Hot Scandal [EunHae] -page 3-

Page 3

 

hsxfjhsz (1) 

 

-The Palace, Hotel & Resto-

“Steak itu tak akan habis walau kau pandangi terus.”

Sontak, Eunhee mengangkat wajah mendengar suara Siwon. Seolah baru menyadari kehadiran pria itu di hadapannya. Malam ini, Eunhee dan Siwon menghabiskan waktu untuk terakhir kalinya sebelum keberangkatan Siwon ke New York besok pagi. Tapi entah mengapa, Eunhee merasa dirinya tak benar-benar berada di sana. Di restoran mewah di sebuah hotel bintang lima, The Palace. Pikirannya melayang-layang entah ke mana.

“Sejak tadi, kulihat kau hanya mengaduk-aduk makananmu tanpa menyuapnya sedikit pun,” komentar Siwon lagi ketika Eunhee hanya diam saja dengan kepala tertunduk.

Siwon tak bisa memungkiri ada yang aneh dengan kekasihnya itu. Apakah itu ada hubungannya dengan skandal yang beredar saat ini? Entahlah, Siwon tak yakin. Walau pagi tadi, Eunhee sudah membantah kabar itu. Tentu saja, masih menyisakan kekhawatiran besar dalam benaknya. Dan setelah bertemu langsung dengan  Eunhee, kekhawatirannya semakin meningkat. Bagaimana tidak? Bila kekasihnya itu tidak seperti biasanya.

“Hee—“

“Aku tidak lapar,” potong Eunhee pelan.

Siwon diam sebentar. Ditatapnya Eunhee lurus-lurus, tapi anehnya.. gadis yang selalu tampak percaya diri itu kini tak berani untuk sekedar membalas tatapannya. Jelas, ada yang aneh dengan gadisnya itu. Oh, Siwon yakin itu! Seyakin dua kali dua sama dengan empat.

“Lee Eunhee, tatap aku!”

“Aku tidak apa-apa.”

“Jangan membohongiku!” sergah Siwon. “Apa ini ada hubungannya dengan skan—“

“Aku bertengkar lagi dengan nenek sihir itu,” sela Eunhee. Menghindari topik berbahaya tentang skandalnya dengan Lee Donghae. Eunhee tak ingin membicarakan hal itu lagi. Terlebih di hadapan Siwon. Yeah, ia tak ingin memperlihatkan rasa bersalahnya di hadapan sang kekasih.

Eunhee bisa merasakan tangan Siwon membelai punggung tangannya. Lembut dan hangat. “Ada apa lagi, hmm?” tanya Siwon sabar, seolah-olah Eunhee adalah anak kecil yang sedang merajuk karena orang tuanya tak menuruti kemauannya. Hal itu cukup untuk membuat perasaan Eunhee terasa lebih baik.

“Dia memintaku kembali ke rumah,” balas Eunhee muram.

“Lalu… kau setuju?”

“Tentu tidak. Aku masih ingin menjalani hidup dengan baik,” Suara Eunhee terdengar ketus. “Kau tahu kan, betapa senangnya aku saat pertama kali bisa bebas dari neraka itu?”

Eunhee mengangkat wajah ketika merasakan remasan tangan Siwon di tangannya semakin menguat. “Apa kau ingin aku membatalkan study-ku ke New York?”

Meski terkejut, Eunhee mempertahankan ekspresinya tetap datar. Apakah itu yang diinginkannya? Bukankah semalam ia sangat marah karena Siwon memutuskan untuk meninggalkannya, hingga membuat dirinya terpaksa terlibat skandal panas dengan Lee Donghae. Tapi entahlah, kini Eunhee merasa biasa saja mendengar penawaran Siwon itu.

“Hee, apa itu yang kau—“

“Tidak,” Eunhee menggeleng cepat. Entah apa yang membuatnya berkata begitu. “Pergilah! Sekolah itu sangat penting untuk masa depanmu.”

Yang membuat Eunhee heran, Siwon justru tersenyum mendengar ucapannya. “Kurasa, Eunhee-ku sudah kembali,” katanya senang. “Besok, kau mau mengantarku ke bandara kan?”

-Mobil Donghae-

“Kau yakin, hari ini tak akan ada penundaan lagi?”

Donghae mendengarkan dengan bosan pembicaraan Jungsoo dengan salah seorang kru drama yang akan dibintanginya. Sang manajer tentu masih trauma dengan kejadian kemarin. Saat ia dan Donghae terpaksa kembali setelah melewati berpuluh-puluh wartawan yang mengantre di depan gedung MBC hanya karena pemotretan ditunda.

“Baiklah! Tiga puluh menit lagi, Donghae akan tiba di sana.” Melalui ekor matanya, Donghae bisa melihat Jungsoo menutup sambungan telepon dan meletakkan kembali ponsel canggih itu di dasbor mobil mereka.

“Aku tak akan menolerir lagi kalau sampai kejadian seperti kemarin kembali terulang,” gerutu Jungsoo sembari memutar balik arah mobilnya.

Sementara Donghae hanya diam. Tampak sama sekali tak peduli pada ucapan sinis manajernya itu.

“Hae, ada apa? Kau masih marah tentang pembicaraan kemarin?” Jungsoo tak tahan lagi dan memutuskan untuk bertanya.

“Aku tak akan memaafkanmu bila kau benar-benar mencari kambing hitam untuk menutupi skandalku, Hyeong!” ancam Donghae berbahaya. Lelaki yang terkenal penyabar dan periang itu, sungguh mengejutkan ia dapat berkata sekasar itu.

