Memories of Youth (SM High School) -Book Five-

-Book Five-

Lovely Day

Author: EunheeHAE / @Diah8876

Male Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kim Kibum, Park Jungsoo, Kim Youngwoon, Kim Jongwoon, Kim Ryeowook, Shin Donghee, Lee Sungmin, Tan Hangeng, Kim Heechul and others.

Female Cast: Lee Eunhee, Shin Jiae, Hwang Yeonrin, Han Haerin, Cho Saehyun, Lee Jihyeon, Lee Hyunsun and others.

Leght: Chaptered

Genre: Romance, Friendship, Family, Fluff.

-SM High School-

Jiae mempercepat langkahnya di koridor sekolah lantai dua. Sesekali tangannya menghapus titik bening yang muncul di ujung matanya. Ya, dia menangis. Dadanya sesak karena pertengkaran yang baru saja terjadi. Selama bertahun-tahun selalu menghindar satu sama lain. Namun pagi ini, sesuatu yang tersimpan lama itu meledak begitu saja. Hanya karena kesalahan kecil.

Jiae berhenti di ujung lorong. Tangannya mencengkeram pilar besar gedung sekolah bertingkat tiga itu hingga buku-buku jarinya memutih.

“Cho Kyuhyun… kau keterlaluan!” desis Jiae. Tangannya terus menghapus air mata yang semakin kerap mendesak keluar, mengabaikan beberapa orang siswa yang memandanginya penuh rasa ingin tahu.

———————————————–

“Dasar penguntit!” kata-kata kasar itu keluar begitu saja dari mulut Kyuhyun.

Jiae yang terkejut hanya bisa ternganga heran. Tak ingin pertengkaran yang lebih besar terjadi, gadis itu cepat-cepat memutar tubuhnya hendak pergi ketika mendengar Kyuhyun kembali bersuara. Kali ini dengan nada yang lebih menyakitkan dari sebelumnya. 

“Selain penguntit… tak kusangka kau juga pengecut.”

Jiae menghentikan langkahnya. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Gadis itu marah. Tapi sekuat tenaga menahan diri untuk tak memuntahkan amarahnya di depan Kyuhyun. Dengan tubuh bergetar oleh amarah, gadis itu memutar tubuhnya lagi. 

“Maaf, aku hanya tak sengaja lewat,” katanya datar.

Kyuhyun mendengus. “Tak sengaja lewat,” ulangnya dengan nada mengejek. “Lucu sekali.”

“Kurasa tidak ada yang lucu,” sergah Jiae cepat. 

Kyuhyun mendecak, berjalan mendekat ke tempat gadis itu berdiri. “Tidak lucu, tapi menggelikan,” balas Kyuhyun sinis. “Kau bilang membenciku, tapi pada kenyataannya masih sering memperhatikanku dari jauh. Apakah seterpesona itu kau padaku?”

“Apa?”

“Dasar munafik!”

“Hey—“

“Tidak jauh berbeda dengan Ibumu.”

“JANGAN BAWA-BAWA IBUKU DALAM HAL INI!!!” tiba-tiba Jiae membentak keras. Emosi yang sejak tadi ditahannya benar-benar tak terbendung lagi mendengar nama Ibunya disebut-sebut.

“Kenapa? Kau malu mengakui bahwa Ibumu perusak rumah tangga orang?” 

“HENTIKAN!!!” teriak Jiae frustasi. “Pembicaraan kita tak ada hubungannya dengan ini.” 

“Tak ada hubungannya katamu?” Kyuhyun mendecak sekali lagi. Tatapannya menusuk tepat ke mata Jiae. “Aku, Ibuku dan adikku hampir menjadi korban. Kau bilang ini masih tak ada hubungannya denganku?” 

“Masalah itu sudah lama berlalu,” balas Jiae datar. “Tak ada yang terjadi pada keluargamu. Mereka berdua hanya teman.”

“Ya, setahumu memang tak ada yang terjadi. Tapi tahukah kau bahwa semuanya tak sama lagi sekarang?”

“Apakah ini salahku? Kenapa kau selalu menimpakan semuanya padaku? Aku tak pernah menyuruh Ibuku untuk mendekati Ayahmu. Aku juga tak pernah meminta Ayahmu untuk mendekati Ibuku.” Jiae menarik nafas panjang. Air mata mulai memburamkan sosok lelaki tampan di hadapannya. “Tak tahukah kau bahwa aku juga begitu terpukul dengan kenyataan ini? Tak perlu ditambah lagi dengan semua tekanan darimu,” suara Jiae bergetar karena isak tangis yang sejak tadi ditahannya. 

Kyuhyun terpaku. Tak mampu berkata apa-apa lagi. Gadis itu menangis dan ia hanya bisa berdiri diam sembari menatap kepergiannya. Ia ingin sekali memeluknya. Menghapus air matanya, agar gadis itu berhenti menangis lagi. 

Apa yang dikatakan Jiae benar. Gadis itu jelas tak bersalah. Tapi entah mengapa… mengingat kedekatan gadis itu dengan Shim Changmin membuatnya terbakar api cemburu hingga membutakan semuanya.

—————————————————

“Kenapa harus aku?” Saehyun membuka suara.

Kibum yang sejak tadi sibuk dengan buku bacaannya mendongak cepat. “Maksudmu?” tanyanya sembari membenarkan letak kacamata berframe hitamnya.

Saehyun mendecak. “Kau ini siswa terpandai atau bagaimana?” gerutunya. “Masa begitu saja tidak mengerti?” Kibum hanya tersenyum menanggapi, membuat Saehyun semakin mendecak kesal. “Kenapa kau memilihku sebagai partnermu, Bisu?”

