My Stupid Hae and His Twinny Baby [EunHae Moment]

My Stupid Hae and His Twinny Baby

 StupidHae

 

-Tra Palace Apartment-

“Oh, syukurlah kau sudah datang!” Senyum Eunhee melebar mendapati Donghae kini berdiri di sisi dapur. Seharian ini Eunhee sibuk mengurus kedua bayi kembarnya hingga nyaris tak sempat mandi dan memasak.

Tapi sesuatu di wajah Donghae membuat mata bulat Eunhee menyipit curiga. “Ada apa lagi?” tanya Eunhee ketika Donghae hanya diam dengan senyum aneh yang terus tersungging di bibirnya.

“Tidak. Tidak apa-apa!” Donghae menggeleng pelan tapi anehnya tetap tak beranjak dari tempatnya berdiri. Lelaki itu baru saja pulang dari latihan untuk mempersiapkan comeback Super Junior M di Korea, setelah sebelumnya sibuk promosi besar-besaran di Taiwan.

Jawaban Donghae itu tak lantas membuat Eunhee percaya. Eunhee yakin, ada sesuatu yang disembunyikan Donghae darinya. Donghae terlihat seperti anak kecil yang sedang takut akan dimarahi Ibunya karena telah membuat kesalahan besar. “Baiklah, kalau begitu tolong jaga anak-anak,” pinta Eunhee sembari menunjuk pintu biru di belakang tubuhnya menggunakan isyarat gerakan kepala.

Donghae mengangguk pelan. “Ya, istirahatlah. Aku akan menjaga mereka.”

Mata Eunhee makin menyipit curiga saat Donghae tak juga beranjak dari tempatnya. Sengaja, Eunhee juga tak cepat beranjak. Menunggu Donghae segera melaksanakan apa yang dipintanya.

Hening beberapa saat, hingga akhirnya terdengar helaan napas berat Donghae. “Aku terkilir saat sedang berlatih tadi,” akunya dengan kepala tertunduk.

Kali ini Eunhee juga menghela napasnya cepat. “Astaga! Kenapa kau tak bilang? Kenapa malah diam saja?” Eunhee melangkah mendekati Donghae dan menuntun suaminya itu untuk duduk di sofa ruang tengah.

“Aku takut kau marah seperti kemarin, saat aku membiarkan mataku sakit terkena cipratan air panas ketika mencuci botol susu Haejin.”

Eunhee menghela napas sekali lagi. “Kau memang bodoh! Melakukan hal mudah saja tak bisa. Bagaimana aku tak akan marah?” omel Eunhee sembari menyentuh kaki kanan Donghae yang kini dibebat elastis bandage berwarna coklat. “Kau yakin kakimu tidak apa-apa?”

Donghae lega Eunhee tak marah seperti yang ditakutkannya. Ia memang ceroboh, tapi apa yang harus dilakukannya bila sudah terjadi? “Tidak apa-apa. Tenang saja! Hanya sedikit nyeri saat berjalan.”

Eunhee mengalihkan perhatiannya dari kaki ke wajah tampan Donghae. Dari matanya terpancar kekhawatiran yang begitu besar. Tentu hal itu membuat hati Donghae menghangat. “Apakah besok kau masih ada jadwal?”

Donghae tak menjawab dan hanya mengangguk.

“Bisakah kau minta ijin istirahat sehari saja?”

Kali ini Donghae menggeleng. “Besok show pertama kami di Korea. Aku tak mungkin absent hanya karena ini, Hee.”

“Tapi Hae, matamu sakit… dan sekarang kakimu juga. Kau masih bisa bilang ‘hanya karena ini’?”

Donghae tersenyum hangat lalu membelai sisi wajah Eunhee dengan punggung tangannya. Ia mengerti kekhawatiran Eunhee, tapi Donghae pun tak bisa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai salah satu member Boy Band terpopuler di Korea. “Jangan khawatir istriku sayang. Aku bisa menjaga diri.”

Eunhee mendengus. “Ya, kau bisa menjaga diri dengan… saaangat baik!” Eunhee sengaja menekankan pada dua kata terakhirnya.

“Sekarang kau istirahat saja, mandi dan tiduran sebentar.” Mengabaikan sindiran Eunhee, Donghae kembali melanjutkan. “Aku akan menjaga si kembar dulu, hmm?”