“Baiklah! Jangan khawatir,” Jungsoo menjawab santai sambil tetap memusatkan perhatiannya pada jalanan padat kota Seoul. Ia sadar betul, Donghae tak ingin melibatkan artis lain yang tak bersalah dalam masalahnya sendiri. “Asal kau berjanji, tak akan menjebloskan diri terlalu dalam di kehidupan Eunhee.”

Donghae seketika menoleh. “Apa maksudmu?”

“Sudah jelas, kan?” Jungsoo mengangkat bahu. “Kau tak boleh dekat-dekat dengan aktris cantik pembawa masalah itu.”

Donghae baru akan membuka mulut untuk membantah ketika Jungsoo kembali melanjutkan. “Kau tidak benar-benar ingin dekat dengannya, kan?”

-Incheon-

Eunhee bersandar pada kelembutan jok mobilnya. Menatap dalam diam suasana ramai bandara Incheon. Ia baru saja melepas kepergian Siwon ke New York. Dan Eunhee sempat kesal karena ternyata wartawan juga menghadangnya di sana. Para pencari berita itu sama sekali tak menyerah untuk mendapatkan informasi tentang skandalnya dengan Lee Donghae. Beruntung, Eunhee berhasil lolos setelah meminta bantuan pada security bandara Incheon. Kapan semua ini akan benar-benar berakhir?

Sial. Eunhee mendadak resah. Ia sudah membaca pesan Youngwoon tentang jadwal pemotretannya hari ini. Dan tentu saja Eunhee akan kembali bertemu dengan pria itu. Eunhee benar-benar belum siap harus bertemu muka dengan aktor tampan itu. Apa yang harus dikatakannya? Meminta maaf atas semua masalah yang ia timbulkan? Oh, yang benar saja. Seorang Lee Eunhee yang terkenal, harus meminta maaf pada aktor itu? Tidak, tidak. Eunhee tak akan pernah melakukannya. Ya, ia hanya akan bersikap acuh dan pura-pura tak peduli pada masalah itu. Begitu lebih baik.

Sejenak, perhatian Eunhee teralihkan pada suara pesawat yang baru saja lepas landas. Choi Siwon, ada dalam pesawat itu.

Eunhee menghela napas lelah. Mungkin berpisah sebentar akan lebih baik untuknya dan Siwon. Setidaknya, sampai ia bisa melupakan masalahnya dengan Donghae. Dan dirinya bisa kembali menjalin hubungan seperti sedia kala dengan kekasih sempurnanya itu.

-MBC Building-

“Aktris itu benar-benar membuat darahku mendidih!” Donghae menoleh cepat mendengar gerutuan Jungsoo.

Sudah satu jam mereka menunggu, tapi Eunhee belum tiba juga di lokasi pemotretan. Tentu Jungsoo merasa kesal akan ketidakprofesionalan gadis itu.

“Tenanglah, Hyeong. Kau dengar kan apa yang dikatakan Yunjae Hyeong tadi. Dia masih dalam perjalanan ke mari,” bela Donghae sembari menyeruput kopi kaleng di tangannya.

Donghae terlihat santai. Walau sejatinya ia gelisah. Bagaimana tidak? Bila mendengar berita tentang kejadian malam itu saja ingatannya langsung tertuju pada ciuman Eunhee, rasa bibir wanita itu di bibirnya, bagaimana lumatan kecil bibir gadis itu menimbulkan sesuatu yang besar di tubuhnya. Oh, Demi Tuhan! Donghae tak bisa membayangkan jika ia harus bertemu langsung dengan Eunhee.

Bagaimana ia harus bersikap? Apa yang akan dikatakannya? Menyapa gadis itu seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu di antara mereka? Betapa sulitnya mengabaikan semua itu. Sial!

“Eh, Hae. Apakah gadis yang berdiri di sisi Kyuhyun itu adalah gadis yang sama dengan yang dipergoki wartawan saat di Bandara kemarin?”

Donghae sontak mengangkat wajah mendengar komentar Jungsoo. Untuk sejenak, kegelisahannya lenyap menyaksikan adegan demi adegan yang terpampang di layar Televisi 17 inchi yang tergantung di sudut ruangan. Di sana, Cho Kyuhyun—teman baiknya—terlihat sedang menggandeng tangan seorang gadis cantik dalam acara jumpa pers. Dari gerak-geriknya, Donghae bisa melihat sesuatu yang lain dari yang mereka bicarakan pada wartawan. Ah, betapa bahasa tubuh itu tak bisa diabaikan.

Dengan senyum yang masih tersungging di bibir tipisnya, Donghae menarikan jemarinya di atas touchscreen ponselnya. Ia harus menghubungi Kyuhyun.

To: Kyuhyun 

Kau yakin hubunganmu dengannya hanya sebatas rekan kerja? Oh, jangan bohong padaku kawan. Semuanya terlihat jelas di wajah dan gerak-gerikmu :p

“Selamat siang!”

Donghae terdiam. Itu suara Eunhee. Mendadak kegelisahan yang semula sirna, kini kembali menyesaki kepalanya. Dilihatnya Eunhee masuk dari pintu sebelah kanan. Dalam balutan gaun merah pendek bergaris-garis hitam yang ditutup mantel coklat mudanya, Eunhee seperti biasa terlihat begitu menawan. Tidak ada sedikit pun gurat gelisah di wajahnya. Aktris dan penyanyi cantik itu tampak percaya diri seperti biasanya. Dan untuk alasan yang tak ingin dipikirkannya, Donghae merasa sedikit kesal. Bagaimana mungkin gadis itu begitu tenang, sementara dirinya tidak?

