Just Get Married [Chap 5]

Chapter 5

 

 Just Get Married

 Cuap-cuap: Haiiii, maaf sebelumnya. Kalau chapter ini tak memuaskan dan terlihat agak aneh. hehe

 

-Lee Eunhee, Taxi-

 

Menyebalkan! Selalu saja begini. Di saat aku sudah benar-benar marah hingga rasanya tak ingin lagi melihatnya, ia dengan seenaknya mengatakan bahwa semua yang diucapkannya tadi hanyalah sebuah candaan. Apa itu masuk akal? Dasar lelaki gila!

Oh, ayolah! Kucing yang sedang tidur saja tahu kalau apa yang dikatakannya telah membuat hatiku sakit. Aku yakin ia juga sadar bahwa topik tentang Woobin adalah topik yang sangat ingin kuhindari. Lalu dia, dengan seenaknya, malah membahasnya? Dan lagi… Apa? dia menyebutku Kudanil? Sial! Tak adakah hewan yang lebih bagus dari kudanil? Rasanya ingin sekali memelintir bibir tipisnya itu!

Sebegitu miripnya kah aku dengan kudanil?

“Oh, tidak, Nona. Bagaimana mungkin gadis secantik dirimu dibilang mirip kudanil?”

Aku terkesiap dan buru-buru menoleh. Kenapa tiba-tiba, supir taksi itu menjawab pertanyaan yang ada di otakku? Tidak mungkin jika dia seorang cenayang yang bisa membaca pikiran—Astaga! Jangan katakan bahwa aku tanpa sadar telah menyuarakan isi hatiku pada supir taksi ini. Memalukan!

“Siapa yang mengataimu begitu, Nona? Dia pasti buta!”

Oh, Ahjusshi! Jangan diteruskan lagi. Malu sekali rasanya.  Bagaimana bisa aku menanyakan hal itu padanya? Wajar jika ia menjawab, karena tak ada orang lain lagi di dalam taksi ini.

“Ya, dia memang buta,” balasku tanpa pikir panjang lebih dulu. Oh, aku pasti sudah gila! Kenapa harus membahas Lee Donghae dengan seorang supir taksi?

“Apakah kau sedang membicarakan lelaki yang tadi bersamamu, Nona?”

Supir itu lagi-lagi bertanya. Hah… Ini salahku. Dengan bodohnya malah menyuarakan isi hatiku. Sudah jelas paman itu tak tahu apa-apa tentang masalahku dengan Donghae. Sekarang, apa yang harus kukatakan? Haruskah aku sekalian saja mengatakan yang sejujurnya pada paman supir taksi ini? Siapa tahu paman ini punya solusi yang tepat untuk masalahku dengan Donghae. Ah, tidak, tidak, Lee Eunhee! Hentikan!

“Ah, maaf Nona. Tak seharusnya aku bertanya,” tambah paman itu buru-buru. Mungkin ia merasa bersalah saat melihat betapa tak sudinya aku membicarakan masalah ini dengan orang lain.

Aku menghela napas lega dan berusaha tersenyum. “Gwaenchana, Ahjusshi.”

Sial! Ini semua karena iblis tampan itu!

-Nowon, Seoul-

“Atas nama Tuhan, saya resmikan Anda berdua sebagai suami istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tak dapat dipisahkan manusia.” Jantungku berdentum keras mendengar suara Pendeta Jung yang diucapkan dengan begitu khidmat. Rasanya seperti baru saja melangkah ke sebuah perbatasan yang aku tak tahu akan membawaku ke mana. Menakutkan, sekaligus menantang. Aku tahu ini bukan pernikahan sungguhan, tapi entah mengapa aku merasakan sesuatu yang lain.

“Sekarang, mempelai pria dipersilakan mencium pengantin wanitanya.”

Jantungku seperti melesak turun ke dasar perutku. Saat ini bahkan lebih mendebarkan bila dibandingkan saat di kantornya dulu. Ketika ia akan menciumku sebagai syarat pernikahan ini. Aku menunduk dan tak berani menatapnya ketika ia menyibak penutup kepalaku.

Kurasakan wajah tampannya semakin dekat, dan desah hangat napasnya yang beraroma mint menggelitik syaraf kulitku. Seiring dengan itu, detakan jantungku kian keras dan menyakitkan. Aku bertanya-tanya, apakah ia akan benar-benar menciumku kali ini? Oh, Demi semua yang ada di Bikini Bottom, bantu aku menghadapinya!

Eh? Apa ini? Kenapa yang kurasakan justru sesuatu yang berbulu dan…

“Ayo cepat, banguuun Lee Eunhee! Sampai jam berapa kau akan tidur terus?”

Aku terkesiap dan sontak membuka mataku lebar-lebar. Pemandangan yang sangat familiar menyambutku. Sebuah kamar bernuansa putih dan hijau muda, dengan banyak sekali barang berserakan di mana-mana. Kamarku. Jadi, pernikahan itu hanya mimpi? Aku dan Lee Donghae, belum benar-benar menikah?

“Apa setiap hari kau selalu bangun jam segini? Bagaimana kata suamimu kelak?”

Sontak aku menoleh dan terkejut mendapati Hyorin kini sedang membersihkan beberapa majalah yang kubiarkan tergeletak sembarangan di sisi meja rias. Demi Tuhan, bagaimana aku bisa lupa? Semalam, aku berkunjung ke tempat Hyorin. Aku membutuhkan tempat untuk berbagi semua masalahku. Dan yeah, hanya Hyorin satu-satunya teman yang bisa kupercaya di kota ini.

Setelah menghabiskan malam di sebuah kedai Samgyeopsal bersamanya—aku tak mau lagi minum sendirian seperti malam itu—dan menceritakan apa yang telah menimpa hubunganku dengan Woobin juga kesepakatan gilaku dengan si Iblis tampan itu. Di luar dugaan, Hyorin yang biasanya akan mengomel panjang lebar setiap kali mendengar cerita tentang kecerobohanku, hanya ber-aah ooh panjang mendengar ceritaku. Aku menebak, sepertinya ia terlalu syok melihat betapa gilanya sikapku kali ini.

