Just Get Married [Chap 6]

Chapter 6

 

 Just Get Married

Haiiiiiiiiiiiiiiiii… JGM Chapter 6 akhirnya jadi juga. Mian klo part ini datar dan ceritanya makin aneh! (–“)
Hope you like it!

-Lee Donghae, Plane-

Lelah namun puas. Dua hal itulah yang mendominasi perasaanku saat ini. Lelah karena harus  melalui serangkaian acara pesta pernikahan bersama ratusan tamu yang hadir. Namun begitu puas karena akhirnya aku berhasil memiliki gadis itu seutuhnya. Tak kupungkiri, ancaman Woobin sehari sebelum pernikahanku berlangsung, membuatku sedikit ragu untuk melangkah. Sempat terpikirkan bagaimana Appa kalau sampai Woobin benar-benar menjalankan ancamannya. Namun pagi tadi, saat aku melihat Lee Eunhee dalam gaun pengantinnya yang cantik, berjalan didampingi Ayahnya ke arahku, membuat semua keraguan itu sirna seketika. Biarlah Woobin melakukan segala yang ia inginkan, asal aku bisa bersama Eunhee, segalanya akan kuhadapi.

Kini, aku dan Eunhee sedang dalam pesawat yang akan mengantar kami ke Venice Italia. Kota tempat bulan madu kami. Sebenarnya kalau boleh jujur, aku dan Eunhee tak pernah merencanakan untuk berbulan madu. Well, tentu saja karena Eunhee masih berpikir bahwa pernikahan ini hanyalah kesepakatan bisnis belaka. Eunhee sama sekali tak tahu bahwa aku diam-diam telah merobek kertas perjanjian yang pernah kita buat beberapa Minggu yang lalu di kantorku.

Oke, kembali pada rencana bulan madu. Aku dan Eunhee sama sekali tak menyangka bahwa Eomma dan Appa telah menyiapkan tiket perjalanan selama 2 Minggu ke Venice lengkap dengan akomodasinya. Rasanya aku ingin sekali berterima kasih pada Eomma saat itu juga. Tapi terpaksa kuurungkan karena ada Eunhee di sana. Yeah, aku harus tetap bertahan dengan sandiwaraku di depan gadis itu, hingga tiba saatnya nanti ia benar-benar menyerahkan diri seutuhnya padaku.

Mataku menelusuri lekuk garis wajah Eunhee yang manis. Entah sejak kapan menatapnya menjadi candu tersendiri untukku. Saat ini ia sedang terlelap di kursi pesawatnya. Ia pasti lelah setelah menjalani serangkaian prosesi pernikahan yang menjemukan itu. Mengingat prosesi tadi, jantungku rasanya kembali bergemuruh. Aku sama sekali tak menyangka bahwa prosesi itu akan terasa begitu sakral dan khidmat. Terlepas dari apa yang mendasari pernikahan ini, aku tetap menganggap pernikahan ini sah. Tuhan tahu aku mengucapkan janji itu dengan sepenuh hatiku.

“Saya Lee Donghae, bersumpah atas nama Tuhan dan semua saksi yang hadir di sini, akan menerima Lee Eunhee sebagai istri, sebagai Ibu dari calon anak-anakku dan akan mendampinginya di saat suka maupun duka, di saat siang maupun malam. Seumur hidup, hingga hayat memisahkan kita.”

 

Mengingat kembali janji yang kuucapkan tadi, juga saat mengenang lagi ekspresi penuh harap Ayah Eunhee saat menyerahkan tangan putrinya padaku di depan altar, membuatku sadar ada tanggung jawab besar yang sedang kuemban melalui pernikahan ini. Tanggung jawab yang bahkan lebih berat daripada tanggung jawab sebagai seorang direktur perusahaan manapun.

Secara resmi kini Eunhee menjadi tanggung jawabku. Kebahagiaannya, kesedihannya, kesehatannya dan segalanya. Aku tak akan mengabaikan itu. Sesuai janji yang kuucapkan di depan Tuhan dan semua orang yang ada di sana, sekuat tenaga aku akan menjaganya. Mengemban tugas berat sebagai suami seorang Lee Eunhee dengan baik.

Karena kini… dia milikku.

-Marcopolo Airport, Venice-

Pemandangan kanal yang luas menyambutku ketika pertama kali turun dari pesawat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 11 jam dari Incheon, akhirnya kami berdua sampai juga di kota seribu kanal ini. Oh, yeah berbeda dengan di tempat lain yang selalu dipenuhi taksi atau alat transportasi darat lainnya, kota ini serba air. Ada Gondola, speed boat, perahu dan juga bus air yang menunggu kami di tepi kanal. Menarik! Udaranya juga nyaman, hangat dan menyenangkan. Mungkin karena sekarang sedang musim semi, jadi udara di sini begitu bersahabat.

66918_564389793584744_1337707161_n

Sepertinya aku memang harus memberikan oleh-oleh untuk Eomma karena telah memilih kota ini sebagai tempat bulan maduku. Kalau begini, aku jadi merasa seperti Johny Depp dan Angelina Jolie di film The Tourist. Ah, Lee Donghae, kau mulai melantur!

Diam-diam aku melirik Eunhee yang kini juga tampak menikmati suasana nyaman Venice. Tanpa sadar aku ikut tersenyum ketika untuk pertama kalinya—setelah sekian lama—mendapati senyum tulus melekuk di bibirnya. Manis. Sudah kubilang, senyum gadis itu menular!

Aku sengaja berdeham untuk menarik perhatiannya. “Kau memang baru pertama kali ke mari. Tapi tolong, jaga sikapmu. Jangan tunjukkan bahwa—“

“Kau menghinaku?” Eunhee mendelik sewot, entah mengapa aku jadi merasa terhibur.

“Ayo, aku lelah. Kita harus segera sampai di hotel, ini sudah terlalu malam.”

Aku naik ke atas bus air yang telah menunggu di tepi sungai, tanpa menoleh pada Eunhee yang hingga kini kudengar terus menggerutu. Tidak. Belum saatnya kami naik gondola. Transportasi unik khas Venice yang dikenal cukup romantis. Aku akan menunggu dan membuat suasana seromantis mungkin untuk saat-saat itu.

Karena Eunhee tak segera menyusulku, aku menoleh lagi padanya yang kulihat masih berdiri di tepi sungai sementara sebagian besar penumpang bus air mulai menggerutu kesal. “Apa yang kau tunggu Nyonya Lee?”

Aku bisa melihat keterkejutan Eunhee dari beberapa kerutan yang timbul di keningnya ketika mendengarku berkata begitu. Berikutnya, aku lihat gadis itu berjalan dengan langkah diseret yang menandakan ketidakrelaannya lalu menempati kursi kosong di sebelahku.

“Kau membuat turis lain menunggu, Nyonya—“

“Berhenti menyebutku begitu, Lee Donghae-ssi,” sela Eunhee cepat. “Kita sedang berada bermil-mil jauhnya dari orang tuamu. Jadi kau tak perlu memperlakukanku sebagai istrimu!”

