HOT SCANDAL -Page 2- [EunHae]

-Page 2-

 

 

 

 

-Donghae’s House, Seongdonggu, Seoul-

Malam sudah larut. Selain karena keperluan syuting dramanya, Donghae tak pernah pulang selarut ini sebelumnya. Lelaki itu lantas merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya kacau. Sekacau ekspresi wajahnya saat ini. Tanpa sadar, tangan Donghae menyentuh permukaan bibirnya. Ada yang aneh dengannya. Ya, ia masih bisa merasakan ciuman itu di bibirnya.

Donghae mengerang. Menggulingkan tubuhnya ke sisi ranjang yang lain. Ia harus melupakan kejadian ini. Bukankah gadis itu menciumnya dalam keadaan tidak sadar? Sudah barang tentu, esok harinya gadis itu takkan pernah menyadari perbuatannya. Dan kenyataan itu membuat Donghae geram.

Sudah cukup lama semenjak terakhir kali ia berciuman. Kekasihnya—Han Seungmi—dua tahun yang lalu meninggal karena penyakit gagal jantung kronis yang dideritanya sejak kecil. Ciumannya dengan Seungmi, bahkan tak semenggairahkan ciuman Eunhee tadi. Hanya ciuman singkat dan penuh kasih sayang.

Kesal, karena bayangan itu tak mau hilang dari otaknya, Donghae beranjak duduk. Lelaki tampan itu mengacak rambut coklat gelapnya frustasi. Tanpa sadar, pandangannya tertumbuk pada cermin besar yang tergantung di sisi kiri dinding.

“Aiishh… sial!” makinya pelan mendapati memar keunguan di sudut bibirnya. Ia yakin itu pasti karena perbuatan Kim Youngwoon tadi. Bagaimana pun ia tak bisa marah pada lelaki bertubuh bongsor itu. Karena memang sudah tugas Youngwoon untuk melindungi Eunhee, sebagai manajernya. Apalagi lelaki itu berhasil merebut kamera papparazi yang merekam adegan ciuman panasnya dengan Eunhee.

Tanpa bisa dicegah, kenangan di dalam mobil terputar lagi dalam benak Donghae. Saat ia tengah menunggu Youngwoon yang pergi mengejar papparazi pemberani itu.

—————————————

“Euunghh… uhuk… uhuk…” Eunhee terbatuk. Donghae hanya melirik gadis yang kini berada di samping kursi pengemudi itu, tanpa sedikit pun berniat membantunya. Tangan lelaki itu refleks menutupi hidungnya ketika merasakan aroma alkohol menguar kemana-mana.

Ia masih syok. Kejadian tadi benar-benar di luar dugaannya. Dan ia sangat berharap, Kim Youngwoon kembali membawa kabar baik untuknya dan gadis itu. Karena kalau tidak, kejadian malam ini akan berbuntut panjang.

Donghae memijat pelipisnya dengan ujung jari. Tegang, tentu saja. Reputasinya yang dikenal baik, akan hancur bila berita itu sampai tersebar. Dan tentu saja, Park Jungsoo dan juga Kim Youngmin akan memarahinya habis-habisan.

“Choi Siwon Sialan!” Donghae sontak menoleh ketika mendengar gadis itu meracau lagi. “Aku tak akan memaafkanmu!” tambah Eunhee dengan kedua mata yang masih terpejam. Sama sekali tak menyadari kehadiran Donghae di sisinya.

Donghae menggelengkan kepalanya pelan, dan memutuskan untuk melepas jaket coklatnya untuk menutupi tubuh Eunhee yang hanya terbalut gaun merah bermodel halter neck yang memamerkan bahu dan punggung mulusnya.

“Sayang sekali, gadis secantik dirimu… harusnya tak melakukan hal semacam ini,” bisik Donghae lirih sembari mendecak heran.

“Hikss…” Donghae terhenyak. Dan buru-buru menjauhkan tubuhnya. Gadis itu menangis. Setetes air mata mengalir dari matanya yang setengah terpejam. “Eottokkhae? Haruskah aku menjalani semuanya sendirian?” racaunya yang sama sekali tak dimengerti Donghae. “Kau tega, Choi Siwon!” tambah gadis itu lagi.

Donghae sangat yakin, itu adalah kata hati Eunhee. Karena dari informasi yang didapatnya, orang yang mabuk akan menyuarakan segala isi hati yang selama ini terpendam begitu dalam. Tapi kenapa? Kenapa gadis itu menangis? Apakah masalahnya dengan aktor dan model tampan Choi Siwon begitu berat? Donghae tak tahu itu. Yang ia tahu, kini tangannya refleks terulur dan menyeka titik bening itu di wajah Eunhee.

“Hey… jangan menangis!”

Gadis itu tersentak dan sontak membuka matanya lebar-lebar. “N-neo… nu-nuguya?”

“Bukan siapa-siapa,” sergah Donghae cepat sembari menyingkirkan telunjuk gadis itu yang diarahkan padanya. “Aku hanya ingin menolongmu Nona.”

Tanpa diduga, gadis itu tertawa terbahak-bahak. Mengejek lebih tepatnya. “Menolongku? Kau pikir, kau siapa? Apa yang bisa kau lakukan? Memberikan segalanya untukku. Hah… dasar bodoh!”

Donghae diam. Tak ada gunanya mendebat orang mabuk. Ia hanya heran, bahwa gadis di depannya menyimpan masalah yang begitu besar di dalam dirinya. Bila saja ia tahu, ia akan membantu sebisa mungkin.

