[OriFict] Second Door -Prolog + Chap 1-

ATTENTION PLEAAASEEEEE!!!!!

Haiii, Mates! Long Time No See… ^^v
Sorry, Dear! Tapi aku harus ngumumin sesuatu hari ini. Sebelumnya, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya sama readers setia *klo ada* di sini, karena satu dan lain hal, aku memutuskan untuk BERHENTI NULIS. So, FF-FF yang sebelumnya aku post, dengan amat sangat terpaksa harus berhenti di tengah jalan. Sorry…😦
TAPI…
Untuk mengobati kekecewaan kalian, hari ini aku memutuskan untuk memberi satu cerita OriFict yang terdiri dari 21 Chapter yang akan aku post secara berkala di sini. Kalian jangan khawatir cerita ini akan macet di tengah jalan, karena sebenarnya cerita ini sudah TAMAT aku buat dan udah ngendon (?) lama di laptop. Sebenarnya, cerita ini naskah novelku yang DUA KALI GAGAL nembus penerbit. Daripada mubadzir karena udah dibikin tapi gak nyampe ke pembaca, makanya aku post di sini. Yah, namanya juga cerita GAGAL ya, apalagi udah DUA KALI… jadi mohon dimaklumi kalau ceritanya monoton dan SAMA SEKALI GAK MENARIK. Pokoknya ABSURD TOTAL!!!

Bagi yang mau baca, silakan… dan kalau yg gak mau juga diperbolehkan pergi. Inget ya, ini cerita OriFict… jadi aku gak pake nama tokoh idola di sini. Cuman kalau kalian mau ngebayangin siapa pun juga… sangat diperbolehkan kekkekek ^^
Oiya, cerita ini bakal jadi postingan terakhir dari tulisanku di sini… So, anggap aja ini sebagai ucapan pemintaan maaf dan kado perpisahan dariku. Okaayy?

Daripada kebanyakan bacot dan kalian semua keburu bosen, aku post aja OriFict-nya yah. Jangan khawatir, settingnya tetep Negeri Gingseng kesayangan kita kok. Cekidoooooooooooootttt!!! ^^

Sorry klo ABSURD!

====================================================================

 

PROLOG

 

Second Door

 

“Menikahlah denganku!”

Dua kata itu berhasil mengaduk-aduk perasaanku. Membangkitkan riak-riak menggelikan di dasar perutku. Bila kebanyakan novel romance mengatakan sensasi itu seperti kepakan sayap kupu-kupu, tapi bagiku, kepakan sayap kupu-kupu masih terlalu sederhana untuk menggambarkannya. Anggap saja itu gajah, yang menggeliat resah di sana. Sensasinya begitu dahsyat dan menggelikan.

“Eun Hee-ya[1]?” Suara berat berwibawa itu menyentakku, mengembalikan kesadaranku dalam hitungan detik.

“Bagaimana? Kau setuju?”

Aku tersenyum tipis, berjuang untuk terlihat sebiasa mungkin. Dari reaksi tubuhku, tentu saja aku mau. Tidak diperlukan pemikiran panjang untuk menyatakan ya, tapi sepertinya melakukan sedikit permainan tarik-ulur akan menjadi pilihan yang menyenangkan. Walaupun debar jantungku seperti genderang yang menyentak cepat di rusuk kiriku,  aku mengusahakan diri tetap tenang.

Karena tidak ada jawaban dariku, Kim Jang Hyuk—lelaki yang selama beberapa tahun ini—menghuni sebagian besar tempat di hatiku itu tampak mulai gelisah. “Kau… tidak setuju? Kupikir—“

“Aku minta maaf, Oppa[2].” Sebuah seringai, nyaris muncul di bibirku bila aku tidak segera berpaling. Menatap tepian pantai indah dengan deburan ombak yang menyerupai mutiara di tengah lautan gelap.

Hari ini ulang tahunku yang ke-23. Usahanya untuk memberiku kejutan manis berupa makan malam romantis di sebuah kafe tepi pantai, dan melamarku secara tiba-tiba, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagiku. Kendati kami jarang bertemu karena kesibukannya sebagai tentara di Angkatan Darat Korea, namun rasa cintaku yang sudah tumbuh semenjak kami menghabiskan masa kecil bersama-sama, tidak pernah pudar. Dia segalanya bagiku. Seorang kakak, teman, sahabat, dan kekasih yang terbaik.