Sebelah alis Eunhee terangkat. “Kau yakin bisa menjaga mereka? Bila dirimu sendiri tak bisa kau jaga dengan baik?”

“Oh, ayolah!”

“Harusnya aku membiarkan Eomma tinggal lebih lama,” tandas Eunhee lalu beranjak dari sofa. Berjalan cepat menuju kamar utama.

“Jangan marah terus istriku sayang… kalau kau tak ingin wajahmu keriput seperti nenek-nenek!” jerit Donghae dengan nada merayu.

“Masa bodoh!” Eunhee membanting pintu kamar hingga berdebam keras.

————————————————-

Donghae duduk di sofa beledu biru sembari memandangi interior kamar putra-putrinya. Kamar tidur yang semula didesain menyerupai alam bawah laut itu, kini terpaksa direnovasi ulang.

Bagaimana tidak? Bila ternyata bayi yang dilahirkan Eunhee bukan hanya satu. Tapi dua bayi kembar sekaligus.

Kamar itu kini didekorasi dengan dua sisi berbeda. Sisi sebelah kiri bernuansa serba pink. Box bayi dengan seprai berwarna pink, kursi kecil berwarna pink, selimut berwarna pink, handuk kecil berwarna pink, karpet pink dengan bentuk bunga, hingga korden pink menghiasi jendela kamarnya. Sebaliknya di sisi kanan, semua perabot bayi yang ada berwarna serba biru. Khas bayi laki-laki.

Heejin's boks

Heejin’s boks

Haejin's Boks

Haejin’s Boks

Senyum Donghae mengembang mengamati kedua putra-putrinya yang kini sedang terlelap. Setelah puas minum susu, sepertinya kedua bayi itu mengantuk dan tertidur. Dalam hati Donghae bersyukur karena ia tak perlu repot-repot berjalan ke sana ke mari untuk menjaga mereka.

Suasana sunyi membuat Donghae rileks. Ia menyandarkan tubuhnya yang letih ke sandaran sofa. Cukup lama terdiam, Donghae mulai mengantuk. Pria tampan itu menguap berkali-kali untuk mempertahankan diri tetap terjaga. Tapi dorongan kantuk yang semakin menguat tak sanggup lagi ia lawan lagi. Donghae mulai memejamkan matanya. Membiarkan semilir angin yang menembus jendela kecil di kamar itu membuainya.

Donghae baru saja terlelap, ketika suara-suara kecil terdengar. Sontak, Donghae terbangun dan menemukan Haejin menangis sambil bergerak-gerak gelisah dalam boks bayi bernuansa birunya.

Dengan langkah tertatih-tatih, Donghae menghampiri Haejin. Pelan-pelan, diraihnya Haejin ke dalam gendongannya. “Tenanglah!” bisik Donghae sembari membelai lembut punggung putranya yang masih belum berhenti menangis.

“Oaaa… oaaaa…!” Donghae mulai panik ketika Haejin tak juga menghentikan tangisnya. Padahal ia sudah menggendongnya, membelai-belainya lembut sampai membunyikan mainan yang tergantung di atas boks bayi Haejin. Tapi Haejin tetap menangis.

Lima menit berlalu. Bayi Haejin masih tetap menangis dengan kencangnya.

“Kau lapar? Perlu kupanggilkan Eomma-mu?” Dengan tololnya, Donghae bertanya, walau dirinya sadar pertanyaannya tak akan pernah mendapat jawaban. “Oh, ssshhtt… diamlah! Nanti kakakmu bangun kalau kau terus menangis begini,” bisik Donghae sembari terus menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menenangkan Haejin.

Kesal karena Haejin tetap tak mau berhenti menangis, Donghae berteriak lantang memanggil istrinya. “HEE, KEMARILAH! HAEJIN MUNGKIN LAPAR!”

“Oaaa… oaaa…!”

Donghae terkesiap. Itu suara Heejin. Kontan, Donghae menepuk kepalanya pelan ketika menyadari kesalahannya. Baru saja ia memperingatkan Haejin untuk berhenti menangis agar tak membangunkan Heejin, lantas kenapa sekarang justru ia yang berteriak dan membangunkan Heejin?

Bodoh! maki Donghae dalam hati. Menimbulkan masalah baru saja.

