[Another Story] Passionate Love -Chapter 3-

Chapter 3

 

 CoverPLlagi fix

 

Dia… laksana salju di musim panas. Terasa dingin dan hangat di saat bersamaan.

 

Lee Donghae

Lee Donghae

Lee Yoohee

Lee Yoohee

 

Ciumannya melumpuhkanku, membuaiku dengan cara-cara yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Dalam sekejap, aku lupa di mana diriku berada dan hanya mengerang merasakan setiap sensasi yang berhasil dibangkitkan bibir hangat itu.

Aku meraup oksigen banyak-banyak, ketika bibirnya meninggalkan bibirku hanya untuk beralih mengecap perpotongan leherku. Di mana denyut nadiku berdetak cepat dan semakin cepat. Refleks, aku menengadah. Memberikan akses lebih baginya untuk memberikan kecupan dan gigitan kecil yang mengirimkan jutaan efek kejut ke setiap saraf tubuhku.

Selain fakta bahwa ada tubuh pria besar dan hangat yang memerangkapku di dalam kabut sensasi, aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Pikiranku kosong, bagaikan melayang-layang di tempat yang bebas tanpa beban apa pun.

“Sial kau penyihir kecil!” Ia mengumpat. “Aku tidak bisa menghentikan dorongan untuk menyudutkanmu ke tempat sepi, melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhmu, dan bercinta denganmu saat ini juga.”

Aku terkesiap mendengar gerutuannya yang serupa bisikan kacau. Mataku terpejam, dan aku menggigit bibir bawahku menahan setiap rintih nikmat yang nyaris terlontar. Tangannya turun ke punggungku, menekan tubuhku ke tubuhnya yang liat dan panas. Bukti gairahnya menekan perutku, membuat sekujur tubuhku gemetar oleh sesuatu yang berhasil kubangkitkan darinya.

Sebuah kesadaran baru menyentakku. Dia menginginkanku. Ya, dia…

Tidak, Yoohee… dia tidak pernah menginginkanmu, hati nuraniku berbisik. Dia hanya memanfaatkanmu untuk menggantikan posisi Min Ah. Lelaki itu belum bisa melupakan Min Ah, karena itulah dia memperalatmu. Memanfaatkan tubuhmu untuk melampiaskan hasratnya. Sial!

Mengumpulkan segenap keberanianku yang tersisa, aku mendorong tubuhnya menjauh dengan satu teriakan lantang. “Lepaskan! Aku bukan Sung Min Ah!”

Tersentak mundur seperti baru saja ditampar, ia melotot dengan cara menyakitkan. Alih-alih membalas kemarahanku, lelaki itu bergeming, dan hanya menatapku laksana seekor macan yang terluka.

Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya aku merasakan napasku yang terengah kembali normal dan aku dapat berpikir lebih jernih saat kabut sensasi itu mulai meninggalkanku. Apa yang telah kulakukan? Apa aku menyakitinya?

“Seberapa banyak yang kau tahu?” Ia memberiku tatapan menuduh yang sarat akan kebencian mendalam. “Apa yang dikatakan Bibi Han padamu?!”

“Semua yang perlu kuketahui.”

Dia mendengus. Membalik tubuhnya, memunggungiku. Berjalan perlahan ke arah pintu ganda yang tertutup. Meski dari belakang, aku bisa melihat ketegangannya melalui punggungnya yang kaku seperti boneka kayu yang digantung.

“Mulai besok, kurasa kau tidak perlu bertemu dengannya la—“

“Tidak. Jangan!” selaku cepat. Tidak sadar telah melangkah mendekatinya ke ambang pintu. Kepanikan menyergapku. Seharusnya aku tidak membocorkan ini padanya. Dia boleh marah padaku. Tapi Bibi Han? Tidak. Wanita itu terlalu baik untuk menerima semua ini.

“Bibi Han tidak salah.” Cepat-cepat aku menambakan. “Aku… aku yang memaksanya bercerita.”

Dia memutar tubuhnya dengan keanggunan seorang predator yang siap memangsa korbannya. Ada seringai sinis di bibirnya ketika berkata. “Oh, aku terkesan dengan rasa ingin tahu istri kecilku yang cantik.”

Aku menelan ludah gugup. Terpaksa berjalan mundur saat ia maju beberapa langkah dan kembali mengurungku di antara pagar pembatas balkon dan tubuhnya yang kokoh.

Betapa aku berharap ia kembali mencumbuku, membuaiku dengan cara-cara yang menenangkan sekaligus sensual. Mengirimkan gelenyar hangat pada hatiku yang—Oh, tidak! Apa yang sedang kupikirkan?

