SHABELLE: I Miss You, Aiden!

Cast :

Annabelle Parker, Shaula Smith, Aiden Lee

Genre :

Soft Romance, Friendship

Author :

AIKA LEE / EunheeHAE

CoverSB

***

“Belle, aku merindukan Aiden,” rintih Shaula tepat saat rentetan batuknya hilang.

“Kau pikir aku tidak?” Belle membalas sembari menekankan jari-jarinya di kening. Pusing.

Seminggu berlalu. Sesuai kesepakatan yg dibuat, dua roommates itu terpaksa menghindar dari sosok Aiden karena tak ingin konsentrasinya pecah saat ujian. Namun sialnya, Shaula dan Belle justru jatuh sakit di saat ujian akhir mereka masih berlangsung.

“Semua ini karena ide gilamu! Kau tahu benar kan kalau kita tak dapat hidup dengan baik tanpa vitamin bernama Aiden Lee itu?” omel Shaula kesal sebelum gadis itu membersit hidungnya. Entah berapa kotak tissue yg sudah ia habiskan dalam dua hari terakhir.

“Kalau tahu begitu, kenapa kau menyanggupinya?” balas Belle tak terima disalahkan. “Itu menunjukkan bahwa kau sepakat denganku!”

Shaula tak menjawab dan hanya mendengus frustasi. Direbahkannya tubuhnya yg demam di atas sofa biru kesayangannya.

“Lalu apa yg harus kita lakukan?” Shaula akhirnya bersuara setelah beberapa saat membisu.

“Entah!” balas Belle muram. “Kurasa, Aiden benar-benar menuruti permintaan kita untuk tak bertemu dengannya selama ujian semester ini berlangsung.”

“Ia bahkan tak memberitahu kita di mana ia tinggal selama seminggu ini.”

Belle menghela napas berat. Tubuhnya demam dan tenggorokannya sakit sejak dua hari yg lalu. Begitu pun Shaula yg menyusul dengan flu beratnya.

“Ujian hanya tinggal 2 hari lagi, S! Kita harus bertahan.”

“Dengan kondisi seperti ini? Kau yakin bisa mengerjakan soalmu dengan benar? Oh, ayolah Belle jangan bercanda,” dengus Shaula kesal.

Tanpa sadar, Belle mengangguk pelan. Menyadari kebenaran dalam pernyataan Shaula.

“Lalu, apa kau punya ide lain?” Belle bertanya setengah melamun.

Hening beberapa saat. Dua gadis bermata hazel itu tampak sedang berpikir keras. Namun apapun yang dipikirkannya selalu jatuh pada jalan buntu.

“Menurut kepercayaan kuno yang entah pernah kubaca di mana. Bila kita menatap satu bintang yang paling terang dan menyebut nama orang yg kita rindukan sebanyak tiga kali. Orang itu akan muncul di hadapan kita.”

Terdengar tawa hambar Belle. Di jaman serba komputer seperti sekarang ini, masihkah teman baiknya ini, percaya pada hal konyol seperti itu? Oh, ayolah. Shaula pasti bercanda!

“Jangan mengada-ada, S!” cibir Belle geli. “Aku tahu kau frustasi. Tapi apa perlu kau mempercayai hal konyol dan aneh semacam itu.”

Mengabaikan ejekan Belle, Shaula bangkit dari sofa dan dengan langkah terhuyung menuju balkon apartemennya.

Walau menyangkal, Belle pun tanpa sadar mengekor di belakang Shaula.

“S, kau ingin flu-mu semakin parah dengan berdiam diri di tengah cuaca sedingin ini?” cecar Belle.

“Jangan ganggu aku, Belle. Kalau kau tak percaya, pergi saja!” sungut Shaula jengkel. “Tapi apabila metode-ku terbukti benar, kau–”

“Baiklah, baiklah!” potong Belle cepat.

Shaula mengira Belle akan pergi. Tapi ternyata gadis berambut coklat gelap sepunggung itu, maju beberapa langkah ke depan lalu mengikuti Shaula menatap langit. Shaula nyaris terkikik saat Belle menambahkan.

“Aku tak mau kehilangan kesempatan bertemu Aiden, sekecil apapun itu!”

Selang beberapa menit, kedua gadis itu menatap langit. Mencari-cari bintang paling terang di antara ribuan bintang yg tersebar di langit luas.

“Ketemu!” pekik Shaula dan Belle hampir bersamaan. Keduanya pun saling melempar senyum.

“Dalam hitungan ketiga, sebut nama Aiden sambil menatap bintang itu!” Shaula memberi instruksi.

Walau enggan, Belle mengangguk lalu mengalihkan perhatiannya pada bintang itu.

“Satu… dua… tiga!”

“AIDEN, AIDEN, AIDEN LEEEEEEEEE!!!”

