Just Get Married [Chapter 9]

Chapter 9

 

 

Just Get Married 

 Demi semua lubang di tubuh Spongebob, ada berapa banyak lagi lelaki bertingkah laku aneh yang harus kuhadapi selain Lee Donghae?

-Eunhee-

 

-Lee Eunhee, Como Lake, Lombardy-

Aku menyesal memutuskan pergi meninggalkan Donghae, karena dengan begitu aku memberi kesempatan pada pria yang kini berdiri tenang di hadapanku, untuk mendekat. Kim Woobin. Apa yang dilakukannya di sini? Aku tak tahu mengapa sampai sekarang aku masih merasa mual setiap kali berhadapan dengannya. Seolah-olah kehadirannya adalah sebuah malapetaka besar yang akan memporak-porandakan hidupku. Seandainya saja Donghae percaya dan tak menuduhku mengada-ada tentang kehadiran Woobin, aku pasti tak akan marah dan kabur seorang diri.

“Hai, senang bisa bertemu lagi,” katanya manis. Bila dulu aku akan membalas senyuman yang tersungging di wajah tampan dinginnya dengan senyum yang sama, sekarang… aku hanya menatapnya dalam diam, sama sekali tak berninat untuk balas tersenyum. Rasanya bibirku kaku. Apalagi saat mengingat kejadian sore itu di apartemennya. Oh, tolong ijinkan aku untuk memuntahi lelaki ini sekarang juga!

Kim Woobin

Kim Woobin

“Sayangnya aku tidak senang,” balasku kaku, lalu berusaha pergi dari hadapannya, tapi nyatanya sia-sia saja, karena ia berhasil menghalangiku dengan mudah.

“Aku belum selesai bicara denganmu. Kau mau ke mana?”

Kutepis kasar cengkramannya di tanganku dan mendengus. “Berhenti bersikap manis, Kim Woobin. Aku sudah tahu siapa kau, dan apa yang telah kau lakukan selama ini. Jadi tolong, jangan lagi mengikutiku! Aku sudah menikah!”

Aku merinding mendengar tawa Woobin yang baru kusadari ternyata sangat menakutkan. “Menikah?” Woobin tertawa lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya sampai-sampai aku harus menahan napas karena merasa diperhatikan pengunjung lain di sekitar sini. “Lee Eunhee, kau pikir aku bodoh dan tak menyadari permainanmu dengan lelaki itu?”

“Ya, aku tahu kau tidak bodoh,” kataku terang-terangan. “Tapi bagaimana pun, secara hukum aku sudah menikah. Jika kau tetap memaksa menggangguku, aku bisa melaporkanmu ke polisi. Dan suamiku…” Aku terpaksa berhenti bicara saat Woobin tertawa lagi.

“Apa kau berharap lelaki itu bisa melindungimu?” Nada suaranya terdengar sangat meremehkan. Seolah-olah, dia benar-benar mengenal Donghae.

“Dia pasti akan melindungiku!” bentakku tegas.

Bisa kurasakan tangan besar Woobin mencengkram kedua bahuku dan mengguncangnya. “Sadarlah Lee Eunhee, kau mengatakan hal itu. Tapi lihat… di mana suamimu sekarang? Bersama gadis lain?” Pipiku spontan memanas mendengar kata-kata Woobin. Dia pasti juga menyadari keberadaan Marilyn yang ikut berlibur bersama kami. Suami istri mana yang membawa serta gadis lain di acara bulan madunya? “Hanya aku yang mencintaimu dengan tulus. Jadi berhenti berpura-pura menikah dengannya.”

“Kau bilang apa?” dengusku jengkel. “Mencintaiku dengan tulus?” Kutepiskan cengkramannya di bahuku dan mundur beberapa langkah menjauhinya. “Hubungan kita sudah selesai, Woobin. Sejak sore itu—“

“Sudah kukatakan, semua itu kesalahan!” sela Woobin dingin. “Seyeon yang merayuku. Gadis itu mengancam akan bunuh diri kalau aku tak menemaninya.”

Aku tertawa hambar. Tiba-tiba merasa sangat konyol mendengar penjelasan kosong itu. “Kau pikir aku anak kecil bodoh yang akan percaya begitu saja pada bualanmu itu?”

“Eunhee… kau pikir aku akan repot-repot mengejarmu ke sini jika semua yang kukatakan itu bohong?”

Untuk sejenak aku merasa akan luluh pada rayuannya. Tapi saat bayangan sore itu muncul kembali dalam ingatanku, aku tak bisa lagi menahan diri. Apapun alasan yang diberikannya, tetap tak bisa membenarkan tindakan tercela itu! Ayolah Lee Eunhee, jangan lemah dan membiarkan dirimu terus diinjak-injak olehnya!

“Aku tak tahu apa alasanmu melakukannya, hanya saja… aku tetap tak bisa menerima alasan apapun yang kau berikan. Terima kasih.”

“Tunggu! Aku akan—“

“Ada apa ini?”

Selama sebulan mengenalnya, baru kali ini aku merasa begitu lega ia datang. Lee Donghae. Tanpa ragu-ragu lagi, langsung saja kulingkarkan lenganku di lengan Donghae dan mencoba mengabaikan harga diriku sendiri. Aku tak mau ada keributan. Asal bisa pergi dari hadapan Woobin, itu sudah cukup.

“Sepertinya tempat ini tidak nyaman. Bisakah kita pulang sekarang?” kataku agak sedikit memohon.

Untuk sesaat aku bisa melihat Donghae enggan pergi, mungkin ia bermaksud berbicara atau setidaknya memperingatkan Woobin agar menjauhiku. Tapi tak sampai semenit kemudian, Donghae mengangguk. “Baiklah. Sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum hari menjelang sore.”

Terima kasih, Lee Donghae! Aku janji akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti. Mungkin tidak sekarang, tapi aku janji akan melakukannya.

“Apa kau takut padaku?” Aku terpaksa menoleh mendengar Woobin berbicara dengan nada dingin.

Bisa kurasakan lengan Donghae yang kupegang bergetar berikut juga bahunya. Tidak, bukan karena ketakutan. Tapi Donghae tertawa sinis. Menertawakan Woobin? “Aku hanya tak ingin istriku merasa tidak nyaman,” balasnya santai, seolah ia dan Woobin sudah saling mengenal cukup lama. “Kau tidak dengar apa yang dikatakannya tadi? Dia meminta segera pergi dari sini. Suami mana yang bisa menolak permintaan istrinya?”

Woobin balas tertawa. Tatapannya yang tajam langsung tertuju padaku. “Pernikahan kalian—“

“Aku tidak punya cukup waktu untuk berdebat denganmu,” potong Donghae cepat, lalu tanpa memedulikan teriakan Woobin, dia menggandeng dan membawaku segera pergi. Aku tak yakin apa yang terjadi pada diriku sekarang, rasanya begitu lega dan hangat. Sosok besar di sampingku, yang menggandeng lenganku erat, membuatku merasa aman.

Lee Donghae… sekali lagi, terima kasih…

-Gangnam-gu, Seoul – South Korea-

Lagi-lagi Donghae membantuku saat Eommonim bertanya mengapa kami pulang lebih cepat dari yang telah dijadwalkan semula. Donghae bilang dua minggu terlalu lama untuk menghabiskan waktu di luar negeri sementara kafe-nya butuh perhatiannya juga. Awalnya Eommonim sempat curiga kami hanya bermain-main, tapi saat Donghae mengatakan bahwa bulan madu bisa dilakukan di mana saja bahkan setiap hari bisa dibuatnya menjadi bulan madu—sembari merangkul dan mencium pucuk kepalaku—akhirnya Eommonim percaya juga.

Well, aku sendiri sempat kaget Donghae menerima usulanku untuk secepatnya pergi dari Milan keesokan harinya setelah pertemuanku dengan Woobin. Walau belakangan aku tahu dari Hyorin bahwa Woobin datang ke Milan untuk menghadiri acara fashion yang diliput redaksi majalahnya alih-alih mengejarku, aku tetap saja merasa tak nyaman berada satu kota—bahkan satu hotel—dengannya. Rasanya seperti diikuti dan dikejar-kejar masa lalu.