Sengaja kupasang tampang bodoh lalu mengangkat kedua bahuku tak peduli. “Well, memang saat ini mereka jauh. Tapi kita tak akan pernah jauh dari Tuhan.”

Aku bisa menangkap keterkejutan Eunhee, dan kalau aku tak salah lihat… ia tampak begitu pucat! Apakah kata-kataku barusan begitu kuat mengguncang hatinya? Kurasa aku mengatakannya dengan nada yang biasa-biasa saja.

“Eunhee-ssi, kau tidak apa-apa?”

Eunhee tak menjawab dan langsung membuang muka. Seolah-olah dengan menatapku saja ia akan menderita seumur hidupnya. Oh, bagaimana ini? Aku baru saja membuat jurang tak terlihat antara diriku dan dirinya tepat di malam pertama pernikahanku. Mungkin malam ini aku akan bernasib sama dengan Johny Depp yang harus menghabiskan malam menyedihkannya di sofa, hanya agar Angelina Jolie bisa tidur dengan nyaman di tempat tidur hotel yang empuk. Sial!

 

-Danieli Hotel, Venice-

Tepat seperti dugaanku, sesampainya kami di kamar hotel bernuansa merah maroon itu, Eunhee langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Entah ini kebetulan atau bukan, tapi sepertinya Eomma sengaja memilihkan hotel yang sama dengan yang ada di film The Tourist yang dibintangi Johny Depp dan Angelina Jolie. Sial!

Johny Depp, nasib kita benar-benar sama! Sama-sama menyedihkan!

Kulirik koperku yang masih tergeletak di pinggir ruangan tanpa mau menyentuhnya. Rasanya harapanku menguap begitu saja mengingat betapa menyedihkannya malam pengantinku ini. Melihat sebotol red wine yang tadi diberikan Room boy sebagai salah satu layanan kamar spesial bagi sepasang suami istri yang sedang berbulan madu, aku memutuskan untuk menuangnya ke dalam gelas tinggi yang juga sudah disiapkan. Jika saja Eunhee tak marah, mungkin kita bisa minum berdua sebelum tidur.

Angin malam yang berhembus sedikit kencang menyambutku tepat saat kubuka pintu kaca ganda balkon kamar hotelku. Pandanganku langsung tertuju pada jembatan Rialto yang berada tepat di depan hotel ini. Cantik. Salah satu jembatan tertua dari empat jembatan yang merentang di Grand Canal Venice itu berbentuk melengkung dan seluruhnya terbuat dari batu. Kalau tidak salah, dulu jembatan itu hanya berupa jembatan kayu, namun pada beberapa ratus tahun silam terjadi malapetaka yang menyebabkan hancurnya jembatan itu. Hingga kini dibangun jembatan batu yang kokoh untuk menggantikannya.

Ponte di Rialto, Rialto Bridge, Grand Canal, Venice, Veneto, Italy, Europe.

Di sekitar jembatan itu, kulihat ada banyak sekali toko pernak-pernik dan restoran. Pantas saja jembatan Rialto selalu menjadi tujuan wisata utama di Venice. Selain terlihat begitu cantik, di sekitarnya juga banyak tersedia tempat-tempat menarik. Besok, aku harus bisa mengajak Eunhee jalan-jalan ke tempat itu. Tidak salah Eomma memilihkan hotel ini untuk kami. Terlepas dari sikap dingin Eunhee, aku suka tempat ini.

Kusesap sedikit red wine di gelasku dan merasakan betapa nyamannya cairan merah itu ketika melewati tenggorokanku. Italia memang terkenal dengan wine-nya. Seandainya saja bisa mencicipinya bersama Eunhee.

Mengingat Eunhee. Refleks, kepalaku melirik ke belakang. Melalui pintu kaca aku bisa melihat pintu kamar berwarna gading itu masih tertutup rapat. Sepertinya Eunhee benar-benar berniat mengurung dirinya malam ini. Padahal tadi di akhir prosesi pernikahan aku sudah merasa yakin hubungan kami akan jauh lebih baik saat melihat tatapan matanya yang melembut. Well, ternyata aku yang telah merusaknya sendiri dengan keisenganku.

Apa yang dilakukannya di dalam? Sudah tidur kah atau masih bangun? Sebegitu takutnya kah ia padaku hingga perlu mengunci kamar begini?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkelebatan di otakku. Tanpa kusadari, kini aku sudah berada tepat di depan pintu. Bingung harus melakukan apa? Mengetuk dan menanyakan kondisinya? Atau, kudobrak saja pintu ini. Sial! Suami macam apa yang mendobrak pintu kamar istrinya?

Kutempelkan telingaku di depan pintu. Berusaha menajamkan pendengaranku, sambil menebak-nebak apa yang dilakukannya di dalam. Aku hanya ingin berjaga-jaga, kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan Eunhee.

Ah, aku terlalu banyak menonton film! Sudahlah Lee Donghae, pasti dia sudah tidur dalam kehangatan dan kelembutan selimutnya yang nyaman. Tanpa peduli suaminya tidur di sofa tanpa bantal dan satupun selimut.

Aku baru sadar, nasibku bahkan lebih buruk dari Johny Depp di film itu. Setidaknya, saat itu Angelina Jolie masih memberinya bantal dan selimut untuk tidur. Menyedihkan!

***

Terdengar bunyi gedebuk yang agak keras. Aku terbangun bukan karena suaranya, tapi rasa nyeri yang ditimbulkan akibat benturan tulang punggungku dengan lantai marmer di bawah. Sial. Aku jatuh karena seenaknya menggeliat di atas sofa sempit itu.

Mataku refleks terbuka dan aku bisa menangkap cahaya menyilaukan matahari yang menelusup masuk melalui jendela kaca balkon ruangan ini. Untuk sesaat aku bingung. Mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang membuatku sampai tidur di sofa begini. Apakah benturan di kepalaku dengan lantai membuatku menderita amnesia mendadak?

Ruangan ini… begitu cantik. Bernuansa maroon dengan banyak sekali barang antik di dalamnya. Di mana aku sebenarnya?

Tempat ini mengingatkan aku pada suatu kejadian di film yang pernah—Astaga! Kontan, aku duduk ketika mengingat kembali apa yang terjadi. Aku sedang di Venice dan menjalani bulan maduku yang kelabu bersama seorang istri yang bahkan tak memedulikanku.

Dengan malas, aku beranjak dari lantai. Dingin sekali bila berlama-lama tiduran di sana. Lebih baik aku segera mandi dan sarapan. Rasanya perutku sudah keroncongan sejak tadi.

Ketika sedang membuka koper untuk mengambil pakaian ganti, aku baru ingat. Kamar mandinya ada di dalam kamar. Lalu bagaimana aku bisa mandi kalau Eunhee belum juga mau membukakan pintu untukku?

