[Oneshot] Sorry, I Love You

Sorry, I Love You

 SorryILoveYou copy

Bolehkah ia menjadi egois? Bolehkah ia membawa pergi gadis ini saja? Bolehkah ia hidup bahagia bersamanya tanpa harus menepati janjinya pada sang ayah? Demi Tuhan, bantu ia memutuskan! 

Korea, 1940 

Donghae melepas topi hitam seragamnya dan langsung terduduk di depan peti mati berukuran besar dari kayu ek itu. Sang Ayah. Lee Dong-in terbujur kaku di dalam sana. Air mata menetes begitu saja di pipi halus pemuda yang tahun ini baru menginjak usia 18 tahun itu. Ia baru saja pulang sekolah ketika mendengar kabar bahwa sang Ayah terbunuh karena aksi tak manusiawi tentara Jepang hanya karena Dong-in beserta beberapa orang temannya mengajukan protes keras mengenai perlakuan bejat tentara Jepang terhadap gadis-gadis Korea melalui redaksi surat kabar yang dipimpinnya. Oh, betapa Donghae membenci peperangan. Persetan dengan perjanjian Aneksasi Jepang-Korea yang justru membuat rakyat Korea begitu menderita karena pendudukan Jepang di negaranya. Donghae marah, geram, dan terluka. Ia berjanji akan membalaskan dendam kematian Ayahnya. Bagaimana pun caranya.

Pandangan Donghae menelusuri ruang duka yang kini dipenuhi para pelayat. Di sudut kiri ruangan, tampak sang ibu—Kim Hyangsook—yang sejak Donghae tiba terus menangis. Ingin rasanya Donghae melangkah, merengkuh tubuh renta wanita berhanbok putih itu dan menenangkannya. Namun, alih-alih melakukan itu… berdiri saja ia tak kuasa. Kakinya terlalu lemas menopang berat tubuhnya. Musibah ini melumpuhkannya.

Eomma mianhae, bisik hati Donghae pedih. Ia tidak sanggup. Benar-benar tidak sanggup melihat betapa tersiksanya wanita itu.

Lengan hangat yang kini melingkar di bahunya membuat Donghae menoleh. Lee Hyukjae. Sahabat karib yang selama ini selalu menemaninya di manapun ia berada. Perhatian Hyukjae justru membuat pertahanan diri Donghae runtuh, dan kini ia tersedu di bahu pemuda bermata sipit itu.

“Hyuk, bantu aku membalaskan dendam Appa,” bisik Donghae di tengah isak tangisnya.

Hyukjae bergeming. Mata sipitnya menatap lurus ke peti mati Ayah Donghae. Tentara Jepang. Ya, ia pun begitu dendam pada mereka. Satu-satunya adik Hyukjae—Lee Mija—menjadi korban kekejaman tentara Jepang. Gadis belia yang baru berusia 15 tahun itu diperkosa dan kini menjadi gila dan terasing. Ia ingin marah, tapi apa yang bisa dilakukannya sebagai penduduk biasa yang tidak memiliki kekuatan?

Hyukjae mengepalkan tinjunya dan berkata. “Tenanglah, Hae. Kita pasti bisa melakukannya bersama-sama.”

***

-1942-

“Tolong, jangan bunuh suamiku. Kumohon!” Pekik tertahan wanita itu terpotong ketika letusan pistol terdengar dan lelaki yang disebutnya suami tadi, jatuh merosot ke tanah berbatu. Mati. Lelaki berhanbok coklat kusam itu seorang petani miskin yang baru saja memanen hasil taninya. Tapi karena tidak mau membayarkan pajak mencekik sesuai yang ditetapkan pemerintah, ia terlibat adu mulut dengan tentara Jepang.

Tentara itu lantas bergumam. “Beginilah yang akan terjadi bagi siapapun yang tidak membayar pajak mereka dengan benar.”

Donghae yang kini berdiri di antara kerumunan orang mengepalkan tangan penuh dendam. Beginilah kondisi yang setiap hari harus disaksikannya. Benar, mereka memang mengatasnamakan pemerintahan yang ada saat ini adalah pemerintah Korea. Tapi tetap saja, Jepang yang menjadi penentu terbesar dan membuat rakyat jelata semakin sengsara. Miris.

Tekad Donghae semakin bulat. Sebulan lalu ia baru lulus sekolah. Bersama kedua belas rekannya ia membentuk sebuah perkumpulan yang mengatasnamakan diri sebagai ‘Laskar Mahasiswa Muda’. Ada banyak rencana di benak mereka untuk melawan pemerintah Jepang yang semakin hari bertindak semakin semena-mena. Kini bukan hanya dari segi sosial politik, ranah pendidikan pun menjadi tempat Jepang memperluas kekuasaannya. Mereka tidak memperbolehkan pelajaran menggunakan bahasa Korea dan menghapus pelajaran Sejarah Korea yang tentu penting bagi para penerus bangsa.

Mengabaikan cuaca dingin musim gugur, Donghae mempercepat langkah menuju markas yang biasa mereka gunakan untuk pertemuan. Di sana, Park Jungsoo dan kawan-kawannya yang lain telah menunggu.

“Dari mana saja kau?” Siwon menyambutnya tepat ketika pintu geser itu terbuka dan Donghae tersenyum kecut.

“Ada lagi yang terbunuh,” gumam Donghae pahit sebelum meletakkan pantat di lantai kayu ruangan itu.

Terdengar helaan napas panjang Jungsoo, dan lelaki yang terpaut usia tiga tahun dari Donghae itu menepuk bahunya pelan. “Jangan terlalu sentimental. Kita akan melakukannya dengan benar. Percayalah.”

“Benar, Hyeong. Kau terlalu cengeng.” Suara Kyuhyun terdengar mengejek dan Donghae tidak heran lagi dengan sikap pemuda itu. Dia memang terlahir bermulut pedas.

“Sudah, sudah! Kita mulai saja rapatnya,” Hyukjae menengahi. “Aku tidak mau pulang kemalaman.”

“Pasti karena perutmu lapar,” timpal Kyuhyun lagi dan semuanya tertawa.

Ruangan mendadak hening ketika Jungsoo bersuara. “Matsizhawa hiro.” Dan semua mata otomatis menoleh pada Donghae. Ya, seperti yang mereka semua tahu, pejabat Jepang paling berpengaruh itulah yang telah membunuh Lee Dong-in. “Aku mendapat mata-mata yang bekerja di kediamannya,” lanjut Jungsoo penuh penekanan. “Dia salah seorang penjaga di sana. Kim Janghyuk. Orang Korea, tetapi berpura-pura berpihak pada Jepang. Janghyuk sudah lama bekerja di rumah itu, dan ia menjadi salah satu orang kepercayaan Matsizhawa.”

“Apa kita benar-benar bisa mempercayainya?” Sungmin bertanya khawatir.

