[Another Story] Passionate Love -Chapter 4-

Chapter 4

 

 CoverPLlagi fix

 Dia… laksana salju di musim panas. Terasa dingin dan hangat di saat bersamaan.

Cast:

Lee Donghae

Lee Donghae

 

Lee Yoohee

Lee Yoohee

 

Yang Seungho

Yang Seungho

 

Aku yakin sudah cukup siang ketika terbangun, dan terkejut mendapati Tuan salju-musim-panas itu masih duduk memunggungiku di meja makan. Segera pandanganku tertuju pada jam dinding berdegradasi warna pelangi yang tergantung di ruangan itu, untuk memastikan bahwa aku memang tidak sedang mengantuk sewaktu melihat jam wekerku di kamar.

Benar, jarum pendek jam itu memang menunjuk ke angka delapan, bahkan kini sudah hampir meninggalkannya karena jarum panjang menunjuk pada angka lima. Itu artinya, ini sudah hampir jam setengah sembilan pagi. Sungguh waktu yang aneh untuk melihat Lee Donghae masih di rumah. Biasanya pagi-pagi sekali, pria itu sudah tidak di sini. Setidaknya sejak aku tinggal di rumah ini, seperti itulah kenyataannya.

Sial! Kenapa dia memilih pagi ini untuk merubah kebiasaan itu? Di saat aku benar-benar tidak siap untuk berhadapan dengannya setelah kejadian memalukan semalam. Apa dia sengaja menungguku bangun untuk mempermalukanku? Demi Tuhan! Semoga itu tidak benar.

“Ah, selamat pagi, Yoohee-ssi.”

Suara riang Bibi Han yang berdiri di sebelah konter dapur, berhasil mengurungkan niatku untuk kembali ke kamar. Bagaimana tidak, bila sapaannya juga membawa serta tatapan kelam itu padaku.

Double sialan! Aku menelan ludah gugup sewaktu menyadari tatapannya menelusuri tubuhku seperti pria kelaparan.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Kurasa, bersikap seperti pengecut tidak akan ada gunanya. Jika dia siap bertempur, harusnya aku pun siap.

“Pagi, Ajumma.” Aku bersyukur suaraku cukup nyaring untuk dibilang ketakutan.

Tepat ketika aku menggeser kursi tinggi berwarna orange itu untuk duduk, aku tercengang melihatnya berdiri, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung pergi meninggalkan ruangan ini. Ada perasaan dingin bercampur kesal yang seketika melingkupiku, terlebih saat tatapanku tertuju pada roti tangkup berisi telur dan keju di piringnya. Roti itu masih tersisa cukup banyak untuk ditinggalkan begitu saja.

Dugaanku tentang motifnya untuk mempermalukanku, langsung lenyap secepat kilat menyambar. Jelas bukan itu maksudnya. Mungkin dia hanya telat bangun, dan tidak menyangka akan bertemu denganku pagi ini. Ya, sikap dinginnya yang seperti biasa sudah kembali, dan seharusnya aku tidak merasa kesal.

“… Yoohee-ssi?”

“Oh?” Demi Tuhan! Aku berharap, aku mendengar apa yang dikatakan Bibi Han sebelumnya. Dengan perasaan tidak nyaman, aku meringis. “Bisakah kau ulangi pertanyaanmu, Ajumma?”

Bibi Han tersenyum bingung, setelah membawa sepiring roti tangkup berisi telur dan keju lagi dan meletakkannya di atas meja berkontur tidak rata di hadapanku, ia menyahut. “Maaf kalau aku lancang, aku hanya ingin bertanya, apa kalian bertengkar semalam?”

Refleks aku mendengus. Jika maksud Bibi Han adalah sikap dingin Donghae padaku, memang begitulah sikapnya selama ini. Kejadian semalam—oh sial! Itu masalah lain lagi. Yang aku tidak mengerti adalah, di saat seharusnya ia mampu mempermalukanku setelah kejadian itu, tapi lelaki itu malah memilih menghindariku.

“Tidak.” Aku menjawab sesaat setelah memotong roti dalam piringku menjadi potongan kecil. “Memang begitulah perangainya di depanku. Dingin, dan menghindar. Seolah aku adalah wabah menular.” Aku menggigit rotiku dengan penuh nafsu, seolah dengan begitu dapat meredakan kekesalan yang bersarang dalam hatiku.

“Oh, tidak. Tuan mudaku hanya takut.”

Mataku menyipit bingung. Takut? Oh, Bibi Han… jangan membuatku tertawa. “Ajumma bilang dia takut padaku?” ulangku, sama sekali tidak memercayai apa yang baru saja kudengar.

