Just Get Married [Prolog + Chap 1]

Just Get Married

JGM

Annyeoooooong!!! Aku ingin memperkenalkan FF baru. Ampun jangan digetokin, iya tau yg laen aja belom beres. Tapi mau gimana lagi klo idenya terus ngedesek-desek buat ditulis? hahaha… Semoga gak pada bosen yah baca FFku. Yang laen tetep aku lanjutin kok. Tapi mungkin, jadi makin molor lagi *diinjek* 

 

PROLOG

“Kita menikah saja!” Aku sendiri terkejut mengapa bisa berkata begitu. Mungkinkah ini pengaruh alkohol yang kuminum? Tapi aku yakin aku belum mabuk. Aku baik-baik saja dan sepenuhnya sadar dengan apa yang kulakukan. Aku bahkan ingat hanya menghabiskan dua sloki kecil soju.

Kemarin, Appa—dalam kondisi yang tak sepenuhnya sehat—memaksakan diri datang ke Seoul hanya karena ingin bertemu dengan calon menantunya. Penyakit jantung koroner parah yang dideritanya membuat Appa sedikit memaksaku untuk segera menikah. Ia tak ingin pernikahanku tak dihadiri olehnya. Mengingat betapa besarnya keinginan Appa untuk menggiringku menuju altar dan memberikan tanganku pada lelaki yang akan menjadi suamiku kelak, membuatku tak bisa berkutik lagi.

Sore itu dengan harapan besar untuk segera menikah, aku datang ke apartemen kekasihku tanpa memberitahu lebih dulu. Namun, rencana yang telah kususun dalam otakku tak sepenuhnya berjalan dengan baik. Siapa yang mengira bila lelaki yang selama ini mengaku cinta dan berjanji akan segera menikahiku berbuat sesuatu yang membuat hidupku serasa berputar. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kekasihku yang tampan dan kupikir baik sedang bertelanjang dada dengan salah seorang sahabatku di apartemennya. Aku sesak tentu saja. Tapi aku tak bisa berkata apapun selain menangis dan segera membawa diriku pergi dari tempat terkutuk itu.

Kini, setelah semua peristiwa buruk yang kualami, dengan tenangnya aku berkata begitu pada seorang pria yang baru saja kukenal. Hanya karena pria itu memiliki masalah yang hampir sama denganku. Well, tidak sepenuhnya serupa. Hanya saja, penyelesaian untuk masalah itu yang sama.

Kita perlu menikah. Maka semua masalah akan beres. Aku tak perlu khawatir lagi pada tuntutan Appa dan lelaki ini juga bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi, apakah ini benar-benar keputusan yang tepat?

Oh, mendadak aku merasa mual dan menyesali apa yang telah kukatakan. Aku bahkan tak mengenalnya. Kami baru saja bertemu, dia yang sedikit mabuk bercerita panjang lebar tentang masalahnya. Lalu dengan tenangnya, aku mencetuskan ajakan menikah. Seolah-olah menikah hanyalah suatu permainan yang dalam dua atau tiga jam akan selesai. Yeah, dia pasti akan menganggapku gila. Asal dia tak menganggap serius ucapanku tadi, kurasa itu tak masalah. Setelah malam ini, kita akan pulang ke rumah masing-masing dan melupakan apa yang baru saja terjadi.

Kuedarkan pandangan ke seluruh kedai. Sudah sepi. Hanya ada aku, dia, dan dua orang lelaki di sudut kiri ruangan. Refleks, aku melirik jam tangan lelaki di hadapanku. Jam 1 lebih 22 menit. Pantas saja.

Kurasa aku harus segera pulang dan mengakhiri semuanya. Tidur nyenyak, dan kembali ke rutinitasku esok paginya. Aku yakin Appa bisa menunggu. Ya, Appa akan sehat. Mungkin itu yang Tuhan ingin sampaikan padaku lewat masalah ini.

“Kurasa itu ide yang bagus.”

Aku mengurungkan niatku beranjak dari kursi ketika mendengar suara lelaki di hadapanku. Ide yang bagus? Tidak. Kupikir kebisuannya menunjukkan bahwa dia tak menganggap penting usulan gila dariku. Demi Tuhan, aku memang gila. Tak perlu ditambah pertemuan dengan lelaki gila lainnya.

“Jangan pura-pura bodoh,” katanya tenang, lalu meneguk satu sloki soju lagi.

Kuhela napas pelan dan menatapnya lurus-lurus. “Begini, tadi aku hanya—“

“Kita menikah saja. Itu pilihan terbaik. Aku bisa mendapatkan modal dari orang tuaku, dan kau bisa memenuhi harapan orang tuamu untuk segera menikah. Sesederhana itu.”

Tapi ini tak sederhana. Menikah, bukan suatu hal yang sederhana! Ya Tuhan, aku membuat kesalahan besar. Pria ini gila! Ya, dia gila!

“Benar. Tapi kita tak saling mencintai bahkan mengenal pun tidak. kau tidak takut aku berasal dari keluarga yang kurang baik? Sebegitu mudahnyakah kau memutuskan untuk menikahi seseorang?”

Lelaki itu tergelak lalu mengusapkan tangannya di wajah. Tampak sangat frustasi. Dia memang tampan. Memiliki mata bening yang lembut, berhidung mancung dan bibir tipis sempurna. Kulitnya yang putih semulus kulit bayi. Dan rambut hitam kelamnya membingkai wajah itu dengan begitu sempurna.

“Bukankah kau yang lebih dulu mencetuskan ide itu? Aku hanya mengikuti saja.”

Sekali lagi aku menghela napas. “Iya, aku tahu. Dan aku menyesal telah mengatakannya. Setelah dipikir-pikir, aku tak mau menjatuhkan diriku ke dalam masalah lainnya dengan memilih menikahi seseorang yang sama sekali tak kukenal.”

Lagi-lagi dia tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya. “Kau tak bisa menjilat ludahmu sendiri, Nona.”

“Apa?”

“Sesuatu yang sudah diucapkan. Tak bisa dibatalkan lagi.”

Sial. Sial. Sial! Lelaki macam apa yang sedang kuhadapi saat ini? “Jadi, kau setuju dengan ide gila yang kucetuskan tanpa pikir panjang itu? Kau sungguh-sungguh ingin menikah dengan gadis yang sama sekali tak kau kenal?”

“Kenapa tidak?” tanyanya sembari mengangkat bahu. “Begini saja, aku hanya perlu melakukan satu hal. Bila ini berhasil, kita akan menikah dan bila tidak, aku akan menganggap masalah ini selesai.” Dia menambahkan masih dengan ekspresi tenang dan datar.

“Satu hal?”

“Ya.”

“Apa itu?”

“Kita berciuman satu kali. Bila aku tak menyukainya, aku bisa menyudahi masalah ini.”

