Sweet Autumn -OneShot-

Sweet Autumn

Sweet Autumn 

Kebohongan besar, jika kukatakan tak menyukai senyum gadis itu. Bila pada kenyataannya, seluruh inderaku menumpul setiap kali mata almond itu melekuk karena dorongan otot pipinya saat tersenyum.

-Donghae-

Tahukah kau kata lain yang lebih buruk dari jengkel? Entah, bila memang ada, aku akan menyebutnya begitu. Aku menggeram tertahan mendapati mata almond gadis itu masih menatapku sinis sedangkan pegangannya makin menguat pada novel yang kini berada dalam genggaman kami. Ujung atas ada di pihakku dan ujung bawah di pihaknya. Aku tak tahu sudah berapa lama kami saling berebut novel ‘Sweet Autumn’ yang memang sudah menjadi incaranku sejak sebulan lalu. Yang jelas sampai sekarang, perebutan ini masih berlangsung.

“Mengalah sajalah! Buku ini milikku. Aku yang menemukannya pertama kali!” gerutu gadis itu kesal.

“Tapi aku yang berhasil meraihnya lebih dulu!”

“Kau berhasil meraihnya lebih dulu karena tanganmu lebih panjang dariku.”

“Itu masalahmu!”

“Hey!” Aku mengernyit dan dengan terpaksa melepaskan cengkramanku pada novel setebal 160 halaman itu ketika merasakan hentakan tangan gadis itu. Bila tidak, novel itu pasti sudah robek menjadi dua bagian.

Bisa kulihat gadis berperawakan mungil dengan rambut ikal sepunggung itu menyeringai puas. “Buku ini milikku!” katanya senang.

Aku mendengus keras. “Ambil saja! Aku tak peduli lagi pada novel menyedihkan itu.”

“Apa katamu?”

Aku nyaris terkekeh melihat bagaimana marahnya dia. “Novel itu… menyedihkan,” ulangku sengaja memanas-manasi.

Kudengar gadis itu mendengus. “Lalu, untuk apa kau berkeras merebutnya dariku bila memang novel ini menyedihkan?”

Oh, baiklah! Kurasa aku membutuhkan alasan yang tepat. “Emm… itu, adikku yang memintaku membelikannya.”

“Adikmu?” Gadis itu menyipitkan mata curiga. Tapi aku tak peduli. Setidaknya aku harus membuatnya kesal karena telah merebut novel incaranku.

“Yeah, sebagai kakak yang baik aku terpaksa menurutinya,” lanjutku berpura-pura tak peduli. “Dari beberapa resensi yang kubaca di internet, kurasa novel itu sama sekali tidak menarik. Jalan ceritanya terlalu pasaran, cengeng, bertele-tele dan sama sekali tidak mendidik.”

Sekali lagi tawaku nyaris meledak melihat ekspresi kesal gadis itu. Bibir mungilnya mengerucut dan membuat gadis bermata almond dengan iris sewarna kopi itu tampak semakin imut di mataku. Tidak, tidak… dia tak boleh melihatku tertawa. Aku harus mengakhiri perdebatan ini secepatnya. “Sampai jumpa lagi,” tandasku cepat sebelum ia sempat menyemprotku dengan kemarahannya.

“Aku berharap takkan pernah bertemu denganmu lagi!” desis gadis itu marah dan berlalu pergi dengan kaki dihentakkan ke lantai.

Kontan, aku terkikik geli setelah kepergiannya. Aku memang tak berhasil mendapatkan novel itu di sini. Tapi setidaknya, aku berhasil membuat gadis itu kesal. Kurasa, sekarang aku harus mengunjungi toko buku lain untuk mencarinya.

Setelah mengelilingi 8 toko buku di kawasan Myeong-dong, akhirnya aku berhasil menemukannya. Tak kusangka, akan sangat sulit mendapatkan novel romantis karya Lee Eunhee ini. Novel berjudul ‘Sweet Autumn’ yang baru sebulan terbit sudah mencuri perhatian publik dan mendapat predikat best seller. Kurasa tak masalah memperjuangkannya, bila novel ini memang dapat menyajikan suguhan menarik dengan jalan cerita yang apik.