“Apa?” Kibum mengernyit.

“Kau tidak dengar?” Saehyun mendekat. Berdiri tepat di depan meja Kibum. “Kenapa kau memilihku?” ulang Saehyun sekali lagi.

Kibum menggeleng pelan. “Bukan… bukan itu, yang setelahnya.”

Kali ini Saehyun yang mengernyit. “Maksudmu?”

“Kau menyebutku apa?”

Seketika Saehyun menyeringai lebar. “Ahh… Bisu?” tanyanya dan Kibum mengangguk. Belum sempat lelaki itu membuka mulut untuk mendebat, Saehyun menambahkan. “Kurasa julukan itu cocok untukmu,” katanya lambat-lambat. “Bukankah kau irit bicara? Dan selama aku mengenalmu… bisa kuhitung hanya beberapa kalimat yang pernah kau lontarkan padaku. Apakah bicara menjadi sesuatu yang begitu mahal untukmu?”

Kibum tergelak, tapi cepat-cepat menghentikan tawanya melihat ekspresi heran Saehyun. “Oke, terserah padamu saja.”

“Hey!” Saehyun memprotes. “Kau tidak marah?” tanyanya heran.

“Buang-buang energi saja,” balas Kibum lalu sekali lagi menenggelamkan diri dalam kumpulan rumus matematika di hadapannya.

“Aiishh… dasar aneh!” keluh Saehyun kesal. Ketika gadis itu hendak berbalik ke bangkunya, ia cepat-cepat berputar ketika teringat sesuatu yang menjadi tujuannya semula. “HEY!!! Kau belum menjawab pertanyaanku!”

———————————————–

Kantin sekolah tampak tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa gelintir siswa yang tengah menyantap makan siang mereka. Di meja nomor dua dari belakang, tampak Yeonrin dan kekasihnya Choi Minho sedang sibuk bercengkrama sembari menikmati pesanan masing-masing.

“Bagaimana latihanmu? Apakah berjalan dengan baik?”

Minho tersenyum. Menampakkan dua lesung pipinya. “Yeah, lumayan. Hanya tinggal beberapa hari lagi sebelum pertandingan berlangsung.”

“Kau pasti menang!” ungkap Yeonrin bangga.

“Oh, tentu saja. Seorang Choi Minho tak akan pernah mau mengecewakan orang lain.”

“Tsk, percaya diri sekali!” Baik Yeonrin maupun Minho terkejut ketika tiba-tiba mendengar komentar Hyukjae yang entah sejak kapan sudah ikut bergabung di meja mereka.

Yeonrin menggeram frustasi. Ingin rasanya ia menjitak kepala lelaki pemilik senyum lebar itu dengan sumpit yang kini dipegangnya, kalau saja tak ada Minho di sana. Ia tak ingin imej buruk dan suka memukul orang melekat dalam benak sang kekasih.

Minho sendiri tampak tak terganggu. Lelaki tampan itu hanya melempar senyum kecil yang terkesan mengejek pada Hyukjae. “Ah… begitu,” katanya tenang setelah menghabiskan satu suap tteokbokki pesanannya. “Kuharap kau tidak iri dengan kehebatanku.”

“Apa? Iri?” Hyukjae mendesis. “Untuk apa aku iri padamu?”

Minho mengangkat kedua bahunya. “Yeah, hanya kelakuan orang syirik yang akan merasa tidak senang pada keberhasilan orang lain.”

“Oh, jangan lupa. Kau belum berhasil,” dengus Hyukjae.

“Aku akan berhasil. Kau lihat saja nanti.”

“Hey! Hentikan!” jerit Yeonrin sebal. “Sudahlah Chagia, jangan dengarkan dia,” sergahnya lalu menggamit lengan Minho memintanya pergi dari tempat itu.

Namun lelaki jangkung itu menghentikan langkahnya ketika mendengar gumaman Hyukjae yang menyatakan. “Yeon, nanti kau jadi pulang bersamaku lagi, kan?”

Sial.

———————————————–

“Hey, sepertinya kau tidak sedang membaca novel itu.”

Eunhee mendongak menatap Haerin yang kini sudah duduk di depan bangkunya. “Eh? Aku membacanya kok.”

Haerin menatap Eunhee penuh selidik. Tidak biasanya sahabatnya itu bertingkah seperti ini. Ya, gadis itu kini terlihat… normal. “Tapi yang kulihat sebaliknya… sejak tadi kau sama sekali tak membalik halaman itu.”

Haerin mendengar Eunhee menghela nafasnya cepat. “Sudahlah!” sergah Eunhee sembari menyimpan buku itu ke dalam tas. “Kau tidak ingin makan sesuatu?”

Haerin menggeleng. “Jangan coba mengalihkan pembicaraan Eunhee-a.” Eunhee mendengus ketika melihat seringai lebar Haerin. “Apakah kau… sedang jatuh cinta?”

“M-mwo?” Eunhee melotot.

Tentu saja Haerin tertawa mendapati sahabatnya yang selama ini selalu bersikap santai dengan wajah tanpa ekspresinya, kini tampak seperti orang bodoh. “Tidak ada yang bisa membuatmu berubah begini, bila bukan karena jatuh cinta.”

Eunhee mendesis. “Jangan sok tahu!”

“Aku sangat tahu Eunhee-a… seseorang yang sedang jatuh cinta, bisa berubah 180 derajat bila sudah disinggung tentang orang yang dicintainya.”