Aku melirik pintu gading yang hingga kini masih tertutup itu dengan putus asa. Sampai kapan Eunhee akan berdiam diri seperti ini dan merusak liburan kita di Venice? Tak kusangka akan sesulit ini menghadapinya walau kini tali pernikahan telah mengikat kami.

Setelah cukup lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk mengetuk pintu itu. Kalau bukan aku yang memulai, kapan lagi kita bisa berbaikan. Cuaca hangat Venice sangat sayang bila dilewatkan hanya dengan tiduran di kamar tanpa melakukan apa-apa.

Perlahan-lahan aku melangkah ke depan pintu. Setelah menarik napas panjang, kuangkat tanganku untuk mengetuk. Sepersekian detik kemudian, aku tersentak mundur. Eunhee membuka pintu tepat sebelum punggung tanganku menyentuh badan pintu.

“Oh, aku baru saja akan membangunkanmu,” kataku berbasa-basi sambil berusaha keras menyembunyikan keterkejutanku. Sementara dirinya sama sekali tak bisa menyembunyikan kekagetannya.

“Hmm…” balas Eunhee rendah, terdengar malas menggubrisku dan malah berjalan pergi.

Aku mengekor di belakangnya dan duduk di sofa panjang tempat aku tidur semalam. Eunhee masih tak mengacuhkanku, ia diam seribu bahasa seolah-olah aku tak berada di sana.

“Ehm…” sengaja aku berdeham. “Maaf untuk sikapku semalam,” kataku ragu-ragu.

Eunhee bergeming. Namun kini ia mulai mengalihkan perhatiannya padaku.

“Ah, sejak mengenalmu, aku jadi sering minta maaf,” tambahku buru-buru ketika menangkap keterkejutan di wajah Eunhee. Entah aku salah menerka atau tidak, untuk sepersekian detik kemudian, kulihat sudut bibir Eunhee berkedut seolah menahan tawa.

“Sudahlah. Jangan dibahas lagi,” katanya ketus. Lalu mengalihkan perhatiannya lagi pada beberapa lukisan antik yang terpajang sebagai dekorasi kamar.

“Tidak usah dibicarakan lagi?” Aku sengaja meninggikan suaraku. “Aku hampir saja terkena flu karena harus tidur di luar semalaman dan leher juga punggungku jadi pegal-pegal karena tak bisa leluasa tidur di tempat sempit. Apa kau tak mempertimbangkan itu?” tanyaku tak terima.

Eunhee menatapku. Aku tahu, dari kedutan di bibirnya ia sedang menertawakanku di dalam hati. “Lalu?”

“Kita harus membuat kesepakatan,” kataku dengan ketegasan dibuat-buat. “Aku tak mau selamanya menderita—”

“Hanya satu atau dua tahun.” Eunhee menyela ucapanku. “Bukan selamanya,” ralatnya.

“Baiklah. Satu atau dua tahun,” Dan seterusnya, tambahku dalam hati. “Aku tak mau terus-terusan menderita seperti ini.”

Eunhee melirikku. “Kalau begitu, jangan berputar-putar. Katakan saja apa maumu?”

Aku berdeham lagi lalu melipat tangan di depan dada berlagak bossy. “Begini, karena sekarang kita sedang menjalankan kehidupan sebagai suami istri—”

“Hanya kesepakatan bersama,” sela Eunhee sekali lagi. Oh, betapa tak inginnya dia berhubungan denganku!

“Aku tahu. Tapi biar bagaimanapun kita akan bertemu setiap hari.” Aku tersenyum ketika kulihat betapa pucatnya wajah Eunhee saat ini.

“Lalu?”

“Aku tak menginginkan banyak.” Aku bersandar dengan nyaman di punggung kursi. Merasa memenangkan situasi. “Setidaknya, biarkan hubungan kita berjalan dengan baik. Sebagai teman mungkin. Dan biarpun kita menikah atas dasar perjanjian.” Yang sebenarnya sudah kurobek. “Kau tetap berstatus sebagai istriku. Kuharap kau bisa melaksanakan tugasmu sebagai ‘istri’ dengan baik.”

Kulihat Eunhee seketika berjengit dan menatapku kaget. Apa aku salah bicara? “Kau… Memintaku menjalankan tugas se-sebagai istri?”

Aku mengangkat bahu. “Ya, ada masalah?” tanyaku pura-pura tak peduli. “Kau jangan khawatir. Aku juga akan menjalankan tugasku sebagai su—”

“Berhubungan seks sama sekali tidak termasuk dalam perjanjian!”

Aku terkesiap ketika tiba-tiba Eunhee menyela dan berdiri dari sofa. Apa katanya tadi? Berhubungan seks?

Oh, demi indahnya kanal-kanal di Venice. Aku sama sekali tak bermaksud ke arah sana! Walau ingin, tapi aku sadar Eunhee tak akan begitu saja memberikannya. Tidak, sebelum ia benar-benar menyerahkan diri seutuhnya padaku.

“Apa kau pikir tugas seorang istri hanya melayani suaminya dalam hubungan seks?” tanyaku sembari terbahak. Melihat wajah Eunhee yang tiba-tiba merah padam membuatku semakin tak tahan untuk terus tertawa. Dia benar-benar polos atau hanya terlalu bodoh?

“Diamlah!” teriaknya kesal. “Lalu… Kalau bukan itu… A-apa yang kau inginkan?” tanyanya dengan nada suara yang lebih rendah dari sebelumnya.

Aku beranjak dari sofa dan berjalan mendekatinya. Tepat di depan wajahnya, aku berbisik hingga kurasakan tubuh gadis itu menegang dalam kebingungan. “Setidaknya, kau bisa melakukan pekerjaan rumah dan mengurusnya dengan benar.”

“Baiklah. Aku akan melakukannya,” kata Eunhee sembari membuang muka dan berjalan menjauhiku seolah-olah berdekatan denganku bisa membahayakan nyawanya. Padahal aku masih ingin sekali menatap wajah polosnya setelah bangun tidur dalam jarak begitu dekat. Menurutku, wajahnya masih tampak imut dan menggemaskan.

“Ah, satu lagi,” kataku sebelum Eunhee berjalan semakin jauh. “Mulai sekarang, kita harus membuang sapaan resmi saat menyebut nama masing-masing.”

Kulihat Eunhee berbalik. Dengan ekspresi kaku ia menatapku tanpa sepatah kata pun.

“Kurasa, aku bisa memanggilmu Hee dan kau bisa memanggilku Hae saja. Bagaimana?” usulku. “Agar terdengar lebih akrab.”

Eunhee masih bergeming.

“Atau… Kau mau memanggilku Yeobo? Seobangnim?” godaku dan kudengar Eunhee mendengus cukup keras.

“Baiklah…” Eunhee menghela napas. “Hae,” katanya lirih dan aku menyadari ia sangat terpaksa melakukannya.

Sebelum ia sempat membalik tubuhnya lagi, aku mendekatinya. “Deal?” Kuulurkan tangan seperti pertama kali kami membuat kesepakatan.

Deal.” Ragu-ragu, Eunhee membalas uluran tanganku.