Kurapatkan jaket coklat muda selutut dan syal yang membungkus leherku. Jalanan Myeong-dong memang tak pernah sepi pengunjung walau cuaca sedingin ini. Tidak heran bila tempat ini bisa memenuhi kebutuhan para pecinta Shopping dari produk-produk kelas menengah hingga kelas atas. Setelah ini, aku harus menemukan tempat tenang dan menyenangkan untuk membaca ‘Sweet Autumn’. Novel yang spesial, harus dibaca dalam suasana spesial juga, kan?

Lelah berjalan dalam cuaca dingin yang menusuk, aku memutuskan naik Shuttle Bus ke kawasan Sungai Han, walau sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh. Kurasa, salah satu cafѐ unik di kawasan jembatan Banpo akan menjadi pilihan tepat untuk menghabiskan malam ini.

Dua puluh menit kemudian, aku sampai di jembatan Banpo. Ada banyak cafѐ unik di sini. Dan tentu saja menawarkan romantisme berbeda dengan latar Sungai Han dan lampu kota Seoul di malam hari.

cloud cafe

Kakiku berhenti tepat di depan Cloud Cafѐ. Cafѐ favoritku. Tempatku biasa menghabiskan waktu bila sedang jenuh. Cafѐ ini unik, bentuknya melingkar dengan bagian bawah menyempit dan melebar di bagian atas. Bagian luarnya berdinding kaca yang memungkinkan pengunjung cafѐ dapat menikmati suasana malam kota Seoul dari atas sana.

Berkali-kali mengunjungi cafѐ ini, membuatku memiliki tempat favorit yang biasa kutempati setiap kali ke mari. Bersyukur, tempat di pojok kanan tepat di sisi jendela itu kosong. Bisa kulihat, banyak sekali pasangan kekasih yang sedang menghabiskan waktunya di cafѐ ini. Bila saja aku memiliki kekasih, aku tak akan segan-segan menghabiskan waktu di sini bersamanya.

Setelah mengambil pesanan di counter—segelas coffee latte dengan krim vanila di atasnya—aku bergegas menuju tempat favoritku. Mengeluarkan novel bersampul biru safir itu dari saku dalam mantelku. Saatnya terlarut dalam kisah cinta romantis antara Choi Minji dan Song Jonghoon!

Tak salah bila novel ini sangat diminati. Aku sama sekali tak bosan berlama-lama membacanya. Dari gaya bahasanya yang ringan, sampai ide-ide unik yang diselipkan di setiap adegannya menimbulkan rasa penasaran tersendiri di benakku dan tentu saja pembaca lainnya.

Choi Minji yang tomboy bertemu dengan Song Jonghoon yang sebagai seorang lelaki bisa dikatakan penakut, menjadi perpaduan pasangan yang lucu setiap kali berinteraksi. Ah, novel ini benar-benar jauh dari kesan cengeng seperti yang kuungkapkan saat berdebat dengan gadis menyebalkan tadi.

Tunggu! Kenapa tiba-tiba aku kembali mengingatnya? Tapi menyenangkan juga menggoda gadis itu. Ekspresi cemberutnya benar-benar membuatku ingin tertawa! Oh, ayolah… apa yang sedang kau pikirkan, Lee Donghae?

Berusaha mengenyahkan bayangan gadis itu dalam benakku, aku kembali mencoba berkonsentrasi pada kisah cinta unik Minji dan Jonghoon.

“Novel menyedihkan, dengan jalan cerita pasaran, cengeng, terlalu bertele-tele dan jelas tidak mendidik!”

Astaga! Apa yang terjadi padaku? Bahkan sekarang aku bisa mendengar suara gadis menyebalkan itu dengan jelas. Seolah-olah ia benar-benar berada di hadapanku. Kurasa, aku memang sudah gila! Ah, tidak. Tidak. Ada baiknya aku minum dulu. Mungkin dengan begitu, aku bisa—eh?

Sial! Aku tersedak dan nyaris menyemburkan minumanku. Demi kelezatan kimchi1 buatan Eomma2, aku bisa melihat gadis itu dengan sangat jelas sekarang. Mata almond-nya menatapku dengan pandangan yang menyiratkan, dasar-pembual-gila! Kenapa khayalanku terlihat benar-benar nyata?