 “Kupikir kau tersesat di tengah jalan, Nona!” sindir Jungsoo dengan senyum menipu di bibirnya.

Eunhee melirik manajer Donghae itu sekilas. Memberinya senyum mengejek, lalu pergi ke ruang ganti diikuti hair stylist, make up artist dan asistennya. Youngwoon tidak tampak di sana, karena pria bertubuh bongsor itu sedang asyik berbincang dengan fotografer di ruangan lain.

“Lihat! Betapa menyebalkannya gadis itu, tidakkah ia bisa mengucapkan permintaan maaf setelah membuat kita menunggu satu setengah jam lamanya?”

Donghae mengabaikan gerutuan Jungsoo. Setelah melihat pintu ruang ganti Eunhee tertutup, ia bergegas ke ruang gantinya sendiri. Mengganti pakaiannya dengan Gonryongpo* merah bersulam naga emas di bagian dada dan lengannya. Ah, bila memakainya… Donghae benar-benar tampak seperti raja-raja di jaman dinasti Joseon.

Setengah jam kemudian, kru sudah berkumpul di ruang pemotretan. Beberapa sedang sibuk membetulkan letak lampu sorot di pinggir ruangan dan yang lainnya membantu fotografer menyiapkan kamera tripod.

Donghae masuk ke ruangan berluas 8 x 6 meter persegi itu. Lalu menempatkan dirinya di kursi lipat di sebelah fotografer. Dilihatnya Kim Youngwoon—manajer Eunhee—masih asyik berbincang dengan fotografer Kim Jinyoung. Melihat kehadiran Donghae, Youngwoon menatapnya sekilas. Tampak mencari-cari sesuatu dengan kening berkerut, tapi tak sampai beberapa detik kemudian wajahnya kembali rileks. Sepertinya ia khawatir memar di wajah Donghae yang disebabkan tinjunya tempo hari belum benar-benar hilang.

Selang beberapa menit, Eunhee muncul. Dalam balutan hanbok hijau tua dan Jogeori hijau muda gadis itu benar-benar tampak seperti seorang gadis muda pada jaman dinasti Joseon. Karena perannya sebagai seorang gadis dari keluarga bukan bangsawan, tak ada make up berlebihan. Rambutnya ditata dengan gaya Daenggi Meori** menggunakan Daenggi berwarna senada dengan hanbok yang dipakainya.

“Ah, karena semuanya sudah siap. Bagaimana kalau kita mulai saja?”

Donghae berdiri dari tempatnya duduk ketika mendengar aba-aba dari sang fotografer. Pria itu berusaha keras terlihat santai. Setidaknya, bisa menyamai sikap acuh Eunhee.

Sesuai arahan fotografer, keduanya kini sudah berdiri di depan kamera. Namun, tak ada satupun yang berhasil memecah kecanggungan di antara mereka. Eunhee berdiri di sisinya dalam diam. Donghae juga begitu. Sama-sama kaku.

Lelaki itu menarik napas dan memaksa dirinya memandang ke arah lain setiap kali matanya tertuju pada bibir Eunhee. Sial! Bayangan malam itu, masih saja berkelebat di otaknya. Begitu jelas pada tiap detailnya.

Apakah Eunhee sama sekali tak mengingatnya? Donghae mengutuk dalam hati. Yeah, gadis itu sedang mabuk. Jadi apakah hanya dia yang tersiksa? Oh, betapa tidak adil dunia padanya!

“Donghae-ssi, bisakah kau berdiri lebih dekat?” Suara fotografer Kim menyentaknya. Donghae buru-buru mendekat dan berusaha mengesampingkan semua kelebatan-kelebatan itu. Beruntung, tak ada pose aneh yang diminta fotografer. Mereka hanya perlu berdiri bersebelahan, atau salah satu dari mereka duduk sedang yang lainnya berdiri.

“Baiklah! Cukup!” Donghae menghela napasnya lega begitu fotografer Kim berkata dengan puas.

Tapi ini baru awal, Donghae mencoba mengingatkan diri sendiri. Sampai kapan ia akan bersikap begini dengan Eunhee? Lawan main yang akan selalu bersamanya dalam beberapa bulan ke depan. Tidak. Ia seolah menciptakan nerakanya sendiri. Donghae harus merubah atmosfir di antara mereka. Setidaknya, ia dan Eunhee bisa berteman. Oh, baiklah! Mungkin terdengar agak sulit.

“Nona Hee, bisa kita bicara sebentar?”

Donghae menahan napas, ketika dilihatnya Eunhee berhenti di depan ruang ganti. Gadis itu memutar tubuhnya dengan gaya angkuh seperti biasa.

“Ada masalah?” tanya Eunhee dingin.

“Emm… kurasa kita perlu membicarakan masalah itu.” Donghae tak tahu sejak kapan ia merasa gugup saat berada di depan wanita. Tapi itulah yang terjadi padanya. Sekarang. Skandal itu membuat kepercayaan diri Donghae di depan gadis itu lenyap.

“Bukankah sudah jelas… semua itu tidak sengaja.”

Persis seperti dugaan Donghae, Eunhee akan berkata begitu. Yeah, tapi ketidaksengajaan itu menimbulkan masalah besar, bukan?

“Aku tahu—“

“Kalau begitu. Kurasa, tak ada yang perlu dibicarakan lagi!”

“Oh, tidak. Tunggu!” Donghae cepat-cepat menahan ketika Eunhee akan membuka pintu di depannya.

“Apa lagi?” tanya Eunhee jengkel.

“Kita akan menjadi partner dalam beberapa bulan ke depan. Aku tak mau kita saling mendiamkan hanya karena ketidaksengajaan itu. Kau tahu, yeah… kita akan banyak berinteraksi.”

