Just Get Married [Chap 7]

Chapter 7

 

Just Get Married 

 Kadangkala ia bisa bersikap baik hingga aku terlarut akan segala perhatiannya padaku. Namun tak jarang ia pun juga begitu kasar, membuatku kembali tersadar akan tempatku semula. Seperti dihadapkan pada dua sisi mata pisau yang berbeda. Aku bingung.

-Eunhee-

 

-Lee Eunhee, Danieli Hotel, Venice-

Aku tak bisa tidur. Jantungku terus berdentam kuat seperti baru saja mengkonsumsi kafein dalam jumlah besar. Kehadiran sosok lelaki besar dan hangat di sampingku inilah penyebabnya. Bagaimana aku bisa begini gelisah? Aku wanita yang sudah menikah. Sudah cukup dewasa untuk tak lagi takut menghadapi hal-hal semacam ini. Well, mungkin karena pada kenyataannya lelaki yang kini tidur di sisiku bukanlah orang yang kucintai. Atau… akulah yang terlalu berlebihan sehingga bertingkah seperti anak kecil?

Tak tahan terus didera rasa gelisah, aku bangkit dan menyandarkan diriku di pangkal ranjang. Melalui ekor mataku, aku bisa melihat Lee Donghae sedang tertidur pulas dengan tenangnya, tanpa peduli bagaimana perasaanku saat ini. Sial!

Apa yang harus kulakukan sekarang? Lari terbirit-birit dan memilih tidur di sofa? Tidak. Dengan begitu lelaki ini akan menang. Dan aku tak ingin hal itu terjadi.

Sekali lagi mataku melirik pada sosok lelaki di sampingku. Alunan napasnya teratur. Jelas sekali menunjukkan bahwa ia tengah pulas. Bagaimana bisa ia tidur bersama wanita yang baru saja dikenalnya? Well, aku memang istrinya. Tapi kami baru saling mengenal selama satu bulan. Dasar lelaki! Mungkin ini bukan pengalaman pertamanya. Makanya ia tampak begitu tenang.

“Jangan berpikir macam-macam. Tidurlah! Aku tak akan mengganggumu.”

Aku terkesiap. Suaranya yang agak serak terdengar dan sedikit teredam selimut tebal. Dia ternyata belum tidur. Sial!

“Kau… masih terjaga?” lambat-lambat aku bertanya.

Tempat tidur ini bergetar ketika ia membalik tubuhnya untuk menghadapku. “Aku terbangun karena kau menghidupkan lampu itu. Bisakah kau mematikannya?” katanya serak, terdengar sama sekali tidak rela tidurnya yang nyenyak terganggu.

Sembari mendengus keras kuulurkan tangan pada lampu duduk di nakas dan mematikannya. Apa dia bilang tadi? Tak akan menggangguku? Mengapa ini terdengar seperti ‘aku sama sekali tak menginginkanmu, jadi tenang sajalah’. Jadi benar yang dia inginkan hanya Lee Hyukjae seorang? Dasar pria aneh!

“Jangan marah,” kudengar ia berbicara lagi setelah berbalik memunggungiku. “Aku tak akan mengganggumu bukan karena tak ingin,” katanya seolah mengerti isi kepalaku. “Aku tak akan melakukan hubungan seks dengan seseorang yang sama sekali tak menginginkanku. Jadi berhenti berkhayal yang tidak-tidak, lalu tidurlah! Besok kita harus pergi dari kota ini.”

Untuk alasan yang tak ingin kupikirkan, kata-katanya itu membuatku sedikit tenang. Well, mungkin aku bisa memercayainya kali ini. Ia memang tak tampak seperti lelaki yang bisa melakukan kekerasan seksual terhadap wanita manapun. Tidak, setelah dua kali mendapat kesempatan, dan ia hanya mencium keningku. Bila ia memang ingin melakukannya, pasti sejak semalam ia sudah mendobrak pintu kamarku bukannya malah tidur, dan meringkuk kedinginan di sofa itu. Oh, Lee Eunhee… Apa  kau baru saja membelanya?

Tiba-tiba saja hatiku menghangat saat terbayang lagi bagaimana senyuman lelaki itu di akhir prosesi pernikahan kemarin. Aku sama sekali tak pernah menyangka, iblis tampan seperti dirinya mampu memberikan senyum semacam itu. Senyum yang dapat meluluhkan hati wanita manapun di dunia ini.

***

Aku mengerang pelan ketika merasakan sesuatu yang hangat, jatuh tepat di pinggangku. Rasanya masih sangat ngantuk. Bahkan untuk membuka mata saja sangat berat. Mataku mengerjap pelan. Satu kali, dua kali, tiga kali. Sepertinya aku masih belum sepenuhnya terjaga ketika mendapati seraut wajah malaikat terpampang di depan mataku. Ia begitu tampan, matanya yang dinaungi bulu mata lentik itu terpejam rapat, hidungnya mancung sempurna, dengan bibir tipis yang begitu memesona. Aku yakin, saat bibir itu melekuk membentuk senyuman, tak akan ada lagi wanita yang bisa menolak pesonanya. Aku bahkan ingin sekali bertanya, mengapa kulitnya bisa terlihat selembut itu? Aku yakin bayi pun akan cemburu pada pria ini.

Tunggu. Sepertinya aku mengenal aroma ini. Rum dan amber. Tapi aku lupa pernah merasakannya di mana. Desah napasnya yang hangat juga begitu terasa di kulitku, menimbulkan riak-riak menggelikan yang menjalar hampir ke sekujur tubuhku. Aku belum pernah merasakan mimpi yang senyata ini. Berada dalam pelukan hangat lelaki tampan memesona di sebuah tempat tidur indah.  Pasti aku sedang di surga dan ditemani…

“Morning!”

Aku terkesiap. Kontan membelalak lebar dan langsung terduduk. Lelaki itu… Astaga! Tidak.

“AAAAAAAAAAA… TOLOOONG—hmmmpphh lepaskan!” Aku meronta sebisaku dan langsung mendorong tubuh pria itu begitu bisa melepaskan diri. Ada penyusup di kamarku. Dia harus segera diusir dari sini!

“Hey, apa yang kau lakukan?”

Aku tersentak mundur yang menyebabkan peganganku pada gagang telpon terlepas. “Jangan bilang kau ingin melaporkan suamimu sendiri pada pihak keamanan.”

Suami? Aku terbelalak. Untuk sepersekian detik rasanya duniaku berputar dan aku hanya dapat memandangi sosok di hadapanku itu tanpa suara. Demi kebodohan Patrick Star. Dia Lee Donghae! Lelaki yang baru saja kunikahi dua hari yang lalu. Aku bisa merasakan panas membakar menjalari kedua pipiku. Bagaimana aku bisa lupa? Bukankah aku berada di hotel mewah ini pun untuk menjalani bulan madu dengannya?

“Kau tidak sedang menderita post sleep memory lost syndrome kan?”

Aku mendengar Lee Donghae bertanya lagi. Sial! Aku benar-benar malu. Rasanya ingin sekali membenamkan diri di Grand kanal Venice sekarang juga. Mungkin bagi Lee Donghae, aku ini tak lebih dari gadis ingusan menyusahkan. Setelah semalam memuntahinya karena mabuk laut, pagi ini aku malah meneriakinya penyusup. Bahkan akan melaporkannya ke pihak berwajib.