Bergegas, diturunkannya Haejin yang masih menangis ke dalam boks bayinya. Sementara Donghae berjalan menghampiri Heejin. Putrinya itu menangis kencang. Kaget mendengar teriakan super kerasnya barusan.

“Aiisshh…” Donghae memaki-maki tak jelas sembari meraih Heejin ke dalam gendongannya. Sementara di boks bayi yang lain, Haejin masih tetap tak mau berhenti menangis. “Bagaimana ini?” Donghae bertanya pada dirinya sendiri.

Sembari menggendong Heejin, Donghae memutuskan keluar untuk memberi tahu Eunhee. Tapi rupanya Eunhee belum selesai mandi. Donghae menggedor-gedor pintu kamar mandi agak keras sembari bertanya dari luar. “Hee, Haejin tak mau berhenti menangis. Mungkinkah dia lapar lagi?”

Bersyukur, kini Heejin sudah lebih tenang. Putrinya itu sudah berhenti menangis dan kembali terlelap.

“Mungkin popoknya penuh, Hae! Tolong gantikan popoknya!” Sayup-sayup Donghae mendengar suara Eunhee dari kamar mandi.

Benar. Kenapa sama sekali tak terpikirkan olehnya?

Menahan nyeri yang menusuk-nusuk di kaki kanannya. Bergegas, Donghae kembali ke kamar. Haejin harus segera berhenti menangis.

Heejin yang kini mulai tenang, diturunkannya perlahan di boks bayi. Tak lupa Donghae menyalakan mainan bayi yang tergantung di atas boks-nya. Merasa putrinya tak akan terganggu lagi, Donghae melangkah ke lemari kecil di tepi ruangan. Diraihnya popok bayi berukuran S dan mulai menghampiri Haejin.

Ini pengalaman pertamanya mengganti popok bayi. Selama ini karena kesibukan, Donghae jarang sekali bisa menjaga putra-putri kembarnya. Beruntung, tiap minggu Ibu Eunhee dan Ibunya bergantian datang ke Seoul untuk membantu Eunhee menjaga mereka. Tapi minggu ini, karena Donghae sudah pulang dari rangkaian kegiatannya di Taiwan, ia meminta Ibu Eunhee dan Ibunya untuk istirahat dulu dan tak perlu repot-repot memikirkan cucunya. Ada Donghae yang bisa membantu Eunhee menjaganya.

Perlahan-lahan, Donghae menurunkan celana Haejin. “Tenanglah dulu, Appa akan menggantinya, hm?” Donghae bergumam pelan sembari bersenandung kecil. Berharap, apa yang dilakukannya dapat menghentikan tangis Haejin.

Setelah melepaskan celana Haejin, Donghae meraih pinggiran pampers Haejin dan menyobeknya. Ternyata benar, Haejin baru saja buang air besar. Donghae sempat mengernyit merasakan bau tak nyaman yang ditimbulkan.

“Pantas saja kalau kau menangis terus, huh?” Donghae pelan-pelan mengangkat kaki Haejin. Ditariknya bagian pampers yang masih berada di bawah punggung Haejin, lalu melipat pampers itu dan dibuang ke tempat sampah yang sengaja disiapkan di pinggir boks. Haejin kini berhenti menangis dan terlihat menggerak-gerakkan kaki mungilnya. “Syukurlah kau belum makan apa-apa, jadi baunya tak terlalu menyengat bila dibandingkan bau poop orang dewasa,” bisik Donghae pelan.

Setelahnya, Donghae mulai bingung. Ia terdiam sebentar untuk berpikir. Donghae bingung harus bagaimana lagi? Tak mungkin kan kalau Haejin dibawa ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa poopnya? Donghae menoleh ke kanan dan ke kiri, bingung mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk menyeboki Haejin.

Ketika sedang sibuk berpikir, Donghae merasakan sesuatu yang hangat membasahi bagian depan pakaiannya. Cepat Donghae menoleh, dan terbelalak lebar mendapati Haejin dengan tenangnya memancurkan air seninya. Mengenai bagian depan kaus Vneck putihnya.