“Jangan ungkit masalah suami!” bentakku jengkel. Lalu beranjak dari tempat tidur.

“Dan kalimat itu diucapkan oleh seseorang yang akan segera menikah.”

Aku menghentikan langkah saat itu juga. Tiba-tiba merasa sangat bodoh dan entah apa itu namanya. “Hyo, ini bukan pernikahan sungguhan. Hanya sebuah kesepakatan bisnis!” sergahku, berusaha mengesampingkan segala ketakutan yang kualami dalam beberapa hari terakhir.

“Terserah kau sebut apa semua itu. Bagiku, kau akan menikah dan mengucapkan janjimu di depan Tuhan. Ingat itu, Hee!”

Aku mengeratkan peganganku pada gelas yang kupegang. Hyorin benar. Semalam ia memang tak berkomentar apa-apa, tapi apa yang dikatakannya hari ini membuatku merasa sebagai seseorang yang begitu berdosa karena telah berpikir dapat memanfaatkan sesuatu yang disebut pernikahan.

Mendadak, aku ingat lagi pada kata-kata pendeta dalam mimpiku.

Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tak dapat dipisahkan manusia.

Aku menghela napas berat sementara genggaman tanganku pada gelas semakin menguat. Haruskah kubatalkan semuanya sekarang juga? Aku takut. Sungguh. Tapi aku tak bisa menyakiti hati Appa dan Eomma bila mendengar pernikahan ini dibatalkan. Hal itu bahkan akan menimbulkan efek terburuk bila dibandingkan kejujuranku sejak awal.

Aku telah memilih berbohong. Bagaimana pun caranya, kebohongan ini harus terus dilanjutkan. Jika berhenti di sini, nyawa Appa yang akan menjadi taruhannya.

“Jangan pernah berpikir kau akan membatalkan semua ini.”

Ya Tuhan, Hyorin! Aku kaget setengah mati ketika kurasakan tangan Hyorin memukul pelan punggungku.

“Jika saja kau menceritakan hal ini sejak awal padaku, mungkin aku akan menahanmu melakukannya. Tapi sekarang, semuanya sudah terlambat. Jika kau mundur, akibatnya akan lebih buruk dari yang pernah kau bayangkan.”

Pemikiran Hyorin sama denganku. Jadi inikah sebabnya ia tak mengomeliku semalam?

“Aku lelah. Semalaman harus mengurus seorang gadis ceroboh yang berniat memperburuk hidupnya, dengan melakukan kecerobohan lain untuk menutupi kecerobohan sebelumnya.”

Aku mendengus antara geli dan jengkel. “Terima kasih untuk semuanya,” kataku tulus.

Kulihat Hyorin meraih tas selempang birunya dan menatapku serius. “Aku tak menerima ucapan terima kasih. Alamat dan nomer rekeningku tetap sama, jika kau berniat mengirimkan imbalan.”

“Yak!!!”

Hyorin tergelak. Lalu memutar tubuhnya dengan santai. “Sampaikan salamku pada iblis tampanmu itu, Hee,” katanya tanpa menoleh. “Dan oh, harusnya aku meminta Wookie cepat-cepat menikahiku, jadi sekarang kau tak lebih dulu menikah dibandingkan aku,” tambah Hyorin cepat-cepat, seraya membalik tubuhnya sedikit untuk kemudian memamerkan seringainya.

Sial. Masih pentingkah taruhan kita dulu? Aku ingat, dua tahun yang lalu kami pernah bertaruh tentang siapa yang lebih dulu menikah, akan ditraktir Bulgogi sebanyak yang ia mau.

“Kau harus mentraktirku, Hyo!”

“Hanya jika kau benar-benar menikah.”

Aku mendengar pintu depan tertutup. Dan kini, suasana kembali hening. Hah… dasar pelit. Saat aku menyangkal bahwa ini bukan pernikahan sungguhan, dia berkata bahwa apapun yang menjadi alasanku, ini tetap sebuah pernikahan yang dipersatukan Tuhan. Tapi di saat aku menuntut taruhan kita, ia malah bilang bukan benar-benar menikah?

Semoga Wookie segera sadar, siapa sebenarnya gadis itu!

-Buono Cafѐ-

Kuserahkan beberapa lembar won pada supir taksi lalu keluar. Untuk sejenak aku bingung dan hanya bisa menatap bangunan di hadapanku dalam diam. Aku bertanya-tanya, untuk apa sebenarnya repot-repot datang ke mari? Ada keperluan apa? Bukankah pria itu sama sekali tak memintaku datang?

Jika aku memutuskan untuk masuk, Lee Donghae pasti beranggapan bahwa aku telah merindukannya setelah beberapa hari ini kami tak bertemu. Sial!

Aku bodoh! Tapi kakiku tak bisa menolak keinginanku untuk tetap datang. Dan mulutku, seenaknya saja mengatakan pada supir taksi tadi untuk membawaku ke tempat ini. Lihat sekarang, aku seperti orang gila yang hanya bisa berdiri di depan kafe tanpa bisa melakukan apa-apa.

“Oh, Eunhee? Kenapa tidak masuk?”

Demi Tuhan! Suara ini.

Kontan aku menoleh cepat. Beberapa meter jauhnya dari tempatku berdiri, seorang wanita paruh baya yang masih tampak begitu cantik tersenyum padaku.

“Eommonim?”

Wanita itu menghampiriku, dan seperti biasa aku membungkuk memberi salam. “Kenapa tidak masuk saja? Pasti Donghae sudah menunggu di dalam.”

Aku bingung. Sebenarnya aku sudah mau pergi. Tapi kedatangan Eommonim benar-benar di luar dugaanku.

Aku menurut saja saat Eommonim mengajakku masuk. Sejak dikenalkan tiga minggu yang lalu, hubungan kami jadi semakin dekat. Tak jarang Eommonim—yang memang suka berbelanja barang-barang mewah di beberapa pusat perbelanjaan—mengajakku berbelanja bersamanya, hingga membelikanku beberapa barang-barang mewah seperti pakaian dan juga tas.