“Untung tak ada yang mendengar teriakanmu. Kalau tidak, aku yakin akan berakhir di kantor sherif hari ini,” katanya lagi dengan nada datar.

“Maaf.” Aku menunduk. Sama sekali tak sanggup menatapnya. Memalukan!

“Sudahlah. Sebaiknya kau segera bersiap. Kereta kita akan berangkat jam 10 pagi ini.”

“Itu semua salahmu!” Aku sendiri terkejut ketika tiba-tiba mulutku berkata begitu. Kulihat Lee Donghae mengurungkan niatnya masuk ke kamar mandi dan menatapku. Kau membuat masalah lagi, Hee! “Harusnya semalam kau menolak saat aku berbasa-basi memintamu tidur di sini,” tambahku cepat-cepat karena ia tak juga menjawab.

Untuk sesaat Lee Donghae membelalak, lalu perlahan ia berjalan mendekatiku dalam langkah-langkan santai. “Dan itu artinya, aku sekali lagi harus tidur di sofa dengan resiko kedinginan sepanjang malam?”

“Tapi…” Aku buru-buru menelan kembali bantahanku ketika merasakan tubuh Donghae sudah semakin dekat denganku. Aku mengutuki diri sendiri, kenapa selalu bereaksi seperti ini setiap kali berada begitu dekat dengan lelaki ini.

“Tapi apa?”

Aku menggeleng pelan, sambil terus mundur hingga kurasakan tak ada lagi celah buatku menjauh darinya. Aku bersandar takut pada dinding dingin di belakangku. “Pergilah! Kau harus mandi,” kataku tertahan sembari mendorong tubuhnya menjauh dengan meletakkan kedua tanganku di dadanya yang terasa keras dan bidang. Tapi yang kulakukan sama sekali tak berguna, karena lelaki itu tetap bergeming.

Aku benci setiap kali ia bersikap begini. Rasanya bulu kudukku meremang bila tatapannya mulai menelusuri tubuhku dengan seksama. Seolah-olah ia sedang menelanjangiku dari kepala sampai ujung kaki. Apalagi kini aku hanya mengenakan gaun tidur tipis dari bahan flanel selutut. Yeah, walau aku sadar Lee Donghae bukan Superman yang memiliki kekuatan super untuk melihat sesuatu dibalik benda lain.

“Lee Donghae!” sergahku pelan sembari memejamkan mata saat wajahnya kini tepat berada beberapa centi di depanku.

“Kau lupa kesepakatan kita?” Donghae berbicara, yang membuat sekujur tubuhku membeku karena desah napasnya yang berat membelai permukaan kulitku.

“Ke-kesepakatan apa?” tanyaku terbata. Sama sekali tak mau membuka mata walau sejenak pun.

“Kalau kau melanggar tugasmu sebagai istri…” Dia berkata lambat-lambat. “Kau akan mendapatkan sebuah hukuman.” Lee Donghae berhenti lagi dan menghembuskan napasnya keras-keras di tengkukku, hingga aku merinding merasakan sensasi aneh menjalari permukaan kulitku. “Hukuman itu berupa… satu ciuman dariku.”

“A-apa?” kontan aku terbelalak dan langsung menyesali keputusanku membuka mata karena kini jantungku berdebar kencang mendapati wajahnya sudah begitu dekat di depanku. Saking dekatnya hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan. Lelaki ini benar-benar tampan, matanya yang sehitam malam menatapku tajam seolah menembus setiap mili sel tubuhku. Menembus kedalaman hatiku. Jadi, dia benar-benar akan menjalankan niatnya untuk menciumku? Ternyata lelaki dimanapun sama saja!

Lagi. Kupejamkan mata karena tak sanggup melihat apa yang akan dilakukannya padaku.

“Dasar gadis kecil!” katanya geli dan aku terkesiap antara bingung dan lega merasakan tangannya mengacak-acak rambutku pelan. “Cepat berkemas. Aku mandi duluan.”

Rasanya seperti baru saja dibebaskan dari tali kuat yang mengekang jalan napasmu, aku menghela napas lega. Lee Donghae tak melakukan apapun. Ragu-ragu kubuka mata dan melihatnya telah berbalik pergi dan masuk ke kamar mandi. Sebuah perasaan asing menyusup ke hatiku. Jadi, semua itu hanya permainannya seperti biasa? Entah mengapa, kali ini aku benar-benar tak bisa marah padanya.

-Train-

Pipiku masih terasa panas bila mengingat apa yang terjadi pagi tadi. Bila saja aku bisa kabur ke Seoul saat itu juga, aku akan melakukannya. Rasanya sama sekali tak punya muka untuk terus berhadapan dengan Lee Donghae. Sialnya, ‘pernikahan’ku dengannya masih akan berlangsung dalam satu atau dua tahun ke depan.

“Kenapa tidak dimakan?”

Aku terkesiap dan buru-buru menyuap sesendok Bolognese yang tersaji di depanku. Makanan khas Italy dari daging dan saus itu seperti tersangkut di tenggorokan. Sulit sekali untuk menelan dalam kondisi diperhatikan seperti ini. Oh, Lee Donghae… berhentilah menatapku!

Kereta yang kami tumpangi tak seperti kereta umumnya di Asia. Kereta ini dilengkapi dengan sebuah meja kecil dengan dua kursi berhadapan, hingga lebih terlihat seperti restoran berjalan. Di sepanjang gerbong banyak yang sedang menikmati makan siangnya sambil mengobrol santai. Kurasa, perjalanan selama dua jam dari Venice ke Milan tak akan terlalu melelahkan, bila kondisinya begini.

Ya, Milan. Kota metropolitan dan pusat industri juga keuangan utama di Itali. Banyak sekali industri merk ternama yang ada di sana. Aku ingat dulu Woobin sempat berjanji akan membawaku berlibur ke kota ini. Oh, sial. Kenapa tiba-tiba topik tentang Woobin kembali mengisi kepalaku?

Aku sempat kaget saat pagi tadi tiba-tiba Lee Donghae memberiku tiket kereta menuju Milan. Semalam ia hanya bilang akan pergi dari Venice—walau sebenarnya aku masih ingin mengelilingi kota cantik itu bila saja aku bisa menahan mabuk lautku—dan sama sekali tak menyebut soal destinasi kami selanjutnya. Well, aku hanya berharap perjalanan kami kali ini lebih baik tanpa embel-embel mabuk lautku.

Berbeda dengan perjalanan di Venice kemarin, kali ini kami pergi menggunakan uang sendiri. Eommonim hanya memberi akomodasi ke Venice tanpa tahu aku sebenarnya tak bisa naik transportasi air. Saat itu aku ingin sekali mengatakannya, tapi entah mengapa mulutku seperti terkunci. Donghae pasti akan menertawaiku bila sampai aku mengatakan hal itu di depan kedua orang tuanya.

Pelajaran berharga yang kudapat dari hal ini adalah, janganlah sekali-kali kau menahan diri hanya karena gengsi. Bila sudah terlambat, akibatnya akan jauh lebih parah dari yang pernah kau bayangkan.

Aku terkesiap ketika menyadari ternyata Lee Donghae tak berhenti memerhatikanku sejak tadi. Matanya yang teduh terus menatapku seolah tak ingin sedikit pun melewatkan apa yang kulakukan. Sebenarnya apa yang dipikirkan pria itu? Apa ia masih akan membahas soal kejadian pagi tadi? Aku jadi merasa bersalah padanya. Pasti ia bertanya-tanya, wanita seperti apa yang kunikahi sekarang?

