[EunHae Moment] The Thief

[EunHae Moment] The Thief

 734342_504461939611800_1054587919_n

WARNING!!!: Dilarang Muntah (?) baca FF ini. FF ini FF dadakan yang langsung jadi setelah ngeliat betapa rambut Hae udah kayak kakek-kakek lanjut usia! #DiinjekElfishy
So, Dont Bash Me!

-Tra Palace Apartment-

From: Nae Wangja

Sayang, hari ini sepertinya aku tak bisa pulang lagi. Doakan latihanku sukses ya. Sampaikan salamku untuk anak-anak dan Eomma.

 

Eunhee menghela napas. Lalu meletakkan Samsung Galaxy Mini 2-nya di meja kaca rendah depan sofa. Lagi-lagi, Lee Donghae harus bekerja keras untuk persiapan konser Super Junior yang akan dihelat pada tanggal 23 Maret ini. Sepulang dari konser Musik Bank di Jakarta, Indonesia, Donghae lebih banyak menghabiskan waktu di gedung SM untuk berlatih. Hingga menjelang hari H, suaminya itu semakin sering tidak pulang.

Eunhee khawatir kesehatan suaminya memburuk, hingga tak jarang ia menyempatkan waktu untuk mampir ke gedung SM hanya untuk mengirimkan bekal pada Donghae.

Beruntung, semingguan ini Kim Hyangsook—Ibu Donghae—menginap di sana. Hingga Eunhee tak terlalu kesepian dan mendapat bantuan tenaga untuk menjaga putra-putri kembarnya yang kini menginjak usia empat bulan. Dua bayi kembar itu tumbuh menjadi bayi-bayi mungil yang sehat, lincah dan seringnya merepotkan. Tapi Eunhee tak pernah mengeluh saat menjaga mereka. Rasa senangnya, melebihi lelah yang dirasakannya. Apalagi dengan kenyataan kini sang suami harus bekerja ekstra hingga tak tidur semalaman suntuk. Eunhee tak mungkin mengabaikan kenyataan itu.

“Donghae tidak pulang lagi?”

Suara lembut wanita paruh baya yang amat dikenalnya, menyentak Eunhee. Cepat, Eunhee bangkit dari posisi setengah tidurnya lalu melempar senyum terbaiknya pada sang mertua. “Tidak, Eomma,” balas Eunhee pelan.

Kim Hyangsook tersenyum maklum. “Kuharap kau bisa mengerti kesibukannya.”

Eunhee terkekeh pelan, lalu meminta wanita yang sudah dianggapnya sebagai Ibu kandungnya sendiri itu duduk. “Aku sudah terbiasa dengan jadwal padatnya, Eomma. Ini tidak seberapa bila dia harus bepergian ke luar negeri dan tidak pulang nyaris sebulan penuh.”

“Yeah, itu resikonya,” balas Hyangsook lalu membelai sisi rambut Eunhee. Ia memang tak memperbolehkan Eunhee memanggilnya dengan sebutan ‘Eommonim’ layaknya para menantu di keluarga lain. Karena menurut Hyangsook, kata ‘Eomma’ akan jauh lebih terkesan dekat dan menyenangkan. “Aku bersyukur kaulah yang menjadi menantuku.”

“Eomma, aku juga bersyukur kaulah yang menjadi mertuaku.”

“Ah, kau ini. Suka merayu seperti Donghae.”

Eunhee terkekeh pelan sambil terus memandangi wajah cantik di depannya. Wanita itu masih cantik di usianya yang menginjak kepala 5. Rambut ikal selehernya disisir rapi dan dan dijepit di belakang telinga. Tidak ada gurat lelah kendati ia tidak tidur semalaman karena harus membantu Eunhee menjaga kedua cucunya. Bagi Hyangsook, direpotkan Haejin dan Heejin adalah suatu kesenangan tersendiri. Sehari saja tak bertemu mereka, ia bisa rindu setengah mati.

Eunhee dan Donghae memang sudah sepakat tak akan menggunakan jasa seorang baby sitter. Walaupun Eunhee harus setuju dirinya resign dari pekerjaannya di sebuah perusahaan terkemuka di Seoul. Well, itu lebih baik ketimbang harus menyerahkan pekerjaan mengasuh anak-anaknya pada orang tak dikenal. Begitu pikir Eunhee dan Donghae untuk masalah ini.

“Eomma, bagaimana kalau kau tidur saja? Biar malam ini aku yang menjaga Haejin dan Heejin.”

