Blind Date -OneShot-

Blind Date

 556348_140327442786437_916620324_n

Author: Aika Lee
Cast: Marilyn, Spencer Lee, etc.

Lenght: OneShot (3481 word)

Rating: PG 15

 

Apa kau pernah melihat monyet saat sedang senang? Well, begitulah kira-kira ekspresi lelaki di hadapanku kini. Begitu bodoh dan aneh. Aku tak tahu Mum menemukannya di mana? Tapi aku bersyukur bahwa lelaki yang dikenalkan Mum kali ini cukup membuatku terhibur hanya dengan melihat tingkahnya yang mirip monyet. Waktu satu jam pun tak terasa telah berlalu begitu cepat dengan cerita-cerita menarik yang sama sekali tak pernah kupikirkan bisa dibahas saat kencan buta berlangsung. Tidak pada pertemuan pertama!

Aku sebenarnya masih heran. Dari sekian banyak lelaki yang dipilih Mum sebagai pasangan kencan butaku, Spencer Lee adalah seseorang yang jauh di bawah standart pilihan Mum. Bukan hanya karena dia lelaki Asia yang bermata sipit dan memiliki rambut hitam. Tapi bila dibandingkan dengan penampilan lelaki—entah berapa—yang sudah dikenalkan Mum padaku melalui acara kencan buta seperti ini, penampilan Spencer berada jauh di bawah pria-pria itu.

Spencer memiliki seringai bodoh yang sangat menggelikan. Tubuhnya tak seberapa tinggi, kurus bahkan nyaris kerempeng dan matanya hanya akan tinggal segaris saat dia tertawa.

Aku jadi ragu, Mum memilihnya dengan benar. Atau jangan-jangan, Mum sudah terlalu putus asa karena aku selalu menolak lelaki pilihannya. Hingga monyet pun akan Mum pilih hanya agar aku mau berkencan dengannya.

Sial! Sebegitu frustasinya kah Mum hingga ingin cepat-cepat memaksaku menikah? Padahal tahun ini usiaku baru menginjak 26 tahun. Masih begitu muda untuk menikah. Bukannya aku tak mau menikah cepat-cepat. Aku hanya tak ingin terburu-buru memilih calon pendamping hidupku.

“Jadi, kau baru pindah ke Seattle?” tanyaku berbasa-basi.

Spencer mengangguk antusias. “Yeah, dan aku senang bisa tinggal di sini. Tempatnya nyaman dan gadis-gadisnya juga cantik,” katanya bersemangat padahal mulutnya masih penuh dengan makanan.

“Oh, benarkah? Jadi, kau sudah bertemu dengan berapa gadis cantik?”

Astaga! Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tak bisa mencegah nada sinis dalam suaraku? Tidak mungkin bila aku cemburu pada lelaki ini. Kami bahkan baru pertama kali bertemu!

Well, memang kuakui. Walau penampilan Spencer jauh di bawah rata-rata lelaki yang telah dikenalkan Mum sebelum-sebelumnya. Bagiku, Spencer memiliki daya tarik tersendiri. Entahlah, aku selalu suka gayanya yang lucu saat berbicara. Bagaimana ia makan dengan lahap tanpa memedulikan pandangan orang-orang padanya. Padahal lelaki yang pernah kutemui selama ini, selalu menjaga imej mereka di depanku. Setidaknya, agar mereka terlihat lebih keren dan tidak kampungan. Dan yang paling penting adalah, tawanya. Aku suka. Pria itu memiliki gummy smile yang menawan!

“Tidak banyak,” balas Spencer setelah menelan habis hamburger jumbonya. “Dan kau gadis paling cantik yang pernah kutemui.”

Oh, God! Dia merayuku? Jujur, aku tak terlalu suka dirayu. Tapi entah mengapa, saat dia yang mengatakannya aku merasa gembira. Seperti baru saja menghabiskan ratusan batang coklat. Hingga endorvin di tubuhku seperti tak pernah habis. Sial! Mum, kau berhasil!