“Tidak, Yoohee-ssi.” Bibi Han menatapku serius, hingga aku terpaksa berhenti mengunyah dan langsung menelan roti dalam mulutku meski terasa amat sulit. “Dia tidak pernah terlihat seberantakan itu sebelumnya. Apa kau tidak melihat cekungan hitam di bawah matanya? Rambutnya yang berantakan, dan tatapannya saat melihatmu…”

Aku menelan ludah. Bertahan untuk tidak mengeluarkan erangan merana yang nyaris terlontar dari mulutku. Aku memang tidak memerhatikan penampilannya pagi ini, karena otakku terlalu sibuk memikirkan cara untuk kabur.

Tapi berantakan? Aku tidak menyangka bahwa pengaruhku bisa sebesar itu baginya.

“Tuan muda menginginkanmu, Yoohee-ssi. Hanya saja, ia terlalu takut pada cinta.”

Aku mengeluarkan tawa hambar mengejek. “Hasrat tidak ada hubungannya dengan cinta.”

“Memang benar, hasrat tidak ada hubungannya dengan cinta. Lelaki bisa saja memiliki hasrat pada setiap perempuan seksi yang ditemuinya. Tapi begitu hasrat itu terpuaskan, ia akan padam dengan sendirinya.” Bibi Han memamerkan senyuman yang membuat perutku mulas. “Berbeda bila hasrat itu didasari oleh cinta. Ia akan bertahan, sekeras apa pun kita menghindarinya. Daya tarik itu akan tetap ada dan melekat seperti benalu pada inangnya.”

Aku terkesiap ketika tangan Bibi Han menyentuh pundakku. “Lagipula jika memang ingin, bisa saja Tuan muda memaksamu untuk memuaskan hasratnya. Toh, dia sudah menjadi suamimu. Tidak ada yang akan menyalahkannya untuk itu. Tetapi fakta bahwa suamimu menghindar dari setiap desakan hasratnya yang menggebu, mengorbankan dirinya sendiri menjadi sosok yang begitu menyedihkan, membuatku yakin bahwa ada rasa peduli yang terbersit di hatinya. Dan aku yakin kau pasti ingat kata-kataku beberapa waktu lalu, bahwa kepedulian adalah fondasi awal dari bangunan bernama cinta.”

Debaran keras menghentak di dada kiriku, mengirimkan kesenangan aneh yang menjalar di setiap denyut nadiku. “Percayalah, Anakku. Cinta itu telah tumbuh. Dia hanya belum menyadarinya.”

Oh, Bibi Han. Hentikan!

 

***

 

Ini gila! Aku menemukan diri merenungkan setiap kata yang diucapkan Bibi Han tadi pagi. Meski kata-kata itu lebih lucu dari reality show Running Man sekali pun.

Dia mencintaiku? Oh, apa pentingnya semua itu bagiku? Toh, aku menikah bukan untuk mendapatkan cintanya. Aku pun yakin, perasaanku padanya tidak pernah berubah sejak awal pertemuan kami. Hanya benci, benci dan benci.

Tapi, apa yang membuatmu menginginkannya setiap kali ia menyentuhmu?

Bisikan-bisikan menyebalkan muncul dari sudut benakku. Oh, sial! Itu pasti hanya karena dia terlalu berpengalaman menyentuh wanita, hingga aku pun tidak sanggup menghentikan hasrat yang timbul setiap kali…

“Hey, apa makanannya tidak enak? Kau harus banyak makan supaya kelihatan lebih gemuk.”

Suara Seungho membawaku kembali ke masa kini, dan mengingatkan aku bahwa kini aku tidak sendirian. Segera aku membuang bayangan-bayangan tentang Lee Donghae dari benakku. Ya, menjelang siang tadi, Seungho menelponku. Ia memintaku makan siang bersamanya. Sekaligus menemaninya berbelanja karena ia belum sempat mengisi kulkasnya dengan persediaan makanan semenjak pindah ke Seoul tiga hari lalu.

“Jag-eunnie, atau jangan-jangan kau sedang diet?”

Tawa terlepas dari tenggorokanku, melihat kekhawatiran yang membayang di wajah Seungho. “Kenapa? Kau takut terlihat lebih gemuk ketika jalan bersamaku? Karena itukah kau ingin membuatku lebih gemuk lagi?”

Seungho menyeringai, memamerkan deretan giginya yang berbaris rapi. “Kau terlalu mengenalku untuk bisa ditipu.”

“Dan seharusnya, kau lah yang berhenti makan. Lihat, pipimu sudah mengembang seperti bakpao yang baru saja matang.”

Seungho memperlihatkan ekspresi terkejut yang sangat imut. Oh, ralat… kata imut sangat tidak cocok untuknya. Maksudku, sangat aneh karena begitu kontras dengan wajahnya yang terkesan sangat maskulin. “Wah, sepertinya enak. Apa kau mau memakan bakpao itu? Aku akan memberikannya gratis untukmu.”

“Tidak, terima kasih,” sergahku, seraya mendorong bahunya menjauh karena nyaris saja pipinya menyentuh bibirku, ketika ia mencondongkan tubuh. Lima tahun lalu, mungkin aku akan ikut tertawa bersamanya. Tapi kini, bersikap biasa saja di hadapan Seungho menjadi begitu canggung untuk kulakukan. Mungkin benar kata orang, bahwa cinta dapat merusak persahabatan.