Jungsoo mengangguk kecil. “Tentu saja. Tujuan awal Janghyuk masuk ke rumah Matsizhawa hiro sama dengan kita di sini. Untuk membalas dendam. Istri Janghyuk menjadi salah satu korban kebejatan mereka.” Jungsoo meraih sebuah foto hitam putih di balik buku catatannya dan memperlihatkan foto itu pada mereka. “Dia tahu kegiatan apa saja yang akan dihadiri Matsizhawa dalam waktu dekat. Dan Janghyuk mengatakan, tepat awal bulan nanti kita akan punya kesempatan untuk menjalankan misi kita.”

“Aku yang akan membunuhnya, Hyeong. Aku!” Donghae berdiri, tatapannya nanar dipenuhi dendam.

“Tenanglah, Hae. Kita pasti akan membunuhnya. Ya, meski harus kehilangan nyawa setelahnya. Setidaknya, kita telah berusaha melakukan yang terbaik untuk Negara ini.”

***

Hujan deras dan mendung yang pekat mewarnai suasana sore itu. Donghae baru saja pulang dari kampusnya, berjalan cepat dengan mantel hitam panjang basah kuyup oleh air hujan. Topi hitam yang dipakainya pun kini sudah basah, tapi Donghae tetap berjalan menerobos hujan, mengabaikan tatapan heran orang-orang yang kini memilih menepi. Menunggu hingga hujan reda.

“Tolong! Lepaskan aku! Jangan!”

Kaki Donghae berhenti melangkah tepat ketika sayup-sayup terdengar jeritan wanita dari gang sempit di samping kirinya. Sesuatu di dalam dadanya seperti terbakar. Pasti kelakuan tentara Jepang lagi. Tanpa diperintah dua kali, ia berbelok dan mendekati asal suara. Hanya beberapa menit sebelum Donghae sampai, suara-suara itu terhenti. Ia bingung tentu saja, tapi kakinya terus melangkah menyusuri gang sempit itu.

“Terima kasih, terima kasih banyak.”

Donghae tertegun. Di sana. Berjarak dua meter darinya, dua orang gadis sedang berdiri berhadapan. Gadis pertama berpakaian hanbok dengan beberapa bagian tercabik, sedangkan gadis yang satu lagi berpakaian mewah dan bertopi bagus. Jelas bukan dia yang menjadi korban. Kedua gadis itu menoleh mendengar langkah kakinya.

Sadar sedang diperhatikan, Donghae berdeham canggung. “Kalian tidak apa-apa?”

Gadis yang pertama mengangguk, meski Donghae melihat ia tidak baik-baik saja. Ada luka di kening dan lengannya akibat perbuatan tentara tadi. “A-aku baik,” gadis itu tergagap. “Nona ini menolongku.”

Terkejut, refleks Donghae mengalihkan perhatiannya pada gadis kedua, dan bertukar senyum dengannya. “Syukurlah!” katanya meski masih bingung ada gadis semungil dan secantik itu yang berani melawan tentara jepang. Luar biasa! Ya, sangat luar biasa. Dan itu mengundang rasa ingin tahunya.

***

“Hey, tunggu!” Donghae harus setengah berlari mengejar gadis itu. Setelah mengantarkan Yoon Soohee si gadis pertama dengan selamat sampai di rumahnya, Donghae dan gadis berpakaian mewah itu pulang. Selama di perjalanan tadi ia tidak sempat bertukar sapa. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga sampai di rumah Yoon Soohee.

Gadis itu berhenti dan berputar menatap Donghae. Hujan sudah reda. Menyisakan angin sejuk yang menyenangkan. “Ada apa lagi?” tanya gadis itu bosan.

“Aku baru mengenal seorang gadis yang mampu melawan tentara Jepang sepertimu,” Donghae tertawa renyah. “Kenalkan, namaku Lee Donghae.”

Lama, gadis itu hanya menatap uluran tangan Donghae tanpa melakukan apapun. Ia tampak ragu, hingga Donghae terpaksa kembali bersuara. “Kau tidak bisu, kan?”

“Eunhee… ya, Eunhee namaku.”

Senyum Donghae otomatis melebar. “Senang berkenalan denganmu, Eunhee-ssi.”

***

Rapat hari itu berjalan lama. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan untuk rencana besar yang akan dijalankan awal bulan nanti. Bahkan Kim Janghyuk sang mata-mata di kediaman Matsizhawa Hiro pun hadir. Akhirnya, tiba waktunya untuk membalas dendam. Donghae tidak akan mundur, meski nyawa taruhannya. Ia sudah berjanji pada sang ayah dan juga negaranya untuk menjadi pejuang muda. Mau sampai kapan mereka semua menderita di negaranya sendiri tanpa melakukan apapun? Setidaknya dengan begini, masyarakat Korea tahu ada sebagian pemuda yang sadar akan arti besar kebebasan. Dan ia berharap, akan membangkitkan semangat juang pemuda Korea yang lain.

“Kau akan langsung pulang?” Itu suara Kang-in yang tiba-tiba saja menepuk bahunya agak keras.

Donghae pura-pura mengaduh. “Hyeong, kau tahu kekuatanmu itu seperti algojo,” keluh Donghae dan Kang-in tertawa.

“Aku hanya ingin mengajakmu minum-minum,” kata Kang-in seraya menunjuk Kyuhyun, Ryeowook dan Sungmin yang berdiri tidak jauh di belakangnya.

Donghae kontan menggeleng. Bukannya tidak mau pergi bersama-sama. Ia memang paling tidak bisa menolerir alkohol di tubuhnya. Lagipula, ada sesuatu yang harus dilakukannya sore ini. Hal yang sangat penting. Ya, setidaknya itu penting bagi dirinya sendiri.

“Pergi saja, Hyeong. Ada hal yang harus kukerjakan.”

“Jangan bilang ini soal gadis, huh?” Kyuhyun menyeringai dan otomatis membuat pipi Donghae memanas. Sial. Bagaimana mungkin pemuda berkulit pucat itu berhasil menebak dengan mudah?

“Bukan urusanmu!” desis Donghae lalu pergi dengan langkah-langkah cepat bahkan sebelum Hyukjae melontarkan pertanyaannya.

Hari sudah semakin sore, dan ia tidak mau melewatkan pertemuannya dengan Eunhee. Ya, benar kata Kyuhyun. Semalam, Donghae tidak sengaja bertemu lagi dengan gadis itu di sebuah toko buku. Eunhee baru pulang kuliah dan sedang mencari-cari buku bacaan menarik bersama beberapa orang temannya.

Walau di detik pertama gadis itu tidak mengenali dan bahkan tidak merespon panggilannya, Donghae tetap senang karena pada akhirnya Eunhee mengenali dirinya dan bahkan sempat berbicara berdua saja di sudut toko buku itu. Jauh dari teman-temannya yang berisik.

