Just Get Married [Chap 4]

Chapter 4

 59786_512889055414580_1442930370_n

 Credit Pict: Jjea

Cuap-cuap: Okay, sebelumnya aku mau meluruskan sesuatu dulu sebelum kalian baca part ini. Di part sebelumnya aku kasih liat picku Eunhee dengan gaun hitam yang dia pake ke pesta di rumah keluarga Donghae. Aku baca ada banyak yang mempertanyakan rambut Eunhee yang mendadak pendek di sana. Oke, begini. Maksudku ngasih liat foto itu cuma buat ngeliatin gimana bentuk gaunnya Eunhee. Back-drop Dress itu yang kek gimana? Sama sekali gak ada hubungannya ama rambut Eunhee. Okay? Berikut juga ama lokasi foto itu diambil. Jadi, tolong jangan dibayangin Eunhee foto di depan banyaknya papan iklan kek gitu yah hihihi
Udah cukup ceramah (?)nya. Dan mohon maaf klo part ini boring. Selamat membaca! ^^

 

-Lee Donghae, Lee Seok Woo Residence-

Nyaris saja. Jika aku tak bisa berpikir cepat, mungkin rencana ini bisa hancur berantakan bahkan sebelum sempat berjalan. Apa yang dilakukan gadis itu nyaris membuatku jantungan!

Tepat saat Appa akan membuka mulutnya untuk bertanya, aku langsung melanjutkan kalimatku. “Ya, kita memang satu universitas. Tapi berbeda jurusan,” jelasku saat itu. Walau aku menangkap ekspresi heran di wajah Appa, aku terus melanjutkan kebohonganku. “Sebenarnya kami bertemu di kafe. Karena dia adalah penggemar berat waffle ice cream di kafeku.”

Begitulah aku menjelaskan pada Appa dan Eomma sebelum akhirnya kedua orang tuaku itu mengangguk paham dan kembali sibuk dengan tamu-tamunya.

“Kau tahu aku menyukai waffle ice cream?”

Aku buru-buru menoleh ketika mendengar Eunhee bertanya. Oh, betapa bodohnya. Eunhee pasti heran mengapa aku bisa tahu makanan yang selalu dipesannya di kafeku.

Saat ini, kami berdua sedang duduk di salah satu meja bundar sembari menyantap makan malam spesial yang telah disiapkan dalam perjamuan ini.

“Hanya menebak-nebak,” balasku pura-pura santai lalu mengambil satu gelas sampagne yang ditawarkan pelayan dan meneguknya hingga tenggorokanku terasa seperti terbakar.

Tak ingin topik ini terus-terusan diungkit, aku dengan sengaja menambahkan. “Kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan di mobil tadi? Kau nyaris menghancurkan sandiwara kita dengan kecerobohanmu, Nona.”

Kudengar Eunhee mendengus. “Salah siapa kau tak memberiku kesempatan untuk menghafalnya. Aku sedang gugup, pastinya tak akan mudah bagiku untuk menghafal semua instruksimu dengan benar.”

“Kau menyalahkanku?”

“Memang kau yang salah.”

“Kau saja yang bodoh.”

“Apa?”

“Permisi!”

Aku menoleh cepat dan langsung terkejut mendapati gadis cantik memakai one sided shoulder dress berwarna maroon itu. Cho Neora. Putri Tuan Cho Gitae. Rekan bisnis, sekaligus sahabat baik Appa. Aku yakin, jika aku tak segera mengenalkan Eunhee pada orang tuaku, aku akan berakhir menikahinya.

“Oh, hai,” balasku ramah lalu dengan sengaja merangkulkan lenganku di pundak Eunhee yang sedang asyik menyantap salad buahnya.

“Kekasihmu?” tanya Neora sembari melirik Eunhee.

“Bukan,” jawabku santai. Aku tak bisa menahan seringaiku ketika melihat betapa pucatnya wajah Eunhee. Apa gadis itu mengira aku akan berkata jujur pada Neora? Karena takut gadis cantik itu cemburu? “Calon istriku,” tambahku mantap dan aku bisa merasakan Eunhee menghela napasnya lega.

“Oh,” Kulihat Neora memberi Eunhee tatapan menilai. Aku yakin ia pasti berpikir bahwa dirinya jauh lebih pas jika bersanding denganku dibanding Eunhee. “Aku turut bahagia untukmu, Oppa,” katanya dengan nada datar.

Aku mengangguk dan memberinya senyum terbaikku. Well, meski aku tahu gadis itu tak sepenuhnya tulus mengucapkan itu. Tapi setidaknya, aku harus menghargainya.

“Terima kasih.”

“Aku berharap. Orang tuamu tak pernah sadar bahwa kau menipu mereka.”

Apa? Aku terbelalak. Bagaimana dia bisa tahu?

“Aku tak sengaja mendengar apa yang kalian bicarakan tadi,” katanya sebelum aku sempat bertanya. Seolah-olah, ia benar-benar tahu apa yang menjadi isi pikiranku saat ini. “Kenapa? Apa aku salah?”

Aku melebarkan senyumku, berusaha menutupi keterkejutanku sendiri. Dengan santai pula, kueratkan rangkulanku di tubuh Eunhee yang mendadak kaku seperti boneka kayu yang tak bisa bergerak. Aku yakin, ia pasti takut Neora akan mengadukannya pada orang tuaku.

“Oh, kau mendengarnya?” tanyaku, sengaja dengan keterkejutan dibuat-buat. “Yeah, aku memang takut orang tuaku tak menyetujui rencana pernikahan kami. Makanya, kami mengarang cerita bahwa hubungan kami sudah berlangsung satu tahun lamanya. Padahal, baru beberapa bulan lalu kami bersama. Iya kan, sayang?”

Aku menoleh pada Eunhee untuk meminta dukungan, dan kulihat Eunhee pun mengangguk. Namun masih dengan senyum kaku seperti sebelumnya. Oh, aku bisa gila! Kenapa gadis ini menawarkan pernikahan bila ia sendiri tak terlalu bisa bersandiwara? Well, memang aku yang memaksanya. Tapi bukankah ia yang memberi ide awalnya!