“Itu sama sekali tidak lucu, Ssong!” tambahku sewaktu mendengar sebuah tawa terlontar dari bibirnya.

“Ah, maaf. Aku lupa kalau sekarang kau sudah menikah.”

Mataku melotot. Benci karena dia selalu membawa-bawa masalah pernikahanku dalam setiap percakapan kami. “Yang ini bahkan lebih tidak lucu, Ssong! Kalau kau ingin aku tetap di sini bersamamu, sebaiknya jangan mengungkitnya.”

Seungho langsung diam, matanya menunjukkan tatapan bingung yang sarat akan pertanyaan. “Kau tidak suka aku membahas pernikahanmu, bahkan hingga kini kau tidak mengenalkanku pada suamimu itu. Apa yang sebenarnya telah kulewatkan, Yoohee-ya?”

Sial! Jika dia memilih menyebut namaku, itu artinya dia serius. Dan bukankah seharusnya aku menyimpan masalahku dengan Donghae darinya?

Tolol! Semestinya kau bisa lebih berhati-hati lagi dalam bersikap! Aku membayangkan sedang membenturkan kepalaku sendiri ke tembok.

“Kau mau berbelanja atau tidak?” Segera aku berdiri, mengabaikan keterkejutan Seungho akan keenggananku bersikap jujur. Ia masih bergeming. Menatapku tanpa suara dengan sepasang matanya yang setajam mata pisau, hingga aku merasa seperti dikuliti hidup-hidup.

“Ssong!” panggilku sekali lagi, “Aku tidak punya banyak waktu. Suamiku akan marah kalau aku pulang terlambat lagi malam ini.”

“Suamimu marah.” Timbul kerutan cukup dalam di keningnya selagi mengulang. Kerutan tidak suka yang sangat akrab bagiku. “Apa dia bersikap buruk padamu?”

“Tidak!” Terlalu cepat. Aku tahu. Karena itulah ekspresi Seungho jadi sekeras batu granit. Ia pasti curiga aku menyembunyikan sesuatu darinya.

Dengan gusar, aku duduk kembali. Tatapan Seungho masih terfokus padaku, seolah sedang mencari kebenaran yang saat ini kusimpan. “Dia hanya khawatir,” tambahku, mencoba meyakinkannya. “Karena aku tidak sempat berpamitan padanya sebelum pergi.”

Tatapan Seungho melunak. Senyum tipis perlahan-lahan muncul di sudut bibirnya yang tebal. “Maaf, aku hanya tidak suka kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Sial! Dan aku memang melakukannya.

“Menurutku, kau tidak terlihat seperti pengantin baru yang sedang berbahagia.”

Oh, gawat! Selama beberapa detik, aku nyaris kehilangan kendali karena takut dia akan meragukan pengakuanku tentang pernikahan itu, sampai akhirnya aku berhasil menjawab dengan sangat tenang. “Hanya belum terbiasa dengan kehidupan pernikahan.” Terkutuklah Seungho karena terlalu mengenalku untuk bisa kubohongi.

“Sunbae-nim!”

Lega mendapat pengalihan, aku langsung menoleh pada asal suara lembut mendayu itu. Sayangnya, rasa lega itu tidak bertahan lama sewaktu menyadari sosok bergaun santai berwarna maroon, dengan potongan dada cukup rendah, yang berdiri setengah meter di sebelah meja kami. Gadis itu begitu cantik seperti jelmaan Aphrodite, Dewi kecantikan dalam mitos Dewa-Dewi Yunani. Sepasang matanya bulat indah dengan iris berwarna cokelat, hidungnya lancip dan tinggi, sedangkan bibirnya tipis dan mungil. Berwarna merah muda yang begitu kontras dengan kulitnya yang putih mulus tanpa cela. Tulang pipinya tinggi dan berdagu lancip, seolah ia dipahat dengan begitu hati-hati oleh Sang Pencipta. Aku yakin, siapa pun pria yang berhadapan dengannya, tidak mungkin bisa mengalihkan perhatian pada yang lain.

“Youngri-ssi.” Suara Seungho terdengar.

Aku terkejut melihatnya tetap tenang, bahkan terkesan acuh. Untuk sejenak, pandangan Seungho memang teralih pada gadis itu, tapi tidak sampai satu menit, ia kembali berkonsentrasi pada waffle dalam piringnya. Seolah waffle coklat pesanannya jauh lebih menarik daripada gadis cantik itu.

“Tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini, Sunbae.”

“Apartemenku berada di dekat sini. Kau tahu itu.”

Aku nyaris menyeringai mendengar jawaban Seungho yang seketika menghapus senyum satu juta dollar di bibir gadis itu. Dia tidak pernah berubah. Dari dulu selalu cuek pada wanita mana pun yang ditemuinya. Bagi Seungho, setumpuk makanan lezat lebih menyenangkan ketimbang wanita cantik dan molek yang bersedia memberinya apapun asal dia mau menyerahkan hatinya pada wanita itu.