“Hai, lama menunggu?” Senyum Donghae otomatis tersungging mendapati gadis itu kini duduk di sebuah bangku pinggir taman bertemankan buku yang kemarin dibelinya. Gadis berambut lurus yang sedikit melewati bahu itu tampak manis dalam balutan gaun putih selutut dan rambutnya yang terkepang dua, serta topi bundar di kepalanya.

“Oh, kupikir kau akan melanggar sendiri janji yang pernah kau buat,” katanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku tersebut.

Donghae lantas duduk di sisi Eunhee, merasa tidak terganggu dengan nada dingin dalam suara gadis itu. “Ada banyak urusan di kampusku.”

Menutup buku yang dibacanya, Eunhee mengalihkan perhatiannya pada Donghae. Senyum tipis tersungging di bibirnya. “Ada perlu apa kau mengajakku bertemu?”

Dehaman canggung meluncur dari tenggorokan Donghae. “Begini, besok Minggu. Bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan—“

“Aku tidak punya banyak waktu, Donghae-ssi. Ayah dan ibuku akan marah kalau tahu putrinya keluar hingga larut.”

Tawa Donghae meledak. “Oh, ayolah! Jangan bilang kau takut diculik? Orang tua mana yang khawatir kalau putrinya yang perkasa ini—“

“Apa katamu? Perkasa?” potong Eunhee kaget dan Donghae tidak bisa menghentikan tawanya.

“Lantas apa lagi sebutan untuk seorang gadis yang mampu menyelamatkan gadis lain dari tentara Jepang jahat yang akan memperkosanya, huh? Gadis pahlawan? Gadis prajurit? Gadis pendekar?”

“Yang jelas bukan gadis cengeng.”

Donghae lagi-lagi tertawa, kali ini ia melihat senyum tipis tersungging di bibir gadis itu. Ya, Eunhee memang berbeda dengan kebanyakan gadis yang ditemuinya. Bicara gadis itu memang lantang, dingin dan terkadang terdengar kejam. Bisa dibilang ia gadis yang sama sekali tidak ada manis-manisnya. Hanya saja, Donghae tahu Eunhee berhati lembut setelah melihat keberaniannya membantu seorang gadis yang nyaris diperkosa di gang sempit hari itu.

Perasaan resah tiba-tiba saja menelusup di hati Donghae. Bagaimana bila awal bulan nanti rencana itu gagal total yang mengakibatkan dirinya harus terbunuh atau setidaknya dipenjara dan disiksa pemerintah Jepang karena dianggap telah membahayakan? Oh, sungguh ia tidak ingin kehilangan kesempatannya bersama gadis itu. Donghae ingin selalu bersamanya. Entahlah. Rasanya, setiap detik yang ia lalui bersama Eunhee terasa seperti di surga. Donghae suka cara Eunhee berbicara, suaranya, tatapan matanya, aroma tubuhnya, bahkan hangat napasnya. Ia suka semuanya yang berhubungan dengan gadis itu. Demi Tuhan, apa ia benar-benar telah jatuh cinta?

Sial! Tidak, tidak, tidak. Donghae menggeleng kuat dan mencoba mengenyahkan ketakutan itu dari benaknya. Ia sudah berjanji di depan mayat ayahnya akan membalas dendam. Dan semua itu tidak boleh, ya tidak boleh melunturkan niatnya.

“Ini yang kau sebut bersenang-senang? Pulanglah. Sepertinya kau punya banyak masalah!”

Donghae terkesiap ketika Eunhee tiba-tiba bersuara. Ah, seharusnya ia tidak merusak acara malam ini dengan berpikiran yang bukan-bukan. Jika ia menceritakan rencananya pada Eunhee, Donghae yakin gadis itu akan mendukungnya seratus persen. Bukankah ia juga membenci kekerasan yang dilakukan tentara Jepang itu? Tapi, teman-temannya tentu akan membenci gagasannya itu. Sudahlah. Ini misi rahasia. Lebih baik malam ini ia memanfaatkan waktunya untuk bersenang-senang.

“Ayo, aku traktir kau makan!”

Suasana cukup ramai ketika Donghae dan Eunhee tiba di sebuah kedai Udon di pinggir jalan kota Seoul. Banyak muda-mudi yang sedang menikmati malam minggu bersama teman dan kerabatnya. Dan di beberapa meja Donghae juga menemukan seorang lelaki yang tengah menikmati rayuan gisaeng cantik berpakaian mewah. Menggelikan! Donghae benci pria-pria hidung belang itu.

Donghae tersenyum lebar. “Kau suka Udon?”

“Tentu saja,” balas Eunhee yang kini mengedarkan pandangan mencari pelayan.

“Kalau nonton film?”

Kontan gadis itu tertawa. Mengejek lebih tepatnya. “Kau mengajakku nonton, huh? Caramu aneh!”

Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Donghae terkekeh malu. Gadis itu pandai sekali membaca gelagat. Atau jangan-jangan, ia yang terlalu bodoh hingga tindakannya mudah terbaca? Entahlah.“Yah, siapa tahu aku berhasil. Kudengar ada film bagus. Tapi sayang, sekarang pemerintah Jepang mulai merecoki dunia perfilman kita.”

Donghae berhenti bicara ketika seorang pelayan meletakkan pesanan mereka di atas meja. “Maksudmu merecoki?”

Setelah menelan habis suapan pertamanya, Donghae menjawab. “Kau tidak dengar? Memang, film-film itu tidak lepas dari campur tangan Jepang selama pembuatannya. Hanya saja, aku sempat mendengar selentingan miring bahwa Jepang akan melarang film kita untuk beredar lagi di masyarakat.”

Eunhee terbatuk yang secara otomatis membuat Donghae menggeser gelas minumnya ke depan gadis itu. “Kau tidak apa-apa?”

“Ehm… ya,” balasnya pelan.

“Hati-hati, meski lapar… tidak perlu terlalu cepat memakannya.” Dengusan keras Eunhee mengundang tawa renyah Donghae. “Jadi bagaimana? Kau setuju untuk nonton bersamaku?”

Eunhee menggeleng pelan. “Tidak, terima kasih. Kau sendiri tahu aku tidak bisa pergi lama-lama. Aku yakin, kau tidak akan suka jika harus berurusan dengan orang tuaku.”

“Oh, baiklah!” Donghae menyerah. Meski kecewa, ia mencoba tersenyum. “Tapi kuharap, suatu saat nanti kau mau menerima tawaranku.”

“Semoga saja,” balas Eunhee pendek.

Tentu saja jika tidak terjadi sesuatu yang buruk padaku, batin Donghae muram.

***

Seperti biasa, hari ini Donghae pulang lebih awal dan menolak ajakan teman-temannya untuk makan bersama. Ia mendengar dari Eunhee bahwa gadis itu akan melakukan pementasan teater di salah satu gedung pusat seni di kota itu. Tentu saja ini bukan hal yang perlu dilewatkan olehnya.