“Yak! Apa yang kau lakukan? Aiiisshh…” Donghae menggerutu sembari menjauhkan diri dari box Haejin. Yang membuat Donghae semakin sebal, Haejin sepertinya terhibur dengan apa yang baru saja dilakukannya. Bayi mungil itu terkekeh-kekeh pelan mendapati ekspresi kaget Donghae. “Hey, kau sengaja mengerjai Appa, eo?”

Masih terdengar suara kekehan geli Haejin. Sementara Donghae mulai mengutuk-ngutuk marah. “Aiisshh.. pakaian Appa basah jadinya. Tidak sopan kau ini!”

“Ada apa, Hae?” Mendadak Donghae lega mendengar suara Eunhee. Diputarnya tubuhnya menghadap sang istri, lalu menggumam pelan dengan nada merajuk yang berlebihan. “Haejin nakal. Lihatlah! Dia pipis sembarangan dan membasahi pakaianku.”

Kontan Eunhee terkikik geli. “Astaga! Bagaimana bisa begitu? Kenapa kau tak cepat-cepat memakaikan popoknya lagi?” Eunhee bergegas menghampiri dan meraih pampers baru yang tadi disiapkan Donghae di pinggir boks.

Mendengar pertanyaan Eunhee, Donghae tersenyum bingung. “Hehe.. aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menyeboki-nya.”

Eunhee menggeleng-geleng pelan. “Appamu memang bodoh, Haejin-a! Jadi wajar kalau dia mendapatkannya.”

“Yak! Apa katamu?”

“Jangan berteriak. Nanti Heejin bangun,” Eunhee mengingatkan sembari meraih tissue basah di meja kecil dekat boks bayi. “Kau hanya perlu membersihkannya dengan tissue ini, Hae,” tambah Eunhee lalu mulai menyapukan tissue basah itu di kulit lembut Haejin.

Donghae mengangguk-angguk paham sembari memperhatikan Eunhee mengganti popok Haejin. “Nah, selesai!” Eunhee tersenyum puas, lalu meraih sebotol susu hasil tampungan ASI-nya dan menyorongkannya pada Haejin. “Sekarang, cepat ganti pakaianmu. Kalau perlu mandilah sekalian, ini sudah hampir gelap.”

Baru ingat bahwa pakaiannya basah dan kotor, Donghae menyeringai mendapati ide gila yang tiba-tiba melintas di otaknya. Donghae melangkah mendekati Eunhee sembari bergumam pelan. “Hee, kau tak ingin memeluk suamimu ini?”

Kontan, Eunhee berjengit mundur dengan mata terbelalak. “Tidak, tidak. Aku baru selesai mandi, Hae!”

“Ayolah! Kau belum memelukku sejak aku datang tadi, eo? Lagipula, nanti kau kan bisa mandi lagi bersamaku.” Donghae mengerling nakal sambil terus mendekati Eunhee.

“Yak! Lee Donghae, jangan coba-coba mendekatiku!”

“Kau jahat sekali padaku, hm? Bajak laut Lee Donghae sedang merindukan istrinya.”

“Menjauh dariku, Hae! Atau aku akan…”

“Apa? Kau akan apa? Apa yang akan kau lakukan padaku, sayang?” tantang Donghae geli.

“Atau… aku akan menendang kakimu!”

———————————————–

“Jangan lupa pakai mantel tebal, cuaca sedang dingin-dinginnya sekarang,” Donghae mengalihkan perhatiannya dari cermin besar di hadapannya pada wajah khawatir Eunhee. “Aku tak ingin kau ceroboh seperti dulu. Dalam keadaan demam, kau malah keluar rumah dengan hanya menggunakan kaus Vneck putih kesayanganmu itu.”

Donghae tersenyum lebar. “Aigoo… Hee, berhentilah mengomel! Aku tahu… aku tahu,” balas Donghae lalu meraih mantel tebal yang tersampir di punggung kursi.

“Tapi Hae, bagaimana dengan matamu? Kau tak akan bergaya seperti bajak laut yang tersasar di atas panggung, kan?”

Kontan Donghae terbahak. “Bajak laut? Kau pikir aku gila? Tentu saja tidak, Hee. Aku hanya perlu memakai kacamata hitam. Kemudian… semuanya beres,” Donghae mengangkat bahu tenang.

