#HappyBirthdayDonghae [EunHae Moment]

-Mokpo, 13 Oktober 2012-

 

Donghae duduk di ayunan tua di depan rumahnya. Kepalanya menengadah menatap langit. Malam ini langit cerah, taburan bintang yang tak pernah dilihatnya sebanyak itu ketika di kota, kini tampak begitu indah bagai jutaan berlian yang bertaburan di angkasa. Hanya saja, udara dingin musim gugur membuat banyak orang terpaksa memilih beristirahat di dalam rumah. Tidak begitu dengan Donghae. Lelaki itu sedang bingung. Dilema berat melandanya. Antara keinginan untuk kembali ke Seoul dan merayakan hari spesialnya yang ke 27 bersama sang istri atau tetap di Mokpo—tanah kelahirannya—dan merayakan hari specialnya bersama Ibu dan kakaknya.

Malam ini, tepatnya tanggal 13 Oktober 2012 entah bagaimana ia dan grupnya Super Junior menghadiri konser F1 yang diadakan di kota kelahirannya ini. Kesempatan yang langka memang. Tapi kebahagiaannya lenyap saat tahu sang istri yang kini sedang hamil tua tak diperbolehkan bepergian jauh oleh sang dokter.

Kini ia benar-benar bingung. Tak tahu harus memilih yang mana. Tetap pada rencananya semula atau pulang saja ke Seoul.

“Hyeong!”

Donghae tersentak. Lelaki itu nyaris saja mencekik bocah kecil yang mengagetinya tadi kalau tak mengingat dia adalah adik Eunhee. “Kau mau membuatku sakit jantung, eo?” sungut Donghae kesal.

Tanpa menjawab, Jonghee duduk di ayunan di sebelah Donghae hingga memaksa lelaki itu beringsut untuk memberinya tempat. Dan dengan gaya serius, bocah berumur 7 tahun itu bertopang dagu.

“Sayang sekali Noona tak bisa ikut. Aku kan sangat merindukannya.”

Merasa senasib, Donghae yang awalnya kesal pada Jonghee juga ikut-ikutan meniru gaya bocah kecil itu bertopang dagu. Hingga keduanya kini tampak seperti versi dewasa dan versi anak-anak dari orang yang sama. “Aku juga sedih dia tak ikut ke mari,” setujunya.

“Tapi kalau bukan karena Hyeong, Noona pasti bisa ikut pulang.”

“Mwo?” Donghae yang semula lupa pada kekesalannya, kini kembali merasa sebal. “Aku? Kau menyalahkanku?”

“Eomma bilang, Noona tak bisa pulang karena sedang hamil. Siapa lagi yang membuat Noona hamil kalau bukan kau Hyeong.”

“YAAAKHH! Dasar bocah setan!” bentak Donghae kesal. “Kalau kau—“

“Aigoo… kenapa kau bertengkar dengan anak kecil Hae?” suara Leeteuk yang baru saja keluar dari dalam rumah menyela ucapan Donghae. Lelaki yang akan menjalani wajib militernya dalam dua minggu lagi itu menggeleng-gelengkan kepalanya heran, diikuti oleh Eunhyuk, Sungmin dan Ryeowook yang mengekor di belakangnya. Tak begitu dengan Kyuhyun, yang ekspresinya seketika mengeras mengingat siapa bocah kecil yang kini duduk di samping Donghae itu. Gara-gara perbuatannya, Kyuhyun jadi sasaran kemarahan Jiae hari itu.

“Aisshh…” Donghae merengut dan cepat-cepat pergi meninggalkan Jonghee yang masih diam dengan wajah polos di ayunan.

“Kau jadi menginap di sini atau ikut pulang bersama kami Hae?” Leeteuk yang kini berdiri tepat di samping Donghae menepuk pundak pria itu pelan.

Donghae diam sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam ketika melihat sosok Kim Hyangsook—Ibunya—yang baru saja keluar dan berdiri di ambang pintu. Sudah lama dirinya tak merayakan hari ulang tahun bersama keluarganya di Mokpo, dan tahun ini benar-benar kesempatan yang langka baginya.

Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, Donghae akhirnya mengangguk. “Ne, Hyeong. Aku sudah berjanji akan merayakan ulang tahunku di sini pada Eomma.”

“Tenanglah Hyeong, aku akan menemanimu. Kebetulan aku tak ada jadwal lagi setelah ini,” Ryeowook menimpali.

“Aku juga,” sambung Kyuhyun yang mengerling pada Donghae, memberi isyarat pada lelaki itu dengan tatapan kau-tahu-maksudku-Hyeong.

“Ya sudah, kalau begitu… aku dan yang lainnya pulang dulu Hae… maaf kami tak bisa merayakan di sini bersamamu. Tapi, kami akan tetap menunggu perayaan ulang tahunmu di Seoul.”

Donghae tersenyum lebar dan mengangguk. “Ne, Hyeong. Gwaenchana!”

“Hyeong ulang tahun?” Tiba-tiba Donghae tersentak merasakan sosok kecil menyeruak di antara dirinya dan sang Leader Super Junior.

Karena masih kesal, Donghae hanya menjawab singkat. “Ne, wae?”

Bocah kecil itu melipat tangannya di depan dada. Dengan gaya bak orang dewasa yang sedang meremehkan, Jonghee menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Kasihan sekali, rupanya Noona memang sudah tak peduli lagi padamu.”