Semenjak pertemuannya sore itu, hubungan Donghae dan Eunhee berkembang baik. Meski belum banyak informasi yang diberikan Eunhee tentang keluarganya, gadis itu tidak lagi menutup diri. Mereka mengobrol panjang lebar tentang segala hal. Dan Donghae tidak pernah sedikit pun merasa bosan saat bersamanya. Pernah sekali waktu ia mengajak Eunhee ke padang ilalang di belakang rumahnya. Bermain air di sungai, hingga mengobrol santai sampai-sampai ia tidak menyadari matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sangat menyenangkan. Lain kali, ia dan Eunhee harus melakukannya lagi.

“Hae, tunggu!”

Donghae menghentikan langkah ketika didengarnya suara Hyukjae. “Kau mengikutiku?”

Hyukjae tidak langsung menjawab, lelaki berparas lucu itu masih sibuk mengatur napasnya. “Apa hari ini kau akan bertemu lagi dengan gadis itu?”

Donghae memiringkan kepalanya, menatap Hyukjae bingung. Sejak kapan Hyukjae tahu kalau dia sering bertemu Eunhee? Donghae tidak ingat pernah bercerita padanya.

“Jangan pura-pura bodoh!” kata Hyukjae jengkel. “Aku tahu kau merencanakan sesuatu di belakang kami. Meski merasa dikhianati, tapi aku cukup setuju dengan caramu. Tidak kusangka kau pandai juga,” Hyukjae menyeringai mengabaikan Donghae yang semakin bingung. “Ya sudah, aku pergi dulu. Semoga berhasil.”

“Hey, Hyuk. Tunggu dulu!” pekik Donghae heran bercampur kesal. Apa maksud Hyukjae mengatakan itu? Rencana lain? Oh, ayolah! Bisakah lelaki itu tidak bermain teka-teki?

Benak Donghae masih melayang ke mana-mana, bahkan hingga dia tiba di gedung pusat seni Seoul dan berdiri berdesakan di antara orang-orang yang menonton pertunjukan teater. Barulah ketika gadis itu keluar dalam balutan seragam sekolah berwarna hitam dan putih, perhatian Donghae tersedot sepenuhnya. Cantik, seperti biasa. Dan Donghae menemukan dirinya tidak bosan menonton, meski teater itu berbahasa Jepang.

Hampir dua jam berlalu, teater pun usai. Banyak orang mulai meninggalkan tempat. Begitu pula dengan Donghae, ia yang telah membawa setangkai bunga untuk diberikan pada Eunhee sengaja menunggu gadis itu keluar. Ya, ia harus mengucapkan selamat atas suksesnya pertunjukan itu.

Senyum Donghae mengembang mendapati gadis itu telah berganti pakaian dan keluar dari backstage. Ia mempercepat langkah, namun seperti ada paku besar yang menahan kakinya, Donghae berhenti. Matanya melebar, dan jantungnya seperti ditohok palu superbesar hingga terasa menyakitkan.

Matsizhawa hiro. Orang yang paling dibencinya berdiri di sebelah gadis itu. Tidak. Bukan hanya berdiri, tetapi merangkulnya erat. Menunjukkan betapa dekat hubungan mereka.

Donghae menggeleng kuat. Bunga di tangannya jatuh menggelinding di lantai. Ia tidak peduli lagi. Hatinya sakit seperti ditusuk ribuan paku. Benaknya dipenuhi pertanyaan bagaimana mungkin mereka bersama? Apa hubungan Eunhee dan Matsizhawa hiro? Mengapa mereka bisa sedekat itu?

“Aku tahu kau merencanakan sesuatu di belakang kami. Meski merasa dikhianati, tapi aku cukup setuju dengan caramu. Tidak kusangka kau pandai juga.”

Komentar Hyukjae seketika terngiang di telinganya. Bila benar Eunhee putri Matsizhawa, maka pantas Hyukjae berpendapat demikian. Tapi, kenapa nama gadis itu Eunhee? Bukankah dia orang Jepang? Ah, sial!

Donghae tidak bisa berpikir lagi. Kepalanya pening seperti berputar-putar. Ia bahkan nyaris limbung jika tidak berpegangan pada pagar besi gedung pusat seni Seoul.

“Hey, Donghae-ssi.”

Donghae tertegun dan mengurungkan niatnya berjalan saat suara lembut yang sangat disukainya itu menyapa telinganya. Eunhee.

“Ternyata benar kau,” kata Eunhee sembari terengah ketika tiba di depan Donghae. “Kau belum mengucapkan selamat padaku, huh?” gurau gadis itu sambil terkekeh pelan. Sama sekali tidak menyadari ketegangan yang dirasakan Donghae.

Donghae ingin mempercayai bahwa gadis di hadapannya ini benar Eunhee-nya. Gadis misterius yang dulu pernah menyelamatkan gadis lain di sebuah gang sempit. Gadis berperangai dingin tapi juga cerdas dan baik. Tapi, ingatan mengenai Matsizhawa beberapa menit lalu, membuyarkan semuanya.

“Kau… siapa kau sebenarnya?” tanpa sadar, Donghae bertanya dan tentu saja membuat gadis itu terkejut.

Untuk sejenak, Eunhee terdiam. Kening gadis itu berkerut menatap Donghae. “Kau tidak sedang bermain peran, kan?” setelah sekian lama, akhirnya gadis itu menjawab juga. “Kau tahu? Betapa pun kau mencoba berperan seperti orang hilang ingatan, aktingku masih jauh lebih baik daripada dirimu.”

Donghae bergeming. Matanya terus menelusuri tubuh gadis itu yang kini dibalut gaun coklat hangat berpotongan A dan sebuah topi bundar cantik bewarna senada di kepalanya. Ia bingung. Tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dalam hati Donghae berharap, Eunhee membantah dugaannya. Ya, sungguh ia berharap Eunhee membantah memiliki hubungan kekerabatan dengan…

“Aiko, ke mana saja kau?”

Senyum yang nyaris terbentuk di bibir Donghae langsung lenyap. Matsizhawa hiro. Lelaki paruh baya berbadan gempal itu kini berdiri di sisi Ford Deluxe hitamnya.

Aiko. Siapa Aiko? Batin Donghae bingung.

“Ah, benar. Kau pasti kaget,” suara Eunhee terdengar jauh dari jangkauan Donghae, karena kini perhatiannya tertuju pada pria yang paling di bencinya itu. Pembunuh ayahnya. “Namaku Matsizhawa Aiko.” Melihat kerutan di kening Donghae, gadis itu melanjutkan. “Eunhee adalah namaku ketika bermain-main dengan teman di kampus, yah… aku hanya ingin mereka bisa dengan mudah mengenalku dengan menggunakan nama Korea. Maaf baru memberitahumu sekarang. Dan ya, aku harus pergi. Kau sudah bertemu ayahku, kan? Dia orang yang sangat menakutkan.”

Donghae menunduk menatap gadis itu. Harapannya hancur. Ia sungguh ingin marah tapi tidak bisa. Yang dilakukannya kini hanya menatap punggung gadis itu menjauh, bersama kedua orang tuanya.