“Tapi—“

“Sesiangan ini Eomma sudah terlalu lelah menjaga mereka. Aku tidak akan apa-apa. Kau butuh istirahat, Eomma.”

Helaan napas berat Hyangsook menandakan ketidakrealaannya. Tapi pada akhirnya wanita paruh baya itu mengangguk. “Baiklah, besok pagi aku yang akan menjaga mereka. Haejin sudah menghabiskan botol keduanya, dan sekarang dia sedang tidur. Sedangkan Heejin, sepertinya dia belum lapar hingga kini belum bangun juga.”

“Ah, Heejin memang suka sekali tidur,” Eunhee tergelak lalu meraih remote TV. “Aku akan menyusuinya, Eomma. Sebentar lagi mungkin dia bangun. Sementara menunggu, aku akan menonton TV dulu.”

“Baiklah. Jangan terlalu lelah. Kau bisa membangunkanku kapan saja.”

Eunhee mengangguk. “Tentu saja. Aku yakin, aku tak akan sanggup menjaga mereka seorang diri, Eomma,” canda Eunhee. Walau dalam hati, ia berjanji tak akan pernah mengganggu tidur nyenyak Hyangsook.

“Kau benar. Kedua cucuku sangat aktif. Persis seperti Ayahnya saat kecil,” Eunhee bisa menangkap ekspresi haru di wajah Hyangsook saat ini.

“Kurasa bukan hanya saat kecil,” sanggah Eunhee. “Sekarang pun masih begitu.”

Kontan, Hyangsook tergelak. “Apa kau mau bilang bahwa sekarang dia tak ada bedanya dengan kedua anaknya?”

Dengan mantap, Eunhee mengangguk. “Tepat sekali! Aku bahkan tak bisa membedakan yang mana anak dan yang mana Ayah.”

“Yah, satu lagi kurasa yang harus kau terima darinya.”

Senyum Eunhee mengembang. Lalu menyentuh pelan punggung tangan Hyangsook. “Kalau kita membicarakan Donghae terus, Eomma tak akan bisa segera beristirahat. Aku yakin akan banyak sekali kisah yang bisa kita ceritakan tentangnya.”

Hyangsook tersenyum lalu mengangguk. “Baiklah. Aku tidur dulu,” katanya lalu bangkit dan berjalan pelan menuju kamar tamu di sebelah kiri dapur.

 

-Stadium Gymnastic, Seoul-

Donghae meneguk banyak-banyak air dalam botol minumnya. Entah ini latihannya yang ke berapa, yang jelas kini ia merasa matanya berat dan ingin segera mengistirahatkannya. Tapi itu tidak mungkin. Pada saat-saat seperti ini, ia dan teman-temannya di Super Junior dipaksa harus tetap terjaga sepanjang malam.

Sentakan yang ditimbulkan Eunhyuk saat meraih botol minum di tangan Donghae, membuatnya terkejut. “Astaga! Hyuk. Kau kan bisa mengambil botol lain,” keluh Donghae.

Namun Eunhyuk mengabaikannya dan justru menghabiskan sisa air dalam botol itu hingga tak bersisa. “Aku ngantuk, Hae,” balas Eunhyuk setelah membuang botol itu ke sembarang arah.

“Kau pikir aku tidak?” balas Donghae lalu memilih duduk di sisi panggung yang kini—oleh sebagian kru—mulai ditata. Eunhyuk mengikutinya, lalu duduk di sisi Donghae.

Malam ini, untuk pertama kalinya mereka berlatih di atas panggung yang akan digunakan untuk acara Super Show 5 dua hari lagi. Tentu latihan kali ini menjadi beberapa kali lipat lebih berat dari sebelumnya.

“Aku juga rindu rumah,” tambah Eunhyuk lagi.

“Hyuk, kau bisa bayangkan bagaimana perasaanku harus terpisah selama ini dengan istri dan anak-anakku?” Donghae menghela napas lelah, dan memandang berkeliling.

Tampak di sudut kiri panggung, Yesung sedang berlatih untuk penampilan solo-nya, sedangkan Kyuhyun—yang tahun ini akan memberi kejutan di penampilan Solo-nya nanti—sedang asyik berlatih dan menghafal koreografi bersama para dancer. Kangin yang tahun ini memulai comeback-nya di Super Junior juga sedang berlatih walau sesekali lelaki bongsor itu menguap.