Beliau juga banyak bertanya tentang keluargaku, Eomma, Appa dan juga kakakku. Beruntung, ia bisa menerima kondisi keluargaku yang bukan berasal dari keluarga kaya seperti dirinya. Mungkin bagi Eommonim, kebahagiaan putranya adalah yang utama.

“… sering ke mari?”

“Eh?” Ya Tuhan! Apa yang kupikirkan sampai-sampai tak mendengar apa yang diceritakan Eommonim.

Aku merasakan tangan Eommonim menyentuh pundakku lembut. “Wajar bagi seorang calon pengantin untuk merasa resah menjelang perkawinannya. Dulu aku juga begitu.”

Sembari mengangguk pada beberapa pegawai kafe ini, aku mengikuti Eommonim melangkah.

“Ah, ye. Eommonim.” Aku berusaha tersenyum. “Tadi, Eommonim tanya apa?” Kusejajari langkahnya yang kini sudah naik ke anak tangga pertama, menuju kantor Donghae, setelah sebelumnya menanyakan kepada seorang pelayan bernama Jinyoo di mana keberadaan Donghae.

“Apa kau sering ke mari?”

“Kami bertemu di sini, Eommonim. Jadi aku pasti sering ke mari,” jawabku diplomatis.

Kudengar Eommonim tertawa renyah. “Benar. Maklumilah, aku sudah tua. Pasti pelupa.”

“Eommonim masih belum begitu tua,” bantahku dan bisa kutangkap pipi wanita itu bersemu merah.

Kami berdua sudah sampai di depan kantor Donghae. Perasaan gugup yang sebelumnya sempat sirna, kini kembali bermain-main di benakku. Donghae pasti kaget. Ia sama sekali tak tahu, aku akan datang ke mari. Terlebih lagi, bersama Eommonim!

Tanpa diketuk dulu, Eommonim membuka pintu coklat dari kayu ek itu. Oh, jika boleh aku menjerit. Aku pasti sudah berteriak kencang saat ini juga!

Di sana. Di sofa tamu berwarna coklat itu, Lee Donghae dan seorang pria—yang belakangan kuketahui bernama Lee Hyukjae—sedang dalam posisi yang mencurigakan.

“Ada apa ini?” Aku mendengar Eommonim bertanya.

“Eoh, Eomma!”

“Eommonim!”

Aku menutupi mulutku sendiri yang tanpa sadar telah terbuka. Kalau tak salah dengar, lelaki berwajah lucu itu menyebut Ibu Donghae dengan… Eommonim?

“Berhenti mengangguku, Hyuk!”

Kulihat Donghae menggeplak kepala lelaki itu dengan majalah yang ada di atas meja. Dan persis seperti dugaanku, Donghae terkejut melihatku.

“Eoh, sayang. Kau datang juga?”

Rasanya perutku mual hanya dengan mendengar caranya memanggilku. Jadi benar, tujuannya memperistriku adalah untuk menutupi hubungannya dengan lelaki ini? Demi Tuhan, lelaki macam apa yang akan kunikahi ini?

“Lee Donghae, bisa kau jelaskan apa yang terjadi?” Suara Eommonim terdengar marah. Pantas saja ia melakukan itu. Anak kesayangannya, ketahuan memiliki hubungan terlarang dengan sesama jenisnya.

Oh, betapa manisnya hidup! Sebulan yang lalu aku memergoki kekasihku sedang bercumbu dengan gadis lain di apartemennya. Dan kini, aku mendapati ‘calon suamiku’ tengah bercengkrama dengan pria lain di kantornya. Sial!

“Astaga, Eomma! Aku dan Hyukkie hanya bersahabat. Kami sedang berebut ponsel. Hyuk iseng membaca semua pesanku di sana, dan aku—“

“Sebuah alasan yang bagus,” sela Eommonim cepat.

“Eomma. Bukankah sudah biasa bagi para lelaki untuk bertengkar, seperti aku dan Hyeong..” Aku mengernyit bingung, mendapati wajah Eommonim jadi sepucat mayat ketika mendengar Donghae berkata begitu. Hyeong siapa? Apakah Donghae memiliki seorang kakak? Terlalu banyak misteri dalam kehidupan lelaki itu yang tak kuketahui. “Bisakah Eomma tak membicarakan masalah ini sekarang? Eomma akan menyakiti perasaan Eunhee,” tiba-tiba saja Donghae mengganti topik pembicaraan.

Seperti baru menyadari kehadiranku di sini, Eommonim, Donghae dan juga Hyukjae menatapku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku marah pada Donghae? Kabur dari tempat ini layaknya seorang kekasih yang sedang cemburu pada kekasihnya?

“Sayang, kau tahu kan hubunganku dengan Hyukjae bagaimana?” Donghae berjalan menghampiriku dan dengan seenaknya merangkulkan lengannya di pundakku.

Jika saja tak ada Eommonim di sini, aku pasti sudah menendangnya!

“Tolong jelaskan pada Eomma yang sepertinya mencurigaiku berhubungan dengan Hyukkie!”

Aku menahan diri untuk tak menginjak kakinya. Padahal dalam pikiranku, aku sudah membayangkan ia mengaduh kesakitan setelah kuinjak kakinya dengan heels kesayanganku. Baiklah, anggap ini sebagai kesepakatan yang lain. Aku akan membantumu kali ini, Lee Donghae!

“Ne, Eommonim. Mereka hanya bersahabat. Aku sudah biasa melihatnya begitu.” Bohong tentu saja. Tapi aku bisa apa? Seperti kata Hyorin tadi, pernikahan ini tak boleh dibatalkan!

Kulihat Eommonim menghela napasnya lega. “Jangan merusak kepercayaan Eomma lagi, Hae. Kalau sampai Eomma mendengar ada konspirasi di antara kalian bertiga. Kalian akan tahu akibatnya.”

