Just Get Married [Chap 3]

Chapter 3

 

 jgm

 

-Lee Eunhee, Buono Cafѐ-

Bila ada hal paling mendebarkan di muka bumi ini, kurasa itu belum seberapa dengan apa yang kurasakan sekarang. Rasanya seperti dipaksa menerjunkan diri ke sebuah jurang yang kau ketahui di bawahnya terdapat banyak sekali kawanan serigala. Taruhannya bukan hanya mati, tapi tubuhmu tak akan bisa ditemukan lagi. Betapa tidak, hari ini. Detik ini juga. Aku sedang menunggu seseorang menciumku, hanya untuk memenuhi syarat suatu kesepakatan. Oh, benar ini gila! Dan seolah-olah semakin ingin mempermainkanku, lelaki ini juga terkesan terlalu mengulur-ulur waktu.

Haruskah aku menyesal telah datang ke mari dan meminta bantuannya? Haruskah aku membatalkan saja semuanya? Tapi nasi sudah menjadi bubur. Aku tak mungkin mundur lagi karena kakiku sudah melangkah terlalu dalam. Ia hanya akan menertawakanku bila ini terjadi.

Darahku berdesir hebat merasakan betapa hangatnya sentuhan tangan besarnya di lengan atasku. Seandainya lelaki di depanku ini adalah seseorang yang kucintai, aku tak akan segan-segan untuk memulainya lebih dulu. Sayangnya, dia bukan. Dan kehangatan yang ditimbulkan dari sentuhannya membuatku takut akan ada akibat lain yang ditimbulkan.

Oh, Ya Tuhan! Kenapa dia belum memulainya juga? Tak tahukah ia betapa tersiksanya aku? Bukankah tadi ia bilang sedang terburu-buru? Lalu kenapa sekarang begini?

Aku sudah tak tahan. Ia terlalu lama mengulur waktu. Seolah-olah, ia sengaja ingin mempermainkan perasaanku! Refleks, kubuka mataku lebar-lebar, dan aku segera menyesalinya karena efek yg ditimbulkan dari memandang wajah tampannya dari dekat. Semua itu menimbulkan riak-riak menggelikan di sudut hatiku.

Sial! Seandainya saja pria yang kuhadapi saat ini tak memiliki mata seteduh dirinya, hidungnya tak semancung hidungnya, dan bibirnya… Ya Tuhan! Aku bisa gila!

“Kau jadi melakukannya atau tidak?” tanyaku, berusaha menyembunyikan kegugupanku. Membuang jauh-jauh pemikiran mesum dari otakku!

Kulihat dia tersenyum dengan begitu tenang. Menyebalkan sekali!

“Oh, tentu saja. Aku hanya sedang berpikir akan melakukannya dari sudut mana?”

Apa? Sudut? Dia pikir sedang melakukan pengukuran tinggi sebuah bangunan menggunakan sudut elevasi? Sialan!

Lagi-lagi kupejamkan mataku ketika ia mendekatkan wajahnya. Aku merinding  merasakan desah napasnya membelai permukaan kulitku. Anehnya, aku menyukainya. Seperti sedang dibuai sebuah tangan lembut dan—oh, apa ini?

Tubuhku menggelenyar. Sebuah sentuhan lembut dan hangat kurasakan di keningku, alih-alih bibirku. Kontan aku membuka mata dan merasakan sesuatu yang hangat melesak turun ke dasar perutku. Ia mencium keningku! Bukan di—Oh, Demi semua kebodohan Patrick Star! Kenapa aku harus merasa takut jika tujuannya hanya itu? Haruskah aku mengubur diriku hidup-hidup sekarang juga?

“Kenapa kau menatapku begitu?”

Aku tersentak kaget dan buru-buru menggeleng. Aku bahkan tak sadar telah menatapnya cukup lama. Memalukan! Tapi apa yang dilakukannya tadi benar-benar di luar dugaan! Ataukah… memang aku yang belum mengenalnya dengan baik? Entahlah!

“Tidak, tidak apa-apa.” Aku menggeleng dan mengalihkan perhatian pada tumpukan buku bersampul gambar makanan di atas meja.

Melalui ekor mataku, kulihat ia tersenyum. Dan aku benci dengan efek yang ditimbulkan senyumannya itu.

“Katakan saja kalau kau kecewa karena aku tak mencium bibirmu.”

Apa? “Tidak! Tentu tidak!”

Aiisshh… Kenapa aku jadi kelihatan seperti anak kecil yang takut ketahuan telah berbuat salah?

“Jangan bohong!”

Aku menunduk. Kurasa tak ada gunanya aku membantah, dia akan semakin mendesakku jika aku tak berkata jujur. “Yeah, kupikir… Kau akan… Begitu—Oh, aku sama sekali tak menyangka bahwa—”

“Jadi kau benar-benar kecewa?”

“Tidak. Sudah kubilang tidak!” Aku membantah keras-keras tapi dengan menyebalkannya dia malah tertawa.

“Aku berubah pikiran,” katanya sembari melipat tangan di depan dada.

Berubah pikiran? Jadi, aku tak salah jika pada awalnya menyangka ia akan mencium bibirku?

“Kurasa aku mau membantumu. Aku tak tega melihatmu ketakutan seperti itu.”

Entah dari mana aku bisa merasakan setitik rasa hangat mengaliri jantungku. Jadi, pria ini tak sepenuhnya jahat? Atau… jangan bilang dia sedang meremehkanku!

“Tuan aku—”

“Tapi ada syarat lain yang harus kau bayar untuk hal ini.”

Aku mendengus. Lihatlah! Sudah kuduga bahwa memang ada sesuatu yang diharapkannya.  Tak mungkin pria tampan berhati iblis ini akan berubah menjadi malaikat dalam beberapa detik saja.

Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Oh Ya Tuhan, tidak. Apakah dia membatalkan ciuman itu untuk mendapatkan  lebih? Jangan katakan bahwa ia tak akan menikahi seseorang yang bahkan untuk berhubungan seks pun ia tak mau.

“Katakan apa yang kau inginkan!”

“Anak.”

“Apa?”

Aku tak sadar telah berteriak hingga rasanya suaraku melengking tinggi.

“Seorang anak,” ulangnya lagi. Seolah-olah sekali saja tak cukup untuk membuatku kesal.

“Jangan main-main Lee Donghae-ssi. Semua itu tak pernah termasuk dalam perjanjian!” sergahku cepat.

Lagi-lagi Lee Donghae tertawa. Padahal bagiku ini sama sekali tidak lucu. Dari mana sebenarnya ia mendapatkan ide gila itu? Apa ia tak sadar bahwa pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan bisnis? Anak? Oh, ayolah… jangan bercanda!

“Eunhee-ssi, kita belum pernah membuat perjanjian apapun sebelum ini. Selain rencana pernikahan tentunya.”

Sial! Dia benar. Apa yang baru saja kulakukan?

“Kau ingat? Kita tak pernah membuat kesepakatan tentang apa yang dilarang atau boleh dilakukan saat pernikahan itu berlangsung. Apakah salah bila seorang suami menginginkan seorang anak dari istrinya? Kurasa itu wajar.”

Aku benar-benar kalah telak. Mulai dari masalah janji pernikahan di hadapan Tuhan, hingga masalah memiliki anak. Kurasa aku memang tak akan pernah menang jika berdebat dengannya. Mungkin juga aku yang terlalu bodoh hingga menganggap bisa mempermainkan sebuah pernikahan!

Aku mengambil tasku yang sebelumnya kuletakkan di sofa. Mendadak, semua harapanku sirna. Sudahlah, lebih baik berkata jujur pada Appa daripada membuat masalah baru. “Kalau begitu, kau cari gadis lain saja. Aku tak bisa memenuhi keinginanmu.”

Aku makin kesal ketika kudengar tawanya bukannya berhenti, tapi malah semakin keras. Di mana kepekaan sosialnya? Hingga ia sama sekali tak menyadari perbuatannya telah menyakiti hati seseorang. Oh, jangan mengharap kepekaan sosial dari Iblis, Hee!

“Ayolah! Aku hanya bercanda.”

Apa? Aku memutar tubuhku. Dia hanya bercanda? Setelah membuat harapanku hancur berantakan, sekarang ia mengatakan semua itu hanya bercanda? Selera humornya benar-benar buruk!

“Tidak ada syarat lain,” kata Lee Donghae yang kini sudah menghentikan tawanya. Walau bila dilihat dari tatapan matanya, aku yakin dia masih merasa geli. “Lagipula, bukankah kau telah memenuhi syarat yang kuminta.”

“Tapi—”

“Ciuman itu… Tak harus selalu dari bibir ke bibir kan?”

Lagi. Aku merasakan sesuatu yang hangat menyelinap masuk ke jantungku. Terlalu lama bicara dengannya, membuatku harus waspada pada kesehatan jantungku! Apakah ini taktiknya lagi? Sebaiknya ia bersikap jahat seperti biasa. Kalau seperti ini, aku khawatir akan jatuh terlalu dalam pada pesonanya.

“Kau… Tidak sedang bercanda kan?”

Untuk kesekian kalinya dia tertawa. Mungkinkah aku tampak begitu lucu baginya. Dia harus membayar untuk semua hiburan yang kuberikan padanya hari ini.

“Kalau begitu, bagaimana bila kita membicarakan tentang kesepakatan itu?”

-Nowon, Seoul-

Bila ada jalan lain selain berbohong, mungkin aku akan memilihnya. Bagaimanapun, berbohong adalah hal yang tidak benar, jelas berdosa dan bila ketahuan pasti tak akan termaafkan. Tapi, dalam hal ini kejujuran menjadi suatu hal yang sangat ingin kuhindari. Tentu saja karena Appa, siapa yang akan tega bila nyawa orang yang paling kuhormati itu menjadi taruhannya?

Aku ingat betul apa yang dikatakan Dokter Jang saat Appa baru saja melewati masa kritis beberapa minggu lalu di rumah sakit. Sebuah pesan yang membuatku harus ekstra hati-hati dalam menjaga perasaan Appa. Terlebih bila bersangkutan dengan harapan terbesarnya di masa tua.

Aku mendengus menatap sebuket Lili putih—bunga favoritku—yang kini teronggok muram di tempat sampah. Rupanya saat aku pergi tadi, Woobin mengirimkan bunga itu dan meninggalkannya di depan pintu ketika tahu aku tak ada di rumah. Aku memang telah mengganti pin pintu apartemenku, agar ia tak bisa lagi masuk seenaknya ke sini.

Aku kesal. Sungguh. Semua kekacauan ini tak akan terjadi jika saja aku tak salah memilih kekasih. Seandainya aku bisa memutar waktu. Aku akan mendengarkan komentar Hyorin yang berkata bahwa hubunganku dengan Woobin ibarat sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Ada yang tak sehat. Tapi dengan bodohnya aku mengabaikan semua itu. Hanya karena terlalu terlena pada perhatian dan semua sikap baik Woobin padaku. Kini, setelah semua terjadi, aku hanya bisa mengutuki diri sendiri.

Yang membuatku semakin jengkel, adalah sikap Woobin yang tak tahu malu. Setelah apa yang dilakukannya, ia masih punya nyali untuk datang padaku. Bahkan tak segan-segan ke rumah orang tuaku yang tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Sejak semalam ia juga tak berhenti mencoba menghubungiku. Mungkin ia marah setelah diusir Eomma dari rumah. Tapi kurasa ia memang pantas mendapatkannya! Seorang lelaki yang telah mengkhianati kekasihnya dengan sahabatnya sendiri, sama sekali tidak pantas mendapat maaf.