Yeah, aku tahu dan cukup sadar, Donghae pasti akan melindungiku kapan pun Woobin datang mendekat. Seperti hari itu di danau Como. Aku sama sekali tak menyangka. Bahkan aku sempat berpikir, mungkin saja setelah pertengkarannya denganku di restoran Italia itu kepalanya sempat terantuk dinding batu hingga ia bertingkah di luar kebiasaan. Mungkin beribu kali ucapan terima kasih pun tak cukup untuk membalas perbuatannya hari itu. Sepanjang perjalanan pulang ke hotel, Donghae sama sekali tak melepas genggamannya di tanganku. Ia bahkan merangkulku, seolah bila tak melakukannya, aku akan rapuh dan pecah berkeping-keping. Satu hal yang sangat kusyukuri dari sikapnya adalah ia tidak memaksaku menjelaskan dan menceritakan kembali apa saja yang dikatakan Woobin sebelum ia datang. Jadi aku tak perlu merasa mual karena harus mengingat kembali kejadian itu. Marilyn yang sebelumnya selalu cerewet selama di perjalanan, jadi ikut diam. Aku tak tahu apa yang terjadi pada gadis itu, karena belum sempat aku mengucapkan selamat tinggal, dia sudah lebih dulu turun. Keesokan harinya Donghae bilang, Marilyn menginap di hotel yang berbeda.

Sejak hari itu hubunganku dan Donghae menjadi lebih baik. Walau kami masih sering bertengkar untuk hal-hal kecil, tapi kami lebih sering bersikap layaknya dua sahabat yang menjalani hari-harinya bersama-sama.

“Tak adakah makanan yang lain? Empat hari ini hanya ramyun yang kau masak untuk sarapan.”

Aku tersentak dan baru menyadari Donghae duduk di depanku, tampak sedang mengaduk-aduk isi mangkuknya tanpa minat sedikit pun. Handuk putih berukuran sedang, masih tersampir di pundaknya. Sepertinya dia baru selesai mandi. Baunya seperti campuran mint, lemon dan sabun cukur khas pria yang sangat maskulin.

Empat hari sudah berlalu semenjak kepulangan kami dari Milan, dan aku mulai sedikit terbiasa dengan ritme hidup seorang Lee Donghae. Pagi hari jam 6.30 pria itu bangun, mandi, sarapan dan setelah itu berangkat ke kafe hingga jam 9 atau 10 malam. Tapi setiap jam 1 atau 2 siang, Donghae selalu menyempatkan diri untuk pulang, beristirahat sebentar dan baru berangkat lagi pada jam 5 sore. Katanya sangat penting untuk memantau kinerja para pegawai, agar usahanya bisa berjalan dengan baik.

Kami tidur di kamar terpisah. Awalnya aku bingung harus tidur di mana karena apartemen ini memang sengaja didesain untuk pria lajang dan hanya memiliki satu kamar tidur. Tapi aku tak kehilangan akal, selama Donghae sibuk bekerja di kafe hari itu… aku berhasil merombak ruang kerjanya menjadi tempat tidur yang nyaman untukku sendiri. Well, walau Donghae memberikan syarat agar aku segera menyimpan kembali kasur lipat yang kugunakan setiap pagi menjelang, karena bukan tak mungkin Ibunya datang berkunjung ke apartemen.

“Oh, apa aku perlu mengurangi sedikit saja kadar ketampananku? Sepertinya kau mulai jatuh cinta padaku, Nyonya Lee.”

Aku sekali lagi terkesiap, dan bisa merasakan pipiku memanas karena tertangkap basah sedang memperhatikannya dengan begitu intens. “Silakan kau cari salju di musim semi ini kalau kau berharap begitu,” sungutku sembari beranjak dari kursiku sendiri.

Bisa kudengar Lee Donghae tertawa terbahak-bahak. “Apakah setidak mungkin itu kau jatuh cinta padaku?”

“Lebih tidak mungkin dari itu, malah,” kataku penuh tekad, lalu meletakkan segelas jus jeruk yang sebelumnya kuambil dari kulkas. “Aku tak mungkin melanggar perjanjian kita dan memilih jatuh cinta padamu. Kurasa kau masih ingat betul pasal pertama yang kita tuliskan di kertas perjanjian itu, kan?”

“Sudahlah, itu tidak penting,” sergah Donghae cepat. “Yang terpenting sekarang, kau harus mengganti menu sarapanku. Aku bisa kurus kering kalau setiap hari hanya sarapan ramyun,” Donghae mengetuk-ngetuk meja di depannya dengan tidak sabar.

Aku tersedak, dan nyaris saja menyemburkan jus jeruk yang kuminum. “Bukankah aku sudah bilang padamu malam itu, bahwa aku tak terlalu pandai memasak. Sejauh ini aku hanya bisa memasak ramyun, telur goreng daaan…”

“Merebus air!”

“Ah, ya… itu.” Aku kembali menyeruput jus jerukku ketika kuperhatikan melalui sela-sela gelasku, Lee Donghae mendengus. “Kalau kau ingin makan enak, kenapa tak makan di kafe-mu saja? Beres, kan?”

Lee Donghae mencibir. “Aku sudah menikah. Mereka pasti akan menganggap istriku tak melayaniku dengan baik, kalau tetap sarapan di kafe,” tukasnya sembari bersungut-sungut. “Apa kau mau dibilang istri yang tidak bertanggung jawab? Apalagi kalau Eomma datang, dan pelayan di kafeku seringkali bergosip dengannya—“

“Kau bisa makan di tempat lain,” selaku cepat. “Restoran di sini banyak. Tidak hanya kafe-mu, kan?” Aku tersenyum senang karena berhasil membuatnya kebingungan. “Lagi pula, pemilik restoran-restoran itu tak akan tahu kau sudah menikah atau belum.”

Kulihat Lee Donghae menggeser mangkuk ramyun ke samping kanannya, lalu mencongdongkan tubuhnya lebih dekat padaku. “Kau ingin membuatku bangkrut dengan makan di luar setiap hari?”

Aku mendecak jengkel. “Lalu kau mau aku bagaimana? Membuatkanmu makanan lain sementara aku tak tahu cara membuatnya?”

Lee Donghae memundurkan tubuhnya dan bersandar di punggung kursi sembari mengangkat bahu. “Itu masalahmu,” katanya tenang.

“Apa? Kau pikir—”

“Kau tidak hidup di jaman batu, Lee Eunhee,” Lee Donghae menyela protesanku seraya berdecak dengan pandangan menilai. “Di jaman ini kau sudah bisa menggunakan fasilitas internet di mana pun kau berada. Jadi, ‘tidak tahu cara membuatnya’ bukanlah suatu alasan yang tepat.” Ia melanjutkan lalu beranjak dari kursinya. “Hari ini aku memberikanmu keringanan karena kuputuskan untuk sarapan di kafe. Tapi besok pagi, kuharap kau sudah memasak menu lain untuk sarapanku.”

Sial. “Aku kau nikahi bukan untuk menjadi pembantu rumah tanggamu, Lee Donghae!” jeritku yang sialnya percuma karena kulihat dia sudah masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Menyebalkan!

Yeah, tapi kalau dipikir-pikir dia benar juga. Jika setiap hari hanya sarapan ramyun… Oh, Doraemon! Bisakah kau pinjamkan aku mesin waktu untuk bisa kembali ke masa lalu dan menuruti perintah Eomma agar lebih rajin membantunya di dapur?

***

Sesiangan ini aku menghabiskan waktu dengan mencari-cari resep masakan melalui internet. Rata-rata semuanya sulit. Aku mendengus berkali-kali bila mengingat kata-kata Donghae tadi. Apa dia pikir belajar memasak bagi pemula sepertiku semudah membalikkan telapak tangan? Aku bahkan hanya tahu sedikit jenis bumbu masakan. Bagaimana api kecil, api sedang dan api besar itu… aku juga sama sekali tak mengerti. Menyebalkan! Harusnya hari ini aku mulai menyempatkan waktu untuk mencari-cari pekerjaan baru, bukannya belajar cara memasak sarapan untuknya.

Di tengah keputusasaanku mencari-cari, mataku melebar menatap salah satu adegan di drama yang kutonton. Well, sebenarnya karena malas mencari dan selalu gagal, akhirnya aku memutuskan untuk menonton drama favoritku melalui channel online. Aku sudah ketinggalan banyak episode-nya karena perjalanan ke Italia kemarin, jadi terpaksa mencari channel online untuk menontonnya. Bukan ketampanan dan akting memikat Kim Namgil yang kali ini membuatku tertegun, tapi makanan yang sedang disantapnya pada salah satu adegan. Toast. Roti panggang yang hanya diolesi mentega atau selai.

Benar. Aku bisa membuatkan Donghae sarapan itu. Bukankah membuat toast sangat mudah? Aku ingat di dapur ada alat pemanggang roti. Kalaupun aku tak punya selai atau mentega, aku masih bisa menggorengkan telur sebagai teman makan roti panggang itu. Ah, Lee Eunhee… kau memang jenius!