Kulihat Neora tersenyum simpul. Aku yakin ia masih bisa menilai ada yang tak beres dengan kami. Tapi aku tak peduli. Setidaknya, aku sudah berusaha membantah.

“Kalau begitu, aku permisi dulu!” katanya dengan gaya anggun dibuat-buat.

Dasar anak kecil! Usianya masih muda, tapi senang sekali mengurusi urusan orang lain!

Sekali lagi kulirik Eunhee yang sampai sekarang masih belum mau bersuara. Apa dia sakit? Kurasa tadi ia baik-baik saja.

“Eunhee—“

“Bisakah kita pulang sekarang?”

***

Aku melihat Eunhee turun dari mobil dengan tergesa-gesa, sama sekali tak memberiku kesempatan untuk keluar dan membukakan pintu untuknya. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Eunhee? Sepulang dari rumahku, ia tak banyak bicara dan hanya termenung seperti sedang menyesali sesuatu. Wajahnya juga tampak pucat. Apa ia benar-benar kurang sehat setelah minum segelas sampagne dan makan semangkuk kecil salad buah tadi?

Aku membuka pintu mobil dan berteriak sebelum Eunhee berjalan terlalu jauh. “Kau tak menawariku mampir?”

Eunhee berbalik dan balas menatapku tajam. “Selamat malam.”

“Hey,” Aku mengejarnya dan menangkap pergelangan tangannya. “Kau kenapa? Sejak tadi diam saja, sepertinya ada sesuatu yang terjadi.”

Kuamati wajah Eunhee yang pucat pasi. Sesuatu di dalam diriku berteriak. Tidak tahan melihatnya seperti ini.

“Katakan padaku ada apa?”

Eunhee masih tak mau menatapku. Lalu lambat-lambat, aku mendengarnya bergumam. “Aku… melihat seseorang yang kukenal di pesta orang tuamu.”

Aku terkesiap. “Itukah sebabnya kau meminta untuk segera pulang?” Eunhee hanya mengangguk menjawab pertanyaanku. “Siapa?” tuntutku tak sabar.

Eunhee tak menjawab. Bila dilihat dari reaksinya, ini pasti berhubungan dengan masa lalunya. Tapi aku ingat, tak ada seseorang bernama Woobin di pesta itu. Pasti bukan dia! Lalu siapa?

“Katakan padaku. Siapa? Mantanmu?”

“Jika di dunia ini ada yang disebut mantan sahabat. Aku akan menyebutnya begitu.”

Aku mengernyit bingung. Berusaha keras memahami apa yang dikatakan Eunhee. Mantan sahabat? Ah, benar. Gadis yang sore itu dipergoki Eunhee tengah berduaan dengan Woobin.

“Pasti ia di sana untuk mewawancarai Ayahmu. Sudah lama Woobin mengincar Lee Seokwoo sebagai tokoh yang akan dibedah dalam redaksi majalah yang dipimpinnya,” kata Eunhee masih dengan pandangan menerawang.

Sialan! Aku menggeram tertahan. Apakah ini termasuk salah satu taktik Woobin untuk membalas dendam padaku? Menggunakan Ayahku? Dasar licik!

“Bagaimana bila dia membongkar semuanya di hadapan Abonim? Bagaimana bila dia mengatakan bahwa aku dan kau—“

“Dengan resiko semua kebusukannya juga terbongkar? Ayolah Nona. Dia tak akan pernah melakukannya.”

Eunhee kembali menunduk. Dan aku benar-benar tak tahan melihatnya begitu. Kuremas pelan lengan atas Eunhee untuk menenangkannya. “Sudahlah. Lupakan mereka,” kataku lirih. “Sampai jumpa besok. Aku akan menjemputmu jam 8 pagi.”

“Jam sembilan,” tiba-tiba yang membuatku terkejut, Eunhee mengangkat wajahnya dan memprotes.

Aku tak bisa menahan senyumku, karena akhirnya Eunhee kembali pada dirinya sendiri. Tadi sebelum pulang, aku mengatakan pada Eunhee bahwa mulai besok kita harus sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk persiapan pernikahan nanti. Mulai dari tempat, hari dan tanggal pernikahan, pakaian, undangan hingga wedding organizernya. Semuanya harus diepersiapkan dengan benar. Aku memang sudah bilang pada Appa dan Eomma, untuk membiarkan kami berdua yang mengatur segala sesuatunya sendiri, tanpa campur tangan mereka. Tentu Appa dan Eomma tak akan suka bila pernikahan ini dibuat biasa saja tanpa perencanaan yang matang. Yeah, setidaknya… seabrek rekan bisnisnya harus diundang!

Sebenarnya Eunhee keberatan karena kami belum bertemu keluarganya di Daegu. Namun, karena orang tua Eunhee belum bisa datang ke Seoul untuk mengadakan pertemuan keluarga besar—dengan keluargaku—secara resmi. Aku memutuskan untuk mempersiapkan semuanya lebih dulu, agar nanti tak terlalu repot saat menjelang pernikahan. Bukankah membuat pesiapan secara matang sejak jauh-jauh hari itu lebih baik?

“Kurasa jam 8 lebih baik, kalau terlalu siang nanti—”

“Tidak, itu mengganggu jam tidurku.”

Aku nyaris terkikik mendengar jawaban spontan Eunhee. “Jam 8, kau masih belum bangun?” tanyaku tak percaya sembari berdecak dan menggelengkan kepalaku pelan. Kulihat ia hanya mengangkat bahu tak peduli.

“Karena aku pengangguran. Maka jam tidurku mundur beberapa jam.”

“Oh, sebenarnya aku akan menikahi seorang gadis atau kudanil?”

“Yakkk!” Eunhee berteriak, dan aku harus menutupi telingaku karena suaranya yang melengking tinggi.

Kali ini aku benar-benar tertawa. Betapa lucunya Eunhee dengan wajah memerah seperti itu. Oh, berhentilah Lee Donghae. Kau bisa membuatnya semakin marah.

Aku berdeham dan tersenyum padanya. “Pokoknya aku tunggu jam 8 besok,” kataku santai sembari berlari mengitari mobil dan membuka pintunya. “Kalau kau tak bersiap juga, aku akan mendobrak pintu flatmu dan membangunkanmu dengan caraku sendiri.”