Aku berdeham pelan dan meneguk capuccino-ku yang sudah mulai dingin, untuk menutupi kegugupanku. “Ada yang salah dengan penampilanku?” tanyaku akhirnya sembari memperhatikan gaun sederhana berbahan katun yang dipadukan dengan mantel coklat muda dari wol murah kesayanganku.

Lee Donghae masih menatapku dengan pandangan menilai. “Ya, kurasa mulai sekarang kau harus merubah cara berpakaianmu.”

Aku terbelalak. Merasa tersinggung dengan apa yang dikatakannya. “Kurasa tak ada yang salah dengan cara berpakaianku. Kenapa harus dirubah?” protesku sengit.

Dia tertawa pelan, tanpa peduli bahwa kini aku sudah ingin meledak karena tersinggung. “Ingatlah, Hee. Kau sekarang menjadi istriku. Seorang istri dari pengusaha muda kaya dan sukses. Tentu saja orang akan bertanya-tanya bila melihatmu tetap mengenakan pakaian sederhana seperti itu.”

“Kau menghinaku?” Aku bisa merasakan nada suaraku meninggi.

“Oh, tenanglah!” tahannya santai dan aku benci itu. Dia seenaknya saja mengatakan bahwa gaya berpakaianku sangat sederhana hingga tidak pantas menjadi istrinya? Lantas mengapa ia menikahiku? Untuk mendapatkan modal usaha, Hee. Bagaimana kau bisa lupa?

Aku tersenyum sinis. Dalam hati bersyukur karena bila ia tak mengatakan semua itu, aku hampir saja terlena pada sikap baiknya selama ini. Ternyata ia masihlah iblis tampan seperti biasanya. “Lalu?”

“Makanya aku membawamu ke Milan, agar kau bisa berbelanja sepuasmu. Beli pakaian dan segala aksesoris mahal itu. Jangan mengkhawatirkan isi dompetku.”

Aku mendengus menyadari kebodohanku. Jadi itulah alasan sebenarnya membawaku ke Milan? Mungkin aku terlalu naif hingga nyaris saja menganggap lelaki ini baik. Tidak marah saat aku memuntahinya, memberiku banyak sekali perhatian saat aku benar-benar sudah tak berdaya dengan kondisi menyedihkan. Padahal ia sama sekali tak jauh berbeda dengan Kim Woobin.

Separuh perjalanan kulewatkan dengan memandang keluar jendela. Terlalu malas untuk sekedar mengajak bicara atau memulai topik apapun dengannya. Ia sudah menunjukkan siapa dia yang sebenarnya. Untuk apa aku peduli pada perasaannya?

-Four Season Hotel, Milan-

Keluar dari stasiun kereta, kami naik taksi dan berhenti di depan sebuah bangunan megah bergaya klasik dan Renaisence yang kental. Hotel ini cantik. Berada tepat di pusat kota Milan. Dari sebuah plakat besar yang tertempel di pintu masuk, aku tahu hotel bintang lima ini bernama Four Season Hotel.

Senyum ramah resepsionis cantik itu menyambut ketika aku dan Donghae sampai. “Buon Giorno!” sapanya ramah.

Buon Giorno,” Aku dan Donghae membalas. Aku ingat pernah bertanya pada Donghae bahwa Buon Giorno adalah sebuah sapaan dalam bahasa Italia. Sama artinya dengan Annyeong Haseyo dalam bahasa kami.

Can I help you, sir?”

“Semalam saya sudah melakukan reservasi online dan memesan sebuah kamar atas nama Lee Donghae.”

Kontan saja aku menoleh, walaupun ia berbicara dalam bahasa Inggris. Aku mengerti apa dikatannya pada resepsionis itu. “Kau… sudah memesan kamar?” tanyaku spontan.

Donghae menoleh padaku. “Ya.”

“Kenapa hanya satu? Harusnya dua kamar! Kau ingin tidur di sofa lagi?” protesku lalu hendak berbicara pada sang resepsionis untuk menambah satu kamar lagi.

Kulihat Lee Donghae menumpukan sikunya pada meja resepsionis dan menatapku dengan senyum puas tersungging di bibirnya. “Hotel ini mahal. Kalau kau memang ingin menyewa satu kamar lagi, silakan. Tapi pakai uangmu sendiri.”

Aku menelan ludah. “Tapi—“

“Sir, ini kunci kamar Anda!”

Aku mengerang dalam hati. Apa sebenarnya yang diinginkannya? Bukankah ia bisa menyewa kamar hotel yang murah saja asal kami bisa tidur terpisah? Aku juga ingat, saat di kereta tadi dia berkata tak usah mengkhawatirkan kondisi dompetnya untuk berbelanja di kota ini. Tapi bila menyangkut soal hotel, kenapa ia jadi begitu pelit?

“Aku lebih memilih mengeluarkan uang untuk biaya kamar hotel daripada berbelanja pakaian dan semua produk untuk meningkatkan penampilan,” protesku ketika kami sudah berada di dalam lift.

Lee Donghae terkekeh pelan. “Tapi bagiku, mengganti penampilanmu jauh lebih penting daripada membayar kamar hotel.”

Sial! Sayangnya aku tak memiliki cukup tabungan untuk membayarnya. Uang tabunganku terkuras habis semenjak memutuskan berhenti bekerja di perusahaan Woobin. Hanya tersisa sedikit saja dan itu sudah kuniatkan untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu pada Appa.

***

Seperti ingin memastikan bahwa ialah yang berkuasa di kamar hotel ini dan tak mau lagi dibiarkan tidur di sofa yang sempit, Lee Donghae dengan tenang merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size dengan model klasik yang cantik. Berbeda dengan kamar hotel kami saat di Venice dulu, kamar ini bernuansa lebih cerah dengan warna gading dan sedikit sentuhan coklat hangat. Di dekat balkon terdapat sebuah kaca berbentuk persegi enam dengan ukiran-ukiran cantik di pinggirnya.

Karena tak ada yang bisa kulakukan, sedangkan jam masih menunjukkan pukul 1 siang, aku duduk di sofa yang berada tepat di pinggir tempat tidur. Tanganku meraih remote TV dan menyalakannya.

“Aku mau tidur dulu. Bangunkan aku jam 4 sore nanti. Setelah itu kita akan jalan-jalan ke Duomo square sekaligus menghabiskan malam di sana.” Aku terkesiap ketika Lee Donghae berkata dengan suaranya yang terdengar sedikit serak.

Teringat bahwa aku masih kesal karena perbuatannya tadi, sengaja aku tak menggubrisnya dan berpura-pura memfokuskan diri menatap layar Televisi 31 inchi di hadapanku. Walau sebenarnya aku sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan orang-orang itu dalam bahasa Italy. Selang 30 menit kemudian, aku bisa merasakan kesunyian meliputi kamar ini saat kuputuskan mematikan Televisi.

Aku menoleh ragu. Tepat di sisi kanan tempat tidur, sosok iblis tampan itu terlelap. Napasnya teratur mengikuti irama tertentu. Aku menghela napas. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalaku menyadari suatu hal yang masih buram mengenai lelaki yang kini menjadi suamiku itu. Kami memang telah menikah. Tapi aku belum sepenuhnya mengenal lelaki ini. Terkadang sikapnya yang berubah-ubah membuatku bingung. Di suatu saat ia bisa bersikap begitu baik, tapi di saat lain ia mudah saja membuatku ingin menamparnya karena emosi.

