Memories of Youth (SM High School) -Book Six-

Ringkasan cerita sebelumnya:

Jiae sedih ketika Kyuhyun menuduhnya ikut bertanggung jawab pada persoalan keluarga yang dialami Ayah Kyuhyun dan Ibunya. Sedangkan Kyuhyun mulai merasa bersalah mendapati Jiae menangis di hadapannya, namun ia mendapati dirinya tak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan gadis itu pergi. Haerin merasa gugup dan tidak percaya bahwa seorang Choi Siwon akan mengajaknya ‘berkencan’ di Hangang pada Minggu sore besok. Ia bahkan tak pernah bermimpi akan hal itu.

Eunhee dan Donghae sibuk mencari kado untuk ulang tahun Jihyeon, dan entah untuk alasan apa Eunhee merasa senang selalu berada di dekat pria itu. Kendati, Myeongdong bukanlah tempat favoritnya. Sedangkan Donghae, mulai menemukan jati diri lain dari sifat Eunhee.

Saehyun yang sedang asyik belajar di ruang sience tak sengaja menatap Kibum yang tengah terlelap di sofa pada ruangan yang sama. Dan perbuatannya sendiri yang entah dilakukan secara sadar atau tidak, membuat Saehyun kalang kabut.

Yeonrin yang keras kepala, menemukan dirinya tersentuh mendapati Hyukjae yang tertidur di atas motor sport kuningnya tepat di depan pagar rumah Yeonrin. Yeah, ia tersanjung atas perhatian kecil pria itu. Namun tetap tak ingin mengakui perasaannya.

-Book Six-

Something Happenned

 Moy

 

Author: Aika Lee / @Diah8876

Male Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kim Kibum, Park Jungsoo, Kim Youngwoon, Kim Jongwoon, Kim Ryeowook, Shin Donghee, Lee Sungmin, Tan Hangeng, Kim Heechul and others.

Female Cast: Lee Eunhee, Shin Jiae, Hwang Yeonrin, Han Haerin, Cho Saehyun, Lee Jihyeon, Lee Hyunsun and others.

Leght: Chaptered

Genre: Romance, Friendship, Family, Fluff.

 

-Eunhee’s House-

Senyum Eunhee belum sepenuhnya pudar ketika gadis itu turun dari Hyundai putihnya. Bahkan tanpa sadar, dirinya pun bersenandung kecil sembari memutar-mutar kunci mobil di tangan. Bahagia? Entahlah, Eunhee merasa dunianya kini begitu indah. Ah, mungkin terlalu berlebihan. Namun untuk alasan yang tak ingin dipahaminya, acara jalan-jalan dengan Donghae tadi—walau tak dimaksudkan untuk berkencan—terasa begitu menyenangkan.

Well, satu lagi. Eunhee harus berterima kasih pada Hae-hae—kucing persia lucu yang dibelinya di Myeongdong—karena kini ia memiliki alasan untuk berkunjung ke rumah lelaki itu.

“Apakah jalan-jalan bersama ketiga gadis itu terasa begitu menyenangkan?”

Eunhee terdiam di ambang pintu mendengar suara Lee Jaehee—ayahnya—menyambut tepat ketika pintu ganda itu menjeblak terbuka. Untuk beberapa saat gadis itu terdiam mencerna pertanyaan sang Ayah. Yeah, tadi ia memang berpamitan pada Ibunya akan pulang agak terlambat karena sudah terlanjur berjanji menghabiskan waktu bersama Jiae, Haerin dan Yeonrin seperti yang biasa dilakukannya setiap menjelang akhir pekan.

“Oh, Appa. Tumben sekali jam segini kau sudah di rumah,” sambut Eunhee. Berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya. “Apalagi ini malam Minggu. Bukankah Ka sedang ramai-ramainya?”

“Kurasa aku yang harus bertanya. Apakah setiap hari kau selalu pulang sekolah pada jam segini?” balas Lee Jaehee sembari menghampiri putri semata wayangnya dalam langkah-langkah lebar.

Cepat, Eunhee menghambur dan melingkarkan lengannya di lengan sang Ayah. “Appa, kau sudah makan? Aku lapar,” katanya sengaja mengganti topik pembicaraan. Entahlah, Eunhee merasa harus waspada pada ekspresi aneh Ayahnya malam ini. Sepertinya, ada sesuatu yang disimpan pria paro baya itu.

Ayah Eunhee adalah lelaki sibuk yang hampir selalu menghabiskan waktunya mengurus ‘klub malam’ yang dikelolanya di kawasan Hongdae. Hingga nyaris tak memiliki waktu untuk keluarganya. Namun, Eunhee tak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Meski Ayahnya selalu pulang larut, Eunhee tetap selalu berinteraksi dengan lelaki paro baya itu melalui telepon atau pesan singkat. Waktu singkat yang dimilikinya, juga selalu diisi hal-hal berkualitas hingga menimbulkan rasa kasih yang sangat besar di antara keduanya. Ibunya pun seorang ibu rumah tangga hebat yang selalu melimpahi Eunhee dengan segenap kasih sayangnya.

“Jangan mengalihkan pembicaraan,” kata Lee Jaehee tenang. Ekspresi wajahnya sama sekali tak terbaca. Mungkin dari Ayahnya lah Eunhee mewarisi sifat misterius itu.

“Memangnya, itu penting?” balas Eunhee malas sembari bersandar di bahu Jaehee.

“Aku dengar, beberapa kali kau datang ke Hongdae,” Jaehee bergumam, mengabaikan rajukan Eunhee sebelumnya.

Buru-buru Eunhee mengangkat kepala dan menatap Ayahnya kaget. Namun itu hanya sekilas pandang. Karena detik berikutnya, wajah Eunhee kembali terlihat datar. “Bukankah kau yang memang memintaku datang menjemput, Appa?” balas Eunhee kalem.

Jaehee tersenyum tipis, yang entah mengapa senyum itu justru menghidupkan sinyal waspada di otak Eunhee.

“Ehm, Appa… aku mau mandi dan mengganti seragam—“

“Kau menyukai DJ baru itu?”

Eunhee terhenyak. Tampak jelas kali ini ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “A-apa maksudmu, Appa? Kenapa kau berpikir—apa Eric mengatakan sesuatu?”

“Semua ini tak ada hubungannya dengan Eric,” sergah Lee Jaehee.

“Tapi—“

“Jadi semua itu benar?”

“Tidak. Appa, aku—“

“Mulai besok. Kau tak boleh membawa mobil. Supir yang akan mengantar dan menjemputmu sekolah.”

Eunhee berniat membantah lagi, tapi buru-buru menelan bantahan itu mendapati ekspresi keras di wajah Ayahnya. Eunhee tak mungkin memberitahu Jaehee bahwa Donghae adalah teman sekelasnya di SM. Bila Ayahnya sampai tahu, lelaki itu pasti dipecat karena terbukti menyembunyikan usia yang sebenarnya masih di bawah umur.