Kudengar Eunhee menggerutu pelan. “Kau itu seorang direktur atau perampok?”

Aku lagi-lagi tergelak. “Terserah mau menyebutku apa? Pangeran juga boleh.” Aku menahan seringaiku saat mendengarnya menggerutu tak jelas. “Kalau begitu, selamat malam, kudanil!”

“Yakkk!”

Sambil tertawa keras, aku masuk ke mobil dan melajukan Audi A5 putihku meninggalkan area parkir. Melalui spion, aku masih bisa melihat pantulan tubuh Eunhee yang menatap kepergianku dengan kesal. Entah sejak kapan, menggodanya menjadi hobi baru yang menyenangkan untukku. Seperti kemarin, saat tiba-tiba aku mengajukan syarat memiliki anak sebagai pengganti ciuman. Memang niat awalku hanya bercanda, tapi tak kupungkiri, aku sangat berharap hal itu benar terjadi. Seandainya saja Eunhee tahu apa yang sebenarnya kurasakan!

***

-Andre Kim Bridal-

 

Dua minggu berlalu begitu cepat. Persiapan pernikahan kami pun sudah mencapai pada tahap yang lebih serius. Pertemuan resmi dua keluarga juga sudah dilaksanakan. Aku bersyukur keluarga Eunhee menyambut kehadiranku dengan hangat. Bahkan, sang Ayah—yang memiliki mata bulat indah seperti Eunhee—menjadi salah satu lawan terbaikku bermain catur.

Aku masih ingat, weekend kemarin aku dan Eunhee memutuskan untuk berkunjung ke Daegu. Setidaknya, untuk memberikan beberapa lembar undangan pada kenalan dan keluarga Eunhee di sana.

Seperti baru saja menemukan masa kecilku kembali, aku begitu terharu dan tak bisa menyembunyikan kegembiraanku saat harus berinteraksi dengan banyaknya saudara Eunhee di rumah yang tak terlalu besar itu.

Eunhee memiliki kakak perempuan yang sudah menikah. Namanya Lee Eunji. Lee Eunji dan suaminya yang bekerja sebagai guru beserta dua orang anaknya—Minji dan Yoonji—tinggal serumah bersama kedua orang tua Eunhee. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya suasana rumah itu, apalagi bila si kembar Minji dan Yoonji bertengkar dan mengacaukan semuanya.

Hari itu, Ibu Eunhee memasak banyak sekali makanan lezat. Walau bukan makanan mewah yang dilengkapi dengan anggur merah Italia yang terkenal, dan juga bukan makanan hasil buatan chef kelas dunia. Tapi kebersamaan dan kehangatan keluarga yang kurasakan saat menyantap makanan itu, membuat semangatku tentang kehangatan keluarga yang sempat hilang, kini meletup kembali.

Sudah lama tak ada acara makan-makan seperti itu di rumah, semenjak Hyeong pergi, juga sejak Appa semakin disibukkan dengan bisnis yang digelutinya. Sungguh. Aku merindukan saat-saat seperti itu. Bila saja waktu dapat diputar, aku akan memilih hidup sederhana seperti dulu tanpa iming-iming kekayaan berlimpah tapi sama sekali tak ada kehangatan di dalamnya. Aku benci makan sendirian! Dan sekarang, hampir setiap saat aku makan seorang diri. Bisa kau bayangkan bagaimana sedihnya perasaanku.

“Mr. Lee, bagaimana menurutmu?”

Aku terkesiap, dan sontak menoleh ke arah suara gadis di hadapanku. Seperti ada gemuruh keras yang terjadi di dalam hatiku, aku tak bisa mengalihkan perhatianku dari Eunhee. Gadis itu tampil luar biasa cantik dalam balutan gaun pengantin putih bermodel strapless dengan aksen bunga di beberapa bagiannya. Rambut Eunhee dikuncir dengan jalinan longgar di sisi kanan dan sebuah hiasan cantik berwarna putih menghiasi rambut bagian kirinya. Gaun itu memang tak semewah dengan beberapa gaun yang dicoba Eunhee sebelumnya, bahkan terkesan begitu sederhana. Tapi entah mengapa aku suka. Aku juga sama sekali tak tahu tentang trend gaun pengantin wanita saat ini, yang aku tahu sekarang, aku sangat ingin Eunhee memakai pakaian itu di hari pernikahan kita! Ia benar-benar tampil sempurna!

mbride5

“Tuan?”

Oh, sial! Aku ketahuan! Yeah, hari ini kami sedang melakukan fitting terakhir gaun pengantin yang akan kami gunakan di salah satu Bridal ternama di Seoul. Andre Kim.

Selama satu jam ini, Eunhee sudah mencoba sedikitnya 3 gaun pengantin. Tapi aku dan juga Eunhee belum juga menemukan gaun pengantin yang pas dengan kepribadiannya. Kecuali yang satu ini tentunya.

Sengaja, kutempelkan jari telunjukku ke dagu. Berlagak berpikir. “Hmm… lumayan,” kataku santai dan bisa kutangkap ekspresi tak terima di wajah Eunhee. Tapi aku pura-pura tak menyadarinya. “Pakai yang itu saja! Kita sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencoba beberapa gaun. Sepertinya yang bermasalah memang orangnya.”

“Apa katamu?” Suara Eunhee meninggi dan terdengar sangat geram. “Kau bermaksud mengatakan bahwa akulah yang bermasalah?”

“Aku tak bermaksud apa-apa,” balasku enteng sembari mengangkat bahu. “Cepatlah! Kita masih harus meninjau gedung tempat pernikahan kita akan dilangsungkan.”

Aku menyeringai geli tepat ketika tirai keemasan di hadapanku kembali tertutup, dan aku harus kembali menunggu Eunhee berganti pakaian. Dia pasti marah, aku yakin. Seandainya saja ia tahu aku tak bermaksud berkata begitu? Oh, mulutku yang manis. Kapan dia bisa berkompromi dengan hatiku?

tumblr_mdrq8a81ax1rbbtmdo1_500

-Donghae’s Car-

“Aku terpaksa menerima tawaran Appa memakai salah satu ruangan di hotelnya untuk tempat pesta pernikahan kita,” kataku pada Eunhee sembari terus memfokuskan pandanganku pada jalan raya. Saat ini kamu berdua sedang menuju ke lokasi selanjutnya. The Shilla Seoul Hotel.