Eunhee mengernyit sebentar. Lalu melipat tangannya di depan dada. “Lalu… kau ingin bagaimana?”

“Yeah, setidaknya… kita bisa berteman.”

-BlueSea Entertainment-

“Aku sudah mengingatkanmu, Hae!”

Donghae bosan mendengar omelan Jungsoo. Pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu terus mengomel sejak sepulang mereka dari gedung MBC. Apalagi kalau bukan rencana Donghae untuk berteman dengan Eunhee? Oh, sungguh bodoh dan tolol dirinya. Bagaimana mungkin ia sampai berpikir gadis itu akan menerimanya sebagai teman? Harusnya ia mengikuti saran Jungsoo. Bukannya mengikuti nalurinya yang selalu salah dan berakibat buruk.

“Gadis itu sakit, Hae. Kau hanya perlu menjauhinya bila tak ingin sakit juga,” tandas Jungsoo lalu pergi meninggalkan Donghae di lobby gedung manajemen mereka.

Donghae menghela napas cepat, lalu mendaratkan pantatnya di sofa merah ruang tunggu. Terdiam beberapa saat, memikirkan apa yang dikatakan Jungsoo.

Memang, Eunhee gadis yang angkuh, sombong dan apapun itu. Tapi Jungsoo tidak tahu, dia juga gadis naif yang terlihat begitu rapuh. Donghae ingat saat melihat gadis itu menangis di dalam mobil, malam itu. Sesuatu yang mungkin berusaha disembunyikan Eunhee dari dunia luar.

“Oppa!”

Refleks, Donghae menoleh. Senyum Donghae mengembang mendapati sosok cantik bergaun kuning tengah mendekat ke arahnya. Park Soojae. Calon penyanyi baru dari perusahaan manajemennya. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Sejak gadis itu menjadi trainee di BS Entertainment. Dalam beberapa bulan terakhir, gadis itu sedang mempersiapkan debutnya sebagai penyanyi solo. Selain cantik, Soojae juga gadis yang ramah. Tidak sedikit senior yang dikenalnya. Termasuk Donghae, tentu saja.

“Ah, Soojae-a! Bagaimana kabarmu?”

Soojae tak menjawab dan langsung menghambur ke dalam pelukan Donghae. “Aku rindu padamu!” bisik gadis itu tanpa sungkan-sungkan.

Oh, baiklah! Satu lagi yang tak mungkin terlupakan, gadis itu menyukai Donghae. Bahkan sangat menyukainya.

“Hmm… aku juga,” balas Donghae tenang.

“Benarkah?” Soojae melepaskan pelukannya dan menatap Donghae riang. Ada binar kebahagiaan dari matanya yang serupa biji almond.

Donghae mengangguk pelan. “Bagaimana debutmu?”

Diungkit soal itu, Senyum Soojae semakin lebar. “Tidak lama lagi, semua persiapan sudah siap. Doakan aku, Oppa!”

“Tentu saja. Kau pasti jadi salah satu penyanyi hebat dengan kemampuanmu.”

Selang beberapa detik, senyum di wajah Soojae sirna. Benar. Ada satu hal mendesak yang ingin ditanyakannya pada Donghae sejak beberapa hari lalu. Tapi ia tak pernah sempat untuk sekedar menelepon pria itu.

“Ada apa?” tanya Donghae, menyadari perubahan pada raut wajah Soojae.

“Berita yang beredar itu. Tidak benar, bukan?”

Benar. Kami memang berciuman.

Sial! Donghae menyayangi Soojae seperti adiknya sendiri. Dan Donghae tahu bagaimana perasaan Soojae padanya. Bagaimana bila gadis itu sakit hati? Ah, tidak. Bukannya ia dan Eunhee memang tak ada hubungan apa-apa. Bahkan untuk berteman dengannya saja, gadis itu tampak tidak sudi.

“Oppa, jawab aku! Kau ingat kan? Aku sudah pernah bilang padamu. Aku tak suka pada aktris dan penyanyi itu. Kenapa kau masih saja menerima tawaran dra—“

“Emm… tentu saja. Itu semua bohong,” Donghae menyela cepat. Tak tahan pada omelan panjang Soojae.

Mendengarnya, senyum Soojae kembali mengembang. “Ah, benarkah? Kalau begitu, syukurlah! Aku tak akan memaafkanmu kalau sampai itu benar,” tandas gadis itu riang, lalu dengan senandung kecil pergi meninggalkan Donghae  setelah sebelumnya menggumamkan pamitan singkat.

-Banpo Remain Apartment, Gangnam-gu-

Choi Siwon dan Hee di Incheon

Heewonairport

Seperti dilansir Detik Korea beberapa Minggu lalu, Aktor dan model terkenal Choi Siwon menyatakan akan vakum dari dunia keartisan karena memilih melanjutkan pendidikannya di Amerika. Pagi tadi,17 September 2012 sekitar pukul 07.30 AM, Penyanyi Hee terlihat menyempatkan waktunya mengantar sang kekasih ke Bandara Internasional Incheon. Pasangan yang di kalangan netizen biasa disebut ‘Perfect Couple’ ini, tampak baik-baik saja. Berbeda dengan pemberitaan yang beredar belakangan ini, tentang skandal Hee dengan aktor tampan Lee Donghae.

Beberapa kalangan berasumsi, hal itu hanya kamuflase untuk menutupi kasus yang sebenarnya merebak di antara ketiga selebritis ini.