Melihat betapa gigihnya teman-teman lainnya berlatih, semangat Donghae yang sempat sirna kini kembali membumbung tinggi. Ia harus memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang menyayanginya. Fans-nya. Ever Lasting Friends-nya. Ah, Donghae tak boleh malas.

“Yak! Aku mencari kalian,” Suara keras Kim Junghoon mengagetkan Eunhyuk dan Donghae. “Ternyata kalian malah berpacaran di sini.”

“Aiissh.. Hyeong, kita hanya ingin istirahat sebentar,” sanggah Eunhyuk lalu dengan tidak rela bangkit dari posisi duduknya semula.

Kajja, Hyuk! Kita latihan lagi!” ajak Donghae dengan semangat baru yang nyaris membuatnya ingin menari sepanjang hari.

Tunggu saja ELF, kami tak akan mengecewakan kalian!

-Tra Palace Apartment-

Sementara Hyangsook beristirahat, Eunhee memfokuskan diri menonton televisi yang kali ini menyiarkan berita malam. Eunhee menggeleng ngeri melihat betapa banyaknya berita perampokan dan pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini. Seolah semua tak cukup aman. Atau mungkin, para perampok dan pembunuh itulah yang kini semakin pintar? Hingga mampu menembus sistem keamanan berlapis-lapis yang dibuat si pemilik rumah. Parahnya, perampokan dan pembunuhan itu kebanyakan menimpa para wanita dan Ibu rumah tangga yang sedang ditinggal pergi suaminya.

Entahlah, Eunhee hanya berharap tak pernah mengalami kejadian semacam itu. Apalagi kini Donghae sedang tak bersamanya. Oh, Tuhan! Eunhee tak mau membayangkan hal buruk menimpa keluarganya.

Mendadak merasa ngeri, Eunhee mematikan TV dan melangkah cepat memasuki kamar bernuansa biru dan pink di sisi sebelah kanannya. Haejin masih lelap dan terlihat begitu damai dalam tidurnya, begitu pula Heejin. Sepertinya bayi mungil itu sama sekali tidak lapar setelah hampir 5 jam tertidur pulas.

Eunhee menghela napasnya lega. Lalu duduk di sisi boks Heejin. Menurut perkiraannya, tak lama lagi putri kecilnya itu bangun. Tak mungkin Heejin tak merasa lapar setelah tidur sekian lama.

Menghindari bosan, Eunhee meraih novel tebal karya Tony Parson yang baru setengah dibacanya. Tak lama, Eunhee mulai terlarut dalam kisah unik seorang Ayah yang ingin memenangkan hati putranya setelah perceraian dengan istri pertamanya. Novel Tony Parson begitu banyak mengedepankan tentang perasaan dan seringnya mengangkat tema keluarga. Tak heran bila Eunhee menyukainya.

Baru sekitar sepuluh menit Eunhee membaca, ia bisa mendengar rengekan-rengekan kecil dari boks bayi di sebelahnya. Heejin. Pasti dia sudah bangun.

Eunhee meletakkan kembali novel itu, lalu bangkit. Benar. Heejin bangun. Matanya yang bulat nyalang di tengah penerangan lampu kamar yang temaram. Bayi kecil itu tidak menangis, hanya bergerak-gerak gelisah dalam boksnya.

Eunhee paham, pasti popoknya penuh. Bayi itu juga pasti sudah lapar setelah sekian lama tidur.

Dengan cekatan, Eunhee mengganti popoknya. Meraih bayi mungil itu lalu menyusuinya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Heejin untuk kembali terlelap. Heejin memang tidak terlalu merepotkan. Sedangkan Haejin, terkesan lebih rewel daripada kakaknya.

Setelah memastikan kedua bayinya terlelap, Eunhee kembali ke tempatnya semula. Meraih novel Tony Parson dan membacanya lagi. Eunhee tak sadar berapa lama ia membaca, hingga jam yang berdentang dua kali menunjukkan bahwa kini sudah pukul dua dini hari. Eunhee menguap dan memilih beristirahat sebentar. Memejamkan mata. Lalu tertidur.

————————————–

“Serahkan semuanya, atau kubunuh mereka!” Suara dingin tak berperasaan itu tak hentinya membuat Eunhee gemetar. Rasanya seperti semua tulang-tulang Eunhee melemas dan tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri.

Tidak, ia tak boleh lengah. Kedua bayinya dalam bahaya. Orang berpakaian serba hitam itu bisa melakukan apa saja pada mereka.