Kadang kala aku merasa ada kilat aneh yang tesirat di binar matanya saat menatapku. Sungguh mati aku ingin tahu apa yang dipikirkannya. Jika saja manusia memiliki sedikit saja kekuatan vampir seperti yang diceritakan dalam novel Twilight karya Stephenie Meyer untuk dapat membaca isi kepala lawannya. Aku tak akan segan-segan menggunakan kekuatan itu untuk mengetahui isi kepala lelaki ini. Oh, kau mulai melantur, Hee!

Aku menoleh pada pintu kaca besar yang menghubungkan kamar dengan balkon. Tiba-tiba mendapat dorongan untuk melihat-lihat kondisi jalanan di luar hotel.

Matahari bersinar cukup terik, hingga aku harus memicingkan mata untuk menyesuaikan diri. Aku menumpukan sikuku pada tembok pembatas balkon dan menyapukan pandangan pada jalanan sekitar. Tak banyak orang yang berlalu-lalang. Well, ini masih siang. Tentunya wisatawan-wisatawan itu akan berpikir dua kali untuk menghabiskan waktunya di luar sana.

Seringaiku melebar ketika sebuah ide gila melintas di kepalaku. Lee Donghae sedang tidur, dan aku ingat ia memintaku membangunnya jam 4 sore nanti agar kita bisa berjalan-jalan ke tempat yang disebutnya Duomo Square. Kalaupun aku pergi sekarang, aku yakin dia tak akan menyadarinya. Dan itu lebih baik daripada harus memaksakan diri menghabiskan waktu bersama lelaki itu.

Pelan-pelan kusibak korden berwarna gading di belakangku. Mengamati dalam diam sosok lelaki yang kini masih asyik berkelana di alam mimpi. Aku sudah memutuskan. Ya, pasti akan lebih bebas tanpa kehadirannya di sisiku.

Dengan langkah-langkah pelan yang sekiranya tak akan menimbulkan suara, aku mulai bersiap-siap. Aku bersyukur karena belum mengganti pakaian bepergianku dengan baju santai, jadi aku tak perlu repot untuk berganti baju. Yang perlu kulakukan hanya mencuci muka agar terlihat lebih segar, menaburkan bedak tipis di wajah dan memoles bibirku dengan lipgloss berwarna pastel. Well, aku siap.

Langkahku terhenti sebentar di depan pintu ketika terlintas di pikiranku untuk menuliskan pesan agar Lee Donghae tidak bingung saat bangun nanti. Namun entah mengapa, sesuatu dalam diriku berkata untuk mengabaikannya saja. Toh, ia tak akan peduli aku pergi ke manapun. Aku dan dia memang terikat hubungan pernikahan, tapi ingatlah bahwa pernikahan itupun bukanlah pernikahan sungguhan.

Teriknya matahari Milan menyambutku ketika aku menjejakkan kaki keluar dari pintu depan hotel. Tak salah bila kuputuskan mengenakan topi lebar untuk melindungi diri dari resiko terpanggang sinar matahari. Kakiku melangkah riang di trotoar, entah mengapa aku merasa seperti bebas melakukan apapun setelah selama dua hari terakhir terkekang. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Tapi aku senang. Sungguh. Seperti sedang menikmati perjalanan sebagai seorang gadis lajang ke kota yang sangat menarik.

4

Kakiku berhenti melangkah ketika tiba di sebuah tempat yang mengingatkanku pada alun-alun Marcus di depan Piazza San Marco Venice. Seperti di Venice, tempat ini juga dipenuhi ratusan burung merpati yang beterbangan ke sana ke mari.

Merpati merupakan lambang kesetiaan.

Aku mengerang tertahan ketika tanpa sengaja pikiranku kembali melayang pada apa yang dikatakan Donghae saat itu. Tiba-tiba aku pun merasa sangat sepi. Seandainya saja aku tak pergi sendirian. Pasti akan lebih menyenangkan. Oh, sialan! Apa yang baru saja kupikirkan? Aku masih bisa menikmati waktu tanpa kehadirannya.

Kulangkahkan kakiku menuju sebuah monumen—yang aku tak tahu apa itu—berbentuk singa dengan beberapa orang prajurit di atasnya dan di paling puncak terdapat seorang prajurit berkuda yang gagah. Mungkin monumen ini dibangun untuk menggambarkan situasi peperangan di masa lalu. Entahlah, pelajaran sejarahku tak terlalu baik. Kulihat banyak sekali wisatawan yang berfoto di depan monumen itu. Seandainya—ah, ayolah. Lupakan Lee Donghae! Dia pasti masih lelap di alam mimpinya.

Setelah mengeluarkan desahan panjang, aku duduk di tangga batu di sisi kanan monumen itu lalu mengamati beberapa ekor merpati yang terbang ke sana ke mari di sekitarku. Benarkah merpati-merpati itu tak akan pernah berganti pasangan sampai mati?

Aku terkesiap ketika sebuah pesawat kertas melayang dan jatuh tepat di bahuku. Milik siapa ini? Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri tapi tak menemukan…

Scusami[1], Miss!”

Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku saat merasakan seseorang menarik-narik ujung gaunku. Oh, seorang gadis kecil berambut pirang dengan mata hijau yang menawan tengah menatapku. Apa yang dikatakannya tadi? Sial. Aku tak terlalu pandai bahasa Italy. Seandainya ada Donghae di sini.

Mio aereo[2].”

Aku mengernyit. Untuk beberapa saat hanya bisa menatap wajah polos itu tanpa suara. Tanpa sadar tanganku mengikuti arah telunjuknya yang sejak tadi menunjuk sesuatu ke arahku. Demi Patrick yang super tolol! Jadi anak ini pemilik pesawat kertas tadi.

Segera kuangsurkan pesawat itu padanya sembari bergumam. “Sorry.”

Gadis kecil itu tersenyum. “Grazie,” katanya lalu kembali berlari ke tengah lapangan. Mataku terus memandangi punggung kecilnya yang menjauh hingga ia berhenti dan bertemu seorang lelaki paruh baya yang rupanya sudah menunggu di ujung lorong sana. Pasti Ayahnya.

Melihat gadis itu kembali bermain, aku jadi merindukan masa kecilku dulu. Saat-saat indah bersama Appa di Daegu. Sayangnya semua itu tak akan terulang. Appa, Eomma, Eonnie. Mendadak aku merindukan mereka. Bagaimana kabar Appa sekarang? Apa ia baik-baik saja?

Aku menghela napas pelan dan melirik arloji yang melingkar di lenganku. Jam tiga sore. Sudah cukup lama aku berdiam diri di sini. Setengah enggan, aku beranjak dari tempat itu. Tiba-tiba merasa bingung harus pergi ke mana? Bagaimana bila di tengah jalan aku tersesat dan tak tahu harus pulang ke mana? Aku tak terlalu mengerti bahasa Italy. Bahasa Inggrisku pun masih kacau. Sial. Tapi aku terlalu gengsi untuk pulang ke hotel.

Sudahlah. Aku tak akan tersesat. Aku hanya akan berjalan-jalan di sekitar sini saja. Mataku langsung tertuju pada sebuah bangunan kuno yang tampak begitu cantik dengan tekstur-tekturnya yang unik. Aku tak tahu tempat apa itu, tapi bila melihat banyaknya orang yang berkunjung ke sana aku jadi tertarik untuk masuk.