Aku terbelalak. Sejenak lupa caranya menutup mulutku dengan benar. “D-dan, bila kau me-menyukainya…”

“Kita menikah!”

Chapter 1

 

 

 

-Lee Eunhee, W Magazine Building-

Mengundurkan diri secepatnya. Hanya kalimat itu yang ada dalam benakku sejak semalam. Semua itu bukan hanya ada dalam pikiranku, aku bahkan telah bertindak dengan membuat surat pengunduran diri. Tapi kini, setibanya di kantor, aku menemukan diriku ragu. Benarkah keputusan yang akan kuambil? Haruskah aku mengorbankan karir yang telah kurintis selama hampir satu setengah tahun ini? Tapi bila memikirkan aku harus selalu bertatap muka dengan Woobin—yang merupakan atasanku di sini—aku benar-benar muak. Terlebih bila harus melihatnya bersama gadis itu. Sial!

Aku bersandar pada punggung kursi. Mengamati setiap sudut ruang kerjaku bersama tiga orang rekan lain. Saat ini masih sepi. Aku sengaja datang pagi-pagi sekali untuk berkemas, lalu setelah semuanya beres aku hanya perlu menyerahkan surat pengunduran diriku melalui sekertaris Woobin. Sungguh, aku tak sanggup bila harus bertemu dengannya lagi. Lebih tepatnya, aku tak sanggup untuk tak menamparnya bila harus berhadapan dengan lelaki menyebalkan itu.

Bagaimana tidak. Bayangan tubuh telanjang Woobin dan si pengkhianat itu terus terbayang dalam benakku. Rasanya sakit. Tapi anehnya, tak ada lagi air mata yang jatuh dari sudut mataku, yang tersisa hanyalah kebencian yang menyesakkan setiap inchi dari tubuhku.

“Oh, apakah akan turun salju? Tumben sekali kau datang sepagi ini!”

Hyorin. Salah seorang rekan kerjaku. Sekaligus teman baikku di kantor ini. Aku pasti akan merindukan celotehannya nanti.

Maafkan aku, Hyorin. Aku harus segera pergi dari tempat ini.

“Ya! Aku bertanya padamu. Kenapa kau diam saja? Apa kau tuli?”

Aku tersenyum. Lihatlah, pagi-pagi dia sudah mengomel. “Hyo, aku ingin minta maaf kalau seandainya aku pernah berbuat salah padamu.”

Aku bisa melihat Hyorin mengerutkan kening bingung. “Jangan menakutiku, Hee!”

Sekali lagi aku hanya bisa tersenyum. Entahlah, rasanya berat sekali bila harus meninggalkan tempat ini. Namun hatiku terlanjur sakit. Aku sudah bertekad untuk mencari peruntungan di tempat lain.

Bicara soal peruntungan, mendadak pikiranku melayang pada kejadian di kedai samgyupsal malam itu. Demi ketampanan Hyunbin! Rasanya ingin sekali mengubur diriku hidup-hidup.

Lelaki gila itu… aaaarrghhh….

“Astaga! Kenapa kau berkemas? Kau tak bermaksud untuk—“

“Aku akan mengunduran diri,” potongku cepat. Aku tak tahu sejak kapan Hyorin berdiri di sisi meja kerjaku dan kelihatannya ia terkejut melihat barang-barangku sudah terkemas di dalam sebuah kardus besar.

“Kau yakin?”

Aku mengangguk.

“Kenapa?”

Haruskah aku menceritakan semuanya pada Hyorin? Ah, tidak. Aku tak mau dianggap sebagai gadis penyebar gosip. Well, walau sebenarnya itu bukan gosip. Tapi sudahlah, aku ingin menutup semua lembaran hidupku bersama Woobin. Mengungkit semua itu lagi hanya akan memperparah lukaku yang belum sepenuhnya sembuh.

“Aku bosan.”

“Bosan, huh?”

Hyorin bukan gadis bodoh. Aku yakin dia tak akan percaya begitu saja. Ia paham kesenanganku menulis. Pasti terdengar aneh bila tiba-tiba aku memutuskan berhenti dari pekerjaanku sebagai salah seorang penulis artikel sebuah majalah ternama di Seoul, hanya karena bosan. Oh, ya. Memang aneh sekali kedengarannya. Sayangnya, otakku sudah tak sanggup memikirkan alasan lain lagi.

“Yeah, be—“

“Pagiii!”

Oh, terima kasih Wookie. Kedatanganmu menyelamatkanku dari kewajiban menjelaskan pada Hyorin. Dan sebelum ia sempat bertanya lagi, aku harus segera pergi dari sini.

“Ya! Lee Eunhee… apakah tempat lain membayarmu lebih?!”

Samar-samar, aku masih bisa mendengar teriakan Hyorin. Seandainya saja masalahnya sesederhana itu. Aku pasti akan lebih memilih tetap di sini daripada menerima tawaran kerja di tempat lain.

***

Aku lega Woobin belum datang saat aku menyerahkan surat pengunduran diriku melalui Soojin sekertarisnya. Bukannya aku pengecut, aku hanya malas melihat wajahnya. Seperti kataku tadi, aku tak bisa berjanji bisa menahan diri bila harus bertemu dengannya lagi.

“Apakah ada masalah? Kenapa kau mengundurkan diri? Kau bertengkar dengan Tuan Kim? Kupikir hubunganmu dengannya baik-baik saja. Oh, saying sekali Eunhee. Kau termasuk salah satu penulis terbaik di redaksi ini. Pikirkanlah sekali lagi.”

Aku hanya bisa tersenyum pahit saat Soojin mengutarakan rentetan pertanyaan itu padaku. Tak mungkin aku menjawabnya. Semua terlalu memalukan untuk diceritakan. Well, walau berat. Aku tetap harus pergi. Mungkin lebih baik aku pulang ke Daegu saja. Menemani Appa dan Eomma lalu mencari pekerjaan di sana. Kurasa, kehidupan Seoul tak terlalu cocok untukku.

“Appa sakit keras, dan aku harus pulang untuk menemaninya.”

Jawabanku tak sepenuhnya bohong. Dan aku bersyukur, Soojin tak bertanya apapun lagi setelahnya. Ia hanya memberikan ungkapan kekecewaannya dan lalu ikut mendoakan kesembuhan Appa.

Aku menghela napas jengkel ketika pintu lift tak juga terbuka. Jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang 15 menit. Sebentar lagi Woobin pasti datang. Aku benar-benar ingin pergi sebelum ia sampai!

Memindahkan kardus besar berisi barang-barangku ke tangan kiri, aku kembali menjulurkan tangan kananku memencet tombol lift. Tapi sialnya lift itu belum juga terbuka. Menyebalkan! Ayolah!