Sembari bersandar dan menyelonjorkan kakiku di sofa, aku mendesah panjang. Akhirnya, aku bisa menonton dengan tenang sekarang. Terima kasih banyak, Kim Namgil! Kau memberiku ide terbaik yang pernah ada.

Baru sekitar 15 menit aku asyik menonton sambil makan snack coklat yang selalu disimpan Donghae di kulkasnya, kudengar dering ponselku yang tadi kuletakkan di meja sebelah laptop. Lee Donghae. Untuk apa dia menelponku siang-siang begini? Otomatis, aku melirik jam yang tergantung di dinding ruang tengah. Jam satu siang lewat tiga puluh menit. Biasanya di jam segini dia sudah pulang untuk istirahat. Tapi sekarang dia malah menelponku? Ah, tidak, tidak, tidak. Jangan berpikir yang macam-macam. Lee Donghae pasti baik-baik saja.

“Halo…” sapaku setelah kutekan tombol penerima dan mendekatkan ponsel itu ke telinga.

“Kudanil, kau tidak sedang tidur siang, kan?”

Hey, apa? Dia menyebutku… kudanil? Lagi?

“Halo… Kudanil, kau masih di sana?”

Sial. “Aku bukan Kudanil, Kerbau!” pekikku jengkel. Kalau tahu dia akan membuatku marah dan menghancurkan mood-ku begini, tak mungkin aku repot-repot mengangkat telepon darinya.

“Oh, jadi kau Kerbau. Bukan Kudanil. Baiklah… Kerbau—“

“Kau yang kerbau!” Sekali lagi aku memekik, rasanya tenggorokanku sakit karena terus-terusan menjerit seperti ini.

“Eh, aku juga kerbau? Kalau begitu, kita pasangan kerbau.” Kudengar Lee Donghae tertawa. “Romantis sekali, kan?”

“Sama sekali tidak lucu!” Aku merengut, walaupun sadar Donghae tak akan melihatnya. “Kalau tidak ada yang penting—“

“Aku tunggu di kafe. Ada seseorang yang ingin kupertemukan denganmu.”

Aku menelan ludah, membasahi tenggorokanku yang mendadak kering. “Seseorang?” tanyaku. Bukan kekasihnya yang lain, kan?

“Iya, seseorang. Bukankah kemarin kau mengatakan padaku bahwa kau butuh pekerjaan? Aku akan mengenalkanmu pada orang yang bisa memberimu pekerjaan itu.”

Lama aku hanya diam. Tercenung. Lee Donghae… benar-benar membantuku mencari pekerjaan? Padahal kemarin aku mengatakan itu hanya dengan maksud bercanda. Menonton Televisi berdua dengannya tanpa topik pembicaraan terasa amat sepi. Jadi kumulai saja topik itu dengan mengatakan keinginanku untuk kembali bekerja.

“Hey, kau masih di sana?” Suara Lee Donghae terdengar lagi. “Kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Aku akan bilang—“

“Pekerjaan apa?” selaku cepat. Sebelum iblis tampan itu berubah pikiran.

“Editor baru di sebuah penerbit. Kebetulan editor yang lama sedang mengurus pengunduran dirinya karena harus ikut suaminya ke Jepang.”

Ah, Editor. Masih ada hubungannya dengan bidangku.

“Kalau kau mau, cepat datang ke kafe sekarang juga. Aku tunggu lima belas menit dari sekarang. Kalau tidak, pekerjaan itu akan—“

“Aku mau!” Buru-buru kututup telepon itu dan melompat turun dari sofa. Tidak ada waktu lagi. Walaupun agak tidak mungkin bersiap-siap dalam waktu sesingkat itu, tapi kalau terlalu banyak berpikir akan semakin menghancurkan kemungkinan itu. Lagi pula, jarak apartemen ini dengan kafe tidak terlalu jauh. Aku bisa menempuhnya dengan 10 menit berjalan kaki atau naik taksi akan lebih mempersingkat waktu.

Setelah mengganti pakaianku dengan blus gading dan rok coklat yang panjangnya sedikit di atas lutut, aku menyambar tas tanganku lalu mengeceknya sebentar untuk memastikan aku sudah membawa dompet dan ponselku. Semuanya sudah siap. Aku harus sampai tepat waktu!

-Buono Cafѐ, Gangnam-

Aku agak sedikit terengah ketika sampai di pintu depan kafe. Sopir taksi itu terpaksa menghentikan mobilnya agak jauh dari tempat parkir kafe, karena kulihat kafe ini ramai dan si supir taksi tak bisa masuk lebih dalam lagi. Berbeda dengan sebelum aku menikahi Donghae, kali ini para pelayan yang berdiri di sisi pintu memberiku salam penuh hormat yang lebih dibandingkan pada tamu lain.

“Ah, Nyonya Lee… silakan masuk!” Aku mengenali lelaki ini. Choi Janghyuk. Pelayan yang waktu itu terlibat masalah denganku.

Dengan lagak angkuh—karena memang masih kesal padanya—aku membalas. “Di mana suamiku?”

Janghyuk sekali lagi membungkuk hormat, lalu dengan jempolnya ia menunjuk salah satu meja di pojok ruangan. Dekat dengan jendela besar yang menampakkan taman bunga di bagian luarnya. Aku bisa melihat Lee Donghae sedang duduk membelakangiku.

Tanpa mengucapkan terima kasih, aku melangkah lebar-lebar menghampiri meja itu. Pada jam makan siang begini, pengunjung kafe memang sedang banyak-banyaknya. Hingga aku beberapa kali harus bertabrakan dengan bahu pengunjung yang lewat. Aku ingat, dulu setiap makan siang selalu menyempatkan waktu ke mari.

“Hai, di mana orang itu?” Aku sedikit terengah ketika menyapa Donghae yang duduk seorang diri di mejanya.

Lee Donghae mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Ah, kupikir kau tidak datang. Duduklah dulu. Sepertinya kau butuh minum.”

Menuruti perintah Donghae, aku duduk di kursi di depannya. “Katakan padaku, di mana dia?” tanyaku setelah sekian lama Donghae hanya diam dan sibuk menyantap waffle es krimnya.

“Kau tidak mau pesan satu?”

Aku mendecak. “Lee Donghae, aku ke mari untuk mendapatkan pekerjaan. Bukan makan waffle bersamamu!”

“Kau yakin?” Donghae mengangkat sebelah alisnya, dan otomatis aku melirik waffle es krim di mangkuknya yang kini hanya tinggal setengah lalu menelan ludah. Sial! Dia sangat tahu aku menyukai makanan itu.

Dengan menyebalkannya Donghae menyeringai lebar lalu mengangkat salah satu tangannya memanggil pelayan. “Satu lagi waffle es krim vanila,” katanya santai dan pelayan itu segera beranjak setelah menggumamkan persetujuan singkat.

Kekuasaan sang CEO, begitukah maksudnya menyuruhku ke mari? “Katakan padaku di mana orang itu?” desakku jengkel setelah pelayan itu benar-benar pergi.

“Kau terlambat. Dia sudah pulang.”

“Apa?” Aku melotot, tak peduli orang-orang menatapku ingin tahu.

Kudengar bunyi gemeleting pelan ketika Donghae meletakkan sendoknya di atas piring waffle. “Jangan berteriak,” katanya santai.

“Bagaimana aku tak berteriak kalau kau terus mempermainkanku?”

“Salahmu sendiri. Kau datang setelah tiga menit dia pergi.”

“Apa??? Tiga menit!?!!”

“Ssshhtt… jangan mengagetkan pelangganku.”

Kalau saja ada sarung tinju besar di sini, aku pasti sudah memakainya dan tak akan segan-segan meninju wajah tampan Iblis di hadapanku ini. “Kau sudah membuatku tergesa-gesa datang ke mari. Tapi sekarang dengan santainya kau bilang dia pergi tiga menit sebelum aku sampai. Kau pikir pekerjaanku hanya bermain-main denganmu?”

“Bukankah kita memang sedang bermain-main, Lee Eunhee?”

Aku terdiam. Tapi tak ingin mengakui bahwa ucapannya memang benar. Menyebalkan! “Katakan saja kalau kau sebenarnya tidak rela membantuku mendapat pekerjaan.”