Aku hanya bisa menganga takjub ketika masuk ke dalam gedung yang rupanya sebuah katedral tua bernama Piazza Duomo. Kalau aku tak salah tebak, katedral ini merupakan katedral tertua di Milan. Beberapa kursi kayu panjang berjejer rapi di sisi kanan dan kiri ruangan beratap tinggi itu. Di dindingnya terdapat banyak sekali lukisan yang menggambarkan tentang kehidupan penduduk Italy pada berabad-abad lalu. Jika saja aku belum menikah, mungkin dengan senang hati aku ingin melaksanakan pemberkatan penikahan di gereja ini. Ah, aku melantur lagi.

Setelah puas melihat-lihat di dalam katedral, aku memutuskan untuk keluar. Sekarang matahari sudah tak terlalu terik. Dan kalau dilihat-lihat, tempat ini pun menjadi semakin ramai. Ah, suasana yang nyaman begini membuat mood-ku menjadi lebih baik.

Selain katedral Piazza Duomo tadi, ada sebuah bangunan lain di tempat ini yang juga dipadati pengunjung. Mataku mengamati banyaknya orang yang keluar dari sana. Di beberapa jendelanya terpampang beberapa nama merk terkenal. Mungkinkah…

Aku mempercepat langkahku, hingga tanpa sadar menabrak seseorang yang sedang membawa beberapa tas belanjaan. “Ooops, sorry!” kataku sembari membungkuk.

Gadis itu memerhatikanku dari atas hingga bawah lalu mengambil beberapa tas belanjaannya yang tadi terjatuh. “Kau orang Korea?”

Aku terbelalak. Dari penampilannya—rambut sewarna madu yang mengikal di bagian punggung, mata hazel yang dinaungi bulu mata lentik dan tebal juga kulitnya yang agak gelap, tak seperti umumnya orang Asia—aku sama sekali tak mengira bahwa gadis ini akan berbicara dalam bahasaku. Tanpa sadar aku mengangguk.

Well, ternyata aku masih bisa mengenali orang-orang dari negeriku,” katanya sembari tersenyum ramah.

Dari negerinya? Jadi dia benar-benar orang Korea? Tapi kenapa sama sekali tak kelihatan? “Kau..”

“Ah, kau pasti tak percaya bahwa aku juga berasal dari sana,” katanya sembari tergelak. “Yeah, sebenarnya aku bukan asli Korea. Ibuku dari Kanada sedangkan Ayahku dari Seoul. Kebetulan kuliahku sedang libur, jadi aku menghabiskan waktuku untuk berbelanja di sini. Menyenangkan, kan?”

Aku hanya mengangguk takjub mendengarkan penjelasan gadis itu tentang pertanyaan yang belum sempat aku tanyakan. Jangan-jangan gadis ini keturunan Vampir hingga ia bisa dengan mudah membaca pikiranku.

“Kalau kau? Apa kau berlibur sendiri?”

Aku terdiam. Bingung harus menjawab apa. Tak mungkin aku mengatakan padanya bahwa aku ke mari untuk berbulan madu setelah menjalani perkawinan kontrak dengan lelaki yang baru sebulan kukenal. Dia pasti akan menganggapku sinting. Dan kurasa aku memang sinting karena melakukannya.

“Emm… yeah begitulah, aku juga sedang liburan,” balasku sambil lalu. Entah mengapa bertemu seseorang yang berasal dari negara yang sama denganku di negara lain, terasa seperti baru saja bertemu saudara jauh.

“Aku senang bisa bertemu orang yang berasal dari negara yang sama denganku.”

Lagi. Dia menyuarakan isi kepalaku. Jangan-jangan, dia benar-benar vampir yang menyamar di dunia manusia. Ah, tidak mungkin!

“Kenapa menatapku seperti itu?”

Aku menggeleng. “Tidak apa-apa,” sergahku cepat. Tidak mungkin dia vampir. Cerita itu kan hanya ada di novel dan film-film. Aku terlalu banyak berkhayal. Sudah jelas dia gadis biasa, sama sepertiku!

“Oh aku lupa, kenalkan. Namaku Marilyn.” Aku menatap uluran tangannya lalu beralih ke wajahnya yang kini tersenyum cerah.

Marilyn Lee

Marilyn Lee

“Eunhee.” Aku balas tersenyum. Gadis ini menyenangkan.

“Emm… maaf, aku harus segera pergi. Seseorang sedang menungguku,” katanya tiba-tiba setelah melirik sekilas ke arah arloji bermerk Gucci yang melingkar di lengannya. Tidak heran, kupikir gadis ini sudah biasa belanja barang-barang mahal.

“Baiklah. Semoga bisa bertemu lagi.”

“Yeah, selamat belanja juga. Ada banyak barang baru. Cepatlah, sebelum kehabisan!” katanya sembari mengedipkan sebelah matanya padaku.

Aku? Berbelanja di sini? Louis Vuitton, Prada, Gucci, Zara, Benetto, H&M… oh, tidak, tidak. Kalau dilihat dari etalase yang terpajang di beberapa gerai, aku merasa ciut. Hanya ada merk-merk ternama di sini. Tidak seperti di Myeong-dong.

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Eunhee!”

“Oh, ya, ya. Marilyn!” Aku membalas sembari melambaikan tangan.

Gadis kaya dengan segala kemudahannya. Aku menghela napas dan berbalik menatap lorong ramai yang dipinggirnya terdapat banyak sekali butik-butik ternama. Aku sebenarnya sempat takjub karena bangunan bergaya klasik ini sebenarnya adalah sebuah pusat bisnis dan pusat perbelanjaan ternama di Milan. Dari arsitektur uniknya, sungguh sangat kontras dengan benda-benda modern bermerk terkenal yang ditawarkan di masing-masing gerai. Well, melihat-lihat saja kurasa tidak salah. Anggap saja aku sedang melakukan window shopping—eh?

21

Aku terperanjat saat merasakan seseorang membalik tubuhku dan sedetik kemudian sesosok tubuh hangat mengunciku dalam pelukan yang begitu erat. Aku sesak. Tiba-tiba merasakan ketakutan yang luar biasa besar. Jangan bilang dia penjahat yang ingin menculikku. Aku berusaha meronta tapi semakin aku melakukannya, pelukan itu semakin mengetat di tubuhku.

“Lepaskan!” pekikku. Mencoba memukuli sosok kuat berotot yang seolah mencengkram tubuhku erat. “Hey, siapapun. Tolong aku!” Aku berusaha terus bicara tapi orang itu tak mau melepaskan pelukannya dariku. Hingga kurasakan mataku memanas, bersiap mengeluarkan tetesannya. Tidak. Aku tak boleh menangis. Seandainya saja aku tak memaksa pergi sendiri. Pasti hal seperti ini tak akan terjadi. “To—“

“Sialan!”

Aku terkesiap. Seperti baru saja ada yang menekan tombol pause, aku seketika terdiam. Berhenti berontak saat itu juga. Suara ini… aroma rum dan amber ini… otot-otot keras ini… desah napas ini… terasa begitu familiar. Lee Donghae. Tidak. Itu tidak mungkin. Ini pasti mimpi. Belum pernah ada yang memelukku seerat ini sebelumnya. Lengan kuat lelaki itu dengan mudah melingkari tubuhku. Menekan tubuhku ke tubuhnya yang hangat dan keras, hingga tak ada lagi jarak yang memisahkan kecuali pakaian yang kami gunakan saat ini. Tiba-tiba sesuatu yang hangat menjalari sudut hatiku. Apa yang dilakukannya? Kenapa ia memelukku? Apakah aku seberharga itu untuknya?