Sial. Aku kena juga!

“Eomma, mau ke mana? Kau baru saja datang. Kenapa sudah mau pergi? Tak ingin mencicipi sepiring waffle dulu?”

“Selera makanku mendadak hilang.”

Sayup-sayup kudengar suara Eommonim sebelum pintu tertutup dengan bunyi berdebam keras.

“Aiiisshh… itu semua gara-gara kau, Hyuk!”

Aku terkejut dan untuk sesaat hanya bisa terheran-heran ketika Donghae tiba-tiba berteriak, sementara temannya itu hanya terkekeh-kekeh pelan mendengarnya. Dari ekspresi keras di wajah Donghae, entah mengapa aku ragu dia memang seorang gay. Tapi apa yang telah kulihat tadi… sial!

“Jangan marah, Hae. Bukankah kekasihmu yang cantik itu sudah membantu?”

Kukatupkan bibir rapat-rapat saat lelaki pemilik senyum lebar itu menatapku. “Eunhee-ssi, terima kasih banyak. Aku tak tahu kau akan mau berbohong untukku.” Aku merasa salah tingkah ketika Donghae menatapku.

“Tidak usah berterima kasih, anggap saja sebagai salah satu kesepakatan kita,” sergahku cepat. Merasa tak nyaman terus-terusan ditatap seperti itu. “Harusnya kau mengatakannya sejak awal, bahwa tujuanmu menikahiku adalah untuk menutupi hubunganmu dengan—“

“Oh, ayolah! Aku normal!” Donghae menyela cepat ucapanku.

Aku hanya bisa tersenyum mengejek diriku sendiri. “Kalaupun itu benar, sama sekali tak ada urusannya denganku.”

“Tunggu!”

Aku tersentak mundur kembali ketika kurasakan Donghae menarik pergelangan tanganku. “Ada apa lagi? Kau bisa menambahkan sendiri pasal yang lainnya dalam perjanjian kita.”

Aku bisa menangkap keputusasaan dari tatapan Donghae. Dan ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Lagi-lagi, aku ragu. Benarkah Donghae gay?

“Apa yang kau lihat, tak selalu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi.”

Aku bergeming. Sengaja membiarkan Donghae meneruskan kalimatnya. “Aku dan Hyukkie tak ada hubungan apa-apa. Kami bersahabat sejak masih sekolah di SMA yang sama, dan seperti yang kau tahu, apartemen Hyukjae ada di sebelah apartemenku. Kami bertemu setiap hari. Apakah salah jika kami bersahabat?”

“Donghae benar, Nona. Kau tak perlu salah paham. Tadi kami hanya bercanda, dan seperti yang kau katakan di depan Ibu Donghae tadi. Kami sudah biasa melakukannya.” Kali ini lelaki bernama Lee Hyukjae itu menimpali. Dan aku bisa menangkap keseriusan di wajahnya. “Untuk apa aku menginginkan Donghae, kalau masih banyak gadis bertubuh molek di luar sana,” tambahnya dan langsung disambut dengusan keras Donghae.

“Oh, yeah dan itu dikatakan oleh seseorang yang hingga kini belum juga memiliki kekasih,” sindir Donghae yang membuatku menyadari, bahwa memang benar tak ada apa-apa di antara mereka. Untuk alasan yang tak ingin kuakui, aku merasa lega.

“Jangan lupa, bahwa kekasihmu hanya Yera satu-satunya, Hae.”

Yera? Entah mengapa, Donghae tiba-tiba menatapku khawatir. Apakah dia berpikir aku akan cemburu? Percaya diri sekali! Walaupun ia memiliki seribu kekasih sebelumnya, sama sekali tak ada hubungannya denganku!

“Kau tidak ingat sedang berbicara pada seseorang yang akan menikah, Hyuk?” Aku menegang saat lagi-lagi Donghae melingkarkan lengannya di pundakku. “Sayang, aku belum bertanya. Apa sebenarnya yang membawamu ke mari?”

Aku menepis rangkulannya di pundakku. “Jangan coba-coba mengambil kesempatan. Sekarang sedang tak ada Ibumu, dan aku tak perlu berpura-pura sebagai kekasihmu.”

Donghae tertawa. “Baiklah. Tapi bisakah kau jelaskan maksud kedatanganmu ke mari, Nona?”

Sial. Pertanyaan yang sejak awal sudah kutakutkan akan keluar dari mulutnya.

“Kau tidak sedang merindukan calon suamimu ini, kan?”

Aku mendengus keras-keras. “Aku datang ke mari karena merindukan waffle ice cream. Jangan berharap lebih,” balasku yang langsung disambut dengan tawanya yang renyah.

“Kalau begitu, bagaimana jika kita makan bersama? Aku juga sudah lapar.”

“Bolehkah aku ikut?” Kudengar Hyukjae menimpali ajakan Donghae.

“Makan di mejamu sendiri, Hyuk!”

“Pelit!”

***

-The Shilla Seoul Hotel-

10cwgm0

Gaun putih spektakuler bermodel strapless yang di bagian depan terasa seperti bulu-bulu angsa yang lembut, sedangkan bagian bawahnya menjuntai hingga ke lantai. Cantik. Indah. Elegan. Siapapun yang memakainya, akan merasa dirinya sebagai gadis paling bahagia di muka bumi ini.

Namun tidak bagiku. Perasaan malu, nervous, dan tidak pantas melebur menjadi satu di dalam diriku manakala mengingat wajah-wajah bahagia dan penuh cinta kedua orang tuaku yang menanti di ujung sana. Bagaimana bila mereka tahu permainan apa yang sedang dilakoni anaknya ini? Aku yakin, maaf itu tak akan kunjung kudapat bila kebohongan ini sampai terbongkar.

Setelah melewati beberapa minggu persiapan pernikahan, hari ini, tepatnya tanggal 17 April 2013. Saat bunga-bunga sedang bermekaran di musim semi yang indah, pesta pernikahan itu berlangsung.