Ketika tanganku sudah terjulur untuk memencet tombol lagi, bunyi ‘ping’ terdengar. Dan lift itu akhirnya terbuka. Syukurlah! Aku—

“Lee Eunhee, tunggu!”

Suara itu. Oh, tidak. Jangan sekarang. Aku tak ingin bertengkar lagi.

“Aku rasa kau bukan pengecut, kan? Jadi biarkan aku bicara denganmu!”

Dengan tak enak hati, aku menatap beberapa orang yang mulai gelisah di dalam lift. Pasti mereka sudah terburu-buru untuk segera turun. “Kau mau turun tidak?”

Sembari mendesah pelan, aku menggeleng. Dan tak sampai sedetik pintu lift pun kembali tertutup. Oh, yeah. Sudah kubilang, aku bukan pengecut!

Pelan, aku berbalik. Ajaib! Entah mengapa, kenangan tak diundang itu kembali hadir di depan mataku, hanya dengan menatap wajah gadis cantik bertubuh seksi memesona di hadapanku ini. Rasanya perutku seperti diaduk-aduk, mual tak tertahankan!

Siapa yang tak mengenal Jung Seyeon? Aku yakin, seluruh staf di redaksi ini mengenalnya dengan baik. Dia bertugas di bagian selebriti dan hiburan. Bahkan menurutku, dia lebih pantas menjadi selebriti daripada seorang penulis artikel.

Sudah lama aku mengenal Seyeon. Sejak kami berdua masih kuliah di kampus yang sama. Jujur, dulu aku sempat iri pada kecantikannya. Seyeon seorang ratu kampus. Banyak pria berlomba-lomba ingin mendapat perhatian darinya. Dengan bodohnya, aku bertanya-tanya mengapa aku tak memiliki kaki panjang seperti miliknya? Mengapa bulu mataku tak selentik miliknya? Mengapa rambutku tak setebal rambutnya?

Tapi itu dulu! Sejak sehari yang lalu. Tepat ketika aku melihatnya hanya mengenakan bra dan celana dalam di kamar kekasihku—ah, ralat! Mantan kekasihku. Aku tak lagi iri pada kecantikannya. Apa gunanya memiliki fisik seindah itu, bila ternyata hatinya sebusuk sampah yang tak dibuang selama berhari-hari!

“Ada perlu denganku?”

Kulihat gadis itu menyeringai sadis. Terlebih sesaat setelah melihat apa yang sedang kubawa. Ia pasti bisa membaca dengan jelas apa yang telah kulakukan hari ini.

“Aku tak tahu kau akan secepat ini pergi dari sini,” katanya dengan suara lembut menipu yang nyaris membuatku memuntahkan kembali Hoppang yang pagi tadi kumakan.

“Bukankah itu yang kau inginkan?” balasku defensif. Sama sekali tak ingin kalah darinya. Ia telah merebut kekasihku. Sebenarnya apalagi yang diinginkannya dariku?

“Benar. Aku menyesal tak melakukannya sejak awal.”

Sial! Gadis ini benar-benar busuk! Rasanya sulit sekali menahan tinjuku untuk tak mampir di wajah mulusnya yang merupakan hasil karya seorang dokter bedah plastik ternama di kawasan Gangnam!

Tidak. Eunhee. Kau harus menahan diri! Ia tak akan jera hanya dengan suatu kekerasan. Bahkan mungkin aku bisa terlibat masalah bila sampai melakukannya.

“Yeah, dan aku harus berterima kasih, karena atas bantuanmu aku terhindar dari bajingan seperti Woobin.”

Kulihat senyum Seyeon memudar. Kenapa? Apa aku salah bicara? Kurasa aku telah terlalu jujur padanya. Oh, Seyeon temanku yang malang!

“Jangan munafik! Aku tahu kau mengatakan itu untuk menenangkan hatimu karena kau terlalu putus asa setelah kehilangan Woobin. Woobin mencintaiku. Asal kau tahu saja, ia hanya berpura-pura menyukaimu.”

Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Terlalu lama mengobrol dengannya, hanya akan memancingku melakukan tindak kriminal. Itu tak boleh terjadi. Tenanglah, Hee. Tenang!

“Percuma aku bicara denganmu. Kau hanya akan mempercayai apa yang ingin kau percayai. Selamat atas hubunganmu dengan Woobin. Semoga kau tak pernah merasakan pahitnya dikhianati seorang lelaki bermulut manis.”

Sebelum sempat ia membuka mulutnya lagi, aku yang sebelumnya telah menekan tombol lift, langsung masuk tepat ketika pintu lift terbuka. Terima kasih karena kali ini kau bersahabat denganku, lift!

-Buono Cafè and Resto-

Omo!”

Apa ini? Kenapa bisa ada kecoa dalam supku? Sial. Perutku sudah lapar setelah berberes dan berharap bisa makan enak di restoran langgananku ini. Setidaknya, aku bisa menyicipinya sebelum kembali ke Daegu. Tapi kenapa di saat terakhir kafe ini malah memberikan kesan buruk?

“Hey!”

Aku melambai pada seorang pelayan lelaki berseragam putih dan hitam yang sejak tadi berdiri di sisi counter.

Pelayan itu tersenyum padaku. Sepertinya dia baru di sini. Aku belum pernah melihat pelayan ini sebelumnya. Hampir setiap jam istirahat aku selalu menghabiskan waktu makan siangku di sini. Baik sendiri ataupun bersama Woobin. Oh, sudahlah. Lupakan pria brengsek itu!

“Ada yang bisa dibantu, Nona?”

Aku menunjuk sup asparagusku. “Ada kecoa dalam makananku.”

Pelayan sepertinya terkejut, lalu dengan sigap dia mengorek-ngorek makanan dalam mangkukku. Ketika ia menemukan hewan menjijikkan itu, ia segera melepaskan sendoknya dengan ekspresi jijik.

“Kau yakin tidak dengan sengaja meletakkan kecoa ini dalam makananmu, Nona?”

Apa? Apa dia bilang? Bukannya minta maaf. Dia malah menuduhku yang bukan-bukan. Apa-apaan ini? Kenapa pelayanan di sini jadi begini buruk?

“Ya! Kau pikir untuk apa aku melakukannya?”

“Tentu saja agar kau tak perlu membayar makananmu.Sudah banyak pengunjung yang memakai siasat seperti ini sebelumnya. Dan kami tak ingin tertipu lagi.”

Astaga! Dia bercanda? Dia pikir aku semiskin itu? Sialan!

“Hey, kau menuduhku bersandiwara? Apa kau tak tahu siapa aku?”

Sial. Apa-apaan ini? Aku tidak sedang ingin bertengkar lagi. Cukup sudah kejadian saat di kantor tadi. Tak perlu ditambah kelakuan pelayan menyebalkan ini.

“Haruskah aku mengenalmu, Nona?”