“Aku tahu kau mungkin membutuhkan waktu. Tapi tidak bisakah kau mempertimbangkannya sekali lagi?”

Kali ini aku menunduk, menolak berhadapan langsung dengannya karena aku yakin dia pasti sadar aku mengelabuinya. Dia terlalu mengenalku untuk mengabaikan tanda-tanda itu.

“Eun Hee—“

“Aku takut kau meninggalkanku. Pekerjaanmu menuntut sebagian besar waktu yang seharusnya kau berikan untukku sebagai calon istrimu.”

Desah panjang lepas dari tenggorokannya, dan aku hampir saja terkikik mendapati ekspresi terluka di wajahnya. “Lalu… kau mau aku bagaimana? Apa aku harus melepaskan—“

“Aku mau kau menjadi suamiku. Bagaimanapun caranya. Meski aku harus sendirian karena selalu kau tinggalkan sepanjang waktu. Aku akan dengan setia menunggumu datang untuk memberiku kebahagiaan.” Senyumku menghiasi ketika kata-kata itu terlepas. Semakin lebar, mendapati dirinya terkejut dan bingung di saat bersamaan. “Aku menerimanya, Oppa. Aku bodoh kalau sampai menolak lamaran seseorang yang telah lama kuimpikan di sepanjang hidupku.”

Dia tertawa, menatapku dengan campuran rasa bahagia dan kesal yang nyata. “Kalau suasana hatiku tidak seindah ini, aku tidak dapat berjanji untuk membawamu pulang dengan selamat.”

Aku terkikik mendengar ancamannya yang lebih terdengar seperti gertakan. Tatapannya mengunci mataku saat tawanya hilang dan itu membuatku menutup mulut dengan ketegangan yang aneh. Benar saja… hatiku mengembang saat tangan besar dan hangat miliknya meraih tanganku, lalu menyematkan cincin perak cantik di jari manisku.

Jantungku menggelegak bahagia, saat logam dingin itu menyentuh permukaan kulitku. Tatapan sekelam malam itu memerangkapku, menjalarkan gelenyar sayang yang merambat ke seluruh bagian tubuhku.

Aku menyayangi pria ini, dan akan selalu seperti itu untuk selamanya.

“Empat bulan lagi aku libur panjang. Pada saat itulah, aku ingin kita menikah,” pernyataan itu membuat jantungku seperti dialiri air hangat yang melegakan.

Senyumku mengembang. Seolah banyak sekali bunga-bunga bermekaran di sekelilingku. Terlalu bingung untuk menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini, aku hanya bisa diam dan memandangi wajah tampannya. Dalam hati berharap, ini bukan mimpi yang akan hilang ketika pagi menyambut.

“Kau bersedia menungguku, kan?”

“Tentu saja.” Aku mengangguk tanpa keraguan sedikit pun. Memang hal inilah yang kutunggu-tunggu sejak lama. “Empat bulan tidak seberapa dibandingkan dengan penantianku selama ini.”

Aku mengulas senyum lebar untuk meyakinkannya. Meyakinkan dirinya bahwa memang inilah yang kuinginkan.

Ia balas tersenyum. Tampan. Dan entah atas dorongan gila dari mana, aku mendekat dan mendaratkan kecupan singkat di pipinya.

“Berjanjilah kau akan pulang dengan selamat.”

“Aku janji.”

 

 

=================================================================================

 

 

CHAPTER  1

 

 

 

 

Meringis, satu-satunya reaksi yang dapat kutampilkan ketika menatap pantulan tubuhku pada cermin besar yang tergantung di kiri lobby rumah sakit. Jauh dari kesan rapi dan praktis,  rambutku yang sedikit melewati bahu, kuikat menjadi satu ke belakang dengan poni miring yang acak-acakan. Mataku yang—kata sebagian besar orang—bulat, memerah dengan cekungan hitam di bawahnya karena semalaman tidak tidur. Sedangkan bibirku terlihat kering dan pucat karena kelelahan. Kalau begini, aku lebih terlihat seperti pasien, alih-alih dokter yang merawat mereka. Menyedihkan!

“Song Eun Hee, kau melupakan ponselmu lagi!”

Kontan aku memutar tubuh dan menemukan Lee Mae Ri. Sahabatku. Gadis berambut ikal sebahu itu kini berlari sembari melambaikan tangan yang tengah menggenggam sebuah benda kotak kecil berwarna putih. Ponselku. Sial. Kebiasaan lamaku belum benar-benar hilang.