“Seperti kau dan Siwon—“

“Ssshh… kau mau membuat semua orang tahu, eh?” potong Haerin sembari melirik takut-takut ke bangku depan di mana Siwon sedang asyik dengan buku-bukunya.

Eunhee mendecak, lalu melipat tangannya di depan dada. “Sampai kapan kau akan terus menjadi penggemar rahasianya, eh?”

“Aigoo… sudahlah Eunhee-a, kenapa kau jadi memutarbalikkan pembicaraan dengan menyerangku?” keluh Haerin frustasi.

“Aku hanya khawatir padamu Haerin-a… aku tak mau sahabatku seperti ini terus.”

“Aku baik-baik saja. Sungguh!” Haerin berusaha tersenyum. “Aku sudah bahagia hanya dengan menjadi penggemar—“

“Haerin-ssi?”

Haerin menegang. Itu suara berat Choi Siwon. Gadis itu melirik cepat pada Eunhee yang kini sudah berdiri dari bangkunya. “Aku ada janji dengan Jiae di perpustakaan.” Eunhee cepat-cepat melanjutkan ketika Haerin akan membalas ucapannya. “Karena kau bilang tak ingin ikut… jadi aku pergi dulu. Aku titip sahabatku, Siwon-a!”

Siwon tersenyum dan mengangguk. Lelaki itu tersenyum lebar menatap kepergian Eunhee hingga menghilang di balik pintu.

Haerin menggeram dalam hati.

Awas kau Lee Eunhee… kalau aku tahu siapa lelaki yang kau cintai. Aku akan melakukan hal yang sama.

“Haerin-ssi, kau punya waktu untuk bicara denganku bukan?”

“Eoh? Eh… i-iya… katakan saja.” Sial!

————————————————————-

“Kenapa kau tertawa sendiri Hyuk?” Hyukjae tersentak. Kepalanya sontak menoleh ke sisi kiri di mana Donghae berada. “Apakah aku perlu membawamu ke dokter Jiwa?”

“Yak!”

Donghae terkekeh sembari menghindari pukulan Hyukjae di lengannya. “Aku bercanda,” katanya setelah berhenti tertawa. Lelaki itu kembali mendekat dan duduk di sisi Hyukjae. “Sepertinya kau sedang senang. Apa kau berhasil mendapatkan gadis itu?”

Kali ini Hyukjae tertawa lebar. Masih terbayang dalam benaknya wajah Minho yang berubah masam saat mendengar ucapannya pagi tadi. Tak pernah sebelumnya ia melihat lelaki yang menjadi pujaan banyak gadis di sekolahnya itu, tampak begitu dungu.

“Belum, tapi sesaat lagi… gadis itu pasti akan menjadi milikku,” balas Hyukjae yakin.

Donghae mendengus. “Jangan terlalu percaya diri Hyuk. Seorang gadis itu tak mudah ditebak.”

“Seperti gadismu?”

“Eh?”

“Jangan berlagak dungu Hae,” sergah Hyukjae. “Aku tahu kini kau tengah tertarik pada seorang gadis,” tambahnya dengan seringai geli ketika mendapati wajah lucu sahabatnya.

“Aku tak mengerti maksudmu.”

Hyukjae menggeser duduknya mendekat pada Donghae. Tangannya menunjuk pada lorong kelas lantai dua. “Dia! Kau menyukainya, kan?”

“MWOOO?!”

Hyukjae terkekeh lagi. Kali ini tangannya memegangi perutnya. “Tak perlu berteriak begitu, kalau memang tidak benar,” katanya masih sambil tertawa.

“Hey, mau sampai kapan kalian bersantai di sana?” seruan Shindong menghentikan tawa Hyukjae. “Ayo cepat latihan, ulang tahun sekolah kita sudah dekat!”

—————————————————

Perpustakaan tak terlalu ramai. Beberapa siswa sedang sibuk membaca dan mencari buku di rak-rak yang berbaris rapi. Jiae terdiam di sudut ruangan. Hatinya masih sakit bila mengingat kejadian pagi tadi. Seperti ada ribuan paku yang menghujam jantungnya sekaligus. Perih. Ia bahkan tak berani menceritakan semuanya pada sang sahabat. Justru memilih berdiam diri untuk mengembalikan mood-nya seperti sedia kala.

“Eh, Eonnie… kau di sini juga?”

Jiae menoleh dan tersenyum pada Saehyun yang menghampirinya. Tidak mengherankan bila gadis pintar seperti Saehyun senang mendekam di tempat seperti ini. “Yeah, sedang mencari buku bacaan yang bagus.”

Menatap Saehyun, mau tak mau mengingatkan Jiae pada saudara kembar gadis itu. Walau bukan kembar identik. Tapi keduanya memiliki banyak kemiripan satu sama lain. “Ngomong-ngomong… apa kau sudah bertemu Kyuhyun Oppa?”

Ekspresi Jiae berubah keruh ketika nama lelaki itu disebut. Dan Saehyun sangat menyadari hal itu. “Tidak, aku belum bertemu dengannya,” dustanya.

Saehyun masih diam tak bersuara. Gadis itu justru sibuk memperhatikan tingkah Jiae yang kini menunduk menatap sepatunya. “Sampai kapan kalian akan terus bermusuhan begini?” tanpa bisa dicegah, gadis itu menyuarakan isi hatinya.

Jiae terhenyak. Kepalanya terangkat begitu saja. “Maaf, Saehyunnie… aku… dan Eommaku…”

“Eonnie! Kenapa kau menangis?” Saehyun menyentuh pundak Jiae yang bergetar dan satu tangannya mengangsurkan tissu yang tadi dibawanya.