Ia masih mempertahankan seringainya sewaktu tatapan tengah malamnya memerangkapku. Menusuk tepat ke fokus mataku dengan ancaman yang murni. “Apa pun motifmu melakukan itu, kuharap kau tidak pernah mengungkitnya lagi. Atau… aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal telah melakukannya.”

Tanpa sadar, aku menghempaskan napas yang sejak beberapa detik lalu kutahan ketika ia berjalan menjauhiku. Ada geletak halus yang ditimbulkan bunyi sepatunya dengan lantai. Sebelum ia membuka pintu ganda di hadapannya, aku mendengar suara sengau lelaki itu yang mengungkapkan. “Ayo pulang, sebelum yang lainnya melihat penampilanmu yang berantakan!”

Aku terkejut ketika tanpa kusadari ia telah melepas dan melemparkan jas-nya kepadaku. “Tutupi tubuhmu dengan itu!”

Sial! Dia benar, aku tidak bisa membayangkan betapa bengkaknya bibirku setelah cumbuannya tadi, dan bekas gigitannya di leherku. Arrggh… harusnya aku bisa menghentikannya lebih awal!

 

***

 

Bosan terkurung sepanjang hari di dalam rumah, meski kondominium mewah itu memiliki spot-spot menarik untuk kugunakan, hari ini aku memutuskan mengunjungi Eomma di Incheon. Sudah lama sejak pesta pernikahan itu berlangsung, dan aku belum bertemu dengannya untuk sekedar menanyakan bagaimana kondisinya saat ini.

Helaan napas berat kulepas ketika menatap bangunan rumah sederhana bercat abu-abu kusam di hadapanku. Rumah bertingkat dua yang nyaris direnggut dari tangan kami karena kerugian yang ditimbulkan sejak usaha Appa bangkrut beberapa bulan silam. Ya, aku pun sadar, jika bukan karena Donghae yang datang dan memberikan sejumlah uang untuk menyelamatkan properti kami, mungkin aku, eomma dan adik-adikku sudah kehilangannya.

Meski tidak semewah kondominium di pusat kota Seoul yang kini kutinggali, aku menemukan diriku belum rela melepas predikat ‘rumahku’ pada bangunan di hadapanku ini. Di sinilah rumahku yang sebenarnya. Tempat di mana hatiku berada. Banyak kenangan indah masa kecil yang kulalui di setiap sudut tempat ini. Baik di dalam, maupun di ayunan tua di pinggir pohon Ek besar yang dulu sengaja dibuatkan Appa untukku.

Pernah suatu kali aku hampir menangis karena ayunan itu akan dibuang untuk dibangun taman bunga yang lebih cantik, tapi akhirnya Appa mengurungkan niatnya dan malah memperbaiki ayunan kayu lapuk yang sebelumnya nyaris patah dengan ayunan baru yang lebih kuat. Oh, betapa aku merindukan pria tua pemilik sorot mata kopi yang hangat itu.

Setelah menghela napas sekali lagi, aku melangkah menyusuri jalan kecil yang dipaving di tengah-tengah taman berhias rerumputan hijau yang di beberapa bagiannya ditanam krisan putih dan kuning. Tepat di depan rumah, ada rumpun Azalea cantik berwarna campuran putih dan merah muda yang ditanam dalam bentuk memanjang menyerupai pagar.

Tanpa repot-repot mengetuk pintu, aku masuk.dan mendapati suasana rumah sangat sepi. Tidak ada siapa pun di ruang tamu, padahal ini hari Minggu. Mungkinkah mereka semua sedang menghadiri sekolah Minggu? Oh, sial! Seharusnya aku memperhitungkan hal itu sejak awal.

Tapi tunggu! Aku berhenti ketika mendengar gemericik air keran dari dapur. Mungkin eomma sudah pulang. Ketika aku berbelok ke arah suara itu berasal, aku tersenyum senang menemukan Eomma tengah memunggungiku. Ia sedang mencuci beras di wastafel. Atasan putih dan rok biru tua selutut membalut tubuh rentanya dengan pas.

Sengaja ingin mengejutkannya, aku berjalan dengan kaki berjinjit supaya tidak menimbulkan suara dan langsung memeluk Eomma dari belakang. Untuk beberapa saat aku merasakan tubuh Eomma tegang, tapi perlahan-lahan ketegangan itu berangsur-angsur hilang menjadi sepenuhnya rileks ketika kudengar ia menyebut. “Yoohee, kau pulang.”

Aku melepaskan pelukanku dan eomma berbalik menghadapku. Senyumnya mengembang, dan tangannya naik untuk membelai rambutku. Ada kehangatan lembut dari mata kelamnya yang memerhatikanku dengan saksama.