Aku berguling ke samping kanan dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Rasanya malas sekali untuk sekedar mengganti pakaian, setelah semua yang kualami hari ini. Aku tak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat di masa lalu, hingga sepertinya saat ini Tuhan ingin sekali menghukumku atas kesalahan itu.

Selesai berurusan dengan seekor buaya, dengan santainya aku melenggang masuk ke sarang macan. Menyerahkan diri dengan suka rela hanya karena iming-iming kebahagiaan Appa. Bila kuceritakan semua ini pada Hyorin, dia pasti akan memakiku bodoh atau bahkan mengomeliku satu jam penuh! Membuat keputusan tanpa pikir panjang lebih dulu, hingga menyusahkan diri sendiri adalah kelemahanku. Namun, apa yang bisa kulakukan sekarang? Kesepakatan sudah dicapai, aku sudah menandatangani kontrak gila itu, dan pernikahan akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

Well, walaupun aku telah menegaskan di dalam perjanjian itu bahwa ini hanyalah sebuah pernikahan bisnis. Berikut juga menuliskan banyak sekali batasan yang tak boleh dilanggar dalam kontrak itu. Tetap saja aku merasa khawatir. Aku bahkan masih belum sepenuhnya percaya bahwa kini aku terlibat sebuah perjanjian seperti yang terjadi di banyak cerita drama.

Ah, sial! Memikirkan semua itu membuat kepalaku sakit. Padahal aku sudah menguap berkali-kali, tapi rasanya sulit sekali untuk memejamkan mata.

***

Aku terbangun ketika mendengar bunyi bel dari pintu depan. Ketika kulihat jam yang menunjukkan pukul setengah 6 sore, aku baru sadar sudah 2 jam tertidur.  Siapa yang sore-sore begini datang mengganggu? Jangan bilang Kim Woobin. Ia tahu aku tak akan pernah membukakan pintu lagi untuknya. Percuma ia datang menemuiku!

Kuintip siapa yang datang melalui monitor cctv di sisi kanan pintu. Seorang pria. Memakai kemeja biru dan topi baseball hitam. Sepertinya ia kurir. Tapi aku tak pernah ingat telah memesan sesuatu selama beberapa hari ini.

Kubuka pintu flatku dan langsung disambut senyum pria itu. “Benar ini alamat Nona Lee Eunhee?”

“Ya, saya sendiri.”

Aku terkejut ketika lelaki itu menyodorkan sebuah kotak besar yang dibungkus kertas berwarna coklat.

“Ada kiriman untuk Anda.”

Aku mengernyit dan dengan malas menerima kotak itu. Pasti dari Woobin. Siapa lagi yang iseng mengirimkan paket untukku. Bila dia berharap aku akan memaafkannya dengan memberikan semua itu. Dia salah. Aku bukan anak kecil yang sedang merajuk dan akan kembali bahagia saat orang tuanya memberikan banyak hadiah.

Setelah kurir itu pergi. Kulemparkan kotak tadi di sebelah tempat sampah. Bersebelahan dengan Lili putih pemberiannya tadi.

Tak ada gunanya membuka kotak itu. Kalau sempat, aku akan mengirimkan lagi kotak itu ke alamatnya. Tapi bila tak sempat sebaiknya langsung kubuang saja. Aku tak sudi menyimpan pemberiannya, meskipun itu di tempat sampah. Hanya dengan melihatnya, aku sudah langsung terbayang pada kejadian sore laknat di apartemennya beberapa hari yang lalu.

Sebaiknya aku makan ramen saja. Perutku lapar karena siang tadi tak sempat makan. Kebetulan ada sisa kimchi yang dibawakan Appa beberapa hari lalu. Lagi pula, tak ada gunanya menyesali semua yang telah kulakukan. Dijalani saja dulu. Aku yakin pasti akan ada jalan terbaik di kemudian hari.

Aku membuka lemari makanan dan mengambil sebungkus Shin Ramyun dari sana. Persediaan ramenku sudah nyaris habis. Terlalu larut pada kesedihan dan masalah yang kualami belakangan, aku sampai lupa belum berbelanja kebutuhan sehari-hari. Yeah, tak kupungkiri niatku pindah ke Daegu juga menjadi salah satu alasannya.

Aku sedang  asyik menunggu ramenku masak ketika kudengar dering ponselku. Cepat-cepat, kumatikan kompor. Aku tak mau ambil resiko ramenku hangus seperti dulu. Saat aku dengan seenaknya meninggalkan masakanku ketika mendengar telepon berdering. Tidak ketika persediaan ramenku menipis.

Aku terkesiap menatap nama yang tertera di layar ponselku. Iblis tampan itu? Untuk apa dia meneleponku? Bukankah seharian ini aku sudah mengobrol panjang lebar dengannya.

Ragu-ragu, kutekan tombol penerima dan mendekatkan ponsel itu ke telingaku.

Kenapa lama sekali?” tanyanya bahkan sebelum aku sempat mengatakan halo.

“Ada apa lagi?” tanyaku malas. “Apa kau mau mengganti beberapa pasal dalam perjanjian itu?”

Apa kau sudah menerima paketnya? Aku baru menelpon ke perusahaan jasa pengiriman katanya paket itu sudah sampai ke tanganmu sendiri. Sebenarnya aku ingin mengantarnya langsung, hanya saja. Aku sibuk.

Paket? Oh, Ya Tuhan! Kontan aku melirik kotak berbungkus kertas coklat itu. Jadi kiriman yang kupikir dari Woobin, ternyata sebuah paket darinya?

Tadi aku dan Lee Donghae memang sudah bertukar kartu nama. Tidak mungkin kan kalau calon suami istri tak tahu alamat masing-masing? Ia bahkan berniat mengantarku pulang, tapi aku menolak cepat-cepat tawarannya itu.