“Eumm… Spencer, boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

Seketika Spencer menghentikan kegiatannya memasukkan kentang ke dalam saus. Walau mulutnya hingga kini masih tak berhenti mengunyah.

“Apa?”

Aku melipat tangan di depan dada. Bila dilihat dari cara makannya, ia terlihat seperti sudah tak makan selama beberapa bulan lamanya. “Kenapa kau tiba-tiba mau melakukan kencan buta ini—Hey!”

Aku tersentak mundur. Sial! Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba ia menyemburkan semua makanannya? Menjijikkan! Apakah seperti ini lelaki yang berhasil menarik minatku? Marilyn, kau pasti sudah gila! Entah apa yang akan dikatakan Marcus nanti? Dia pasti akan mengejekku habis-habisan!

“Oh, maaf!” katanya sembari membersihkan sisa-sisa makanan di mulutnya.

Sial! Ada apa dengan pria ini?

“Apa kau bilang tadi? Kencan buta?”

Cepat, aku mengangguk. Walau sebenarnya aku masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

Kudengar Spencer berdeham singkat. Lalu meneguk jus stroberry pesanannya. Sepertinya ia gugup. Baru kali ini aku tahu ada lelaki yang sangat menyukai stoberry melehibi bir. Ia bahkan mengaku bahwa lebih suka minum susu stroberry daripada menghabiskan waktu untuk mabuk-mabukan. Sungguh cute! Aku tak bisa membayangkan pria ini minum susu stroberrynya menjelang tidur.

Ah Marilyn, lagi-lagi kau mulai memujinya!

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” Setelah sekian menit menunggu, aku mulai bicara lagi.

Aku bisa melihat ekspresi bingung di wajah Spencer. Jangan bilang bahwa ia juga terpaksa menuruti kemauan orang tuanya untuk melakukan kencan buta denganku. Tapi, bila dilihat dari caranya merayuku. Itu benar-benar mustahil!

“Ehm!” Dia berdeham lagi. Kali ini dehamannya nyaris membuatku terkikik geli. Dengan ekspresi bodohnya, Spencer mencondongkan tubuhnya padaku. “Kau sepertinya penasaran sekali.”

“Jawab saja!” perintahku tegas. “Apa kau benar-benar serius dengan pertemuan ini?”

Sekali lagi Spencer memperlihatkan ekspresi bodohnya. Rasanya aku ingin sekali menusuknya dengan garpu.

“Karena kau cantik.”

Oh, God! Siapapun tolong aku! Aku bisa merasakan sesuatu yang panas melesak naik ke wajahku. Apakah wajahku terlihat merah? Entahlah! Semoga lelaki bodoh itu tak menyadarinya.

“Ehm… kau semakin cantik kalau sedang merona.”

Dia mulai lagi. Demi Tuhan, padahal ia hanya mengatakan hal semacam itu, kenapa aku merasa seperti sedang terbang? Begitu bebas dan menyenangkan! Haruskah aku memeriksakan kejiwaanku pada dr. Jimmy? Kurasa aku membutuhkan trihexylphenidil untuk meredakan euforia menggelikan ini.

“Aku sudah menjawab. Sekarang giliranmu. Apa kau serius?”

Eh? Dia bertanya padaku?

“Ehm… apa maksudmu dengan serius?”

Spencer bersandar di punggung kursi dengan gaya santai. “Seperti pertanyaanmu tadi. Apa kau serius dan kenapa kau mau melakukan kencan buta ini? Apa karena aku tampan?”

What? Yang benar saja. Aku bahkan tak pernah membuka semua foto yang diberikan Mum. Amplop-amplop itu langsung kubuang ke tempat sampah. Tak ada gunanya bagiku. Walau kulihat pun, aku tak mungkin bisa menolak tawaran itu.

“Hey, aku bertanya padamu.”

Well, aku hanya ingin menuruti permintaan Mum. Itu saja.”