“Tidak salah jika aku menyebutmu Halmeoni[3],” cibir Mae Ri seraya menyerahkan ponsel itu padaku. “Untung aku orang baik, kalau tidak… pasti sudah kuambil ponsel itu dan kujual.”

Aku terkekeh pelan. Mae Ri memang cerewet, tapi juga periang. Matanya yang kecil hanya akan tinggal segaris kalau dia tertawa. Kami bersahabat sejak masih kuliah di universitas yang sama. Sampai-sampai, bekerja pun kami tetap bersama. Dia begitu baik padaku, walau terkadang juga menyebalkan. Yeah, tipikal sahabat yang terlalu perhatian. Bahkan saking perhatiannya hingga terkesan terlalu ikut campur.

“Justru karena aku tahu kau orang baik, makanya aku percaya padamu.”

“Oh, aku tersanjung,” Mae Ri bergumam penuh nada menyindir. “Tapi asal kau tahu, niat jahat itu bisa muncul kalau ada kesempatan,” dia menasihati dengan gaya seorang pembicara ulung.

“Ah, ya. Baiklah… baiklah. Tidak perlu diperpanjang lagi. Kau terdengar seperti kekasih polisimu yang super gila itu,” keluhku jengkel, lalu memasukkan ponsel tadi ke saku jas.

Mae Ri melotot horror. “Apa katamu? Hyun Jae tidak gila!” bantahnya tidak terima. “Dia hanya… yah, agak sinting,” tambahnya disertai kepasrahan aneh yang seketika mengundang tawaku ke permukaan.

Bukan rahasia lagi jika Mae Ri suka mem-bully kekasihnya sendiri. Tapi aku tahu, begitulah cara Mae Ri untuk menunjukkan rasa cintanya yang begitu besar pada Hyun Jae. Lelaki yang hampir tiga tahun ini dipacarinya.

“Kalau begitu selamat bertugas, Uisanim[4].” Kutepuk bahu Mae Ri pelan. Memberinya semangat, sekaligus berpamitan.

“Hey, tunggu!” Mae Ri menahan bahuku hingga aku terpaksa berbalik dan ia menatap wajahku lekat. Meneliti, seolah aku pasiennya yang membutuhkan pemeriksaan lebih. “Kapan terakhir kali kau makan, huh?” Dia memberiku tatapan menuduh andalannya.

Aku meringis, lalu menepis tangan Mae Ri di bahuku. Selamanya aku tidak akan bisa menyembunyikan apapun darinya. Sejak siang kemarin aku memang belum sempat makan apapun kecuali ramyun[5] yang dipaksa masuk karena kalau tidak eomma[6] pasti mengomel. “Jangan bertingkah seperti ibuku.”

“Kalau kau tidak mempersulit hidupmu sendiri, aku tidak akan mengomel,” komentar Mae Ri tegas. Aku tahu dia peduli padaku. Dan kuucapkan terima kasih untuk itu.

“Semalam UGD sangat sibuk. Ada pasien kecelakaan dan membutuhkan penanganan intensif.” Aku beralasan. “Tenanglah. Nanti aku pasti makan.”

Mae Ri lagi-lagi mencibir. “Seolah aku tidak tahu siapa dirimu,” katanya sembari berbalik lalu melambaikan tangannya padaku. “Aku tidak mau dengar lagi maag-mu kambuh karena lupa makan,” tambahnya lalu berjalan pergi.

Aku mendesah pasrah seraya menundukkan kepalaku menatap lantai di bawah. Setelah yakin Mae Ri tidak akan berbalik lagi, kulangkahkan kakiku menyusuri taman rumah sakit dengan gontai. Hampir satu tahun aku bekerja di sini sebagai dokter jaga UGD, dan selama itu pula aku nyaris tidak punya waktu untuk diriku sendiri. Tidak jarang eomma mengomeliku karena kini berat badanku kembali turun hingga di bawah normal orang dewasa. Eomma selalu bilang kalau aku terlihat seperti tengkorak berjalan, tanpa daging dan lemak yang melekat di tubuhku. Tentu saja dengan serentetan omelan lain yang menyertainya.