Hey, kenapa tidak menjawab?

“Oh, ya. Hampir saja kubuang karena kupikir mantan kekasihku yang mengirimkannya.”

Aku bisa mendengar lelaki itu mendengus di ujung sana. “Kau harus mengurangi sikap terlalu terburu-burumu itu.

Aku tersenyum mengejek. “Ya, karena aku sadar, aku telah membuat kesalahan besar karena sifatku itu,” kataku penuh nada menyindir dan kudengar ia hanya tertawa mendengarnya.

Sudahlah! Bagaimana pun itu sudah watakmu. Sulit diubah.” Aku mendengus.

“Katakan saja ada apa kau menelponku?”

Ah benar, aku hampir lupa. Cepat buka kotak itu. Aku tak punya waktu lagi. Aku harus menjemputmu jam 7 malam ini.”

“Apa? Hey, Lee Donghae-ssi jangan ditutup du—sial! Apa-apaan ini?”

Aku melempar ponselku ke tempat tidur dengan gemas lalu melirik kotak coklat itu lagi yang kini masih tergeletak sembarangan di samping tempat sampah.

Sebenarnya apa yang diinginkan lelaki itu? Jangan bilang itu sebuah bom! Oh, Lee Eunhee… kau melantur lagi. Mana mungkin ia berniat membunuh calon potensial yang akan membantunya mendapat modal usaha?

Aku terperanjat. Antara bingung dan kaget. Paket itu berisi dua kotak besar. Kotak pertama berisi gaun sutra hitam tanpa lengan. Bermodel Backdrop dress yang berpotongan sangat seksi. Sedangkan kotak kedua sebuah heels cantik berwarna campuran hitam dan emas.

Saat pikiranku bertanya-tanya mengapa ia mengirimkan itu semua, mataku menangkap sebuah kertas yang ditempelkan di penutup kotak.

Malam ini orang tuaku meminta bertemu. Aku tak bisa menolak karena saat kuberitahu Eomma tentang rencana pernikahan kita, beliau langsung meneleponku dan memintaku datang bersamamu. Tak ada waktu lagi. Besok sampai minggu depan, Appaku harus terbang ke Thailand untuk mengadakan pertemuan bisnis di sana.

 

                                                                                                Lee Donghae

Bertemu kedua orang tuanya? Secepat ini?

Mendadak perutku mual. Apa yang harus kukatakan pada keluarganya nanti saat mereka bertanya tentang sejarah cinta kami? Tidak mungkin kalau kukatakan kami pertama kali bertemu di kedai samgyupsal, lalu dua jam kemudian memutuskan untuk menikah. Ini gila! Kami bahkan belum membahas tentang hal itu siang tadi. Oh, biarkan aku tenggelam di laut mati saja malam ini!

Aku melirik jam yang tergantung di dinding kamarku dan semakin bingung ketika menyadari Lee Donghae akan datang menjemput, satu jam lagi!

Demi Tuhan! Aku harus segera mandi dan bersiap-siap. Biarkan saja si iblis tampan itu yang mengarang cerita tentang kita!

***

Aku tak membiarkan Donghae masuk. Sebelum jam 7 tepat, aku telah menunggunya di depan gedung flatku. Syukurlah tak terlalu lama aku menunggu, karena sekitar 10 menit kemudian, Audi A5 putihnya muncul di ujung jalan.

“Kenapa di luar? Aku bisa menjemputmu di dalam,” tanyanya begitu ke luar dari mobil.

Aku hanya tersenyum tipis. “Sebaiknya kita berangkat saja. Aku yakin orang tuamu tak akan senang jika kita terlambat,” balasku tanpa mau menatapnya yang tampil luar biasa tampan dengan setelan jas mahal berwarna hitam dan dasi biru safir berliris silver.

Rupanya ia sengaja memilihkanku gaun hitam, agar serasi dengan jas yang kini dipakainya.

“Kalau orang tuaku bertanya sesuatu padamu, katakan saja kalau kita bertemu di kafe. Kau pelanggan tetap kafe-ku sejak lama, dan kita sudah menjalin hubungan sekitar setahun lamanya.”

Aku hanya mengangguk pelan mendengar instruksinya. Rasanya kegugupanku mulai muncul hanya dengan memikirkan akan bertemu keluarga Donghae. Bagaimana bila aku sampai kelepasan? Oh, sungguh! Aku tak terlalu pandai berbohong. Dan yeah, kau baru saja berbohong pada Appa dan Eomma, Hee! Jangan lupakan itu!

“… tentangmu. Kau mendengarku?”

“Eh? Apa?” Sial! Lari ke mana pikiranku tadi? Kenapa bisa tak mendengarkan instruksinya?

Entah kenapa lagi-lagi sesuatu yang hangat menyelinap ke sudut hatiku saat melihat betapa manis senyum pria ini. Tak akan ada yang menyangka bahwa pria pemilik tatapan lembut dan senyum menawan ini berhati iblis. Oh, betapa tidak adil dunia. Mengapa lelaki berhati iblis sepertinya memiliki wajah setampan ini?

“Kau gugup?”

Aku buru-buru menggeleng dan mengalihkan perhatianku pada jalanan padat kota Seoul. Harusnya aku tak memandangnya.

“Tenanglah, kau pasti bisa melewatinya.”

Aku terkesiap. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan di perutku. Tanpa sadar, pandanganku tertuju pada salah satu tangannya yang kini menggenggam punggung tanganku. Tapi tak sampai satu menit kemudian, ia langsung menarik tangannya kembali. Mungkin maksudnya adalah untuk menenangkanku. Ya, aku memang merasa lebih baik sekarang, tapi aku menyadari sesuatu yang lain mulai menelusup masuk ke dalam hatiku.

Tidak, Hee! Jangan bermain-main dengan iblis sepertinya. Sudah cukup kau dikecewakan satu kali. Tak perlu menambah daftar panjang kegagalan cintamu lagi!