Yeah, kurasa aku terlalu banyak menkonsumsi cafein hingga terus berhalusinasi tentang gadis itu. Seharusnya aku tak memesan coffee latte dan memilih—

“Kalau tidak suka tidak usah dibaca!”

Aku tercengang. Jadi, aku tidak sedang berhalusinasi? Gadis itu… benar-benar ada di hadapanku? “Eh, kau?” Oh, sapaan macam apa itu?

Gadis itu mendengus jengkel. “Jangan pura-pura tak mengenalku. Apalagi mengaku sebagai adik kembarnya yang ingin dibelikan novel itu!”

Aku berdeham pelan. Sial! Kenapa gadis ini bisa membaca pikiranku dengan mudah? “Bu-bukan begitu!” sergahku cepat.

Gadis itu bertopang dagu dan mencondongkan tubuhnya di atas meja. “Lalu? Kau ingin bilang bahwa kau berubah pikiran?”

Ayolah, Donghae! Berpikirlah! Jangan biarkan gadis itu menang begitu saja. “Emm… tidak, aku hanya… ingin membuktikan bahwa dugaanku benar!”

“Oh?” Gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Aku yakin ia tak akan percaya semudah itu pada alasan yang kuberikan. “Lalu… bagaimana pendapatmu setelah membacanya?”

Aku mengangguk-angguk dengan gumaman tak yakin. “Yeah, kurasa… novel ini cukup menarik! Hanya saja…”

“Hanya saja?” Gadis itu kembali mencondongkan tubuhnya.

Oh, ayolah! Kenapa ia begitu penasaran? “Hanya saja… belum cukup berhasil mengumpulkan konsentrasiku!” Kulihat gadis itu menyipitkan mata curiga. Sebelum ia sempat bertanya macam-macam lagi, aku harus mencari topik lain. “Kenapa kau ingin tahu urusan orang lain, huh? Suka atau tidak aku pada novel ini, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu!”

“Yeah, aku hanya ingin memastikan bahwa pendapatmu memang tidak benar!” balasnya santai sembari menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.

“Sebegitu sukakah kau pada novel ini, hingga merasa perlu melakukannya?”

Gadis itu tak menjawab dan hanya tersenyum tipis. “Kalau begitu aku—“

“Hey, tunggu!” Tanpa sadar, tanganku bergerak sendiri dan menahan lengan gadis itu ketika melihatnya akan pergi. Buru-buru kulepaskan genggamanku pada pergelangan tangannya ketika kulihat gadis itu mulai memutar bola matanya jengkel. “Bukankah tadi kau bilang tak ingin bertemu denganku lagi?”

Aku bisa melihat seringai tipis tergurat di sudut bibir gadis itu. “Yeah, aku bisa apa bila Tuhan menakdirkan kita bertemu lagi.  Dan kurasa, aku harus marah pada Ayahku karena memintaku menjemputnya di sini!”

“Ayahmu—“

“Kuharap, di pertemuan ketiga nanti… kau sudah merubah total pendapatmu tentang novel ini!”

Pertemuan ketiga? Hey, apa maksudnya itu? Belum sempat aku bertanya lebih jauh, dia pergi begitu saja meninggalkan berpuluh-puluh pertanyaan yang menyesaki otakku. Gadis itu benar-benar misterius!

 ***

Aku mengerang kesal mendapati suara-suara gaduh di sekelilingku. Suara televisi. Pasti Jungsoo Hyeong3 dengan rutinitas paginya menonton berita. Aku heran, apa bagusnya acara itu hingga membuat lelaki yang sudah dua tahun ini tinggal bersamaku betah berlama-lama menontonnya. Kurasa acara itu sangat membosankan!

Hyeong, bisakah kau kecilkan volumenya?” protesku kesal. Aku masih mengantuk karena semalaman begadang membaca ‘Sweet Autumn’.

“Untung ini hari Minggu, kalau tidak… aku sudah akan menyeretmu ke kamar mandi!” Aku bisa mendengar Jungsoo Hyeong mengomel. Persetan dengan omelannya. Mataku benar-benar berat dan tak bisa dibuka.