“Kalau begitu, sekarang aku mau mandi. Tolong siapkan pakaianku, istri!” perintahku seenaknya.

“Apa?” Eunhee menjerit hendak protes tapi aku buru-buru meletakkan telunjukku beberapa milimeter di depan bibirnya.

“Kau lupa dengan kesepakatan kita?” tanyaku mengingatkan. “Tugas seorang istri termasuk menyiapkan keperluan suami. Kalau kau membantah, aku akan menghukummu dengan memberikan satu ciuman.”

Eunhee sekali lagi mendelik, tapi sepertinya ia segera menahan diri ketika akhirnya kulihat dia berlalu dan menghampiri koperku. Aku menyeringai geli.

Maaf, Hee… Aku harus melakukan ini agar hubungan kita bisa lebih dekat.

***

Aku merentangkan tanganku lebar-lebar tepat di depan hotel. Sesuai keinginanku, hari ini aku dan Eunhee akan jalan-jalan di beberapa objek wisata terkenal kota ini. Salah satunya adalah Piazza San Marco yang merupakan salah satu simbol kota Venice.

Senyumku mengembang mendapati Eunhee baru saja keluar dari pintu hotel. Hari ini ia tampak begitu cantik dalam balutan gaun hitam tanpa lengan bermotif gold di beberapa bagiannya. Yang membuatnya tampak semakin mencolok adalah topi lebar berwarna pink yang melengkapi penampilannya.

558325_387796534621588_999090007_a

“Apa pakaianku terlihat aneh?”

Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Sial. Sepertinya aku ketahuan terlalu lama memerhatikan gadis itu.

“Hmm…” Aku meletakkan salah satu tanganku di dagu. Berlagak berpikir. “Well, cukup baik. Tapi aku tak akan membuang waktu lagi untuk menunggumu berganti baju.”

Kulihat Eunhee memberengut dan memalingkan wajahnya dariku. Tentu saja aku bohong. Aku hanya ingin bercanda dengannya. Sudahlah.

Tanpa berkata apapun lagi, aku naik ke atas speed boat yang telah menunggu di pinggir kanal. Kulirik Eunhee, tapi gadis itu sama sekali tak bergeming di tempatnya berdiri. Apakah ia marah lagi? Sepertinya dia sedang sensitif akhir-akhir ini.

“Hee, ayo! Hari sudah semakin siang, kalau marahmu terlalu lama, antreannya akan semakin panjang.”

Dengan sangat terpaksa, akhirnya Eunhee naik juga ke atas speed boat. “Apakah tidak ada kendaraan lain selain ini?” tanyanya terlihat agak jengkel.

Aku mengernyit. Jadi ia marah karena aku mengajaknya naik speed boat? Ah, aku tak menyangka ia romantis juga. Pasti ia kecewa karena aku tak memilih gondola untuk membawa kami jalan-jalan.

Tenanglah, Hee. Nanti, saat menjelang senja. Naik gondola berdua akan terasa begitu romantis.

Aku tersenyum dalam hati. Sembari membayangkan betapa indahnya menikmati langit sore di atas gondola bersama seseorang yang kukasihi.

-Piazza San Marco, Venice-

Aku membantu Eunhee turun dari speed boat. Selama perjalanan sampai ke Piazza San Marco—yang sebenarnya tak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap—Eunhee diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kurasa ia masih marah karena gondola itu. Sudahlah, nanti sore akan menjadi kejutan paling istimewa untuknya.

Aku mengulurkan tangan padanya. “Mau menikmati tempat ini bersamaku?”

Eunhee melirikku sekilas lalu tanpa berkata apa-apa, ia berjalan mendahuluiku. Sial!

Ratusan burung merpati menyambutku dan Eunhee ketika kami tiba di lapangan luas Piazza San Marco. Tempat ini biasa disebut sebagai alun-alun Marcus oleh beberapa orang setempat. Ada banyak wisatawan di sini, sebagian sedang bersantai dan memberi makan burung Merpati, sebagian lagi terlihat mengantre untuk dapat masuk ke dalam bangunan tua yang megah itu.

“Cantik.”

Aku bisa mendengar Eunhee bergumam. Kulirik dia yang kini sepertinya tak bisa mengalihkan perhatian dari kemegahan Basillica San Marco yang merupakan perpaduan dari banyak sekali budaya di dunia. Bangunan itu tampak anggun dengan emas bergaya bizantium, menara bergaya gothic, tiang bergaya Romawi, dan kubah bergaya Islam.

8b66c3e0-e6f0-4193-9d93-b5784338d34c

“Kudengar, kalau kita naik ke menara itu. Kita bisa melihat kota Venice secara keseluruhan.”

Eunhee beralih menatapku dengan kekaguman yang sama sekali tak dibuat-buat. “Kau… pernah naik ke sana?”

Aku tergelak, lalu menggiringnya untuk ikut mengantre bersama para wisatawan lainnya. “Belum. Ini pertama kalinya aku ke mari.” Tapi aku sudah membaca banyak sekali artikel tentang tempat-tempat menarik di kota ini.

Kudengar Eunhee mendengus. “Tapi kemarin kau menghinaku saat pertama kali kita turun dari pesawat. Katamu aku kampungan karena aku baru pertama datang ke kota ini.”

Lagi-lagi aku tertawa, mengabaikan tatapan orang-orang padaku. “Aku hanya bercanda. Ayolah! Kau tahu, aku suka sekali bercanda.”

“Bercandamu sama sekali tidak lucu!”

Aku menggigit bibir bawahku menahan tawa. Bila orang-orang melihat, mereka pasti akan menganggapku gila karena tertawa sendirian sementara Eunhee sibuk mencebikkan bibir karena marah. “Sudahlah, jangan marah terus. Kalau kau terus-terusan begini, aku akan membatalkan rencana kita naik ke menara itu.”

Eunhee seketika terdiam. Dan selama satu jam setelahnya, gadis itu menjadi sangat penurut.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 01.15 siang ketika aku dan Eunhee turun dari menara. Memang benar apa yang dikatakan banyak orang. Dari puncak menara setinggi 100 meter itu, kami bisa melihat keseluruhan kota Venice yang indah. Kota itu berupa pulau-pulau kecil yang dikelilingi kanal. Sungguh cantik. Aku sampai ingin melompat untuk bisa berenang di kanal-kanal itu.

“Aku lapar,” Kudengar Eunhee bersuara, tanpa sadar senyumku mengembang mengingat betapa jujurnya ia.

“Ayo, kita makan di restoran yang ada di dekat jembatan Rialto.”

Kulihat Eunhee mengernyit, tapi tak membantah dan hanya mengikutiku.

Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit, kami berdua sampai di jembatan Rialto. Pada siang hari begini, jembatan ini tak terlalu ramai bila dibandingkan saat malam. Well, aku yakin. Pasti karena di saat malam, jembatan ini tampak begitu romantis.

“Inikah jembatan yang dikatakan sebagai jembatan tertua di Venice?” Eunhee bertanya sembari mengamati arsitektur bergaya Renaissance yang kental di jembatan ini.