Tapi, iblis mana yang memilih mencium kening seorang gadis pada saat ia memiliki kesempatan untuk berbuat lebih? Oh, ayolah Lee Eunhee, hentikan!

“Kita sudah sampai.”

Aku benar-benar tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Seperti orang linglung aku menurut saja saat Donghae menggiringku masuk ke sebuah bangunan megah berlantai dua di hadapanku. Bangunan bergaya eropa klasik dengan banyak sekali ornamen antik itu benar-benar membuatku terperangah.

Bila aku masih bekerja di W Magazine, aku tak akan segan-segan mengatakan pada Jungseok—salah satu rekan kerjaku di departemen griya—untuk mewawancarai pemilik rumah ini.

Apakah ia tinggal di sini? Tidak. Donghae bilang, ia tinggal di apartemennya sendiri. Mungkin karena hubungan Donghae dengan orang tuanya yang tak terlalu baik, hingga ia memilih tinggal sendiri di apartemen.

Belum hilang keterkejutanku, aku sudah dikejutkan lagi dengan banyaknya orang yang hadir di rumah ini. Sepertinya memang sedang diadakan sebuah pesta kebun, alih-alih makan malam sederhana. Kupikir, pertemuan ini akan menjadi pertemuan keluarga yang hanya dihadiri aku, Donghae dan kedua orang tuanya.

Kegugupanku meningkat seiring dengan begitu intensnya pandangan tamu-tamu yang hadir di sekelilingku. Mungkin dalam benak mereka bertanya-tanya, siapa gadis yang bernasib sangat beruntung hingga mampu bersanding dengan Lee Donghae yang tampan. Seandainya saja mereka tahu bagaimana Lee Donghae sebenarnya.

Tanpa sadar, aku menoleh pada Donghae. “Kau tidak bilang kalau kita akan menghadiri sebuah pesta.”

Donghae menghentikan langkahnya untuk menatapku dan lagi-lagi tersenyum. “Kau yang harusnya berpikir, Nona. Untuk apa aku repot-repot mengirimimu gaun bila hanya diadakan pertemuan keluarga biasa?”

Aku tercenung. Dia benar juga. Sebegitu bodohnya kah aku hingga sama sekali tak terpikir ke arah sana?

“Ayo, kita beri selamat pada Appa.”

Eh? Selamat? “Appamu ulang tahun?”

Lee Donghae tergelak. “Ucapan selamat bukan hanya ditujukan pada seseorang yang berulang tahun. Kau terlalu polos, Nona! Kau yakin pernah bekerja di sebuah redaksi majalah?”

“Berhenti mengejekku,” dengusku pelan. Takut ada yang mendengar pembicaraan kami.

“Appa sedang merayakan keberhasilan pembukaan cabang usaha barunya di Jeju. Sebenarnya, acara ini direncanakan diadakan di Jeju. Tapi karena besok Appa harus terbang ke Thailand—seperti kataku tadi—acara ini akhirnya diadakan di rumah.”

Aku mengangguk-angguk pelan, sembari terus melangkah bersamanya. “Ingat instruksiku tadi. Kalau kau tak ingat, sebaiknya diam saja.”

“Aku tahu—eh?”

Tanpa sadar, aku berhenti melangkah. Lelaki paruh baya berkaca mata dan memiliki paras simpatik di ujung sana. Bukankah dia… Lee Seok Woo? Aku ingat betul, beberapa saat lalu Woobin memintaku menulis artikel tentangnya.

photo11416

“Ada apa lagi? Kau sakit perut?”

Aku menggeleng pelan tanpa mengalihkan perhatianku pada sosok terkenal itu. “Appamu hebat, ia bisa mengundang seorang calon presiden ke mari,” kataku tanpa sadar.

Tiba-tiba Donghae terbahak-bahak. Oh, kali ini apa lagi yang ditertawakannya? Kenapa tawanya begitu keras? Apa ia tak malu pada tamu yang lain?

“Kalau yang kau maksud Lee Seok Woo, dia Appaku.”

Eh? Apa? Aku belum sempat berkata apapun ketika ia menyeretku mendekat ke tempat Lee Seok Woo dan beberapa orang rekannya berdiri. Mendadak, jantungku berdegup kencang ketika lelaki paruh baya itu tersenyum pada kami.

“Kupikir kau tak akan hadir.”

“Aku sudah berjanji, mana mungkin aku tidak datang,” balas Donghae sama berwibawanya dengan sang Ayah. “Selamat untukmu, Appa!”

Sudah lama aku mengagumi sosok Lee Seok Woo yang terkenal begitu peduli pada rakyat miskin dan anak-anak terlantar. Aku sama sekali tak menyangka bahwa si iblis tampan itu adalah putranya. Sebuah kejutan lain darinya!

“Aku cemburu kau tak menyapa Eomma. Apa karena kau bersama gadismu?”

Sontak aku dan Donghae menoleh ke asal suara wanita yang berdiri tak jauh dari Lee Seok Woo. Apakah beliau ibunya?

“Eomma!”

Kurasakan Donghae melepaskan genggaman tangannya untuk memeluk wanita itu. Untuk sejenak, aku bisa menangkap betapa hangatnya hubungan mereka. Tapi kenapa? Kenapa Donghae harus berbohong hanya demi meminta sebuah modal usaha? Apakah orang tuanya tak merestuinya membuka usaha sendiri? Oh, orang-orang kaya dengan segala keanehannya!

“Jadi, kau kekasih Donghae?”

Aku terkesiap. Lalu buru-buru menoleh pada pria simpatik itu. Rasanya seperti ada sesuatu yang berat membebani bibirku. Sulit sekali untuk sekedar menjawab pertanyaan darinya. Apakah ini yang dirasakan setiap gadis saat pertama kali berhadapan dengan calon mertuanya?