“Bagaimana kau tahu itu aku?”

Eomma tidak menjawab pertanyaanku, dan hanya menggumam. “Syukurlah kau baik-baik saja.”

Aku tertawa kecil seraya mendengus. “Memangnya Eomma berharap aku bagaimana?”

“Aku hanya takut kau tidak bahagia.”

Senyumku langsung memudar, digantikan seringai kecut yang membuat eomma mengernyit. “Aku memang tidak bahagia, tapi aku tidak akan berlarut-larut untuk menyesali yang telah terjadi,” balasku skeptis.

Eomma diam. Matanya menatapku penuh pertimbangan, sebelum akhirnya kembali bertanya. “Dia tidak memperlakukanmu dengan baik?”

“Bukan begitu,” sergahku cepat. Selain sikap dinginnya, dan kenyataan bahwa keberadaannya membuatku merasa tidak nyaman, aku tidak menemukan apa-apa lagi yang bisa kujadikan bukti perlakuan buruknya. Ia nyaris tidak pernah membentakku, apalagi memukulku. Kecuali semalam, saat aku mengungkit luka lamanya kembali.

Ya, dia… seperti salju di musim panas. Terasa hangat dan dingin di saat bersamaan.

“Lalu apa? Ceritakan padaku.”

Tidak ingin membahas masalah ini lebih jauh, aku merangkulkan lenganku di pundak Eomma dan berkata. “Di mana Minhee dan Jonghee? Aku merindukan kedua adik nakalku itu.” Untuk mengalihkan pembicaraan.

Aku menangkap sebersit pemahaman dalam tatapan Eomma ketika menjawab. “Minhee dan Jonghee sedang keluar membeli minuman dan es krim.”

“Wah, es krim. Sepertinya mereka tahu akan ada tamu.”

“Memang ada tamu.”

Jawaban Eomma membuatku terkejut dan tidak kuasa menahan diri untuk bertanya. “Siapa?”

“Nanti kau juga tahu.”

Oh, aku benci teka-teki.

“Baiklah. Kalau begitu, aku—“

“Bagaimana kalau kau membantuku menyiapkan makanan?” Eomma mengambil apron biru muda yang digantung di samping konter dapur dan menyerahkannya padaku.

Aku menerima apron itu, tidak memiliki alasan untuk menolak. “Baiklah, asal Eomma bisa menolerir makanan yang mungkin akan terasa berantakan,” gurauku dan seketika mengundang decak geli Eomma.

“Sebagai istri, kau harusnya bisa memasak,” komentar Eomma sambil lalu, dan melanjutkan kegiatannya mencuci beras. Sama sekali tidak menyadari perubahan suasana hatiku.

 

 

Aku sedang menambahkan potongan bawang putih pada pot keramik berisi rebusan ayam gingseng di depanku, ketika kudengar teriakan riang Minhee dari ruang tamu. Mereka sudah pulang. Oh, syukurlah! Akhirnya aku terbebas dari keharusan membumbui masakan ini. Entahlah, dari dulu aku tidak pernah bisa membuat takaran yang pas untuk sebuah makanan agar terasa enak seperti yang selalu dilakukan Eomma.

“Pergilah! Temui adik-adikmu!”

Ah, Eomma pengertian sekali!

Dengan gerak cepat, aku melepas apron di tubuhku dan berlari kecil mengelilingi meja makan di sisi dapur untuk menghampiri mereka.

“Minhee, Jong—“

Aku terkesiap, dan mendadak menghentikan langkah mendapati satu sosok lain yang kini berdiri di antara kedua adikku itu. Sosok lelaki bertinggi sekitar 176 cm itu terlihat sangat familiar. Tatapannya yang tajam, bibir tebal yang seksi, dan kantung hitam yang bergelayut di bawah matanya yang hampir selalu terlihat lelah.

Mataku melebar. Tapi sebelum aku mampu bersuara, kudengar suara tenang lelaki itu.

“Jag-eun[1]!”

Getaran aneh menjalari perutku. Satu-satunya orang yang pernah memanggilku seperti itu hanya, “Ssong!”

Dia merentangkan lengannya sembari tertawa, memintaku menghambur ke pelukannya. Tapi aku bergeming. Malah cemberut pada sahabat baikku itu.

Yang Seungho

Yang Seungho

Yang Seungho. Dulu ia dan keluarganya tinggal hanya berjarak beberapa rumah dari rumahku. Kami sudah berteman sejak usiaku masih beberapa bulan. Aku dan Seungho terlahir di bulan yang sama, hanya berbeda sebelas hari saja. Bahkan di sekolah, teman-teman selalu menjuluki kami saudara kembar karena selalu pergi ke manapun bersama. Tapi ketika kami menginjak usia SMA, ayahnya yang bekerja di kepolisian, dipindahtugaskan ke Jeju. Ia terpaksa pergi untuk mengikuti keluarganya, meninggalkan kesadaran baru di benakku, bahwa aku menyukainya dan sudah terlambat untuk itu.