“Entahlah, menurut yang kubaca, bukan yang tertua. Tapi termasuk salah satu yang tertua,” balasku kalem. “Ayo, kau bilang sudah lapar.”

Kuraih lengannya dan agak sedikit memaksa Eunhee berjalan cepat bersamaku. Perutku sudah berbunyi, kalau tak segera diisi, pasti sesaat lagi akan menjerit.

Restoran yang berada tepat di sisi kanan jembatan Rialto itu ramai. Aku dan Eunhee memilih sebuah meja yang berada di luar. Kurasa, makan sembari menikmati suasana jembatan akan terasa lebih menyenangkan.

Eunhee diam saja ketika aku memilih beberapa menu makan siang kami. Entah, mungkin ia tak mengerti makanan-makanan itu, atau memang sudah terlalu lapar untuk berpikir. Aku yang memang penggemar masakan dari seluruh penjuru dunia, memilih seporsi Antipasto sebagai makanan pembuka dan dua porsi makanan khas Venezia, Fegatto alla Veneziana untukku dan Eunhee.

Beberapa menit kemudian makanan-makanan itu datang. “Grazie!” kataku pada pelayan itu dan seperti baru disengat listrik, Eunhee menatapku kaget.

“Kau bisa bahasa Italy?”

Aku tertawa. “Hanya beberapa ungkapan saja. Sudahlah, ayo makan!” kataku tak sabar mencicipi Antipasto. Jenis makanan pembuka yang biasa disantap orang Italia pada siang hari. Bahan utamanya adalah ikan tuna, jamur yang diasinkan, pimiento, zaitun hitam, proscuitto dan ikan teri. Mungkin aku bisa mencoba resep ini di kafeku nanti.

Tak sampai setengah jam, makanan-makanan dalam piring itu habis. Begitu pula dengan Eunhee. Sepertinya aku tak salah memilih menu. “Kau suka hati?” kataku berbasa-basi sembari membersihkan sisa-sisa makanan di bibirku.

“Lumayan,” balas Eunhee sembari menyesap cappucinonya. “Setelah ini, kita akan ke mana?”

Aku merenung sebentar. “Bagaimana kalau menunggu sore di lapangan tadi. Kita bisa memberi makan burung merpati.”

“Baiklah. Kurasa itu bukan ide yang buruk.”

***

Burung-burung di lapangan itu begitu jinak. Mereka akan datang sendiri di saat kita menawarkan sepotong roti untuk dimakan. Awalnya kulihat Eunhee ketakutan saat seekor merpati mendarat tepat di lengannya hendak mematuk roti yang ia pegang. Tapi lama kelamaan, kulihat ia semakin lihai.

“Mereka lucu,” kata Eunhee riang, dan entah mengapa senyumnya membuat sesuatu di dalam diriku menghangat.

Seharian ini kami menghabiskan waktu berdua, menikmati suasana kota Venice dari puncak menara di Piazzo San Marco, makan siang di dekat jembatan Rialto, hingga bersantai di lapangan bersama ratusan burung merpati. Saat ini aku bisa merasakan sikap Eunhee padaku mulai melunak. Ia tak lagi cepat marah dan bisa lebih banyak bercerita tentang kehidupannya secara terbuka padaku.

Aku suka itu. Semoga saja setelah ini tak ada yang berubah.

“Kau tahu?” tanyaku lambat-lambat sembari melemparkan beberapa potong roti yang sudah kuremas-remas ke kumpulan burung itu. “Merpati merupakan lambang kesetiaan.”

Eunhee menoleh padaku. “Benarkah? Aku belum pernah mendengarnya,” katanya antusias.

Aku sekali lagi melempar remahan-remahan roti itu ke lapangan dan dalam waktu sekejap puluhan Merpati bergerombol mematukinya. “Ya, menurut yang kubaca. Merpati selalu setia pada pasangannya. Jika ia telah menentukan siapa pasangannya, ia tak akan mau berhubungan dengan merpati lain selain pasangannya. Meskipun pasangannya telah mati.”

Eunhee menatapku dengan pandangan takjub. Namun beberapa menit kemudian, ekspresinya berubah masam. “Tidak seperti Woobin,” katanya lirih setelah mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.

Aku mengernyit. Selama ini ia belum pernah menyebutkan nama Woobin secara langsung di hadapanku. Aku yakin, pasti kali ini pun ia mengucapkannya secara tak sadar. Entah mengapa, mengetahui ia masih saja mengingat lelaki itu, perasaanku menjadi tak nyaman. Benarkah apa yang dikatakan Woobin bahwa Eunhee memang masih menyimpan cinta untuknya? Benarkah masih ada Woobin di hati Eunhee? Memang mustahil bagi seseorang untuk melupakan kisah cinta yang telah dibina cukup lama. Tapi Woobin sudah mengkhianatinya, lelaki itu bahkan tak pantas untuk dipikirkan!

“Apa yang kau lakukan?”

Aku terkesiap. Sial. Saking marahnya, tanpa sadar aku meremas roti-roti di tanganku terlalu kuat, hingga tak layak lagi untuk dimakan merpati-merpati itu.

“Kau baik-baik saja?” Eunhee sekali lagi bertanya. Mungkin karena aku tak juga menjawab pertanyaan sebelumnya.

Aku melempar roti tadi ke tempat sampah. “Tidak apa-apa,” kataku lalu beranjak dari tangga batu yang kududuki. “Bagaimana kalau kita ke tempat lain saja?” Sekuat tenaga aku berusaha mengesampingkan kenyataan itu. Bila terus memikirkannya, hanya akan membuat mood-ku memburuk.

“Ke mana?” tanya Eunhee yang mengikutiku berdiri.

Sepertinya, melihat suasana hati Eunhee yang baik. Dan juga untuk merayakan peningkatan hubungan kami, ini saat yang tepat bagiku untuk menikmati malam romantis di atas gondola. Semoga semua itu bisa menghapus ingatan Eunhee akan Woobin!

“Kau akan tahu nanti,” kataku dengan senyum misterius. Dalam benakku sudah membayangkan suasana romantis seperti apa yang akan kami rasakan di atas gondola nanti. Ya, aku juga akan meminta si pendayung untuk menyanyikan beberapa lagu romantis untuk kami.

Seperti yang Eunhee lakukan sebelumnya, ia tak banyak protes dan hanya mengikutiku. Kami berdua berjalan ke pinggir kanal. Ketika kulihat sebuah gondola melintas, aku melambaikan tangan.

“Kita akan berkeliling Venice dengan gondola,” kataku pada Eunhee. Berusaha menyembunyikan nada riang dalam suaraku.

Aku tersenyum puas melihat betapa kagetnya Eunhee. Dia pasti tak menyangka aku akan mengabulkan keinginannya naik perahu tradisional Venice ini.