“Dari nada bicaramu, sepertinya kau terpaksa melakukannya,” komentar Eunhee heran. “Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

Aku menoleh sebentar untuk menatap Eunhee, lalu mengangguk. “Silakan!”

Kudengar Eunhee berdeham pelan. “Aku heran, sebenarnya ada apa antara kau dan Ayahmu? Bila diperhatikan, saat bertemu kalian tampak baik-baik saja. Tapi dari sikapmu, aku tahu ada yang tidak beres.”

Aku menghela napas berat. Aku yakin, cepat atau lambat Eunhee pasti akan menanyakan hal itu. Ia pasti heran sebenarnya ada masalah apa antara diriku dan Appa?

“Bukankah kau sudah dengar saat malam itu aku bercerita padamu?” kataku dengan nada suara dibuat sedatar mungkin. “Di luar, hubungan kami memang terlihat baik. Tapi sebenarnya ada jarak tak kasat mata yang memisahkan kita.”

“Itukah sebabnya kau tinggal di apartemen alih-alih rumahmu sendiri?”

Aku tersenyum mengejek diri sendiri. “Yah, begitulah. Kau bisa melihatnya,” kataku defensif.

“Tapi kenapa? Apa karena orang tuamu tak setuju dengan pilihan pekerjaanmu?”

Aku tak menyangka Eunhee begitu perhatian padaku. Dan aku tersanjung atas perhatiannya ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang hangat menyentuh hatiku. Setelah sekian lama tak ada yang memerhatikanku, aku merasa seperti baru saja mendapat segala yang terbaik di dunia ini.

“Kau pikir jika Appa setuju, ia akan memberi syarat yang begini sulit hanya untuk sebuah modal usaha?”

Aku mendengar desah keras meluncur dari mulut Eunhee. “Aku tak mengerti dengan apa yang dipikirkan orang kaya seperti kalian. Bukankah usaha kafemu tak terlalu jauh berbeda dengan usaha hotel dan resort milik orang tuamu? Kenapa mereka justru tak suka kau bergelut di bidang itu?”

Kualihkan perhatianku dari jalanan ke wajah penasaran Eunhee. “Karena menurut pemikiran Appa, aku seharusnya menjabat sebagai direktur di perusahaannya. Bukannya membuat usaha sendiri.”

Sekali lagi kudengar Eunhee menghela napasnya pelan. Sungguh, aku tak bermaksud membuatnya mengasihaniku. Karena aku benci dikasihani! “Mengapa orang kaya selalu meributkan hal-hal semacam itu?”

Aku mendengus. “Sudahlah. Lupakan saja,” sergahku sambil mencari tempat parkir yang pas. Kami sudah tiba di basement hotel milik Appa. Dan sesaat lagi akan melihat ruangan yang direncanakan menjadi tempat pernikahan kita dua Minggu lagi.

Eunhee tak menjawab dan hanya kudengar bunyi klik dari sabuk pengamannya yang baru saja terbuka.

-The Shilla Seoul Hotel-

“Mulai sekarang, kau harus membiasakan diri menjadi orang kaya.” Aku sengaja menambahkan setelah kami berdua berjalan menuju sebuah lift yang akan mengantar kami ke atas.

“Aku takut… tak akan bisa menyesuaikan diri dengan semua itu.”

Kuhela napas pelan. Tapi sekuat tenaga menyembunyikan keputusasaanku darinya. Sebenarnya aku tak ingin dia berubah. Aku berharap bisa tetap merasakan betapa nyamannya mendapatkan perhatian dan kehangatan keluarga. Itulah mengapa aku semakin yakin untuk menikahinya. Semua kehangatan itu bahkan lebih mahal dari seluruh aset yang kumiliki sekarang.

Ruangan itu besar, bernuansa putih, maroon dan cokelat. Ruangan itu juga dilengkapi dengan kursi dan meja betutup satin putih di setiap sisinya. Bagian tengahnya terdapat sebuah jalan setapak yang lantainya lebih tinggi dari kedua sisi yang lain. Seperti sebuah panggung kecil tempat si pengantin wanita bersama sang Ayah berjalan pelan menuju altar. Nampaknya ruangan ini memang sengaja didesain untuk acara-acara pernikahan.

“Kau suka?” tanyaku sembari melirik Eunhee yang sejak tadi sama sekali tak bersuara. Hingga aku sempat mengira dia tak jadi mengikutiku ke mari.

“Bagus. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Apa ini tak terlalu mewah?”

Aku tertawa. “Kau bertanya begitu pada anak calon presiden?” sombongku, walau sebenarnya ada nada sinis yang sengaja kuperdengarkan.

Eunhee mendengus keras. “Tapi ini bukan pernika—”

“Kau ingin membuat semua orang mendengarmu?” kusela cepat-cepat ucapan Eunhee lalu mengamati sekeliling ruangan yang kusyukuri sangat sepi. Hanya ada kami berdua di sini, dan seorang petugas hotel yang sedang memeriksa dekorasi yang mungkin rusak.

Aku berdeham pelan. “Sudahlah. Bukankah kau sendiri yang menolak pernikahan kita diadakan di gereja. Dengan alasan kau tak ingin semakin merasa berdosa karena kesepakatan kita, hmm? Apa sekarang… kau berubah pikiran?” lanjutku ketika Eunhee tak membuka  mulutnya juga.

“Baiklah. Terserah padamu saja,” katanya pasrah lalu berbalik meninggalkanku ke luar ruangan.

Aku sebenarnya sudah mencoba bicara dengan Eomma bahwa aku dan Eunhee hanya menginginkan pesta pernikahan yang sederhana. Tapi Eomma ngotot ingin tetap merayakannya dengan sangat meriah. Bahkan Appa sampai mengundang beberapa orang dalam pemerintahan, aku yakin jika tidak sibuk Presiden negeri ini juga akan datang.

Aku tak bisa apa-apa lagi selain menerimanya. Eunhee mungkin menganggap ini hanya pernikahan main-main, tapi bagiku… pernikahan ini serius. Bahkan lebih serius dari apapun yang pernah kulakukan selama hidup di dunia ini.