Jiae masih terisak dan melanjutkan racauannya. “Maafkan aku Saehyunnie… karena aku… Appa dan Eommamu…”

“Tidak! Eonnie tidak salah apa-apa!” sergah Saehyun. “Lagi pula, masalah itu sudah lama berlalu Eonnie. Berhenti mengungkitnya lagi.”

Jiae berusaha menahan isakannya dan tersenyum pada gadis itu. “Apakah benar… sekarang kondisi keluargamu tak seperti dulu?”

Saehyun mengernyit. Heran tentu saja. “M-maksudmu Eonnie?”

“Aku dengar… Appamu dan Eomma—“

“Kyuhyun Oppa yang bicara begitu?” potong Saehyun.

Jiae terkejut dan cepat-cepat menggeleng. “Ani… Saehyunnie, aku hanya—“

“Jangan dengarkan kata-katanya… dia hanya cemburu padamu Eonnie.”

“Ce-cemburu?”

————————————————-

“Haerin-ssi, bisakah besok kau datang ke Hangang Park? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Tapi…” 

“Kau membenciku?”

“Tidak… tentu tidak.” 

“Lalu… kenapa menolak?”

“Bukan apa-apa. Hanya saja…”

“Kau tak menyukaiku?” 

“Tidak. Itu tidak mungkin.”

“Kalau begitu. Sampai jumpa Minggu besok di Hangang jam 4 sore.”

Hanya dengan mengingat pembicaraannya dengan Siwon tadi, jantung Haerin mendadak berdegup begitu cepat. Gadis itu tanpa sadar sudah meremas kuat rok sekolahnya untuk menghilangkan kegugupan yang melandanya.

Jam pelajaran terakhir baru saja usai. Haerin bahkan sama sekali tak bisa fokus mengikuti pelajaran apapun sejak setelah istirahat tadi. Pikirannya melayang-layang pada janji temunya esok hari dengan Siwon. Ia yang tak pernah berkencan dengan lelaki mana pun sebelumnya, tentu saja merasa gugup walau Siwon tak pernah menyatakan itu adalah acara berkencan.

Takut-takut, Haerin menatap punggung lebar Siwon yang duduk di bangku di depannya. Gadis itu cepat-cepat mengalihkan tatapannya ketika tiba-tiba Siwon menoleh ke belakang. Lelaki tampan itu tersenyum lebar mendapati wajah malu-malu Haerin.

“Nona Haerin… jangan lupa. Besok jam 4 sore,” katanya sebelum melangkah keluar kelas.

—————————————————

Donghae menggerakkan kakinya ke sana ke mari. Sesekali tatapannya menyapu halaman depan sekolah. Mencari seseorang yang telah berjanji padanya pagi tadi. Ia sengaja meminta Jihyeon pulang lebih dulu karena janji yang ia buat ini. Tapi hingga kini, gadis yang ditunggunya tak muncul juga.

“Hee… sebenarnya kau jadi datang atau tidak?” keluhnya pada diri sendiri sembari melirik arloji hitam yang melingkar di lengannya.

Tak berapa lama setelah itu, sosok Eunhee muncul di ujung lorong dengan langkah terburu-buru. Donghae tersenyum lebar menyambut gadis bermata indah itu.

“Maaf, lama menunggu?”

Donghae menggeleng. “Tidak. Hanya tiga puluh menit kurang sedikit.”

Eunhee terkekeh. “Maaf. Aku harus mencari alasan untuk menghindar dari teman-temanku.”

“Sudah kubilang tidak apa-apa,” sambut Donghae. “Ayo! Nanti kita kehabisan Jjajangmyun-nya.”

Tanpa menjawab, Eunhee mengikuti langkah Donghae ke sebuah warung Jjajangmyun di hadapan sekolahnya. Warung itu tampak ramai. Bersyukur, mereka masih menemukan meja kosong untuk ditempati. Walau meja itu sama sekali tak strategis.

“Pesanlah… aku yang traktir!”

Eunhee mendengus. “Kau pikir untuk apa aku di sini bila bukan karena kau yang traktir?”

Donghae terkekeh pelan. Ia bergumam lagi setelah memesan dua mangkuk Jjajangmyun dan dua milk shake pada pelayan. “Beginikah tingkah puteri kesayangan atasanku? Memeras pegawai Ayahnya sendiri?” gurau Donghae.

Seringai lebar saat itu juga menghiasi wajah Eunhee. “Asal kau tahu, Appaku memang punya banyak uang. Tapi aku tidak. Aku belum menghasilkan apapun. Berbeda denganmu yang sudah bisa mencari uang sendiri. Jadi kurasa… itu sah-sah saja.”

“Hmm… masuk akal juga!” setuju Donghae dengan cengiran lebar.

Pembicaraan mereka berhenti sejenak ketika seorang pelayan mengantarkan pesanan di meja. “Tadi kau bilang ingin bicara denganku… apa yang ingin kau katakan?” mulai Eunhee setelah menelan habis suapan pertamanya.

Donghae tergelak ketika mendapati noda hitam di sudut bibir Eunhee. Lelaki itu lantas mengangsurkan lap putih yang disiapkan pelayan pada gadis itu. “Bersihkan dulu,” katanya geli sembari menunjuk ujung bibirnya sendiri.

Sadar, dirinya tampak lucu di hadapan Donghae. Cepat-cepat ia meraih kain yang disodorkan Donghae tadi, dan membersihkan noda itu secepatnya.