Spencer mengangguk-anggukan kepalanya pelan. “Ah, pantas saja. Aku sempat kaget karena sangat tidak mungkin gadis secantik dirimu melakukan kencan buta. Kecuali… yeah, kau sudah tak sabar ingin segera mendapatkan jodohmu.”

Lagi. Kapan dia akan berhenti berkata-kata manis?

“Jadi, dengan kata lain kau ingin bilang bahwa orang-orang yang melakukan kencan buta adalah orang jelek? Seperti dirimu?”

Aku nyaris terkikik melihat betapa kagetnya dia. Kali ini ekspresinya mirip wajah monyet yang baru saja dilarang memakan pisang-pisangnya. Ah tidak, aku berlebihan. Dia cukup tampan dan… manis.

“Jangan mengalihkan pembicaraan,” sergahnya cepat.

“Yeah, tapi aku hanya mengatakan apa yang telah kau ucapkan.”

Untuk sesaat kulihat dia kebingungan. Bola matanya berputar cepat seperti sedang mencari alasan yang tepat. Bagus, Marilyn! Kau berhasil membuatnya gelagapan!

“Kau benar. Tapi aku juga bilang kan kalau bisa saja lelaki tampan sepertiku melakukan kencan buta karena ingin cepat-cepat menemukan jodohnya.” Kali ini bisa kulihat seringai kemenangan di wajahnya.

Well, aku tak akan memperpanjang masalah ini. Sepertinya dia memang tidak cukup bodoh untuk kukerjai.

“Lalu, apa kau sudah menemukan jodohmu?”

Sial. Aku menyesal telah menanyakan hal itu. Lihatlah, dia kini mulai memamerkan seringai bodohnya lagi.

Ia terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu. Lalu senyum yang amat sangat manis terbentuk di wajahnya. “Aku beruntung menemukannya di pertemuan pertamaku.”

Oh, baiklah! Aku merasakan pipiku panas seperti terbakar. Dia pandai sekali merayu. Kuakui itu. Apakah dia seorang cassanova? Ah, tidak. Mana mungkin cassanova memiliki penampilan seperti dia. Minimal, dia harus tampan, tinggi, bermata biru, memiliki rambut pirang dan—oh, kurasa dia memang memiliki kharisma tinggi! Jangan lupakan itu Marilyn!

“Ehm…” Aku sengaja berdeham. “Jadi, kau sudah menemukannya?”

Spencer kembali tertawa. “Yeah, ngomong-ngomong, ini pertemuan pertamaku.”

Demi Tuhan!

***

“Bila dilihat dari wajahmu sepertinya kali Mum berhasil.”

Aku mengabaikan komentar Mum lalu melempar pantatku ke sofa. Ah, aku tak tahu apa yang telah terjadi padaku. Tapi rasanya aku ingin selalu tersenyum bila mengingat pertemuan tadi. Mungkinkah ini yang dinamakan jodoh?

Tuhan bisa menunjukkan jodoh melalui apa saja. Begitu pula dengan pertemuan ini.

Tanpa sadar aku tersenyum mengingat kata-kata Spencer tadi. Saat aku memberitahunya bahwa aku sama sekali tidak percaya pada acara kencan buta seperti ini. Itulah sebabnya aku selalu menolak calon yang diajukan Mum. Tapi setelah pertemuanku dengan spencer tadi, kurasa perkataan Spencer ada benarnya.

Tuhan selalu punya cara untuk menyatukan sepasang anak manusia.

“Honey, kau belum menjawab pertanyaanku. Aku yakin, bila dilihat dari senyummu. Kali ini aku berhasil.”

Aku tersenyum lebar. Lalu memeluk Mum yang kini duduk di sisiku. “I love You, Mum!”

“Ah, akhirnya,” Mum bersuara dan aku bisa merasakan tangannya membelai rambutku. “Apa kalian sudah mengatur pertemuan berikutnya?”