Dia tertawa, dan aku benci itu. Baru beberapa hari kita baikan, tapi dia sudah membuat masalah baru lagi. “Jangan marah dulu, pesananmu sudah datang. Sebaiknya kau—“

“Itu pesananmu, bukan pesananku,” kataku datar lalu membuang muka ke luar jendela. Hancur sudah harapanku untuk kembali bekerja. Harusnya jika memang ingin membantuku, dia bisa menahan pria itu lebih lama. Dan tiga menit? Bukankah dia bisa mengatakan padaku bahwa ‘itu orangnya’ ‘kau bisa mengejarnya sebelum jauh’. Tapi apa yang dia lakukan? Menertawakanku? Dasar Iblis!

“Baiklah kalau kau tidak mau. Padahal aku baru akan mengatakan padamu bahwa pria itu memintamu datang Senin depan untuk wawancara.”

“Eh?” Aku mengernyit dan otomatis mengalihkan perhatianku padanya. Donghae tertawa keras, mungkin wajahku terlihat begitu lucu baginya. Tapi yeah, aku harus mengakui… kali ini ucapannya membuatku senang.

“Kau masih mau datang, kan?”

“Tentu saja!” Tiba-tiba merasa bersemangat, aku meraih kembali piring waffle dan mendekatkannya ke hadapanku. Tanpa segan-segan, kusendok makanan kesukaanku itu dan memasukkannya ke mulutku.

“Hey, bukankah itu pesananku?”

Aku melotot jengkel karena dia berhasil membuatku tersedak makananku. Sial! Permainannya belum selesai juga.

Sekali lagi dia tertawa, tapi kali ini ia mengangsurkan segelas air padaku. “Minumlah dulu,” katanya sambil terkikik. “Aku tahu kau lapar, tapi tak usah tergesa-gesa juga. Kau harus mengurangi sifat tergesa-gesamu itu.”

“Sama sekali tidak lucu!” dengusku jengkel dan lagi-lagi dengan begitu kurang ajarnya, dia tertawa.

Well, dia memang seperti ini. Dan harusnya aku mulai terbiasa dengan semua gurauan tidak lucunya itu.

-Banpo Remian Apartment, Gangnam-

poached-egg-on-toast

Aku menatap puas hasil kerjaku. Toast dengan telur goreng sebagai isinya. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku untuk Donghae. Kemarin dia telah membantuku mencari pekerjaan. Sepulang dari kafe, dia juga membawaku ke sebuah butik di kawasan Myeongdong dan membeli beberapa potong pakaian kerja baru. Dia berkata akan lebih baik bekerja di tempat baru dengan suasana baru. Yeah, tidak ada yang salah dengan itu. Tapi yang membuatku merasa tidak nyaman sampai saat ini adalah harga pakaian-pakaian itu. Bagaimana aku bisa membayarnya sementara tabunganku sudah semakin menipis? Lee Donghae memang bersikeras mengatakan bahwa pakaian-pakaian itu hadiah darinya. Hanya saja… well, semua yang dilakukannya itu membuatku semakin tidak enak.

“Wah… sepertinya lezat.”

“Tentu saja.” Aku langsung menutup kulkas di hadapanku dan berbalik—eh? Itu?

“Enak. Pantas saja Donghae jadi jarang makan denganku. Ternyata dia sudah punya koki pribadi di rumahnya.”

Lee Hyukjae. Dengan santainya lelaki itu memakan sarapan yang sudah kusiapkan untuk Donghae. Sementara aku… hanya bisa diam dan menatap bagaimana lahapnya Hyukjae menelan habis roti panggang itu. Sebenarnya darimana dia datang? Kapan dia masuk? Kenapa aku tak mendengarnya?

“Oh, duduklah. Kenapa berdiri saja? Kakimu bisa pegal kalau terlalu banyak berdiri,” katanya dengan mulut penuh makanan. Seolah-olah, akulah yang tamu di rumah ini.

Demi semua lubang di tubuh Spongebob, ada berapa banyak lagi lelaki bertingkah laku aneh yang harus kuhadapi selain Lee Donghae?

“Donghae meneleponku dan mengajakku ke gym bersama, karena sekarang hari Minggu dan jadwal olah raga Mingguan kami,” tambahnya lagi sembari meminum jus jeruk yang tadi juga sudah kusiapkan untuk Donghae. “Ah, seandainya saja kau menyiapkan Jus Stroberi, pasti akan lebih enak. Tapi jus Jeruk juga tidak apa-apa, Eunhee-ssi.” Seringai lelaki itu melebar tanpa rasa berdosa, memperlihatkan gusi-gusinya yang mungkin menurutnya menawan.

“Hey Monyet, apa yang kau lakukan pada istriku?”

Aku terkesiap dan seketika berhadapan dengan Lee Donghae yang nampaknya baru keluar dari kamar. Tidak seperti biasanya, kali ini ia tampak santai dengan T-shirt putih lengan pendek dan celana Cargo selutut. Sepertinya mereka memang telah berjanji untuk olah raga bersama.

“Apa? Aku tidak melakukan apa-apa selain sarapan.” Kudengar Hyukjae menjawab dengan tenang. “Benarkan, Eunhee-ssi?”

“Yak!!! Monyet jelek, jangan bilang kau makan sarapanku, huh?” Donghae berjalan mendekat lalu menjambak rambut coklat kemerahan Hyukjae hingga membuat lelaki itu seketika berdiri dari kursi makan yang didudukinya.

“Oh, jadi itu tadi sarapanmu? Ah, maaf. Aku tidak tahu. Kupikir kau sudah makan,” Hyukjae berbicara sembari menyeringai lebar. “Tapi yang tadi itu memang enak. Kau beruntung memiliki istri sepertinya.”

“Aiiisshh… menyebalkan!”

Aku tak bisa menahan tawaku ketika Donghae menjitak kepala Hyukjae saat itu juga. “Kau kejam sekali, aku kan hanya menyicipi saja. Kau bisa minta lagi pada istrimu,” protes Hyukjae sembari mengusap kepalanya.

Lee Donghae beralih menatapku dengan wajah memelas dan aku terpaksa menggigit bibir bawahku agar tidak terkikik geli. Rasanya perutku seperti digelitiki. Aku baru tahu Lee Donghae punya jenis ekspresi wajah seperti itu.

“Kau hanya membuat satu?” tanyanya putus asa.

Kali ini aku tak bisa menyembunyikan seringaiku. “Bukankah kau bilang tak suka sarapan yang kubuat?”

“Ya! Tapi kali ini berbeda. Kau membuat roti panggang, tapi kau membiarkan orang lain memakannya.”

Aku terkekeh pelan. Lalu meraih roti panggang milikku yang masih kuletakkan di counter dapur. “Makanlah. Aku bisa membuatnya lagi. Tapi kalau tidak enak, jangan protes. Baru kali ini aku membuatnya. Itupun setelah perjuangan mencari resep sarapan mudah selama berjam-jam,” kataku sengaja tak mangatakan bahwa aku menemukan resep itu karena menonton sebuah drama.

Lee Donghae tersenyum lebar. “Well, kau berhasil menemukannya. Dan sepertinya roti ini aman dari indikasi bahan-bahan beracun yang mungkin kau masukkan ke dalamnya.”

“Eh? Bahan beracun? Kenapa tidak bilang? Aku belum menikah, dan belum mau mati!”

Spontan aku dan Donghae terbahak mendengar pekik ketakutan Hyukjae. “Makanya, jangan asal memakan sarapan orang lain begitu saja,” balas Donghae sembari memeletkan lidahnya.

Bila melihat tingkah kedua lelaki ini, aku seperti dibawa kembali ke masa kecil yang indah. Well, semoga Lee Hyukjae sering-sering main ke mari. Jadi aku bisa melihat sisi lain dari seorang Lee Donghae yang mungkin belum kuketahui sepenuhnya.

 

 

-Daewon C.I. Inc, Seoul-

Aku merapikan blus yang kupakai—walau sebenarnya tidak ada yang perlu dibenarkan—ketika kudengar sekretaris berpenampilan cantik itu memanggilku. Hari ini sesuai janji yang dibuat Donghae dengan lelaki di kafe, aku akan menjalani proses wawancara sebagai editor baru di perusahaan penerbitan buku tenama Daewon C.I. Inc yang kuketahui telah menerbitkan banyak sekali Novel, Manhwa dan majalah-majalah reguler. Pagi tadi Donghae memaksa mengantarku sebelum akhirnya dia juga kupaksa pulang dan kembali bekerja di Kafe.