 

 

Eunhee berdecak lalu menutup browser di ponselnya. Berita-berita yang beredar luas di masyarakat membuatnya sakit kepala. Eunhee sadar, sebagai idola dirinya tak dapat selamanya bersembunyi dari pemberitaan. Begitu banyak asumsi menyebalkan yang timbul hanya karena ia menyempatkan diri mengantar sang kekasih ke Bandara. Apakah memberi perhatian pada kekasihnya sebuah kesalahan? Apakah salah jika ia mengantar sang kekasih ke Bandara? Tentu tidak, bila skandal itu tak pernah terjadi. Oh, betapa Eunhee membenci aktor itu.

“Aku sudah bilang, jangan membaca berita-berita itu,” Suara Youngwoon terdengar dari kursi pengemudi.

Eunhee tak memedulikan komentar Youngwoon, gadis itu lalu menyimpan ponselnya di tas dan membuka pintu belakang Hyundai Genesis Coupe-nya. Ia, Youngwoon dan Minyoung baru saja pulang dari gedung SBS untuk menghadiri sebuah acara musik.

“Oh, Hee. Minggu depan, proses syuting The Palace akan dimulai,” Youngwoon memberi informasi sebelum masuk ke dalam mobilnya sendiri yang terparkir di sisi Hyundai Eunhee.

Bagus. Dan itu artinya, ia akan segera bertemu kembali dengan Lee Donghae. Eunhee masih ingat, betapa tak nyamannya ia berada di sisi pria itu saat pemotretan berlangsung. Beruntung, Eunhee berhasil menyembunyikan ketidaknyamanannya dengan bertingkah acuh seperti biasa. Tapi bagaimana bila pertemuan itu harus berlangsung seharian penuh, bukan hanya satu dua jam seperti saat pemotretan dulu. Eunhee tak yakin bisa bertahan dengan sikap tak pedulinya.

Setelah mendengar deru mesin mobil Youngwoon menjauh, Eunhee segera melangkah lebar-lebar menuju lift yang akan mengantarnya ke atas. Persetan dengan Lee Donghae, ia hanya akan melaksanakan proses syuting seperti biasanya. Memberikan kemampuannya yang terbaik, tentu saja.

-Gyeongbok-gung-

Hiruk-pikuk yang tampak di halaman utama bangunan peninggalan masa kejayaan Joseon itu berasal dari kru-kru syuting drama The Palace. Lapangan luas di depan istana itu dihias sedemikian rupa dengan berbagai ornamen pesta. Permadani merah besar dihampar di pinggir lapangan. Bendera-bendera berkibar-kibar tertiup angin. Makanan dan buah-buahan lengkap tersaji di depan singgasana. Beberapa orang berkostum pengawal dan dayang istana terlihat memenuhi tempat itu.

Syuting kali ini akan menggambarkan acara pesta ulang tahun ke delapan belas sang pangeran. Donghae, sang pemeran pangeran mahkota tampak berdiri di dekat patung singa di salah satu sudut tempat itu. Begitu tampan dan kharismatik dengan Gonryongpo biru keunguan dan Ikseunghwan*** hitam di kepalanya.

Donghae tampak riang, dengan sesekali menggoda sang sutradara Jang Mobin, penata rias dan aktris senior Young Younghee—pemeran permaisuri—hingga menimbulkan tawa orang-orang di sekeliling mereka. Eunhee tidak tampak di sana, karena gadis itu harus menyelesaikan syuting di tempat lain.

“PD-nim, ijinkan aku menjadi kameraman untuk sementara!” kata Donghae riang, lalu bergerak lincah menuju sebuah kamera berjalan di sisi sang sutradara.

Untuk beberapa saat, Donghae tampak serius dengan sebelah mata tertuju pada kamera. Merekam adegan seorang dayang istana yang tampak kerepotan mempersiapkan ulang tahun sang pangeran.

Begitu adegan hampir berakhir, tiba-tiba Donghae terbahak. Hingga mengacaukan konsentrasi para pemain.

“CUT! CUT! CUT! Ada apa?” tanya sutradara Jang bingung.

Buru-buru, Donghae membungkam mulutnya dengan tangan. “Tidak. Aku melihat pria berbaju prajurit itu menggaruk kepalanya,” jelas Donghae sembari menahan tawa.

“Benarkah?” Sutradara Jang memutar ulang rekaman yang tadi dan benar menemukan seorang figuran berpakaian prajurit yang berdiri di paling kiri melakukan gerakan yang tidak perlu. “Ah, kau teliti juga. Kalau begitu, diulang!” perintahnya yang segera disambut koor panjang para pemain.

***

“Hey, apa yang kau lakukan di sana?” Seorang gadis berhanbok hijau kekuningan tampak tergopoh-gopoh, sembari berteriak melihat lelaki muda sedang menyelundup melalui lubang kecil di bagian belakang istana.

Seperti ada tombol pause yang ditekan, lelaki berhanbok biru kusam itu seketika menghentikan langkahnya dan berbalik. Untuk sejenak, gadis itu terpaku menatap wajah tampan si pria. Benar-benar tampan dengan mata teduh, hidung mancung dan bibir tipisnya. Sungguh sangat bertolak belakang bila disandingkan dengan pakaiannya yang kumuh.

“Kau penyelundup, ya?” Setelah menemukan kesadarannya kembali, gadis itu bertanya dengan galak.

Seperti sedang berjuang menahan keterkejutannya, lelaki tampan tadi berdiri tegak dan menatap gadis pelayan istana itu lurus-lurus. “Aku bukan penyelundup, bisakah kau pelankan suaramu?” tanyanya lirih. Jelas takut ada orang lain yang mendengar.