“Jangan menatapku begitu,” sergah Eunhee yang kini kembali fokus menghabiskan mie dalam mangkuknya.

Donghae terkekeh pelan, lalu menyuap Jjajangmyun ke dalam mulutnya. Setelah Mie dengan saus kedelai hitam di dalam mulutnya habis tertelan, ia baru melanjutkan bicara. “Aku butuh bantuanmu, Hee.”

Seketika Eunhee menghentikan makannya. Gadis itu mengernyit sekilas lalu bergumam. “Bantuanku?” Donghae mengangguk dengan mulut penuh makanan. “Apa?” tanyanya ketika Donghae belum menjelaskan.

Setelah meneguk Milk Shake pesanannya, Donghae menjawab. “Ini tentang adikku.”

“Jihyeon?”

Sekali lagi Donghae mengangguk. “Ya, Jihyeon.”

“Ada apa dengannya?”

“Tidak terjadi apa-apa,” jawab Donghae buru-buru saat menangkap ekspresi khawatir Eunhee. Walau ekspresi itu tak tampak begitu jelas di wajah Eunhee yang terkenal cukup datar.

“Lalu?”

“Besok dia akan berulang tahun yang ke 17.”

“Bukankah kau bilang, bahwa kalian dari panti—“

“Ah, itu,” sela Donghae sembari tersenyum. “Yeah, memang bukan ulang tahun sungguhan,” akunya. “Tapi layaknya anak-anak lainnya, kami penghuni panti asuhan juga memiliki hari ulang tahun yang diambil dari tanggal kita masuk di tempat itu.”

Eunhee mengangguk sembari membulatkan bibirnya tanda mengerti. “Jadi…?”

“Jadi aku ingin meminta pendapatmu—sebagai seorang gadis—tentang kado apa yang bisa kuberikan padanya.”

Eunhee menyuap Jjajangmyun terakhirnya dan mengunyahnya hingga habis, lalu menyeruput sedikit Milk Shake dengan tenang. “Dengan kata lain… kau memintaku menemanimu memilihkan hadiah untuk ulang tahun adikmu?”

Donghae tersenyum lebar. “Binggo!”

Gadis itu bersandar pada punggung kursi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Apakah ini salah satu caramu untuk mengajak putri atasanmu berkencan?”

Eunhee mengumpat dalam hati karena alih-alih mendapati ekspresi panik Donghae, lelaki itu justru menyeringai lebar mendengar pertanyaannya tadi. “Yeah, kalau kau menganggapnya begitu.”

Sial!

——————————————————-

Saehyun menggeliat lelah. Terlalu lama menunduk mengerjakan soal matematika dan Fisika membuat leher dan punggungnya kaku. Kini ia sedang berada di ruang sience. Belajar untuk mempersiapkan olympiade sience yang akan diikutinya bersama Kibum bulan depan.

Pada jam pulang sekolah begini, suasana ruang sience benar-benar sepi, walau pada jam-jam lainnya juga tak pernah seramai ruang musik dan sastra. Wajar karena melihat potensi yang akan ditimbulkan bila menyangkut dengan pelajaran yang satu ini. Hanya siswa-siswa yang benar-benar berminat dan pandailah yang rela menghabiskan waktunya di tempat itu.

“Saehyunnie, aku pulang dulu!” Gadis itu mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Lee Shinyoung—salah seorang temannya—berpamitan padanya.

“Ne,” balasnya singkat setelah beranjak dari tempatnya duduk.

Saehyun melirik jam yang tergantung di sisi kiri ruangan. Jam 4 sore. Dan itu artinya sudah terlalu lama ia menghabiskan waktu hanya untuk belajar. Ibunya pasti akan khawatir bila dirinya tak segera pulang.

Berniat pulang, Saehyun mulai membereskan buku-bukunya ketika pandangannya secara tak sengaja tertumbuk pada sosok Kibum yang kini tengah terlelap di sofa hitam yang terletak di sudut ruangan dengan kaca mata yang masih menempel dan buku kalkulus dalam dekapannya.

Saehyun sama sekali tak sadar kapan ia menyebrangi ruangan hingga kini ia sudah berjongkok di sisi sofa. Mengamati dengan seksama profil wajah Kibum yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Sekali lagi tanpa sadar, tangannya sudah terulur dan dengan perlahan melepaskan kacamata yang dipakai Kibum dan meletakkannya di meja. Begitu pula dengan buku kalkulus tebal dalam dekapannya.

Untuk sesaat, Saehyun terpana menatap wajah tampan itu. Kibum memang tampan. Alis tebalnya, hidung mancungnya, hingga bibirnya yang seksi merupakan perpaduan yang begitu mempesona. Apalagi bila bibir itu tersenyum. Ya, sungguh senyuman yang begitu mematikan. Saehyun tak pernah bisa menahan dirinya bila pria itu tersenyum. Manis. Seperti ada genderang besar di jantungnya yang ditabuh dengan begitu keras.

Entah atas dorongan dari mana, gadis itu kini mendekatkan wajahnya pada wajah Kibum. Perlahan… sesenti demi sesenti… semakin dekat… dekat… dan…

“Apa yang kau lakukan?”

Saehyun terlonjak kaget. Dengan cepat ia berdiri dan memalingkan wajahnya yang memerah. Dalam hati menyumpahi setiap benda yang dilihatnya. “Aku… aku… bukannya ingin menciummu,” ungkapnya ketika didengarnya Kibum tak berkata apa-apa lagi. “Di wajahmu… di wajahmu…” Gadis itu menahan nafas ketika tiba-tiba Kibum sudah berdiri di depannya.