Aku sedih, sekaligus marah. Bukan padanya, tapi pada diriku sendiri karena baru menyadari betapa berarti dirinya bagiku. Kenyataan bahwa ia tidak pernah menghubungiku lagi semenjak hari itu, membuatku semakin terpuruk dan memutuskan untuk melupakannya.

“Kau salah jika berpikir aku telah memaafkanmu!”

Seungho menyeringai, dan berjalan pelan mendekatiku. Matanya memperlihatkan kilatan geli yang samar. Seolah apa yang kukatakan hanya sebuah lelucon. Aku berhak marah setelah apa yang dilakukannya padaku. Apa sulitnya menghubungiku dengan limpahan teknologi seperti saat ini?

“Jangan marah,” katanya tenang. “Aku minta maaf karena tidak sempat menghubungimu.”

“Empat tahun, Ssong.” Aku mendengus. “Dan kau sama sekali tidak memiliki kesempatan?”

Dia tertawa menyesal. “Tapi aku sudah kembali.”

Ya, dia memang kembali. Tapi sudah terlambat. Oh, sial! Kehadirannya justru membuatku semakin menyesali apa yang telah terjadi. Jika saja ia datang tepat waktu, mungkin aku tidak akan terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini.

“Aku menyesal untuk Paman Lee.” Ia bicara lagi ketika aku tidak menjawab. “Tapi saat itu aku masih di London untuk mengejar mimpiku. Jadi aku tidak bisa datang.”

London?

“Seungho Hyeong berhasil meraih mimpinya dengan bergabung bersama SPO.”

Mataku melebar terkejut, bergantian menatap wajah Jonghee dan Seungho. Seoul Philharmonic Orchestra. Sebuah orchestra tertua dan terkenal di Negara ini. Sejak kecil, Seungho yang menyukai dan sangat berbakat memainkan grand piano, sangat berambisi untuk dapat masuk ke jajaran para pemain SPO.

“Kau—“

“Tidak perlu seterpesona itu.” Ia memamerkan seringai puas. “Kau boleh memujiku nanti, saat menyaksikan langsung kehebatan permainanku.”

Aku mendengus sebagai jawaban, dan berjengit mundur ketika lengannya dirangkulkan ke pundakku. Sebelum ia sempat bersuara, aku bergegas melewatinya, menyapa Minhee—adik keduaku yang kini menginjak usia 12 tahun—lalu keluar. Mungkin menghirup udara segar akan mampu menghilangkan pikiran-pikiran menyesakkan yang bergelayut dalam benakku.

Betapa aku berharap bisa memutar waktu, dan sedikit menunda rencana pernikahanku. Dengan begitu, Seungho bisa menghalangi pernikahan ini berlangsung. Tapi… aku meragukan Seungho akan melakukan itu. Sejak dulu aku tahu perasaanku padanya hanya bertepuk sebelah tangan. Tentu saja ia tidak akan mau repot-repot melakukannya.

Senyum pahit tersungging di bibirku ketika membayangkan apa yang menantiku di masa yang akan datang. Cinta pertamaku kembali di saat aku sudah menjadi milik orang lain. Dan hal paling menyakitkan di dunia bukanlah perpisahan secara fisik, tetapi fakta bahwa kau bisa melihat orang yang kau cintai dari dekat, namun tidak pernah mampu untuk memilikinya.

***

 

Makan siang berlangsung. Aku nyaris tidak menyentuh ayam gingsengku karena terlalu sibuk meratapi nasib. Pikiranku melayang ke masa lalu, di saat segalanya masih terasa manis dan menyenangkan. Sekali waktu aku mencuri dengar percakapan Jonghee dan Seungho tentang rencana mereka menonton pertunjukan orchestra beberapa minggu lagi.

Aku tahu, tidak pantas menyalahkan Seungho atas semua yang terjadi pada diriku. Pria itu hanya mencoba meraih mimpinya. Apa yang salah dengan itu?

Kedatangan paman Taejung, mengalihkan perhatianku untuk sejenak. Ia bergabung di meja makan setelah Eomma menawarkan dan langsung melahap Samgyetang di mangkuknya. Paman Taejung adalah adik tiri Appa. Ia biasa datang dan pergi ke rumah ini seperti sudah menjadi kediamannya sendiri.