“Oh, ayolah. Aku bukan gadis bodoh yang bisa kau tipu dengan mudah,” kata gadis itu lalu melangkah mendekat dan menarik paksa hanbok lelaki itu agar mengikutinya. “Kau harus dibawa ke kantor pemeriksaan karena ketahuan menyelinap ke istana. Siapa tahu kau sudah mencuri dari—”

“Hey, hey… tunggu!” protes lelaki berwajah tampan itu. “Apa aku terlihat seperti pencuri? Sudah kubilang aku—“

“Tidak ada pencuri yang akan mengakui perbuatannya kecuali diancam,” sela gadis itu dingin lalu memeriksa hanbok lelaki itu. Senyum sinis di bibir gadis itu mengembang ketika menemukan sebungkus roti dan beberapa gingseng dari balik pakaian pria itu. “Lalu apa ini? Bisa kau jelaskan?”

“Oh, itu—“

“Ayo, pencuri. Aku tak punya waktu. Kau harus menjelaskan semuanya di kantor kejaksaan!”

“Kantor kejaksaan? Hey, tidak. Tunggu!” tahan lelaki itu panik. “Aku… aku ini putera mahkota!”

Seketika gadis itu menghentikan langkah. Mata bulat beningnya terbelalak dengan mulut menganga. Tapi semua itu hanya terjadi dalam beberapa detik, karena detik berikutnya si gadis kembali tersenyum. Mengejek lebih tepatnya. Ia jelas memperlihatkan ekspresi apa-kau-sudah-gila. “Kalau begitu, aku adalah Ibu Suri!”

“Hey!”

“Kau harus ikut aku!”

 

“CUT!” Sutradara Jang berteriak. Lalu memberikan jempolnya pada Donghae dan Eunhee. “Bagus,” katanya puas. “Kita break sebentar.”

Beberapa penata rias terlihat maju dan mulai membersihkan keringat di kening para pemain lalu membenarkan make up mereka. Setelah menjalani syuting di luar istana sehari yang lalu, hari ini, untuk pertama kali Eunhee syuting sebagai pelayan istana di Gyeongbok-gung. Tentu saja, untuk pertama kali juga dirinya beradu akting dengan Lee Donghae.

Eunhee sempat berharap, lelaki itu tak memiliki kemampuan akting sebagus ini. Tapi Eunhee salah. Di balik setiap bercandaan yang selalu dilontarkan lelaki itu di sela-sela syuting, ternyata Donghae memiliki kemampuan akting yang cukup bagus dengan penjiwaan yang tak main-main. Donghae bahkan tak segan-segan membantu sutradara Jang dalam proses syuting, mulai dari memegang kamera, lampu, microphone, dan sebagainya.

Merasa lelah, Eunhee duduk di salah satu kursi lipat yang disediakan kru. Berusaha mengabaikan Donghae yang terlihat sedang memeriksa hasil rekamannya bersama sutradara Jang. Bosan, ia mengeluarkan tablet PC-nya lalu mulai mendengarkan musik melalui earphone dan berselancar di dunia maya.

“Kopi?”

Eunhee mendongak. Terkejut, mendapati Donghae kini mengangsurkan sekaleng kopi ke hadapannya.

Apa yang diinginkan pria ini?

Mengabaikan Donghae yang terus menatapnya penuh harap, Eunhee kembali mengalihkan perhatian pada tablet PC di tangannya. Ia tak boleh terpengaruh. Pria itu, adalah pria yang sangat dibencinya. Ya, sangat dibencinya. Donghae telah membuat karirnya berantakan. Hingga beberapa kali ia harus menghindar dari serbuan wartawan dan kemarahan sang produser karena penjualan albumnya mengalami penurunan.

Mengira Donghae sudah menyerah, Eunhee menyandarkan dirinya di punggung kursi lalu menutup matanya yang lelah. Eunhee ingin semua ini cepat berlalu.

“Kau punya twitter? Bagaimana kalau kita mengambil selca dan menguploadnya di sana?”

Eunhee tersentak. Lagi-lagi Lee Donghae. Kali ini, lelaki itu sudah membawa sebuah kursi lipat dan duduk di sisinya. Tersenyum polos, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.

Sial. Dia benar-benar pemaksa!

“Kau gila?” balas Eunhee sengit.

Donghae mengangkat bahu, penuh penyesalan. “Aku masih waras, sayangnya.”

“Bukankah aku sudah pernah bilang padamu seminggu yang lalu, bahwa aku tak ingin lagi berurusan denganmu, Lee Donghae-ssi. Kurasa itu sudah jelas.”

Eunhee mengutuk dalam hati, karena di saat-saat seperti ini, pria itu masih bisa tersenyum. “Kau tak bisa melakukannya, Nona Hee. Karena kita masih harus berhubungan sampai beberapa bulan ke depan.”

“Ya, tapi—“

“Satu lagi,” sela Donghae, yang nampak mulai menemukan kepercayaan dirinya menghadapi sikap angkuh Eunhee. Dan mengesampingkan keinginannya untuk kembali merasakan bibir lembut Eunhee di bibirnya. “Kalau kau sengaja menghindariku, kupikir… semua orang di sini akan semakin yakin bahwa skandal yang merebak tentang hubungan kita itu benar.”

Eunhee terdiam. Lontaran telak Donghae membuatnya bungkam. Tidak pernah ia merasa sekesal ini karena berhasil dikalahkan begitu saja. Eunhee jelas-jelas masih ingin membantah, tapi pernyataan Donghae tadi memang benar. Bila dirinya sengaja menghindar dari Donghae, semua itu justru akan menimbulkan kesan bahwa skandal tentang hubungan terlarangnya dengan sang aktor, memang benar adanya.