“Ayo, naik,” perintahku padanya saat aku sudah berada di atas gondola. “Jangan takut, aku akan membantumu. Ayo!” Kuulurkan tangan padanya yang tak juga menyambut uluran tanganku. “Jangan berlagak gengsi, pegang saja tanganku. Naik gondola akan berbeda dengan saat kau naik bus air atau speed boat,” tambahku lagi.

Eunhee masih tak bergeming di tempatnya. Ada apa dengannya? Apakah topik tentang Woobin masih mengganggu isi kepalanya?

“Hee, ayo!” paksaku tak sabar sembari melirik tak nyaman pada pendayung gondola yang berpakai khas lengkap dengan topi lebarnya. “Hee—“

Aku terkejut merasakan betapa dinginnya tangan Eunhee ketika menyentuh permukaan tanganku. Apa yang terjadi sebenarnya?

Kulirik Eunhee khawatir saat ia sudah duduk di atas gondola. Aku bisa melihat wajahnya memucat. Kedua tangan Eunhee begitu kuat menggenggam pinggiran gondola seperti takut akan jatuh.

Astaga! Dia tak sedang sakit kan? Atau jangan-jangan…

“Kau… mabuk laut?” Aku bertanya spontan ketika pemikiran itu melintas dalam benakku.

Perlahan aku bisa melihat kepala Eunhee mengangguk. Demi Tuhan! “Kenapa kau tak mengatakannya padaku?”

“Kau tak pernah bertanya,” balas Eunhee ketus.

Tiba-tiba semua sikap Eunhee menjadi jelas dalam benakku. Saat pertama datang ke Venice, di atas bus air wajah Eunhee juga pucat, begitu pula pagi tadi saat ia enggan naik ke atas speed boat dan aku memaksanya. Bodoh! Harusnya kau menyadarinya Lee Donghae. Suami macam apa yang tidak peka terhadap keadaan istrinya? Baru sehari saja bersama, kau sudah gagal menjaganya. Sial!

Refleks, kulingkarkan lenganku di pundaknya. Bisa kurasakan bahunya tegang dan bergetar halus. Aku harus segera menepi.

Cos’è successo, Mr.?” (Ada apa, Tuan?)

Aku menoleh pada tuan pendayung. “Can you speak english?” tanyaku bingung sekaligus panik. Aku memang bisa beberapa kata dalam bahasa Italia karena sempat mempelajarinya sebelum datang ke mari. Tapi bukan berarti aku bisa mengerti semuanya.

Lelaki itu mengangguk. “What happenned, Mr.?”

Sembari membelai punggung Eunhee untuk menenangkannya, aku menjawab. “Could you please bring us to Danieli Hotel. I think my wife is in a bad condition.”

Lelaki bertubuh sedikit gempal itu mengangguk paham. “Alright, hold a second,” katanya lalu mulai mendayung ke arah yang berbeda.

Aku mendesah lega ketika kami sampai di depan hotel sebelum Eunhee sempat memuntahkan isi perutnya. Sial. Harapanku untuk menghabiskan malam romantis di atas gondola sirna sudah. Kalau tahu Eunhee tak bisa naik transportasi air, aku akan meminta Eomma membatalkan perjalananku ke Venice. Sialnya, Eunhee tak mau jujur padaku.

“Kau masih bisa berdiri?” tanyaku sembari memapah Eunhee yang terlihat sangat lemas.

“Aku… mau muntah,” katanya serak.

Aku langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. “Tidak. Kau tak boleh muntah di sini,” kataku cepat. “Ayo, kuantar ke toilet!”

Kupapah ia cepat-cepat, dan—Oh… sial!

“Ma-maaf—hooeekks.”

Aku memejamkan mata. Sesuatu yang hangat dan basah mengaliri bagian depan pakaianku. Lagi-lagi dia memuntahkan isi perutnya di kemejaku!

-Danielli Hotel, Venice-

Aku meraba kening Eunhee. Syukurlah ia tidak demam. Setelah berganti pakaian, aku kembali ke kamar dan melihat kondisinya yang sampai sekarang masih terlihat lemah. Tadi setelah memuntahkan semua isi perutnya, aku dan seorang pelayan hotel membantu memapah Eunhee kembali ke kamar.

Eunhee sudah meminum segelas susu hangat untuk memulihkan kondisinya. Sepertinya besok kami harus keluar dari kota ini. Mustahil bagi Eunhee untuk terus bertahan, bila pergi ke manapun di Venice harus menggunakan transportasi air.

“Kau sudah baikan?” tanyaku khawatir sembari mengamati wajahnya yang tak lagi pucat seperti tadi. “Harusnya kau mengatakannya sejak awal bahwa kau tak bisa naik transportasi air.”

Kulihat Eunhee mengangguk lemah. “Maaf,” katanya entah untuk kesekian kali hingga aku bosan mendengarnya. “Aku tak bermaksud mengotori—“

“Kau harus mengganti biaya laundry-nya,” selaku cepat dan kulihat Eunhee melotot kesal.

Aku tertawa pelan. Kalau ia sudah bisa marah, itu artinya kondisinya sudah lebih baik.

Tanpa berniat meralat ucapanku, aku beranjak dari tempat tidur. “Istirahatlah, kalau perlu sesuatu kau bisa—“

“Kau akan tidur di sofa lagi?”

Aku refleks menghentikan langkah mendengar selaan Eunhee. Kuputar tubuhku perlahan untuk menatapnya. Kurasa, pendengaranku masih baik. Tapi aku belum terlalu yakin. “Apa katamu?” tanyaku sengaja.

Kulihat rona merah memekat di pipi Eunhee. “Aku bertanya, apa kau akan tidur di sofa lagi?” ulangnya dan aku tak bisa menahan senyum saat mendengarnya.

“Lalu… apa kau akan membiarkanku tidur di sini? Sekamar denganmu?”

Eunhee menunduk lalu berdeham singkat. “Kurasa… tempat tidur ini cukup lebar. Kau bisa tidur di sisi yang lain.”

Aku menyeringai lebar. Akhirnya, malam ini aku tak lagi harus tidur di sofa.

“Tapi hanya tidur. Tidak lebih,” tambah Eunhee cepat-cepat, ketika aku sudah melangkah kembali mendekatinya.

“Kau pikir aku akan melakukan apa?” Aku balas bertanya sembari mengitari tempat tidur berukuran king size itu dan merebahkan diri di sisi yang lain. Ah, betapa nyamannya setelah hampir satu hari tak bertemu dengan matras empuk seperti ini.

Aku tersentak ketika merasakan sesuatu yang empuk memukul-mukul sisi kanan tubuhku. “Eh, ada apa ini?”

“Hanya untuk berjaga-jaga,” balas Eunhee sembari menyusun beberapa bantal dan guling di tengah-tengah kami. Astaga! Apakah aku terlihat seperti binatang buas yang akan menerkamnya?

Sengaja kupamerkan seringaiku ketika menyadari betapa Eunhee menyesali penawarannya. Ia pasti sekali lagi membuat keputusan tanpa pikir panjang lebih dulu setelah didorong rasa bersalah terhadapku. “Apa kau pikir, bantal dan guling lembut ini bisa menghalangi macan yang sedang mengamuk?”