Dengan ketenangan dibuat-buat, gadis itu terkekeh. “Oh, benar. Aku lupa. Sebenar—“

“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Tanpa diduga, Seungho beranjak. Memotong komentar terakhir gadis itu. “Ada hal penting yang harus kukerjakan.”

“Tapi, Sunbae-nim!”

“Ada apa lagi?” Pertanyaan Seungho dilontarkan dengan malas.

“Aku…” Kulihat gadis itu meremas tangannya sendiri. Sepertinya ia sedang menahan diri agar tidak menampar Seungho saat itu juga karena dengan terang-terangan mengabaikannya. Mungkin bagi gadis secantik dia, diabaikan seorang pria adalah hal yang sangat jarang terjadi. “Aku hanya ingin bertanya tentang jadwal latihan kita. Ya, aku lupa mencatatnya di organizerku.”

“Besok jam tiga sore.” Hanya itu jawaban Seungho, dan detik berikutnya ia menatapku sambil berkata. “Ayo, kita harus berbelanja sebelum terlalu malam.”

Tentu saja ajakan Seungho membawa serta tatapan bermusuhan gadis berambut ikal sepunggung itu padaku. Oh, sial! Sebaiknya aku segera pergi dari sini sebelum dia melimpahkan amarahnya padaku.

“Seharusnya kau bisa bersikap lebih lembut, Ssong!” Aku berkata dengan suara sedikit terengah karena berusaha mengimbangi langkah-langkah lebar Seungho di trotoar. “Sepertinya gadis itu menyukaimu.”

“Siapa?” Seungho membalas, walau tatapannya masih lurus ke depan.

“Gadis itu. Si cantik berpakaian maroon,” sergahku jengkel. Seharusnya ia tidak perlu bertanya lagi.

“Oh, Go Youngri?” Seungho memperlambat langkahnya. Syukurlah, jadi aku tidak perlu sedikit berlari untuk mengejarnya. Aku benci fakta bahwa dibutuhkan beberapa kali langkahku untuk mengimbangi satu langkah lebar Seungho. Oh, kalau saja aku terlahir lebih tinggi.

“Ya, tidakkah sikapmu terlalu kasar padanya?”

Mendadak, Seungho berhenti. Ia membalik tubuhnya menghadapku, hingga nyaris saja aku menabrak dadanya yang besar dan kokoh itu jika tidak segera menghentikan diri.

Seringai lebar terukir di wajahnya yang—menurut sebagian besar teman kami dulu—mampu membuat iblis gugup. “Jika dia mengharapkan pria lembut dan penyabar, kenapa memilih menyukaiku?”

Aku mendengus sebagai jawaban. “Ya, lebih baik kau nikahi snack kentang kesayanganmu itu saja. Aku yakin, dia tidak akan mendapat perlakuan dingin darimu.”

“Kau juga tidak.”

Seperti ada seseorang yang menekan tombol pause, aku membeku. Satu-satunya wanita yang bisa dekat dengannya memang hanya aku. Masih melekat dalam ingatanku saat hampir semua perempuan di sekolah yang tertarik padanya selalu datang padaku untuk meminta tips bagaimana aku bisa sedekat itu dengan Seungho. Bahkan tidak jarang beberapa dari mereka menyatakan kecemburuannya padaku. Padahal, hubungan kami tidak lebih dari sekedar sahabat dekat yang kerap bersama sejak masih bayi.

“Hey, Jag-eunnie. Kau baik-baik saja?”

Berdeham kikuk, aku membalas. “Ya, karena kau sahabatku,” seraya menyunggingkan senyum muram. Betapa aku berharap lebih. “Kalau aku gadis lain, pasti kau akan bersikap sama padaku.”

“Tergantung.”

Tidak bisa kupungkiri, ada secercah kehangatan di hatiku mendengar Seungho berkata begitu. Walau aku tahu, mungkin ini hanya omong kosong belaka.

“Tergantung apa?” Aku mencoba.

“Tergantung bagaimana cara kau bersikap di hadapanku.” Seungho kembali melangkah, menatap lurus ke depan dengan sikap tenang. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku mantel. “Kau tahu, aku selalu menghargai seseorang yang mampu bersikap jujur.”

Sial! Jadi kau akan berhenti menjadi sahabatku saat tahu bahwa aku telah membohongimu, Yang Seungho.

 

 

***

 

 

Taksi yang kutumpangi berhenti di Seoul Art Center yang kini dipenuhi para pecinta musik klasik. Malam ini akan dilangsungkan pertunjukan musik Orchestra yang mengusung tema kemanusiaan. Seungho akan tampil, dan ini pertunjukan pertamanya bersama SPO. Tentu saja dia memintaku hadir dengan memberiku dua tiket konser gratis di bangku VIP.