Tanpa berkata apapun lagi, Eunhee berputar dan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.

“Aku melakukan ini untuk kebaikanmu, sayang.” Eunhee menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga mendengar Lee Jaehee menambahkan. “Aku memang pemilik sebuah klub malam terkenal di Hongdae. Tapi sama sekali tak ingin putri yang sangat kucintai terlibat dalam dunia malam yang keras. Kau dengar itu?”

Eunhee tak menjawab. Ia mengerti kegelisahan Ayahnya. Tapi ia pun tak bisa membongkar rahasia Donghae begitu saja. Pemuda itu sangat membutuhkan uang untuk terus menjalani hidupnya.

Baiklah. Tak masalah bagi Eunhee tak membawa mobil. Bukankah ia masih bisa bertemu Donghae di sekolah?

Ah, tapi tunggu dulu! Bila Ayahnya sampai tahu semua yang terjadi padanya dan Donghae, mungkinkah… sang Ayah sengaja menyewa seorang detektif untuk menguntitnya? Oh, seorang Ayah dengan segala kekhawatirannya. Sial! Ia tak boleh terlihat terlalu dekat dengan Donghae, mulai saat ini.

-Cho’s House-

Hari Minggu yang cerah. Tapi Saehyun sama sekali tak berniat untuk bangun sepagi ini. Sial! Kejadian Sabtu sore kemarin di ruang sience belum sepenuhnya hilang dari pikirannya. Dan yeah, semua itulah yang membuat matanya nyalang terbuka di hari Minggu yang seharusnya dihabiskannya dengan tidur seharian dan bermalas-malasan.

Kim Kibum. Lelaki itu selalu berhasil membuat Saehyun membisu dengan setiap lontaran telaknya. Sialnya, kemarin sore… dirinyalah yang sengaja mencari masalah. Apa yang dimiliki pria itu hingga dirinya memiliki ide gila untuk… menciumnya? Ah, menyebalkan sekali! Rasanya Saehyun ingin mengunci diri dalam kamar saat itu juga. Sama sekali tak ingin bertemu pria pemilik senyum menawan itu lagi.

“Aku tahu kau sudah bangun! Ayo cepat keluar! Kita jogging!”

Saehyun mengerang. Lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Itu suara Kyuhyun. Tumben sekali saudara kembarnya itu mengajaknya lari pagi. Biasanya… mereka berdua sangat malas jika disuruh berolah raga.

“Saehyunnie! Cepatlah!” Suara Kyuhyun terdengar tidak sabar. Ketukan di pintu kamarnya pun semakin keras.

Biarlah. Saehyun tak mau menjawab. Biarkan Kyuhyun berpikir bahwa ia masih tidur. Emosinya masih terlalu buruk untuk menghadapi semua orang. Bahkan, ia sampai lupa rencananya untuk menegur Kyuhyun tentang apa yang didengarnya kemarin dari Jiae.

Ah, sudahlah. Semua itu bisa menunggu, pikir Saehyun. Lagipula, bila mereka masih saling menyayangi… tak lama lagi mereka akan saling berbaikan.

 ***

Kyuhyun berlari-lari kecil menuju taman dekat rumahnya. Ia yang biasanya memilih menghabiskan waktu di depan komputer untuk bermain game, entah mengapa kini merasa game itu sama sekali tak menarik. Sejauh ini, satu-satunya hal yang berhasil membuatnya berpaling dari hobby-nya itu hanyalah Shin Jiae. Yeah, dan itulah yang menjadi alasannya hari ini.

Kyuhyun masih terbayang bagaimana merahnya wajah Jiae saat ia mengungkit masalah dua tahun lalu di ruang musik kemarin. Walau tak ingin mengakuinya, Kyuhyun merasa hatinya bagai diremas kuat mendapati Jiae menangis dan berusaha keras menyembunyikannya.

Apakah ia telah salah? Mungkinkah selama ini ia telah membuat kesalahan besar dengan menghindari gadis itu? Menuduhnya yang tidak-tidak, hanya karena gadis itu lebih memilih Shim Changmin untuk mencurahkan isi hatinya?

Tidak. Han Youngjin pernah bilang padanya bahwa Shin Jiae sudah bosan bermain dengan dirinya. Jiae bahkan memberikan gantungan bintang itu pada Youngjin. Sudah jelas, bahwa gadis itu tak menghargai Kyuhyun.

Tapi…

Kyuhyun seketika menghentikan langkahnya di tepi trotoar. Matanya membulat sempurna ketika menyadari apa yang baru disadarinya.

Gantungan itu… hingga kini masih disimpan Jiae. Ya, gadis itu masih menyimpannya hingga beberapa hari lalu secara tak sengaja gantungan itu kembali padanya.

Refleks, Kyuhyun merogoh saku celananya. Mengeluarkan benda silver kecil berbentuk bintang dengan hiasan manik-manik kecil berwarna biru muda itu. Ia selalu membawanya ke manapun. Paling tidak, benda itu menyimpan kenangan manis yang tak ingin dilupakannya.

“Bodoh!” maki Kyuhyun. Seperti orang linglung, Kyuhyun berjalan pelan mencari bangku taman terdekat lalu duduk di sana.

Harusnya Kyuhyun sudah menyadari sejak pertama kali menemukan benda mungil itu di jok belakang mobilnya. Tapi dengan tololnya, ia selalu menyangkal dan terus menyangkal.

Memang bukan kesalahan Jiae hingga kehidupan rumah tangga Ayah dan Ibunya berantakan. Keadaan lah yang membuat segalanya menjadi runyam. Sedangkan dirinya, menambah keadaan itu menjadi semakin runyam dengan bertindak egois.

Apa yang harus dilakukannya? Kyuhyun bingung. Haruskah ia meminta maaf pada Jiae? Membuang segala egonya untuk mengembalikan hubungannya seperti dulu? Akankah Jiae memaafkannya?

Sial!

Kyuhyun beranjak dari kursi taman panjang itu. Lalu melanjutkan kegiatannya berlari mengelilingi taman. Sesekali menghela napas dalam, ketika mengingat kata-kata kasarnya kemarin untuk Shin Jiae.

Cemburu benar-benar mengerikan!

Langkah Kyuhyun tiba-tiba terhenti. Sosok berjaket biru dengan celana olah raga berwarna senada menimbulkan gelegak mendebarkan di sudut hatinya. Shin Jiae. Apa yang dilakukan gadis itu di sana?

-SM Gymnasium-

Yeonrin tak hentinya tersenyum sembari melambaikan tangan pada Choi Minho, yang kini tengah berlatih dengan giat bersama seluruh anggota tim basket sekolah untuk menghadapi kejuaraan se-Ibu kota minggu depan.