Itu tak boleh terjadi! Eunhee akan memberikan apapun asal bayi-bayi itu selamat. Tapi, bila ingat berita di televisi tadi, perampok itu tak akan segan-segan membunuh si pemilik rumah walau harta benda sudah berada di tangan.

Iblis!

“A-aku akan menyerahkannya. Tapi tolong, le-lepaskan bayi-bayiku!” Entah mendapat keberanian dari mana, Eunhee berhasil berbicara. Walau ia sama sekali tak bisa mengenali suaranya yang bergetar.

Lelaki bermasker itu tertawa mengerikan. “Kau pikir aku bodoh?” tanyanya geram. “Cepat bawa semua perhiasan dan uangmu ke mari! Kalau tidak—“

“Tu-tunggu!” tahan Eunhee cepat. “Aku akan membawakan apapun yang kau mau. Tapi, siapa yang bi-bisa memastikan bahwa putra-putriku—“

“CEPAT!!!” Eunhee tersentak kaget.”Atau aku akan membunuh mereka!”

Jantung Eunhee bagai di remas kuat mendengar tangisan Haejin yang tiba-tiba pecah. Hati ibu mana yang akan tahan dengan semua ini.

Oh, Lee Donghae… cepatlah kembali! Tolong kami! Tolong! Batin Eunhee kalut. Air mata kini benar-benar memburamkan pandangannya. Ia tak bisa berpikir lagi. Bahkan untuk bernapas pun sangat susah. Eunhee rela menggantikan posisi kedua bayinya yang kini menangis dalam gendongan lelaki tak berperasaan itu. Ia rela asal bayinya selamat. Kedua bayi itu masih sangat kecil. Eunhee tak akan memaafkan dirinya sendiri bila sampai terjadi sesuatu pada mereka.

“Kau akan tetap diam di situ, dan bayimu akan—” 

“Tidaaak!!!”

————————————————–

Eunhee tersentak bangun. Keringat dingin mengucur turun di kening dan lehernya. Matanya yang masih setengah terpejam kini terbuka lebar.

Semua itu hanya mimpi. Ya, hanya mimpi. Seperti ada yang baru saja melepaskannya dari jeratan tali kuat menyesakkan, kini Eunhee dapat bernapas dengan lega.

Demi Tuhan, Eunhee tak bisa membayangkan seandainya semua itu benar.

“Oaaa… oaaa…!!!”

Haejin. Refleks, Eunhee menoleh. Kelegaan yang dirasakannya sesaat lalu mendadak sirna mendapati pemandangan di hadapannya.

Seorang lelaki. Bercelana dan berjaket kulit hitam. Ada sebuah topi hitam juga di kepalanya. Lelaki itu sepertinya tak menyadari keberadaan Eunhee. Ia perlahan-lahan bergerak meraih Haejin.

Tidak. Seperti de javu. Kejadian dalam mimpinya kembali terulang. Itu tak boleh terjadi!

Meski panik, Eunhee mencoba berpikir jernih. Ia harus melakukan sesuatu. Ya, sebelum perampok berdarah dingin itu melukai mereka.

Eunhee melarikan pandangannya ke seluruh ruangan. Tapi tak berhasil menemukan benda tajam atau apapun yang bisa digunakannya sebagai senjata. Well, tidak di kamar anak-anaknya. Seandainya saja ia berada di dapur, tentu tidak sulit mencari benda seperti itu.

Eunhee mengutuki diri sendiri. Seharusnya setelah melihat berita di TV tadi, ia bisa mempersenjatai diri dengan benda apapun yang bisa mengusir si perampok. Sial!

Novel. Baiklah, walaupun tak cukup berarti.  Tapi Novel tebal karya Tony Parson di meja itu pasti bisa digunakan untuk membela diri.

Perlahan, Eunhee bangkit. Meraih novel bersampul biru dengan judul Man and Boy tadi ke dalam pelukannya.

Susah payah Eunhee menelan ludah. Lelaki tadi sepertinya masih sibuk dengan Haejin yang terus menangis.

Tenanglah, Haejin-a… Eomma datang!

Tepat ketika Eunhee sampai di sisi pria itu, Ia memukulkan novel tebal tadi dengan kalap. Sama sekali mengesampingkan rasa takutnya sendiri.

“Pergi kau perampok sialan! Apa yang kau lakukan di sini! Jauhi anakku!”

“Aakk… aaak… Yak!!! Hee, aku Donghae! Suamimu!—aw!!! Apa yang kau lakukan—hey!”