Sejatinya, tiket itu untukku dan Donghae. Tapi aku tidak memiliki tekad sekuat baja untuk memberikannya pada si Tuan Salju-musim-panas. Lagipula, selama beberapa hari terakhir aku tidak pernah bertemu dengannya. Dia kembali lagi pada rutinitas terdahulu. Pergi pagi dan pulang larut malam. Seolah ia robot yang telah diprogram untuk bekerja tanpa henti. Bahkan di akhir minggu sekalipun.

Menghela napas pelan, aku mengangkat sedikit rok gaun brokatku yang sebatas mata kaki. Berjalan sendirian di antara kerumunan orang yang tengah bersenda gurau dengan kelompoknya masing-masing. Bahkan di tempat seramai ini, aku merasa kesepian. Tidak ada seorang pun yang menemaniku. Jonghee yang seharusnya ingin menonton, terpaksa membatalkan niatnya karena sedang sibuk mengikuti ujian akhir semester. Sedangkan paman dan bibi Yang, terlalu jauh di Jeju untuk dapat menyaksikan pertunjukan ini. Oh, aku benar-benar benci situasi seperti ini. Jika bukan karena Seungho, aku tidak mungkin melakukannya.

Bicara tentang Seungho, mengingatkan aku bahwa sebaiknya aku mencari alasan yang tepat bila dia sampai bertanya tentang Donghae. Aku yakin, dia tidak mungkin menolerir bentuk kebohongan apapun yang—

“Hey, Jag-eunnie! Kau datang.”

Aku membeku. Jika di dalam sebuah film ada gerakan slow motion, maka itulah yang terjadi saat ini. Kerja otakku sepertinya melambat. Ada yang menggelitik area perutku sewaktu menyadari betapa tampan penampilan Seungho malam ini. Dalam balutan jas hitam mahal, rompi hitam, dan juga kemeja putih yang dihiasi sebuah dasi kupu-kupu dan bross cantik bertuliskan SPO di bagian saku dadanya, Seungho tampak luar biasa menawan. Dia tidak lagi seperti Seungho yang kukenal serampangan, dengan pakaian santai dan rambut berantakan. Malam ini, Seungho menunjukkan bahwa ia juga memiliki aura bintang bila memakai pakaian rapi.

“Simpan dulu keterpesonaanmu untuk nanti, Nona.”

Aku mendengus, dan tertawa kecil mendengar komentarnya. Kini ia telah berdiri tepat di depanku. Tatapannya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu yang seharusnya ada di sini. Oh, sial! Dia pasti menyadari ketidakhadiran Donghae.

“Suamimu—“

“Dia sibuk.” Terlalu cepat lagi. Kumohon tahan dirimu, Yoohee!

Kernyit dalam timbul di kening Seungho. “Bahkan di akhir minggu?”

Aku meremas tas tanganku. Menjadikannya pelampiasan rasa gugup yang melanda. “Yeah, begitulah,” sahutku, yang sepertinya sama sekali tidak memuaskan rasa penasaran Seungho. “Kau tahu, pengusaha memang selalu seperti itu.” Aku bersyukur karena suaraku terdengar lebih tenang sekarang. “Mereka menghabiskan banyak waktu di tempat kerja, dengan alasan proyek besar yang harus segera diselesaikan bila ingin keuntungan sebesar mungkin.”

Seungho akhirnya mengangguk. “Baiklah.” Dia mengulurkan tangannya padaku. “Ayo, kuantar kau ke dalam. Sebentar lagi acaranya dimulai, dan aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi lagi.”

Aku menghela napas lega sewaktu tanganku berhasil melingkari lengan Seungho. Ada kehangatan menenangkan dari sentuhan lengannya yang terbalut kain jas tebal itu di kulitku. Dan aroma Seungho yang nyaman, memenuhi hidungku.

Terima kasih, Ssong. Aku menyayangimu!

Beberapa deret kursi sudah penuh terisi ketika aku masuk. Seungho membawaku ke sebuah bangku VIP yang berada pada urutan ketiga dari depan. Cukup dekat untuk menyaksikan kehebatan permainan musisi-musisi papan atas negeri ini.

“Aku tinggal dulu.” Seungho berpamitan. “Jangan lupa mempersiapkan kata-kata terbaik untuk pujianmu padaku nanti.”

Kudorong bahunya menjauh seraya mendesis muak. Tapi tidak mampu menahan diri untuk tersenyum dan mengatakan. “Good Luck,” sebelum ia menghilang di balik kerumunan orang.

Beberapa menit kemudian, suasana menjadi hening ketika lampu dimatikan. Dan nada lembut dari Mozart mengalun sebagai musik pembuka. Saat lampu di panggung megah itu menyala kembali, tatapanku langsung tertuju pada satu-satunya pemain grand piano yang berada di tengah-tengah deretan para musisi.