“Eunhee… tidak. Aiko… kenapa kau tega membohongiku?”

***

Danau luas dan deretan dandelion di padang rumput menjadi pemandangan malam yang sangat disukai Aiko. Gadis itu berdiri sembari melipat tangan di depan dada. Mengamati puluhan bahkan ratusan kunang-kunang yang beterbangan di taman itu.

Tiba-tiba senyum murung mewarnai wajahnya mengingat betapa dingin sikap Donghae tadi. Tidak seperti biasanya. Aiko memutuskan, pasti lelaki itu marah karena ia tidak jujur padanya sejak awal. Atau pilihan terburuk, lelaki itu tidak mau lagi berteman dengannya karena ia seorang gadis Jepang. Bangsa yang notabene telah menjajah  negaranya dengan mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Oh, ya. Sungguh Aiko benci kenyataan itu. Dan ia tidak bisa menyalahkan Donghae bila benar lelaki itu membencinya.

Selama ini ia hampir selalu membangkang pada sang ayah. Aiko berang dan ingin sekali menampar dan meninju tentara-tentara anak buah ayahnya yang selalu melampiaskan nafsunya pada wanita-wanita pribumi tidak berdaya. Setiap kali Matsizhawa hiro memperingatkannya untuk tidak bergaul dengan orang-orang pribumi, Aiko selalu menolak. Ia bahkan diam-diam pergi jika sang ayah meminta seorang supir menjemput di sekolah atau kampusnya. Meski pada akhirnya, Aiko harus menerima hukuman tidak boleh keluar kamar selama berhari-hari. Namun Aiko tahu, ia adalah putri semata wayang Matsizhawa hiro. Seberapa pun kesal lelaki tua itu, ia tidak akan pernah terlalu lama marah padanya.

“Pria itu. Aku tidak suka kau berteman dengannya.”

Aiko terkesiap ketika sebuah kain hangat disampirkan di pundaknya, menghalanginya dari hawa dingin malam itu. Ia berbalik dan langsung dihadapkan pada raut tidak suka Matsizhawa hiro. “Otou-san!”

“Kau dengar apa kataku, hmm?” Hiro membelai rambut hitam putrinya yang kini dibiarkan terurai.

“Dia temanku—“

“Atau aku akan mengirimmu kembali ke Tokyo.”

Aiko bungkam. Selalu begini. Ia tidak bisa membantah lagi bila sang ayah mengancamnya untuk kembali ke Tokyo. Aiko sudah terlanjur cinta dengan Negara ini. Dengan suasananya. Dengan orang-orangnya. Teman-teman baiknya. Lee Donghae—oh, tidak! Aiko menggeleng. Tidak mungkin semudah ini ia jatuh cinta pada lelaki itu. Pasti hanya sekedar kagum. Ya, pasti, Aiko mencoba meyakinkan diri sendiri. Tapi gagal.

“Besok, Ryuzhawa akan datang untuk makan malam bersama. Berdandanlah yang cantik. Sepertinya usai makan malam ia akan mengajakmu jalan-jalan.”

Ryuzhawa Matshumoto. Seorang panglima Jepang yang sejak lama selalu digadang-gadangkan sang ayah. Hiro tidak pernah berhenti memuji pemuda itu di depan Aiko. Ya, dia memang tampan dan menunjukkan ketertarikan pada dirinya. Namun, jangankan suka. Melihat raut kaku dan kejam Ryuzhawa saja, Aiko sudah muak. Aiko lebih memilih melajang seumur hidupnya, daripada menikahi pemuda kejam dan sombong itu.

Otou-san, kau boleh mengirimku kembali ke Tokyo. Asal berhenti menjodohkanku dengan lelaki itu,” tegas Aiko lalu berputar cepat dan meninggalkan Hiro seorang diri.

***

Donghae menggeser pintu ruangan itu dan langsung dihadapkan pada keduabelas pasang mata yang menatapnya penuh tanya. Ya, tiga hari ini Donghae bisa dibilang melewatkan rapat mereka. Padahal ini adalah saat-saat genting menjelang rencana pengeboman yang akan dilakukan di acara yang akan diadakan di depan gedung walikota pada awal bulan mendatang. Di acara itu, akan hadir petinggi-petinggi Jepang dan juga jenderal-jenderal yang telah memberikan banyak sekali kebijakan mencekik bagi segenap masyarakat Korea. Malam itu benar-benar saat yang tepat. Tidak ada waktu yang lebih baik lagi untuk membalas semua perlakuan buruk penjajah bangsanya.

Namun selama beberapa hari ini, hati Donghae seolah terbelah menjadi dua. Disamping keinginannya membalas dendam, ada rasa lain yang telah menyusup ke dalam hatinya. Jika saja ia tak bertemu putri Matsizhawa Hiro hanya beberapa minggu menjelang penyerangan mereka.

“Duduklah. Kita tidak bisa lebih lama lagi menunggu,” Suara Jungsoo menarik Donghae dari tumpukan rasa bersalahnya.

Ia mengangguk muram, lalu bersila diantara para temannya. Hyukjae yang jelas paling tahu perubahan suasana hati Donghae. Lantas ia menepuk bahu pemuda itu pelan. “Kenapa? Rencanamu gagal?”

Otomatis, semua mata tertuju pada mereka. Menunggu sampai Donghae menjawab. “Rencana apa?” Ia balas bertanya dan Hyukjae terkekeh pelan.

“Sudahlah, Hae. Jangan terus berpura-pura. Kami semua sudah tahu.” Hyukjae mengeluarkan selembar foto dari saku celananya. “Kau pergi menemui gadis ini. Iya, kan?”

Itu foto Eunhee. Tidak, tidak, Aiko! Donghae menghela napas cepat. “Ya,” balasnya muram. “Tapi bukan—“

“Jika butuh bantuan, aku siap membantu.” Hyukjae menyeringai lebar. “Kapan kau akan menculiknya? Aku bersedia melakukannya dengan senang hati,” Sepasang mata Donghae melebar. “Jika perlu, kita bisa—“

“Jangan pernah lakukan itu!” Cepat, Donghae merenggut kerah kemeja Hyukjae dan tentu saja mengundang keterkejutan teman-temannya yang lain. “Atau kau akan sama busuknya dengan mereka,” desis Donghae berbahaya lantas melepaskan cekalannya.

“Oh, ya. Jadi sekarang kau membela penjajah busuk itu. Hae—“

Pintu geser itu kembali tertutup setelah sesaat sebelumnya dibuka dengan gerakan cepat. Donghae pergi meninggalkan mereka. Ia marah. Tidak akan dibiarkannya seorang pun menyentuh gadis itu. Meski atas nama balas dendam. Tidak! Gadis itu terlalu berharga untuk disakiti.