“Apakah seperti itu wajah seorang gadis yang akan menikah?”

Aku terkesiap. Sesuatu yang hangat dan lembut membelai puncak kepalaku. Aku hafal betul belaian hangat ini, berikut aroma rempah dan ebony yang sangat kusukai. “Appa.”

Kulihat lelaki paruh baya yang sangat kusayangi itu menyambutku dengan senyuman hangatnya. Senyuman yang selalu dapat meleburkan segala kesedihanku. Sejak kecil, Appa tak pernah memarahiku dan kakakku. Bagaimanapun nakalnya aku dan Eunji Eonni. Beliau akan memilih tetap diam, di saat Eomma sudah mengomel karena kenakalan-kenakalanku. Aku bahkan selalu bermimpi, jika kelak menikah, aku akan menikahi lelaki sepertinya.

Bagaimana aku bisa hidup tanpa petuah dan cinta darinya? Kalaupun harus menjalani kehidupan terjal dan berbatu, aku rela asal tetap dapat melihat senyum di wajah pria penyabar ini.

“Kau gugup?”

Aku mengangguk dan rasanya tak dapat menahan air mataku ketika kurasakan tangan Appa yang besar dan hangat menggenggam tanganku.

“Jangan menangis. Kau akan terlihat sangat buruk.”

Aku berusaha tersenyum. Sulit. Tapi aku tak boleh menangis dan membuatnya khawatir. Tidak di saat-saat paling membahagiakan dalam hidupnya!

“Maaf,” kataku serak.

Appa lagi-lagi tersenyum. Dan kini, kurasakan ibu jarinya yang hangat mengusap pelan pipi kananku. “Jangan rusak riasan di wajahmu, sayang. Ibumu tak akan senang melihatmu tampil sangat buruk.”

“Apakah aku begitu buruk jika tanpa make up?” Aku mencoba berkelakar, untuk mengusir semua lelah, takut, dan rasa bersalah yang kini bersarang dan semakin membesar di sudut hatiku.

Tangan itu kembali membelai puncak kepalaku. “Putriku sangat cantik, hmm? Tapi ini rahasia kita berdua, kalau Ibumu sampai tahu… dia akan sangat cemburu.”

Aku tergelak. Untuk pertama kalinya benar-benar merasa bebanku hilang. Appa, jika saja kau tahu yang sebenarnya. Mengapa orang sebaik dirinya, harus menderita penyakit separah itu?

“Appa?”

“Hmm?”

Aku menunduk. Terlalu lama menatap mata bulat bening Appa, membuat rasa bersalahku semakin membuncah hingga ke ubun-ubun.

“Apa kau tidak sedih putrimu akan diambil orang?”

Appa tersenyum lebar. Membuat sesuatu di dalam diriku menghangat. “Tentu saja, sayang. Hati orang tua mana yang tak akan sedih saat harus melepas putrinya menjadi milik orang lain? Putri yang selama ini dijaganya. Putri yang saat kecil dulu selalu digendongnya. Tapi dalam hitungan detik, putri itu akan dilepaskan di tangan pria lain.”

Sekali lagi pandanganku memburam. Rasanya sulit sekali untuk menahan butiran bening itu jatuh di saat-saat seperti ini. “Lalu… kenapa Appa melakukannya?”

Lagi-lagi Appa tergelak. Kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya. “Demi kebahagiaan putriku, kenapa tidak? Kau sudah dewasa, sudah saatnya untuk lepas dari pengawasanku dan beralih dalam pengawasan suamimu.”

Aku mendengus dalam hati. Ya, aku bahagia. Sangat bahagia.

“Lagipula, Lee Donghae seorang pria yang baik. Appa yakin itu, dia pasti akan menjagamu dan membahagiakanmu.”

Baik? Lee Donghae? Iblis tampan itu?

“Appa, kau baru sebentar mengenal Donghae,” bantahku yang langsung kusesali karena senyum di wajah Appa mendadak hilang. Oh, apa aku telah salah bicara?

“Kau baru saja meragukan calon suamimu sendiri?”

Sial! Appa pasti curiga. Mulutku memang seharusnya dikunci agar tak bicara sembarangan lagi. “Tidak. Bukan begitu, aku hanya—“

“Ah, kalian masih di sini. Cepatlah! Tamu-tamu sudah menunggu.”

Bantahanku disela suara Eomma yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu ruang rias. Hari ini Eomma tampil sangat cantik dengan gaun terbaiknya berwarna ungu muda.  Gaun yang kubelikan beberapa bulan silam untuk hadiah ulang tahunnya yang ke 48 tahun.

Kurasakan tangan Appa meraih kedua bahuku dan memintaku berdiri. Tepat saat pintu kembali tertutup dan sosok Eomma tak terlihat lagi, Appa membisikkan sesuatu yang seketika membuat bulu kudukku meremang.

“Aku tahu dari caranya mengatur strategi dalam bidak catur. Lelaki itu berhati lembut dan tipe pemimpin yang baik.”

***

Dentingan lembut piano mengiringi langkah-langkah kecilku menuju altar. Bisa kurasakan banyak pasang mata menatapku, seolah-olah aku adalah seorang ratu yang baru tiba di kerajaannya. Mereka semua tak tahu betapa beratnya langkahku menyusuri jalan setapak ini. Satu-satunya alasan yang membuatku tetap tegak berdiri dan terus melangkah maju adalah pria baik yang kini berdiri di sampingku. Menggenggam erat tanganku. Memberikan kehangatan di antara dinginnya hatiku.

Aku merasakan dentuman di jantungku semakin keras saat Appa memberikan tanganku pada Donghae. Lelaki yang sejak tadi menunggu di depan altar. Dia tampil begitu tampan dengan setelan jas hitam mahal dan sebuah dasi kupu-kupu melingkar di lehernya.

484765160

Aku tak tahu bagaimana ekspresi Donghae saat ini, karena aku sama sekali tak berani untuk menatap kilauan mata teduh pria itu dan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Yang kudengar hanya bisikan Appa yang mengatakan ‘kuserahkan putriku padamu’ tepat saat tangan hangat Donghae mengambil alih genggaman Appa.