Sebenarnya Yeonrin bosan harus berdiam diri di kursi penonton dan menunggui Minho beraksi di lapangan basket. Tapi yeah, kalau dipikir-pikir ia memang sudah agak lama tak berkencan dengan Minho. Apa salahnya mengorbankan waktunya sebentar untuk sang kekasih? Lagipula, ketiga temannya sedang tak bisa diajak berkompromi.

Eunhee—selalu dengan alasan aneh—menolak ajakannya berbelanja. Sedangkan Haerin terlalu sibuk mempersiapkan kencannya dengan Choi Siwon sore nanti, hingga tak bisa diganggu. Sedangkan Jiae, oh… Yeonrin tak mau mengganggu gadis yang sedang sedih itu.

Bosan menunggu terlalu lama, Yeonrin mengedarkan pandangannya ke seluruh gedung. Gedung gymnasium luas yang di dalamnya terdapat lapangan basket, voli dan kolam renang di sisi lain itu tampak lengang. Hanya ada beberapa orang sedang berlalu-lalang atau sekedar menonton aksi tim basket.

Yeonrin mendesah pelan, mendapati tak ada yang menarik minatnya.

“Mencariku?”

Hampir saja Yeonrin menjerit bila tak ingat ia sedang berada di mana. Untuk alasan yang tak ingin diakuinya, Yeonrin merasa senang mendapati Lee Hyukjae di hadapannya. Dengan pandangan memuja seperti biasanya.

Pria itu… akhir-akhir ini memang hampir selalu membuatnya tersenyum. Walaupun hanya dalam hati. Yeah, Yeonrin terlalu gengsi untuk mengakuinya.

“Aku memang tampan. Tak perlu menatapku begitu, Yeonnie sayang!”

“Apa?” Harusnya Yeonrin marah, iya kan? Entahlah, kenapa ia justru merasa terhibur?

“Ingin jalan-jalan bersamaku?” tawar Hyukjae ketika Yeonrin hanya diam saja. “Hari ini aku juga sedang ada latihan di ruang dance. Tapi karena melihatmu ke mari, aku mengikutimu. Kau mau ikut?”

Dance? Tiba-tiba rona merah menjalar di wajahnya. Bagaimana ia bisa berpikir bahwa  Hyukjae tak punya pekerjaan hingga harus mengejarnya ke mari tanpa tujuan yang jelas.

“Hey, kenapa diam saja? Ayo! Hmm… tapi kau harus bersiap-siap karena sepulang dari sana, kau akan jatuh cinta sepenuhnya padaku.”

“Eh.. tidak, aku—“

Yeonrin terkesiap merasakan lengannya kini ditarik paksa. Bahkan ia tak sadar pernah keluar dari gedung itu ketika mendapati dirinya berada di ruangan lain yang penuh cermin di keempat sisinya. Ruangan berlantai parket dengan cat berwarna biru itu masih sepi. Hanya ada dirinya dan Hyukjae di sana.

“Hyuk, kenapa kau membawaku ke mari? Oh, minho bisa marah kalau sampai tahu,” pekik Yeonrin lalu berniat pergi ketika mendengar suara musik diputar. Dari salah satu cermin, ia bisa melihat pantulan tubuh Hyukjae yang meliuk dengan lincah mengikuti irama lagu yang menghentak.

Untuk sejenak, Yeonrin seolah lupa pada Minho yang mungkin akan marah saat tahu dirinya tak berada di tempat. Tapi persetan dengan semua itu, Yeonrin benar-benar tersihir dengan pesona Hyukjae saat menari.

Tak ada lagi kesan tolol, dungu, aneh, dan… udik yang diperlihatkan pria itu saat ini. Yeah, seolah aura hebat yang tersimpan rapat-rapat itu menguar begitu saja setiap kali ia menari.

Tampan, dan keren. Dua kata itulah yang terpatri di benak Yeonrin saat ini.

“Simpan dulu kekagumanmu, Yeonnie sayang. Karena aku masih punya stok tarian lain yang lebih hebat.”

Suara Hyukjae menyentak Yeonrin. Ia bahkan tak sadar, lagu itu sudah berhenti. Dan oh… Yeonrin ingin sekali melihat Hyukjae menari sekali lagi, lagi dan lagi.

Aku pasti sudah gila, pekik Yeonrin dalam hati.

-Seocho-gu, Seoul-

Jiae duduk di kursi taman dengan kepala tertunduk dan dua tangan terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. Sekuat tenaga menahan diri untuk tak menampar pria yang kini duduk di sisinya. Cho Kyuhyun. Ia masih ingat betul lontaran kata-kata kasar Kyuhyun kemarin saat di ruang musik. Namun entahlah, sesuatu di mata Kyuhyun menyiratkan hal yang berbeda.

Rasanya belum hilang keterkejutan Jiae mendapati Kyuhyun juga sedang lari pagi seperti dirinya. Ia bahkan masih bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Kyuhyun mau melakukan kegiatan yang sangat dibencinya selama ini?

Jiae ingat dengan jelas sekali, dulu Kyuhyun selalu menolak ajakannya lari pagi bersama-sama. Pria itu terlalu malas membuka mata pada jam sepagi ini. Bagaimana tidak? Bila semalam suntuk Kyuhyun terjaga hanya untuk menamatkan satu serie game terbarunya.

Tapi kini, benar-benar pemandangan yang langka sekali!

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Setelah sekian lama hanya keheningan yang merebak, Jiae memberanikan diri bertanya. Yeah, awalnya ia sudah akan pergi dan mengabaikan Kyuhyun. Tapi sekali lagi Kyuhyun membuatnya terkejut. Pria yang kemarin marah-marah dan menuduhnya tanpa ampun, kini memintanya bicara.

Apa sebenarnya yang ingin dibicarakan lelaki itu?

“Mungkin aku tak pandai dalam hal ini,” mulai Kyuhyun pelan. “Tapi kurasa, aku harus meminta maaf padamu.”

Jiae tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Apakah dalam sehari, seorang Cho Kyuhyun bisa berubah 180 derajat? Sungguh sebuah keajaiban!

“Kalau Saehyun yang memintamu untuk melakukan—“

“Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Saehyun,” potong Kyuhyun cepat. “Saehyun bahkan tak membuka pintu kamarnya saat kuajak dia lari pagi bersamaku.”

Jiae tersenyum mengejek. Tapi tetap tak mengalihkan perhatiannya dari rumpun daffodil di pinggir taman. Bunga berwarna kuning itu seolah menari-nari tertiup angin musim semi.

“Jadi, kau ingin menunjukkan padaku bahwa kau meminta maaf atas inisiatifmu sendiri?” Jiae tak dapat menyembunyikan nada sinis dalam suaranya.