Aku terbangun ketika merasakan aroma nikmat ramyun4 yang menguar dari salah satu tempat apartemen ini. Dengan setengah terpejam, aku melangkah pelan. Senyumku melebar mendapati ramyun itu ada di atas meja makan. Asapnya bahkan masih mengepul-ngepul dari dalam panci kuningan. Ah, Jungsoo Hyeong, kau memang yang terbaik! Aku lapar sekali. Tanpa menunggu lama, aku langsung menghambur, meraih sumpit alumunium, lalu memasukkan satu suapan besar ke mulutku. Enak.

“Hey! Apa yang kau lakukan?”

Aku tersentak dan seketika mataku terbuka lebar. Kantukku benar-benar hilang ketika merasakan jitakan pelan di kepalaku. “Hyeong, kenapa kau memukulku?”

“Dasar tidak sopan! Aku bahkan belum menyentuhnya dan kau dengan seenaknya malah memakan…”

Oh, berita apa itu? Aku terbelalak. Mengabaikan omelan panjang kali lebar Jungsoo Hyeong, aku melangkah melewatinya, meraih remote TV dan memperbesar volumenya.

Entah sejak kapan, aku sudah duduk di sofa ruang tengah. Menatap tak berkedip layar TV berukuran 21 inchi yang sedang menampilkan sosok gadis cantik yang begitu akrab dalam ingatanku. Lee Eunhee. Penulis novel ‘Sweet Autumn’ itu… gadis yang sama dengan yang kutemui kemarin?

***

Gerombolan anak-anak sedang asyik bermain di sekitar patung admiral Yi Sun-Shin yang berdiri megah di depan plaza Gwanghwamun, ketika aku turun dari Shuttle Bus yang mengantarku dari apartemen. Aku tersenyum tipis. Hari ini, akan menjadi pertemuan ketigaku dengan gadis itu. Kemarin aku mendapat kabar bahwa jam 10 pagi ini akan diadakan acara fansigning novel ‘Sweet Autumn’ di Kyobu Bookstore—sebuah toko buku terbesar di Seoul dan merupakan bagian dari plaza Gwanghwamun.

Aku melirik jam tangan hitamku tepat saat aku berdiri di belakang puluhan orang yang mengantre untuk mendapatkan tanda tangan Lee Eunhee. Jam 10 kurang 15 menit. Syukurlah aku tak terlambat! Dan yeah, kurasa tak akan mudah untuk mengobrol dengannya bila melihat bagaimana antusiasme pembaca lain yang kini tengah mengantre bersamaku.

Aku mendesah pasrah. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertemu dengannya dan menyatakan bahwa kali ini aku benar-benar berubah pikiran.

Teriakan riuh dari beberapa remaja mengejutkanku. Lee Eunhee. Gadis itu muncul dan segera menempati salah satu kursi yang telah disiapkan panitia.

Dalam balutan gaun putih pastel selutut yang tertutup mantel coklat hangat sebatas pinggang. Rambut hitamnya diikat dengan jalinan longgar ke sisi kiri, menyisakan sejumput anak rambut dengan ikal-ikal kecil di bagian kanan. Cantik. Entah mengapa, aku tak bisa mengalihkan perhatianku darinya?

Tak tahu sudah berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk menunggu, yang kutahu sekarang, aku sudah berada tepat di hadapan Lee Eunhee. Hanya dipisahkan sebuah meja rendah dengan lebar 60 cm.

Kebohongan besar, jika kukatakan tak menyukai senyum gadis itu. Bila pada kenyataannya, seluruh inderaku menumpul setiap kali mata almond itu melekuk karena dorongan otot pipinya saat tersenyum.

“Pertemuan ketiga,” bisik Eunhee lirih.

“Kupikir kau sudah melupakanku!”

Eunhee tak menjawab. Ia tersenyum tipis dan meraih novel di tanganku, membuka sampulnya, bersiap menuliskan sesuatu di sana. Yeah, aku tahu sekarang bukanlah saat yang tepat untuk mengobrol dengannya. “Siapa namamu?” tanya Eunhee santai.