Mengikuti intruksi sekretaris bernama Kim Jisun itu, aku melangkah masuk ke sebuah ruangan bernuansa putih dan abu-abu yang disekelilingnya penuh dengan buku-buku. Aku sempat terkejut, kupikir CEO yang harus kuhadapi sudah berusia di atas 40 tahun atau lebih, tapi aku salah. Pria yang kini duduk di kursi kebesarannya itu masih sangat muda, tampan dan juga menawan. Mungkin usianya sekitar 27 sampai 30 tahunan.

Choi Jinhyuk

Choi Jinhyuk

“Duduklah, Nona Lee—ah, haruskah aku memanggilmu Nyonya Lee saja?”

Aku tersenyum kaku dan menggeleng. “Panggil saja Eunhee.”

“Baiklah, Eunhee-ssi,” katanya bersahabat.

Aku melirik papan nama yang diletakkan di depan meja. Namanya Choi Jinhyuk. Mungkinkah lelaki ini memang teman Donghae?

“Kudengar dulu kau pernah bekerja di sebuah redaksi majalah. Apa itu benar?”

Aku mengangguk. “Ya, tepatnya di W Magazine.”

“Berapa lama?”

Aku mengangsurkan resume yang kubawa dan menyerahkannya pada pria itu. Bila dilihat dari wajahnya, sepertinya ia akan menjadi atasan yang baik. “Sekitar satu setengah tahun sebagai salah satu penulis artikel di bagian tokoh politik.”

“Ah, setelah membacai resume-mu. Aku mengerti mengapa Donghae begitu merekomendasikanmu padaku,” katanya setelah beberapa saat lamanya membaca dan mempelajari dokumen yang kuberikan. Tentu saja hal itu membuatku terperangah. Lee Donghae… merekomendasikanku? “Yah, bocah itu. Aku tak menyangka dia lebih dulu menikah daripada aku. Padahal aku tiga tahun lebih tua darinya,” Choi Jinhyuk tertawa geli. “Kau pasti beruntung memiliki suami yang begitu mencintaimu, Eunhee-ssi.”

Aku menelan ludah. Rasanya tenggorokanku mendadak kering. Seperti ada batu besar yang menyesaki. Lee Donghae… mencintaiku? Dia pasti bercanda!

“Eumm… yah, begitulah,” balasku kaku.

“Sebenarnya aku ingin datang ke pernikahan kalian. Tapi hari itu aku sedang di Australia, jadi hanya bisa menyampaikan selamat lewat telepon.”

“Kalian… sudah mengenal cukup lama?” Setelah berhasil menghalau debaran keras di jantungku, aku berhasil bertanya.

Kulihat Choi Jinhyuk kaget, tapi beberapa detik kemudian pria itu tersenyum. “Sepertinya Lee Donghae belum cerita apa-apa padamu,” katanya tenang. “Kami berteman karena aku sahabat dekat kakaknya.”

Ah, ‘Hyeong’ yang pernah disebut Donghae waktu itu?

“Kemarin aku kaget karena baru sehari aku memasang iklan di surat kabar untuk mencari pengganti salah seorang editor lama, tiba-tiba Donghae menelepon dan memintaku datang ke Kafe-nya,” cerita Choi Jinhyuk. “Kupikir dia akan mentraktirku, tapi ternyata dia merekomendasikan istrinya. Dia bilang aku tak akan menyesal mempekerjakanmu di sini.”

Pipiku memanas. Rasanya seperti dihadapkan langsung pada sebuah tungku raksasa dengan api menyala-nyala. Aku benar-benar tak menyangka, Lee Donghae akan melakukan itu.

“Oh, maaf. Aku lupa. Seharusnya aku tak menceritakan ini padamu, Donghae pasti akan memarahiku.”

Aku berdeham canggung dan mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menceritakannya padaku.”

“Kau janji tak akan cerita pada Donghae, kan?”

“Yeah, aku tak akan mengatakannya.”

Choi Jinhyuk menghela napas lega. “Syukurlah. Aku akan selamat dari omelannya,” katanya dengan seringai terhibur. “Kau bisa mulai bekerja besok, Eunhee-ssi. Ini, pelajarilah Job desk-mu dan kuharap, apa yang dikatakan Donghae tentangmu memang benar.”

Aku menarik napas dalam-dalam dan menerima uluran tangan Choi Jinhyuk. Hanya begini saja? Sialan Lee Donghae! Dia tak perlu membantuku sejauh itu! Aku bisa melakukannya sendiri.

Choi Jinhyuk dan aku sama-sama terkejut ketika terdengar pintu ruang itu diketuk dan beberapa menit kemudian sekretaris Kim masuk. “Sajangnim, Nona Song telepon. Dia marah-marah, dan memaksa bicara dengan Anda. Dia juga mengancam akan datang sendiri ke sini kalau Anda tak mau menerima telepon darinya.”

Otomatis aku mengalihkan perhatianku dan mengernyit bingung sembari menatap Choi Jinhyuk ketika kudengar lelaki tampan itu tertawa. “Biarkan saja. Aku memang ingin dia datang,” katanya tenang lalu sekretaris tadi segera menunduk dan pamit pergi.

Well, bila dilihat dari wajah Choi Jinhyuk yang mendadak sumringah. Sepertinya ‘Nona Song’ itu bukan orang sembarangan. Hmm… mungkinkah dia kekasihnya? Wanita yang spesial di hatinya? Aisshh… berhenti mengurusi orang lain, Hee! Mulai besok dia akan menjadi atasanmu. Kenapa sekarang kau malah ingin menggosipkannya? Tidak sopan!

“Kalau begitu, saya permisi dulu,” kataku lalu beranjak dari tempatku duduk.

Choi Jinhyuk yang tampaknya masih terbawa suasana setelah laporan sekretarisnya tadi, terkejut mendengarku berbicara. “Ah, ya. Silakan! Jangan ragu untuk bertanya kalau ada yang tak kau mengerti.”

-Buono Cafѐ, Gangnam-

Setelah berpikir sekian lama, akhirnya kuputuskan untuk menghampiri Donghae di Kafe. Bagaimana pun aku harus berterima kasih padanya. Mungkin dengan mentraktirnya makan siang bersama, bisa mengurangi beban rasa tak nyaman di hatiku.

Aku tak tahu dia bisa begitu baik. Dan yang membuat hatiku seperti dialiri air panas yang melegakan adalah kata-kata Choi Jinhyuk yang menyatakan bahwa dia begitu mencintaiku. Untuk alasan yang tak ingin kupikirkan, aku merasa begitu senang. Entahlah, harusnya aku tahu semua itu hanya akting Donghae untuk meyakinkan teman-temannya bahwa ia bahagia dengan pernikahannya. Tapi, sudahlah… membahas ini hanya akan membuat pipiku memanas. Aku tak ingin terlihat bodoh di depan Lee Donghae. Dia pasti akan menertawakanku!

Setelah memberi salam pada beberapa pelayan dengan senyuman lebar yang sejak tadi terus kusunggingkan, aku melangkah riang menaiki tangga ke lantai dua. Kata Min Kahee—seorang pelayan yang kutemui di depan—sejak pagi Donghae ada di atas, sepertinya dia sibuk memeriksa laporan bulanan kafe ini.

“Permisi, apa aku boleh masuk?” tanyaku setelah membuka sedikit pintu kayu ruangan itu.

Lee Donghae mendongak untuk menatapku. “Kau sudah masuk, untuk apa minta ijin lagi?” tanyanya lalu kembali menekuni berkas-berkas yang bertumpuk di hadapannya.

Aku masuk dengan senyum riang. Jika saja aku punya nyali, pasti aku sudah memeluk dan menciuminya. Ah, apa yang kau pikirkan Lee Eunhee? Berhenti berpikiran mesum!

“Apa yang membawamu ke mari? Jangan bilang kau ingin marah padaku karena kau tak jadi bekerja di perusahaan itu,” Donghae bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas di mejanya.

Entah atas dorongan gila dari mana, aku meraih tangannya dan menggenggam tangan itu erat. Lee Donghae terkejut tentu saja, sama denganku. Aku juga terkejut dan buru-buru melepaskan tautan tangan kami.

Untuk sejenak, suasana jadi begitu meresahkan dan… sedikit panas. Apa Donghae lupa menghidupkan pendingin ruangan? Ah, sudahlah itu tidak penting! Aku sengaja memainkan sebuah patung berbaju hanbok kecil di atas meja untuk menghilangkan kegugupanku. Bodoh! Apa yang baru saja kulakukan?

“Terima kasih banyak,” kataku setelah berhasil menemukan suaraku kembali.

Otomatis Donghae mengangkat wajahnya dan menatapku lurus-lurus. “Terima kasih untuk apa?”

“Atas bantuanmu. Tapi sebenarnya kau tak perlu melakukan itu.”