Aku mengangguk lalu melepaskan pelukanku pada tubuh Mum masih dengan senyum yang sama. Tentu saja. Aku tak akan membuang kesempatan. Bahkan kami sudah bertukar nomor telepon dan menyusun rencana pertemuan berikutnya.

Dua hari lagi, Spencer akan mengajakku keliling kota. Well, sebenarnya aku yang bertugas sebagai tourguide karena dia masih baru di kota ini. Aku akan mengenalkan Spencer pada kota kelahiranku ini. Pasti menyenangkan! Dia pria yang menarik dan sama sekali tidak membosankan.

“Hmm… bagus sekali! Aku harap kalian bisa meresmikan hubungan ini secepatnya.”

Oh, ayolah! Jangan terburu-buru. “Kita baru saling mengenal, Mum.” Aku mencoba mengingatkan.

“Lalu? Apa Edward setuju?”

Apa? Edward? Siapa Edward? Tidak. Jangan bilang dia… Oh, My God! Mum pasti salah. Namanya Spencer. Bukan Edward!

“Honey, ada apa?”

Aku tersentak, dan buru-buru menggeleng. “Ti-tidak ada, tidak apa-apa. Dia tidak keberatan, tentu saja.”

Mum tersenyum lagi. Entah yang ke berapa kalinya hari ini. “Baiklah, kalau begitu terserah kalian saja.”

Aku mengangguk pelan. Lalu tanpa kusadari aku sudah beranjak dari sofa. Entahlah, seperti baru saja dihempaskan ke jurang dari tempat yang sangat tinggi. Segala kesenangan itu mendadak hilang begitu saja.

Edward… Edward… Edward…

Satu hal yang harus kulakukan sekarang. Tempat sampah!

Semoga Grace belum membuangnya. Cepat, aku setengah berlari menaiki tangga. Kamarku ada di lantai dua. Tepat di samping kamar adikku satu-satunya. Marcus. Dia adik laki-lakiku yang paling usil. Kalau sampai kejadian ini didengar olehnya. Dia pasti akan menertawakanku. Mulutnya benar-benar tajam. Persis seperti Dad!

Aku mendesah lega ketika tiba di kamar. Tempat sampah berwarna abu-abu itu masih penuh seperti tadi pagi. Itu artinya, Grace belum membuangnya. Dan amplop berisi foto lelaki itu pasti masih di sana.

Seperti ada yang membebani kakiku, rasanya berat sekali hanya untuk melangkah mendekatinya. Tapi akhirnya aku sampai juga. Perlahan, aku menunduk. Meraih amplop coklat berisi foto itu.

Semoga saja Mum yang salah menyebutkan nama. Ya, semoga sa—Ya Tuhan! Lelaki di foto ini, seratus persen keturunan kulit putih. Tak ada wajah Asia sedikit pun! Matanya biru, berambut pirang pasir dan memiliki tubuh yang padat berisi. Perlahan kubalik foto itu, di sana tertulis dengan sangat jelas. Edward Jones.

Sial!

Lalu pertanyaannya… siapa sebenarnya Spencer Lee? Apa dia bermaksud menipuku?

***

Aku berdiri di pinggir Green Lake. Sore ini suasana begitu cerah di akhir bulan Maret. Tak banyak orang yang ke mari. Hanya tampak beberapa pejalan kaki dan beberapa orang yang sedang menikmati suasana sore di Green Lake Park.

Aku sendiri ke mari untuk memenuhi janji temu dengan Spencer. Oh, aku memang sudah tahu bukan dia lelaki yang dimaksudkan Mum untuk kutemui hari itu. Kedatanganku ke mari adalah untuk memintanya menjelaskan. Jangan lupa bahwa dia berhutang penjelasan padaku. Mengapa ia tiba-tiba menghampiriku? Dan mengapa ia sampai mengaku-ngaku sebagai pasangan kencan butaku. Sungguh memalukan! Aku harus mendengarnya sendiri darinya.