Aku bisa merasakan pelukannya di tubuhku semakin mengendur. Tapi dalam jarak sedekat ini aku bisa merasakan degup jantungnya yang menghentak-hentak cepat karena kini telingaku menempel tepat di dadanya yang bidang. Desah napasnya pun mulai memelan. Tiba-tiba saja kehangatan itu lenyap. Ia melepaskan pelukannya dari tubuhku dan berputar membelakangiku. Sementara aku, hanya bisa mematung dalam posisi yang sama. Masih tak mempercayai apa yang baru saja terjadi.

Semenjak menikah, ini pertama kalinya kami berpelukan. Dan aku tak tahu bahwa pelukannya terasa sehangat dan senyaman ini. Tiba-tiba ingatanku melayang pada saat-saat di kereta pagi tadi, kata-kata kasar yang terlontar dari bibirnya. Kata-kata yang sempat membuatku sakit hati karena tersinggung. Aku menggeleng pelan. Lagi-lagi ingatan lain muncul. Malam itu, saat aku memuntahinya. Mengeluarkan semua isi perutku di kemeja mahalnya. Oh, apa yang sedang kupikirkan?

“Gadis bodoh! Kalau kau sampai tersesat, aku akan dibunuh Ayah dan Ibumu!”

Kontan aku mendongak ketika mendengar Donghae bersuara. Ia bahkan tak membalik tubuhnya untuk sekedar menatapku. Untuk alasan yang tak ingin kupahami, nada marah dalam suaranya tak membuatku kesal. Ia justru terlihat seperti seseorang yang baru saja menyangkal kenyataan dengan mencoba berkata bahwa pelukan itu tak ada arti apa-apa. Hanya sebuah tindakan refleks karena ketakutan akan dibunuh orang tuaku. Apa itu masuk akal?

Mendadak rasa geli memuncak di dadaku saat menyadari penampilannya yang masih menggunakan baju dan celana tidur juga sandal hotel lembut berwarna gading. Ia bahkan tak sempat mengganti pakaiannya karena mengkhawatirkanku. Pantaskah aku marah padanya?

“Lee Donghae—ah, maaf. Hae,” ralatku buru-buru. Kulihat lelaki itu memutar tubuhnya. Aku mencoba membaca ekspresinya, tapi ia benar-benar pandai membuat ekspresi wajahnya terlihat datar.

“Jangan salah paham,” katanya serius.

Aku berusaha menahan tawa. Jadi ia berjalan dari hotel ke mari hanya dengan menggunakan pakaian itu? Oh, siapapun. Bantu aku untuk bertahan.

“Ayo, kita—“

“Pakaianmu,” kataku sembari menutup mulut agar tawaku tak terdengar.

Refleks pria itu menatap dirinya sendiri. Aku tahu ia terkejut, tapi entah mengapa dalam beberapa detik saja ia bisa mengendalikan diri dan berlagak seolah-olah tak ada yang terjadi.

“Kau terlihat seperti pasien yang baru kabur dari rumah sakit,” ejekku geli, kali ini aku membiarkan diriku tertawa terbahak-bahak.

Lee Donghae mendengus dan dengan gaya santai ia menyilangkan tangan di depan dada. “Memangnya kenapa dengan penampilanku?” tanyanya sok angkuh. “Asal kau tahu, apapun yang kupakai. Baju gembel pun. Akan tetap membuatku terlihat tampan.”

Aku terbelalak dan kontan tertawa keras. Tak peduli beberapa orang menatapku heran. Lelaki ini… sudah jelas ia terlihat aneh. Masih saja bisa berkata begitu? Gengsinya besar sekali? Well, setidaknya dia berhasil membuatku tersentuh atas perhatiannya.

“Maafkan aku,” kataku akhirnya setelah berhasil menghentikan tawa. Dalam hati berjanji tak akan lagi meninggalkannya seperti ini. “Tadi aku bosan, jadi kuputuskan untuk pergi sendiri.”

“Bukankah kau bisa menuliskan pesan?”

Aku menatapnya lurus-lurus. Benar-benar tak mengerti dengan jalan pikirnya. “Aku tak tahu kau akan sekhawatir—“

“Aku suamimu.” Relung hatiku menghangat. “Kalau terjadi sesuatu padamu—“

“Ayah dan Ibuku akan membunuhmu,” lanjutku dan aku lihat dia terdiam. Apapun yang kau jadikan alasan, setidaknya aku tahu kau peduli padaku, Lee Donghae!

“Oppa! Donghae Oppa?!”

Aku dan Donghae sama-sama menoleh. Gadis itu… Marilyn. Ya, dia Marilyn yang sempat berkenalan denganku tadi. Tapi mengapa…

“Marilyn?” Aku mendengar Donghae menyebutkan namanya.

“Oh My God, aku merindukanmu!”

Seperti dihempaskan ke dasar jurang terdalam dari tebing yang sangat tinggi, aku terkesiap kaget melihat Marilyn dan Donghae berpelukan. Mesra. Seperti sepasang kekasih yang baru saja bertemu setelah terpisah bertahun-tahun. Mereka bahkan saling mencium pipi.

“Aku hampir bosan menunggumu di kafe itu,” Samar-samar aku mendengar Marilyn bicara. Aku ingat, tadi gadis itu sempat mengatakan padaku bahwa ia sedang menunggu seseorang. Jadi, rencana Donghae mengajakku jalan-jalan sore ini adalah sekaligus untuk memperkenalkan gadis ini padaku? Untuk memperkenalkan gadis yang selama ini dicintainya padaku? Sial!

Aku tak tahu mengapa aku merasakan sesuatu yang menyakitkan di sudut hatiku. Beberapa menit lalu, dia membuatku melambung tinggi atas semua perhatiannya padaku. Tapi tak sampai setengah jam kemudian, aku sudah menjadi nasi dingin yang tak lagi nyaman untuk disantap.

Aku terlihat seperti gadis tolol yang berdiri di antara sepasang kekasih. Betapa menyedihkannya. Kugigit bibir bawahku kuat-kuat, merasakan pandanganku memburam dan mataku panas. Tidak mungkin aku cemburu padanya. Tidak. Aku bahkan tak mencintai Lee Donghae. Mengapa aku merasa sesakit ini?

“Hee.”

Aku buru-buru berbalik, tak ingin Lee Donghae menyadari apa yang kurasakan. Bodoh! Begitu mudahnya aku terbuai perhatiannya, padahal ia sama sekali tak pernah mengatakan apa-apa padaku.

“Aku lelah. Ingin pulang. Lanjutkan saja pertemuan kalian,” kataku lalu berlari kencang menembus kerumunan orang. Aku bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir di kedua pipiku. Air mataku. Menyedihkan!