“Ah, Jinhyuk Hyeong mengatakan sesuatu padamu?”

Cepat-cepat aku menggeleng. Sial! Aku sudah berjanji pada Choi Jinhyuk tak akan membocorkannya pada Donghae.

“Mengatakan apa?” Aku balas bertanya, tepatnya pura-pura tidak tahu.

Kulihat Donghae mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin dia mengatakan sesuatu tentangku.”

“Haruskah dia mengatakan sesuatu tentangmu?” selidikku. Entah mengapa aku merasa sepertinya ada rahasia lain yang tak sempat diceritakan Choi Jinhyuk padaku.

“Oh, tidak. Tentu tidak. Aku hanya heran kenapa kau berterima kasih padaku,” bantahnya cepat dan itu semakin membuatku curiga.

“Seperti yang kukatakan tadi, aku berterima kasih padamu karena kau telah meminta Choi Jinhyuk untuk mempertimbangkanku.”

Lee Donghae mengangguk. “Yeah, itu. Aku hanya melakukan sebisaku. Kebetulan dia datang dan bilang padaku bahwa sedang membutuhkan editor baru.”

Aku tersenyum geli. Pria ini memang pandai menyembunyikan sesuatu. “Sepertinya kau sibuk. Padahal aku ingin mentraktirmu makan siang sebagai tanda terima kasihku.”

Kontan Donghae mengangkat wajah. Sepertinya ia tidak percaya dengan niat baikku ini. Dan yang membuatku semakin bingung, dia beranjak lalu melongokkan kepalanya di jendela. “Apakah barusan turun salju?”

“Yak! Aku serius!” pekikku jengkel, tak lupa juga mengerucutkan bibirku sebagai tanda protes.

Well, aku tidak sibuk kalau begitu,” katanya lalu meraih jas abu-abu yang disampirkannya di punggung kursi. “Kau mau mentraktirku di mana, hmm?”

Aku mendengus lalu ikut beranjak. “Karena aku tak punya banyak uang, jadi aku akan membawamu ke restoran langgananku saja.”

“Baiklah! Asal rasanya enak, aku tidak khawatir soal tempat.”

Baru saja aku dan Donghae melangkah menuju pintu, ponsel Donghae berbunyi. Pria itu terpaksa menghentikan langkahnya untuk menerima telepon.

“Sebentar,” katanya lalu mendekatkan ponsel canggih itu ke telinganya. “Ne, Eomma—apa??!”

Aku sendiri terkejut saat kudengar bunyi gedebuk halus ketika jas abu-abu yang tadi dipegang Donghae jatuh ke lantai. Seolah dia sama sekali tak bertenaga untuk memegang kain yang terbilang berbobot ringan itu.

Ada apa? Apakah terjadi sesuatu yang buruk? Demi Tuhan! Semoga tidak seperti yang kupikirkan!

“Lee Donghae, kau baik-baik saja?” Aku berhasil bertanya dan merasa begitu kaget saat merasakan tangan Donghae sedingin es. Kali ini aku tak langsung melepaskan genggaman tanganku karena takut dia mendadak limbung. Ekspresi wajahnya juga begitu kaku dan pucat. Sepertinya ia menahan amarah yang begitu besar. Jangan katakan ini hanya karena sang Ayah yang tidak jadi mengirimkan sejumlah uang untuk memperluas usahanya. Tidak, kurasa Lee Donghae bukan orang seperti itu. “Hae, kau mendengarku?”

“Pulanglah! Ada sesuatu yang harus kulakukan.”

Aku tertegun dan hanya bisa memandang punggungnya yang menjauh. Tidak. Lee Donghae tak pernah bersikap begini sebelumnya. Dia memang suka bercanda dan membuatku kesal. Tapi dengan tiba-tiba pergi… tanpa memberi penjelasan sedikit pun padaku. Sama sekali bukan Lee Donghae. Aku juga tidak kecewa dia membatalkan makan siang ini, hanya saja… aku mengkhawatirkannya.

Demi Tuhan! Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk!

TBC

Cuap2:
Ah, MianHAE sebelumnyaaa… lama amat ngelanjutinnya. Mudah2an gak pada lupa ama ceritanya yah… oiyaaa, maaf juga klo Chapter ini jelek *bow*

109 thoughts on “Just Get Married [Chapter 9]

  1. Sumpah demi kyuhyun ku tersayang . Ngakak pas dongeh manggil hee kudanil , dan pas unyuk makan sarapan nya😀
    jadi #ala iklan mie tuh
    wobin seberner nya tulus kagak sih suka ama hee ?
    Dongeh apa yg terjadi eoh ? Knapa gk mau jelasin ?
    #penasaran
    sangat” ditunggu kelanjutan nya🙂

  2. kngn bgt sm eunhae couple😀.. ttp aja mnrk koq ff yg kamu buat chingu ^^.. chapt brktnya agak dibanyakin donk eunhae momentnya chingu😀..

  3. joha joha…. chapter ni lucu2 eon,diawal crta da pnjlsan,dan stlhny ttg khdupn bru mreka d seoul,akhrny da 1 sisi rhsia hae jg yg trbongkar,kl gt kn hee bs tw gmn prhtianny suaminy,si iblis tmpan,kekeke😀
    tp q agk khwtir d akhr crt eon,kykny si woobin dh mlai braksi,mngkn?
    cm bs brhrap smg hae bs nylesain mslhny dan baek2 sja,siapp mnugu lnjtny,eonni fighting!!!!!^.^

  4. hahahaha…. pasangan kerbau😀
    banyak moment yang aku suka di chap ini, dari ekspresi eunhyuk yang takut diracuni, donghae yg memelas minta sarapan, sampe spontanitas eunhee megang tangan hae,

    ah iya… tiba tiba choi jinhyuk ada disini aku sampe kecikikikan inget drama P&H nginget cara ngomongnya sambil bayangin adegan demi adegan di cerita ini,

    kayaknya JGM ini jadi judul dengan chapter terpanjang karna belum ada tanda tanda bakal end, tapi gpp aku tetap menikmati setiap chap dan selalu menunggu kelanjutannya,

    FYI aja, sambil baca chap ini video I wanna dance udah 10 kali keputer, eh 10 apa 12 ya, ato malah 15 kali >.< ga keitung lagi😛
    ga ada yang nyanya juga😀

    good chapter thor, di tunggu next nya😉

    • gagagagaga….. syukurlah klo kamu suka🙂
      Iyah… rencananya emang lebih panjang dari FFku yg laen. Jadi bersabarlah nunggu kelanjutannya🙂

      Lumayan panjang berarti yah chapter ini *yaiyalah 15 lembar lebih* kkkkkk
      gomawoooo dah baca n komen ^^

  5. yak itu eomma mertuaku knpa??
    Woobin cakep#gubrakk#dongektepar#bodoamat#
    keren kok chaptr ini,,ayo semangat lanjutin.y..

  6. Hee eoni mianhae,,selama ini aku jadi silent reader
    jujur karena aku baru tau cara komen diwp hari ini#plaaakk
    merasa bersalah banget
    jadi jangan marah ye eon..hehe
    itu photonya kim woobin hampir mirip kyuhyun oppa deh..

  7. Eonni.. Itu abang donge kenapa??
    Mmmmmmmmm…… Jago deh yaa nii eonni bikin aku penasaran..

    Chap 10 juseyooooo eonni..🙂
    *ditabok diah eonni*

  8. Pasangan kerbau,wkakaka….

    Ada apa dengan Donghae ea,setelah mnerima telp. kok jadi aneh,g ada hal buruk yg terjadi kan????

  9. foto woobin TAMPAAANN❤
    jahhh.. kirain bener tujuannya ngikut ke milan ngejar si lee, taunya sekalian ada kerjaan -_- dan ALASAN MACAM APA PULA ITU HAH??? gara2 diancam mo bunuh diri??? BUNUH DIRI AJA SONO!!! grrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr… kucing dikasih ikan ya mau ajah terus!! kek gitu bilang cinta… apadahhhhh

    puahahaha… ternyata kemunculan si kumis aka suami pertama kita gara2 resep masakan mudahya?? cereal noh gampang juga tinggal tuang2…

    kemunculan si unyuk selalu selalu dan selalu ngocol!! cocok bener ama bininya *tersipu tersandungsandung nih si sumey kalo baca :p

    DAN WOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!! LEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!! AKU LANGSUNG HISTERIS BEGITU LIAT POTO JINHYUK❤❤ .<❤

    ehh itu si kim jisun siapa?? bukan sainganku dptin si jinhyuk pan yee?? grrrrrrrrr *asah taring sumey

    nahhh endingnya… aku curiga ada apa2 sama bokapnya hae nih.. pasti si woobin ngedendam pas di milan, balesnya lewat bapake si hae… LANJOOOOTTTT!!!