“Sudah lama menunggu?”

Aku terkesiap. Seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak menggelikan di bagian perutku. Entahlah! Sensasi ini yang selalu kurasakan setiap kali berada dekat dengannya.

Well, sore ini ia tampak begitu… menarik. Mungkin kata tampan tak akan cocok untuknya, karena menurutku dia memang tidak tampan. Tapi, dia sangat manis dengan t-shirt putih bergaris-garis merah, yang dipadukan dengan celana polo selutut. Kaca mata hitam besar menutupi mata sipitnya. Dan seperti biasa, gummy smile yang tak mungkin aku lupakan. Aku berani bersumpah, juga sangat menyukai aroma stroberry bercampur mint yang menguar dari tubuhnya.

“Hai, sudah lama menunggu?” ulangnya riang, mungkin karena aku tak segera menjawab sapaannya.

Aku menahan diri untuk tidak membalas senyumnya. Jangan lupa bahwa aku sedang marah sekarang. Ya, sedang marah!

“Kau telat dua menit 34 detik!”

“Eh?”

Entah kenapa setiap kali ia memamerkan ekspresi bodohnya, aku merasa ingin tertawa. Oh, ayolah Marilyn! Kau ke mari bukan untuk memenuhi ajakannya berkencan. Tapi kau butuh penjelasan darinya. Jangan tertawa, please!

“Maaf kalau begitu. Aku punya alasan atas keterlambatan—“

“Hey, tunggu dulu!” Aku menepis uluran tangannya. Sepertinya ia mulai paham ada yang tidak beres denganku. Aku menunduk ketika dia tiba-tiba menatapku serius.

“Ada apa?” tanyanya hati-hati.

Aku membuka Dior putihku lalu mengangsurkan amplop coklat berisi foto Edward di sana. Tak ada gunanya berbasa-basi bukan?

“Bisa tolong kau jelaskan ini?”

Spencer menerima amplop itu, lalu membukanya. Kulihat keningnya berkerut selama beberapa saat. Lalu tak sampai satu menit ia mengalihkan pandangannya padaku.

“Tidak. Aku masih normal. Aku tak pernah bertemu dengan lelaki ini—“

“Aku tidak sedang bercanda, Spencer!” potongku cepat.

Spencer ganti menatapku bingung. “Aku juga tidak sedang bercanda. Sungguh! Kalau kau tidak—“

“Kau bukan pasangan kencan butaku waktu itu, kan?”

Kurasa kali ini tepat sasaran. Untuk sejenak Spencer seperti bingung akan mengatakan apa. Dan—Oh, kenapa dia malah tertawa?

“Hey! Sialan! Kau anggap itu lucu?” bentakku keras.

Aku kesal karena kulihat dia masih tertawa dengan begitu keras. Sama sekali mengabaikan pandangan orang-orang di sekitar kami. Apa dia bermaksud membuatku malu?

“Spencer Lee! Kau mendengarku?!”

Kali ini Spencer baru berhenti. Pasti dia berhenti tertawa karena aku menginjak kakinya cukup keras. Rasakan!

Aku menyeringai senang melihatnya mengaduh kesakitan sambil memegangi ujung sepatunya.

“Aku tidak tahu kau kejam juga. Bahkan kita baru bertemu dua kali. Bagaimana kalau kita menikah nanti? Pasti aku hanya akan jadi kulit dan tulang.”

Apa katanya? Menikah? Oh, God! Rasanya seperti ada yang menggelitiki perutku. Geli! Tidak. Aku tak boleh terpancing gurauannya.

“Sebaiknya kau jelaskan padaku, sebelum aku semakin kesal,” ancamku dengan sengaja agar dia tak kembali bermain-main. Kumohon seriuslah sebentar!

Lagi. Dia menunjukkan seringai bodohnya. Sial! Ayolah spencer, tidak sekarang.