Kulihat Eunhee berjengit mundur mendengarku berkata begitu. “K-kau…”

“Kenapa? Kau takut?” tanyaku enteng. Seolah-olah, aku juga tak merasa canggung berada satu tempat tidur dengannya.

“Kau menakutiku!” bentaknya kesal.

Aku mengangkat bahu. “Siapa yang menakutimu? Aku hanya memberitahumu yang sebenarnya. Kupikir kau juga sadar, lelaki itu seperti apa.”

“Kalau begitu keluar! Tidur diluar!” teriaknya lalu melemparkan bantal ke wajahku. Aku menangkap bantal itu dengan mudah lalu meletakkan di atas bantalku yang lain.

Pura-pura tak peduli, aku justru merebahkan diri dan menaikkan selimut hingga sebatas leher. “Kau sudah memintaku tidur di sini. Tubuhku sudah lengket, tak bisa dilepaskan lagi. Selamat malam.”

“Yaaakk!”

“Ssshh… jangan berisik. Nanti orang-orang akan mengira aku memperkosa istriku sendiri,” kataku tanpa menoleh dan tanganku bergerak untuk mematikan lampu.

Diam-diam aku tersenyum, walau sejatinya hatiku juga resah. Tidur di sisi seseorang yang kau sukai tanpa menyentuhnya sedikit pun, sama halnya dengan seekor kucing yang dihadapkan langsung pada sepiring ikan. Akankah aku berhasil menghalau semua keinginan itu?

Lee Donghae, kau bermain-main dengan perasaanmu sendiri!

TBC

85 thoughts on “Just Get Married [Chap 6]

  1. malam pertama yg kelabu kasian si abang ikan haha , niatnya ngebayangin adegan romantis tp terhenti gr2 Hee mabok laut keke
    bdw itu yakin si donghae gk nyolek2 Hee ? Haha
    dilanjut next chapnya🙂

  2. Lee donghae, kau benar2 diluar dugaan -_-‘
    paling sneng emg klo tw isi htinya hae,beda buanget ama yg diomongin eon,jinjja…. >,<
    knpa kau sllu marah2 hee,kpn hae bs mluluhkan htimu??bnr2 g sbr deh liat hee jtuh kpelukan hae,sprtinya mnikah g mnjamin hbungan mreka jd lbh baek,,
    Hae, what a pity U are T.T*kekeke

  3. Ohh ya tuhaan~ hae itu ibarat ikan yang terperangkap dilumbung whiskas =)) ㅋㅋㅋ eunhee kok gitu ya? Sering teriak2 -__- dohh wanita bersuami juga :p hhihihi honeymoon… Semoga aja sih hae gak nyari “istri” sampingan ya buat manasin eunhee, eh tapi boleh juga deh biar cemburu gitcuuuu~

    -ka, JGM kok cepet sih? Yang lainnya ngadet- :p🙂 hehe

  4. Naik gondola Q jga pengen *g’ da yg tanya*
    tempat yg d pilih untuk bulan madu sangat romantis tp dg hee yg mabuk laut (?)
    Ksian hae, udah ngarep suasana romantis saat naik gondola d sore hari eehhh g’ tw nya malah kena muntahan eeeuuuhhh..
    Hae, ssekali jinak g’ ppa, biar hee g’ nganggap u serem..

  5. Poor donghae….
    Kapan berhenti pura2nya bang hae…??
    Part ini bikin brasa baca bku traveling….ahahah…
    The tourist abis….😀

  6. aaaaaaaaahhhhh..
    emang bener nih si donge.. kebanyakan main sama perasaannya sendiri. terlalu banyak bicara yg ga sesuai dg hatinya. ayo dong… ungkapin perasaanmu Hae..!!! jgn terlalu lama nanti si woobin keburu mengacau..
    si donghae rajin baca yahh…?? dr tadi yg diomongin berdasarkan apa yg dia baca.
    Hee.. knp ga biLang kalo mabuk Laut.. kan bikin si donge gondok krn udah ngayal melewati malam romantis dg naik gondola.
    *poor donge

    Ny.Lee tau gak aku nungguin chapter 6 dr kmrn2.. bolak balik nengok wp. tp ttp terimakasih atas kesediaan wKtumu mbuat FF ini*apaseh*

    Chapter 7 semoga ada peningkatan dlm hbngan mereka… bikin yg paling sweeeeeeettttt ya Hee..

    Fighting^^

  7. akhirnya mrk honeymoon romantis diitali, tp kasian bgt donghae oppa udah hrs tdr disofa pas mlm pertama eh dimuntahin jg sm eunhee😄.. kota venice yg romantis n rencana2 yg udah disusun hae oppa buyar smua gr2 eunhee mabuk laut xixixi😄.. msh ada kota2 lain diitali yg ga kalah romantis dr venice, ayo oppa kau pasti bs mmbwt eunhee ngelupain woobin.. hae oppa fighting ^_^)9.. (i love your new hair, back to the black..
    saranghe :-*)

  8. oyeyeyeye honeymoon di ITALY eunhee donghae❤❤❤
    tapii ituu kasian c hae baru hari pertama di suruh tidur di sofa kkkeke trus juga di muntahin eunhee gara" mabok transfortasi air *poorhae xD
    dan jengjengjeng akhirnya hae di ijinin tidur di kamar *prokprok tapi d ganjal bantal guling hihihihi eunhee antisipasi😀
    Italy memang negara yang romantis… ayooo hae hwaiting^^ luluhkan lah hati eunhee di Italy semangatt🙂

    and onnie, aku paling suka pas hae bilang "Karena kini… dia milikku" aaaaaa lee donghaee❤❤

    daebak eon ^^

  9. OMO!!! Honey Moon k.Venice??? OMO OMO OMO!!!! Bner” romantis t4.a^^ eomma hae oppa bsa jga milihin t4 yg romantis ne^^
    mlang bner y nasip hae oppa, bru smpk d.Venice dah tdur d.sofa ckckckkk #poor donghae
    mw bkin romantis dgn ngajak eunhee jln” kliling Venice ama gondola d.batalkn krna bru tw klo eunhee itu mabuk laut >< #poor donghae
    d.tunggu next part eonni-ya^^

  10. hahaha…poor donghae
    honeymoon yg gagal tdk sesuai hrpan kkk…
    scra tdk lsg hae sdh menunjukan rasa sayangnya dgn hee saat tau hee mabok laut walopun hrs kna muntahan hee tpi dgn bgt hbgn mereka bsa jdi lbh dekat.
    dtgu next chapnya …

  11. Hee #ikutan dongeh
    sensi bgt cih , udah tau ikan tampan mu itu suka nglawak kayak sule , so gk usah di ambil hati🙂
    yah acara romantis”an nya gk jdi deh . . Huft
    tapi gk papah tidur seranjang lebih dri romantis kok ^^
    #cuci otak
    heem tdi gk liat keluarga besar nya bikini battem di sebut” bwat sumpah haha

    ditunggu next part yg bikin penasaran nya :’)

  12. Ciee…. Hae bnr2 jatuh cinta am Eunhaee,, seru bgt pasangan ini… sll suka cerita apapun yg d bikin sm kamu chingu,, EunHae Couple jjang!!!