Ketika makan siang usai, aku duduk di sofa dan membuka-buka majalah lamaku. Seharusnya kepulanganku ke rumah bisa menjadi hiburan tersendiri, tapi aku malah menemukan pikiranku semakin rumit.

Sofa di sebelah kiriku berguncang ketika Paman Taejung duduk di sana. Ia tersenyum prihatin padaku sembari bertanya. “Bagaimana kondisimu? Sepertinya tidak terlalu baik.”

Aku tersenyum kecut. Paman Taejung tahu apa yang terjadi padaku. Ia yang memberitahuku bahwa keluarga Donghae lah yang telah menghancurkan usaha Appa hingga menjadi sepahit itu. Grup Haeshin memainkan permainan kotor dengan para pemasok hingga menimbulkan kerugian berlipat pada proyek yang telah dimenangkan perusahaan Appa.

Paman Taejung juga satu-satunya orang yang tidak setuju aku menerima tawaran untuk menikah dengan Lee Donghae. Tapi tidak mampu berbuat apa-apa karena semuanya sudah diputuskan.

“Aku tidak perlu mengatakannya, Samchon. Kau bisa menilainya sendiri.”

Dia menepuk pundakku penuh sayang, dan membisikkan sesuatu yang membuatku sadar tentang tujuanku sebelumnya. “Aku bersedia membantumu untuk itu,” ungkapnya dengan suara lirih. “Kau hanya perlu memberiku informasi yang kubutuhkan.”

Aku merenungkan kata-kata paman Taejung setelah ia meninggalkanku sendirian. Rencana untuk membalas dendam terbentang luas di hadapanku setelah mendengar apa yang direncanakan Paman Taejung tadi.

Ya, aku mau melakukannya. Demi Appa, aku bersedia melakukan itu!

“Jag-eunie!”

Kuurungkan niatku berdiri ketika kudengar suara berat Seungho, dan sebelum aku menyadari, ia sudah menjulang di samping kiriku dengan perhatian penuh padaku. “Hey, apa—“

“Aku sudah memaafkanmu.” Kali ini aku berdiri, dan bersumpah melihat keterkejutan Seungho selama beberapa detik sebelum akhirnya ia bersuara.

“Kau yakin?”

“Apa kau mau aku berubah pikiran?”

Dia menggeleng, dan tertawa lebar. Aku terkesiap ketika tiba-tiba ia menarikku ke dalam pelukannya. Mengirimkan jutaan sinyal aneh yang menggelitik area perutku. Pelukannya, terasa hangat dan menenangkan. Betapa aku berharap ia tidak akan pernah melepasnya.

“Jangan lagi bertingkah seperti kekasih yang sedang marah karena tidak mendapat perhatian.”

Sialan! Pipiku memanas sewaktu menyadari apa yang dikatakannya benar. Segera aku melepaskan diri, dan menjauh. Bertingkah seolah tidak ada sesuatu yang terjadi, walau pada kenyataanya kini aku berperang melawan debar jantungku sendiri.

“Oh, maaf,” Ia bersuara. “Tidak seharusnya aku memeluk wanita yang sudah menikah.” Jantungku seperti ditinju petinju professional. “Yeah, aku terlalu terbawa suasana.”

Double sialan! Mataku memanas, dan dengan sangat terpaksa aku berpaling darinya. Tidak seharusnya ia mengungkit hal yang paling ingin kuhindari saat ini. Tidak, di saat aku sudah mau memaafkannya.

“Aku lupa belum mengucapkan selamat atas pernikahanmu.”

Bergeming. Aku tetap memunggunginya. Sama sekali tidak berani mengambil risiko untuk menatap sepasang mata kelam yang dulu selalu kurindukan dan tidak menangis setelahnya. “Terima kasih,” bisikku muram lalu melangkah menjauhinya.

Seungho tidak boleh tahu bahwa pernikahan ini bukan keinginanku. Tidak boleh!

Sebelum aku sempat berjalan menuju ayunan favoritku di taman, kurasakan tangan besar dan hangat Seungho melingkari pergelangan tanganku. “Temani aku ke pantai, sudah lama aku tidak bersenang-senang di sana.”

Aku membeku, untuk sejenak membiarkan Seungho menyeretku menuju pagar. “Hey, apa kau tidak suka gagasan itu?”

Kutahan senyum getir yang nyaris tersungging di bibirku, lalu menggeleng. “Apapun yang kau inginkan, Ssong. Terima kasih sudah kembali.”

“Seharusnya kau mengucapkannya dari tadi.” Ia merangkulku, dan kami melangkah beriringan, melintasi jalan-jalan yang menyimpan jutaan kenangan manis di masa lalu.

 

***

 

“Pergi seharian dan pulang larut malam.”