Yang Seungho. Sahabatku itu terlihat sangat mahir menarikan jemarinya di atas tuts piano. Ratusan nada ia mainkan. Semua berhasil dengan baik. Dia benar tentang hebat. Bila membandingkan permainannya malam ini dengan sepuluh tahun silam, sungguh begitu banyak peningkatan yang terjadi.

Medley lagu-lagu Eropa klasik itu diakhiri dengan komposisi dari Beethoven. Sewaktu seorang pemain cello memulai sebuah lagu klasik Korea, seseorang di belakangku bersorak dengan bangga. “Dia putriku,” gumam samar suaranya kudengar di tengah-tengah euphoria penonton.

Aku menyipitkan mata saat merasa wajah gadis itu tidak asing. Kemudian kejadian sore itu melintas, saat gadis bergaun maroon yang begitu jelita menyapa Seungho di restoran.

Mataku terbelalak. Benar itu dia! Kalau tidak salah terka, namanya Go Youngri. Jadi, ia seorang pemain cello berbakat. Betapa aku berharap dapat menggantikan posisinya. Oh, Yoohee. Lupakan!

“Dia putriku,” ulang suara di belakangku. Ada nada bangga khas seorang ayah yang terlintas saat suara itu melanjutkan. “Dia lulus lebih awal dari teman-temannya yang lain, dan langsung diterima dalam keanggotaan SPO. Tidakkah menurutmu dia begitu berbakat?”

Aku nyaris menangis mendengar komentar itu. Seorang ayah dengan kebanggaannya akan sang putri. Jika saja Appa masih hidup, akankah dia memiliki kesempatan untuk merasa bangga atas diriku?

Entahlah! Aku tidak bisa memastikan itu. Selain kemampuan akademikku yang di atas rata-rata, aku tidak memiliki bakat lain yang bisa kubanggakan.

“Ya, aku bisa melihatnya.”

Seketika, aku berharap telingaku tidak berfungsi dengan baik. Suara sengau itu… meski sudah beberapa hari ini tidak mendengarnya, aku tidak mungkin salah mengenalinya. Mungkinkah ada beberapa orang yang memiliki jenis suara yang sama di muka bumi ini?

“Seandainya kau tidak terburu-buru menikah, Donghae-ssi. Aku pasti tidak akan segan…”

Suara-suara itu serasa berdengung seperti kumpulan lebah yang mengirimkan jutaan perasaan takut ke sekujur tubuhku. Tanpa sadar, aku meremas tanganku yang berubah menjadi sedingin es dan mulai berkeringat.

Lee Donghae ada di sini. Di gedung ini. Lebih parah lagi, ia berada di belakangku. Aku menelan ludah gugup, berjuang mempertahankan diri agar tetap tenang. Bisakah aku berharap, dia tidak menyadari keberadaanku? Jika itu benar, aku akan sangat bersyukur.

Sepanjang akhir pertunjukan, aku tidak bisa menikmatinya lagi. Aku merasa, Donghae memerhatikanku dari belakang. Matanya yang kelam, seperti sedang menusuk-nusuk punggungku. Demi Tuhan, mampukah aku lolos darinya malam ini tanpa menimbulkan keributan apapun? Jika Seungho tahu Donghae ada di sini, dia pasti akan memberondongku dengan banyak sekali pertanyaan yang tidak ingin kujawab.

Sialnya, harapan itu sia-sia belaka. Tepat ketika pertunjukan usai, dan lampu di venue menyala kembali, aku mendengar suaranya berbisik di telinga kananku. “Nyonya Lee, sungguh kebetulan yang menyenangkan.”

Mengabaikan fakta bahwa Seungho akan marah jika aku tidak menunggunya keluar dari backstage, kubalik tubuhku menghadap Donghae. Pria itu menjulang di belakangku. Tempatnya berpijak berada satu tangga di atasku, hingga saat ini aku hanya setinggi dadanya. Ada kilat amarah yang terpancar dari tatapan tengah malamnya.

“Kau berhutang penjelasan padaku—“

“Aku akan menjelaskannya di rumah,” selaku cepat. Terlalu cepat untuk dibilang tenang.

Ya, sebisa mungkin Seungho tidak boleh menemukan kami bersama. Aku sudah terlanjur mangatakan bahwa Donghae sibuk. Sangat tidak lucu jika dia tiba-tiba muncul di tempat ini.

“Kau tidak ingin mengucapkan selamat pada lelaki itu—“

“Kita pulang sekarang!”

Aku melangkah melewatinya. Mengabaikan rasa perih di telapak tanganku karena kuku-kukuku menancap akibat kepalan yang terlalu erat. Sebisa mungkin aku menjaga agar tidak tersandung sewaktu melewati kerumunan orang yang membentuk kelompok-kelompok kecil di pinggir gedung.

“Tidakkah kau terlalu terburu-buru?”

“Di mana mobilmu?”

Suara tawa yang datar mengalun dari mulutnya. Dan suaranya yang penuh ejekan samar bergumam. “Aku akan membawamu pulang sekarang juga. Tapi pastikan kau menyiapkan alasan yang bagus untukku nanti.”