Eunhee tercengang. Seketika menghentikan perbuatannya. Itu benar suara Donghae. Perlahan, Eunhee memberanikan diri membuka matanya.

Eunhee mengerjap-ngerjap pelan. Untuk sejenak, Eunhee seperti sedang mengumpulkan kesadarannya sendiri. Ia meneliti sosok yang berdiri di hadapannya. Berpakaian serba hitam. Syal hitam yang tadi dikiranya masker seperti milik si perampok dalam mimpinya kini telah terbuka. Memperlihatkan wajah tampan yang sangat akrab dalam ingatannya. Begitu pula topi hitam yang dipakai lelaki itu, sudah terlepas dari tempatnya.

Ada yang aneh, pikir Eunhee bingung. Mata Eunhee terus menelusuri sosok di hadapannya. Apakah dia Donghae? Suaminya? Tapi—

“Yak! Kenapa kau diam saja? Kau masih berpikir aku ini pencuri, huh?”

Dari suaranya, sudah pasti dia Lee Donghae. Tapi… Ya Tuhan! Rambutnya!

Kontan, Eunhee ternganga. Tapi hanya sesaat. Setelah berhasil mengendalikan diri, Eunhee kembali memukulkan novel tadi dengan lebih keras pada lengan atas Donghae.

“Yak! Yak! Hee! Apa yang—hey! Kau masih tak percaya—yak!”

“Pergi kau! Jangan mengaku-ngaku sebagai suamiku!” jerit Eunhee nyaring. Dan segera menyesalinya karena kini bukan hanya Haejin yang menangis tapi Heejin juga. Sial!

“Lihat! Apa yang kau lakukan?” keluh Donghae yang dengan sigap menghentikan perbuatan Eunhee dengan memegangi kedua sikunya. “Aku Donghae, Lee Donghae?! Masa kau tak mengenali—“

“Ada apa—Omo!” Kedatangan Kim Hyangsook menghentikan kalimat Donghae. Wanita paruh baya itu berhenti melangkah tepat ketika pintu kamar menjeblak terbuka.

“Ah, Eomma. Tolong katakan pada wanita di hadapanku ini bahwa aku benar-benar Lee Donghae,” mohon Donghae. Merasa lega karena Ibunya ada di sana.

Tidak mungkin bukan bila hanya mengganti warna rambutnya, Eunhee dan sang Ibu sampai melupakannya? Lagi pula, ini bukan kali pertama ia melakukannya. Beberapa tahun silam, Donghae juga pernah mewarnai rambutnya seperti ini. White Blonde.

“Tidak. Dia pasti bohong! Aku tak memiliki suami kakek-kakek seperti dia!” bantah Eunhee keras kepala yang sukses membuat kedua mata Donghae terbelalak.

Mwo? Ka-kakek-kakek?”

Mengerti bahwa ini bukan saatnya ikut campur, Kim Hyangsook mendekati boks bayi Heejin dan meraih bayi perempuan itu dalam dekapannya. Ia akan keluar sebentar. Biarkan suami istri itu menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Lepaskan aku!” bentak Eunhee keras. Lalu buru-buru menghampiri Haejin yang masih menangis begitu Donghae melepaskan cengkramannya.

“Yak! Hee, kau tak mungkin melupakan suamimu kan?” Donghae merengek. Sementara Eunhee terus mengabaikannya dan memilih menyusui Haejin yang kini mulai berhenti menangis. “Hee—“

“Sssshh… bisakah kau pergi? Kau mengganggu anakku—“

“Anak kita!” sanggah Donghae cepat.

“Sudah kukatakan, aku tak punya suami sepertimu!” Eunhee mendesis, berusaha kuat menahan diri untuk tak berteriak terlalu keras. Haejin sudah hampir terlelap, ia tak ingin membangunkannya lagi.

Eunhee bisa mendengar Donghae menghela napasnya cepat. Untuk beberapa saat suasana kamar itu hening. Eunhee bersyukur karena kini Haejin sudah kembali lelap dan ia bersiap menurunkannya di boks.

Ketika berbalik, Eunhee mendapati Donghae duduk menatapnya dari sofa di tengah ruangan. Eunhee sengaja membuang muka lalu ke luar dari ruangan itu. Meninggalkan Donghae seorang diri.