TBC

Ket:

[1] Permisi

[2] Pesawatku

107 thoughts on “Just Get Married [Chap 7]

    • huaghh.. salut deh.. buat ngepost ini perjuangannya msti perang dulu sama modemnya… ✗ί✗ί✗ί ✗ί✗ί✗ί

      paling suka kalimat ini… : ‘ Jadi benar yang dia inginkan hanya Lee Hyukjae seorang?
      Dasar pria aneh! ‘

      timing muncul TBC nya.. tepat.. jd bkin + penasaran…

      keep writing eonnie.!! :* muuuªaªa©©hhh♡:*♡

  1. Part ini ga ada foto donghae atau eunhee ya?penuh penggambaran sendiri tentang mereka berdua.
    Marylin kayanya adik donghae ya? #ngawur
    Ciye udah cemburu buta ini mah

  2. huweee~ Kasihan sekali kau hee,abis di bawa terbang tinggi eh,lgsng dihempaskan bgtu dlm ke tanah .. sakit ga tuh?
    donghae,ape yg kamu blg ada benernya jga sih,kamu ttp charming kok {} ..
    klu mengkhwatirkan karna cinta blg ja,gausah takut2 & gengsi -,-
    eh,modemnya dah bener ye?

  3. akhirnya mrka ngungsi honeymoon ke milan kekeke😄.. marilyn lee itu siapanya donghae oppa ya? apa sepupunya? atau pcrnya eunhyuk oppa? #mengarang bebas😄
    ditunggu aja next partnya ya chingu ^^..

  4. sangat menenggangkan sekali….
    Oh hee,prcayalah hee.drimu hnxa slah faham…
    Hae,jlskan pd hee yg sbnarxa
    aq tk ingin trjdi kslah fahaman di antara mrka chingu….
    Laanjuutkan….🙂

  5. eunhee begitu cepat drimu jth kedlm pesona seorang lee donghae.tp tetap aja perempuan itu entah mengapa lain d mulut lain d hati.di mulut eunhee menolak tp d hati dia mau.

  6. aku datanggggggggggg..!!!!!!!!
    asiiikkkkkk menunggu kiriman bayaran d rekening inih..😀

    haduhhh cuyyy selalu siap2 menebar jempol aku klo kmu udah narasi buat menggambarkan perasaan ama tempat2 d ffmu..kebanyang dah surveinya..
    hahaahahahah
    beneran dapet aku feelnya..
    kek nguntit bulan madu kalian..
    ahahahahahaha

    ciyaaaaaaaaaaatttttttt..!!
    cemburu nih yeeee~~~
    hahahahahahahahahahahh
    #cium pipi ikan

    semangat cuyyyyyyyyy..!!!!!!!!!!
    :*

    ehh lupa tadi ada typo keknya..tp udh aku benerin sendiri d otakku..😛

    • wakakakkakakkkkk… berapa sih cuy tarifmu?? Hah?? *kibas duit*

      kekekekkkk… berharap bisa bulan madu ke eropa beneran dah klo gini yah #ngooookksss
      Issshhh… udahan cium2nya!!! >_<

      Typo???😮

  7. Baru tadi mau demo sama eonni JGM part 7 buruan di post,eh baru diomongin langsung muncul di TL JGM capther 7 langsung nga
    ciir ke blog^^
    Cie-Cie si Eunhee cemburu ni :p kirain tadi si Eunhee bakalan nyasar beneran gak taunya si donge nyusulin…
    Next ditunggu….

  8. akhirnya….
    apakah eunhee cemburu…..
    next jangan lama2….
    hehehehe
    tiap hari buka blog ini wat lihat apa udah ada lanjutan ff ini….

  9. Gotcha!! Marylin pasti saudara perempuannya hae!! Haha nahlohhh itu hee kenapa? Jealous? Wooow, jangan suka jual mahal maka nya hihihi hae gengsi nya gede ya b-) hmm~ #forzamilan *salah fokus* haha coba aja sih hee tau sebenernya kayak apa hae itu~

  10. Eonn..bisa bgt ya maenin alur’a..
    Baru ketawa” gara” adegan donghae keluar masih pake baju tidur,tiba” ikut kesel pas abang ikan maen peluk n cipika-cipiki j ama marilyn..
    Lanjutan’a d tunggu ya..
    Bacaan wajibku ini..^^

  11. hahaha.. si lee masih aja gak yakin ama selera seksualnya si hae *gulung2 bareng unyuk yg tertuduh :p

    dan penampilan perdana Marilyn!!! hoakakkkk… aku begitu baca emaknya dari kanada langsung kepikir kok ini jadi kek si G.Na musuhnya mey?? hoakakk.. kan dy dari campuran kanada tuh *peaceeee mey ^^v
    EMANG VAMPIRE dia leee!!! hahaaa #clashmodeon

    hae sweeeeeeeeeeeeeeetttt bangettttt❤
    segitu paniknya lee ilang sampe ngejar tanpa ganti baju lagi.

    EPIC ENDING!! hoakakkkkk cipikacipiki❤ hoakakakkkkkk… adohhhh….. sumeyyyy… awas si mar ih mar ngamuk ntar!! tp iya nih, jgn2 sepupuan ma donge yak??

    lanjuuuuttt

    • wkwkwkkwkwk… abisnya ada cewe cantek di sampingnya si Donge malah gak ngapa2in #ehhh

      Iyakah??? G-Na??? wkwkkwkwk… gak sengaja!!! beneran… ngasal aja itu tadi bikinnya wkwkwkkw
      CLAAAAAAAAAASSSSSHHHHHH!!!!! *malah nagih di sini* hahahahha

      ditunggu aja next chap :p

  12. Nemo, bilang khawatir ajj susah banget. Gengsi amat sih, bang?? Sapa tu Marylin? jadi penasaran deh jadinya.
    EunHee lari pulang, kira-kira Dong Hae bakal ngejar ga ya.

  13. Kyaaaaa… Karakter donghae nya keren banget. Banget. Banget…

    Speechless deh mau koment apa.
    Ditunggu next part nya deh…

  14. onnnnieee..
    langsung lompat kesini..hege

    huaa…
    hbis di ajak ke italy skrang jln2 ke milan…asek
    pnjelasannya keren onnie..

    eh itu Aille bukan¿ iy dh..hehe
    hayo ad yg cemburu…
    hee udh jatuh cinto tuh ma si ikan…

    lo tulisan g perlu dikomen khan…onnie udh keren abis…

  15. aiisssssshhhh.. baca ini mpe ketiduran..

    akhirnya rilis juga capt. 7
    *penantian yg panjang*

    wahhh… udah mulai da rasa nih hee..mpe nangis githu liat hae pelukan ma cewek lain.
    maryleen tu sapa yahh…???? mantan pacar si oppa kah!!