“Aku pelanggan setia di sini. Aku bisa melaporkan kelakuanmu pada supervisor-mu kalau kau berani membantahku.”

Dengan santainya pelayan lelaki itu tertawa. Aku sedang benar-benar marah. Sama sekali tak ada yang lucu!

“Kau perlu tahu. Aku bekerja di sebuah majalah. Bila kau memperlakukan tamumu secara buruk. Aku bisa membuat artikel buruk tentang pelayanan di kafe ini. Dan aku yakin kau pasti tahu apa akibatnya.”

Oh, yeah. Dia tak perlu tahu kalau aku sudah hengkang dari perusahaan itu. Kurasa berbohong sedikit tak masalah bila menghadapi seseorang semenyebalkan dirinya.

“Kau mengancamku, Nona? Kalau kau memang kecewa dengan pelayanan kami. Kenapa kau bisa menjadi pelanggan tetap di sini?”

Hey! Dia masih bisa membantah juga? Baiklah. Kalau begitu, aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan.

“Choi Janghyuk-ssi.” Aku membaca nama yang tertera di nametag-nya. “Di mana kantor Supervisormu?”

Kali ini tampaknya aku berhasil. Pelayan bodoh itu terlihat gelisah dan mengedarkan pandangannya ke sana ke mari.

“Kenapa? Kau takut?” ejekku terang-terangan.

“Ada apa ini?”

Seorang pelayan lain tiba-tiba datang. Pelayan wanita. Aku mengenalinya dan Ia tampaknya juga mengenaliku. “Maaf, Nona. Maafkan dia. Janghyuk masih baru di tempat ini.”

Cisss, aku sudah terlanjur marah. Baru ataupun tidak. Itu sama sekali bukan alasan untuk memperlakukan tamu secara buruk. Bukankah pelanggan itu raja. Kalau semua pegawai baru seperti dia, bisa lari semua pelanggan kafe ini. Apa dia pikir dengan meminta maaf sekarang dapat meredakan kemarahanku? Oh yang benar saja.

“Katakan padaku di mana Supervisormu? Aku ingin menemuinya!” teriakku jengkel.

“Tapi–”

“Kau tidak dengar?” Aku berkacak pinggang.

Tiba-tiba aku melihat seorang pelayan lain datang dan membisikkan sesuatu di telinga pelayan perempuan itu. Pelayan perempuan itu mengangguk-angguk setelah mendapatkan instruksi dari temannya.

“Ah, Nona. Tuan Lee. CEO kami mendengar teriakanmu. Dan dia memintaku untuk mengantarmu ke ruangannya.”

Ah, ingin menangkap tikus tapi yang berhasil kutangkap justru seekor macan. Tamatlah riwayatmu, Janghyuk-ssi. Aku menyeringai melihat betapa pucatnya wajah Choi Janghyuk saat ini. Dia tak tahu telah berurusan dengan siapa.

Aku diantar oleh pelayan wanita tadi ke depan sebuah ruangan berlabel CEO Room di pintunya. Selama beberapa bulan menjadi pelanggan tetap kafe ini, aku belum pernah terlibat masalah sebelumnya. Ini pertama kalinya, dan kuakui aku benar-benar jengkel. Jangan harap aku bisa memaafkan pemuda itu sebelum ia dipecat dari tempat ini. Dasar pelayan tak tahu diri!

“Silakan masuk, Nona.”

Aku mendengar pelayan wanita itu bicara setelah sebelumnya ia memintaku menunggu sebentar sementara dirinya melapor pada sang atasan.

Aku mengangguk masih dengan ekspresi kesal. Dan melangkahkan kakiku ke dalam ruangan seluas 5 x 5 meter persegi itu. Ruangan kantor itu rapi bernuansa biru coklat dan hitam. Rupanya sang CEO memperhatikan betul desain dari ruang kerjanya.

Sejuknya pendingin ruangan langsung menyergapku ketika pertama kali melangkah masuk. Di depan sana, aku bisa melihat sebuah meja besar lengkap dengan kursi putarnya. Dari sini, aku hanya bisa melihat rambut hitam berkilau seorang lelaki yang bisa kupastikan adalah sang pemilik kafe. Lelaki itu duduk membelakangiku dan tampak sibuk dengan pekerjaannya. Entah ia tak mendengar kedatanganku atau memang dia sengaja ingin menyembunyikan diri. Kurasa pilihan terakhir lebih masuk akal, mengingat pelayan wanita tadi sempat melaporkan kehadiranku.

Sudahlah, itu tidak penting. Yang menjadi fokus utama saat ini adalah melaporkan pelayan gila itu!

“Permisi, Tuan…” Aku melirik papan nama yang diletakkan di atas meja dan membacanya dengan sedikit keras. “Lee Donghae!”

Tepat setelah aku menyebutkan namanya, kursi itu berputar. Dan—oh, aku pasti salah lihat! Bagaimana bisa? Ya Tuhan! Demi panasnya Gurun Karibia! Kurasa kini duniaku yang berputar.

Lelaki itu… Dia… Lelaki gila yang kutemui malam itu? Tidak mungkin! Aku pasti hanya berhalusinasi!

“Ah, senang bertemu lagi, Nona!”

Demi Tuhan! Sial. Sial. Sial! Ternyata itu memang dia. Suaranya, gayanya berbicara, tatapan matanya dan senyumannya. Semuanya sama. Tidak ada yang berbeda. Dan sialnya ia benar-benar nyata di hadapanku. Sepertinya, bila dilihat dari caranya memandangku, dia cukup tenang. Tak ada tanda-tanda ia ingat apa yang telah kami bicarakan pada malam itu. Oh semoga saja. Aku tak mau dia mengingat ucapan bodohku saat itu.

“Aku tak tahu kau akan repot-repot menemuiku di sini.”

Aku mengernyit. Apa maksudnya itu? Tidak. Dia pasti tidak ingat. Aku tahu malam itu dia sudah mabuk. Saat dia menawarkan sesuatu yang membuat tubuhku panas dingin seketika.

“Duduklah!”

“Aku ke mari bukan untuk berbasa-basi,” balasku sengaja membuat suaraku terdengar ketus. Walau sejujurnya, aku ingin sekali segera kabur dari ruangan ini. Seperti malam itu, saat aku cepat-cepat menghilang dari hadapannya tepat ketika ia akan melakukan hal gila itu. Berciuman? Oh, Lee Eunhee! Lupakan tetang malam itu!

“Hmm… maafkan segala kesalahan karyawanku, kalau begitu.”

Aku mendengus. Apakah begitu ekspresi seseorang yang sedang menyesal? Aku berani bertaruh, pria ini tak pernah mengucapkan kata maaf seumur hidupnya.

“Aku ingin kau memecatnya!” kataku berlagak angkuh.