“Kau ingin aku menjelaskan tentang apa? Hari itu, seingatku aku sama sekali tak mengakui diri sebagai pasangan kencan butamu. Kau lah yang mengatakannya sendiri.”

Aku bergeming. Mencoba mengingat-ingat awal pertemuan kami di cafe. Memang benar, saat itu dia hanya menghampiriku, lalu aku menyuruhnya duduk dan mulai kuceritakan tentang diriku padanya. Bahkan sebelum dia menyebutkan apa maksudnya.

Ya Tuhan! Marilyn! Itu jelas kesalahanmu sendiri. Tapi, kenapa dia tak menyangkal? Kenapa dia diam saja dan menjawab seolah-olah aku benar-benar pasangan kencannya saat aku bertanya apa alasannya mengikuti kencan buta? Bukankah dia punya waktu untuk menjelaskan? Ya, dia punya waktu.

“Tapi—“

“Kau bahkan melihatku terkejut saat kau bertanya tentang kencan buta,” potong Spencer masih dengan sangat tenang. Sial! Kenapa dia bisa begitu tenang?

“Iya kau benar. Tapi kurasa, kau bisa menjelaskan. Dan sebenarnya apa tujuanmu hari itu?”

Spencer tergelak. “Sudahlah Marilyn. Pembicaraan ini sama sekali tidak penting.”

“Apa katamu?”

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Hari sudah mulai gelap.”

“Tidak! Kau harus menjelaskannya padaku!” bantahku cepat lalu sekali lagi menepis cekalan tangannya.

Kudengar dia menghela napasnya cepat. Sebenarnya bila menatap wajahnya, aku tak tega. Tapi, aku harus tahu alasannya menipuku—oh, kurasa menipu terlalu buruk. Well, dia hanya berbohong.

“Baiklah, tapi bisakah kita bicara di tempat yang lebih nyaman? Tidak di pinggir danau begini. Atau… kau berencana menenggelamkanku ke danau itu saat kau merasa kesal?”

Ya Tuhan! Sampai kapan dia bisa berhenti memamerkan ekspresi itu. Aku benar-benar tak sanggup lagi. Rasanya aku ingin tertawa. Wajahnya benar-benar lucu! Bahkan monyet pun kalah lucu darinya.

Well, kita duduk di bangku itu—“

“Tapi aku lapar.” Dia menyela. Sekali lagi memamerkan ekspresi merana yang anehnya membuatku ingin tertawa.

Sial! Tak-tik apalagi ini?

“Ya sudah. Kita bicara di cafe kemarin saja.”

“Tidak. Jangan di sana.”

Kali ini aku benar-benar melongo. Bisa kutangkap ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. Dan hati kecilku mengatakan bahwa ini sesuatu yang baik.

Aku diam saja saat Spencer menggandengku dan membawaku pergi dari tempat ini. Kalau begini, rasanya seperti aku yang pendatang dan ingin ditunjukkan tentang  seluk-beluk Seattle. Bukan dia.

***

Aku tercengang di pinggir pantai Elliot. Dia bilang lapar. Tapi mengapa dia membawaku ke tepi pantai? Dia tak bermaksud menenggelamkanku di laut kan? Oh, kenapa sekarang aku yang terdengar seperti dia?

“Ayo!” ajaknya riang lalu begitu saja menarik tanganku.

Kini aku berdiri di atas Cruise Ship. Oh, yeah. Restoran dalam kapal pesiar. Aku yang bodoh karena tak memahami maksudnya.

Aku tak tahu kapan kapal pesiar ini berangkat, yang kutahu sekarang, aku berada di tengah lautan bersama Spencer. Tentu saja dengan para pengunjung lainnya. Udara di sini cukup dingin. Anginnya juga agak kencang. Tapi sensasinya begitu nyaman. Aku sangat menyukai angin pantai yang lembut, itulah sebabnya aku juga sangat mencintai kota kelahiranku ini.

Oh, kembalilah pada kenyataan Marilyn! Kau membutuhkan penjelasannya!