    “pakai baju apapun͵baju gembeL sekalipun aku akan ttp terlihat tampan“
    Ruarrrrr biasa PD‘y si donghae nihh…
    jd ngebayangin ekspresi donghae yg pas adegan gini..hehehe

    chapt 8… semoga cepetan ya say.. ga sabar pengen baca yg donghae poV… pengen tau gmn paniknya pas hee menghilang dari hoteL..mpe ga ganti baju tidur githu…

    Ny.Lee….. FIGHTING^^

  16. Huaah akhir nya nongol juga🙂 *jingkrak”
    sumpah greget bgt ama dongeh , segitu susah nya bwt dongeh bilang suka ? Gengsi nya udah tingkat akut haha
    nyewa hotel cuma 1 blang aja pengen tidur seranjang lg dasar , trik lama tuh😀
    ditunggu next part yang lebih menggemaskan lg eoni😉

  17. Annyeong ..’
    sebelumnya salam kenal yach buat author
    aq diya dedenya donghae oppa*maunya…^^
    aq seneng bnget ama EunHae couple,mereka cocok dan serasi dehh seandainya beneran aq meridhoi dunia akhirat untuk couple ini..heheheeee

    oh yaa,eunhee mulai mewek tuh liat donghae pelukan ma marlyn , hahaa
    chap selanjutnya jangan lama-lama yach thoor…^^

  18. hayooo kira2 cp z marilyn?????
    Tp low d liat dr marga mereka sama,jadi curiga p mereka bersodara???
    N adegan peluk2n td berhasil wat eunhee cemburu.
    Horeeeeeee*triak kegirangan sambil loncat2*

  19. SERU EUY AKHIRNYA bikin PENASARAAAAN SUMPAH !!!!
    LANJUTnya cepeeet ya ….
    sangat di tunggu next.chap nya !

  20. Eunhee cemburu nieh..hmm dh mulai menyukai donghae nieh. Tenang aja koq, donghae dh dluan mencintai eunhee. Part berikutnya bakalan seru nieh, pngn lihat sikap eunhee yg cemburu.lanjut ya

  21. Akhirnya,,,dilanjut lagi JGM nya🙂
    kerennnn,,,,,bulan madu keliling eropa nih kayanya si eunhae,xixixixi
    jgn lupa oleh”nya ya*plak*

    si hae knp ga mau ngaku aja sih klo dia suka sama hee???
    Padahal kan hee nya udah mulai tertarik sama hae,,,
    apa hubungan si hae ama marilyn???
    Tbc nya tepat bgt sih saeng,,,tepat di saat yg bikin penasaran ;(

    next part oen tunggu ne😀

  22. Huaaaaa marilyn siapanya hae ituuuu???
    Tambah seru, apalgi klo hee bkal jatuh cnta haeee huaaa gk sbar mnantikan hal itu kkeke
    Hee sllu aja berpikir negatif soal hae, si hae jg sih nunjukkin sikap kyk gtu gmna org gk jd aware klo gtu huffft
    Ditunggu next part eonni *seret woobin* hihihi😄

  23. huuaaaa…..neomu joha^^
    akhry pnantian ff ni g sia2,bgus bngt eon,,!!!!!
    q g abs pkir gmn dlm htinya hae yg beda buanget ma asliny,q ykin sbnry hae pst g bs tdur tuh,trs d kreta sbnry dy trpsona bngt tp kt2 yg dkluarkn mlh sblikny,.eoh ayolah hee,kpn kau mnydari arti ta2pan suamimu itu,,eeerrrrr >.<
    tp sprtny msh da hrapan,mg ja hae sdar akn kcmburuany hee,jd kn hae g prlu brskap jd iblis tmpan lg,:p
    *g rela hae jd iblis😀

  24. finally keluar jg nih JGMnya . Part yg bikin envy itu pas donghae meluk hee , sumpah gk ngebayangin wajah khawatirnya donghae bdw itu merilyn syp ? Adiknya kah ?
    Wah bener2 harus dinext nih thor biar gk tambah pnasaran keke

  25. Senyum2 gaje bca ini, ketawa2 jg membayangkan apa yg di lakukan Donghae dan Eunhee😀
    Siapakah Marilyn itu? Makin penasaran aja sma kelanjutannya.. ^^

  26. Aduhh udah publish? Telat banget bacanya..
    Akhirnya Eunhee cemburu jugaaa, bagus Hae tingkatin manas-manasih Eunhee. Penasaran gimana nanti mereka saling ungkapin perasaan. Gak tau kenapa baca FF ini rada2 flashback ke masa-masa awal pertama kali baca ff. Suka suasana sama ide cerita.

  27. Wiuhhh… ada orang lain nih…

    Siapa ya?? Semoga saja cuma sepupu…

    Heuhhh… Donghae oppa kapan ngungkapin isi hatinya yang sebenarnya?? Sebelum si Woobin mengganggu, ayoolah ungkapin dong!

    Part ini bikin aku kasihan banget ama Eunhee… tapi kapan ya dia sadar kalau sesungguhnya dia juga sudah jatuh hati pada Donghae? Heuhh…

    SUka banget pas scene, pagi2 Eunhee buka mata…😀 Bikin aku ngakak..😀

    Eonni, Fighting!

  28. Oh tidak!
    Gimana Eunhee nya?
    Oya, Donghae akting nya keren banget!
    Pantes juga jadi aktor hehe
    Padahalkan dia cinta banget sama Eunhee, tapi dia bisa ngendaliin perasaannya..
    Daebak!

  29. owaaa.. sebenernya bulan madu ini bisa jadi romantis banget,, kalo si Hae nggak maen- maen mulu sama perasaannya dan hee nggak berpikiran buruk terus soal Hae (tapi DongHae-nya juga sih!!!)
    ssaeng,, aku suka deg- deg-an deh kalo kamu nambahin tokoh baru… bikin aku stres sendiri nebak- nebak hehe

  30. marilyn.. eum pasti sepupunya ngek, ya kan eonn? atau adiknya? atau mantannya? atau apalah
    #apadaah

    kyaaaaaaaaaaa~~
    eunhee cemburukah??
    kelihatannya dia sudah mulai mencintai dongek kita..
    hohohohohoho

    #lanjooot

  31. dapat suami kaya donghae, aku mah rela… redho…!!
    gila aja romantis gitu dianggurin sama hee. Tuh, si Marilyn dateng baru galau… huuu…
    Tapi, lagi dan lagi spongebob gk luput ya?? he..he…
    not a big deal sih, cm jadi kesannya agak childish aja..|
    eniwei… aku suka bgt sama part ini. deskripsi detailnya tentang venice dan milan buat serasa ikut nongkrong disana jadinya.
    AYO YANG SEMANGAT YA, DEAR AUTHOR!!! Thanks juga udah memberi kami asupan ff yg sehat (?)
    ^_^

  32. lee eunhee udah mulai jath cinta ma donghae oppa,bacanya jd lega tp woobin msh jd secreat jgn sampai jd perusak kebhagiaan eunhae couple.

  33. aaahh donghae.. kenapa ga jujur aja kalo kamu khawatir sama eunhee..
    waahh.. eunhee udah mulai cemburu tuh.. makin seru aja nih..
    marilyn itu siapanya donghae??

  34. Janganlah sekali-kali kau menahan diri hanya karena gengsi. Janganlah sekali-kali kau menahan diri hanya karena gengsi. Janganlah sekali-kali kau menahan diri hanya karena gengsi. Aaaaa, itu jadi quotes favoritku sekarang, kkkkk. Bener juga, kadang gengsiku lebih tinggi daripada keinginanku, kkkkk. Sekarang gak mau gengsi pokoknya. Mau apalin kalimat itu terus. Tendang aja si gengsi ke Millan #gubrak.

    Aku suka semua ekspressi Donghae kalo lagi sama Hee, wkwk.

    Gak ada pemikiran dikitpun kalo Marylin pacar Hae, haha

  35. Huh..
    Apakah eunhee cemburu?? Kenapa?? Udh mulai suka sm donghae??
    Kira2 siapa yah marilyn??
    Saudara donghae, atw MANTAN donghae?? Oh nooo

  36. Hae knpa ga ju2r aj sich blg cnta k hee…
    Ribet bgt sich klian berdua…
    Marlyn psti pnya hub kluarga sma Hae ga mgkin org yg Hae ska dech kyak na…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s