Mungkin Donghae terkejut saat menyadari betapa dinginnya tanganku saat ini, hingga untuk sejenak aku bisa merasakan ketegangan itu melalui genggaman tangannya. Tubuhku pun menggelenyar, seperti ada sebuah efek kejut yang menjalar ke sekujur tubuhku, saat pertama kali tanganku yang tertutup sarung tangan tipis berjaring-jaring menyentuh permukaan tangannya.

Sekarang, sudah tak bisa mundur lagi. Ayolah Eunhee… jangan terlalu terbawa suasana. Ini hanya sebuah pernikahan bisnis yang dalam satu atau dua tahun akan berakhir.

Kini aku dan Donghae berdiri sejajar di depan altar, berhadapan langsung dengan pendeta yang kukenal bernama pendeta Jung. Pria berkacamata bundar itu memberikan senyum bersahabat sebelum memulai prosesi pernikahan.

“Lee Donghae-ssi, bersediakah Anda menerima Lee Eunhee sebagai istrimu, sebagai Ibu dari calon anak-anakmu dan mendampinginya seumur hidup di saat suka maupun duka?”

Aku tak sadar telah menahan napas, dan menghembuskannya perlahan tepat saat suara Donghae terdengar yakin.

“Saya bersedia.”

Kali ini pendeta Jung mengalihkan tatapannya padaku. “Lee Eunhee-ssi, bersediakah Anda menerima Lee Donghae sebagai suamimu, sebagai Ayah dari calon anak-anakmu dan mendampinginya seumur hidup di saat suka maupun duka?”

Aku lagi-lagi menghela napas pelan. “Saya bersedia.”

Ingat, Eunhee… ini hanya sebuah pernikahan bisnis!

Pendeta Jung tersenyum, lalu meletakkan sebuah kitab suci di hadapannya. “Sekarang, saatnya bagi Anda berdua untuk mengucapkan janji masing-masing atas nama Tuhan.”

Aku dan Donghae sama-sama meletakkan tangan di atas Al-kitab. Inilah yang kutakutkan. Bagaimana aku harus bersumpah di saat semua ini hanya sebuah tipuan? Oh, Tuhan! Tolong maafkan dosaku!

“Saya Lee Donghae, bersumpah atas nama Tuhan dan semua saksi yang hadir di sini, akan menerima Lee Eunhee sebagai istri, sebagai Ibu dari calon anak-anakku dan akan mendampinginya di saat suka maupun duka, di saat siang maupun malam. Seumur hidup, hingga hayat memisahkan kita.”

Aku merasakan sesuatu yang hangat mengaliri jantungku. Seperti baru saja ada lapisan es yang mencair ketika mendengar janji yang diucapkan pria ini. Dalam hatiku bertanya-tanya, bagaimana Lee Donghae bisa begitu mantap saat mengucapkan janji itu? Dia benar-benar pandai berakting. Jika saja ada audisi pemain drama baru, aku akan mengajukan namanya sebagai salah satu pemainnya. Apakah sekalipun ia tak merasa berdosa karena telah mempermainkan janji pernikahan?

“Eunhee-ssi?”

Oh, sial. Aku melupakan bagianku.

Aku berdeham pelan dan menghela napas cepat. “Saya Lee Eunhee, bersumpah atas nama Tuhan dan semua saksi yang hadir di sini, akan menerima Lee Donghae sebagai suami, sebagai Ayah dari calon anak-anakku dan akan mendampinginya di saat suka maupun duka, di saat siang maupun malam. Seumur hidup, hingga hayat memisahkan kita.”

Kupejamkan mataku sejenak. Tiba-tiba merasa sangat berdosa. Janji itu sudah terucap, tak mungkin dibatalkan lagi. “Silakan sematkan cincin di jari pasangan Anda.”

Kini aku dan Donghae berdiri berhadapan. Tapi aku belum mau menatap wajahnya secara langsung. Aku takut. Sangat takut untuk mengakui semua ini hanya permainan. Pernikahan yang begitu indah ini telah dikotori oleh niat lain dalam hatiku.

Kurasakan tangan Donghae menyentuh tanganku dan menyematkan sebuah cincin emas putih bertahtakan belian ke jari manisku. Berikutnya, aku melakukan hal yang sama dengan tanganku yang gemetar.

“Atas nama Tuhan, saya resmikan Anda berdua sebagai suami istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tak bisa diceraikan oleh manusia.” Kudengar suara Pendeta Jung diikuti riuh tepuk tangan para undangan. Aku bisa merasakan persediaan oksigenku menipis. Sesaat lagi akan…

“Mempelai pria dipersilakan mencium pengantin wanitanya.”

Jantungku berdentam. Keras, hingga rasanya menggoyahkan pertahanan kakiku. Ini bukan mimpi seperti dulu. Seandainya saja aku bisa kembali ke masa itu. Tapi di dunia ini tak ada kata seandainya. Melihat ke belakang hanya akan membuat luka yang ditoreh semakin terasa perih.

Aku memejamkan mataku rapat-rapat saat wajah tampan itu mendekat. Aroma mint dari desah napasnya menusuk-nusuk hidungku. Begitu pula aroma tubuhnya yang sangat memabukkan. Campuran antara amber dan rum. Oh, Spongebob, kalau saja kau bisa menculikku ke Bikini Bottom sekarang juga!

Punggungku menggelenyar ketika satu tangannya yang hangat menyentuh tengkukku. Demi semua yang hadir di sini, apakah ia benar-benar akan menciumku? Di…

Perasaan takut itu mendadak sirna hanya karena merasakan sentuhan bibir hangat dan lembut pria itu di keningku. Dia mencium keningku. Lagi. Aku pasti sudah gila, karena mengaku menyukai kecupan hangatnya.

“Aku tahu dari caranya mengatur strategi dalam bidak catur. Lelaki itu berhati lembut dan tipe pemimpin yang baik.”