Kepala Eunhee mengangguk paham. “Kalau begitu, syukurlah! Jangan melakukan hal aneh lagi. Kalau sampai saat pulang nanti aku mendengar terjadi sesuatu dengan…”

Eunhee menghentikan ucapannya ketika Donghae maju mendekat. Meraih pinggang Eunhee dan mendekatkannya ke tubuhnya sendiri. “Jangan khawatirkan aku, sayang. Aku akan baik-baik saja, hmm?”

“Kalau kau bisa membuktikan ucapanmu sendiri, aku akan tenang, Lee Donghae,” gumam Eunhee sembari merapikan syal biru safir yang membungkus leher Donghae.

Donghae tersenyum penuh antisipasi. “Lalu, kalau aku berhasil menjaga diriku dengan baik kali ini. Apa yang akan kau berikan padaku?”

Eunhee mengernyit bingung. Setelah berpikir sebentar, akhirnya Eunhee memutuskan untuk bicara. “Apapun yang kau mau.”

“Kau yakin?” Donghae menyeringai lebar.

“Tentu saja!”

“Baiklah! Aku akan membuktikannya.” Donghae mengecup kening Eunhee lembut. Beralih ke kedua pipinya, hidungnya, lalu berlama-lama di bibirnya.

————————————–

Bosan setelah memberi ASI pada Haejin dan Heejin yang kini kembali tertidur, Eunhee meraih Samsung Galaxy Mini 2-nya dan melihat-lihat foto dirinya, Donghae dan juga dua anggota baru—Haejin dan Heejin—di keluarga kecilnya, sembari merebahkan diri di atas sofa.

Senyum Eunhee mengembang, menatap foto Donghae yang tengah beradu hidung dengan Haejin, lalu foto Donghae yang panik saat mendapati Heejin menangis. Sebodoh apapun suaminya, Eunhee tahu lelaki itu begitu penyayang. Apapun akan dilakukannya untuk menyenangkan seseorang yang dicintainya.

Eunhee mengalihkan perhatiannya ke langit-langit kamar. Pikirannya sibuk berkelana. Apa lagi jika bukan Donghae yang dipikirkannya. Suaminya sedang sakit. Tapi terpaksa harus tetap bekerja karena tak bisa mengambil libur. Memang sudah resikonya sebagai idola. Dan hal itu membuat Eunhee khawatir. Bagaimana bila suaminya itu ceroboh lagi, lalu membiarkan sesuatu yang buruk menimpa dirinya sendiri?

Eunhee tersentak kaget ketika mendengar lagu ‘I Wanna Love You’ mengalun dari ponselnya. Refleks, ia bangkit lalu mendekatkan ponsel canggih itu ke telinganya.

Yeoboseyo, Eomma,” sapanya pada sang Ibu.

“Bagaimana cucuku?” tanya Park Minhye—Ibunya—di seberang.

Eunhee mendecak. “Eomma hanya menanyakan cucumu? Lalu bagaimana dengan aku?”

Eunhee mendengar Ibunya terkekeh. “Sejak kapan kau jadi manja begini, Hee?”

“Sepertinya aku ketularan Donghae,” balas Eunhee sembari menghela napas berat. “Haejin dan Heejin baik-baik saja, Eomma. Sepertinya mereka merindukanmu.”

“Benarkah? Ah, mungkin Senin depan Eomma, Appamu dan Jonghee akan ke Seoul. Eomma sudah tak sabar ingin bertemu mereka lagi.”

Bibir Eunhee tanpa sadar melekuk membentuk senyuman. “Yeah, aku yakin Haejin dan Heejin akan senang menyambut kakek dan neneknya.”

“Tentu saja. Ah, jaga dirimu baik-baik. Kudengar suamimu sedang sakit. Apa ia baik-baik saja?”

Sembari memejamkan matanya, Eunhee membalas. “Si bodoh itu? Kapan ia tak baik-baik saja?”

“Jangan begitu. Biar bagaimana pun dia suamimu.”

Eunhee tak menjawab dan hanya tersenyum tipis. “Oh, Eomma. Sepertinya ada telepon masuk. Aku tutup dulu ya.”

“Oke, sampaikan salamku untuk Donghae Seobang.”

“Ne, Eomma. Jaga diri Eomma baik-baik juga. Salam buat Appa dan Jonghee.”