    • Hoakakakakakkkkkkk…. aduh Song, berasa baca Drabble baca komen panjangmu wkwkkwkw
      Gomawoooooo :* :*
      Iyaaa… emang Woobin tuh kek gitu yah *jambak Jinhyuk* #ehhh

      Nyiahahahah…. dasaaarrr!!! laki pertama dikata si Kumis >_<

      Hoakakakakkkkkk… yeyeyeye BERHASIL!!!! Gara2 inget komen2an kita dulu aku jadi punya inisiatif masangin kamu ama dia di sini kkkkk

      Nah, kenapa jadi ngasah taringnya si suMEY dah? :p

  10. Ya ampun saeng,,,akhirnya dilanjut juga😀
    nungguinnya sampe kutuan nih saking penasarnnya ma nih cerita,,wkwkwk

    sumpah demi kelicikannya plankton,,,oen ngakak pas si hae nelpon eunhee sama adegan si kunyuk bertamu ke rumah mereka,,,,lol

    kayanya cerita kamu yg ini lebih fresh ya banyak komedinya jadi bisa ngilangin stress,,,cape juga baca ff yg mewek mulu :*

    lanjutannya jangan lama lagi ya*kedipkedip* penasaran ada apa sih itu si hae koq panik banget:/

    • kkekekekkekkkkk…. Minta tolong Unyuk aja Eon nyari kutunya #ehh
      Alhamdulillah bisa menghibur hehe
      InsyaAllah klo gak sibuk yah Eon. Soalnya minggu depan musti jadi panitia nikahan hehe

  11. tarik nafas dulu… ikutan tegang pas akhirnya. itu ada apa Eomma Hae telpon? Appa hae kah yg ada masalah? pasti ada sangkut pautnya dg Woobin..
    Aku baru tau kalo Woobin itu kaya gitu.
    Ciiie Eunhee belajar masak dan masakan pertamanya dimakan si Hyuk XD… Wah ada Choi Jinhyuk. itu yg jadi kakak tiri Hae di P&H kan?
    Pasti ada sesuatu yg disembunyikan Hae-Jinhyuk.
    Ah… penasaran beneran.
    Next jangan lma-lama yah🙂
    Keren sumpah (y)

  12. Eonniiiiiiiiiiii……..
    Kau menyebalkan…..saking menyebalkannya aku sampe gemes baca ffmu…. Ayo dong Hee sadar ngapa sama perasaanmu ke Hae….

    Aku pake nik baru nih eon komennya…

  13. Hae…. bikin aku tergila2,,, jgn smp bikin aku berpaling dr couple mu c hyuk itu…
    Kereeeeen bgt karakter’y Hae d sini.
    Suka….suka….suka….
    Tp bagian akhir ada apa itu???? bikin tnda tnya besar,,, penasaraan…
    Next part d tunggu,, Semoga cepet ya Chingu~~~~^^

  14. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    *tabok donge bolak-balik

    WOOBIN GANTENG!!!!! *tapi masih gantengan Jong-jong*

    aku suka sama photonya woobin, kkeke si woobin modus banget itu ya pake sok2an bilang nyusul padahal cuma kebetulan gitu ketemuannya.😛 tapi dia ganteng asli

    Si donge kalo disini mah pinter.. ga ada dong2nya.. kekke suka dehhh mana perhatian pula sama Eunhee gillaaa mau banget punya suami macem donge… ah iya kek nya kau punya panggilan baru buat eon.. Siluman Kudanil hahhaha

    naahhh kaannn munculnya kok choi yang ini??? npe ga yang laen eon? si siwon ga laku dimari?? *plakkk
    ini kalo Lee ama Song ketemu trus perang2 unyu gitu seru keknya.. kekeke

    kalo si unyuk muncul terus ntar Eunhee cembokur lagi.. -_-

    ayook eon lanjuttttttttt

  15. Salah satu FF favoritkoe update^^
    Greget banget ma Donge’, napa ga jujur bilang suka ajj siCh. EunHee juga berlagak ga suka padahal demen tuh. Dan ada apa dengan eommanya Donge’, apa yang terjadi siCh? *kepo

    Ga sabar nunggu next chapter

  16. annyeong… reader lama yang baru ninggalin koment. *maaf* sebenernya aku orang yang ninggalin koment kalo ceritanya udah end, tapi… sekali lagi kau membuat ku penasran!!! jadi aku ga tahan lagi buat koment-.- well, aku suka sama ceritanya, penokohan karakternya, daebak^^
    so, untuk part selanjutnya jangan lama-lma yah^^

  17. di awaL sampe bingung krna tb2 hee udah disamperin ajah sama woobin..next part.. kasih preview sblmnya hee biar lgsg ngudeng akunyahh.. hehehe
    hmm… kayanya eunhee dan hae udah bisa berkomunikasi dg baik..meskipun blm bs hidup normaL kaya sepasang suami istri. tp stdknya udh bisa berteman. eunhae moment yg romantis blm ada di chapt ini ya saeng.. hufft pdhL ngarep bgt ada.. ya berarti eunhee blm ngerasain apa2 yah ke Hae.. ga ada skinship yg bisa bikin mereka dag dig dug serrrrr githuu.. *ada sih sbnrnya tp cm pegangan tangan ajahkan di kantor..*

    btw.. gomawo udah luangin waktu buat bikin lanjutan nih FF.. dan muasin readers setia kamyuuu.

    Next part.. semoga cpt dan bisa panjang kaya ni cahapter. ha~ha~ha

    pai~pai

  18. Ada apakah di rumah donghae??ini tbcnya pas banget, ada sesuatu kah?sampe ga ngajak eunhee?(︶︿︶)
    Udah ada rasa ini eunhee, cuma X_X mengakuinya.

  19. Klo hub donghae n eunhee lbh baik n sedikit humoris tiap hari bgs tuch bakalan bisa cpt saling jatuh cinta. Perasaan Eunhee ktmu woobin dh biasa aja so donghae punya peluang nieh. Jd pngn tau eunhee jatuh cinta sama donghae.,,penasaran nieh.
    Donghae knp ya stlh terima tlp dr eommanya? Lanjut ya

  20. Yaa,,
    donghae kenapa??
    Authornya bisa banget nih bikin aku penasaran..
    Daebakk
    next part ditunggu yaa

  21. WaHH….. Keren eonn!!

    Akhirnya keduanya udah mulai agak akuran dibandingkan sebelumnya..

    Wwahhh… rencana DOnghae hampir saja terkuak gara2 Woobin! Heuhhh…

    Next chapter ditunggu eonn.😀

  22. akhirnya setelah beberapa jam ngotak-ngatik blogmu eonn, aku sampai pada chap 9
    #legaaa, puassss

    i wanna comment now,

    kyaaaaaaaa~~~
    sukaaaakk banget dengan kekonyolan eunhee… apalagi pas ada hyukie yang tiba2 nyelonong entah dari mana…
    ngakak dikamar cem orgli..
    kudu tanggung ajab eonn..

    nah, eunhee ayolah buka hatimuuuuuuuu…
    dongek memang mencintaimu tauuuuuuuuuuuuu…

    nah loh??
    apa yang terjadi itu? kenapa dengan ngek? apa yang dibiarakan ditelpon..
    oh–demi kecintaanku terhadap lee donghae, jangan bilang itu ulah woobin lagi.

    eonn tag aku chap 10 lewat Fb nde, biar langsung mampir kesini..
    sumpah demi pohon jengkol, aku penasaran…
    udah segitu ajja…😀
    #nyengir

  23. Kuda nil nKah ma kRbau pa jDiX ya, wkwkwkwkwkwk:D

    EunHae couple emang sLalu bKin fress N daX Eunhyuk bKalan jDi hBuran tRsendiri ni, seneng2,.!!
    V Hae nPa tU, bKin pNasaran ja,.

    KHawatir bRarti dah da rSa kn,.!? Tinggal nUnggu momen RomanceX ni,.hehehe:)

  24. Waahhh keluar!! Hhahah aku liat ditulisan recent post ada yang beda, judulnya pake chapter jadi panjang. (Ini gak penting sumpah eon)

    Wah endingnya kenapa tuh? Tumben banget donghae gituin Eunhee, si woobin ada!! walaupun gak bikin kesel banget, biasa jiwa readers labil pinginnya konflik gitulahh hheee…

    Sebenernya kesel ya sarapan pertama malah di makan monyet, aku maunya dimakan donghae eon wkwkwk. Eunhee lama banget sih jatuh cinta banget banget ke Donghae, sabar ajalah sekarang juga udh mulai keliatan…
    Semangat eonn!!