Kulihat Spencer melangkah mendekatiku dengan dua gelas tinggi berisi Wine. Aku menerima segelas wine darinya lalu menyesapnya sedikit.

“Kalau begini, kita tampak seperti pasangan yang sedang berbulan madu,” komentarnya pelan, dan hal itu sukses membuat kedua pipiku memanas.

“Apa kau tidak takut, aku akan meneggelamkanmu ke dasar samudera?” ledekku. Mencoba mengingatkan bahwa tadi ia sempat memberiku ide gila itu.

Kontan dia melirikku, dan dengan menyebalkan kembali tertawa keras. “Kau tak akan melakukan itu padaku,” katanya dengan sangat percaya diri.

“Kau tak bisa memastikannya, Spencer.”

“Oh, tentu aku bisa.”

“Kalau begitu jelaskan!” tantangku cepat.

Aku merasakan tangan hangat Spencer meraih pergelangan tanganku. Tidak seperti tadi. Kali ini lebih lembut dari sebelumnya. Dan sialnya, aku merasakan jantungku bertalu begitu kencang. Semoga dia tak pernah menyadarinya.

“Kita duduk di sana dulu.”

Lalu tanpa permisi ia menggiringku ke sebuah meja yang terletak di sisi pagar pembatas kapal. Aku duduk di sana. Kali ini aku harus berhasil, dan tak membuang waktu lagi dengannya.

“Kau sudah siap?”

“Sejak awal aku sudah siap,” kataku dengan ketenangan dibuat-buat.

Spencer sepertinya terhibur dengan jawabanku karena kulihat dia tertawa lagi. Ini bahkan tidak lucu!

“Sebelumnya aku minta maaf,” mulainya pelan. “Aku tak bermaksud membohongimu, Marilyn. Aku hanya tidak tega menghancurkan kesenanganmu hari itu.”

“Apa maksudmu? Kesenanganku?”

Spencer terkekeh, dan aku benci itu. “Begini saja, aku hanya ingin bertanya padamu. Apakah ada bedanya bila kujelaskan sekarang tentang maksud kedatanganku hari itu? Bukankah seperti yang aku pernah bilang padamu, Tuhan punya cara tersendiri untuk mempertemukan sepasang pria dan wanita.”

Aku diam. Dan kuakui apa yang dikatakannya benar.

“Tapi kau sudah membohongiku!”

“Aku tak pernah membohongimu, Marilyn. Harus berapa kali kubilang, huh?”

Ya, kau memang benar. Aku yang keterlaluan hari itu. Sial!

“Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Bukankah kau dulu bilang tak menyukai cara perjodohan yang serba diatur? Nah, sekarang kita bertemu secara alami. Tak ada bantuan manusia lain yang mengaturnya. Harusnya kau senang, kan?”

Pipiku memanas. Kali ini dia benar lagi. Aku tak tahu dia bisa begitu serius. Dan harus kuakui, efek yang ditimbulkan dari kata-katanya tadi sama sekali tidak kecil.

“Marilyn!”

Aku terkesiap. Sekali lagi kurasakan jantungku bertalu-talu begitu cepat. Tangan hangatnya kembali menyentuh dan menggenggam tanganku. Well, tidak ada lagi yang perlu kukhawatirkan. Spencer benar. Tak ada gunanya aku memusingkan hal itu. Kalau jodoh, Tuhan pasti mempertemukan kita dengan cara apapun.

“Aku memang sempat berbohong hari itu,” lanjutnya lagi. Kali ini bisa kudengar alunan biola mengiringi kata-katanya. “Tapi sungguh, aku tak pernah berbohong tentang perasaanku padamu.”

Demi Tuhan! Aku sesak. Sesak oleh rasa gembira! Dia mencium jari-jariku satu pesatu! Begitu lembut. Saat bibirnya menyentuh kulit jariku, aku bisa merasakan ada sengatan listrik yang mengaliri tubuhku. Begitu setiap kali, mulai dari jempol hingga kelingking.