“Kau jadi mengundang mantan kekasihmu?” tanyaku setelah sekian lama hanya keheningan yang merebak di antara kami. Saat ini, kami berdua sedang makan siang di restoran hotel.

Aku bisa merasakan ketegangan Eunhee ketika untuk sejenak gadis itu menghentikan kegiatannya menyuap spaghetti ke mulutnya. “Tidak,” katanya dingin.

“Apa kau masih menyukainya? Itukah alasanmu tak mengundangnya?” Oh, Lee Donghae! Apa yang kau tanyakan?

Kali ini Eunhee meletakkan garpunya untuk kemudian menatapku lurus-lurus. Dari tatapannya aku bisa menangkap kesungguhan dan tekad kuat yang tersembunyi di balik iris berwarna hitam kecoklatannya. Aku yakin, masalah ini pasti menyakitinya hingga ke sum-sum. Seperti banyak orang bilang, wanita lebih banyak bermain dengan perasaannya. Sekali ia disakiti, akan sulit untuk melupakan!

“Itu sama sekali bukan urusanmu, Lee Donghae-ssi.”

Aku mengangkat salah satu alisku. “Akan lebih baik bagi kita untuk saling jujur. Kau sudah mendengar ceritaku tentang keluargaku. Tapi kenapa sekarang kau tak mau menceritakan masalahmu sendiri padaku?”

Eunhee mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekilas bagi yang tak mengenalnya, mungkin mengira Eunhee baik-baik saja. Tapi selama kurang lebih 6 bulan mengamatinya dari jauh dan hampir 3 minggu mengenalnya lebih dekat, aku paham apa yang dirasakan Eunhee saat ini.

Maka sebelum ia sempat meledak, aku cepat-cepat melanjutkan. “Ah, padahal aku ingin sekali bertemu mantan kekasihmu itu agar bisa menonjoknya. Karena bila ia tak berbuat begitu, aku tak akan kesulitan begini mengurusimu.”

“APA?!!”

“Ssshhh…” kutempelkan telunjukku di bibir dan menarik kembali lengannya ketika kulihat ia sudah berdiri dari kursi. “Pelankan suaramu, ini bukan di pasar. Jangan membuat keributan. Kau ingin membuatku malu?”

Kulihat Eunhee duduk kembali. Tapi ekspresi di wajahnya masih menunjukkan bahwa ia marah. “Kalau kau memang ingin menghentikan pernikahan ini sekarang juga, aku akan menerimanya. Lagipula, aku tak pernah memaksamu untuk menikahiku. Kaulah yang menyodorkan dirimu padaku.”

Ya, karena aku memang menyukaimu, Lee Eunhee. Atau bahkan diam-diam… aku telah mencintaimu. Tapi semua kalimat itu tak pernah bisa terucapkan. Justru sebaliknya…

“Yeah, jika bukan karena kau yang memberiku ide untuk membuat kesepakatan menguntungkan ini. Aku tak akan melakukannya. Dan oh, jangan lupa bahwa aku pun tak pernah memaksamu. Kau yang datang sendiri ke kafeku untuk segera dinikahi.”

Sial Lee Donghae. Kau melakukannya lagi. Membuatnya kesal, huh?

Kali ini Eunhee kembali berdiri dari kursinya. Ekspresinya bahkan lebih menakutkan dari sebelumnya.

Lee Donghae bodoh! Kau baru saja membangunkan macan yang tertidur dalam diri gadis ini!

“Kalau begitu,” katanya lambat-lambat. Aku bahkan menahan napas, takut mendengar keputusan gila apalagi yang akan diambilnya. “Batalkan saja pernikahan ini!”

“Lee Eunhee… tunggu!”

Sial. Keisenganku membuahkan hasil yang buruk! Apa benar katanya bahwa selera humorku memang jelek?

Aku setengah berlari mengejar Eunhee, setelah beberapa saat sebelumnya aku terpaksa harus berhenti untuk membayar tagihan makanan kami. Ke mana perginya dia? Cepat sekali menghilang.

“Eunhee-ssi!” panggilku begitu melihat sekelebat rok coklat—yang seingatku tadi dipakai Eunhee—masuk ke dalam lift. Aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini secepatnya.

Aku menghela napas lega ketika berhasil menahan pintu lift dengan kakiku sebelum sempat tertutup. Dari sini, aku bisa melihat Eunhee mengatupkan bibir rapat-rapat. Menahan marah.

Setelah merasa napasku mulai teratur, aku masuk ke dalam lift dan membiarkan pintu itu tertutup rapat. “Apa kau baru mengenalku kemarin?” mulaiku dan kulihat Eunhee menatapku heran.

Aku sendiri terkejut mengapa justru hal itu yang kuucapkan, alih-alih permintaan maaf. Seperti yang telah kurencanakan sebelumnya.

“Aku memang baru mengenalmu sekitar dua Minggu yang lalu,” balas Eunhee datar.

Aku mendesah pelan. Berjalan mendekati Eunhee hingga kini jarak kami begitu dekat. Aroma ini… aku sangat menyukainya.

Aku berdeham canggung. “Begini, aku hanya bercanda. Selama dua Minggu bersama, kupikir kau telah mengenalku dengan baik. Maaf.”

Kudengar Eunhee mendengus. “Mengenal mantan kekasihku yang telah menjalin hubungan hampir setahun lamanya pun aku tak bisa, bagaimana kau bisa menuntutku untuk tahu tentangmu dalam waktu sesingkat itu.”

Bila menyinggung tentang Woobin. Dan melihat lagi bagaimana tersiksanya wajah Eunhee, ingin sekali rasanya aku meninjunya. Aku mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhku. Menahan diri untuk tak memeluk gadis di hadapanku ini. Aku yakin bila kulakukan, gadis itu akan semakin menghindariku. Aku tak ingin itu terjadi.

“Aku minta maaf,” ungkapku lagi. Tapi Eunhee diam saja. “Kita tak bisa membatalkan pernikahan ini, ayolah! Berhenti marah-marah,” tambahku saat dia tetap tak menjawab apapun.

“Kupikir kau tak tahu caranya minta maaf.”