Well, memang bukan calon mertua sungguhan. Tapi kenyataan bahwa aku membohonginya, membuatku semakin kikuk dan salah tingkah.

Ye, Abonim!” balasku sembari membungkuk 90 derajat. Ah, bolehkah aku memanggilnya begitu? Mendadak, aku merasa tak nyaman.

Lee Seok Woo tersenyum dan menepuk-nepuk pundakku pelan. “Semoga Donghae memperlakukanmu dengan baik.”

Aku tersenyum saja saat Donghae melirik Ayahnya dengan tatapan tak terima. Baru kali ini aku melihatnya begitu. Selama aku mengenal Lee Donghae, ia selalu bisa menampakkan ekspresi tenang dan berwibawa di hadapanku. Tak heran bila ternyata dia adalah putra Lee Seok Woo.

“Eomma lihat sekarang, aku tidak gay seperti yang Eomma kira!”

Aku menoleh cepat ketika mendengar Donghae bicara. Gay? Apakah itu salah satu alasannya ingin cepat menikah?

Kulihat Ibunya tersenyum dan mengalihkan perhatiannya padaku. “Salahmu sendiri. Mengapa kau tak segera mengenalkan gadismu yang cantik ini padaku,” Wanita itu membalas. “Ah, kau belum memperkenalkan dirimu, nak,” katanya padaku.

Astaga! Aku lupa! “Lee Eunhee-imnida,” kataku, lagi-lagi sambil membungkuk. Entah ke mana perginya kecerdasan verbalku, hingga hanya bisa bicara sepatah dua patah kata saja di hadapan mereka.

Ibunya tersenyum dan merangkulku. Rasanya seperti mendapatkan keluarga baru yang hangat. “Mulai sekarang, sering-seringlah ke mari. Donghae bilang kalian akan segera menikah. Itu artinya, kau akan secepatnya menjadi menantuku.”

Aku mengerang dalam hati. Ingin rasanya aku mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Jika saja boleh memilih, aku akan memilih lelaki yang tak memiliki keluarga untuk melakukan pernikahan pura-pura ini. Jika begini, bebannya terlalu berat!

 “Ye, Eomonim.”

Balasan macam apa itu?

“Benar. Tentukan secepatnya tanggal pernikahan kalian. Kalau bisa, sebelum kesibukan pemilu berlangsung.”

Kali ini Lee Seok Woo kembali bicara. Yeah, tentu saja. Ia akan sangat sibuk pada bulan-bulan itu. Mana mungkin dapat me-manage waktu mengurusi pernikahan putranya?

 Somin [March.29.2013]-4

Aku menyesal telah memakai gaun ini. Mengapa harus ada bagian terbuka di punggungnya? Aku bisa merasakan punggungku menggelenyar saat tangan Donghae tiba-tiba  menyelinap dan menyentuh permukaan kulitku yang telanjang. Hangat, dan menimbulkan sensasi aneh yang seketika itu juga menjalar ke sekujur tubuhku. Awas saja kalau dia melakukan ini untuk mengambil kesempatan!

“Kami bahkan berencana akan menikah bulan depan. Kalau Appa dan Eomma tak keberatan.”

Aku bersumpah bisa melihat betapa kagetnya orang tua Donghae.Tapi itu hanya terjadi dalam beberapa detik saja, karena pada detik berikutnya sepasang suami istri itu kembali tertawa lebar.

“Kalau memang begitu, segeralah diresmikan saja!” Abonim mengusulkan.

Aku menghela napas pelan. Entah mengapa, rangkulan tangan Donghae di punggungku membuatku merasa lebih tenang. Ia seperti sedang membantuku mengangkat beban berat ini bersama-sama.

“Sebenarnya, sudah berapa lama kalian berdua berhubungan? Bila dilihat dari kemantapan kalian menikah. Aku yakin pasti kalian sudah sangat mengenal satu sama lain,” Eommonim bertanya. Walau tak ada sedikit pun nada menyelidik dalam suaranya, entah mengapa aku merasa seperti sedang diinterogasi di kantor polisi.

Inilah saat-saat paling mendebarkan itu. Bagaimana bila aku salah bicara? Oh, Albert Einstein! Bantu aku mengingat semua yang Donghae katakan saat di mobil tadi.

“Sekitar satu tahun,” balasku agak tidak yakin. Entah mengapa semua instruksi yang diberikan Donghae saat di mobil tadi, mendadak buram dalam ingatanku.

Aku menunggu selama sekian detik, karena tak ada pergerakan dari Donghae, kurasa jawabanku tepat. Syukurlah.

“Ah, ternyata sudah cukup lama. Harusnya kau mengenalkannya lebih cepat, Hae,” protes Eomonim. “Setidaknya, agar aku bisa lebih mengenal calon menantuku. Dan aku tak salah paham lagi tentang rumor tidak sedap tentangmu yang sedang beredar itu.”

Rumor tidak sedap? Apakah tentang kabar gay itu? Saat pulang nanti, dia harus menjelaskannya padaku.

“Ah, sudahlah Eomma. Lupakan itu! Setelah kami menikah. Eomma pasti akan sangat mengenalnya,” sergah Donghae cepat. “Benarkan, sayang?”

Aku hanya mengangguk canggung dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Yeah, mengenal si iblis tampan ini pun belum. Bagaimana aku bisa mengenal kedua orang tuanya?

“Kau teman kuliahnya?”

“Tidak.”

“Ya.”

Aku terperanjat. Kontan, aku dan Donghae saling bertukar pandang. Bagaimana ini? Orang tua Donghae pasti curiga karena kami menjawab satu pertanyaan—yang sebenarnya amat sangat mudah—dengan jawaban yang sama sekali berbeda. Bodoh! Baru saja lolos dari satu pertanyaan, tapi aku sudah terjebak di pertanyaan lainnya.