“Aku tahu kau tak akan begitu saja memaafkanku,” balas Kyuhyun datar. “Tapi setidaknya, aku ingin kau tahu bahwa aku menyesal telah melontarkan kata-kata kasar itu.”

Senyum sinis masih menghiasi wajah cantik Jiae. Dan kini, gadis bermata coklat itu dengan berani menatap wajah Kyuhyun. “Oh, jadi hanya itu tujuanmu,” katanya lantang. “Kalau begitu, kau sudah berhasil. Kau mendapat maafku. Tapi kumohon, mulai hari ini jangan ganggu aku lagi.”

Jiae beranjak dari kursinya. Membuang napas cepat dan hendak melangkah pergi ketika mendengar Kyuhyun bergumam.

“Yeah, pergilah. Temui saja Shim Changminmu itu!”

Seperti ada yang meremas kuat jantungnya. Perih. Jadi benar kata Saehyun bahwa Kyuhyun cemburu pada Changmin.

Dasar bodoh! maki Jiae dalam hati. Aku takkan mungkin menjalin hubungan dengan Changmin bila dia tak menjauh.

“Sampaikan salamku padanya.” Suara Kyuhyun terdengar lagi. Kali ini ada nada sinis dalam nada bicaranya.

Oh, memang benar Jiae pernah menjalin hubungan dengan Changmin beberapa bulan setelah hubungannya dengan Kyuhyun merenggang. Jiae terpaksa menerima cinta lelaki bertubuh jangkung itu karena merasa tersanjung pada setiap perhatian yang diberikan Changmin. Saat itu Jiae sedang terpuruk, dan Changmin lah yang selalu ada di sisinya. Namun hubungannya dengan Changmin tak berlangsung lama, karena bagaimanapun Jiae tak bisa membohongi pria itu tentang hatinya. Bagaimana mungkin Kyuhyun marah karena semua itu?

Keterlaluan!

Meskipun ingin, Jiae menahan diri untuk tak membantah perkataan Kyuhyun. Biarkan dia tahu sendiri tentang hubungannya dengan Changmin yang telah berakhir sejak lelaki itu terpaksa pindah keluar kota mengikuti sang Ayah yang dipindahtugaskan ke Suwon.

Dengan hati tercabik-cabik, Jiae melangkah meninggalkan Kyuhyun. Bahkan tanpa menoleh sedikit pun.

-Haerin’s House-

Entah untuk keberapa kalinya Haerin melirik jam dinding Doraemon yang tergantung di atas dinding kamarnya yang bernuansa pink. Jam itu menjadi satu-satunya benda berwarna biru di sana. Hingga tampak lebih mencolok dibandingkan benda-benda lain di sekelilingnya. Sebenarnya jam itu pemberian ketiga sahabatnya saat ulang tahunnya setahun yang lalu.

Jam masih menunjukkan pukul 2 siang. Dan Haerin menemukan dirinya tidak sabar menanti jam 4 tiba. Haerin mengalihkan pandangan pada tumpukan pakaian di atas ranjang. Sekarang ia tampak seperti orang gila. Bingung harus mengenakan pakaian apa untuk memenuhi janji temunya dengan Siwon.

Semua pakaian sudah dicobanya. Tapi tetap ia merasa belum puas. Selalu saja ada yang kurang, kurang dan kurang. Oh, Haerin benar-benar bingung. Sepertinya tak ada yang cocok dipakainya untuk mendampingi pangeran sempurnanya yang super tampan itu.

Gaun merah selutut itu contohnya. Gaun itu tampak amat sangat kusam karena terlalu sering dipakai. Sedangkan terusan berbahan rajut berwarna abu-abu itu, menurutnya kelihatan terlalu kuno. Dan blus satin berwarna coklat hangat yang baru dibelinya beberapa minggu lalu itu, entah mengapa tampak kurang menarik bagi Haerin. Juga sederet alasan lain untuk setiap pakaian yang teronggok tak berdaya di tempat tidur.

Haerin menghela napasnya cepat. Kenapa kencan itu begitu merepotkan?

Tak berapa lama, Haerin menepuk keningnya pelan. Oh, Choi Siwon bahkan tak pernah mengatakan ini acara kencan. Sial!

Sebenarnya ada di mana akal sehatmu, Han Haerin? Desah Haerin dalam hati. Lalu merebahkan tubuhnya di sofa malas berwarna pink kesayangannya.

-Eunhee’s House-

Eunhee mengerang sembari membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur. Ia baru saja mendapat pesan singkat dari Donghae yang mengajaknya berkunjung ke rumah pria itu. Untuk alasan apa lagi bila bukan, Hae-hae? Oh, Sial! Kenapa undangan itu harus dikirimkan sekarang? Di saat ia sama sekali tak bisa mencari alasan untuk mengelabui Ayahnya.

From: Donghae

 

Hee, sepertinya Hae-hae merindukanmu. Apa kau tak merindukannya? Kemarilah! Jihyeon juga ingin mengucapkan terima kasih padamu.

 

Dibacanya lagi kalimat itu, dan Eunhee mendapati dirinya semakin ingin menyelinap keluar dari kungkungan sang Ayah. Sampai kapan ia harus menahan diri untuk tak bertemu Donghae?

Tidak.

Eunhee menggeleng. Ia masih bisa bertemu lelaki itu besok. Di sekolah. Dan ia harus menjelaskan segala kondisinya pada pria itu. Ya, semua itu yang harus dilakukannya. Setidaknya, sampai Donghae memiliki pilihan pekerjaan lain yang cocok dengan usianya.

Getaran ponselnya membuat Eunhee tersentak. Telepon masuk. Well, sepertinya ia harus merubah rencana semula dan menjelaskan semua duduk perkaranya pada Donghae saat ini juga. Karena nama pria itulah yang tertera di layar ponsel Eunhee.

“Hallo!”

Hai, aku serius soal Hae-hae.” Eunhee menghela napas mendengar nada ceria dalam suara Donghae. “Hee? Bagaimana? Sore ini, aku dan Jihyeon akan makan di luar untuk merayakan ulang tahunnya. Kau tentu saja diundang juga.”

“Oh maaf, Hae. Eomma sedang membuat kue dan aku diminta membantunya.” Eunhee tak tahu mengapa ia harus berbohong. Bukankah Eunhee berniat akan memberi tahu Donghae semuanya?

Benarkah? Sayang sekali,” kali ini nada kecewa sangat kentara dalam suara Donghae. “Apa kau tidak bisa meminta ijin sebentar saja?” tambah Donghae jelas masih mengharap kehadiran Eunhee.

“Emm… sorry,” Eunhee berusaha keras menjaga nada bicaranya tetap datar. “Tidak perlu sedih begitu, Hae. Kau masih bisa mentraktirku makan besok di kantin.”

Bukan aku yang sedih. Tapi Hae-hae. Dia terlihat sangat merindukanmu.”