—————————————————-

“Lee Eunhee… sebenarnya apa masalah yang kau simpan?” gumam Donghae yang kini berdiri di depan cermin. Tanpa sadar, bibir tipisnya melekuk membentuk senyuman ketika menatap sebuah tanda tangan yang dibubuhkan Eunhee di T-shirt yang dipakainya kini. Tanda tangan yang dengan seenaknya, diberikan gadis itu. “Bila Soonhae tahu, ia pasti akan memohon-mohon untuk memberikan T-shirt ini padanya.”

– Banpo Remian Apartment, Gangnam-gu-

“Mondar-mandir saja tak akan menyelesaikan masalah, Hee.”

“Diam kau, Racoon!” perintah Eunhee yang hingga kini masih berjalan ke sana ke mari untuk berfikir. Seharusnya malam itu ia tak memaksa berkunjung ke Helios Night Club. Hingga kejadian mengerikan ini tak akan pernah terjadi. Tapi mengingat acara makan malamnya bersama Siwon, perasaannya kembali kacau. “Ini semua karenamu Tuan Choi!” umpat Eunhee frustasi.

“Tak ada gunanya menyalahkan orang lain. Aku yakin, cepat atau lambat Tuan Song akan memanggil kita. Begitu juga dengan Choi Siwon-mu itu. Mustahil, bila mereka belum mendengar kabar ini.”

“Youngwoon, hentikan! Brengsek!” Eunhee meninju punggung sofa di sampingnya. Karena kecerobohannya sendiri, ia harus menerima dampak yang akan berakibat fatal pada imej sempurnanya selama ini. White Angels, sebutan untuk penggemarnya, pasti akan sangat kecewa bila mendengar artis idolanya ketahuan berselingkuh dengan lelaki lain. “Lee Donghae sialan! Harusnya ia tidak muncul dan ikut campur dalam hal ini.”

“Kau ja—“

“Nona, Nona… Ibu Anda menelepon.” Miyoung—asisten Eunhee—berlari cepat dan menyerahkan ponsel Samsung galaxy SIII itu ke tangan Eunhee.

Untuk sejenak, artis dan penyanyi muda itu hanya diam menatap ponsel Samsung keluaran terbarunya sembari menghela nafas kesal. “Aiishh… untuk apa nenek sihir itu menelponku?” gerutu Eunhee. “Sungguh sebuah peningkatan bahwa ia masih ingat pada putrinya.”

“Sebaiknya kau angkat saja, Hee. Mungkin, Ibumu sudah membaca tentang berita itu.”

Eunhee mendengus. Setengah Enggan, gadis itu menekan tombol hijau di touchscreen ponselnya. Selama ini hubungannya dengan sang Ibu yang berprofesi sebagai mantan model senior Korea yang kini membuka perusahaan tabloid Mode terkenal, memang tak begitu baik. Bahkan bisa dibilang sangat buruk. “Yeobo—“

“Cepat pulang! Ada yang Eomma ingin bicarakan denganmu!” potong Yoon Seungbin cepat, sebelum putrinya sempat melanjutkan kalimatnya.

“Tapi—“

Tut… tut… tut…

“Tsk, Benar kan? Nenek sihir itu berlaku seenaknya lagi. Kalau yang dikhawatirkannya adalah imej-nya sendiri, aku tak mau ambil pusing.”

“Hee—“

“Tak perlu menghiburku!” bentak Eunhee cepat, lalu meraih tas tangan dan juga ponselnya di meja. “Ayo! Sebelum nenek tua itu mencekikku.”

Eunhee, Youngwoon dan Miyoung baru saja masuk ke mobil Hyundai Genesis Coupe putih yang terparkir di Basement apartemen mewah itu, ketika ponsel Eunhee sekali lagi berdering. Gadis cantik itu terdiam sejenak menatap nama Choi Siwon yang tertera di layar ponselnya. Youngwoon mungkin benar, kekasihnya itu pasti sudah mendengar berita menghebohkan ini. Sial! Dan ia tak tahu harus bagaimana menghadapinya.

Dengan perasaan tak menentu, Eunhee menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel canggih itu ke telinganya. “Yeoboseyo?”

“Kau tidak apa-apa?”

Setidaknya, Eunhee merasa sedikit lega mendengar nada ramah dalam suara Siwon. Ia sadar, kekasihnya bukan lelaki bodoh yang akan percaya begitu saja pada gosip. “Emm… aku baik-baik saja.”

Hening. Baik Eunhee maupun Siwon tak ada yang memulai pembicaraan. Hingga suatu detik, Siwon memecah keheningan itu dengan berkata. “Aku yakin, berita itu tidak benar.” Eunhee masih diam. Mendadak, rasa bersalah menyeruak dalam dirinya. Jika saja ciuman semalam tak pernah terjadi, mungkin ia akan dengan percaya diri membantah semua berita itu. “Hee… tolong katakan padaku bahwa berita itu bohong, hmm? Kau tahu, aku hanya akan percaya pada ucapanmu.”

Eunhee menunduk. Tentu sangat jahat bila ia berbohong pada kekasihnya yang terlampau baik itu. Tapi ia memang tak mengkhianatinya. Kejadian itu tak disengaja sama sekali. Ya, saat itu ia sedang mabuk. Bahkan ia tak pernah ingat pernah mencium lelaki itu. Semua yang dilakukannya malam itu, di luar kontrol dirinya. Eunhee menggeleng dan mengangguk sendiri. Mencoba membenarkan apa yang dilakukannya malam itu.