Kuhempaskan tubuhku pada jok bus yang untungnya tiba tepat saat aku sampai di halte. Bersyukur karena aku tidak harus menunggu lama hingga tidak perlu kedinginan mengingat cuaca di bulan Oktober ini amat membekukan. Seperti biasa, bus menuju Yeongtong pagi ini tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa bangku yang terisi, dan aku sengaja memilih bangku kedua dari belakang, tepat di sisi jendela.

Matahari menyelinap masuk melalui jendela kaca bus saat bus itu berbelok di tikungan. Terpaksa, mataku memicing karena silau.

Bosan memerhatikan jalanan pagi kota Suwon yang mulai sibuk, aku menguap lebar-lebar. Merasakan dorongan kantuk yang memberati mataku. Mungkin aku bisa tidur sebentar sebelum bus ini sampai di Yeongtong.

Belum sampai beberapa menit jatuh tertidur, aku terkesiap sewaktu merasakan sesuatu yang berat tiba-tiba saja membebani pundak kananku.  Kepalaku refleks menoleh dan langsung menemukan sosok pria yang kini dengan seenaknya menumpukan kepalanya di sana. Mungkin dia sama sekali tidak sadar karena kini pria itu sedang tidur. Desah napasnya terdengar teratur, aroma coklat dan mint yang manis tercium dari tubuhnya yang dibalut turtle neck abu-abu dan mantel biru tua sebatas lutut.

Demi kebodohan Patrick Star, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku membangunkan pria ini dengan risiko membuat keributan dalam bus? Sial!

Sekali lagi dengan tidak nyaman, kulirik lelaki itu. Berpikir bagaimana caranya menyingkirkan kepala pemuda aneh itu dari pundakku. Pelan, kugeser pundakku dengan harapan ia akan bangun dan tidak menyandarkan kepalanya lagi padaku. Ya, kepala lelaki itu memang sedikit terhuyung ke depan, tapi dengan santainya dia malah menempatkan lagi kepalanya di pundakku. Seolah pundakku adalah bantal kesayangannya.

Oh, menyebalkan!

“Hey!” desisku kesal, tapi dengan seenaknya dia malah meneruskan tidur paginya, bahkan aku sempat mendengar dengkuran halus keluar dari tenggorokannya.

Apa yang harus kulakukan sekarang—oh? Kenapa… kenapa rasanya pundakku basah? Double sialan! Dia meliuriku!

“Singkirkan kepalamu itu!” Tidak peduli akan menarik perhatian banyak orang, aku langsung berteriak dan menghentak pundakku agak kasar. Benar saja, lelaki itu langsung tersentak bangun. Matanya yang merah memberiku tatapan bingung yang sarat pertanyaan tak terjawab. Sembari menghapus cairan kental bening di sudut bibirnya dengan tangan, ia menggumamkan. “Maaf.”

Menyebalkan! Seolah kata maaf bisa menghapus noda menjijikkan di pundakku! Oh, semoga saja dia tidak memiliki penyakit menular yang dapat membahayakanku di kemudian hari.

 

***

 

Eonnieee[7]…!!!” Suara riang Min Hee menyambutku, tepat ketika aku tiba di depan rumah. Adik bungsuku itu lantas melingkarkan lengannya di pinggangku. Menghangatkan tubuhku yang mulai kedinginan karena udara dingin di luar. “Baumu seperti obat,” komentarnya polos dan aku hanya membalas dengan senyuman singkat.

Aku berlutut untuk mensejajarkan tinggi tubuhku dengannya. Menatap sepasang mata Min Hee yang sewarna kopi. Seperti mata appa[8]. Dia satu-satunya yang mewarisi warna mata itu. Setiap kali menatapnya, ia selalu mengingatkanku pada kehangatan lembut lelaki penyabar itu.

“Kau masih ingat pesanku, Min Hee-ya?” tanyaku sembari membelai rambut hitam panjangnya yang kini dibiarkan tergerai dan hanya dihiasi bando berpita cantik berwarna pink.

“Tidak boleh keluar rumah tanpa payung dan jaket tebal.” Min Hee menjawab diikuti bibirnya yang mengerucut kesal. “Aku bosan di rumah terus, tidak punya teman bermain, dan hanya membaca buku cerita membosankan itu.”