Eunhee mendengus pelan. “Yeah, teruslah berbohong!” katanya dengan seringai geli. Entah mengapa, Eunhee selalu tak bisa menahan senyumnya setiap kali mengobrol dengan Donghae. Pria pemilik bibir tipis dan kulit berminyak seperti bayi itu selalu dapat membuatnya tertawa. Apapun yang dilontarkannya.

Berbohong? Untuk apa aku berbohong?

Buru-buru Eunhee mengurungkan niatnya membalas ucapan Donghae ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. Ibunya. Sial! Tak bisakah ia berbicara dengan Donghae melalui telepon sebentar saja?

“Emmm, Hae. Eomma akan marah kalau aku tak cepat-cepat membantunya,” sergah Eunhee cepat. “Kita lanjutkan besok saja, oke? Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu. Terlalu panjang kalau kubicarakan melalui telepon.”

Ah, akhirnya kau ingin mengatakan sesuatu padaku.” Eunhee sekali lagi ingin tertawa mendengar nada merayu dalam suara Donghae.

“Oh, jangan berharap lebih,” balas Eunhee datar. “Ini penting. Menyangkut dirimu dan aku.”

Hmm… aku tak tahu kau akan menyadarinya secepat ini,” Entah mengapa nada suara Donghae yang terdengar riang membuat Eunhee tersenyum miris.

“Baiklah, sampai jumpa besok!”

Yeah, aku sudah tak sabar menanti besok.”

Sial. Apa yang sedang dipikirkannya?

-Haerin’s House-

“Haerin-a, Han Haerin! Cepat bangun!”

Haerin tersentak bangun lalu mengucek kedua matanya dengan punggung tangan. Lee Mingeum—sang Ibu—berdiri menjulang di hadapannya. Lengkap dengan apron putih kebesarannya. Haerin masih tampak bingung, hingga selama beberapa saat gadis itu hanya diam tak bersuara.

“Oh, Eomma. Ada apa?” tanyanya ketika berhasil mengumpulkan kesadarannya.

“Kau itu tidur atau mati?” gertak Mingeum jengkel. “Eomma sudah membangunkanmu berkali-kali. Tapi kau malah asyik bergelung di atas sofa.”

“Ah, kalau Eomma membangunkanku hanya untuk marah-marah. Lebih baik aku tidur lagi. Sayang sekali mimpi indahku terganggu karena suara Eomma—awww! Eomma, jangan memukulku!” pekik Haerin sembari memegangi kepalanya.

“Temanmu sudah lama menunggu. Cepat turun! Tidak sopan! Lelaki tampan tidak boleh dibuat menunggu terlalu lama.”

“Eh?” Haerin melongo selama beberapa saat. Tapi tak sampai satu menit, gadis itu melompat turun dari sofa malas dan berlari ke kamar mandi ketika mendapati jam Doraemonnya menunjukkan pukul 4 kurang dua puluh dua menit.

Sial! Bagaimana ia bisa tertidur di saat-saat genting begini? Choi Siwon. Itu pasti Choi Siwon. Apa yang harus dikatakannya pada Siwon bila sampai terlmbat?

Haerin tiba-tiba menghentikan kegiatannya membuka kancing baju ketika menyadari satu hal penting.

Bukankah Choi Siwon hanya bilang akan menunggunya di Hangang? Sama sekali tak ada acara jemput-menjemput layaknya sepasang kekasih.

Lalu… siapa sebenarnya ‘teman’ yang dimaksud sang Ibu?

Sial! Mungkinkah, Siwon berubah pikiran dan memilih menjemputnya di rumah? Oh, betapa dia lelaki yang sangat sempurna. Haerin buru-buru menyelesaikan mandinya. Mengganti pakaiannyya dengan blus coklat hangat dan rok pendek bermotif polkadot dengan warna senada.

Tak ada waktu untuk berpikir-pikir lagi. Ia sudah terlambat. Choi Siwon bisa memberinya nilai buruk bila sampai membuat lelaki itu menunggu lebih lama lagi.

Setelah merasa dirinya cukup rapi dan pantas. Haerin buru-buru membuka pintu dan menuruni tangga menuju ruang tamu.

Senyum yang semula tersungging manis di bibir Haerin mendadak sirna mendapati lelaki yang kini berdiri di ruang tamu. Dia… lelaki bertubuh gempal yang kini sedang berdiri membelakanginya itu… Bukan Choi Siwonnya!

Bodoh! Tentu saja bukan. Bukankah Choi Siwon tidak tahu alamat rumahnya? Bagaimana mungkin ia sampai berpikir bahwa Siwon sengaja datang menjemputnya?

“Oh, Haerin-a!” Lee Sungmin. Teman barunya. Tampak tersenyum lebar menyambut kehadiran Haerin.

Haerin memaksakan senyum terbaiknya. Entah, mungkin Sungmin sadar senyum itu akan tampak seperti ringisan frustasi.

“Minnie, ada perlu apa?” sapa Haerin, masih dengan ‘senyuman’ yang sama.

Sungmin terlihat mengerutkan kening sejenak, lalu berjalan mendekati Haerin. “Ah, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat,” kata pria itu pelan. “Kau mau pergi? Atau… kau salah mengira aku orang lain?”

“Ehm,” Haerin berdeham salah tingkah. Lalu melarikan tatapannya kemana-mana. Apa yang harus dikatakannya pada Sungmin? Lelaki itu sudah jauh-jauh datang ke sini dan dia malah ingin segera pergi meninggalkannya. Tapi, bila ia terus meladeni Sungmin. Bagaimana dengan Choi Siwon? Ini kesempatan langka untuk bisa lebih dekat dengan Siwon! Tapi hati nuraninya tak bisa mengabaikan kebaikan Sungmin.

Pilihan yang sulit.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad, akhirnya Sungmin kembali bersuara. “Baiklah. Aku tak akan menganggu acaramu.” Walau terlihat kecewa, Sungmin masih mampu tersenyum ramah. “Aku ke mari hanya ingin memenuhi janjiku,” katanya lalu mengangsurkan sekotak besar coklat Macademia ke hadapan Haerin.

Kontan, kedua mata Haerin membulat sempurna. Mendadak ia merasa tak nyaman pada Sungmin. Haruskah ia membatalkan janji temunya dengan Siwon? Bagaimana ini?

“Kalau begitu. Aku permisi—“

“Eh, Minnie,” tahan Haerin cepat. “Kau tidak mau minum teh dulu sebentar?”

-Kibum’s House-

“Ceraikan saja aku!”

Kibum sedang berjalan gontai menuju rumahnya ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah besar bertingkat dua itu. Suara Ibunya.

“Baik kalau itu maumu!”

Ayahnya.

Jadi, Ayah sudah pulang dan mereka bertengkar lagi, batin Kibum kecut. Lalu mengurungkan niatnya masuk.