Dengan langkah-langkah lebar, Eunhee melewati ruang tengah. Tersenyum sebentar pada sang mertua lalu masuk ke kamar utama. Tanpa disadarinya, Donghae mengekor di belakang. Sepertinya Donghae memang menunggu saat yang tepat untuk bicara.

“Hee, bisa kau jelaskan kenapa kau jadi semarah ini?” tanya Donghae hati-hati.

Dari balik pintu lemari, Eunhee melirik Donghae sekilas. “Kau bicara padaku?”

“Yak! Kau pikir aku bicara sendiri?” pekik Donghae tak terima lalu berjalan menghampiri Eunhee yang berdiri di sisi lemari.

Dengan santai, Eunhee menutup lemari itu. Tatapannya kini teralih sepenuhnya pada pria berambut pirang di hadapannya. “Katakan apa yang ingin kau katakan. Lalu pergilah! Suamiku tidak akan senang bila ada lelaki lain yang masuk—“

“Lee Eunhee!!! Aku suamimu!!!”

Eunhee membelalakkan mata dan tersenyum mengejek. “Tidak. Suamiku jauh lebih tampan dengan rambut hitam nan elegan. Tidak seperti kakek-kakek begini—“

“Yak!!!” Donghae berteriak. Wajahnya yang lelah kini memberengut kesal. “Ini tuntutan pekerjaan. Sekarang giliranku yang mengecat rambut menjadi pirang. Ayolah! Kuharap kau mengerti. Malam ini aku sengaja kabur barang sejenak, karena aku benar-benar tak tahan ingin bertemu denganmu dan anak-anak. Kenapa kau malah bersikap begini?” jelas Donghae, nyaris seperti rengekan bocah berumur 5 tahun yang meminta hukumannya segera dicabut setelah kedapatan membuat kesalahan. “Lagi pula, aku tak separah itu. Eunhyuk bilang aku tampan dengan rambut baruku ini,” tambah Donghae cepat-cepat, lengkap dengan senyum penakluk andalannya. “Kau pasti sepen—“

“Kalau begitu, kenapa kau tak menikah saja dengan Eunhyuk?”

“Yak!!! Aku masih normal!”

Eunhee nyaris terkikik melihat betapa kesalnya wajah Donghae kali ini. Tapi dengan cepat, wanita itu mengendalikan diri. “Oh, benarkah? Tapi setahuku, orang normal tidak mengganggu istri orang.”

“Aku Lee Donghae!!! Berapa kali aku harus bilang padamu?”

“Aku juga sudah berapa kali bilang padamu. Bahwa suamiku—“

“Haruskah aku membuktikannya? Haruskah aku menyebutkan di mana saja kau memiliki tahi lalat di tubuhmu hingga kau percaya bahwa aku benar-benar Lee Donghae? Suamimu?”

Saat itu juga Eunhee merasakan pipinya memanas. Eunhee yakin, warna pipinya sudah semerah tomat. Sialan kau Lee Donghae!

“Ini tidak ada sangkut pautnya dengan… ehm… tahi lalat!” sergah Eunhee, sekali lagi menahan diri untuk tidak terkikik.

Donghae mengabaikannya, lalu mulai menyebutkan satu persatu. “Aku akan memulai dari yang di pipi sebelah kanan dekat telinga, lalu di lengan kanan, di leher bagian tengah, di perut sebelah kiri, dan favoritku di—“

“Stop stop stop!!!” Kini seluruh wajah Eunhee benar-benar merah. Ia tak tahu harus bereaksi bagaimana. Campuran antara kesal, malu dan geli. “Kau gila?” desisnya bingung.

“Tapi kau belum mendengar di mana letak tahi lalat favoritku.”

“Hae, nanti Eomma mendengarmu!”

Donghae terkekeh pelan. Seolah berhasil dengan taktik yang dibuatnya. “Gotcha! Kau tidak berpura-pura tak mengenalku lagi sekarang.”

Eunhee mendengus. Ia mau tak mau harus mengakui bahwa taktik yang digunakan Donghae memang ampuh. “Sudahlah! Aku mau mandi dulu. Mungkin akan tidur sebentar.”

Namun belum sempat Eunhee bergerak, Donghae menahan pinggang wanita itu. “ Aku harus menghukummu karena kau telah memukuliku tadi, hmm?” Donghae berbisik pelan di telinga Eunhee.

“Jangan macam-macam!” Eunhee mundur beberapa langkah. “Aku tidak sedang ingin dirayu seorang kakek!”

