannya ketika melepas lenganku membuatku terkesiap. Sesaat aku bingung harus bagaimana dan hanya memandangi punggungnya yang menjauh. Sadar, bahwa nyaris saja aku membahayakan nyawaku bila lelaki itu tidak segera menolong.

Ya, bagaimana mungkin orang yang telah meninggal bisa hidup lagi? Wajar bila lelaki itu memarahiku karena bertindak ceroboh.

Dasar Eun Hee bodoh!

Tergoda untuk mencari tahu, aku memekik, “Tunggu!” sebelum lelaki itu berjalan terlalu jauh.

Seperti yang kuharapkan, ia berhenti dan memutar tubuhnya menghadapku. “Ada apa lagi?” tanyanya dingin. “Aku hanya ingin menyelamatkanmu sebelum kau tertabrak—“

“Apa aku pernah mengenalmu?”

 

TBC

[1]Sup tahu pedas

12 thoughts on “[OriFict] Second Door -Chapter 2-

  1. C eunhee’a gbisa move on dr om tentara itu
    siapakah org yg mnlong eunhee d pnyebrangan??
    Koq dy tau eunhee tu dkter
    heemmmsss

  2. siapa yah tu cowok?? jgn2 cowok yg ketiduran di bus itu,,?

    ehh jgn2 cowok yg diliat Eunhee, yg pake kemeja kotak2 coklat itu adalah pak Jokowi, hehehehe *masih dalam suasana pemilu

    hmm… sebenernya pengennya tiap kamu update aku lgsg baca tapi nyatanya molorr… ini ajah chapt 2 butuh berhari2 baru kelar. lumayan panjang soalnya trus banyak kerjaan di toko. hehehe
    *mdh2an kamu ga ada niat ngapus chapt yg udah lalu2 kamu update yah Non.. aku nyicil bacanya.

    • Baca aja lanjutannya, Eon kkkk *sok misterius*

      Iyaaa, gpp kok. Santai aja lagi, Eon. Mana pernah aku ngepost abis itu dihapus? Kasian yg mau baca ntar🙂
      Sok atuh,,, tunggu senggang ajah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s