Apa katanya? Aku menatapnya meminta penjelasan. Jadi, selama ini dia pikir aku sejahat itu? Oh, yeah. Jangan lupa Lee Donghae, kau memang selalu menampilkan imej kejam di hadapannya. Entahlah, aku selalu bisa bersikap manis pada gadis lain. Tapi padanya? Mulutku seakan-akan tak pernah bisa diatur. Mungkin benar kata orang, bila dihadapkan dengan sesuatu yang bernama cinta. Kerja otak dan hati lebih sering menjadi tidak sinkron.

Sudahlah. Itu tidak penting. Aku bersyukur karena akhirnya ia menunjukkan indikasi akan memaafkanku. Lebih baik ia mengomel daripada tiba-tiba pergi dan tak mau bicara denganku lagi.

“Yeah, karena kau aku terpaksa harus melakukannya,” kataku sengaja dengan dengusan keras yang menyatakan bahwa diriku tidak rela mengucapkan maaf.

Eunhee tertawa dingin. “Bukan demi aku, tapi demi modal usaha yang akan diberikan orang tuamu.”

Tidak. Demi kau. Sungguh.

Sampai kapan aku bisa menyimpan perasaan ini?

“Terserah padamu saja,” kataku pura-pura tak peduli. “Bagaimana kalau sekarang kita menemui Eomma? Dia terus-terusan protes karena sejak kemarin kau selalu tak bisa diajak belanja bersama karena terlalu sibuk menyiapkan pernikahan kita.”

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?” Aku mempercepat langkah mengejar Eunhee yang melangkah seperti orang kesetanan dari lift. Seolah-olah, aku akan mencengkramnya jika ia tak segera keluar. “Apakah ini ada hubungannya dengan jadwal tidurmu lagi?”

Kulihat Eunhee berhenti melangkah dan berbalik untuk menatapku. “Kalau memang iya, kenapa?”

“Oh, kudanil.”

Aku tak bisa menahan seringaiku lagi ketika melihat Eunhee tampak begitu geram. “Jangan ikuti aku lagi! Aku akan pulang sendiri!” katanya lalu tanpa memberi kesempatan untukku mengejarnya, ia sudah berlari, memberhentikan taksi dan berlalu. Sial!

Well, setidaknya… rencana pernikahan kami masih terus berjalan.

“Lee Donghae!”

Aku mendadak tegang. Entah mengapa, suara berat familiar ini membangkitkan amarah yang sudah lama tersimpan dalam benakku. Kim Woobin.

Aku berputar cepat. Benar. Lelaki bertubuh jangkung itu berjalan menghampiriku.

“Lama tak bertemu,” kataku dengan kesopanan dibuat-buat.

Seringai Woobin masih sama mengerikannya seperti dulu. Begitu pula tatapan matanya. Sama sekali tak berubah.

“Sepertinya, hubungan kalian sudah semakin dekat,” mulainya dingin. Ada tatapan tak suka yang jelas ditujukannya padaku.

Aku tahu yang dimaksudnya adalah Eunhee. “Jadi, kau mengamati kami sejak tadi?” balasku, tiba-tiba merasa sedikit terhibur.

“Aku tak sengaja melihat kalian saat di restoran tadi,” Woobin memberiku senyum mengejek andalannya. “Sebenarnya aku ingin menghampirimu dan mengatakan pada Eunhee bahwa tujuanmu sebenarnya hanya untuk balas dendam padaku.”

“Lalu… kenapa tak kau lakukan?”

Kudengar Woobin tertawa putus asa. “Tapi aku tahu kalian akan menikah dengan suatu kondisi. Hingga kupikir, tak aka nada gunanya mengatakan semua itu pada Eunhee.”

Entah mengapa kata-kata Woobin itu menimbulkan dua emosi berbeda di hatiku. Sebagian dari diriku merasa senang karena ia tak jadi mengacau hubunganku dengan Eunhee. Tapi sebagian lagi merasa miris, menyadari ucapan Woobin tadi seolah menegaskan bahwa hubunganku dengan Eunhee memang hanya sebatas ‘menguntungkan’ saja. Tak ada perasaan lain. Tak ada cinta di dalamnya!

Demi Tuhan, jika saja ini tak di depan umum dan bukan di depan hotel Appa. Aku pasti sudah menonjoknya.

“Ada yang salah?”

Pertanyaan Woobin menyadarkanku. Dan aku hanya bisa menggeram tertahan.

“Dari dulu, kau memang tak akan pernah menang dariku, Lee Donghae! Lupakan saja. Batalkan rencanamu menikahi Eunhee. Kalau kau tak ingin sakit di kemudian hari karena pada kenyataannya, dia masih mencintaiku.”

Aku mendengus keras. Tak peduli beberapa orang menatap kami heran. “Oh, kau percaya diri sekali!”

“Memang itu kenyataannya. Gadis mana yang tak akan tergila-gila padaku?”

Lagi-lagi aku mendengus. Rasanya ingin sekali mengeluarkan semua isi perutku di wajahnya. Memuntahkannya. “Hanya gadis gila yang akan tergila-gila pada lelaki sepertimu.”

“Yeah, gadis gila seperti Eunhee.”

Dia memang gila. Tapi aku yakin, dia tidak bodoh. “Kalau kau berpikir Eunhee masih akan memaafkanmu. Sebaiknya kau berpikir ulang. Dia tak sebodoh yang kau kira.”

Sebenarnya aku masih heran. Tidak biasanya, Woobin yang suka mempermainkan wanita menjadi begini berantakan hanya karena ditinggal Eunhee. Bukankah ia masih punya banyak stok wanita lain? Ia bahkan sudah mengkhianati Eunhee dengan meniduri sahabat gadis itu. Atau jangan-jangan… dia bersikap begini karena belum berhasil mendapat yang diinginkannya dari Eunhee?

“Ya, dia memang tidak bodoh,” Aku mendengar Woobin bergumam dengan sama putus asanya seperti tadi. “Karena itulah, aku tak ingin kehilangannya. Jika kau berharap dapat memiliki Eunhee. Sebaiknya buang jauh-jauh harapanmu itu!”

“Tunggu!” tahanku, ketika melihatnya berbalik akan pergi. “Sebenarnya, aku heran. Mengapa kau mengkhianatinya bila kau benar-benar menyukai Eunhee?”