  25. What happen? Something wrong? Halaaaah-_____- pada gede gengsi banget sih buat mengakui perasa masing2, itu sakit kan hati kan eunhee didiemin sama hae terus ditinggal pergi begitu aja o.O

  26. Annyeong haseyo
    akhirx…..
    Stlah mnnggu skian lma.,chapter ini ada jg..
    Aq fikir udh end,krna hmpir tiap hr mmpir ngk ada klnjtanx…

    Sumpah…..
    Crtx bkin deg deg kan.
    Semangat eonni.,.
    Lanjutkan smpai tntas

    jngan biarkan aq mati pnsaran dgn iblis tampanmu itu eonni…
    Hehehehe

  27. agak- agaknya… liat- liatnya.. ada bulir- bulir cinta (jeruk kali bulir- bulir) mulai tumbuh di hati Hee buat Hae nie..
    sorry sorry ya ssaeng, walaupun selalu ada sesuatu dibalik suatu tindakan (uhuk uhuk..menjurus ke WooBin..) aku nggak peduli alasan WooBin nyakitin Hee, soalnya Hee itu buat Hae (PLAKKK)
    ah iya… what happen with Hae hyung??? penasiruuunnnn.. (aku suka deh Hae yang berubah serius, cool gimana gitu..)
    ah iya, sepertinya cerita ini bakalan panjang ya ssaeng??
    ditunggu update-an selanjutnya yaw…
    COMMING SOON!!!!

  28. bisakah woobin dibuang aja ? . Donghae kenapa ? Eommanya ngomong apa ? Aduh penasarannnn *jambar rambut kyuhyun* . Kurang puas bacanya , next chapnya jgn lama2 yaa aku slalu menunggu🙂

  29. komen nya dr part 3-9 gabung aja ya *soal nya baca nya ngebut* hehehehe…

    Dari awal sampai part 9 belum ada popo nya tp udah ngegemesin, apalg wkt eunhee mabuk gemes bgt wkt hae mau nyium hee eh malah ga jadi *tendang pantat hae* nunggu bgt moment ciuman mrk wkwkwkwk

    Karakter hae yg so cool, nyebelin, usil bikin ngakak mulu *angkat 4jempol* apalg klo udah bikin hee kesel dan mangil hee kudanil *joha joha joha*

    Kaya.a hee mulai terbiasa dg kehadiran hae dan mulai tersentuh dg semua yg di lakukan hae, mudah2an hee cepat menyadari perasaan nya untuk hae

    Hadeuhhh… Akhir dari part 9 bikin penasaran bgt

    Ayo saeng lanjutan nya jangan lama2 ya *towel towel author*

  30. komen nya dr part 3-9 gabung aja ya *soal nya baca nya ngebut* hehehehe…

    Dari awal sampai part 9 belum ada popo nya tp udah ngegemesin, apalg wkt eunhee mabuk gemes bgt wkt hae mau nyium hee eh malah ga jadi *tendang pantat hae* nunggu bgt moment ciuman mrk wkwkwkwk

    Karakter hae yg so cool, nyebelin, usil bikin ngakak mulu *angkat 4jempol* apalg klo udah bikin hee kesel dan mangil hee kudanil *joha joha joha*

    Kaya.a hee mulai terbiasa dg kehadiran hae dan mulai tersentuh dg semua yg di lakukan hae, mudah2an hee cepat menyadari perasaan nya untuk hae

    Hadeuhhh… Akhir dari part 9 bikin penasaran bgt

    Ayo saeng lanjutan nya jangan lama2 ya *towel towel author*

    Oia woobin nya cakep juga
    Klo bos baru hee dia lawan main hae di miss panda…

  31. Subhanallah, banya pria-pria tampan yg bertebaran di part ini, uri nappeun woobinnie, the handsome monkey, smpai ahjussi kesayanganku, choi jinhyuk huaaaaaa >.<
    Kirain woobin bneran ke milan buat nyusul eunhee eh taunya-,- untung aja ada bang ikan yg dtag menyelamatkan kkeke xD
    Dsar hyuk, dtg gk dijemput plang gk diantar*?* main nyelonong msuk aja ckck xD
    Eunhee b'potensi jd istri yg baik hihihi
    My ahjussi baiknya dirimu :* :* keundae, kim jisun nuguya??
    Eonniii, d tnggu next partnya😀

  32. Eonnieeeeeeee….
    Jinhyuk knpa nda cerita smuax…Aish…
    Hee kan nda mungkin tnya klo tnya mlah curiga…

    Ehm taktikx beda tpis sma dunge wktu bkin hee marah trus dteng k ruanganx…Cckckck

    Itu telfon dri sapa…??
    Apa ad hubx sma woobin..??

    Hya hya pnsraaaaan

  33. Demi Tuhan eunhee,, sadarlah kalau kerbau (si donghae) benar2 mencintai kudanil (si eunhee)..
    Tapi kayaknya eunhee udah ada a little bit feeling to donghae,, am I right??hehehehehe..

    What what what?? Apa yg terjadi sama keluarga donghae?? Apa jgn2 ulah si kim woobin??

    Aaahh, penasaran..
    Ditunggu next part-nya🙂

  34. sumpah demi ketampanan kyuhyun…andai aq bsa, akn aq tnggelamkn EUNHAE kdlm sungai…
    bsa”x mrka g ad yg mw ju”r ttng prsa’an mreka!!!

    ckck

    ada apa donghae,,??smoga ja bkan ssuatu yg bruk..!
    jdi pnsaran d tnggu next part’x chingu!!🙂

  35. anyeong aku reader baru
    wah lucu bngd si enhyuk orang roti.nya buat donghae malah dimakan sama simonyet ,, hahahahh
    dan kudanil jadi panggilan sayang buat eunhae kalw kerbau buat si dong dong alias donghae😀
    penasaran bngd nh kenapa tiba2 donghae langsung pergi sebenar.nya apa yg terjadi ??jadi kepo bngd ,, aku tunggu ya eonni part selanjut.nya🙂

  36. fiuhhh…
    akhirnya publish juga…😀
    mianhe unnie, aku telat bacanya….
    udah seminggu yang lalu ya ini…
    oh men…..😀

    visualnya Kim Woobin aku familiar deh, dia pernah main di The stongest kpop survival kan ya??😀
    oh, unn…ada apa dengan telpon dari eommoniem, eo?
    jangan lama2 lanjutnya, segera aja, hehehee…

  37. Apa?? Kenapa?? Ada apa dengan Hae?? Apa yg di katakan eomma Hae nympe Hae kaya gitu?? Nan m0lla!! Pasangan kerbau ini *plakk*kekeke~# sdh menunjukan sling ketertarikan tp msh aja rumit gitu!!
    Wajib di tnggu next part’ny^^ fighting!!

  38. Ya Allah, demi apa ini??? kenapa part ini penuh dengan namja2 tampan??Lee Donghae, Lee Hyukjae, Choi Jinhyuk, dan si woobin tampan juga!! *labilmodeon
    kykny yg cocok dpt julukan si Iblis tampan itu woobin dehl
    KEPO to the max nih next partnya….
    can’t wait!!!!
    FIGHTING, Dear author!! ^_^

  39. Hak hak hak :v sedikit gemes tadi sama Hyuk kenapa makan seenaknya aja. Tapi kejadian setelahnya itu lucu. Kkkkk.

    Kudanil? Kau masih di sana?
    Aku bukan kudanil, kerbau!

    Hahaha, itu adegan paling so sweet di chapter ini, kekeke. Pasangan kerbau katanya? Ini mendadak kayak di kebun binatang o.O

    Gak bisa ngira-ngira gerangan apa yng bikin Hae beku gitu ._.

  40. ya ampun donghae bener-bener gila istri sendiri di bilang kuda nil, lalu dia apa, suami kudanil gitu ckckck…

    aku makin penasaran sama kelanjutannya,,,
    dari pada won bin capek-capek ngejar eunhee mending ngejar aku aja hehe

  41. Sempet? Iyah sempet seneng sih saat eunhee tau donghae sangat mencintainya.. Walaupun bukan dari mulut donghae langsung.. Hehe

    apa mungkin donghae buru2 keluar karna ada apa2 sm appa nya?? Gara2 woobin kah???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s