Tiba-tiba, semua yang dikatakan Appa terngiang begitu saja di telingaku. Benarkah perkiraan Appa, bahwa lelaki yang kunikahi ini adalah lelaki yang baik? Bukan Iblis tampan seperti dugaanku selama ini?

Untuk pertama kalinya hari ini, aku memberanikan diri menatap lelaki yang baru saja resmi menyandang status sebagai suamiku itu. Lagi-lagi aku merasakan efek luar biasa dahsyat di tubuhku.

Dia tersenyum. Tampan. Hangat. Menenangkan. Untuk alasan yang tak ingin kupikirkan, semua beban rasa bersalah itu menguap begitu saja, hanya karena menatap senyum tulus itu.

Siapapun, tolong jelaskan apa yang terjadi padaku saat ini?

TBC

79 thoughts on “Just Get Married [Chap 5]

  1. akuuu agak mau menjelaskan apa yg terjadi padamu eeunhee ssi! kau sudah bisa menyimpulkannya sendiri dg efek2 yg timbul atas tubuhmu itu…#apaseh#abaikan#plak

    hyaaaaaa……eonniyaaaaaa…kau tau ikutan mrinding waktu janji pernikahannn…
    aigooo…donghae tampan! wkkkwkkw
    oya satu lagi pas percakapan sama ayahnya tuh..aihhh..
    sukaaaaa deeehhh…kkkkk

    nasihat si ayah…aseeekkk…sadappp…apalagi yg ini
    “Aku tahu dari caranya mengatur strategi dalam
    bidak catur. Lelaki itu berhati lembut dan tipe
    pemimpin yang baik.”
    aaaarrrggghhh…pas banget klo sambil ngebayangin dongeee…

    eh, am i the first????

  2. hhuaaa….snangnya,,akhry mnikah jg,wlau prtma kcewa krn hny mimpi,tp tryt jd knytaan jg,kkkkk….
    ntah knpa kq rsnya cpt bngt q bcany y eon,??trllu pndek kah?? hehe
    gpp deh,yg pnting lnjtny kn cpet,brsbarlh sdkit naki😀

  3. Apa yg harus aq jelaskan padamu hee,,,karena aq sendiri speechless melihat ketampanan donghae*plak*wkwkwkwk

    ngakak parah,,,yg eunhee ngimpi di kisseu onge,,,kirain beneran nikah taunya,,,,,haha

    itu si monyet kenapa seneng bgt sih godain suami aq,,,kan si eunhee jadi curiga ada something diantara mereka,,,,

    adegan yg paling ngena bgt tuh pas upacara pernikahan mereka,apalagi pas pengucapan janji,,,jadi ikut kebawa suasana🙂
    bener” sakral,,,,

    lanjut next part oen tunggu ya😉

  4. finally mrka nikah jg,,,ditungu eon sat mrk hdup brsma eunhae couple anchovy n fishy kekekeke sabarkan hatimu hee mghdapi mrka.

  5. yaaa… gy asyeek2 baca tau2 dah TBC ajah lagi.. hmm.. penasaran dg khdupan pernikahan mereka nanti. jgn2 di malam pertama si Hyuk ngeganggu lagi͵wkwkwk

    ibLis tampan ituh lagi2 nyium kening Hee.. pdhL dh ngebayanin ajah bakaLan kisseu beneran di hari pernikahan. weleh2… kok jadi mikirin yg begituan yahh*PLokk

    Next.. mdh2an ceritanya bisa lbh panjang Lagi.. dan semoga ada sweet moment‘y..
    *kissday* hahahaha tetep maksa ^_^“

    FightinG

  6. kyknya eunhee udah terpesona sm hae oppa cman gengsi aja ngakuinnya😄.. unyuk oppa udah donk jgn gangguan hae oppa trus, kasian kan hae oppa dikira gay =__=.. ga sbr pngn liat mrk ngejalanin hari2nya sbg suami istri, kyk gmn ya? apa mrk bkl brntm trus? eunhee-ssi, kalo kamu berniat ninggalin iblis tampan kamu, q siap koq nampung.. dg senang hati😛 #gelar tiker..

  7. Maaf Lee EunHee, aku tidak bisa menjelaskannya! kau cari tahu saja sendiri. Wkwkwkwkw….

    Kyaaaa~ aku ngebayangin Donge’ menikah betulan, whoaaaah,,, dia pasti keren banget.

    hhhh… Lee DongHae, aku sudah memutuskan utk mnjadikanmu selingkuhanku, mereka pasti tidak akan marah.
    *Lirik JongWoonHyukjae
    *Abaikan

    Makin suka dgn ff-nya author, udah kayak baca novel, suka dengan bahasanya. Hwaiting!!!

  8. ea ampun ampe kebawa mimpi segale……
    gmn ea marriage life mereka….
    jadi penasaran dech….
    si eunhee dach mulai suka nich ma donghae…
    lanjutannya jangan lama2 ea thor….
    hehehehe

  9. Tuh kan unyuk , dri pada dblang gay trus udah ama aku aja ne *ngimpi
    bener eon aku jga mrinding disko pas mreka berdua ngucapin janji😀
    tpi knapa tbc nya nongol dsitu hah ?
    Sumpah ngganggu bgt *ditabok eon

    ditunggu secepat nya next part :’)

  10. Omo….
    Huaahh sweet melting jdix eonn…
    Eumm nnti kra” jujur nda y eonn…??
    Trus aegy twins bkal gabung nda…??
    Wuaa pnsaran d tnggu next eonn….
    Huhu

  11. Itu efek krn jatuh cinta…eunhee ngarep bgt dikiss di dpn altar. Ga kebayang klo mrka saling mencintai, eunhee bakaln bertekuk lutut alias ga bisa nolak keinginan donghae..
    Part bsk ttg married life mrka, hmm mengasikan lihat sikap mrka berdua, pasti canggung. Ya wes lanjut ya

  12. Akhirnya mereka menikah juga,mudah2an pernikahan ini bisa berlangsung slamanya bkan hanya sebagai pernikahan karena ksepakatan bisnis saja…

  13. aaaaaaaaaakkkkkk eunhee sudah goyah kah? Gak mikirin kalo ntar pas eunhee tau hae nikah sama dia bukan cuma buat kontrak bisnis semata -____- hafff semoga langgeng deh, jadi keluarga yg sakinah, mawaddah, warahma o:) ㅋㅋㅋ

  14. euhhmmmm.. naga-naganya ada yang mulai jatuh cinta nie.. kkk udahlah hee sama iblis ganteng yang namanya DongHae, dijamin makmur!!???!