“Itu bukan urusanmu!” balasnya sinis. “Sekali lagi kuperingatkan Lee Donghae. Jauhi dia. Atau… masa depan karir Ayahmu akan hancur.”

Sial! Aku tahu dia pasti akan melakukan itu!

TBC

85 thoughts on “Just Get Married [Chap 4]

  1. Finnaly keluar juga chap 4..

    Oh ayoo donghae, stop bikin eunhee kesel kalo kenyataannya kamu takut kehilangan dy.. Tapii bikin eunhee kesel emang yg donghae suka..^^
    Dasar ikaaann..

    Woobiiiinn,, pengen banget nonjok mukanya bareng donghae..

    Tenang abang ikan.. Aku akan dukung kamu ama eunhee.. 파이팅 ..!!
    Eunheee.. Jangan marah ama abang donghae..^^ dya tuuhh naksir berat ama kamuuu..

    Ditunggu part selanjutnya yaa EONNI..^^

  2. awal disuguhi waffle ice cream yg malah buat aku kepikiran dan pengen makan brownies#plakkagaknyambung
    nahkanyaaa.,.untung donghae langsung putar otak…wkkwkw
    eh si ‘mantan sahabat’ itu si cho neora kan??kalo gak salah inget udah dihadapakan dipart sebelumnya ya..oh ok gue aja yg lg lupa..hahaha
    donghae ssi ayo berjuang kalahkan woobin menyebalkan itu..hohoho
    aihhhh…gaunnya cantiiiiiiikkkkk….
    ditunggu selanjutnyaaaa…hohoho

  3. Rumit hubungan hae sam hee, ntar kalo kebongkar semua gimana coba?
    Kasih saran doang? Kasih foto donghae juga, busana yang dipake donghae, biar kebayang gitu, author suka jung so min atau karna kepeerluan ff nya?

  4. aigoo….nyebelin bngt si woobin eoonnn!!!!!!>,<
    bnr2 pngn q tonjok,heran jg uda brkhiant msh ja dkjar2,dasar pnggnggu -_-
    pdhl awal2 na sneng bngt,kl tw isi htiny hae bwaanny sprti lht org brkpribdian gnda,tp jg asik soalny hae uda jth cnt dluan sih ama hee,tryt prjlnn mnju prnikhan msh pnjg dan pnuh rntngan,hrs sbr nih jd reader,kekeke

  5. Satu hal yang selalu membuatku penasaran..
    Kenapa Woobin masih repot2 mengejar Eunhee?

    Apa ada sesuatu pada diri Eunhee, hingga Woobin repot2 mengejar Eunhee lagi ya? Hmmpp… sepertinya ini berkaitan dengan majalah deh…

    Donghae aishh… jinjja!!!

    Sudah tau cinta masih saja menyakiti Eunhee… huh… Nanti klo Eunhee betul2 membatalkan pernikahan mereka, baru tahu rasa!!

    Aku jadi pengen tahu bagaimana nanti mereka klo sudah married? Sepertinya bakalan seru tuh!😀

  6. Perperangan donghae dgn woobin sudah dimulai…bnr tuch kata donghae, klo woobin mencintai eunhee ngapain dy mengkhianati eunhee, jd penasaran sama alasan woobin. Saeng dijelasin donk..,??woobin brani ngancam appanya donghae. part bsknya eunhee n donghae menikah, supaya woobin ga dekatin eunhee..lanjut ya

  7. Donghae~ssi… muLutmu bener2 minta dibungkam. selalu memancing emosi eunhee. Lupa yahh kaLo eunhee bisa ajah bertindak spontan..*merana nanti kau oppa*

    woobin.. beneran reseh nih org. Percaya Diri sekaLi.. anak caLon presiden mau diLawan..
    *tampoLnihh*

    Chapter 5 semoga cepet pubLish..!!!! penasaran sangat nihh.

    Ny.Lee…. tetep semangat yahh.
    FIGHTING^^

  8. Bercanda nya gk lucu , untung aja eunhee mau maapin lah kalau gk ? Yaudah ama aku aja , terserah mau dgreja , restoran dmana aja deh asal bsa nkah ama dongeh😀 *plakk
    lagian kmana sfat romantis mu hah ? Gmana gk jengkel cba hee nya >,< tpi itu kok yg bking gmes ^^
    woobin kok picik bgt cih , mka woobin tuh gmana ya ? ^^'

    ditunggu next part nya ne eon :')

  9. sebel bgt sm woobin, udah ngkhianatin eunhee sm shbtnya pula tp msh aja ga mau nglepasin eunhee.. donghae oppa udah cptn nkhin eunhee biar woobin pergi jauh2 ~>_<~..

  10. hoakakkkkkk kemunculan perdana si CHOco :p
    udah bergelar mantan-calon-adek ipar dari mey, eh sekarang nambah mantan-calon-tunangan hae puahahahahhhhhhhhh *gulung2

    tapi nih agak2nya sifatnya menjurus ke licik.. mana naksir donge pula.. nguingnguing nih alaram bahayaku. aroma2nya bakal nyusahin ni anak di chap2 mendatang. tapi lagian si donge ama lee ngobrolin masalah penting gitu gak liat2 sekitar dulu.. gak salah si cho jg kalo jadi nguping :p

    si lee punya ponakan kembar, alamat emang bakal nampil nih si JinJin

    sukak ama gaya hae yg sok cuek padahal dalemnya heboh benerrrrr!!

    eia, itu ada nyebut2 suara berat woobin, pernah denger kah cuma nebak lee?? ahhh aku emg suka suaranya tuh!!❤❤❤

    ehh.. tp emangnya ada rahasia kelam apa itu bokap hae sampe diancem ama woobin?? makin rumit inih cerita.. tp KUDU emang!! fufufu lanjoooooooottttt!!! jgn2 chap depan giliran si sumey yak yg muncul??