“Hee… kenapa tidak menjawab?” Suara berat Siwon terdengar lagi, kali ini ada nada khawatir di dalamnya.

Eunhee menggeleng sekali lagi. Tidak. Ia tidak ingin membuat kekasihnya sedih. Kendati semalam ia cukup marah mendengar berita tentang rencana kepergian Siwon ke luar negeri. Tapi tak sepantasnya ia menghukum lelaki baik itu dengan cara begini. “Emm… ya, berita itu tidak benar!”

Terdengar helaan nafas lega Siwon. “Syukurlah! Aku hanya takut kau melakukan semua ini untuk menghukumku atas keterlambatanku semalam.”

Eunhee tersenyum tipis. “Ani, hal seperti ini bukan bercandaan yang patut dilakukan.”

“Hmm… kalau begitu. Sampai jumpa nanti. Selamat bekerja, sayang! Saranghae…”

“Na ddo!” balas Eunhee. Walau benci mengakuinya, gadis itu tetap melanjutkan dalam hati, Maafkan aku, Oppa!

-MBC Building-

Jungsoo menghentikan mobilnya tepat di seberang jalan gedung MBC—tempat pemotretan drama Saeguk The Palace akan dilaksanakan—saat melihat banyaknya wartawan yang mengerubungi bagian depan lobby. “Lihat! Kau benar-benar membuat masalah, Hae!” keluh Jungsoo sembari menggelengkan kepalanya gusar.

Donghae menghela nafas. Pagi-pagi sekali ia sudah dikejutkan dengan berita yang beredar di media. Belum lagi manajer-nya yang sejak perjalanan ke gedung MBC mengomel terus tanpa henti. Lelaki itu jelas kesal. Bahkan sangat ingin berteriak jika bisa.

“Hyeong, bisakah kau berhenti menyalahkanku? Sudah kubilang, kejadian itu benar-benar tak disengaja. Siapa yang sangka kalau Hee datang ke bar yang sama dengan si ‘setan’ itu?”

“Kau yakin, bukan karena kau yang membuntutinya?”

“Tsk, harus berapa kali kubilang Hyeong… aku tak tertarik padanya,” bantah Donghae yang mulai kesal. Pikirannya sudah sangat kacau. Tak perlu ditambah lagi dengan hal tak penting mengenai kepercayaan sang manajer padanya.

“Yang penting, aku sudah mengingatkanmu Hae. Gadis itu berpotensi menimbulkan masalah, jangan sekali-sekali kau mendekatinya.” Jungsoo memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan meminta Donghae segera keluar. “Cepat keluar! Bersikaplah seperti biasa di depan para pencari berita itu. Ingat, jangan memberikan komentar apapun sebelum kita membicarakannya langsung dengan pihak Hee.” Donghae mengangguk pasrah. “Ah, jangan lupa pakai maskermu! Tsk, apa bagusnya gadis angkuh itu, hingga kau merelakan wajah tampanmu memar begitu. Sudah kubilang bukan, bagi seorang aktor sepertimu, wajah itu adalah sebuah investasi.”

“Hyeong!”

“Lihatlah! Kau mulai membelanya lagi.”

Donghae tak menjawab dan hanya menggerutu tak jelas, lalu keluar dari mobil. Benar saja, baru beberapa langkah Donghae dan Jungsoo keluar dari Audi A5 putihnya, beberapa wartawan yang melihat kehadirannya langsung memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan mengenai kejadian semalam.

“Lee Donghae-ssi… bisakah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”

“Apakah benar kau dan Hee menjalin hubungan spesial?”

“Donghae-ssi, tolong berikan komentar anda sedikit saja tentang masalah ini!”

Donghae mengabaikan semua pertanyaan itu. Ia dan Jungsoo terus berjalan menerobos kerumunan wartawan yang semakin lama semakin ramai itu.

“Tolong, beri jalan! Donghae harus segera sampai di lokasi pemotretan!” Jungsoo memerintah ketika kerumunan pemburu berita itu semakin sulit dibendung.

Namun yang membuat kedua pria itu kesal, bukanlah kerumunan wartawan tadi. Tapi berita yang disampaikan pihak penyelenggara yang menyatakan bahwa pemotretan terpaksa ditunda karena beberapa cast—termasuk Eunhee sendiri—tak memungkinkan hadir hari ini. Benar-benar sangat mengesalkan.

“Oh, kurasa sebutan pembawa masalah memang cocok disematkan padanya,” gerutu Jungsoo yang merasa kecewa karena pihak penyelenggara tak menyampaikan hal ini lebih awal. Hingga ia tak perlu repot-repot menerobos kerumunan wartawan yang terus mendesak di luar sana.

“Sudahlah Hyeong, daripada kau marah-marah… lebih baik kita makan saja. Aku lapar! Pagi tadi tak sempat sarapan,” usul Donghae yang memutar arah ke cafetaria yang ada di gedung itu.

Jungsoo mengacak rambutnya frustasi. “Haashh… baiklah! Kajja!