Donghae tertawa lebar. “Tapi aku kakek yang memesona. Dan karena kau tak mau mendengar dariku di mana letak tahi lalat favoritku berada. Biar sekarang kutunjukkan langsung saja.”

“Yak! Lee Donghae! Turunkan aku!” Eunhee memukul-mukul dada Donghae ketika dengan mudah pria bertubuh kekar itu membopongnya.

“Kau bilang mau mandi kan?”

“Hae!!! Dasar kakek-kakek genit!”

Donghae menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi. Bibir tipisnya menyeringai nakal sembari menatap Eunhee yang kini mendengus-dengus marah. “Kalau aku kakek-kakek, itu berarti, kau nenek-neneknya.”

“Mwooo?!”

“Halmeoni, ayo kita nikmati hari tua bersama-sama.”

“Lee Donghae!!! Turunkan aku!!!”

FIN

46 thoughts on “[EunHae Moment] The Thief

  1. wkakaakaka…dini hari dibuat ngakak.ngakak. sama kakek”genit…

    aduwhh.. ini eunhee kaya eomma dg 3 anak..gak isa bedain suami sama anak…

    HAEraboji .. maav q gak suka rambut blonde.mu..(¬,¬”)

    kita sependapat kan eunhee eonie.?? ƗƗίί☺ƗƗίί☺ƗƗίί

  2. Astaga, Z benar-benar ngakak baca ff ini. Hhahah…

    Emang bener si abang ikan udah kayak kakek-kakek dengan rambut blonde-nya, tapi untung bukan pink kayak abang kacamata dulu. kkkkkkkkkkk…..

    *DitampolFishy😛

  3. wkwkwkwkwk … eunhee kalah telak~~~
    kasian bener eun hee ..
    emang letak tahi lalat favorite hae .. dimana eonnu ??? *ditabok eunhee*

  4. lucu bgt sich ceritanya😄.. tp q jg ga bgtu sk sm rambut hae oppa yg skrg, bnr kyk kakek2 wlwpun msh ganteng sich😄.. tp ttp aja ga cocok, lbh mending item ga usah diwarnain ~__~..

  5. Hehehehehe… kakek2.. ???? ada yah kakek2 setampan ituh. wkwkwkwkwk
    ehhh.. emang tahi lalat favorit si donge dimana???? *Kepo banget*

    Tapi Hee… kayanya ada yg kurang dehh.. katanya mau nyiksa2 si kakek itu tp kok donge cuma keseL doang dan merengeK2 karena hee pura2 ga kenaL suaminya maLah si kakek bisa ngerjain balik. harusnya lebih ekstrim lagi yg bisa bikin si Donge meraung2 nangis *kebayang deh kalo donge di kerjain abis2an*

    • ada Eon. Noh! *nunjuk si pirang cengeng*
      Hadeeehh… tutup topik Eon!! Tutup!!! hahahaha

      lha itu udah dipukul bolak-balik pake novel? pan udah disiksa Eon *ngeles* :p

  6. Aku juga gak suka sama warna rambut Hae sekarang, lebih suka yang warnanya hitam keliatan tampan dan polos. Hae gak pantes jadi badboy begitu >.<
    kalo yang di skip beat baru aku suka

  7. Hahhhahahaha.. Harabeoji dan halmeoni bertengkar!!!

    Kekekekekekeke… suka banget dengan dengan kata2 Donghae..
    “Halmeoni, ayo kita nikmati hari tua bersama-sama.”

    Eh… Eunhee kapan sadar ya klo itu Donghae?? Aku kirain dia betul2 percaya itu bukan Donghae.. Huh..

    Lucu eonn, tapi keren dehh..😀

  8. Wkwkwkwk,,,,ngakak gegara kakek babo*plak*
    dasar si HAEraboji genit,,,,,

    harusnya si hee ngerjain donghae smpe nangis,biar tau rasa dia,,,tapi sayang,hee ga tahan sama godaan si kakek genit,wkwkwk

    donghae-ah,,,,,,,,aq ga suka gaya rambut blonde-mu
    dari semua gaya rambut hae,paling suka yg diwarnai item potongan pendek yg keliatan jidatnya,,arrggghhh keren sangat itu*cipokhae*
    #kaboorrrrrrr

  9. wkwkwkkwkq…owalah ternyata cuma mimpi to…di fb udah bikin heboh aku…huweeee…kirain sikembar kenapa2..
    kkkkk…haeraboji kau mempesona…wkwkwkkw