Aku terkesiap, dan seketika menghentikan langkah mendengar suara berat dan sengau itu. Tubuhku secara refleks berputar. Terkejut, sewaktu menemukan Tuan salju-musim-panas itu duduk seorang diri di sofa ruang tamu. Berselimut kegelapan, dan hanya disinari seberkas cahaya yang masuk dari jalanan melalui jendela kaca besar yang melapisi dinding bagian luar.Bertanya-tanya sejak kapan ia duduk di sana. Mungkinkah ia juga melihatku keluar dari KIA merah Seungho?

Oh, sial!

Tadi aku tidak bisa mencegah keinginan Seungho untuk mengantarku pulang. Ia beralasan wanita tidak boleh bepergian malam-malam sendirian. Dan karena apartemen barunya berada tidak jauh dari kondominium milik Donghae di kawasan Gangnam, ia memiliki alasan kuat untuk terus mendesakku.

“Dari mana saja?”

Suara itu kembali menyentakku, menimbulkan gelenyar aneh yang menjalar di punggungku. “Aku ke Incheon. Menemui ibuku.” Kurasa, tidak ada gunanya aku berbohong dan membuatnya semakin berang.

“Tidakkah seharian terlalu lama?” Ia mendebat. Matanya berkilat marah.

“Bahkan ini terlalu singkat.” Aku membalas, dan menyesalinya kemudian karena kini ekspresi Donghae menggelap.

Dia tertawa tanpa humor. Berjalan mendekat hingga kini kami hanya berjarak beberapa senti saja.

“Kalau ingin pergi lebih lama, kenapa tidak meminta ijinku dulu? Jadi aku tidak perlu berpikir macam-macam karena kau tidak pulang hingga selarut ini.”

Oh… Aku membisu. Tidak tahu harus membalas bagaimana. Alih-alih membentakku, dia malah menyatakan kekhawatirannya terhadapku. Haruskah aku merasa tersanjung?

Tidak, tidak, tidak. Dia hanya bersikap baik. Tidak lebih!

“Aku bosan sendirian di rumah.” Entah bagaimana aku berhasil kembali bersuara. “Dan tidak ada seorang pun yang menemaniku di sini. Karena itulah—”

“Kau bisa kembali melanjutkan kuliahmu yang tertunda, kalau mau.”

Aku terkejut, dan memberanikan diri mendongak menatapnya. Dari mana dia tahu keinginanku untuk kuliah lagi? Karena musibah yang kami alami semenjak kematian Appa, aku terpaksa menghentikan kuliahku karena harus bekerja.

“Tidak perlu terkejut,” Dia tertawa mengejek, lalu melangkah menuju tangga. “Kalau kau boleh mengetahui tentang masa laluku, kenapa aku tidak?”

“Bibi Han menceritakannya padamu.”

Itu pernyataan, tapi dia tetap menjawab. “Menurutmu siapa lagi?” Dia mulai menapaki anak tangga pertama, ketika kembali bersuara. “Siapkan aja apa yang kau perlukan. Aku akan mengurus masalah pembayarannya.”

“Aku tidak akan kuliah lagi!” Cepat-cepat aku membantah. Dia salah kalau berpikir aku mau menggunakan uangnya untuk membiayai kuliahku. Aku tahu dia memang telah membayar untuk dapat menikahiku, tapi aku masih memiliki harga diri selagi aku bisa menghindar dari kebutuhan yang tidak perlu.

Kuliah bisa menunggu. Dan aku akan membiayainya dengan uangku sendiri jika kelak mendapat kesempatan. Kalaupun tidak, aku tak peduli.

Ia memutar tubuh, dan mengernyit. “Kenapa?”

“Aku berubah pikiran.” Ketika ia hanya diam dan tidak berusaha mendebat, aku menjelaskan. “Untuk apa repot-repot kuliah jika masa depanku sudah diputuskan?” Ada nada menyindir dalam suaraku yang sengaja kuperdengarkan.

Ia kembali menuruni tangga untuk mendekatiku. Suaranya sarat akan ejekan ketika berkata. “Aku tidak suka seorang gadis yang mudah menyerah pada kehidupan.”

“Dan betapa aku berharap kau tidak pernah menyukaiku!” Aku mendengar diriku sendiri membentak. Mengabaikan debar keras jantungku yang bertalu seperti irama musik rock yang kencang.

Ia diam. Menatapku dengan sorot menantang yang buas seolah aku adalah makan malam yang pantas dinikmati saat itu juga. Kali ini keheningan berlangsung cukup lama, hingga rasanya aku akan mati lemas karena terlalu lama menahan napas.