-Gangnam-gu-

Hyundai Genesis Coupe putih itu berkelok memasuki sebuah pekarangan luas, setelah sebelumnya melewati gerbang besar berwarna hitam. Tak jauh dari sana, Rumah mewah bergaya eropa modern berdiri megah. Rumah yang didominasi warna broken white itu dibangun di atas tanah seluas 900 meter persegi. Sungguh sangat luas untuk ukuran sebuah rumah yang hanya dihuni beberapa orang saja.

Mobil itu berhenti tepat di sebuah jalan kecil yang bersebelahan dengan kolam air mancur berbentuk little angel yang terus memancarkan airnya. Kendati sudah lama tak menginjakkan kakinya di rumah ini, Eunhee sama sekali tak merasa rindu. Baginya, rumah megah bak istana ini sama sekali tak berarti bila tak ada cinta di dalamnya.

Ia tak memiliki kenangan indah di sini. Segalanya berlalu begitu datar, bahkan cenderung menyakitkan. Hingga begitu usianya beranjak dewasa, Eunhee memutuskan untuk angkat kaki dari rumah besar itu.

“Apakah aku perlu ikut?” Youngwoon yang mengemudi bertanya pada Eunhee.

“Pergilah! Bukankah kau harus membicarakan masalah ini dengan pihak manajemen. Aku akan menyelesaikan urusan pribadiku sendiri.”

Youngwoon mengangguk. “Hmm… baiklah kalau begitu. Semoga berhasil!”

Eunhee mencibir. “Sudah kubilang, kau tak perlu menghiburku.”

Setelah menutup pintu, mobil putih itu kembali melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan Eunhee yang kini berdiri diam di depan rumah. Sambil merapatkan mantel coklat susunya, gadis itu menarik nafas panjang, sebelum akhirnya melangkahkan kaki memasuki rumah yang juga pantas disebut istana itu.

“Oh, kupikir kau sudah lupa jalan pulang, anakku!” Suara lembut mengintimidasi, keluar dari mulut Yoon Seungbin—sang Ibu—tepat saat Eunhe tiba di ruang tengah berarsitektur unik itu. Wanita cantik itu kini duduk dengan menyilangkan kaki panjangnya di sofa merah kesayangannya.

Eunhee menarik salah satu sudut bibirnya. Ia sudah terbiasa dengan sikap angkuh Ibunya. Bahkan sejak kecil, ia tak pernah bisa dekat dengan wanita yang hingga kini masih cantik walau usianya sudah menginjak 40 tahunan itu. Ibunya terlalu sibuk berkarir. Tak pernah ada sedikit pun waktu tercurah untuknya. Walau ia adalah anak semata wayangnya.

Tanpa menjawab, Eunhee duduk di hadapan sang Ibu. Lalu menyilangkan kedua kakinya, persis seperti yang dilakukan wanita yang melahirkannya itu. “Aku datang ke mari bukan untuk mendengar sindiranmu,” tandas Eunhee sengit.

Seungbin tertawa angkuh. “Yeah, tentu saja. Karena mulai hari ini, kau akan tetap tinggal di sini.”

“Apa?”

“Kau tidak dengar?” Seungbin bangkit dan melipat tangannya di depan dada. Wanita itu menaikkan salah satu alisnya. “Kemasi barangmu! Dan kembalilah ke mari.”

“Shireo!” tolak Eunhee tegas. Gadis itu ikut beranjak dari duduknya. Jelas tak mau menuruti perintah sang Ibu.

“Jangan membantah perintah Ibumu, sayang!” Seungbin berjalan anggun mendekati putrinya yang berdiri tak bergerak di sisi sofa. Tatapannya mengintimidasi. Bila orang lain yang ditatap begitu, mungkin sudah mengkerut dan mundur teratur. Tapi tidak dengan Eunhee. Ia sama sekali tak gentar.

Gadis itu mendengus keras. “Sejak kapan kau menjadi Ibuku?”

“Kau?”

“Kenapa? Kau tak terima? Bukankah selama ini, kau memang tak pernah bersikap layaknya seorang Ibu? Kau hanya mengurusi pekerjaanmu saja… berkencan dengan teman-teman lela—”

“Diam kau Lee Eunhee!” teriak Seungbin berang. “Beginikah balasanmu pada Ibu yang telah melahirkanmu? Tak heran bila kau dituduh berselingkuh dengan lelaki itu.”

“Semua ini tak ada hubungannya dengannya!” bentak Eunhee gusar.

“Kau salah, sayang,” Seungbin tersenyum mengejek. Mendekatkan wajahnya yang semulus porselen ke wajah putrinya. “Kau pikir tujuanku memanggilmu ke mari untuk apa, huh? Kalau kau tak membuat masalah… untuk apa aku repot-repot bicara dengan gadis keras kepala sepertimu?”

“Kalau begitu lupakan!” Eunhee membentak. “Karena kau tak akan pernah mendapatkan keinginanmu.”

Eunhee baru akan melangkahkan kaki keluar dari rumah itu ketika mendengar Seungbin berteriak. “Lee Eunhee… berani kau keluar dari rumah ini! Kau akan tahu akibatnya.”

“Percuma kau menuduhku berselingkuh, bila pada kenyataannya kau melakukan hal yang sama.”

“Gadis sialan! Mau pergi ke mana kau?”

-Seongdong-gu, Seoul-

“Sebaiknya kau kompres lukamu dengan air hangat ini, Hae?” Kim Hyangsook—Ibu Donghae—membawa sebuah baskom berisi air hangat dan sebuah handuk kecil di tangannya. Wanita tua itu menggeleng pelan melihat bagaimana kusutnya wajah putranya saat ini. “Jangan lagi-lagi kau terlibat dengan masalah semacam ini, Hae… kau dengar pesan Eomma, kan?”