Dia lagi-lagi tersenyum. Dan entah mengapa senyumnya itu terlihat begitu berbahaya. Memang manis, tapi ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum itu. Bagaimana mungkin aku sempat berpikir untuk menikah dengannya? Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupku bila setiap saat harus selalu berhadapan dengan lelaki ini. Oh, ya ampun Eunhee. Apa yang baru saja kau pikirkan? Sudah jelas bahwa Lee Donghae tak mengingat apapun tentang pembicaraan gila malam itu.

“Tenanglah dulu, Nona. Kita bisa membicarakannya baik-baik.”

Entah mengapa aku refleks mundur selangkah ketika melihatnya berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan mengitari meja.

“Aku sudah cukup bicara baik-baik. Karyawanmu yang…”

Oh Tuhan, jantungku! Kumohon jangan mendekat! Dia… Memang sangat tampan. Kemeja biru yang dipakainya, tampak begitu pas membungkus tubuhnya yang—kalau aku tak salah terka—begitu berotot dan bidang. Siapapun yang berada dalam pelukannya, pasti akan merasa nyaman dan terlindungi. Astaga Lee Eunhee! Berhenti berpikiran mesum!

“Apa kau selalu tergesa-gesa begini, Nona?” Aku bisa menangkap seringai geli di sudut bibir tipis pria itu. “Tapi aku suka itu!”

Aku menegang. Sekarang posisi kami berada begitu dekat. Saking dekatnya, sampai aku bisa merasakan aroma maskulin khas yang menguar dari tubuhnya. Campuran antara Amber dan Rum yang memabukkan. Ya Tuhan! Aroma pria ini begitu nyaman!

Tidak, tidak, tidak. Sadarlah Lee Eunhee! Aku tak boleh gentar. Aku harus tetap tenang dan tak boleh memperlihatkan ketakutanku di hadapannya. Tidak lagi.

“Dan saat takut, kau akan lari terbirit-birit seperti kucing yang ketahuan mencuri?”

“Apa katamu?”

Aku tak tahan lagi. Rasanya ada yang terbakar dalam diriku. Kelakuan lelaki ini benar-benar membuatku muak. Dia menyebutku apa? Kucing? Tunggu dulu! Jangan bilang dia ingat bagaimana takutnya aku malam itu.

“Jangan pura-pura lupa, Nona. Aku tahu kau masih ingat betul dengan tawaranku di kedai saat itu.”

Jadi, dia sama sekali tidak lupa? Seperti ada sebongkah kayu yang jatuh tepat di kepalaku. Siapapun, bantu aku keluar dari sini! Demi Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku kabur lagi seperti malam itu? Tidak. Eunhee, tahan dirimu!

“Jangan mengalihkan pembicaraan!”

Aku bisa mendengar dia tertawa pelan. Jujur, aku benci caranya tertawa. Dia mengingatkanku pada Woobin!

“Tawaranku masih berlaku.”

Jangan bicarakan tetang tawaran itu lagi. Aku membuang muka untuk menunjukkan penolakanku. “Maaf, aku sama sekali tidak tertarik.”

“Tapi aku sangat tertarik.”

“Lee Donghae-ssi!” Aku tersentak ketika merasakan tangannya yang besar dan hangat menyentuh pundakku. Rasanya seperti ada arus listrik yang mengaliri tubuhku seketika. Sensasi apa ini? “Bisakah kita membicarakan masalah karyawanmu saja? Aku bisa menuntut karyawanmu bila kau tetap tak memedulikanku.”

Dia menyeringai. Sepertinya dia senang sekali melihatku ketakutan.

“Oh, aku takut sekali, Nona.”

Sial! Dia mengejekku?

“Aku serius!”

“Aku juga serius,” katanya santai. Sama sekali tak memperlihatkan bahwa ia benar-benar ketakutan.

“Jangan meremehkanku, Tuan!”

Sengaja aku memberinya senyum mengejek. Namun dengan santainya dia malah tertawa. Seolah-olah apa yang kukatakan hanyalah lelucon aneh yang menurutnya begitu menggelikan.

“Laporkan saja kalau kau mau. Kau pikir, polisi akan sibuk mengurusi masalah kecoa yang tiba-tiba berenang di supmu?”

Sial. Dia benar-benar!

“Daripada kau membuang uang hanya karena masalah ini. Lebih baik kau pikirkan kesehatan Ayahmu. Dia tak bisa menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk menunggu putrinya bermain-main dengan kecoa.”

“Diam kau!” bentakku marah. “Ayahku akan sehat. Kau lihat saja nanti.”

“Yeah, aku juga berdoa untuk kesehatannya.”

Aku mendengus. Bahkan orang paling bodoh pun tahu ia sama sekali tidak tulus mendoakan Appa. Aku tahu motifnya. Tentu dia berharap dapat menikahiku secepatnya, agar orang tuanya yang kaya raya itu mau memberinya modal untuk memperluas usahanya sendiri. Dasar licik! Hanya uang, uang dan uang yang ada dalam otaknya! Lelaki di manapun sama saja.

“Aku tak membutuhkan sumbangan doa darimu,” semburku jengkel.

“Jangan berkata begitu pada calon dewa penolongmu.”

“Apa?” Aku mendelik sewot. Dewa penolong? “Bermimpi saja, sana!”

Aku menghentakkan stiletto penuh taliku ke lantai keras-keras. Tak peduli sepatu mahal itu akan rusak setelahnya. Kuputar tubuhku dan tanpa menoleh lagi, aku pergi dari ruangan itu.

Samar-samar sebelum membanting pintu, kudengar ia berkata. “Kau tahu di mana alamatku. Kau bisa datang kembali jika kau butuh bantuanku.”

Aaaarrghh!!! Dasar iblis! Jangan harap kau akan mendapatkan keinginanmu begitu saja!

 

-Nowon, Seoul-

flt

Hari ini benar-benar buruk. Aku melempar tubuhku ke tempat tidur. Rasanya seperti baru saja menempuh perjalanan yang sangat jauh. Padahal aku hanya menghabiskan waktu satu jam di bus. Semua yang kualami membuatku semakin yakin bahwa aku memang harus benar-benar hengkang dari kota ini.

Mulai dari pertemuanku dengan si pengkhianat berwajah cantik, pelayan baru menyebalkan di Buono kafe dan tentu saja si iblis berwujud lelaki tampan yang rupanya si pemilik kafe itu. Aku bersumpah pada diriku sendiri, tak akan pernah lagi menginjakkan kakiku di sana!

Oh, Appa… tetaplah sehat! Setidaknya, beri aku waktu untuk mencari seseorang yang benar-benar pantas menjadi suamiku!

Aku tersentak ketika merasakan getaran keras ponselku dari dalam tas. Karena malas, aku hanya mengobrak-abrik isi tasku sambil tiduran. Aku belum sempat berbenah. Kurasa malam nanti, aku harus begadang untuk mengemas barang yang akan kubawa pulang.