Dia berbalik dan berjalan menjauhiku, bahunya bergelayut turun karena sedih.  Masih menatap punggungnya menjauh, aku beranjak sembari mendesah. Dua bulan lalu, Min Hee menderita demam tinggi dengan bercak-bercak merah menyerupai kupu-kupu di wajahnya. Melalui pemeriksaan yang dilakukan dokter, ia divonis menderita Lupus Erythematosus Sistemik—penyakit kekebalan sistem imun—yang membuatnya mau tidak mau harus dihindarkan dari sinar matahari secara langsung bila tak ingin penyakit berbahaya itu kambuh lagi. Ia juga diharuskan rutin meminum obatnya yang aku tahu jumlahnya tidak sedikit. Sejak itu pula, Min Hee terpaksa berhenti bersekolah di sekolah umum dan menjalankan Home Schooling. Aku sadar, tentu tidak adil bagi gadis belia seusianya harus terpenjara di dalam rumah, sementara teman-teman sebayanya asyik bermain di luar. Tapi itu semua juga demi kebaikannya. Sebisa mungkin ia harus bersabar.

“Jangan marah. Aku membawakanmu Choco Pie. Lihat!”

Cepat, kubuka tas tanganku dan mencari-cari Choco Pie yang semalam sempat kubeli sebelum sampai di rumah sakit. Aku tahu Min Hee akan senang kalau aku membawakannya oleh-oleh sepulang bekerja.

Mendengar perkataanku, Min Hee langsung berbalik dan tersenyum lebar. Tanpa segan-segan, segera meraih Choco Pie di tanganku. “Eit, tunggu dulu!” tahanku sembari menjauhkan Choco Pie itu dari jangkauannya.

Seperti yang sudah kuduga, Min Hee langsung cemberut. “Ya, ya… terima kasih,” katanya diikuti dengan bibirnya yang mengecup pipi kiriku pelan. Aku memang mengajarkannya untuk selalu berterima kasih setiap kali seseorang memberinya sesuatu. Seperti yang dulu diajarkan appa padaku. Memang pelajaran sederhana, tapi cukup berarti dan terus melekat dalam benakku.

“Bagus.” Kuacak-acak puncak kepalanya seraya menyerahkan Choco Pie itu dan Min Hee langsung menyambutnya dengan senyum lebar.

Kasihan dia. Min Hee lahir sebulan setelah appa meninggal. Jadi, si kecil itu tidak pernah merasakan kasih sayang appa. Ia tidak pernah tahu betapa hangat dan lembutnya seorang Song Tae Ji.

Eomma menunggumu di dalam, Eonnie.” Min Hee memberitahu sebelum melesat masuk ke dalam rumah dengan riang.

Oh, kesialan apalagi kali ini? Setelah diliuri lelaki tidak dikenal di dalam bus, aku harus menghadapi keluhan eomma yang lain? Sungguh hari yang menyenangkan!

Setelah melepas sepatuku di foyer, kuseret kakiku masuk ke rumah. Eomma sedang duduk bersila di sisi meja makan sembari memilah-milah beberapa lembar foto. Mendengar langkah kakiku, ia langsung mendongak namun tak sampai satu detik ia kembali memusatkan perhatiannya ke foto-foto di atas meja. Seolah obyek itu lebih menarik daripada putrinya sendiri.

“Kau sudah pulang? Kemarilah!” katanya tanpa menatapku.

Mataku memicing bingung, dan ketika aku telah sampai di hadapannya, langsung terbelalak kaget menyadari foto apa yang menjadi pusat perhatian eomma saat ini.

Tidak. Dari mana sebenarnya eomma mendapatkan foto-foto itu? Jangan bilang…

“Bagaimana dengan yang ini?” Dengan tenang eomma menyodorkan foto itu ke hadapanku. “Tampan, kan? Namanya Jang Min Hyuk, dia jaksa—“

Eomma!” potongku jengkel. “Sampai kapan kau akan terus memaksaku menjalani kencan buta?”

“Atau yang ini.” Mengabaikan protesanku, eomma menyodorkan foto yang satu lagi. “Dia seorang Chef hebat di salah satu restoran ternama.”

“Aku tidak butuh semua itu!!! Sebaiknya hentikan perjodohan menyebalkan ini!” Sengaja kutinggikan nada suaraku agar eomma tahu apa yang kurasakan saat ini.

Kudengar eomma mendengus lalu meletakkan foto itu di atas meja dengan kasar. Sepasang mata kelam eomma menatapku lurus-lurus dengan putus asa. “Aku tidak akan berhenti sampai kau mendapatkan suami yang baik dan tidak terus-terusan bersedih setelah ditinggalkan Jang Hyuk.”