“Lee Donghae!”

Urusan kita belum usai, Lee Donghae-ssi5! Sampai jumpa di pertemuan keempat. Cloud Cafѐ, Hangang. Malam ini pukul 8.

-Lee Eunhee-

Secara otomatis sudut bibirku tertarik membentuk senyuman, saat membaca tulisan Eunhee. Menikmati peningkatan denyut jantungku yang menimbulkan sensasi aneh dan menggelitik di sudut hatiku.

Ah, Lee Eunhee-ssi, rupanya kau jatuh hati padaku!

FIN

1: Makanan tradisional Korea berupa sayuran yang diolah melalui proses fermentasi asam laktat.

2:  Ibu

3:  Sebutan untuk kakak laki-laki oleh adik laki-laki

4:  Mie kuah khas Korea

5: Sufiks yang ditambahkan ketika menyebut orang yang lebih tua atau orang yang dihormati

Hmmm… ini dia FF GAGAL satu lagi. Maaf karena aku ngepost FF gak layak baca seperti ini. Tapi udah terlanjur dibuat, sayang banget kan klo gak dipost🙂

38 thoughts on “Sweet Autumn -OneShot-

  1. annyeong saeng.
    mian baca tanpa ijin.
    inikah FF yg dikirimkan utk lomba kmrn….???
    boleh komentar mnrt eonni pribadi. yah walau eonni emg bukan pakarnya.
    utk judulnya, manis. ^_^
    tapi utk konflik dsni kurang dapet deh.
    terlalu simple kurang greget.

  2. waaaa…….kereennn eon!!!!!!ntah dh brapa x q ngmg gini,tp ni bnr2 q sk,crtny ringan,romantis,so sweet,lucu,pkokny bgs bgt eon,.😀
    g hrus brpkir berat,crtny mngalir khas remaja(?) bngt,hehe
    kira2 ni da lnjtny g eon?sk bgt q, ^_~ #ngarep
    q slalu mnantikan FF eonni yg slalu Daebak!!!!!FIGHTING!!!!

  3. hahaha.. aigo q bnr2 ga bs nahan ketawa baca ff ini apalagi pas endingnya.. itu hae oppa pede n narsis bgt ya😄.. q plg sk bgt bc eunhae moment diblog ini, romantis bgt.. ditunggu ff selanjutnya, fighting ^_^

  4. Donghae pede nieh ngira eunhee suka mungkin z ga ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮
    Tapi ini ketemu z udah jodoh kali ya? Bikin pov eunhee doang ♉(^o^)♉

  5. Hahahahha… eonn! Lee Donghae pabo itu tetap aja narsis ya??? Bisa2nya dia berpikiran Eunhee yang jatuh hati padanya. Ckckckck

    Eonn, emang sih agak kurang gereget, tapi jalan cerita yang ringan seperti ini, nan neomu johae!😀 Walaupun konflik agak kurang, tapi sebenarnya ceritanya udah ngena kok..

    Fighting eonn, jangan patah semangat!😀

  6. Oh ini ff buat lomba ya unn??
    dan meski gagal tp ceritanya uda manis kok, konfliknya emang ringan tp karena aku ngefans sama gaya bahasa unnie menurutku FF nya udah keren.. semangat buat bikin FF selanjutnya unn.. semoga bisa sukses buat lomba berikutnya.. ^^

  7. biarpun katanya FF gagaL..tp aku ttp suka kok. Ceritanya ringan tp asyik.. kaLo boLeh sih aku mau kamu Lanjutin tuh ceritanya͵kan msh ada pertemuan keempat͵kelima͵keenam͵dst.

    Nice… FF EunHae dg karakter yg beda lagi. suka…suka..suka. apaLagi disini EunHee yg jadi org tenar bukan Donghae..
    *dunia pasti berputar* hehehehe

  8. waaaahhhh g nyangka trnyata thu cwe penulis novel’nya…hahhaaa dongek kikuk banget kyak’nya wktu tw soal itu….^^
    yaaaaahhhh….knpa g d lanjutin lagiii eon ^^
    kkkkk~ ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s