Aku bahagia. Sungguh! Mulai hari ini aku tak butuh lagi coklat, yang kubutuhkan hanya dia. Ya, dia. Spencer Lee. Karena hanya dengan melihatnya, sudah mampu menginduksi endorvin di dalam tubuhku.

“I always knew you were the best

The coolest girl I know

So prettier than all the rest

The star of my show

So many times I wished

You’d be the one for me

But never knew you’d get like this

Girl what you do to me”

(Favorite Girl- Justine Bieber)

Astagaaaa! Dia… menyanyi? Well, aku tersanjung. Gadis favoritnya. Oh, God! Wanita mana yang tidak akan tergoda. Tapi yang membuatku ingin tertawa adalah suaranya. Lagu Justine Bieber itu memang bagus, tapi ia berhasil merusaknya dengan nada yang tidak beraturan. Aneh. Kacau. Tapi aku suka!

“My Favorite Girl—“

“Spencer hentikan! Kau membuat telingaku sakit!”

Kulihat Spencer menutup segera mulutnya rapat-rapat. Aku tahu dia tersinggung. Tapi kesehatan telingaku jauh lebih penting dari itu.

“Jadi, kau sudah tidak marah lagi padaku?”

Aku menghela napas lalu mengangguk. “Tidak. Kau kumaafkan.”

Dia menyeringai lebar. Dengan penuh semangat melambai pada pelayan dan meminta pelayan laki-laki itu membawakannya dua piring Steak kepiting dan Ice Cream stroberry.

“Akhirnya aku bisa makan dengan lahap sekarang,” katanya riang.

Aku hanya tersenyum saja melihat tingkahnya yang semakin aneh. Tak berapa lama, pesanannya datang dan aku sampai meneguk ludahku sendiri melihat caranya makan dengan lahap.

“Spencer, semua orang melihatmu!”

Ia berhenti sebentar, lalu terkekeh pelan. “Apakah pekerjaanmu hanya memedulikan orang lain? Lupakan saja, Marilyn! Kalau kau malu-malu, kau tak akan kenyang.”

Yeah, aku suka itu. Dia selalu bisa menghadapi semuanya dengan santai bahkan nyaris sembrono.

“Makanlah!” katanya sambil tetap mengunyah makanannya sendiri. “Ah, aku lupa.”

Aku mengangkat wajah saat kulihat dia meraih sesuatu di saku celananya. “Ada apa? Kau tidak lupa membawa uang, kan?”

Sial! Dia tidak bermaksud membuatku bangkrut dengan sengaja makan di tempat semahal ini?

“Ini!”

Aku yakin aku bisa melihatnya dengan baik. Demi semua kebodohan Patrick Star, itu kartu identitasku! Dari mana dia mendapatkannya?

“Kartumu jatuh saat kau membayar kopi latte di cafe tempo hari. Makanya aku menghampirimu, untuk menyerahkan kartu ini. Tapi siapa sangka kau malah memintaku duduk dan dengan santainya menceritakan semua tentang dirimu.”

Oh My God! Jadi ini benar-benar kesalahanku?

Sponge-bob! Aku membutuhkan segala kepolosanmu sekarang juga! Malu sekali rasanya!

FIN

Akhirnyaaaaa… Maafkan aku cuy, semalem masih sibuk ama SS5 haha. Syukurlah selesai juga. Dan mohon maaf karena ceritanya jelek dan datar. This is My Present for your Birthday…

Saengil Chukhae!!! ^^

*cium Unyuk*

8 thoughts on “Blind Date -OneShot-

  1. lunas juga utangku… janjiku untuk membaca semua karya yg udah kau telurkan*ehh.. maksudnya yg kau luncurkan.

    jalan cerita‘y lutchu.. Jodoh?? bisa dtg kpn saja dan dmn saja..
    spencer͵͵ so sweet bgt da ahhhh^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s