Oh, eomma?

Refleks, aku bangun. Tidak biasanya siang-siang begini Eomma telepon. Semoga saja tak terjadi sesuatu yang buruk dengan Appa.

“Yeoboseyo?”

Eunhee-ya, kenapa kau tak bilang kalau kekasihmu akan datang? Eomma tak sempat menyiapkan apapun. Aigoo… Kau ini bagaimana? Ingin membuat Eomma dan Appamu malu?

Apa? Kekasihku? Ke Daegu? Siapa?

“Eomma. Bisakah kau bicara pelan-pelan? Aku tak mengerti!”

Aku mendengar Eomma menghela napasnya pelan. “Sudahlah, Eomma hanya tak suka karena kau tak bilang dulu kalau kekasihmu yang tampan itu akan berkunjung. Tetapi melihat betapa bahagianya Appamu, Eomma—

“Kekasih siapa?”

Mendadak aku merasakan lidahku kelu. Jantungku berdentum-dentum tak karuan hingga bisa kurasakan bunyi berdengung di kedua telingaku. Sulit sekali rasanya untuk sekedar menanggapi perkataan Eomma.

Aigoo… kau tidak sedang kena amnesia mendadak, kan? Kalau tak salah, tadi ia memperkenalkan dirinya bernama Woobin.

Tidak. Sialan! Apa yang dilakukan Woobin di rumahku?

“Eomma. Katakan pada Appa, bahwa dia bukan kekasihku!”

Oh ayolah, Hee. Eomma tak ingin merusak kebahagiaan Appamu. Kalau kalian memang menjalin hubungan, jangan disembunyikan dari kami. Kalau perlu segeralah meni—

“Sudah kubilang aku tak menjalin hubungan dengannya!”

Oh, Ya Tuhan! Kenapa aku membentak Eomma? Ini semua karena Woobin sialan itu!

“Eomma… mianhae,” tambahku buru-buru. “Aku tak bermaksud mengecewakanmu. Tapi lelaki itu memang bukan kekasihku. Dia berbohong!”

Aku menggigit bibir bawahku. Berharap Eomma akan menjawab ‘aku tak apa-apa’. Demi Tuhan, ingin rasanya aku terbang ke rumah dan mengusir Woobin saat itu juga. Berani-beraninya ia datang setelah apa yang telah dilakukannya. Jangan harap ia bisa menerima maafku setelah melakukan hal gila itu!

Lalu… siapa kekasihmu sebenarnya?

Aku nyaris tersentak ketika tiba-tiba Eomma kembali bersuara setelah sekian lama hening. Syukurlah karena akhirnya Eomma percaya pada apa yang kukatakan. Tapi kini, aku mendapat masalah baru. Haruskah aku mengatakan pada Eomma yang sejujurnya? Oh, tidak. Dengan resiko Appa mengalami infark sekali lagi? Aku tak mau mengambil resiko itu!

Hee?

“Eoh, itu… aku—“

Bukankah dulu kau bilang bahwa kau telah memiliki kekasih di Seoul? Segeralah resmikan hubungan kalian. Kau tahu kan kondisi Appamu sudah tak seperti dulu lagi. Atau setidaknya kau bisa mengenalkannya pada kami. Dengan begitu, tak akan ada lagi orang iseng yang datang ke mari dan mengaku-ngaku sebagai kekasih—“

“Kekasihku seorang pengusaha kafe sukses bernama Lee Donghae.”

Oh, Demi semua keegoisan Squidward! Mungkin benar kata iblis itu, aku memang terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan! Sial.

TBC

105 thoughts on “Just Get Married [Prolog + Chap 1]

  1. wahwahwah kenapa si woobin dtang kerumah appa dan eommanya eunhee? Apa motifnya tuh? Dasar tak tau malu huh. .

    Donghae and eunhee udah menikah sajalah biar si woobin tak mcem2. . Greget. .

    Eon daebak, , tambah penasaran. .penasaran segede pintu. .
    Jagan lama2 ya eon lanjtnya. .aqu tunggu lo eon. .

  2. wahhh eoni apakan si eenhee akan segera menikah dengan lee donghae dan membalas perbuatan si woobin?ditunggu part selanjutnya

  3. itu persyaratan buat nikah gitu ajah eon??? ciyusss?? asli?? aahhh mauuuuuuuuuuu

    Nemu typo satu wkkakkakaka… suka sih ama ceritanya.. akhirnya minusnya Eunhee yang di sorot. kekkeke suka asli.. lama ga baca genre ginian dan eon buat,, sukaa asli suka…

    Ya allah… donge bikin sesek napas… kekkeke dan satu lagi yang aku seneng.. ada piku kyk HTILY.. kkekkee FF yang bikin aku kepincut ama eon.. pokoknya suka deh ini FF…

  4. aku sukak❤
    feelnya berasa kek drama korea bgt nih!!

    asli pengen jotos itu si pengkhianat ergggggggggggg *siapin granat
    rupanya emg tujuannya jg mo nyingkirin si lee toh.. biar dy jadi penulis utama gitu kah?? arggghhh!!!

    trus itu ada gitu pelayan songong gitu?? asli pengen ditampol tu orang.. dimana2 pelayan takut, eh ini pelayan baru belagu lagi!!

    tapi lee, klo kubilang rada janggal pas kamu ketemuan ama donge di kantornya tuh.. emangnya sebelumnya pas di kedai kalian tukeran kartu nama ato ada nyebut tempat kerja? setenang2nya orang, keknya aneh klo g ada kaget ato nanya apa gitu pas kalian ketemu lagi.. itu ajah sih..

    dan woobin dateng ke rumah??? owaaaa.. ini dy nyesel trus mo balikan kah?? ahhhh bayanganku langsung seksih aja pasti kalo inget dy kekekkkkk

    lanjoooottt~~

  5. aaaaaaaaaaaaaa greattt eunhee masuk lubang harimau tuh xD
    yakin bangett itu cowo yg dateng ke rumahnya eunheee pasti LEE DONGHAE yg selama ini ngebet banget pengen nikah sama eunhee kkkeke GOOD😀
    onnie ntar d next part mereka nikahh ya hehe
    aaaa penasarannnnn itu gmna reaksi eunhee kalo bner yg dateng ke rumahnya itu hae hhihihi
    daebakkkkk part 2 nya ASAP y eon😀

    onniee inget aku tak ? *onnie: engga xD
    hihihi akuu imey yg d fb kkk~

  6. huuaaaaa……..kereeennn eonni!!!!neomu joha😀
    crty fresh bgt eon,q sk,,prtma q kira hae yg blg ‘kt mnkh’,tryt mlh hee,bnr2 dluar dugaan,q jg sk bgt ma sifat na hae,klhtn cool bgt n g bodoh alias kkanakn kyk sft aslinya(?),hehe#digoreng fishy
    pling sbel emg sm 2 org pngkhiant tu,tp brkt woobin jg hee kceplosn,jd gpp dh dmklumin,hehe
    g sbr pngn liar eunhae mnkah,mw truh dmna mukany hee wkt mnt tlg hae???kkkkkk

  7. Wah ff baru lg nh…padahal aku bnyk bgt ff yg ketinggalan bwt baca ==”
    kayaknya lama bgt ya aku g main2 kemari…

    Oke lah dr pada ngurusin brp lama aku g main ke blog eonni lbh baik ngomentari cerita diatas aja😀

    ini keren buangeeeeeeettttttt…. Aku penasaran sama selanjtnya… Jadi ini ff yg eonni bilang di fb kemarin yg nyari cast cowok bwt peran ketiga *aku sempat baca sekilas status eonni soalnya..hehe

    aku tunggu kelanjutannya…….