Eunhee menutup telepon Ibunya. Lalu menerima telepon lain yang masuk. “Wae Jonghoon Oppa?” tanyanya khawatir pada manajer Super Junior itu.

“Donghae tadi terjatuh saat sedang rekaman dan kini ia dibawa ke rumah sakit.”

“APA?” Sontak Eunhee bangkit. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. “Lalu, bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Tidak ada yang terluka, kan? Aku akan menyusulnya. Dia ada di rumah sakit mana?” Eunhee memberondong Kim Jonghoon dengan pertanyaannya. Tak memberi kesempatan sedikit pun pada lelaki itu untuk menjelaskan.

“Tenanglah dulu, tadi dokter sudah memeriksanya. Dia tidak apa-apa. Donghae hanya kehilangan keseimbangan karena sebelah kakinya sedang sakit. Dan sekarang kami sudah dalam perjalanan ke apartemen.”

Seperti ada air hangat yang disiramkan ke hatinya. Lega. Syukurlah tak terjadi sesuatu yang buruk dengan suaminya itu.

“Tadinya Donghae tak membiarkanku memberitahumu. Sampai sekarang pun—oh, lihatlah dia sepertinya akan membunuhku dengan tatapannya,” Suara Jonghoon kembali terdengar.

Eunhee mendengus jengkel. Tentu saja, sebisa mungkin Donghae ingin menyembunyikan kabar itu darinya. “Terima kasih, Oppa. Jangan ikuti kata-katanya. Apapun yang terjadi, laporkan saja padaku.”

“Baiklah! Kami sudah hampir sampai. Sampai jumpa lagi, Hee!”

“Ne, sekali lagi. Terima kasih, Oppa.”

Telepon terputus. Eunhee diam dengan perasaan jengkel. Saat Donghae pulang nanti, ia harus menanyakan hal ini lebih lanjut.

Selang beberapa menit berlalu, bunyi tililit dari pintu depan terdengar. Berikutnya, suara langkah kaki yang sedikit diseret menyertainya. Donghae pulang.

Eunhee bergegas keluar dari kamar. Ia diam menatap Donghae yang kini meringis ke arahnya. Sebelum Eunhee sempat membuka mulut, Donghae sudah lebih dulu bergumam. “Hanya jatuh sedikit. Tidak terjadi sesuatu yang serius padaku. Dokter juga sudah memberiku obat antinyeri yang ampuh.”

Eunhee bergeming. Dilipatnya kedua tangannya di dada, lalu melangkah mendekati Donghae yang masih berdiri di sisi dapur yang bersebelahan dengan foyer. “Berapa kali kau harus melakukan kebodohan, Lee Donghae? Handphone sering hilang dan rusak, lalu tersesat di bandara, menyakiti matamu sendiri saat mencuci botol susu Haejin, terjatuh saat latihan… dan sekarang…”

“Iya, iya aku tahu. Aku memang ceroboh.”

“Mana janjimu untuk menjaga diri dengan baik? Baru tadi pagi kau berjanji padaku akan berhati-hati, dan malam ini aku mendapat kabar seperti itu.”

Donghae menunduk. Sengaja tak membalas omelan Eunhee.

“Setelah ini, kebodohan apalagi yang akan kau lakukan, Hae? Katakan padaku. Setidaknya… aku akan lebih siap menerima kabar buruk lainnya.”

“Oh, ayolah, Hee! Jangan berlebihan.” Donghae berjalan tertatih mendekati Eunhee, lalu meraih tubuh istrinya mendekat. “Aku tahu aku bodoh. Mungkin semua yang kulakukan dalam hidupku adalah kebodohan.”

“Termasuk mencintai dan menikah denganku adalah kebodohan lainnya?”

Donghae menggeleng pelan, lalu membelaikan jemarinya di rambut hitam panjang Eunhee. “Satu-satunya keputusan terbaik yang pernah kuambil dalam hidupku, adalah jatuh cinta padamu dan menikahimu.”

Eunhee membiarkan Donghae memeluknya erat. Sangat erat. Hingga nyaris membuatnya sesak napas. Eunhee marah bukan karena benci pada Donghae. Ia juga marah bukan karena menyesal menikahi pria bodoh itu. Tapi Eunhee benar-benar khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Bagaimana dirinya bila tanpa Donghae? Eunhee tak yakin dapat hidup dengan baik.