Donghae mengangguk dan tersenyum miris. “Ne, Mianhae Eomma… aku membuatmu khawatir.”

Hyangsook duduk di depan Donghae dan menempelkan handuk kecil yang sebelumnya sudah direndam air hangat itu di sudut bibir putranya. Walau sempat tak setuju putra sulungnya terjun ke dunia hiburan, Hyangsook mau tak mau harus merelakannya karena terbukti apa yang diusahakan Donghae selama ini banyak membantu kondisi keluarga mereka. “Aku percaya padamu, anakku. Jadi jangan pernah khianati kepercayaan Ibumu ini, sayang.”

“Arasso… aku hanya sedang sial Eomma,” balas Donghae menenangkan. Ia beruntung memiliki seorang Ibu yang begitu mengerti dirinya. Wanita tua yang ramah dengan segala kasih sayangnya, membuat Donghae rela melakukan apa saja demi membahagiakan keluarganya. “Lanjutkan saja berkebunnya, Eomma. Aku bisa mengompres lukaku sendiri.”

Hyangsook berdiri dan menepuk pundak putra kesayangannya itu pelan. Mengerti kalau putranya sedang menginginkan waktu untuk sendiri. “Baiklah kalau begitu,” katanya lalu pergi untuk membiarkan Donghae beristirahat seorang diri.

Tak berapa lama setelah kepergian Ibunya ke halaman depan. Donghae mendengar suara gaduh. Cepat, lelaki tampan itu berdiri. Menghampiri ambang pintu di mana sang Ibu berada.

“Sedang apa kalian di sini?” tanya Donghae heran, mendapati Kyuhyun dan Eunhyuk di halaman rumahnya.

Lelaki muda yang telah dikenalnya sejak masih duduk di bangku SMA itu melemparkan senyum penuh arti padanya. “Ada hal menarik yang ingin kudengar dari mulutmu sendiri.”

Donghae mengernyit heran. Dia hafal betul dengan perangai pria yang terpaut usia dua tahun di bawahnya itu. Melihat bagaimana ekspresi Kyuhyun dan Eunhyuk, Donghae yakin, masalah apa yang akan dibicarakan kedua orang itu dengannya. Mereka memang tak pernah mau ketinggalan berita baru. Dasar tukang gosip! “Oh, baiklah. Ke kamarku saja, kalian tidak ingin mengundang paparazi karena berdiri di depan pintu rumahku terus bukan?”

Setelah membawa kedua temannya ke kamar yang terletak di lantai dua, Donghae bertanya sekali lagi. “Apa yang kalian ingin dengar?” Sekedar untuk memastikan bahwa dugaannya benar.

Yang membuat Donghae kesal, temannya itu bukannya langsung menjawab. Kyuhyun justru seperti ingin mempermainkannya dengan menunjukkan senyum menggoda andalannya. “Apa itu benar… Lee Eunhee?”

Walau sudah tahu ke mana arah pembicaraan dua orang itu, Donghae tetap saja merasa gerah. Mendadak, pendingin ruangannya terasa tak berguna ketika kenangan tak diundang itu datang lagi. Bagaimana rasa ciuman itu. Saat bibir mungil Eunhee menyentuh bibirnya. Donghae buru-buru melangkah ke luar jendela, bermaksud menyembunyikan pipinya yang memerah. Lelaki itu berusaha terlihat tenang dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Dia memang menciumku.”

Eunhyuk yang semula asyik menyantap kue beras buatan Ibu Donghae tiba-tiba berteriak kaget. “Mwo? Jadi itu benar?”

“Kau menyukainya?” Kyuhyun terkekeh pelan.

Refleks, Donghae memutar tubuhnya menghadap kedua temannya. “Menyukainya?” ulang Donghae.

Donghae bisa melihat Kyuhyun menyeringai. “Hanya untuk memastikan,” sahut lelaki itu ringan. “Eunhyuk Hyeong, bagaimana menurutmu?”

“Kyuhyun benar, hanya perlu menjawabnya saja apa sesulit itu?” setuju Eunhyuk dengan mulut penuh makanan.

Donghae menghela nafas lelah. Menyukainya? Pertanyaan itu memang terdengar sederhana… tapi entah mengapa, sulit sekali baginya untuk menjawab. Ia memang menyatakan diri di depan Jungsoo bahwa dirinya tak tertarik pada Eunhee. Tapi entah kenapa, setiap kali teringat pada ciuman itu. Ada sesuatu di dalam dirinya yang tergerak untuk dapat merasakannya lagi. Lagi dan lagi. Ini gila bukan? Yeah, dan Donghae menyadari kegilaannya itu.

“Dia—“

“Oppa?!”

Donghae sontak menoleh mendengar suara nyaring adik kesayangannya, Lee Soonhae, yang tiba-tiba saja masuk dengan nafas terengah. Adiknya itu baru saja pulang dari sekolah. Ia bahkan belum sempat melepas seragam sekolahnya.

“Soonhae-a, Ada apa?” tanya Donghae bingung, mendapati ekspresi adiknya yang terlihat panik. Tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan Ibunya, bukan?