Komentar terakhir eomma seperti sebilah pedang yang ditancapkan langsung ke dadaku. Aku membisu. Menelan ludah susah payah, membasahi tenggorokanku yang mendadak terasa kering. Seperti ada sebongkah batu yang tumbuh, dan semakin membesar di tenggorokanku. Menghimpit jalan napasku hingga terasa sesak.

Eomma—“

“Tidak bisakah kau berhenti menunggunya? Jang Hyuk sudah meninggal. Kendatipun kau menantinya hingga kiamat, dia  tidak akan pernah kembali.”

Lagi. Kata-kata eomma menamparku. Perlahan namun pasti, sosok berambut ikal sebahu di hadapanku itu mulai buram. Ya, air mataku menggenang dan bersiap untuk terjun.

Tidak! Aku tidak boleh menangis! Tidak di hadapan eomma, dan memberinya cukup alasan untuk terus mendesakku mengikuti rencana perjodohan itu.

Eomma!” desisku perih. Merasakan tikaman rasa sakit yang menjalar hingga ke setiap sel terkecil di tubuhku. Apa yang dikatakan eomma memang benar, tapi nyatanya hatiku tetap sakit bila diingatkan tentangnya. Katakan kalau aku gila karena tidak mau menerima kenyataan.

Jang Hyuk Oppa… aku tidak mungkin semudah itu melupakannya.

Sembari menahan agar air mataku tidak jatuh—meski rasanya tenggorokanku sesak dan dadaku terasa amat nyeri—aku beranjak dari hadapan eomma dan berkata dengan sangat pelan, seolah semua semangatku menguap begitu saja.

“Aku lelah, Eomma. Ingin tidur dulu.”

“Besok jam dua siang, datanglah ke kedai samgyeopsal[9] dekat halte. Min Hyuk akan menunggumu di sana.”

Tanpa menjawab, aku langsung masuk dan menutup pintu kamarku rapat-rapat. Meninggalkan komentar terakhir eomma menggantung di udara berteman kesunyian yang segera menyambut.

Selalu begini. Aku tidak mungkin menang bila melawan eomma. Sejak dulu tidak akan ada yang bisa menolak tawaran eomma, Presiden Korea sekalipun. Oh, tentu saja aku mengada-ada. Mana mungkin eomma bertemu dengan Presiden secara langsung?

Segalanya bermula sejak sebulan yang lalu, eomma mengenalkanku pada anak temannya. Lalu dua minggu setelahnya dengan saudara jauh temannya yang lain, seminggu yang lalu ia kembali memintaku menjalani kencan buta dengan kenalan yang baru ditemuinya di pasar hari itu. Gila memang. Dan semuanya gagal, tentu saja. Tidak ada satu pun dari lelaki itu yang berhasil menarik minatku.

Sayangnya, eomma belum menyerah… ia malah membawa-bawa banyak sekali foto lelaki lajang seolah-olah aku gadis tidak laku yang membutuhkan suami secepatnya. Menyebalkan! Aku masih ingin sendiri! Dan tidak tahukah eomma, bahwa masih banyak yang harus kulakukan untuk keluarga ini?

Setelah membuang tas tanganku sembarangan, kulemparkan diri ke tempat tidur. Mataku menatap langit-langit yang putih bersih, berbeda dengan kertas pelapis dinding kamarku yang berwarna cokelat hangat dan dihiasi gambar-gambar berpola rumit. Sembari telentang, aku bisa merasakan lelehan hangat mulai turun membasahi pipiku.

“Jang Hyuk Oppa…” rintihku, tidak lebih dari sekedar bisikan pedih.

Hampir tiga tahun berlalu semenjak kejadian menyakitkan itu. Namun setiap kali mengenangnya, hatiku masih terasa sakit seolah-olah luka itu belum sepenuhnya sembuh. Yeah, aku sadar tidak baik bila terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Hal itu akan membuat orang yang telah pergi menjadi tidak tenang. Tentu aku tidak ingin Jang Hyuk Oppa seperti itu. Hanya saja, siapa yang bisa menahan diri bila sebulan menjelang pernikahanmu, seseorang yang kau cintai harus pulang dalam keadaan tidak bernyawa?