“Dan satu-satunya keputusan terbodoh yang pernah kuambil dalam hidupku adalah… mencintaimu, Lee Donghae!”

“APA? Jadi kau menyesal telah menikahiku?” Donghae melepaskan dekapannya dan menatap Eunhee tajam.

“Aku tak bilang menyesal telah menikahimu. Kebodohanku hanyalah… aku tak bisa memilih dengan benar pada siapa aku harus memberikan hatiku.”

Donghae menyeringai lebar. “Yeah, itu karena kau juga bodoh!”

“Hmm… aku sadar. Yang paling bodoh di sini adalah aku. Karena dengan bodohnya, aku mencintai lelaki bodoh seperti dirimu.”

“Itu sudah takdirmu, bodoh!” Donghae menangkup kedua pipi Eunhee. Lalu menyapukan bibirnya di bibir mungil wanita itu. Lembut, dan dalam.

“OAAA… OAAA!!!”

Oh, sial. “Bisakah mereka tak mengangguku sebentar saja?” gerutu Donghae sebal.

“Aku hanya berharap, mereka berdua tak sebodoh dirimu,” tandas Eunhee sebelum pergi.

“Aiisshh…  Lee Eunhee, kau sudah pernah merasakan sepatu melayang ke wajahmu?”

FIN

 Heyyyyyyyyyyyyy… udah lama yak, gak bikin EunHae Moment! haha… ada yg kangen gak ama couple aneh bin ajaib inih? Semoga suka deh yah ama EunHae Moment kali ini ^_^

 

54 thoughts on “My Stupid Hae and His Twinny Baby [EunHae Moment]

  1. KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    EUNHAE BABO😀😀😀

    SUKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKK

    yampoooooooon dua orang bodoh saling jatuh cinta adalah kebodohan yang palih bodoh hahahhahhaaa

    si kembar haru di ruwat tuh biar ga ketularan kebodohan orang tuanya :p

    makin romantis njiyeeehhhhh hihihihi

    awas ntar kebobolan nambah baby lagi bisa gonjang ganjing EUNHAE MOMENT hahhaa

    LEE DONGHAE BODOH BABO STUPID BAKKA!!
    SARANGHAEYOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

  2. ⌣̈ωķα⌣̈ķα⌣̈ķαķ⌣̈ parah-____- suami sendiri dikatain bodoh (“`з´)—c<`o`) ck akhir-akhir ini eunhae sering cidera.. Humm~

  3. sesama orang bodoh dilarang keras saling mengejek…!!!!! *upsss͵…keceplosan

    suka sama semua eunhae moment… kamu yg nulis ajah katanya senyum2 sendiri wktu ngetiknya.. apaLagi yg baca.. Ngakak abis smbL geLeng2
    #ganteng2 kok Babo

    Hee… jgn pernah berpaLing yah dr si Ikan Mokpo ituhh tar yg ada dia makin babo Lagee.. wakakakakak

  4. Yang lebih bodoh itu authornya.. mau-maunya ngekopelin kopel bodoh ini.. hahaha *di bacok Aika Lee

    Eonni… tau ga?? rasanyaa itu kanggeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnn bnget ama Eunhee Diary’s ciyus deh.. tapi kyknya bakal ada yang dirubah yah.. kan ini udah mbrojol…

    hahahhaha SELALU yahhh EUNHAE MOMENT SELALU BIKIN bibir kesemutan kalo ga senyum… ahhh Kakak ku yang bodoh.. kapan kau pinter?? *toyor Aiden

  5. Hahahahahaha… Donghae paboya!! Betul itu eonn…

    AKu juga kesal banget nih.. ama uri Donghae pabo! Bisa-bisanya ia terluka dan terluka lagi..
    HUh… *Sigh*

    Tapi, eonn.. aku rindu banget dengan momentnya, akhirnya terobati deh..😀

  6. hoakakakkkkk.. semalem mo baca tp udh ngantuk, jadi baru lanjut sekarang…

    couple bego + bayi kembar unyu = SWEEEEEEEEEEEETTT
    aku paling suka pas hae nyuruh bayinya diem, taunya malah dy yg tereak!! hoakakkkk… *toyor hae
    sama pas dy dikencingin!!! hoakakkkkkk…

    dan pinter kamu masukin kejadian nyata tu yee.. kaya pas mata hae sakit, taunya gara2 kecepretan air panas! hahaaa.. good job!