Donghae berjalan cepat melewati jalanan yang sore ini sepi. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Pikirannya kacau. Berantakan seperti kamar yang tidak pernah dibersihkan selama bebulan-bulan. Mata lelaki itu memang nyalang tanpa setetes air matapun, tapi jauh di lubuk hatinya ia hancur. Ada banyak sekali kekhawatiran menggerogoti perasaannya.

Tiga hari ini Donghae berpikir. Mencoba sekuat tenaga untuk membenci dan melupakan gadis itu. Hanya saja, itu tidak mudah. Bila hati sudah bermain, hanya Tuhan yang mampu menghapuskannya. Pada akhirnya, Donghae menyerah. Ia membiarkan perasaannya terus tumbuh. Lagipula, gadis itu tidak bersalah. Cintanya bukan dosa. Perasaan itu hanya tumbuh di saat yang tidak tepat.

Tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di sana, kini Donghae berdiri di depan pagar tinggi rumah besar Matsizhawa hiro. Jauh dari kondisi masyarakat Korea pada umumnya, pejabat Jepang itu memiliki banyak aset berharga meski ini bukan tanah airnya sendiri. Bagaimana tidak, bila mereka terus saja memeras keringat rakyat miskin untuk kenyamanannya sendiri? Busuk!

Donghae tertegun, kontan ia bersembunyi di balik tiang listrik ketika dalam jarak beberapa meter di depan menangkap sosok mungil gadis berseragam hitam. Matsizhawa Aiko. Tidak, Donghae lebih suka memanggilnya Eunhee. Gadis itu tetap secantik dan semanis biasanya. Hanya saja, kali ini ia terlihat lebih kurus dan kuyu. Apa yang terjadi pada gadis itu sebenarnya?

Dia pembunuh ayahmu Hae, Dia menghancurkan masa depan adik temanmu, Dia dan antek-anteknya menyiksa bangsa ini hingga terpuruk. Kenapa kau malah membela putrinya? Culik dia, hancurkan dan siksa sampai mati.

Donghae menggeleng kuat ketika jiwa jahat di dalam dirinya bersuara. Tidak. Ia tidak akan melakukannya. Dia… dia mencintai gadis itu!

***

Aiko membuka mata perlahan dan merasakan tusukan rasa sakit kepalanya, tapi tangan dan kakinya tidak bisa bergerak karena ada tali kuat yang mengikat. Ia mengerjap pelan, mencoba mencari cahaya, namun gagal karena ruangan itu gelap, lembab dan berbau busuk. Di mana dia? Apa yang dilakukannya di sini? Ketakutan merambati hatinya.

Sepulang kuliah tadi, ia langsung pulang. Dan hanya beberapa langkah sebelum sampai di gerbang depan rumahnya, Aiko merasakan sakit hebat di pelipisnya. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Bagaimana ia bisa sampai di sini, ia juga tidak tahu.

“Halo… a-adakah orang yang—“

Ia berhenti bicara ketika seberkas cahaya timbul dari sebatang korek yang dihidupkan dan api itu beralih menghidupkan sebatang lilin di atas meja kayu kecil yang berjarak sekitar satu setengah meter di depannya. Di sana pula, duduk seorang pria jangkung berpakaian hanbok lusuh yang menyeringai keji ke arahnya.

“Bagaimana rasanya diculik?”

Aiko menggigil takut mendengar suara berat lelaki itu. Siapa dia? Apa yang dia inginkan? “Jangan!” pekik Aiko saat lelaki itu beranjak dan berjalan menghampirinya. Satu tangannya memegang pisau lipat kecil yang kini berpindah ke sisi leher Aiko. “Tolong!” mohon Aiko takut.

Lelaki itu tertawa jahat. “Aku membayangkan, bagaimana istriku saat tentara-tentara itu memperkosa dan menghabisi nyawanya.”

Rasa perih menggigit di sisi lehernya ketika lelaki itu dengan kejamnya menggores kulit Aiko. Memang tidak dalam, namun goresan itu menimbulkan luka memanjang di lehernya. “Jangan!” desis Aiko ngeri. “Kumohon! Lepaskan aku.”

Ia memejamkan mata ketika pisau itu berganti mengiris bagian depan kemejanya, hingga Aiko bisa merasakan hembusan angin dingin menerpa pori-pori kulitnya. Aiko tidak tahan lagi, ia ingin menangis tapi rasa takutnya membuat sekujur tubuhnya membeku.

“To-tolooong!”

“Diam kau Jepang sialan!”

Aiko meronta sebisanya, namun tali itu begitu kuat mengikat tubuhnya ke kursi kayu yang ia duduki. Bukannya lepas, kondisinya malah semakin buruk. “Tolong! Jangan sentuh aku!.”

“Aku akan membuatmu merasakan apa yang istriku rasakan!”

“Tidaaaakkk!!!”

“Jangan sentuh dia!”

Pintu di belakang mereka seketika menjeblak terbuka dan seperti dialiri aliran hangat di jantungnya, Aiko menghela napas lega mendapati sosok lelaki muda yang sejak berhari-hari lalu sangat ingin ditemuinya. “Lee Donghae!”

“Tidak usah ikut campur,” Lelaki jahat nan bengis itu bersuara, tapi Donghae tidak gentar. Pemuda itu terus menerjang maju dan menendang selangkangan lelaki jahat tadi sebelum sempat ia menusukkan pisau lipatnya ke lengan Donghae. Dengan cepat pula, Donghae melucuti pisau itu dan memiting lengan si lelaki jahat lalu menginjak punggungnya hingga kepala lelaki itu tersungkur di lantai. “Sial! Kau sebut dirimu pemuda Korea? Tapi kau malah menolong seorang gadis Jepang!” sumpah serapah lelaki jangkung itu.

“Kalau kau ingin membalas dendam. Jangan padanya. Lakukan itu pada pelaku yang telah memperkosa istri atau anakmu,” balas Donghae dingin, lalu meninggalkan lelaki yang sudah tidak berdaya itu untuk menghampiri Aiko dan melepas tali yang membelit tubuhnya.

“Maafkan aku, harusnya aku datang lebih cepat,” sesal Donghae sembari terus melepaskan ikatan tali itu. Sesuatu di dalam dirinya terasa terbakar menyadari setitik noda merah menggores leher mulus Aiko. Harusnya ia tidak terlalu lama berpikir saat melihat seseorang memukul kepala Aiko dengan pemukul baseball dan membawanya menjauh bahkan sebelum gadis itu tiba di depan pagar rumahnya. Sial!

Aiko menggeleng pelan. Air mata kini benar-benar jatuh membasahi pipinya yang dingin. “Terima kasih. Terima kasih…” tepat ketika ikatan itu terlepas. Aiko masuk ke pelukan Donghae. Hangat tubuh lelaki itu membuatnya lebih rileks. “Kupikir… kupikir kau tidak mau lagi menemuiku.”

Donghae tertegun. Tubuh gadis itu berguncang hebat dalam dekapannya. Aiko menangis. Air matanya yang hangat membasahi bagian depan kemeja Donghae.