    • CHOco??? hoakakakkkkkkk… anjingnya UNYUK donk :p
      busyeeeettt!!! gelarnya banyak amat dah wakakkakakkkk

      Lihat aja nanti Song, akankah si CHOco muncul lagi? kikikqqqiuuu *ngikik cantik*

      Oh, belom Song. Asal nebak sih. Tadinya takut salah, eh… taunya bener!! wakakakkkkk *memuji diri sendiri*
      sumey??? Hmmm… belom keknya :p

  11. Iisshhh si woobin ngapain sih masih ngarepin si eunhee,,,klo masih suka knp dia selingkuh??????

    Yak! Lee donghae klo emang suka ma eunhee knp malah bikin masalah teruss???
    Gemes deh sm donghae,tinggal bilang suka aja susah bgt*getokhae*

    udah mulai masuk ke konflik nih,,,jadi makin deg”an bacanya,takut eunhee tau klo hae mau bales dendam sm woobin😦
    jadi makin penasaran juga jadinya,huaaaaaaa mau baca lanjutannya lagi*toel hee*

  12. Oh ayolah hae, knp sllu bersikap menyebalkan sprti itu siiih, klo cinta, emng slah apa errrgghhhh ikan ikan huhuhu
    Ini lg si woobin, ngapain lg cba?! Jinjja, tuh namja atu bner” dah…
    Whoaaa, cannot wait for the married life part kkekeke😀

  13. Wanita lebih menggunakan perasaaan *aciyeee* haha masa udh ngehianatin masih berani? Bener juga sih kata nya hae -_____- yang ribut anak nya yg dibawa2 bapak nya :3

  14. “Memang itu kenyataannya. Gadis mana
    yang tak akan tergila-gila padaku?”

    si woobin pede nya kebangetann… gregetan deh…
    si eunhee knp marah2 mulu… lagi dapet po mbak? hehe

    abang hae.. segitu cintanya ma eunhee…. sampe ketakutan gt kalo ga jadi nikah. hehe

  15. Sebel ma Woobin. Kalo cinta ma EunHee knp dia berkhianat?! aish…
    LDH juga, suka tapi ga mau jujur. Makin penasaran jadinya.

    Lee Donge’, saranghaeyo
    *eaaaaa

  16. Aku baru baca😦
    Keren thor!
    Semoga aja Woobin ga nekad yaa..
    Author, cepet bikin Eunhee cinta sama Donghae ya?
    Aku ga tega liat Donghae tertekan😦
    next part ditunggu thor^^

  17. ckckckck
    donghae oppa bikin bercandaan yg terlaluan jdi bikin eunhee semakin marah, untung tuh eunhee gak jdi batalin nikah’a . . .
    aishh konflik’a tambah ajah, kesel liat woobin mau’a apa kali, udah nyakitin eunhee, malah mau ngerebut eunhee lagi -_-

  18. Onnie baru bsa comenthehehehe

    HUa,.. onnnie cantik bgd…ska swa wedding dressnya..hehehehe

    Astga hae, smpe kapan kmu bakal buat hee kesel hanya krn g bsa ngomong yg sebnernya?
    Bsa bayangin jd hee pasti kesel minta ampun…

    Hee punya saeingan..Neora.. boleh usul g onnie? kasi lyt dong ulzzang Neoranya jd bisa bandingin..hehehehe

    Dan wua, ternyta Wobin sma Hae punya sebuah masalah dulu..
    APa yg sbnarnya terjadi??

  19. semakin benci dengan sosok Woobin. sebaiknya Donghae jujur aja sama Eunhee, biar gk berantakan nanti. pasti Woobin berencana ngehancurin ayahnya Donghae dari tulisan di majalahnya…. zaman sekarang negara aja bisa dihancurin media, apalagi klo masih baru satu orang….

    next =====> Chap 5

  20. well, karena bete menunggu share-an di SJFF. maka kuputuskan untuk koment disini…
    mianhae eonn baru sempat..

    kyaaaa~
    cekek woobin
    apa maksudnya cobak? udah ngianatin eunhee,,, eh malah muncul lagi dan bilang kayak gitu ke dongek…
    pen gw gampar tuh org..
    #esmosi

    demi romeo yang romantisnya tak ketulungan prolog dongek membuatku nge-fly…

    demi apapun eunhee konyol…
    “kudanil”
    ngakak gulang gulang…

    sekian..
    lanjot baca next chap

  21. demi tuhan eonnie, kenapa koment ku hialang ya??
    aish!!!

    cekek woobin….

    ganggu hubungan orang aja!!!

    aduh, pan tadi malam aku udah koment panjang kali lebar….
    #next

  22. woobin sialan!! ><
    ayo lee donghae!!! Kejar eunhee sampai benar2 jatuh hati padamu. FIGHTING!!
    author jg! FIGHTING!!

  23. huaaaaaadaah makin rumit kayanya dah tar,donghae oppa ayo doank bqn eunhee jatuh cinta,woonbin kau bqn keki bgt.

  24. bau-baunya neora bakal jadi tukang rusuh nih disini.. ckckck..
    bener kata donghae, kenapa woobin masih ngejer-ngejer eunhee.. ga tau malu tuh orang..
    Pake ngancem donghae segala lagi…

  25. Sepertinya yang bermasalah memang orangnya! Haha, gilaa Donghae parah banget ngomongnya, kekeke, ngakak di sana. Aaaah! Mereka selalu lucu, kkkk.

    Kalo dipikir jauh sih emang aneh yah. Kenapa Woobin bisa hianatin Hee kalau dia emang beneran suka Kudanil. *eh?

  26. Woobin, woobin, woobin dan woobin mesti dihajar dia -_- aishhh greget sm peran dia yg arghhhhh donghae bener kl sekarang dia bukan ditempat dekat hotel ayah’a dapat dipastikan wajah woobin itu babak belur.

  27. Lama lama kesel juga tambah bagtt sama woobin
    Udah lah relain aj eunhee ma donghae napa

    Dan donghae knpa gx coba jjur aje sama perasaan kmu trhadap eunhee klo kmu cinta

  28. makin seru dan mkin panas aj ne konflik Hae sma Woobin…
    Dsar Hae ga bsa jujur sma Eunhee klo dy tu bnran ska sma Eunhee…

  29. baru bisa komen di part ini.
    jujur aja ga tau knpa malah kesel sama Donghae sama Eunhee.
    apa karena mreka blum bisa nyatu ya? malah jd ngeselin. huuffttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s