    dan aku sempat cengo liat nama manager suju!!! emangnya beneran namanya jonghoon?? begitu baca yg ada dipikiranku langsung jonghoonku soale :p

  7. jenjeng…😄
    Onnie mainhae baru CL…#bow

    Astga! saeng kow ngerasa hee jadi istri yg bikin suaminya takut..#dijitak
    hihihi, hae oppa kpn kau akan berhenti cerobah? dan itu mata jd krn dia buat susu? #cengo
    ngebayangin hae dikencingin…kekekeke bner” dh udh kaki sakit, rawat si kembar dua dikencingin pula…malang nasibmu bang…#tepuk” punggung

    Onnie, knp dua org ni jadi nyebut dirisendiri bodoh sih…hehehe
    Smga dua baby itu g akan ikut”an blg bodoh ma hae…doeng

    Tulisan sperti bysa rapi n sejauh ini saeng g nemu typo..keren

  8. Eunhae moment.. selalu sesuatu bgt daah!…
    btw, haejin sm heejin jd pengganggu eomma sm appa’y ni! waaah kasian y donghae. hee~~~^^
    next d tunggu crt eunhae moment lain’y.

  9. mianhae eonni bru smpet bca T.T
    tp q puas bngt eon,sng bgt bcanya,snyum2 sndri…🙂
    kalo dpkir2 hae oppa emg crboh bngt y,q sk ff eonni slalu mnyangkut kjadian yg nyata,ngebayanginnya jd g susah.,neomu johae^_^
    wlaupn croboh ataupun bdoh tp couple ni slalu mmliki si2 romantic gr2 bang Hae,^_~
    sprti bysa ffmu slalu daebak eon,Jjang!!
    Fighting~~~~!!!!!!

  10. Mianhae unn, baru bisa koment.. u,u

    Oh Unnie, kenapa donghae konyol bnget disini..wkwkwk~
    Lucu deh.. ^^
    dan seperti biasa, Eunhee cueknya kumat..kasian Hae..hehe~
    aku tunggu next Eunhae Moment Unn..🙂

  11. ommoooo.. ssaeng… family story..
    KYAAAAA the twinie baby….
    seneng.. seneng.. seneng..
    seru deh momentnya,, kacian juga ya mas DongHae sakit gitu (makannya ati- ati..)
    aku selalu nunggu eunhae moment yang kamu tulis, kutunggu moment- moment seru lanjutnya ya ssaeng-iiiii
    annyeooonggg!!! ^^

  12. eunhae pabo,author pabo,reader’y jg pabo.
    Mau2’y q baca
    tambah lg tergila2 5 couple moment nie.
    bener2 pabo pabo pabo *getok kepala sendiri*
    d tunggu z moment2 berikut’y

  13. alohaaaa kia’s back. back. back. back!!
    ka diaaaaaaah masih inget aku ga? | engaaa.. | yaudah pergi lagi T^T
    udah berbulan-bulan ga ngunjungi eh fanfictnya ketinggalan banyak banget T^T
    mesti dicicil bacanya nih, dan aku baru baca yang ini hfft

    kya kya aku kangen sama si kembar, mereka udah tambah besar ya *yaiyalah*
    si kembar kamarnya bagus banget, aku iri ><
    seneng deh dikasih liat foto kamarnya haha bagus banget, hasil kerja keras Donghae ga sia-sia lah bisa bikin kamar keren gitu kkk
    btw kasian ya Donghae matanya sakit lah, kakinya juga. Donghae appa harus hati-hati jangan ceroboh mulu ckck
    seperti biasa endingnya pasti lucu😀 aku sukaaaaaa

  14. aahhh lee donghae ngegemesin bgt…emang tuh, beberapa hr ini dia Hae bikin khawatir..heem dikit2 di infus..ahh kau memang pabo..#plakk
    kyaa yg suka jg pabo dong..*tunjuk diri sendiri..aishh

  15. Wkwkwk kayaknya mulai sekarang harus mesti ngajarin ayank Heenim cara mengurus bayi, biar gak kagok kaya Hae xD

    bagus eoni~ daebaknikka *angkat 10 jempol *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s