Aku terguncang. Hatiku sakit bagai dihantam benda yang sangat berat. Harapan yang telah tumbuh tinggi itu tiba-tiba dipugar tanpa sisa. Rasanya seperti dilambungkan ke langit ke tujuh, lalu dihempaskan ke bumi dengan satu hentakan menyakitkan.

Seminggu penuh setelah kematiannya, aku tidak mau menemui siapa pun dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Bertingkah seperti mayat hidup. Sama sekali tidak memiliki semangat untuk melakukan apapun. Bahkan, semester itu aku harus mengulang beberapa mata kuliah karena nilaiku benar-benar anjlok. Hal yang tidak pernah terjadi pada seorang Song Eun Hee sebelumnya.

“Jang Hyuk Oppa… seharusnya kau menepati janjimu untuk pulang dengan selamat.”

Kuusap pelan permukaan cincin perak pertunangan kami yang hingga kini masih kupakai, walau beberapa kali kudengar eomma mengomel memintaku untuk segera melepasnya. Cincin perak dengan kristal cantik berwarna safir ini satu-satunya kenangan yang diberikan Jang Hyuk Oppa sebelum ia meninggal. Di lapisan bagian dalam cincin ini juga terdapat ukiran harapannya bersamaku saat menikah nanti.

Satu, selamanya.

Alangkah indahnya mimpi kami dulu. Menikah, memiliki anak, hingga menua bersama. Tapi suratan takdir berkata lain. Nyawanya terenggut sebelum kami sempat mengucapkan janji suci itu di depan altar. Tidak bolehkah bila sekarang aku merasa sedih dan menolak membuka hatiku kembali?

Noona[10]!”

Kontan aku beranjak duduk dan buru-buru menghapus lelehan air mata yang berhasil meloloskan diri di pipiku, mendapati sosok jangkung yang kini berdiri di ambang pintu. Membisu memandangi Song Jong Hee. Adik keduaku. Ia tampak begitu gagah dalam balutan seragam tentara yang membungkus tubuhnya dengan baik. Yah, memang tidak segagah Jang Hyuk Oppa karena tubuh Jong Hee yang kurus tanpa otot. Tapi yang membuatku bingung, apa yang dilakukannya dengan seragam itu? Apakah… dia baru saja mendaftar wajib militer tanpa sepengetahuanku?

“Aku diterima dalam keanggotaan ROTC[11]!” pekik Jong Hee riang.

Demi Tuhan! Tidak lagi.

 

TBC

===============================================

[1] Sufiks yang ditambahkan untuk memanggil orang yang sederajat atau lebih rendah derajatnya.

[2]  Sebutan untuk kakak laki-laki oleh adik perempuan

[3] Nenek (Bahasa Korea)

[4] Dokter (Bahasa Korea)

[5] Mie Ramen khas Korea

[6] Ibu (Bahasa Korea)

[7] Sebutan untuk kakak perempuan oleh adik perempuan

[8] Ayah (Bahasa Korea)

[9] Daging babi panggang yang berlemak dan tebal

[10] Sebutan untuk kakak perempuan oleh adik laki-laki

[11] Reserve Officers Training Corps: Program pelatihan militer untuk mahasiswa

16 thoughts on “[OriFict] Second Door -Prolog + Chap 1-

  1. yah, awalnya aku sempat kecewa sih waktu bilang kakak bakal berenti nulis, karena kakak salah satu author fav. aku, dan kalo emang itu pilihan kakak ya aku bisa apa kan. Dan untuk persembahan ff terakhir dr kakak, aku mau bilang gomawo, karna setidaknya masih ada 21 cerita dr kakak yg menanti untuk dibahas, nd btw, ninggalin jejak dulu ^^v

  2. Lega akhirnya kamu post karya kamu lagi,, walau
    pun kata kamu ini adlh karya yg ‘gagal’ bukan berarti kamu pendem dan ga mau dibagi ke readers setia kamu. janji yahh bakal update cerita ini ampe kelar..
    chapt 1 cukup bikin aku penasaran gimana kisah Eun hee selanjutnya stlh ditinggal mati oleh calon suaminya.

    Next, chapt 2
    Let’s Go

    • hehe… Makasih, Eon dah setia bacain karyaku yg abal-abal inih🙂
      Insya Allah, klo yg ini pasti dikelarin. Secara ceritanya udah rampung, tinggal ngepost ajah. Sehari satu Chapter klo sempet🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s