“Aiko-san.”

“Kupikir kau membenciku. Kupikir kau tidak mau berteman denganku lagi.”

Menggeleng kuat, Donghae mempererat pelukannya di tubuh ramping gadis itu. Air hangat kini juga menghiasi pipi Donghae. “Tidak. Itu tidak mungkin terjadi,” racaunya lalu melepas dekapannya. Ditatapnya mata coklat kopi Aiko dalam. Ada kekhawatiran dan ketakutan yang membayang di mata gadis itu. “Aku… aku tidak bisa membencimu,” gumam Donghae lirih. Ia lantas mengecup kening Aiko dan berbisik pelan, “Aku mencintaimu, Aiko-san. Aku mencintaimu…”

***

Angin dingin berhembus, menerbangkan helaian daun maple merah kecoklatan ke berbagai sudut kota. Aiko merapatkan mantel hitam kebesaran milik Donghae di tubuhnya. Pandangannya lurus ke depan, meski tidak jelas apa yang sedang dipandanginya saat ini. Cerita Donghae membuat hatinya kalut.

Ya, tentu ia senang Donghae juga menyukainya. Pemuda itu membalas perasaannya. Bahkan rela menolongnya dari seorang bandit yang berusaha memperkosanya. Tapi, kata-kata Donghae beberapa menit lalu menusuk jantungnya hingga berdarah.

Ayah pemuda itu, terbunuh karena ulah kejam sang ayah. Dunia Aiko serasa berputar. Bagaimana mungkin kekejaman dunia menghalangi cinta mereka dengan begitu dahsyat? Ia tidak kuasa melakukan apapun. Orang tua tidak bisa dipilih. Tuhan yang menentukan ia harus lahir dari orang tua mana? Lantas, haruskah ia mengorbankan cintanya untuk sesuatu yang tidak pernah menjadi kesalahannya? Demi Tuhan! Aiko ingin memekik sekeras-kerasnya, jika saja pekikannya mampu merubah takdir Tuhan.

“Aku tahu ini menyakitkan. Untukku dan juga untukmu.”

Aiko mengerjap, menghentikan air mata yang nyaris meluncur turun ke pipinya, namun gagal karena air mata itu kini telah jatuh bagai butiran berlian halus di pipi lembutnya. Ia menoleh menatap Donghae. Di bangku taman inilah pertemuan ketiganya dengan pemuda itu. Dan kini, di bangku ini pulalah perpisahan menyakitkan yang harus mereka jalani.

“Tapi aku tidak bisa mengkhianati bangsa dan ayahku untuk terus bersamamu.” Donghae kembali bersuara dan kata-kata pria itu bagai samurai tak terlihat yang menancap tepat di hati Aiko.

Aiko menunduk untuk menghapus air matanya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Meski berusaha, tidak ada satupun kata yang berhasil keluar dari mulutnya. Salju memang baru akan turun bulan Desember nanti, tapi hati dan tubuhnya telah beku lebih dulu.

“Aiko-san—“

“Tidak bisakah kita mempertahankan cinta ini?” Aiko sendiri terkejut kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Untuk beberapa detik yang meresahkan, Donghae menatap lekat gadis itu tanpa bersuara. Matanya meraup habis keindahan yang terpahat di hadapannya. Mungkin ini terakhir kalinya mereka bertemu. Mungkin sesaat lagi tidak ada waktu lagi untuk mereka bersama. Dorongan untuk merengkuh dan membawa kabur gadis itu bermain-main di kepala Donghae dan semakin menguat.

Bolehkah ia menjadi egois? Bolehkah ia membawa pergi gadis ini saja? Bolehkah ia hidup bahagia bersamanya tanpa harus menepati janjinya pada sang ayah dan negaranya? Demi Tuhan, bantu ia memutuskan! Tidak tahan lagi, Donghae menangkup pipi lembab gadis itu dan menyapukan satu ciuman hangat di bibir lembutnya.

Aiko terkesiap. Gadis itu memejamkan matanya, merasakan gigitan lembut Donghae di bibirnya yang seketika terbuka. Memberikan akses lebih bagi pria itu untuk membagi kehangatan tubuhnya di tengah dinginnya cuaca malam ini. Sensasi panas yang pekat membanjiri seluruh tubuh Aiko merasakan lumatan-lumatan kecil bibir pria itu di bibirnya. Aiko tidak ingin berhenti. Ia ingin bersama pemuda ini. Ia tidak ingin berpisah dari Donghae.

Seandainya waktu bisa dihentikan saat ini juga. Namun sentakan pelan saat Donghae melepas tautannya mengembalikan Aiko ke masa kini. Gadis itu mengerjap cepat dan tersadar saat mendengar gumaman pelan Donghae.

“Maafkan aku.” Lelaki itu membuang muka ke samping kiri. Menolak menatap sorot mata penuh tuntutan Aiko. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyukaimu,” katanya lirih. Dan Aiko tidak membutuhkan bukti apapun. Perlakukan Donghae padanya sudah memperlihatkan semuanya. “Walau saat ini kita tidak bisa bersama. Kuharap, di kehidupan yang akan datang. Kau tidak membenciku karena perbuatan yang akan kulakukan beberapa hari lagi.”

Aiko mengernyit. Perbuatan apa? Apa yang akan dilakukan lelaki itu? “Donghae—“

“Kau boleh membenciku di kehidupan ini. Tapi di kehidupan mendatang, jadilah milikku.”

Air mata memburamkan pandangan Aiko ketika Donghae beranjak dari kursi panjang itu dan berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Sakit. Sungguh sakit. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Menangis meraung-raung seperti bayi yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya? Tidak. Meski ia menangis sampai air matanya kering, tidak akan pernah mengembalikan lelaki itu ke sisinya.

Lee Donghae-nya telah pergi. Meninggalkan dirinya dalam kesunyian.

***

Donghae memakai rompi beserta jas hitamnya. Topi bundar yang juga gelap, menghiasi kepalanya. Sesuai janji, malam ini, ia dan Hyukjae akan berkumpul di depan gedung walikota. Berpura-pura menghadiri acara itu dan di saat acara puncak berlangsung, atau lebih tepatnya saat Matsizhawa Hiro naik ke atas podium untuk memberikan pidato. Donghae akan menekan tombol bom yang sudah mereka rakit selama beberapa waktu ini dan telah diletakkan dengan aman di bawah panggung oleh Kibum dan Kangin hanya dua jam sebelum acara berlangsung.

Lama, ditatapnya foto sang ayah di atas meja kecil di sudut ruangan. Senyum tipis yang sinis tersungging di bibir Donghae. “Appa, malam ini aku akan membalaskan dendammu!”

FIN (?)