Jika saja bisa meminjam pintu ke mana saja milik Doraemon. Aku pasti sudah kabur ke antartika!

TBC

91 thoughts on “Just Get Married [Chap 3]

  1. Eoh gimana tuh??
    Semoga aja Eunhee sama Donghae bisa nemuin jawaban yang tepat ya..
    Ditunggu next part ya thor!

  2. koq tiba” rambutnya so min (eun hee) pendek si’ thor ???
    sebelumnya kn panjang ??? “==
    kg ad cerita nya kalo eun hee potong rambut pendek ? apa salah gambar ?
    (“–)
    LANJUT thor next part langsung aja nikah kg usah lama” thor …. ><

  3. ahahahhahahaa…..nahlooohhhh…..keceplosan deh…udah tersusun sesuai rencana pda awalnya dan ketidak singkronan ada di akhir…wkwkkwkw. eunhee banget…
    aku telponin doraemon buat minjem pintu kemana aja deh…wkkwkwk tapi bukan donghae namanya kalu gak bisa menemukan alasan yg tepat..wkkwkw.tapiii bsk yg bakalan ngejelasin siapa tuh?#kepo
    eunheeeee…cantiiikkk..ehhhhh….

  4. Rambut eunhee nya ko pendek ya eon?kpan ptong rambutnya. ?
    Tpi eunhee tetep cntik ko. .he

    hebat yah ayahnya donghae. . Sebenarnya mksud donghae cpet2 menikah itu apa ya eon? Gk mgkin cuma gara2 ingn dpt modal bsnis. .

    D tunggu part selanjtnya eon, ,jgan lama2, semakin penasaran. .

  5. Wkwkwkwk,,,,,,jadi senyum-senyum gaje sendiri nih oen gara” baca nih ff,,,,
    kenapa skrg yg babo jadi si eunhee????*plak*
    kayanya nih couple emang pantes dijulukin “minus couple” ya😀

    tapi,,,,,,kenapa pendek saeng??????
    Padahal lagi seru nih😦
    semoga next part lebih panjang*ngarep*hehe

  6. hoaaaaaaaaaa!!! kirain udh bener ajah itu si hae minta anak, taunya becanda.. tapi sih paling sebenernya emg mau tuh si hae, cuma gara2 eunhee mo kabur cepet2 bilang becanda :p
    apakah dua JIN itu bakalan muncul ntar?? fufufu~

    ikut ngakak bareng hae pas lee dengan polosnya nyeletuk bapake hae hebat ngundang calon presiden, padahal kan tu calon mertua.

    sukak pas tangan donge nakal2 nyentuh punggung lee.. bayanganku langsung gimanaaaa gitu~

    hoakakkkkkkkkkkkkkk dan khas drama2 ttg pemboong, pasti jawabannya jadi beda2 gitu.. bikin gregetannnnn!!!

    lanjuuuuutttt leee!!! aku g sabar nunggu scene malam pertamanya puahahahahhhh

    • Issssshhhh… KAMVREEEETTT!!!! anak gw disebut duo JIN :3
      Hahaha… kamu mah gak heran klo sukanya di bagian ituh Miss Yadong >_<

      Aduh, aku juga gak sabar pen ngetim bagian ituh Song! Tapi musti tahan dulu kikikikik :p

  7. Nah Lho… kok jawabnya beda githu..?? wahh.. Hee bener2 cari masalah gara2 ga dgr instruksi Donghae tadi.

    Hee.. bersiapLah menerima pesona dari iblis tampan itu!!!!!!

    Next chapter jgn lama2 yah Hee…trus lbh panjang Lagi ..!! hehe*ttp maksa

    FIGHTING^^

  8. Tuu kan….
    Jwaban nya g’ singkron..
    Tegang banget pastinya ktemu calon mertua, wajar aja gugup n jadi ngblank gtu otak nya..
    Hadeehhhh

  9. Jiahhh knp tbc hehehe… Di part ini skrg pov lee eunhee. Sptnya bakalan cpt jatuh cinta nieh lee eunhee sama donghae…jd gregetan nieh sama tingkah eunhee yg ga mau tp mau kaya kucing aja hehehe. Ya wes lanjut ya

  10. Tanggung iiiiihhhhh.. #geregetan *gigit donge*
    Lanjutannya secepatnyaa yaaaa..

    Yg part3 aku ga nyangka udah jadi aja..ehehehe

  11. hohohoho……sprti prkiraan g lama2 bs bc part slnjtnya,neomu joha…:)
    emng deh si donghae so sweet bngt,jd pngn tw apa yg da dpkirannya donge eon,pasti dluar dugaan..dan kl g slh tebak prmintaan soal anak bkn hny brcnda,hehehe…hrs sbr nugu donge pov d part slnjtnya @_@
    hee,kau slh bsr jk mnyangka hae brhti iblis😀
    ayo ayo ayo cpt married….kkkkkkk

  12. Onnieeee…kekekeke
    bca yg ketiga dulu, yg kedua blom..*plok

    Wua, ap yg terjadi sblumnya..
    cihuy, so sweet bgd sih cma cium kening pdahal bsa dpt lbih..
    gmna bingungnya hee bsa sEng bayangin..😄

    berbohong memang sulit, ap lge yg terlibat dua org, jd musti ad koordinasi spya g ad yg salah..
    dan jenjeng, cri alasan hee or hae, jka kalian tdk ingin dicurigai..😄

  13. Hahahahahahaa..
    Lucu bgt eunhae couple disini,, apalagi kalo diliat dari eunhee pov..
    Dan ceritanya makin seru aja..
    Fighting for next chapter🙂

  14. Eoh? Eottheokhae??? Knp jwbannya beda ?? Hahaha
    Ecieee bpkx si iblis tampan calon presiden hehe
    Oiya eonn, sjak bca ff ini, aku tuh ngebayangin klo kim woobin itu adlh kim woobin yg main di school2013 lohh kkekeke *abaikan*
    Huaaa cannot wait for the next chap, gidarilkkeyo😀