Kibum sudah muak dengan tingkah mereka. Sang Ayah yang memiliki perusahaan besar yang bergerak di bidang makanan dan minuman ringan, sedang sibuk mengurus bisnisnya di luar negeri hingga lelaki paro baya itu hanya akan pulang beberapa bulan sekali. Namun, sekalinya ia pulang, mereka—Ayah dan Ibunya—selalu saja bertengkar. Tak bisakah mereka membuat Kibum tenang sebentar saja? Kibum bahkan lebih menyukai kesunyian rumahnya saat kedua orang tuanya tak ada.

Dengan langkah cepat, Kibum keluar dan menjauhi suara-suara itu. Ia ingin sekali berteriak. Tapi pada siapa? Siapa yang akan mendengar keluh kesahnya?

Kibum menggeram kesal. Lalu masuk ke sebuah minimarket dekat rumahnya dan membeli beberapa kaleng bir. Yeah, satu-satunya cara untuk bisa mengalihkan kekesalannya adalah minum. Tak ada yang lebih baik selain minuman-minuman itu. Setidaknya, bir membuatnya melupakan masalah yang kini dihadapinya.

Setelah beberapa saat menelusuri jalanan kota sendirian di tengah langit Seoul yang mulai menggelap. Kibum akhirnya memutuskan untuk duduk di sebuah bangku taman dan mulai membuka kaleng bir yang dibawanya.

Dalam beberapa tegukan cepat, satu kaleng bir berhasil dihabiskan. Tak berapa lama, Kibum kembali meraih kaleng bir lainnya. Begitu setiap kali. Hingga 5 kaleng bir pun habis tak bersisa.

Merasa bosan, Kibum meraih LG Optimus-nya lalu menertawakan diri sendiri memandangi foto keluarga—dirinya, sang Ayah juga Ibunya—saat sedang berlibur di Paris dua tahun lalu. Saat itu suasana masih begitu damai. Hingga suatu hari… oh, sial! Kibum benci menangis. Kenapa harus ada air yang jatuh dari pelupuk matanya?

Sepertinya kali ini bir saja tidak mampu menghapus kesedihannya. Kibum membutuhkan seseorang. Seseorang yang bisa menemaninya dan mengerti dirinya. Seseorang yang bisa membuatnya tenang, mungkin.

Setelah beberapa saat mengutak-atik daftar kontak di ponselnya, senyum Kibum mengembang menemukan sebuah nama yang bisa dijadikan pilihan terbaik.

-Hangang Park-

“Maaf!” Itulah kata pertama yang diucapkan Haerin tepat saat gadis itu tiba di sebuah taman kota terbesar di Ibu kota Korea selatan itu. Taman kota yang menjadi tempat favorit setiap orang dengan latar belakang sungai Han itu tampak mulai gelap ketika dirinya tiba di sana.

Pukul 5 sore. Sudah lewat satu jam dari janjinya semula. Haerin bahkan tak pernah menyangka bahwa Siwon masih menunggunya di sana. Lelaki tampan itu terlihat duduk di sebuah kursi kayu panjang di bawah pohon ek besar. Tak ada emosi yang tersirat sedikit pun di wajahnya. Dan hal itu semakin membuat Haerin disesaki rasa bersalah.

“Maaf,” katanya sekali lagi, setibanya Haerin tepat di hadapan Siwon yang masih menatapnya tanpa ekspresi, kecuali senyum berhias lesung pipi yang selalu berhasil membuat sesuatu di dalam tubuh Haerin bergejolak. “Aku—“

“Tidak perlu dijelaskan di sini. Udara sudah semakin dingin. Ayo, ikut aku!”

Haerin tersentak kaget. Bahkan ia bisa merasakan ada sesuatu yang jatuh dan melesak turun ke dasar perutnya. Sensasi aneh itu yang selalu dirasakannya setiap kali berdekatan dengan Siwon. Apalagi sekarang, saat tangan besar dan hangat lelaki itu menyelimuti pergelangan tangannya yang mungil.

Untuk beberapa saat, Haerin seperti tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Tatapan gadis itu hanya terarah pada tautan tangannya dengan Siwon, dan tanpa disadarinya kini mereka tiba di depan sebuah cafѐ unik berarsitektur menarik yang terletak di tepi jembatan Banpo.

 cloud cafe

Cloud Cafѐ. Cafѐ itu terdiri dari dua lantai. Berbentuk melingkar membentuk cekungan. Bagian atas terlihat lebih lebar dan menyempit di bagian bawah. Seluruh dinding yang menghadap keluar terbuat dari kaca, hingga memungkinkan para pengunjungnya mendapat pemandangan indah Sungai Han dan sekitarnya.

Haerin berjalan pelan di samping Siwon dengan jantung berdebar. Berusaha keras menyamai langkah lebar Siwon dengan langkah-langkah kecilnya.

Tak berapa lama, keduanya tiba di dalam cafѐ dan menempati sebuah meja yang berada dekat dengan jendela besar. Tepat ketika Siwon melepas ransel besar di punggungnya, Haerin baru menyadari bahwa lelaki itu sedang membawa-bawanya sejak tadi.

Kini pertanyaan yang menyesaki kepala Haerin adalah tentang ransel itu. Untuk apa Siwon membawa ransel sebesar itu? Dia tidak mungkin mengajak Haerin kemari—ke sebuah cafѐ romantis—untuk belajar, kan? Kalau benar begitu, kenapa Haerin yang diajaknya? Kenapa bukan Saehyun? Jiae atau Kibum? Bukankah mereka lebih pintar?

Dengan gugup, Haerin memandang berkeliling. Sejauh mata memandang, Haerin mendapati banyak sekali pasangan kekasih yang sedang bersenda gurau atau sekedar makan bersama di beberapa meja lain. Apakah hanya dirinya yang harus belajar di tempat seperti ini? Oh, tiba-tiba Haerin merasakan tubuhnya sama sekali tak bertenaga.

“Haerin-ssi, kau mau pesan apa?”

Refleks, Haerin menoleh cepat pada Siwon. Setelah sekian lama hening, akhirnya ada juga yang berbicara.

“Emm—“

“Waffle Ice Cream di sini enak. Kau mau coba?”

“Oh, eh… ya.” Sial! Haerin merutuki diri sendiri kenapa selalu sekikuk ini di hadapan Siwon?

“Minumnya?”

Hot Cocholate saja,” kata Haerin ketika merasa menemukan suaranya kembali.

“Tepat seperti dugaanku.” Siwon terkekeh melihat ekspresi terkejut Haerin. “Tunggu di sini sebentar. Aku akan ke counter.”

Haerin tersenyum kaku lalu mengangguk. Selama Siwon pergi, gadis itu tak hentinya menatap ransel yang kini diletakkan Siwon di kursi kosong lain.