Donghae mau tak mau menerima ponsel yang diulurkan Soonhae padanya. “Apa Kyuhyun Oppa, benar—“ Gadis itu tak jadi melanjutkan pertanyaannya, ketika menyadari orang yang dibicarakannya kini berada di sana. Cho Kyuhyun. Idola yang sangat dicintainya itu berdiri dari sofa putih kesayangan sang kakak.

“Lama tidak berjumpa adik kecil,” sapa Kyuhyun ramah. Dengan gaya bak superstar yang sedang bertemu dengan penggemarnya, Kyuhyun melangkah mendekati dua bersaudara itu. “Ada apa?” tanyanya santai sama sekali mengabaikan ekspresi kaget Soonhae.

Donghae mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum mengejek setelah membaca berita yang ditunjukkan Soonhae tadi. Kini ia memiliki alasan untuk mengalihkan topik. “Lihat, siapa yang harus menjelaskan berita ini pada kami.”

Kyuhyun hanya menatap sebentar layar ponsel yang ditunjukkan Donghae dan memasang ekspresi aku-tahu-ini-akan-terjadi.

“Kekasih? Siapa gadis ini?” tambah Donghae sembari menyeringai. Membalas perbuatan Kyuhyun padanya tadi.

Eunhyuk yang sejak awal hanya mendengarkan pembicaraan mereka menggeleng-geleng heran dan memilih melanjutkan pesta kue berasnya seorang diri. “Kalian berdua sepertinya akan menduduki peringkat pertama pencarian berita di dunia maya.”

Tak ingin menyerah, Donghae memilih bertanya pada Eunhyuk. “Kau tahu siapa gadis ini, Hyuk-ah?” Namun lelaki yang biasa dipanggil ‘monyet’ itu hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.

“Dia hanya partnerku,” jawab Kyuhyun santai dan mengacak-acak rambut Soonhae gemas. “Lalu… bagaimana denganmu Hyeong?”

“Aiishh… berhentilah membahasnya!” sergah Donghae lalu duduk di sisi tempat tidurnya. “Sebaiknya nikmati saja masa-masa ‘terkenal’ kita, eh?” tambah Donghae sembari merebahkan tubuhnya di ranjang.

“Kau gila, Hae?!” timpal Eunhyuk dan Donghae hanya tergelak menanggapinya.

“Kau sependapat denganku, bukan Kyu?”

Kyuhyun menyeringai. “Tentu saja Hyeong!”

“Yaakk! Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?” teriakan Soonhae seketika membuat suasana menjadi hening.

-Gangnam-gu-

Rerumputan hijau yang terpotong rapi menjadi pemandangan dominan di taman depan rumah itu. Beberapa macam bunga seperti Lilium, Anthurium dan juga Chrysanthemum menghiasi taman kecil yang bersebelahan dengan kolam ikan di pinggir taman. Lee Eunhee—gadis itu—duduk di sebuah bangku kayu panjang di pinggir taman. Kaca mata hitam lebar yang menutup kedua mata indahnya, menyembunyikan air mata yang terus mengalir. Ya, ia menangis seorang diri. Memaki setiap apapun yang dilihatnya.

Ini bukan kali pertama Eunhee bertengkar sengit dengan sang Ibu. Bahkan setiap kali bertemu, keduanya tak pernah bisa menahan diri untuk berdamai. Eunhee benci pada sikap Seungbin yang terlalu memikirkan karirnya ketimbang keluarganya sendiri. Ia juga benci karena wanita itu hampir selalu bergaul dengan lelaki lain tanpa memikirkan perasaan sang Ayah.

—————————————————-

“Nona muda… jangan berlari terlalu cepat! Ah, nanti kalau kau jatuh bagaimana?”

Mengabaikan panggilan pengasuhnya, gadis kecil bergaun cantik berwarna coklat hangat dengan aksen bunga-bunga kecil di bagian pinggangnya terus berlari menyusuri padang rumput luas halaman depan rumah mewah bergaya Eropa modern itu. Tawa lebar tetap setia menghiasi wajah mungilnya. Matanya yang bulat dan indah, dengan iris sehitam beledu tampak berbinar-binar senang. Ayah yang telah lama tak ditemuinya sesaat lagi akan tiba, dan ia sudah tak sabar menantikannya.

“Nona muda! Saya mohon…” teriak wanita berseragam pelayan yang terus mengekor di belakangnya. Khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan putri majikannya itu. Seketika gadis kecil tadi berhenti berlari, tepat saat sebuah Ford hitam melintas dan berhenti di hadapannya.

“Appaaa!!!” panggil gadis berusia tujuh tahun itu dengan suaranya yang jernih.

Pria paruh baya, berjas hitam yang baru saja keluar dari mobil tadi seketika tersenyum senang. “Eunhee-a!” sambutnya hangat lantas memeluk gadis kecil yang kini sudah menghambur ke dalam pelukannya itu. “Oh, putri Appa semakin besar saja.”

“Appa, aku merindukanmu!” bisik Eunhee riang dan sang Ayah mengangkat tubuh mungilnya, memutar-mutarnya sebentar, lalu menggendongnya.

“Appa juga, sayang. Appa sangat sangat sangat merindukanmu,” balas lelaki itu senang.

“Appa bohong!” rengek Eunhee.

“Maksudmu?”

“Appa tak sayang padaku!”

Lelaki itu membelai puncak kepala putrinya. “Siapa yang bilang begitu padamu?”

“Tidak ada.”

“Lantas, mengapa kau menganggapnya begitu?”