Shaula berjengit mendengar teriakan Belle. “Aku tak memintamu berteriak, Belle. Kau hanya perlu–”

“Mates, bisakah kau tak mengganggu tidurku?”

Sontak Shaula dan Belle terlonjak kaget. Itu suara Aiden!

Refleks, kedua gadis itu menoleh dan ternganga heran mendapati tetangga sebelah apartemen mereka yg luar biasa tampan itu muncul di sisi balkon yang lain. Lengkap dengan senyum menawannya.

Seketika Shaula dan Belle mematung. Seolah-olah ada daya magis yg menarik perhatian mereka sepenuhnya.

Aiden-nya. Seperti biasa tampil begitu menawan. Kendati rambut lelaki favoritnya itu acak-acakan dan hanya memakai T-shirt tanpa lengan berwarna orange. Sepertinya lelaki itu memang terbangun karena teriakan keras Belle tadi.

“Aku tak tahu warna itu cocok juga untuknya,” tanpa sadar Shaula meracau.

“Dan aku tak menyangka metode-mu ampuh juga!” tambah Belle dengan tatapan terus tertuju pada Aiden.

“Apa aku perlu menyiapkan ember untuk menampung liurmu, girls!” Aiden terkekeh pelan. “Dan oh, jangan lupa bernapas!”

“Ke mana saja kau selama ini?” Tiba-tiba tanpa diduga Belle berteriak.

“Ya, kau nyaris membuat kami mati karena tak dapat melihatmu!” tambah Shaula dengan nada yg sama.

“Tenang, girls! Bukankah kalian sendiri yg memintaku pergi?” Aiden membela diri.

“Tapi kau kan tak perlu menuruti apa yg kami katakan?” sungut Shaula pura-pura kesal.

“Memangnya kau akan menurut kalau seandainya kami memintamu melompat dari atas gedung yg tinggi?” sambung Belle.

“Oh, baiklah, baiklah! katakan saja kalau kalian merindukanku. Aku tak pernah pergi ke manapun. Tak perlu bertele-tele–”

Ucapan Aiden terpotong batuk Shaula dan rintihan sakit kepala Belle.

“Kalian sakit?” Aiden tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

“Bagaimana aku bisa bertahan tanpa vitamin favoritku?” gerutu Belle.

“Dan kau harus bertanggung jawab untuk hal ini!” Shaula menyembunyikan seringainya ketika menambahkan.

Aiden menghela napas. “Baiklah apa yg harus kulakukan?”

Shaula dan Belle otomatis saling melempar pandang. Bagus! Mangsa dapat dijerat dengan mudah.

Keesokan harinya…

“Aiden, bisakah kau mengambilkanku air?” Shaula merengek pada Aiden yg baru saja meletakkan semangkuk bubur di atas meja sebelah Belle. Walau dalam balutan apron biru ditubuhnya, lelaki itu tetap terlihat mempesona.

“Oke, tunggu sebentar!” balas Aiden lalu berlari ke dapur.

“Aiden, kau yakin bubur ini bisa dimakan?” pertanyaan Belle terlontar tepat saat Aiden baru akan melangkah ke tempat Shaula dengan segelas air di tangan.

“Tentu saja, kau tak perlu meragukannya!”

“Aiden, tolong ambilkan tissue untukku!” kali ini suara Shaula terdengar.

“Aiden, tenggorokanku sakit. Aku minta air!”

“Aiden, aku kedinginan. Tolong ambilkan selimutku!”

“Aiden, kakiku pegal. Bisakah kau memijatku?”

“Aiden!”

“Aiden!”

“Aiden!”

Frustasi mendengar teriakan-teriakan itu, Aiden seketika melepas dan melempar apron birunya ke lantai

“Hentikan, girls! Nenekku bahkan jauh lebih pendiam daripada kalian saat sedang sakit!”

TAMAT

537097_500584749991780_1575718826_n

10 thoughts on “SHABELLE: I Miss You, Aiden!

  1. Wakakaakkakaa

    Aiden : KITA RIBUT AJA YUK, GIRLS…!!!

    Koplak ih duo shaula.. You guys making people envy you mahahhahahaa
    *kecup aiden*

  2. Kompak bgt ne ShaBelle.. Selalu ketawa liat aksi mereka, hehe
    baru komen disini, sebelumnya udh baca yg drabble-nya. Salam kenal reader baru disini ^^

  3. shaula itu ade kaka ya..?? bru baca ini doank, kayanya gw g nymbung deh sama duo shaula ini. tp cerita yg ini lucu..
    teriak ke langit trs org yg diteriakin nongol. ahhh mauu bgtu juga..😀

    *AIDEN!!!! AYO KITA KEKAMAR……* hahahahhahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s