Ekspresi wajah pria itu sama sekali tak terbaca. Sama misteriusnya dengan kepribadiannya. Saehyun menelan ludah dengan susah payah, ketika lelaki di depannya tak juga berkata apa-apa. Malah semakin mempersempit jarak di antara mereka. “Di wajahmu… ada… ada…”

“Kapan aku bilang kau ingin menciumku?”

“Eh?” Saehyun melongo.

“Aku hanya bertanya apa yang kau lakukan?”

Sial. Saehyun merasa pikirannya kalang-kabut. Pandangannya terus dilarikan kemana-mana tanpa mau menatap bola matam sekelam malam milik Kibum. “Itu… itu… aku…”

“Jadi kau memang ingin menciumku?”

“Apa?”

-Handel & Grѐtel-

Beberapa pengunjung tampak sibuk berbincang dan menikmati pesanannya. Begitu pula dengan Jiae, Haerin dan Yeonrin. Ketiga gadis cantik itu sedang menikmati suasana sore bersama-sama. Hal yang selalu dilakukan kelompoknya setiap seminggu sekali.

“Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan Eunhee?” mulai Haerin.

“Sepertinya bukan aku saja yang merasa begitu,” sambut Yeonrin setuju. “Aku kesal karena dia selalu menolak pulang bersama akhir-akhir ini, yang menyebabkan aku harus pulang bersama lelaki norak itu.”

“Hyukjae?” Yeonrin tidak menjawab dan hanya menyeruput espresso pesanannya. “Tapi kurasa kau cocok juga dengannya.”

“Apa?” Yeonrin melotot, membuat Haerin terkekeh geli. Tapi kekehannya terhenti ketika menatap wajah sendu Jiae. Gadis itu terlihat tak bersemangat dan hanya memakan pesanannya tanpa suara.

Haerin menyikut pinggang Yeonrin yang hingga kini masih menggerutu karena Eunhee tak ikut berkumpul bersama mereka hari ini. Dengan alasan yang terlihat mengada-ada.

“Pasti ada sesuatu yang disem—eh, apa?” tanya gadis itu ketika merasakan sikutan lengan Haerin di pinggangnya.

Haerin menunjuk Jiae dengan isyarat gerakan kepalanya. Dan saat itu juga Yeonrin mengerti apa yang dimaksud gadis itu.

“Ji, kau kenapa?”

“Eoh?” Jiae tersentak. Baru menyadari bahwa ia telah terpaku cukup lama. “Tidak, tidak ada apa-apa,” balas Jiae sembari tersenyum.

Kedua sahabatnya tak lantas percaya dengan jawaban Jiae. Hingga gadis itu terpaksa menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya.

“Katakan padaku ada apa Ji?” Haerin menyentuh lengan Jiae menenangkan ketika melihat bahu gadis itu bergetar.

“Apakah ada yang menyakitimu, huh? Katakan padaku siapa? Atau aku akan…” Yeonrin menghentikan omelannya ketika merasakan sikutan lengan Haerin.

“Tidak apa-apa. Mood-ku hanya sedang sangat buruk akhir-akhir ini,” ungkap Jiae sembari menyeka air matanya.

“Apakah ini ada hubungannya dengan perselingkuhan Ibumu—“

“Ssshht… bisakah kau tak mengungkit masalah itu lagi?” potong Haerin mengingatkan.

Melihat tingkah sahabatnya, Jiae berusaha tersenyum walau pada kenyataannya hatinya sakit. Bukan kesalahannya, kan kalau sang Ibu berbuat semacam itu? Yang ia tahu, semenjak Ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu, Ibunya memang tak pernah dekat dengan lelaki mana pun kecuali Ayah Kyuhyun yang memang tetangga dekat mereka.

Bila ditanya, Jiae juga sama kaget dan marahnya dengan yang lain saat mengetahui berita perselingkuhan Ibunya dengan Ayah Kyuhyun beberapa tahun yang lalu. Hingga dirinya tak berani mengungkapkan isi hatinya pada Kyuhyun yang saat itu belum tahu apa-apa dan memilih mencurahkan isi hatinya pada Shim Changmin. Kakak kelas yang ia tahu sangat menyayanginya.

Tak tega melihat kedua temannya diliputi rasa bingung, Jiae akhirnya membuka suara. “Ya, ini memang ada hubungannya dengan hal itu.”

-Myeong-dong-

Sibuk. Itulah yang terlihat di setiap sudut distrik yang menjadi tempat favorit wisatawan asing maupun lokal yang berkunjung ke negara gingseng ini. Distrik Myeong-dong yang menawarkan beraneka ragam kebutuhan dengan toko-toko yang tersebar, menjadi surga dunia bagi penggemar shopping yang utamanya para wanita.

Sebenarnya Eunhee bukan salah satu gadis yang suka berlama-lama di tempat semacam Myeong-dong, karena gadis itu tak terlalu suka keramaian. Bila ingin berbelanja, ia akan menghemat waktu dengan memilih sesuai yang dibutuhkannya dan menghindari terlalu berlarut-larut dengan diskon-diskon yang ditawarkan.

Tapi entah kenapa, kali ini gadis itu tak terlalu kesal harus berlama-lama di sana. Kemungkinan besar karena kehadiran pria tampan di sisinya. Setelah sebelumnya mampir ke rumah Donghae agar lelaki itu bisa berganti pakaian, mereka berdua kini sampai di distrik Myeong-dong. Tempat kebanyakan wanita menyalurkan hobby-nya berbelanja.