  8. Woaah this new ff seems interesting 쳄있어요
    Aku kra yg ke rmh.y hee itu donghae, eh ternyata woobin ㅋㅋㅋ
    I’d like to wait for the next chap patiently eonni, gidarilkkeyo😀

  9. Hahhahahahaha….

    syaratnya gampang amat untuk menikah dengan seorang lee donghae??

    Heuhhh…. akhirnya aku bisa baca juga ff-nya…😀

    Neomu johae eonn..

    Sepertinya Eunhee betul-betul gila… Tapi yang lebih gila lagi itu Donghae…

    ngebayangin berada di posisi Eunhee sewaktu di kantor Donghae, aroma Donghae.. aduhh, bikin salting sendiri..😀

    Aku kira Donghae tiba-tiba berada di rumah Eunhee… ehh, kok malah Woobin sih?? Ngeselin banget tu orang…

    Eonni FIGHTING nulis oke? 😉

  10. Ceritanya bagus euyy n aku suka ceritanya..hmm spt seru nieh. Eunhee ngebayangi donghae sampe sgtu, jd pngn lihatin sosok donghae didpn mata hehehe, yaa wes, lanjut ya.

  11. Aigo.. Ny. Lee lagi2 kau bikin FF yg feelnya bener2 kerasa. meski baru part 1 tp gw beneran gemes sama karakter Hee disini. terlalu tergesa2 dlm mengambiL sikap.. sgt beresiko punya sikap ky gitu.. tp kalo resikonya menikah dg Donghae.. siapa jg ga bakaL nolak. begitu bukan????

    trus yg jadi Woobin.. Jung Il woo kah???

    ga sabar nunggu part 2‘y… Donghae POV kan????

    Hee…. ayo cepet yah dikeLarin.. !!! hehe
    *readers maksa*

    FIGHTING^^

  12. Wkwkwk ngakak!! Berani taruhan pasti yg dimaksud emak nya eunhee itu hae!! Tapi berhubung sih hae gak mau kalah sama hee jadi dia ngaku nya jadi sih woobin :)) *sotoy* ㅋㅋㅋ lucuuuuu~ hmm~ FF yg SMbookyouth itu kapan dilanjut ka? Gak sabar pengen ngeliat jiae-kyu🙂 haha

  13. Ya ampun Saeeenngggg,,,,
    oen seneng bgt baca ff dgn genre beginian,wkwkwk
    pantes aja ide kamu lancar,tulisan kamu yg ini kayanya yg paling dpt feel nya deh di banding yg lain terkecuali utk eunhae moment ya,klo yg itu kayanya udah mendarah daging sama oen😀

    typo cuma ada di kata “saying” tadi yg harusnya “sayang”,selebihnya perfect bgt,,,
    suka sama karakter hee yg agak” judes,jd inget Ann*kangenHTILU*

    penasaran pov nya si donge nih,,,biar tau perasaan si hae ky gimana,,,,
    itu lagi si woobin ngapain ke daegu???
    Ini yg jadi woobin siapa sih saeng??

    Untuk ff yg ini,oen bakalan rajin minta lanjutannya,haha *smirk*

    • ihihihi… iya Eon, lagi nyoba bikin genre ginian. Syukurlah klo emang berhasil ^^
      Eon, orang kedua yg bilang FF ini lebih kerasa feelnya dari yg laen🙂

      Udah ada kok Eon lanjutannya hahahah

  14. ajiaaaaaaa….itu kenapa woobin yg dateng kerumah…dan apa itu posternya keren!sukaaaa…
    wkwkkwkkwkw…tawaran seorang lee donghae..terima aja tuh…kkkk
    nahkan gimana caranya tuh ngadepin seorang lee donghae untuk ketiga kalinya dan untuk.menerima tawarannya…aigooo..eonniyaaaa…seru nih!!!!!!!!!lanjut yaaaa~~~~#tebardonghae

  15. Whahahahah…Lee Donghae selain dewa penyelamat tapi kau jg replika dewa eros yg maha tampan itu…. Huuuhu…

  16. Mwo..???
    Stelah berhianat masih bisa mengaku kekasih.. Ouh apa ini..???
    Pengen Q remet-remet to cowok..
    Akhirnya muncul jga part 1 nya..
    Ini bener-bener daebak.

  17. Annyeong…
    Dari tadi udah banyak yang bilang kalau ceritanya bagus, nambah satu lagi gak apa2 kan??
    Ceritanya emang menarik, meskipun banyak juga ff dengan ide yang hampir sama kayak gini.
    wait fot the next chap..

  18. Onnieeeeee…. I am here…kekekekeke

    Asek, saeng paling ska baca story yg pke satu sudut pandang seperti yang saeng pernah blg ma onnie..hehehehe

    Heduh, kasian amat hee, lo saeng jadi hee mungkin g bsa sesabar itu ngadepin cewek oplas tadi, cba hee tarik hidungnya yg mungkin jg palsu..
    Dan jenjeng, Oh hae masa iy baru ketemu ma hee trs ditawarin nikah terima lo suka ciumannya.

    Onnie, tu pelayan aktor baru yg onnie ska ya? kekekekeke

    hayo, diterima g diterima g dan jenjeng..diterima..😄

    Saeng tgu kelanjutannya, and moga lebih panjang. Kaykannya ini 14 page or sekitaran segitu ya onnie..*toel”

    Dan saeng nemuin satu typo. Ajaib banged, Hae ganggu onnie ya smpe hilang konsentrasi sma satu kata itu..*cekikikan

    Ehm, ya udh saeng dh byk omong. Kita lanjutin gosip” ria di whatsapp aj ya onnie..wkwkwkwkwk

    • hehehe… Hai saeng!!
      Wah… jangan, ntar klo idungnya ampe rusak gimana? aku gak punya uang buat ganti :3

      Eh?? aktor baru?? yang mana??😮
      Ah, lanjutannya udah ada saeng… dan malah lebih pendek dari ini. Karna ini kan campur ama Prolog :p

      Oh, itu Typo iyah… aku ngetiknya di laptop bapak. Settingnya english gitu, jadi kata sayang keubah sendiri jadi saying =,=

      Oiyaaa… makasiiii editannya ^^

  19. ommo eon, ffny kren daebak ska bgt ma karakter eunhae pas bgt. . . . . krain yg dtg krmh hae trny woobin.