Kembali lagi pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak Haerin. Haruskah ia menanyakannya pada Siwon atau membongkarnya sendiri? Tidak, tidak, tidak. Itu sama sekali bukanlah dirinya. Bisa saja… Siwon baru pulang dari jam belajarnya. Walau ini hari Minggu, siswa teladan seperti Siwon bukan tak mungkin tetap berkutat dengan buku-bukunya.

Yeah, mungkin saja. Tapi…

“Lama menunggu?”

Haerin terkesiap dan mendadak kembali merasakan jantungnya menghentak-hentak cepat seperti baru saja berlari ratusan kilometer jauhnya.

“Ti-tidak,” jawab Haerin terbata. Lalu menunduk, menatap rok pendek bermotif polkadotnya.

Lama hanya hening. Haerin berpikir keras mencari topik pembicaraan agar pertemuan ini tak terasa membosankan. Tapi entahlah, segala sesuatu yang dipikirkannya terasa tak pantas dan Haerin sama sekali tak punya keberanian untuk membicarakannya di hadapan Siwon. Sudah pasti Siwon akan menganggapnya gadis yang membosankan. Mungkinkah ini akan jadi ‘kencan’ terakhirnya dengan Siwon? Itu pun jika Siwon menganggap ini ‘kencan’.

Seandainya saja ia memiliki sedikit saja sifat cuek Eunhee, sifat cerewet Yeonrin ataupun sifat tegas Jiae, mungkin pertemuan ini tak akan terasa begitu menjemukan. Tapi inilah dia. Han Haerin. Seorang gadis pemalu yang hanya bisa berdiam diri di hadapan seorang yang sangat disayanginya.

“Kenapa tak dimakan? Kau tidak suka?”

Haerin seketika mendongak, lalu buru-buru menggeleng. Secepat kilat, gadis itu meraih sendok kecil di sisi piring datar Waffle pesanannya. Namun karena terlalu cepat, sendok itu terlepas dari tangannya yang gemetar dan menggelinding jatuh ke lantai di bawahnya. Menimbulkan bunyi bergemeleting, nyaring.

Sial! Kecerobohan apa lagi ini?

“Maaf, aku—“

“Biar kuambilkan yang baru,” Siwon menyela cepat dan tanpa persetujuan Haerin lelaki itu beranjak dari kursinya.

Haerin menghela napas. Hancur sudah harapannya dapat bersama Siwon. Haerin yakin sekali, tak akan ada lagi pertemuan kedua… ketiga… ataupun seterusnya.

Biarlah… setidaknya, ia sudah pernah merasakan kebaikan hati Siwon. Ternyata memang benar, Siwon adalah lelaki sejati seperti dugaannya. Tipe lelaki yang rela melakukan apa saja untuk gadisnya.

Beruntunglah gadis yang bisa mendapatkannya, renung Haerin pasrah.

-Jung-gu, Seoul-

Donghae mengetuk-ngetukkan kelima jarinya di atas meja, sementara tangan yang satu lagi menumpu dagunya. Lelaki itu berdiam diri sembari menatap Jihyeon yang tengah membolak-balik daging di atas pemanggangan.

“Kau kecewa karena Eunhee tak bisa ikut dengan kita?”

Cepat-cepat, Donghae mendongak dan menatap lurus ke mata bening Jihyeon. “Eh? Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura, Oppa. Aku tahu kau sedang dekat dengannya akhir-akhir ini.”

Donghae mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tiba-tiba merasa udara sejuk musim semi terasa begitu panas. “Tidak seperti yang kau kira. Kami hanya beberapa kali bertemu.”

“Kami?”

“Oh, ayolah!” Donghae mengibaskan tangannya di depan wajah Jihyeon. “Sepertinya dagingnya sudah matang. Ayo makan!” tambah Donghae buru-buru tepat ketika Jihyeon akan membuka mulutnya untuk membantah.

“Ngomong-ngomong, terima kasih kucingnya. Eunhee tak salah pilih. Aku memang menyukainya.”

Kontan Donghae tersenyum lebar, mata teduhnya berbinar-binar senang mendengar perkataan Jihyeon. “Benarkan? Ah, Eunhee memang pintar memilih sesuatu untukmu.”

Donghae tiba-tiba merasa resah melihat senyum yang tersungging di bibir tipis Jihyeon. “Dari caramu menyebut namanya. Aku tahu ada sesuatu yang lain.”

“Hey, jangan sok tahu!”

Jihyeon terkekeh. Mengabaikan ekspresi kesal Donghae, Jihyeon terus menggodanya. “Aku memang tahu. Kau tak bisa membohongiku.”

“Dasar anak kecil!”

“Aku sudah dewasa, Oppa. Jangan lupa bahwa usiaku hanya enam bulan lebih muda darimu!”

Sial!

Cloud Cafѐ, Hangang-

 

“Kau masih merasa tak nyaman denganku?”

Haerin segera mendongak dan menggeleng keras-keras. “Ke-kenapa kau berpikir begitu?” tanyanya bingung.

Sekembalinya Siwon mengambilkan sendok baru untuknya. Suasana terasa menjadi lebih santai. Mungkin karena pemikiran Haerin sebelumnya. Hingga ia tak terbebani rasa ingin menjadi yang terbaik di hadapan Siwon. Tapi tetap tak merubah sikap diam dan kaku Haerin terhadap lelaki itu.

“Entahlah… sepertinya, kau selalu ketakutan saat berada di hadapanku.”

Haerin menggeleng lagi. “Tidak,” sergahnya cepat. “Su-sungguh bodoh gadis yang berpikir seperti i-itu terhadapmu. Kau pria yang baik dan sangat tampan. “ Haerin bisa merasakan pipinya memanas saat mengatakan itu. Terlebih, senyum yang disunggingkan Siwon semakin memperparah keadaannya.

“Terima kasih,” gumam Siwon pelan.

Haerin menunduk semakin dalam. “Ma-maafkan aku. Mungkin bagimu aku gadis yang membosankan. Tidak enak diajak mengobrol. Tidak pandai—“

“Haerin-ssi, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

Cepat, Haerin mendongak. Dan segera menyesali perbuatannya menatap mata Siwon karena kini ia merasakan jantungnya kembali berdebar kencang.

Untuk beberapa saat, Haerin hanya diam. Memperhatikan Siwon meraih ransel miliknya. Pertanyaan-pertanyaan awal tentang ransel itu kembali menyesaki benaknya.

Apa isinya? Apakah ransel itu berisi kejutan untukku? Oh, Han Haerin. Lihat dirimu—

Haerin seketika ternganga. Ia bahkan tak bisa menahan ekspresi kagetnya di hadapan Siwon. Betapa tidak, bila kini ia mendapati Siwon mengeluarkan seluruh isi ranselnya yang besar.

“I-itu kan—“

“Ya, kau pasti mengenali ini semua.”