  15. Wuaah mkin seru , napa sgala kartun dbwa” dora nya blom tuh haha
    sumpah polos bgt insung pas blang appanya dongeh hbat bgt ngundang president😀
    Cieee yg jdi menantunya ^^

  16. Bercanda ny gk lucu dongeh *toel kpala dongeh
    kurang apa lg coba ikan glembung ini , hee bruntng bgt bsa dpaten tuh ikan *envy
    tangan nya gk bleh nakal ne dongeh !
    Gk bleh cri ksemptan dlm ksempitan >,<

  17. Hahahahaa…

    yeee… eonni baik banget! Cepat post chapter 3..😀 *terharu*

    Spertinya Eunhee bakalan cepat menyukai Donghae nih.. Tapi, apa yang bakalan mereka lakukan dengan tidak sinkronnya pertanyaan mereka di scene terakhir?😀

    Ahh… eonni..
    Semoga next part cepat juga publishnya ne?😉

  18. nahlo jawabannya beda gmn tuh thor reaksi bonyoknya donghae ?
    Andai yg ikut pemilu donghae psti aku lngsung coblos dia keke , dilanjut yaa thor *kedip2 mata

  19. DAEBAKK!!! aku baru mo comment di part 1 ternyata eh ternyata uda sampe part 3 (akunya yang salah sih, commentnya telat)..

    wuah seru- seru, ayo eunhae.. apa yang bakalan dilakukan selanjutnya..?? bete banget sama si woobin, bikin rusak suasana aja..

    ssaeng-i aku penasaran sama part selanjutnya, semoga idenya banyak mampir ke kamu biar part selanjutnya bisa cepet di post, kkk (ngareeepppp…) ^^

  20. Pertama mau komen baju jung so min (•ˆ⌣ˆ​​​​•)
    Pas liat jung so min pake baju hitam itu langsung kepikiran, kalo di masukin ke ff bagus nih, eh akhirnya dimasukin, maklum jung so min bias ku.
    Dia cantik pake luar biasa pake gaun itu.
    Kalo ffnya selau daebak deh, walaupun terlalu banyak yang bisa ditebak nih pas baca, next sudah nikah kah?

  21. Aaaaaaaaa mau uts bukan nya belajar biomekanika malah belajar kehidupan DONGHAE-EUNHEE >< hahahaha kocak banget ending nya! Ya-tidak! Sekak mattt~ papah – mamah nya hae baik sangat yah ^^

  22. omo…. cute bgt si eunhee itu…. apalagi pas adegan dy bilang “appamu hebat sampai bs mengundang calon presiden” aq ketawa ngakak pas baca ini.. dy lolos bgt.. tp memang siii secara ga tau apa2..
    aduh bang Hae.. pnya perusahaan gede gt knp g mau ngurusin? trs siapa ntr yg ngurusin? anakmu? kkkk

    aa… aq udah liat fto somin yg pake gaun itu…. walau tu gaun bagian belakangnya kebuka bgt… tp cantik.. aq suka rambut pendeknya…

  23. O.o gimana ne? Yg 1 ya yg 1 lg gak !
    Gawat. . . . Bakalan ketauan gak ya?
    eonnie, saia penasaran yg jd woobin itu gimana sih wujudx?….

  24. sexy hee with handsome Hae… hahahahahaha

    berasa Eunhee itu jadi cinderella… Pasti dia gk pernah mimpi bakal jadi menantu calon presiden… kekekekeke….

    Ok, satu pertanyaan mudah tapi jawabannya berbeda? itu cukup fatal!
    Next========> chap 4

  25. waduuuh gimana tuh nasib Eunhee ..
    Dasar Donghae si iblis..
    aku suka thor. untung ada yg ngasih link wp nya …
    aku biasa baca di sjff fbku yg cliquers itu loh

  26. Annyeonghaseyo…..!!!
    aku reader baru disini , aku nemuin part 1-2 nya d fb..
    jd ak komen d part ini aja ya… hehehe

    demi ketawa gusi eunhyuk, cerita ini keren banget thor… hehe

    di part depan ada “demi” apa lagi ya..?

  27. AAAAH….. makin melting baca perlakuan donghae sama eunhae…
    thanx udah sempatin nulis ff bagus kayak gini. Keep writing!!!

  28. Wahaha, tuh kan! Donghae gak bakalan berani cium bibir, kkk. Dia kan pria sejati! #goyangsejati walaupun kiss-nya di jidat, tapi di buat wow sama kata*nya, wwk

    Kan tadi Donghae bilang “Ayo ucapkan selamat pada ayahku!” aku juga ngira ayahnya Dongek ulang tahun. Mirip banget pemikirannya sama Eunhee. Wakakak, aku sama dodolnya dongs? #gigit jari

    Ikutan ngakak haha pas Donghae bilang ayahnya itu presiden. Eunhee lucu banget! Dia polos, wkwk

    Gaunnya wow, seksi ><

  29. wkwkwkwkwk =)) =)) =))
    Hrsnya mereka nikah itu secepatnya xD
    Trs bwt anak xD lol
    Aku maunya eunhee itu cepet2 suka sama hae-_-
    Kan kasian ya hae sendirian suka sama eunhee -_-
    Aku ketawa wkt mereka jawab pertanyaan ortunya hae dgn jwbn gak kompak lol

  30. eunhee kayaknya tingkat hormonnya tinggi yaaa..sekali sentuh sudah menggelayar di tubuh…hehehe
    sentuh aja donghae biar g kuat hahahaha

  31. kyaknya uda mlai ad perasaan ne eunhee sma Hae tpi blom sdar aj klo dy uda mlai sma si iblis tamfan na it… Hhahahaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s