 

***

 

“Siapa lelaki itu?” Itulah pertanyaan pertama Donghae ketika kami sampai di rumah. Ia bahkan tidak membiarkanku duduk dan tenang dulu, sebelum bertanya.

“Yang Seungho.” Aku berhasil menjawab, meski rasanya debar keras jantungku masih mendominasi dan memukul-mukul menyakitkan.

Dengus kasar terdengar. Menyiratkan ketidakpuasan Donghae akan jawabanku. Tentu saja dia bukan hanya menanyakan nama Seungho. “Siapa dia? Ada hubungan apa denganmu?” Jika ada es yang lebih dingin, kurasa begitulah nada suaranya saat ini.

Aku memeluk tubuhku sendiri. Berjuang mempertahankan diri tetap tegak berdiri dan tidak menggigil ketakutan. “Dia temanku. Sahabat terbaikku—“

“Lalu mengapa kau terburu-buru pergi?” Donghae memotong. Matanya menyipit curiga seperti penyidik yang menghadapi kriminal pendusta. “Jika dia memang temanmu. Kau tidak akan keberatan kalau kami bertemu.”

Aku menahan napas ketika ia mendekat. Hembus napasnya membelai keningku dan aroma tubuhnya yang maskulin menyebar memenuhi penciumanku. “Sejak kapan kehidupanku menjadi penting bagimu?” Aku harus bertepuk tangan untuk diriku sendiri, karena berhasil melawan ketakutanku.

Dia tertawa, hambar dan dingin. Aku bersumpah tidak pernah melihat Donghae semarah ini sebelumnya. Dan betapa hal itu menyulut amarahku juga. “Jangan mengalihkan topik, Sayangku. Kau tidak mungkin lupa kalau aku suamimu.”

“Ya, suami yang mengabaikanku seperti wabah menular!” Aku menjerit dan tersentak saat tangannya mencengkeram bahuku. Tatapan itu memerangkapku.

“Jawab saja pertanyaanku,” geramannya rendah dan berbahaya. Menjanjikan rasa sakit jika aku tidak mencoba berkata jujur. “Kau menyukainya.” Tuduhan itu menghunjam jantungku, hingga untuk sepersekian detik, aku merasa duniaku berputar-putar.

“Ya, aku menyukainya. Dan betapa aku membencimu karena telah menghancurkan kesempatanku untuk dapat bersamanya!!!”

Aku memejamkan mata. Menanti dengan kalut perlakuan kasar apa yang akan diberikannya padaku. Bibirku memang lancang. Aku tahu. Sayangnya, itulah yang diinginkannya. Dan aku memberikan apa yang memang ingin diketahuinya.

Di luar dugaan, cengkeramannya mengendur. Aku memberanikan diri membuka mata dan terkejut sewaktu mendapatinya menjauh lalu membalik tubuhnya memunggungiku.

Napasnya berhembus cepat dan tidak beraturan, sedangkan kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Dia menahan diri. Menahan diri untuk tidak menyakitiku.

“Percayalah, Anakku. Cinta itu telah tumbuh. Dia hanya belum menyadarinya.”

Aku menggeleng kuat-kuat, mencoba mengenyahkan dengung kalimat itu dalam benakku. Donghae tidak mencintaiku. Tidak. Dia hanya… dia hanya… mencoba bersikap baik.

Rasa bersalah menyerangku. Kuangkat tangan untuk menyentuh bahunya. “Donghae—“

“Apapun masa lalumu dengannya. Sekarang kau milikku.” Tanganku berhenti di udara yang kosong saat dia menyela. Masih memunggungiku, seolah menatapku adalah kesalahan terbesar baginya. “Jangan coba-coba membuat skandal dengan memperlihatkan hubunganmu yang tidak lazim dengan lelaki itu di depan umum. Atau… aku akan melakukan hal terburuk yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya!”

 

 

TBC

 

Sorry to say, this is LAME! But, thank you for Reading🙂

48 thoughts on “[Another Story] Passionate Love -Chapter 4-

  1. Udah baca sih di FP eonn…
    cumaaa pengen ngerusuh aja disini kkkk~~

    Eonn aku sukaaa ama gaya Donghae yg dingin + mengerikan disini :v
    berasa liat Donghae versi baru yg ‘wow’
    hihihi

    eiiiii…
    eonn… next nya yang lebih panjang lagi ya~~~~~
    masih kurang soalnya yg ini >.<
    tetiba TBC aja Zzzz… Zzzzz…. Zzzz…
    *ditimpuk

  2. sbnernya udh coment di fp ^^ tp tinggalin jejak deh xD
    pnsrn nih dr gelagat dongek kyalx dia udh jtuh cinta dluan tp tkut krn pnglman msa laluxo_O y ampub gk sbr bwt part 5 ^^ fighting onnie