“Karena Appa tak pernah pulang. Appa tak pernah menyayangiku.”

“Aigoo… Appa sedang sibuk, sayang. Tahukah kau bahwa Appa selalu merindukanmu dan Eomma-mu setiap hari di sana?”

“Benarkah?”

Lelaki itu mengangguk lalu mencubit pelan hidung mancung putrinya.“Tentu saja. Ngomong-ngomong, di mana Eomma-mu, eo?”

Eunhee menggeleng menandakan ketidaktahuannya. “Tadi pagi, kulihat Eomma bersama Paman Jung. Tapi setelah itu… entahlah, aku tak tahu.”

Ekspresi lelaki paruh baya itu, mendadak muram mendengar putrinya mengatakan hal itu. Tapi senyumnya sekali lagi terbentuk menatap wajah polos Eunhee. “Ya sudah, kalau begitu, ayo kita masuk. Appa membawakan hadiah untukmu.”

Mata bulat gadis itu melebar. “Jinja?”

Sang Ayah mengangguk dan tersenyum hangat. “Ne, kajja!” katanya lalu melangkah memasuki pintu ganda rumah besar itu. Keduanya berjalan sembari terus berceloteh, melewati ruang tamu dan naik ke lantai dua di mana kamar tidur utama berada. Lelaki paruh baya itu membuka kenop pintu kamarnya hendak masuk ketika melihat sesuatu yang semestinya tak pernah dilihatnya.

Sang istri, tengah bercinta dengan lelaki yang disebut putrinya bernama Paman Jung. Untuk sesaat, dunia serasa runtuh bagi lelaki bernama Lee Jaehee itu. Sang istri berkhianat di depan matanya. Dan ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa?

“Appa… apa yang Eomma lakukan?”

Jaehee terkesiap. Sadar,  putrinya kini juga melihat apa yang terjadi. Jaehee langsung menutup pintu kamarnya. Cukup keras, hingga memungkinkan dua orang yang tengah ‘asyik’ itu mendengar dan menyadari keberadaan mereka.

“Tidak ada… tidak ada apa-apa, sayang,” balas Jaehee muram, walau jelas hatinya bagai teriris dengan sebilah pisau yang sangat tajam.

—————————————————

“Wanita tua brengsek!” umpat Eunhee sembari terisak. Dadanya sesak. Benar-benar sesak. Peristiwa masa lalunya terbayang. Ayah yang sangat dirindukannya kini tak pernah lagi pulang semenjak hari itu. Ayahnya yang berkerja sebagai Duta besar Korea untuk luar negeri, memilih menetap di Swiss, tempat kerjanya kini. Hingga lima belas tahun berlalu, tak pernah ada kabar apapun dari lelaki yang sangat dicintainya itu. “Appa… jadi memang benar kalau kau tak menyayangiku lagi.”

Tiiin!

Klakson mobil terdengar. Seketika Eunhee beranjak dari kursi taman itu. “Apakah tak bisa lebih lama lagi kau membuatku menunggu?” sindir Eunhee pada Youngwoon lalu masuk begitu saja ke dalam mobilnya.

-BlueSea Entertainment-

“Bagaimana bisa terjadi hal semacam ini?”

Donghae menunduk. Membiarkan Kim Youngmin menumpahkan amarahnya. Direktur utama BlueSea Entertainment itu terlihat sangat geram dengan skandal yang melibatkan Donghae dengan penyanyi cantik itu. Sejak tadi ia berjalan hilir mudik di depan mejanya sembari menggerutu.

“Lee Donghae, apa yang akan kau lakukan bila semua ini berpengaruh buruk pada citramu?”

“Tuan Kim, tenanglah! Aku yakin, fans-fans Donghae tak akan begitu saja percaya dengan berita ini,” bela Park Jungsoo sang manajer.

“Kau terlalu lembek padanya Jungsoo, hingga mengakibatkan hal semacam ini terjadi,” bentak Youngmin keras.

“Aku akan melakukan apa saja, asal kau tetap mengijinkanku bermain dalam drama ini. Bagiku, drama ini sangat berharga dalam perjalanan karirku.” Setelah diam cukup lama, akhirnya Donghae menjawab. Aktor tampan yang baru kali ini dipercaya memerankan peran utama dalam suatu drama itu jelas tak rela melepas kesempatan emas ini.

“Kurasa apa yang dikatakan Donghae benar Tuan Kim,” tambah Jungsoo. “Bila pihak kita menghentikan kerja sama ini secara sepihak dan begitu mendadak. Di mana, publik sudah tahu bila Donghae yang akan memerankan pangeran Haejong, akan semakin meningkatkan spekulasi publik tentang hubungan terlarangnya dengan penyanyi itu. Bukankah hal ini akan semakin menyulitkan posisi kita?”

Kim Youngmin berhenti mondar-mandir. Lelaki itu membenarkan pendapat Jungsoo dengan mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu,” balasnya tenang. “Tapi aku tak ingin mendengar lagi ada berita ‘aneh’ lain setelah ini,” titahnya tegas.

“Kau dengar, Hae… jangan terlalu dekat dengannya!” tambah Jungsoo dan Donghae mengangguk enggan.

“Lalu, Park Jungsoo… apa usulmu untuk menghentikan berita yang beredar ini?”