  20. Whoaaaaaaah~
    Suka suka suka… baca ff ini serasa nonton dramkor. aaarghhhhh, Lee DongHae…. mumumumu xD

  21. omo…. seneng bgt aq bisa nemuin ff donghae lagii.. dulu pernah berkunjung d blog ini tp udah lama bgt.. udah peekenalan blm ya… aq reader baru. hehe

    aaa…. aq suka cerita ttg married life.. apalagi yg menikah krn terpaksa suatu keadaan.. walau byk ff yg married lifenya kayak gt, tp ff ini beda.. bahasanya jg sangat bgs… dan yg pasti… karena gambarnya si cewe tu jung somin, lbh gampang bayanginnya aq.. jung somin imut.. hehe

    suka.. sukaa pokoknya…
    baca lanjutannya ah…

    • omo…. seneng bgt aq bisa nemuin ff donghae lagii.. dulu pernah berkunjung d blog ini tp udah lama bgt.. udah peekenalan blm ya… aq reader baru. hehe

      aaa…. aq suka cerita ttg married life.. apalagi yg menikah krn terpaksa suatu keadaan.. walau byk ff yg married lifenya kayak gt, tp ff ini beda.. bahasanya jg sangat bgs… dan yg pasti… karena gambarnya si cewe tu jung somin, lbh gampang bayanginnya aq.. jung somin imut.. hehe

      suka.. sukaa pokoknya…
      baca lanjutannya ah…

  22. Woow, critax lucu. . . Itu donghaex salah ngajak nikah, sebanarx itu dia ngajak saia eon!#ngarep hahaha. . .
    Annyeong. . . . Annyeong. . . Annyeong….
    New reader imnida. . .bangapseumnida. . .
    ijin tuk mejelajah ne?. . .

  23. Waaaah aku baru gabung baca ff ini.. telat bgt si…
    dah lm g acak2 blog mu chingu,, jd g tau ad ff baru..
    lanjut dl y baca part slnjt’y~~~^^

  24. Omo~ya…
    Kukira dunge yg dtng k daegu eonn trnyta slah sasaran…
    Hyaaa ngapain itusi woobin nappeun k daegu….
    Greget…
    Huhu…
    Sabar…
    Bca nextx dulu ah….
    Numpang njejak…

  25. aku kira yg bkl datang itu donghae,kiraiin si donghae dah nyari2 informasi si eunhee,eh ternyata woobin ..
    tpi,gpp setidaknya si eunhee jadi ngakuin si donghae.deh ..

  26. annyeong~reader baru numpang(?) baca😀
    hoaa ff nya kren bgt bikin deg”an >.< Hee nya bneran bkl nikah ama donge o.O
    Hae nya disini agk gimanaa gtu hihi saya sukaa…

  27. ais lama gak nonggol d block nie bnyk ketinggalan crtnya.

    penghianatan cinta benr2 menyakitkan,pzt part beriktnya seru.aku suka bgt ff d sni bhsnya and jln crtnya keren abz.

  28. donghae ngebet banget tuh pengen nikah gegara uang..
    trus ngapain woobin pake acara dateng ke rumahnya eunhee..
    kirain tadi donghae yg dateng..
    akhirnya mau ga mau eunhee bilang donghae namjachingu nya..
    kasihan juga ya sama eunhee..

    FFnya keren.. aku lanjut baca yaa..😉

  29. wuhuuu😀
    Chapter 1 aja udah seru + bikin ngakak :p
    Wkwkwk, jd intinya wkt perjanjian mereka di kedai ituuu, eunhee sama hae jd ciuman gak? :p
    Ck, dasar pasangan aneh-_- kerjaannya tengkar mulu :p
    Loh…..
    Kirain yg dtg nemuin appanya hee itu donghae loh.. Kenapa jd woobin? -_-

  30. Uah punya kekasih tapi berhianat,,,
    Sakittttttttttttttt
    Trus dgn seenak jidat dtg ke rumah ortu,nya ngaku” sebagai kekasih stlah apa yg di lakukan
    Ohh katakan itu lelucon mr.Bean

    Donghae oppa kau manyiss terus tekan eunhee agar mau nikah sama mu oppa

    Eonni fighting dan slm knal

  31. dasar si woobin gk tau malu , udah gk setia n khianat masih ajh ngaku jdi kekasih’a eunhee di dpan orang tua’a eunhee lgy ..
    ckckckck , di tunggu part selanjut’a yah chingu ..

  32. owgh..kirain donghae yang kesana, e malah woobin….
    sebenernya woobin itu sukanya sama siapa…
    tapi FF ini keren euy, main castny donghae..owhhh ikanku :*

  33. Halo kak😀
    Putriana Ying udah baca nih hahaha sori telat #banget -_-
    Ini bagus suerrrrrr. Makasih udah nemenin kebeteanku wkwk good job! :3

  34. Nah loh!
    Donghae makin besar kepala ajh nih, kalo eunhee langsung dateng dan langsung ngomong kalo eunhee setuju mau menikah!
    Hehehe

    oiya.. Ngapain coba woobin dateng ke rumah ortu nya eunhee!!!

  35. Annyeong author aku reader baru… mianhae thor tanpa minta izin aku langsung baca ff authorr…

    Aku disini mau izin sekaligus komen tentang ff ini…😉 ceritanya seru jarang aku nemuin donghae berkarakter semacam itu wkwkwk karena aku keseringan baca ff yang main castnya cho kyuhyun… :$ penasaran akan jadi seperti apa eunhee itu setelah mengucap “lee donghae” sebagai kekasihnya… aku lanjut ya thor🙂

  36. aku ska crtanya wlopun dsni sifat evilKyu nular k Hae…
    Klo Hae yg jdi evilnya gpp dech yg pnting ntar Hae bsa nikah sma eunhee…
    Hehhehee
    it si woobin ngapain krmah Eunhee ap mw mnta mf tros ngelamar eunhee,smga aj eunhee ngajak Hae sgra krmahnya…

  37. Hai kak aku reader baruuu
    Yaampuuun aku suka banget ini ff🙂
    Awalnya aku pikir gk cocok kalo Donghae dipasangin ama Lee eunhee (Jung somin)
    Tapi nggak taunya malah pas banget feel-nya
    Gampang ngebayanginnya, jadi gemes sendiri deh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s