  3. Eonnie, next part jgn lama-lama ne^^
    suer dehh..
    Suka bnget sma karakter Donghae d sini, sungguh bkin greget ><

  4. Yang selalu ditunggu akhirnya keluar juga.Donghae bener2 keluar dari karakter yang biasa ada di ff lain.Kekanakan dan Childist.Aku suka karakter dingin dan misteriusnya disini.Daebak!!❤

  5. woaaaah ceritanya jadi tambah bingung. jadi yoohee itu emang suka ama seungho atau cuman sekedar manas2in donghae aja? woaaa g sabar next part:D

  6. Pendek..😀
    dan donghae oppa bilang aja suka sama istri sendiri gag ada yg nglarang kan😀😀
    ditunggu neext~ part..:)

  7. alamaak…….
    kata2 abg ikan bkin aku meleleh seketika “apapun hubunganmu dimasa lalu,ckrang kau adalah milikku”
    daebak bgt buat author yg bkin kta sperti itu.
    sejauh ini konfliknya blm terasa,bru kecemburuan abg ikan yg terlihat.kalau bisa yonhee jg cemburu ama abg ikanku.Biar yonhee jg menyadari perasaannya.
    gomawo utk author yg udh nyempatin wktnya utk lanjutin crtanya🙂.kan aku ngak jd mati penasaran
    hahahaha….
    aku tunggu next partnya

  8. Yoohee n donghae udh punya feeling satu sama lain tuch…hmm berarti tinggal usaha utk mengungkapkan aja tuch. Kapan sich donghae berubah..*.ngarepdotcom

  9. Sebenernya mereka berdua udah punya rasa cuma masih belum sdar,,,, donghae kapan kamu tidak bersikap dingin lagi,,,,,,,,,,…………?!??????

  10. donghae mulai ‘cemburu’ tuh –,) yang seungho nanti jangan jadi PHO ya -.-
    cepatlah sadarkan mereka berdua (donghae-yoohee). dan cepatlah publish part 5 #hopefull🙂

  11. beneran nih yoohee suka seungho..
    donghae cemburu y?? bilang aja saranghae gitu.. apa perlu ak wakilkan.. aishhhh…

  12. beneran nih yoohee suka seungho..
    donghae cemburu y?? bilang aja saranghae gitu.. apa perlu ak wakilkan.. aishh…

  13. Sumpah ceritanya bikin aku geregetan🙂
    astaga Donghae oppa kenapa kau bersikap dingin sekali kepadaku *plakk😀
    “Apapun masa lalumu dengannya. Sekarang kau milikku.” Kata kata donghae oppa buat Yoohee bikin aku menjerit eonnie *lebay😀
    ditunggu kelanjutannya ya eonnie😉

  14. huh… Sekali ajh jd pasangan yg akur bisa gk sih?
    Dua-duanya sbenernya udh saling suka.cuma pda keras kepala ajh.

    Eon cepet lnjut ya..
    Bikin adgan romantis buat mreka dong.

  15. yah… yoohenya salah ngmong tuh…
    aduh..makin ribet aja deh..klo aku jdi donghae aku juga bingung, tpi jdi yoohee kayanya lebih ngebingungin deh…

  16. Ahhh… bete banget ini TBC. Ayo dong eonn secepatnya post FF ini. Aku cinta banget sama Donghae dikarakter ini. Hehehe. Fighting eonn!!😀

  17. Donghae sayang ama yoohee tapi takut mengakui ama menunjukkannya efek ditinggal ama mantannya..

    Ayo oppa move on…tunjukin sayangmu yar yoohee gak salah paham dan diambil yang seungho…hihihi…ditunggu next chapnya…

  18. Kirain aku juga sama donghae akan melakukan hal yg kasar ternyata tidak .. Donghae masih trauma yah sama yg namanya cinta … Donghae yg dingin dan misterius aku suka🙂

  19. Percaya gak percaya…
    Saya bangun tidur nyari hape langsung lanjut baca ini ff saking penasaran sama kelanjutan kisah cinta donghae sama yoohee😉

    Emang bener kata bibi han kayaknya donghae emang suka sama yoohee…
    Duuuh yoohee padahal tinggal ngomong jujur alasan knpa dia harus menghindar,kan jadinya gak ada salah paham lagi…

  20. Huwaaaaa😥 donghae kasihan sekali hidupnya, sudah sering di khianati dan sekarang istrinyapun hanya mau balas dendam😦 semoga istrinya lm2 suka donghae😀 kereeeeeennnn

  21. di sini Donghae dibikin jd orang dingin, yg biasanya dibikin jd orang romantis.
    tapi menurutku sifatnya di sini malah bikin greget skaligus romantis (?) keren, gitu. hahhhaaa
    apalagi pas plot cemburu. huuaaa

  22. aduhh dipart ini dadaku mulai nuesek tiap baca kalimatnya…….satu sisi ksian jg donghae…entah knp ksia .sm dia….satu sisi mgkin emang yoohee cm mempertahankan diri aja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s