“Hee, aku masih bingung akan membelikan apa untuk Jihyeon. Kau punya ide?” Donghae yang sejak tadi tampak sibuk melihat-lihat pakaian yang ditawarkan salah satu butik, bertanya pada gadis itu.

Eunhee meletakkan satu tangannya di dagu. Berfikir. “Apa kau tahu kegemaran gadis itu?”

“Hmm… Jihyeon. Dia suka sekali dengan kucing, mendengarkan musik dan menyanyi.”

Eunhee menyeringai ketika sebuah ide melintas di kepalanya. “Kajja!” cetusnya sembari menarik lengan Donghae agar mengikutinya.

Donghae melongo ketika menyadari ke mana Eunhee membawanya pergi. Pet Shop. “Yak! Jadi maksudmu… aku harus membelikannya hewan peliharaan?”

Sembari terkekeh, Eunhee tak mengindahkan protesan Donghae dan menghampiri seekor kucing putih lucu yang berada di salah satu kandang. “Lihat! Dia lucu bukan? Aku yakin Jihyeon akan sangat menyukainya.”

Donghae memandang gadis itu takjub. Tak pernah sekalipun ia melihat gadis yang terkenal berwajah datar itu, tertawa dengan sangat lebar. Terlihat sekali ekspresi sayang di wajahnya ketika seorang pelayan memperbolehkannya menggendong kucing putih tadi.

“Kau juga suka kucing?” Donghae mengutarakan keheranannya.

Gadis itu tanpa ragu mengangguk sembari terus membelai bulu lembut kucing persia cantik itu. “Sangat!” katanya pelan.

“Apa kau juga memelihara kucing di rumahmu?”

“Kau ini sedang menginterogasiku atau bagaimana?” keluh Eunhee dan saat itu juga Donghae berhenti bertanya.

“Baiklah… baiklah! Aku setuju membelikan kucing ini untuk Jihyeon.”

Jeongmal?” Kali ini Donghae lebih kaget lagi. Karena tingkah gadis itu jelas tampak lebih bahagia dari pada ekspresi yang mungkin ditunjukkan Jihyeon. Melihat ekspresi heran Donghae, Eunhee buru-buru berdeham dan menambahkan. “Ah, maksudku… Jihyeon pasti akan sangat senang.”

Donghae tersenyum. “Kau punya ide memberinya nama siapa?” tanyanya sambil ikut-ikutan mengelus bulu lembut kucing itu.

Eunhee mengernyit. “Kenapa harus aku?”

“Karena kau yang memberiku ide membeli kucing ini bukan?”

“Hmm… baiklah!” Eunhee menyeringai lebar. “Bagaimana kalau kita memberinya nama Hae-hae saja.”

“Mwo?”

Mengabaikan protesan Donghae Eunhee justru terus menggodanya. “Annyeong Hae-hae! Kau lucu sekali! Kau pasti suka nama yang kuberikan. Iya kan?”

Donghae mendengus namun tak pelak tersenyum juga. Satu lagi sisi lain dari gadis itu yang baru diketahuinya hari ini. Benar-benar berbeda dengan gadis ‘menakutkan’ yang hari itu ditemuinya di kelas. “Kalau kau ingin menemuinya,” katanya sembari mengelus bulu kucing yang masih tampak nyaman dalam gendongan Eunhee itu. “Kau boleh sering-sering datang ke rumahku.”

“Apa?”

Tak jauh dari mereka berdiri, seorang lelaki memakai topi baseball dan T-shirt hitam tampak memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Sejurus kemudian lelaki itu tampak sibuk menelepon seseorang di seberang sana ketika Eunhee dan Donghae keluar dari Pet Shop tersebut.

———————————————-

Yeonrin baru saja turun dari bus yang mengantarnya setelah berjalan-jalan dengan kedua sahabatnya. Gadis itu masih kesal dengan Eunhee, karena kalau Eunhee tak absent hari ini, ia tak akan repot-repot naik bus menuju rumahnya.

Yeonrin mempercepat langkahnya karena hari sudah malam dan blok di sekitar rumahnya juga sepi.  Ia sama sekali tak menyadari keberadaan lelaki muda di atas motor sport kuning di depan rumahnya. Karena terlalu lama menunggu, lelaki muda itu tampak tertidur di atas motornya.

Dengkuran pria itu membuat Yeonrin terkesiap. Takut-takut, gadis itu mendekat dan terbelalak kaget ketika mengenali siapa lelaki itu.

“HYUKJAE?!”

“Aaaaa!!! Maafkan aku, tuan putri ya tuan putri pangeran bermotor kuningmu sudah datang!” latah Hyukjae yang saat itu juga melompat dari motornya. Nyaris terjatuh jika saja keseimbangan dirinya buruk.

Yeonrin yang pada awalnya ingin memarahi lelaki itu, justru terpingkal-pingkal mendapati ekspresi lucu Hyukjae.

Malu-malu, Hyukjae menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Kau cantik kalau tertawa lebar begitu Yeon.”

Yeonrin cepat-cepat menghentikan tawanya. Walau sebenarnya perutnya masih tergelitik melihat ekspresi aneh Hyukjae sehabis bangun tidur. Lelaki itu benar-benar tampak seperti orang dungu.

“Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?”

Hyukjae tersenyum lebar memamerkan deretan gusinya. “Hanya ingin memastikan kau pulang dengan selamat sampai di rumah.”

Relung hati Yeonrin menghangat. Tapi gadis itu tak ingin mengakuinya. Perhatian kecil yang diberikan Hyukjae, tentu saja membuatnya tersanjung. “Tsk, kau bisa masuk angin kalau tidur di luar begini.”