    Sebelumnya aku mau say- say mianhae ni ssaeng, soalnya comment-ku lompat, kemaren yg di part-4 lom comment langsung ke part ini, part 4 kmaren bikin aku sebel soalnya si woobin muncul,, iih.. kalo yang di part ini.. mmm gmana ya??? sebetulnya moment-nya indah banget, cuma galaunya eunhee jadi bikin aku stress sendiri fiuhhh

    ditunggu part selanjutnya lo!! ^^

    • hihihi… gpp Eon, santaaaaii. Kek biasanya nah… aku santai aja kok orangnya. Dia mau komen mau enggak juga its okay… terserah readers ajah hehe🙂

      Udah ada kok eon lanjutannya🙂

  15. mian lee baru baca ma komen.. taulah kegalauanku.. ampe sekarang ajah belon lanjut2 itu satupun ff -_-

    kirain yg pertama tu bener, taunya mimpi… tp jadi juga si dong2 married ma lee di chap ini yak… kupikir masih lamaan lagi..

    tsahhhhhhhhhhhhh si jun omongannya bener gini… puahahahaha
    eia, si jun ama wookie nih?? yakin?? jangan bilang ntar tiba2 bakal muncul minho :p

    hoakakakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk unyuuuuuuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkk!!! asli aku jadi keinget unyuk ma teuki di OS begitu baca scene di sofa!
    mana si lee jadi salah paham ngira donge beneran gay pula *guling2

    ngapain tapi itu si unyuk ngungkit2 si yera, tau ajah ada si lee.. biar kata cuma nikah pura2 pan kudunya ttp jaga perasaannya *getok unyuk

    oia, yg jadi kakakmu eunji2 itu sapa lee??

    ah, satu lagi, napa di kening lagi?? kapan di bibirrr?? tp gpp sih, kesannya lebih syahdu jadinya fufufu~

    lanjutttttttttttt~~

    • hahaha… santai aja Song ^^
      Hoakakakakkkkkk… No comment aku klo soal itu. Tergantung mood, ntar si Hyo muncul lagi apa enggak :p

      Wakakakkaakkkk… iyayak, yg ini beda pasangan tapinya😀

      Hadooohhh… sabar Song kekekke
      Kakakku?? ngarang aja itu song, aku belom dapet visualisasinya hihihi😀

  16. Aigoo~~ eonni aQ suka ama kta” apa.a eunhee “aku tau dari caranya mengatur strategi dalam bidak catur. Lelaki itu berhati lembut dan pemimpin yg baik”. Sumpah y eonni jadi ngerasa gmna gtu y??

    G tw lagi deh mw coment apa lgi bwt tulisan mu ini eonni, udah kehabisan kta” aQ.a ^^
    yg penting D.A.E.B.A.K deh^^ kasih smw jempol yg ada d.dunia ini bwt eonni^^ *lebay #plakk =.=”

  17. aaaaaaaaaaaaaaaaa sosweet akhirnya mereka nikah juga😀 seneng liatnya ^^ ayooo haee saatnya bikin little hae *digetok xD
    ituu hae pas janji suci ngucapinny bener bener tulussssss banget, seperti nikah beneran yg terikat oleh cinta kkkee bukan karna perjanjian xxDDD

    hhhaha ini biar eunhee ga curiga dan nyangka yg engga” ke hae sama hyuk mendingan hyuk ikutan married juga eon hehe

    kerennn kerennn🙂

  18. sepertinya unni ini suka spongebob yah ?? kekekekk~ ini pertama kali baca ff yg ada sumpah pernikahannya loh unni,biasanya cmn blg saya bersedia udah selesai ..
    aku terharu loh unn~
    tpi,klu dicium di kening aja bukannya jadi bkn tanggapan org lain beda yah?? ah sudahlah mending aku baca yg lain aja ..

  19. oh spongbob, ku mohon jangan bawa eunhee kebikini bottom, bawalah eunhee menuju hati dongek
    #apadah

    omooooooo so sweet, eunhee-ssi, dongek itu memang menenangkan, lembut seperti kue donat..
    #plak..

    demi kekonyolan patrik, prolog eunhee selalu sukse membuat ku ketawa cem orgil..
    hee-ah, kau jatuh cintaaa…
    muahahahahhahaha
    next read…🙂

  20. whooaaa. . . . cuit cuit. . . cocuit bget dah ni org be2^^ akhirnya nikah juga chukkae
    penasaran ma lanjutannya. . .
    lanjut lagi ah. . .

  21. apa aku sendiri yg merasa deg2an pas adegan janji pernikahan itu? Kok berasa jadi eunhee ya? *halah..
    he.he.. authornya ini kykny fans berat spongebob squarepants ya??

  22. Huahahaha😀 ada aja yang bikin ngokok, wwk pas baca di awal, tumben loh alurnya cepet banget langsung kawin. Sempet percaya itu kenyataan. Wueeh, ternyata mimpi deng.

    Auranya beda pas baca di bagian Donghae mau cium Hee di altar. Wakakak, nape aku jadi yang rempong? Orang Eunhee juga yang mau di cium. Ayolah Spongebob! Sadarkan aku #gubrak

  23. kyaknya eunhee uda mlai ska sma Hae tpi dy blom sdar aj…
    Smga eunhee sdar klo dy ska sma Hae dan uda lpa sma Woobin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s