“Tapi—“

“Terima kasih, Haerin-ssi.”

 

-Gangnam-gu, Seoul-

Entah apa yang dipikirkan Saehyun. Ia bahkan tak sadar telah keluar dari rumah dan menuruti permintaan Kibum melalui telepon. Yang lebih membuat Saehyun heran, pria itu menelponnya. Dan mengatakan sesuatu yang tak pernah terpikir dapat terlontar dari bibir Kibum. Bahkan jika itu hanya dalam mimpi.

“Aku membutuhkanmu. Kutunggu kau di taman depan gedung star sharp City. Gangnam.”

Saehyun merutuk. Hanya itu yang dikatakan lelaki itu, bahkan sebelum ia mengucapkan kata halo. Tapi anehnya, setelah mengalami pergolakan batin yang tidak sebentar, Saehyun akhirnya menuruti kemauan gila pria itu.

Dengan langkah-langkah gontai, Saehyun menapaki jalanan sembari memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya. Sebenarnya ia masih enggan. Tapi sesuatu dalam dirinya berkata lain. Dari nada suara Kibum, entah mengapa Saehyun merasa memang lelaki itu sedang membutuhkan kehadirannya.

“Sialan!!! Apa yang kau lakukan pada kekasihku? Minta maaf padanya! Dasar pemuda kurang ajar!”

“Sudahlah Oppa, dia sedang mabuk.”

“Aku tak akan memaafkannya!”

Suara-suara ribut dari seberang jalan menarik perhatian Saehyun. Untuk beberapa saat, Saehyun terdiam. Matanya memicing untuk melihat lebih jelas kejadian di seberang jalan. Dua orang lelaki tengah terlibat dalam perkelahian, ah tidak. Lebih tepatnya, seorang lelaki sedang memukuli pemuda mabuk di depannya di sana juga ada seorang gadis yang terlihat khawatir sedang berusaha melerai.

Tiba-tiba seperti ada seseorang yang menabuh genderang keras-keras. Jantung Saehyun ikut bertalu-talu begitu kencang. Pemuda itu… pemuda yang sedang tersungkur di badan jalan setelah mendapat beberapa kali bogem mentah di wajah dan perutnya. Kim Kibum?

Tidak mungkin! Bagaimana bisa…

Tak menunggu lama, Saehyun menyebrang dan berlari mendekat.

Benar. Itu Kim Kibum. Berbeda dengan sosok santun berkaca mata seperti yang selalu dilihatnya di sekolah. Kini, pemuda itu tampak berantakan dan tak berdaya dengan beberapa memar di ujung mata dan bibirnya.

“Ya Tuhan, harusnya aku datang lebih awal!” pekik Saehyun ketika akhirnya sadar untuk berbicara.

TBC

12 thoughts on “Memories of Youth (SM High School) -Book Six-

  1. Akhry post jg,uda agak lp crt sblmy eon untg diulng dkit:)
    Wah,mslh bru skrg dtg dr appa na hee,jd galau dh pdhl mrka dh mule dkat,..hae,kpn kau mngkui prsaanmu dn tdk mngkmbing htm kn Hae-hae ???:p
    Kyu,kau msh sj mnyblkn dn sk mnykti hti jiae>:)
    Soal charming,emg hyukjae ahlinya,akhry takluk jg yeonrin;-)
    Dan kau oppaku syang,knp dtg d saat yg tdk tpat??!!kau sdh mmbwt pngeran siwon mnunggu lma oppa😮
    Hhmmm…….trnyta kibum pny sisi kelam jg,g nygka kau pny mslh yg ckup brat -_-
    Smua crtnya bgs eon,joha*.*

  2. Wahhh… Akhirnya!!

    Aku sempat lupa utamanya bagian Saehyun tapi yang lainnya masih ingat kok eonn.. Hehehehehe..😀

    Eonni!!!! Sepertinya yang tidak menemui hambatan dalam book ini hanya Kibum dan Saehyun.. Bahkan mereka makin dekat nih… AHhh… Aku suka banget!!😀

    Kyuhyun dan Jiae mulai menuntaskan masalah, Eunhee-Donghae baru menemukan masalah, dan Siwon-Haerin sepertinya mengambang deh… Aku masih heran, Siwon mengembalikan semua pemberian Haerin karena suka atau tidak suka ya???
    Aishh… Tapi eonn,, Fighting ne??

    Aku tunggu loh, next booknya!😀

  3. ya ampun saeng,,,,,,oen bener” g tau klo ada MOY part 6,,,
    padahal udah nungguin lama,eh giliran ada malah kelewatan buat d baca😦
    padahal kan,klo kamu tag k oen,pasti oen lgsg baca,mian y saeng*puppyeyes*

    oke,,,masuk k cerita langsung deh,,,,
    buat eunhae couple,,,ternyata appany hee g setuju ya hee ma dongdong,trus gimana dong???
    restu orgtua kan yg plg penting,,padahal udah ada benih”cinta d antara mereka*cieee
    tp saeng,oen agak rancu baca kata ‘paro’ baya kayanya lebih enak baca ‘paruh’ baya deh saeng*soktau bgt deh* hehehe

    buat jikyu,,,yaelah kyu,udah mnta maaf knp bkin mslh baru lagi sih,,kpn bae’ an nya klo gitu trusss???
    jiae sakit ati mulu sm si kyu😦

    hyukrin,,,,si yeorin malu” kucing tuh sm hyuk,udah ngaku aja klo suka ma hyuk,kkk

    haewon,,,apaan sih yg dibawa siwon d ranselnya???
    penasarannnn,,,,

    terakhir buat saebum,,,,ternyata kibum dari keluarga broken home ya,pantes dia pendiem bgt,,,

    kayanya udah mulai masuk k konflik yg serius nih di part ini,,dan tentunya makin menarik buat dibaca dan dtggu kelanjutannya,,,
    fighting saeng ^^

  4. adoohhh… baru jg muLai inget2 sama satu persatu kisah 5 coupLe inihh.. ehh tau2 udah TBC ajah lagi.. hehe gwenchana dee.. aku udah seneng kok akhirnya MOY 6 publish juga.. pasti butuh perjuangan buat lanjutin ceritanya.

    ahh.. hyuk kayanya dh hmpr berhasil nih bikin yeonrin klepek2 sm auranya wktu ngedance mpe lupa gitu ma minho.. hee sama hae belum apa2 udah terhalang restu si bokap.. jiae sama kyu sama2 msh gengsian͵ paling ribet.. haerin dibikin skak mat sm siwon.. seohyun sm kibum kayanya akan semakin dekat dehh *sotoy*

    KEEP FIGHTING HEE^^

  5. astajim…q nyariin ff nech nympk kliling2….
    ahirny ktemu jga….
    ayo donk dlanjtn….. udh lma lho nunggunya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s