 

Astagaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh~~
Akhirnya GAJEEEEEEE!!! Yaampooooonnn… ada apa dengankuh?? #Plakkk
Entahlah! Aku terlalu baik untuk tidak menyebutkan proses terbunuhnya (?) mereka yak #eaaaahhh udahlah… jangan protes! Pokoknya udah FIN ajah. Gak bakat banget dah bikin FF model beginian #ngiuuuunggg

Selamat bersenang-senang (?)!!! #DigamparPakeBibirDonge

27 thoughts on “[Oneshot] Sorry, I Love You

  1. hihi,,ff setting penjajahan Jepang,, cinta yg tak bisa bersatu,,,
    ini kagak ada sequelnya yg settingnya udah modern gtu?? kan seru klo mreka dipertemukan kembali di masa depan…

  2. oooohhhhhhhhhhhhh……great! menggalau disenin malam.
    huweeee…kereeenn..baiklaah..jalan ceritanya aku suka tp
    aku gak dapet feel thn 40annya…yg kebayang tetep aja malah tahun2 sekarang..-.-a

  3. Aigoooo inikah FF tU,.!?

    Yah Aika bNer, ni FF bNer2 mNguras emosi,.
    Ga’ bisa bayangin gMna pRasaanX Donghae N Eunhee,.
    FFmu daebak Aika Lee, keren,.sungguh,.!!
    Mngorbankan pRasaan N cinta utk sang Ayah N negara, bNer2 jiwa pahlawan,.

  4. ALHAMDULILLAH gak ada yang mati pemeran utamanya -_-

    gak tau yak, hatiku terenyuh(?) tuh justru pas cerita unyuk yang adeknya diperkosa sampe jadi gila… bawaan hari tu ada nonton acara tentang para cewek korea yang dijadiin budak pemuas jepang.. ditipu, dibawa ke china segala, akhirnya sampe tua kesepian di panti jompo, gak bisa punya anak karena rahimnya rusak… ihhh asli sedih TT.TT

    aku sih dapet aja ngebayangin suasananya.. tapi yang kubayangin kotanya kek di dramanya yowon tuh yang fashion 70 apa yak?? pokoknya kuno2 muram gitu…

    tapi yang bikin paling MERINDING itu pas mo ending, pas perpisahan hae sama aiko di taman!! ihhh sedihnya itu kalimat hae “Kau boleh membenciku di kehidupan ini. Tapi di kehidupan mendatang, jadilah milikku.” TT.TT

    sebenernya gara-gara itu jadi beharap di endingnya ada semacem reinkarnasinya kek, ehh taunya udahan pas misi hampir terlaksana… TAPI JUSTRU KEREN kek gitu sih emang, lebih realistis(?) sama apa yak ngungkapinnya, misterius gitu❤

    kalo berhasil itu, benci gak si aiko sama hae?? <– pertanyaan yang tak akan terjawab

    • Phuhahahaha… :p

      Astagaaaahh… kejam amat dah mereka Song!!! Aku juga baca tuh kekejaman mereka emang suka dijadiin budak nafsu tentara Jepang TT___TT
      Gak kebayang klo itu ampe terjadi ke orang terdekat kita. Kejem amat!! Yang kek gitu harusnya dihukum siksa sampe mati tuh :3

      Iyakah?? Aku malah gak pernah nonton filmnya Yowon yg ntu haha😀
      AAAAAAAAAAAAAAA… Iyakah?? Beneran?? Alhamdulillah! Emang sengaja dibikin GANTUNG!!! Karena ending GANTUNG itu lebih berkesan. Biarkan Readers berimajinasi sendiri dengan begitu mereka gak bakal cepet lupa ama cerita yang kita buat ekekekk #eaaaaeaaaaa #Plaaakkkkkk
      Thank Youuu… Thank Youu dah baca~~ :*

  5. Ini apa-apaaaaaaaaaaaaan……………????????????? SEQUEL!! SEQUEL!! SEQUEEEEEEEEEL…………..!!!!!!!! *demo bareng Navy SEAL*

    Aku udah setengah gokhil nungguin adegan balas dendamnyaaaaaaa……… Mengapa justru kaubiarkan sang FF menggantung tak bertali?? #halah #lebeh Padahal udah terhanyut sama romance-nya ini. Kayaknya bakal galau berat ngebayangin Aiko pas tau babehnya dibunuh sama Hae. Belum apa-apanya aja udah bikin aku nangis bombay. Tapi mengapaaaaaaaa………..????? #GUBRAKK *ini kenapa jadi eike yg histeris sendirian?*😀

    Menurutku sih settingnya udah dapet. Kayaknya set 40-an di belahan Bumi manapun ga jauh beda. Satu hal yg menarik itu pas Hae mo ngajakin nonton, pasti yg diputer film propaganda semua itu. Wkwkwk *sotoynya dirikyu* Terus, tadinya kirain yg nyulik Aiko itu si Unyuk, eh ternyata bukan. Ga tau kenapa ngenes aja sama nasib si Unyuk, betapa teganya tentara Jepang itu. Pokoknya dapet aja feel-nya sebagai korban perang. Jangankan di Korea, di Indonesia juga kayak gitu. Banyak perempuan yg jadi pelampiasan napsu bejat tentara Jepang. TT.TT authornya kok bisaan bgt ya bikin aku nyesek? #PLAK xD

    Ini FF keren banget dah. Setting-nya juga udah dapet menurutku. Kalo masalah diksi, aku ga bisa komen dah. You’re the master! (please, be my teacher #ngarep) Cuma ending-nya aja bikin gemes >.< Kalo bisa banyakin FF yg beginian (itu sih maunya aku) *todong authornye pake bazooka* wkwkwk… Pokoknya DAEBAAAAAAAAK………..!!!!!!! *bikin love sign di udara pake F-22*

  6. Aku ngebayangin saat penjajahan Jepang di Indonesia tapi dengan tokoh member Super Junior-_- . Pas Hyuk bilang kalo adekx jd gila setelah diperkosa, hati langsung sesak rasanya.

  7. anyyeong , aqu reader baru di sini .
    ijin obrak abrik ff’a yahh ..😀
    aqu suka ama cerita’a ..
    tpi ngegantung ..
    harus di sequel nhe , biar donghae n eunhee bersatu di masa depan ..

  8. Kisah cinta hampir sama dgn film jet lee yg menyukai gadis jepang. Pas adegan akhir persis bgt waahh jd inget film itu. Td ada bagian yg menjelaskan aksi donghae menghabisi org jepang..seru tuch heheh. Ya wes, good job buat hasil karyanya

  9. berasa baca kisah cinta terlarang antar 2 negara thor haha ngena banget “Laskar Mahasiswa Muda” lol ketawa mulu kalo inget itu tapi over all ceritanya keren thor alurnya ngambil masa penjajahan ^^ di tunggu sequelnya yah thor

  10. Tragis.. tapi endingnya gituuu doank……?? kasihan Hae gagal deh memperistri Eunhee…
    syudahlah oppa, kan masih ada aku.
    #plaak
    hahahaha
    ih tumben oppa ga jadi melankolis eon..
    perkasa sekali disini dia..

    two tumbs up🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s