“Kopi?”

Eunhee tersentak ketika lagi-lagi Donghae mengangsurkan kaleng kopi itu padanya. Well, dia tak bisa menolak kali ini. Sedikit enggan, Eunhee menerima kopi di tangan Donghae, membuka lalu meminumnya.

Sementara Eunhee minum kopi kaleng pemberiannya dengan sedikit kesal, Donghae melirik gadis itu sekilas. Senyum pria tampan itu mengembang. Walaupun Eunhee masih terlihat tak terima, tapi setidaknya ia telah berhasil membuat Eunhee membukakan pintu pertemanan untuknya.

“Merasa lebih baik?” Donghae sengaja bertanya lagi.

“Buruk,” balas Eunhee dengan bibir mengerucut kesal.

Tak bisa menahan diri lagi, Donghae akhirnya terbahak hingga nyaris terjungkal dari kursinya. Beberapa kru dan figuran lain tampak mengalihkan perhatian dari apa yang sedang dilakukannya untuk sekedar memuaskan keingintahuan mereka.

“Itu sangat tidak lucu!” balas Eunhee lalu tergopoh-gopoh pergi, meninggalkan Donghae yang masih tertawa.

Mungkin sekarang tidak, tapi aku yakin, nanti pasti ‘ya’, batin Donghae sembari memandangi kepergian Eunhee.

-BlueSea Entertainment-

“Kau kelihatan senang,” Jungsoo berkomentar ketika dilihatnya Donghae tak berhenti tersenyum sembari menyantap sarapan paginya.

Entah untuk alasan apa, Donghae sepertinya semakin terhibur dengan semua penolakan Eunhee setiap kali mereka berinteraksi di lokasi syuting. Dua minggu telah berlalu semenjak syuting pertama dimulai, dan Donghae merasakan sikap Eunhee padanya sudah semakin melunak. Kini ia tak perlu lagi khawatir suasana kerjanya akan seperti di neraka. Perasaan Donghae juga semakin membaik, ketika Jungsoo mengatakan bahwa skandalnya dengan Eunhee sudah mulai dilupakan orang seiring berjalannya waktu.

Bagus. Sekarang saatnya bagi Donghae untuk memberikan kemampuan terbaiknya. Membuktikan pada semua orang bahwa ia juga bisa menjadi aktor pemeran utama yang baik. “Bagaimana aku tidak senang, Hyeong. Kabar itu sudah tak banyak diberitakan lagi sekarang,” balas Donghae sambil terus mengunyah bibimbab pesanannya.

“Yeah, berterima kasihlah pada Hong Minju yang membuat berita lebih besar dari beritamu sebelumnya.” Jungsoo menyesap jus jeruk dalam gelasnya. “Dan oh, asal kau tak membuat masalah lagi. Semua mimpi buruk itu pasti akan berakhir,” tambahnya buru-buru.

“Tenang saja, Hyeong!” Donghae memberikan simbol OK dengan tangannya sembari mengedip.

Jungsoo terkekeh pelan. “Apa perlu kita merayakannya malam ini?” tawar Jungsoo.

Sedikit menyesal, Donghae menjawab. “Ah, tidak. Malam ini aku harus tetap di rumah untuk merayakan ulang tahun Soonhae. Kalau tidak, adik kesayanganku itu akan membenciku seumur hidupnya.”

“Oh, adikmu ulang tahun?”

“Yeah, kau datang saja. Eomma menyiapkan banyak sekali makanan yang lezat-lenzat.”

“Tentu!” balas Jungsoo riang. Makan gratis, tentu saja tak akan ditolaknya.

-Banpo Remain Apartment, Gangnam-gu-

Eunhee terhenyak di depan pintu apartemennya. Buru-buru ia melepas stiletto putihnya di foyer dan menggantinya dengan sandal rumah berbulu berwarna coklat hangat. Dengan perasaan jengkel, Eunhee mengamati seluruh sudut dan interior apartemen yang sudah hampir dua tahun dihuninya itu kini ditempeli sticker merah bertuliskan kata ‘disita’.

“Apa-apaan ini?” jerit Eunhee frustasi.

Matanya masih terus menyapu setiap sisi ruangan itu. Mulai dari kulkas dua pintu, lemari makanan, alat pembuat kopi, televisi, lukisan di dinding, meja kaca rendah, sofa biru kesayangannya hingga benda kecil seperti jam weker pun ditempeli sticker merah itu. Eunhee tak pernah merasa menjual apapun dan ataupun berhutang pada siapapun. Tapi mengapa semua barang-barangnya disita? Apa yang sebenarnya terjadi?

Seperti dihentakkan ke tanah dari tempat yang sangat tinggi. Seketika Eunhee tersadar. Yeah, ini pasti perbuatan ibunya. Yoon Seungbin akan melakukan apa saja agar ia segera kembali ke rumah. Bahkan menyita barang miliknya pun akan dilakukan mantan model senior itu. Sungguh permainan yang kotor. Haruskah Eunhee terperosok pada permainan ibunya?

Dengan perasaan jengkel yang meluap-luap, Eunhee meraih Samsung Galaxy SIII-nya lalu mendial nomor ponsel berlabel ‘Nenek sihir’ di sana.

“Apapun yang kau lakukan untuk membuatku melakukan keinginanmu, tidak akan pernah berhasil!” jerit Eunhee marah begitu seseorang mengangkat telepon di seberang sana.