  13. Yak!! Si babo mah,lain dimulut lain dihati,,,,
    gimana mau akur klo si hae ngeledek mulu….
    Tapi udah ada kemajuan dikit nih dlm hubungan mereka,,,pengen cepet liat hee suka sama hae,abisnya gregetan sendiri klo liat mereka berdua,,,

    masih happy”an aja nih smpe part ini,,,blm ada konflik yg serius,,,ditunggu next part ya saeng😉

    • Namanya juga Babbo, Eon (–“)

      sabar Eon, biar makin gregetan dah hihiih *ketawa setan*
      Belom Eon, pendinginan dulu. Ntar klo udah pas waktunya baru kukeluarin semuanya :p

  14. miaaaaaaaaaaaannnnnnnnn lee baru nongol aku *bow
    lagi heboh sama khuntoria lagi soalnya aku.. kamu tau ndiri aku kalo lagi keobsesi susah kebagi perhatian ke lain2nya huhuhu~

    ahh~ ke venice… salah satu tujuan wisata yg kupengenin tu❤
    hahaa… dipanggil nyonya lee tp aslinya emang udah lee pan si lee hoakakakkkk

    kocak saltingnya donge.. tapi si eunhee nih gak bisa becanda banget yak.. gitu doang ngambek :p

    ikutan ngakak bareng donge pas eunhee salah paham soal tugas istri.. halahhh padahal iya jg tu si donge klo lee nya mau mah hooh jg itu maksudnya :p

    aku jg kek donge tu ngiranya kamu kesel g dibawa naik gondola, ehhh taunya mabok laut

    lanjott lanjooottt pengen liat woobin ngerusuh!!! fufufu~

    • halah… gak perlu minta maaf segala Song. Kek pembantu baru ajah *ngopy kata2 si CuMEY*
      Wah, yg balik lagi ke Khuntoria nih hahahahha

      Tapi kan bukan Nyonya Song dulunya, masih Nona hahaggsss
      Maklum, lagi dapet (?) dia. Dapet cintanya Dongek :p

      ah, si Song mah klo bagian yg ntu ajah hoakakakakkkkkkkk… ntar bakal dimasukin gak yah adegan kek begitunya? #ehhmm
      ditunggu saja aksi Woobin😀

  15. ahhhh…honeymoon ke vanice…hae tampan aigoooo hee cantik pake dress hitamnya…pengeeeeennn…#plak
    oh? hee gak bisa naik transportasi air? baiklah hae tumben km gak peka? kkkk
    aseeeekkkk bakalan ke kota manalagi yaaaa????? lanjuuutttt…

  16. ssaeng-i,, igeo jinja.. fiuhhh Hae oppa seneng amat sih kucing- kucing-an sama hee..
    taukah kamu,, aku haus kisah mesra mereka nie????? (alis naek turun..)
    kapan Hee luluh sama Hae? dan kapan si Woobin dibuang jauh- jauh???
    kyaaa.. next part,, ah aku sekalian tanya, ff imagine kamu yg It’s you masih lanjut kan? aku nunggu lo,, sama eunhae mommentnya juga kkkk
    mian- mian ya mintanya kebanyakan, aku tau kok nulis itu gak gampang.. (udah tau maksa!!! Reader sakit #)
    cium sayang.. eonni stress -.-

    • hihiihih… Mian Eon. Aku mau fokus dulu ke FF yg ini. Soalnya klo konsentrasinya kepecah malah ilang semua idenya kepencar-pencar. Gak mau kan klo dua2nya malah terancam gak lanjut? Jadi mumpung idenya lagi penuh ama JGM, yg laen mau kustop dulu sementara :p

  17. Annyeong eon, aku reader baru, aku udha baca semua. Commentnya di part 6 aja ya eonn🙂
    Ahhh so sweet banget sih donghae, penasaran sama apa yg bakal dilakuin woobin sama appanya hae, walaupun woobin tuh nyebelin tapi dia yg bikin hae sama hee keliatan greget, jadi buat woobin teruslah panas-panasih hae hahahahahah..
    Semangat!

  18. omegoooot kesian abang ikan!!!!

    malam pertama yang kelabu… mauahahahahaha
    sabar bang….

    toh malam kedua bisa tidur sekamar..
    cek ileeee…
    romantis euyy
    #gigitbantal

    ayolah hee, bersikaplah lebih manis pada dongek…

    #cao tu de next chap

  19. Hahahaha. . . . niatnya sih mau romantisan,, tpiii malahan di muntahin wkwkwkwk^^ aigo bg ikan selalu goda eunhee. . .sampe merona. . . lucu neh. . . .
    lanjut

  20. honeymoon yg sgt aneh tp lucu,eunhee mabuk laut nhp gak ksh antimo#korbaniklan

    donghae oppa belajar bermulut manis kenapa sieh biar romantis gtu,eunhee oennie alhmdllh kau udah mulai menerima ikan mokpoku#hahahaha

  21. iii..iiihhh.. kenapa mereka ga ngajak aku kesana.. huh!

    donghae udah menghayal bisa buat momen yg romantis sama eunhee.. ga taunya eunhee mabuk laut.. trus donghae dimuntahin sama eunhee.. kyaaaa!!
    tapi lumayan lah malemnya donghae bisa tidur dikamar.. walaupun ga ngapa-ngapain.. kkkkk…😄

  22. Haha, yang paling ngebatin Donghae banget, wkwk. Ini edisinya romantis gagal. Semua rencana Donghae rata* gagal semua, kekeke😀 kesiannya dirimu. Part yang ini rada gimana gitu. Kurang ngakak, hihi. Dikira ff ini bergenre komedi apa? #gubrak

  23. sweettt banget sih mereka :3 :3
    Minta maap sempet2nya eunhee mabuk laut wkwkwkkw :p muntahnya di kemeja nya hae lg -_-
    Sebenernya aku msh gak ngerti apa hubungannya woobin dengan semua ini .-.

  24. Donghae, donghae!!! Kenapa ga jujur ajh sih! Ke eunhee kalo kamu tuh suka sm eunhee! Apa takut eunhee marah kalo kamu suka sm eunhee??

  25. Ternyata aku yg salah knp coment’a g bisa k post
    mianhae
    hmmm
    semoga hubungan mereka akan lebih baik setelah melewati hari bersama n eunhee sadar kalo donghae itu cinta sama dia
    hmmm
    tp aku takut nanti woobin ngebocorin ttg dendam donghae,walaupun sebenarnya bkn cm dendam tp emang udah cinta sama istrinya

  26. aahhh Hae iseng bgt sich sam hee,jgan srng2 ngerjain hee dong bg klo mw hee ska sma ab…
    Jgan blg hee msaih ska sma woobin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s