Cengkeraman tangannya di bahuku mengirimkan gelenyar dingin yang menjalar hingga ke perut. Seringai aneh yang tersungging di bibirnya tidak memperbaiki kondisiku yang mulai tersudut.

“Coba kau buktikan pernyataanmu itu, saat aku melakukan ini.”

Lututku terasa lemas ketika bibirnya berada di atas bibirku. Bergerak dan melumat dalam kelembutan menyesakkan yang membuatku tanpa sadar membalas ciumannya dengan intensitas yang sama.

Mataku terpejam, dan lenganku merangkul tengkuknya. Membawa tubuhnya lebih dekat ke tubuhku. Aku bodoh karena melakukan ini, tapi akan lebih bodoh lagi bila mengabaikan desakan primitif yang timbul setiap kali tubuhnya berada di dekatku.

Aku mengerang memprotes ketika bibirnya meninggalkan bibirku, dan kembali menggeliat saat bibirnya bergerak ke telingaku. Menggigit dan menggoda dengan cara yang sangat sensual.

Ia berhasil melakukannya lagi. Membuaiku dengan kelembutan menyiksa yang membuat akal sehatku lumpuh. Betapa aku berharap ia tidak pergi lagi. Aku menginginkannya. Ya, aku ingin ia berada dalam diriku. Menenggelamkan diri dalam-dalam untuk meredakan setiap denyut liar di tubuhku.

Eranganku kembali lepas ketika ia meninggalkanku. Berharap ia akan segera kembali, tapi aku malah menemukan diri kedinginan dan limbung sesaat setelah ia melepaskan cengkeramannya di tubuhku.

Mataku terbuka, dan menemukannya memunggungiku. Seketika rasa panas yang pekat merayap ke setiap jengkal kulitku. Memalukan! Aku berkata tidak menginginkannya, tapi reaksi tubuhku seperti wanita kelebihan energi yang butuh dipuaskan.

“Pergilah! Sebelum aku melakukan sesuatu yang nantinya akan kausesali!”

Alih-alih mempermalukanku, dia justru menyuruhku pergi untuk kebaikanku sendiri? Oh, Demi Tuhan! Dia benar-benar makhluk paling rumit yang pernah kutemui.

 

Credit Pict: By Wulan Jamilah

Credit Pict: By Wulan Jamilah

TBC

 

[1] Kecil

63 thoughts on “[Another Story] Passionate Love -Chapter 3-

  1. Keren, eon.
    Suka banget sama karakter donge disini, biasanya aku kalo baca ff itu karakter donge itu sukanya mewek *curhat*
    itu seungho itu masalalunya yoohee atau gimana eon?

    Aku tunggu kelanjutannya eon🙂

  2. finally next chap nya udh diupdate. aku sllu nunggu lanjutannya ><
    mulai muncul cast baru, si seungho. plis jgn bkin dia hd org ketiga diantara donghae-yoohee.. biar aj mreka berdua dgn kegalauannya(?) lol

  3. nc nya mana ahahhaa… /plaaakk/ digampar eunhyuk/ ehehe aku suka idenya lee donghae yg dingin tp panas haduh.. ongeeee… wlopun udah baca yg di fp.. ttp gak bosan … dilanjutt yah… :3

  4. Aaaaa.. kuranggg..
    kurang panjang.

    donghae aneh y.. kekny dy suka la ma yoohee, sma,yoohee jg sok jual mhal.
    #sok tau.😄

    lnjutny jgn lma y thor.. ^^😀

  5. Keyeeeen eon!!! Eh keren maksudnya😀 , buka fb eh eonni udah ngepost part 3 PL, Etdaah donghae di sini bikin dag dig dug, daebaklah pokoknya, thanks ya eon udah mau ngelanjutin ^_^, ffmu selalu kunanti :3, next chap di tunggu~~

  6. Keyeeen!!! Eh keren maksudnya😀 , Etdaah disini donghae bikin dag dig dug, thanks ya eon udah ngelanjutin PLnya lg, ffmu selalu kunanti :3, ditunggu next chapnya~~

  7. sukaa sama karakter donghae disinii…..😀
    ditunggu next chapnya chingu.!!!
    aku bru bisa koment dipart 3 ini soalnya emang pertama bacanya langsung dipart 3 saeng, penasaran gara-gara baca status kamu….
    menurutku mau coupel eunhae atau yoonhae itu gk masalah selama authornya bisa masukin chemistri ditiap coupelnya dan menurutkuu juga kamu uda sukses masukin chemistri yonhe diff ini…..🙂
    tetep semangatttt yaa

  8. Panas bgt aura ff ini.. kkkkkk.. Klo Donghae ketemu Yonhee pasti panas..
    Ini ada org ketiga ya? Cinta pertama Yonhee lagi… Aq takutnya Donghae tau dan cemburu buta sama dy

  9. ahh… jadi sdikit bingung krn ngk baca part 2nya
    tp kyknya msh bisa mencantumkan(?) jln critanya hehe…

    like..like… it ^^
    krtkr hae beda dr slalunya😀
    keep it up!