TBC

 

*: pakaian khas raja Joseon

**:  gaya rambut gadis muda pada jaman Joseon

***: mahkota/ topi hitam yang dikenakan raja dan putera mahkota di jaman Joseon

30 thoughts on “Hot Scandal [EunHae] -page 3-

  1. eonniya….pemotretan tdikah yg fotonya km ambil selcanya beberapa waktu lalu???

    baiklah…aku udah sedikit lupa sama jalan ceritanya..kenapa kok kemarn hee bisa mabuk gitu.. astagaa..tapi ini seru!! hohoho
    ada masalh apa sih antara si ‘nenek sihir’ sama hee???ahhh…sepertinya aku memang harus bca dari awal.lagi…(._.)a
    ngebayangi awal part dramanya itu pasti seru sekaliii…huwaaa…

    oya, eonniya buat yg istilah2 itu mending pakai angka yg diberi tanda kurung aja klo pake bintang gitu kok rada mengganggu tadi..menurutku begitu..
    keep writing eonniya!fighting!!!

  2. Onnie~
    hua, akhirnya selese baca…

    prok prok prok

    Bahasa onnie semakin mantep. saeng bakal coba jd lebih baik n teliti kyk onnie. G ad typo jelas,..hehehehe

    Well, back to story

    Hee, astga masih aj ya bersikap arogan. Untung banged donghae tipikal org yg g mudah putus asa. Ya Tuhan, lo saeng sih udh makan hati sma org kyk hee *dijitak*

    Wonie pergi. Kebebasan baru untuk Hee..*nyengir*

    Kya, donghae ngirim pesan ya ma Kyu. OKe saeng dh dpt sedikit jalan cerita… ^^

    Sonhae ultah ya. Hm, ya ya bisa”..*senyum”

    Onnie, skrang saeng yg mulai kejer” buat HS part 4..

  3. Wow,,,,,,ceritanya makin seru nih,,,
    hae sama eunhee g bisa akur ya,padahal hae udah bae’ bgt ngadepin si eunhee yg sombongnya minta ampun,ckckckck
    Pas awal baca agak sedikit lupa cerita akhir part kemarin tuh si hee ma siwon ada dmna,mgkn krn kelamaan kali ya,hehe
    Suka deh sama interaksi eunhee n hae disini,kayanya beda aja ma di ff yg lain,disini lbh greget gitu🙂
    pokoknya,oen suuuukaaaaaaa,,,,,,

    Selama oen mengikuti ff mu,sprtinya gaya penulisan kamu makin keren deh,g ada typo sama sekali nih di part ini,bahasanya juga,sumpah DAEBAK bgt saeng😀
    tapi oen belum baca yg Shabelle semuanya,klo smpet pasti oen baca nanti😉
    dan oen msh setia menanti MOY kamu saeng,,,
    semangat nulis dan terus berkarya y,,,,,

    • ah, Eonnie mah bisaaaaa ajah mujinya hehe…
      Tapi Gomawoo dah ngikutin FF-FFku dari awal yg supergaje… ampe sekarang yg juga masih supergajee hahaha :3 *gak ada bedanya donk? =,=*
      Ah, MOY?? aku ampe lupa mau digimanain itu FF #ngekss

  4. waahh….tmbh seru eon^^
    q agk sebel jg ma sikap angkuh na hee,bisa2ny mngbaikan hae yg tmpan dan baek hti :’)
    untng si hae pantang mnyrah,bneran dh g sbr liat keadaan brblik jd hee yg lu2h dg pesona hae,yg mgkn akn da lmyn bnyk rintangan lo smpe mrka akhry jth cnta,kekeke
    dan sprti bysa dtmbhkn dg prilaku asliny hae yg sk pegang2 kamera dan bcnda ma sutrdra,q sk bngt part itu eon😀
    endingny tmbh bkin pnsaran eon,dtngu lnjtny dh,Fighting!!!!!

  5. KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    KEREEEENNN EONNIE!!!!

    as usual lah yaa. bahasa eonnie selalu simple dan rapi. ringan banget aku bacanya. ga pusing padahal ini part lumayan panjang hahha

    aku suka karakter eunhee disini ga menye-menye kaya biasanya hihihihi
    kalo donghae udah jelas lah ya dia emang begini karakternya. aku ngebayangin mereka lagi syuting beneran. ih seru deh😀

    aku suka jalan ceritanya. banyak tokoh tapi pembagian part per cast nya imbang. pokoknya eonnie yang terbaik deh kalo bikin aku berasa nonton ff hhhahaa

    LANJOT THOR!!!
    DAEBBAK THOR!!
    JANGAN LAMA2 NE THOR!!

    HAHAHAHAHAHAHAHAAAA EONNIE JJANG❤❤❤❤

  6. Hae ma Hee ada scandal ciuman?? Wah, aku blum bca part sblumnya. Sbnrnya yg nyium itu Hee kan, tp knpa mlah dia yg mrah ma Hae?

    Mskipun bru bc part ini, tpi aku bs blng klo ff ni keren n gaya bahasanya jg bagus^^

  7. ampoooonnnn dahh.. mw ngeLanjutin baca yg ini ajahh susah bgt nyari waktunya. seteLah acara dirumah selesai akhirnya bs nuntasin baca juga nih HS. syukurnyah msh inget part sblmnya jd lgsg nyambung bacanya deh. ^_^

    seperti biasa… karyamu ttp DaebaK.. tp..tp itu ngapain sih *Park Sojae* ada di situ pake acara meLuk2 si donge lagi.. gede kepaLa dah tuh anak. hehehe *peace*
    JUST KIDDING
    gmn di part selanjutnyah tuh si SOJAE ditindas ma Hee.. pasti seruuuu
    hahahaha*jd inget SHABELLE*

    Hee… FIGHTING^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s