Seketika mata Hyukjae berbinar-binar senang. “Jadi… kau mengkhawatirkanku Yeon? Aku tahu… Yeonnie-ku memang gadis yang manis.”

“Apa? Yeonnie-ku?”

Hyukjae menyeringai lebar. “Ya, Yeonnie-ku. Bagus bukan?”

“PERGI KAU LEE HYUKJAE!!!”

Hyukjae terkekeh pelan, mengabaikan kemarahan Yeonrin. “Sampai jumpa besok Yeonnie-ku sayang!”

“YAKKKH!!!”

 

TBC

20 thoughts on “Memories of Youth (SM High School) -Book Five-

  1. wow wow wow…. akhirnya muncul jg nih FF..

    udh mulai terkuak mslh yg sbnrnya antara Kyu-Jiae… saehyun jg terseret sih,, karena ini mslh keluarga..

    cie cie haerin diajak kencan… pasti dag dig dug nih, nungguin hari esok…

    Yang makan jjajjangmyun,, asyik nih kyknya.. pergi cari kado lagi..
    pasti puss-nya lucu deh.. hae hae,,,

    Apa? nekat jg sih saehyun.. dikit lagi tuh.. nanggung banget.. dikit lagi kena dah.. pake bangun jg tuh Kibum.. gk seru… *maunya*

    Hyuk sprti biasa, pantang menyerah… terus mengejar yeonrin tanpa lelah…

  2. huhuhu….mianhae eon lo q bcanya yg dsni,hehe lbih sk bca dblog,lbih brwrna…hehe

    crta dbka dg kisah sdihnya kyu-jiae,,trnyta gtu ya crta awl mrka musuhan…mnykitkan bngt eon,bnr2 g kpikiran -_-
    tp q hrap sih smuanya bs cpet mmbaik dan kyu akn mnysal atas sikapny yg sllu mnyudutkan jiae,,kshn bngt jiae….TT

    klo siwon-hyukjae-kibum sih lgi lncar2 nya,g da mslh…:p

    dan trkhir yg pling dtnggu2 akhrya kluar jg,,,^^
    kluar prsaan antra hee ma hae,,hahaha jinjja johae😀
    g sbar pngin bca lnjtn ksh mrka eon,tp kykny da firasat bruk neh soal laki2 brtopi baseball…>,<
    q tnggu ja dh eon lnjtnya mg g ma2 dh,hehehe FIGHTING!!!!

  3. Eonnie~

    JiKyu
    xixixixixi, omo ternyata dan ternyata omma jiae selingkuh ma young hwan appa, huhuhuhu ommma knp kau seperti itu,..
    tapi Ya! cho kyuhyun melampiaskan kecemburuan kyk gtu, sakit tahu..#gtok kyu

    EunHae
    huaaaa, ada yg kencan terselubung ne pergi brg hee buat nyari hadiah,..
    dan kau beruntung hae krn bsa lyt karakter lain dri hee disna,..
    dan itu spa yg ngikutin mereka,..#mincingin mata

    YeonRin
    bener” pasangan yg lucu, asli lo bca mrk mau ketawa trs,..
    hyuk kau harus lebih berusaha keras dan minho xixixixi sabar…

    KiHyun
    persaingan di antara si jenius,..
    jiah, yg ketahuan mau ‘cium?’ bumie,..buhahahahaha

    WonRin
    hua, sejak kapan nih wonnie ngajak haerin pergi brg,..
    ngpain tuh?

    huft, dh lengkap sip”..

  4. udah lama2 nungguinnya, pas publish g dksh tau.. -__-
    next partnya jgn lupa ye..😀

    dua kata dulu deh “Kuranggggggggggggggggggggggg puanjangggggggggggg……………” hihihi

    jikyu-nya banyakinlah, kpn baikannya mereka kl scenenya dkit gtu..

    kihyun juga, lucu bgt si bisu sma si cerewet.. gemesss sendiri bacanya!

    semua couple deh banyakin… kl eunhae g usah dikomen deh udah jauhhhhhh mereka. yg laen msh ketinggalan tuh.

    ntr dlu deh knpa baca part ini berasa cuma baca teaser ff doank ya..?? nanggung bgt disetiap couple. wkwkwkw *piss

  5. kyaaaa,,,,kenapa harus ada tbc sih?????
    kurang panjang saeeeenggg?????*pla*hehe

    ok,,,masuk ke komen,,,,

    jikyu
    hiksss,,,,ni couple kapan baikannya sih????
    ternyata kisah masa lalu mereka menyedihkan,,,,kyu cemburu ampe segitunya,jadi jahat ma jiae😦

    wonrin
    cie,,,cie,,,,yang mau kencan pasti seneng bgt,,,,

    hyukrin
    ni couple emang ahlinya bikin ngakak ya🙂
    si hyuk pake acara latah”an segala lagi,lol

    saebum
    eehhmmm,,,,jenius vs jenius,,,
    apa yg bakal terjadi selanjutnya???penasaran???

    eunhae
    yg paling fenomenal,,,,*apadahbahasanya*kkkkk
    kencan yg manis,dengan alasan mencari kado,fufufu
    tapi,,,,tapi,,,siapa tuh yg ngawasin mereka???
    jgn” anak buahnya appa’y hee,trus nanti g setuju hee pacaran ma hae,,,,haisss*soktaubgt*bwuahahaha

    ayo saeng lanjutkan,,,oen tunggu yah*kedipkedip*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s