  10. Akhirnya di update juga ^^ suka banget sama FF ini, sempet sedih jga waktu eonni billang ngga bsa lanjutin FF ini.
    Bakal selalu nunggu part selanjutnya deh😀 semangat ya eonni ^^

  11. Paman tirinya sptnya jahat ya..kemungkinan akan memanfaatkan yoohee ya. Yoohee dh punya sisi keterikan sama donghae cuma lom nyadar aja. Makin penasaran dgn part berikutnya.

  12. aaahh..
    ini lanjutannya..?? aku cmn baca part 1 ajj diwattpad..
    trnyata dilanjutin disini..

    aku ngerasa kl disini donghae sm yoohee sbnernya punya rasa..
    tp msh ga tau ato mereka ga peka ya..?? aaaahhh, apalagi kl mereka ketemu, bawaannya panas ajj.. wkwkwk..
    msh penasaran sbnernya apa motif donghae mw nkah sm yoohee, kupikir warisan cmn sebagai tameng utk nutupin motif sebenernya..
    ini si paman taejung roman2nya bkln jadi sosok yg tau segala2nya.. pkiranku agk negatif ttg paman taejung..
    seunghoo, jgn jadikan ia org ke 3.. ga sanggup ngebayanginnya..
    hahhahaa..
    segitu ajj mgkin jejak yg bsa aku tinggalkan..
    semoga tdk menyinggung..
    heeee, lanjutannya jgn lama2.. ^^

  13. Ckckckkkkk..Donghae kok jdi mkin Yadong#tapi suka…kyaknya nie Hae mmg bneran ska m yoohee,ribet nie klo yoohee smpai blz dendam,kn ksian si Donghae,kali aj bka dy pelakunya cman aj d mnfaatin m Samcheon yoohee#Ngayal
    Di tnggu Kelanjutannya chingu keburu penasaran😀

  14. aaaaa ige mwoya sebenernya pamannya itu ngarang cerita apa beneran soal.donghae yg bikin keluarga yoohew kya gitu. dan alasab donghe milih yoo hee sbg istrinya awww ada orang ketiga hihihi

  15. yaaaaa untung aj kgak jd =_= yoohee sih ngungkit min ah =.= kyaaaaaa ad seungho xD huftt dongek nhan diri niho_O dongek dingin bgt dsini ya tuhannn

    pliss dlnjut yak oen ^^ fighting

  16. Jangan bilang yoohe mau balas dendam sama pamannya dan kembali ke pelukan seungho terus donghae nya makin terpuruk dong thor. Ah semoga tebakan aku salah ya thor. Nasib donghae yoohee aku serahkan ditangan author wkwkkk

  17. setuju dengan yoohee
    Donghae makhluk paling rumit
    huft
    dari 3 chapter semua’a POV yoohee z?
    adakah POV Donghae to author?
    kn jg pengen tau p yg d rasain n d pikirin Donghae

  18. yoohe masih suka seungho gak??? tp kyaknya yoohee gk bisa menolak pesona donghae deh.. donghae dikit” maen cium” adja.. haha dasar yadong..

  19. donghaenya udh mulai suka ama yoohee blm?? kyaknya sih gitu deh*nebaksendiri* dan kenpa ada seungho, knp??? aku jadi bingung klo gini

  20. Cinta pertama yoohee eonni kembali hadir … Masih penasaran sama masa lalunya, kenapa bisa keluarga donghae oppa ngehancurin perusahaan appanya yoohee …. Daebak eonn aku suka🙂😀

  21. Emang perasaanku ato apa…
    Imi chap 3 kok pendek bgt ya?hahah
    Lagi seru2nya baca malah TBC😦
    oenni itu sebenarnya klo dipikir2 yoohee sama donghae sebnarnya udah mulai tumbuh benih2 rasa suka ya?

    Ffny bikin penasaran jadi sayang klo gak langsung dilanjutin baca chapter selanjutnya…
    Pokonya dikebut terus😀

  22. Keren bgt ceritanya, aq suka jalan ceritanya, tp aq tertinggal part 2 nya , ntr balik lg kl dapet pw nya, lanjut ah

  23. Huwaa semakin greget aja baca ff ini
    Berharap si hae cemburu sama kedekatan yoohee sama si seungho
    Next thor tambah penasaran aku *plak
    Gomawo fighting author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s