Jungsoo menggeleng lemah. “Kurasa tak ada yang bisa kita lakukan untuk saat ini Tuan Kim. Menurut saya, sebaiknya hal ini dibiarkan saja. Jangan ditanggapi. Bersikap saja seolah tak terjadi apa-apa. Saya yakin, berita ini akan hilang begitu saja bila muncul skandal lain yang lebih menghebohkan dari ini.”

Kim Youngmin mengangguk setuju. “Kau memang selalu bisa diandalkan Jungsoo,” pujinya tenang dan Jungsoo tersenyum senang. “Apa perlu kita mencari kambing hitam untuk menutupi masalah ini?”

Seketika Donghae berdiri tegak. Ekspresi wajahnya mengeras. “Tidak! Jangan pernah lakukan hal semacam itu dengan alasan apapun!” bantahnya tegas.

TBC

34 thoughts on “HOT SCANDAL -Page 2- [EunHae]

  1. hhmm….abiz bca cinta2an skrng jd prtngkaran….tp g nygka hae uda lgsg ada rasa ma hee,,gntian nih,d MOY hee dluan yg jtuh cnt,skrg hae dluan,hehehe
    dtnggu part slnjtnya eon,fighting!!!!

  2. Kya~
    cepet bgd ya onnie lanjut,..heheheehehe

    Cihuy keren tuh, omma.a hee sma omma.a hae beda 100 drajat, oantes aj hee marah lo masalahnya kyk gtu,..ckckckckck
    dan omo, wonie kau begitu percaya ma hee,..#hug

    ngabyangin kangin selalu ngikutin hee, jiah cocok bgd jd bodyguard,..

    hae huhuhu, ngeles lgi sma aj kyk kyu g mau jujur,..#plakk

    onnie bingung mau koment ap habis disodorin byk FF.a,..

  3. wah, emank hot bnget ffx, sma kyk jdulx hot scandal. aaa, si abang ikanku kasiah, yg slah kan eunhee >,< sebell. critax tmbh seru ni, lanjut thor, kekeke^^ . .

  4. aku ‘sedikit‘ paham kenapa sikap eunhee itu angkuh, dingin, tertutup.
    hot scandal, mungkin belum terlalu ”hot” y unn kkk
    tetep aku menunggu part selanjut‘a unn😉

  5. .wahhh ..
    .konfLik bertebaran ..
    .giLa ibu x Eunhee jahat banget ..
    .kLau bgtu cerita x . Jgn saLahkan anak jdi Durhaka !! *betuL?*
    .pantas pribadi Eunhee jdi keras ..
    .ciee Haeppa . Terbayang muLu ..
    .adik x Haeppa suka ya am Kyuppa ?
    .d tunggu next x ..
    .annyeong !!!

  6. akhirnya,,,,,,oen kelar juga baca semua ff mu saeng,,,,,
    dan oen bener” PUASSS,,,,
    disuguhi 4 ff dlm sehari dan semuanya daebak,tapi oen bacanya baru kelar berhari-hari,hehehe*peace*

    ternyata hub hee ma ibu’y yg bikin hee jadi ce angkuh,ckckck
    beda bgt ma omma’y hae yg lembut dan penuh kasih,,,,

    hot scandalnya belum ada ‘hot’ bgtnya nih saeng!!!kkkk
    tapi udah daebak koq🙂

    • hahaha… syukurlah klo Eon PUAS! Gimana klo sistem post-ku gini ajah? Lama gak ngepost… tapi ntar ngepostnya barengan semua? wkwkwkwk *diinjek*
      belom Eon, pan masiii permulaan… dramanya Hae ama Hee aja belon mulee🙂
      makasiii dah setia baca FFku Eon🙂

      • terserah saeng,mau sistem nge-post nya gimana🙂
        yg penting buat oen mah,saeng nge-post ff dan kebutuhan oen buat baca ff saeng terpenuhi,itu aja*kedipkedip*

      • wakakakak… kebutuhan? udah kayak apaan aja nih si Eonnie mah haha😄

        tapi keknya aku tipe2 orang yg gak bisa nahan diri buat cepet2 ngepost begitu FFnya beres kubikin hahahaha

  7. aduhhh itu itu knpa hae’a jd cpet bgeud ska ma hee’a eon ???,, klo ada prtngkran dlu kek kcing n tkus psti lbih seru,, aq ska bgeud deh tu couple brntem2, trus cnta’a tu tmbuh krna brntem2 gtu, hehehehe,,
    iiiih trnyta eomma’a hee gila bgeud yea,, aduh ksian deh appa’a hee, n hee’a jg,, hee jd kek gtu jg psti krna tuh prmpuan,, jd bt deh klo bhas eomma’a hee,,
    ><
    hmmmm next part'a d tnggu lo eon, jgn lma2 ok!!!
    ^_^

  8. annyeong…
    penasaran gimana nanti waktu hae ama hee tatap muka apa terjd perang atau gmn???
    suka ama karakter hae mirip yg asli ya *plak* sok tau saya
    ditunggu part selanjutnya…

  9. nah akhrnya bru bsa bca versi eunhae..
    Blum ada knflik yg bkin tegang ni antra mreka, eunhee msh sbuk dgan msa lalunya donghae lg sbuk nyelesain gosip yg bredar,
    trus kpan mlai syutingnya ni mreka?

  10. nyesek banget sama kisahnya eunhee ..
    sifat luarnya beda banget sama aslinya … keren… neomu” DAEBAK alur cerita nya … feelnya berasa banget sampe nangisa pas dibagian eun hee
    >____<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s