  10. puahahahahaaa… hedehhhh ini suami istri perasaan kelai mulu daa..
    eh tp perasaanku donge bagus aja tuh blonde gitu :p *ditampol bini2nya

    pas baca cuplikan yg maren kamu publish di fb tu kirain beneran, sompret, taunya MIMPIIIII!!! >.<
    hahahaaa… aku paling suka pas pembahasan tahi lalat.. hoakakkkkk jadi inget si Jun ama tejo :p

    padahal momennya daa oceh bgt kudunya lanjut mpe donge nunjukin dimana letaknya hoakakkkkkkkkumatyadongnya

    yoweslaa titip salam ajah buat baby kembarmu ntar kapan2 ngunjungin bawa hadiah bareng omnya :p

    • kelai itu indah Song, apalagi klo kelainya di Kasur (?) #ehh
      Hoakakakkkkk… aku ngakak ampe pagi loh Song gara2 bikin adegan tahi lalat itu #blushing

      Lhaaa?? Miss Yadong beraksi! kagak ah, ntar yg laen kagak bisa baca lagi :p

      Oh mau dateng? Om yg mana dulu nih?? :p

  11. Nggak sukaaaa.. maksudnya nggak suka sama rambutnya Hae-oppa,, kembalikan rambutnya.. kembalikan rambut hitam kemilaunya (????)

    udah lama nunggu eunhae moment ni ssaeng-i, akhirnya update lagi.. kkkk
    twiny-baby kayaknya makin lucu aja nie.. sama persis ma appa-nya.. bawaannya pengen baca cerita keluarga kecil ini teruusss,,, hah

    dan aku ngakak ngebayangin Hae jadi rampok… kkk kakek- kakek imyuuttt🙂

  12. kyaaaaa……eonni ada2 ja bkin eunhae moment kyk gni,kkkkk
    bo’ong bngt tuh hyukie,tampan apanya?bnr2 mrip kakek2,hehe*peace eon😛
    crtny mnghibur eon,bkin ngakak gr2 kakek hae😀
    cptlh kmbli k wjud aslimu yg manis itu hae,jgn brlma2 mjd kakek,ne?!?hihihi

  13. hahaha , ngakak baca part ini eon..😄
    bener banget, si ikan mokpo cakepan kalo rambutnya item. Kalo blonde kesannya gimana gitu, mana kemaren-kemaren pake tato lagi
    ckckck -____-

  14. Onnnnieyyy
    akhirnya bsa komen meski pke hp, modem nyebelin…

    wkwkwk…
    itu hae malang amat. Udh cape , dikira pencuri, g diakui jd suami trs di blg kakek2…😄
    onnie ad2 aj nih bikin cerita kyk gne…
    awaw, trakhir mrk ngpain tuh? *menyeringai

    Oh! sial Kyu! Kejutan yg tidak membuatku senang..

  15. ⌣̈ωķα⌣̈ķα⌣̈ķαķ⌣̈ parah disebut kakek-kakek-____- awal nya juga kaget malah syock banget liat rambut hae begitu😦 gak cocok. Bagusan hitam kalo enggak coklatpirang~ tapi yaaaah :3 tuntutan. Dan tatto nya haeeee gak nahaaaaan❤ haha

  16. tiap EunHae moment adaaaa aja yang bikin kocak kkk
    kocaknya ditambah kisah romantisnya itu lo yang bikin ketagihan baca😀

    rambut Donghae kaya kakek-kakek lanjut usia? haha
    Eunhee unnie ga suka ya sama warna rambutnya? aku juga engga kak hehe ga cocok -_- bagus item aja
    kasian ya Eunhee unnie ditinggal Donghae mulu mana sibuk ngurusin anak kembarnya, tapi kasian juga Donghaenya mesti kerja keras gitu, sekalinya pulang eh malah kena marah sama kena gebuk haha

    oh iya letak tahi lalat favorit Donghae itu dimana ya? haha😛

  17. Hahahahahhaha
    sampai segitunya eunhee
    kalo urusannya sama hae oppa mah walaupun kakek2 hae oppa itu kakek yg tampan n mempesona,wkwkwkwkwkwk

  18. ̸̷̸̐hha ̷̸ ̷̷̸̸̷̸̐̐ ̸̷̸̐hha ̷̸ ̷̷̸̸̷̸̐̐ ̸̷̸̐hha ̷̸ ̷̷̸̸̷̸̐̐ ̸̷̸̐=))😀 si oppa ada” aja kekeke …😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s