“Mwo?” Donghae membelalak lebar. Kesal tentu saja.

“Buktinya ia tetap tak mau datang, walau kau berulang tahun,” tambah Jonghee lagi, masih dengan ekspresi yang sama.

“YAAAKKHH!!! SETAN KECIL SIALAN!” Dan Donghae semakin kesal mendapati teman-temannya menutup mulut menahan geli. Bukannya membelanya. Sial!

Awas kau Lee Jonghee!

-14 Oktober 2012-

 

Pagi menjelang. Donghae masih asyik meringkuk dalam selimutnya. Terlalu nyaman dan hangat untuk ditinggalkan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa hari ini ia akan mengistirahatkan diri. Menolak melakukan apapun, itu maksudnya.

“Hae, ayo bangun!” Donghae mengerang ketika merasakan seseorang menendang bokongnya. Lelaki itu dengan terpaksa menurunkan selimut yang menutupi wajahnya.

“Jangan ganggu aku, Hyeong!” keluhnya pada Donghwa yang berdiri di sisi tempat tidurnya, lalu sekali lagi menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Aiisshh… aku jauh-jauh datang ke mari bukan untuk melihatmu tidur,” Donghwa membuka paksa selimut Donghae dan menarik lengan adiknya itu cukup kuat.

“Yaaaakkhh… Aiisshh… ulang tahunku masih besok, Hyeong! Aku mau tidur dulu sekarang,” Donghae sekali lagi merebahkan tubuhnya dan menaikkan selimutnya.

“Ya! Tapi ini sudah siang Hae, Eomma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Kyuhyun dan Ryeowook juga sudah menyantap Ddaktoritang buatan Eomma. Kau tidak ingin mereka—“

“Mwo? Ddaktoritang?”

Donghwa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Donghae yang tiba-tiba saja bangkit dari tidurnya hanya karena mendengar masakan favoritnya disebut. “Kubilang…” Lelaki itu sekali lagi tak jadi melanjutkan omelannya ketika tiba-tiba saja Donghae sudah melesat meninggalkannya sendiri di kamar itu. “Benar-benar…! Sama sekali tidak berubah,” gumamnya pelan.

———————————————————-

Setelah sesiangan itu menghabiskan waktu di rumah, sore ini Donghae memutuskan untuk mengunjungi makam Ayahnya. Dengan membawa seikat bunga krisan dan sebotol soju, lelaki tampan itu tiba di areal pemakaman yang terletak di dekat pantai.

“Annyeong Appa,” gumam Donghae lirih sembari membungkuk. Setelah melakukan penghormatan sebanyak tiga kali, anggota super junior itu menyiramkan Soju di sekitar makam sang Ayah.

“Appa, kau tidak merindukanku?” bisiknya lagi, sembari menatap gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama sang Ayah di atasnya. “Aku sangat-sangat merindukanmu.” Meski sesak, lelaki muda itu berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia sudah berjanji pada diri sendiri, bahwa ia tak akan menangis lagi untuk hal ini. Donghae tak ingin sang Ayah sedih, kalau ia terus menangisi kepergiannya.

“Appa… besok ulang tahunku yang ke 27.” Donghae kini berjongkok di depan makam sang Ayah. “Tak kusangka… aku sudah setua ini,” katanya sembari terkekeh kecil. “Aku tahu, kau pasti mendoakanku dari surga. Benarkan, Appa?”

Hening. Lelaki itu memejamkan matanya. Membiarkan semilir angin pantai membelai rambut dan wajahnya.

“Kau tahu Appa? Tak lama lagi… aku akan menjadi seorang Appa. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, bila hal itu terjadi… aku akan berusaha menjadi Appa sebaik dirimu.” Kali ini Donghae tak mampu menahan air matanya. Pandangannya buram ketika teringat kembali bagaimana kenangan indah masa lalunya bersama Ayah yang sangat dicintainya itu. “Mianhae… Appa, aku tak bermaksud… membuatmu… sedih,” tambah Donghae tersendat-sendat yang cepat-cepat menghapus bulir-bulir bening itu dari sudut matanya.

“Aku benar-benar merindukanmu… aku ingin… aku ingin sekali anakku kelak dapat bertemu kakeknya yang hebat… oh, sial! Harusnya aku tak menangis,” rutuk Donghae lalu cepat-cepat berdiri dari posisi jongkoknya.

Lelaki itu berusaha tersenyum. Setelah berhasil menghentikan tangisnya, Donghae membungkuk sembilan puluh derajat dan bergumam pelan. “Appa… tetap bahagia di sana. Aku janji akan terus membuatmu bangga… dengan prestasi menyanyiku, dan juga… dengan kehidupan rumah tanggaku. Aku akan menjadi Appa terbaik. Sepertimu tentu saja…” Donghae tersenyum lagi. “Sayang sekali istri dan calon anakku tak bisa datang, tapi aku tahu… mereka sangat ingin sekali mengunjungi makam kakeknya. Appa… saranghae…”

————————————————-

“Dari mana saja kau, Hyeong?” sambut Kyuhyun, ketika Donghae tiba di rumah.

“Mengunjungi Appa,” balas Donghae singkat, lalu mendudukkan diri di sofa. Ingat sang istri belum juga menghubunginya sejak pagi tadi, Donghae cepat-cepat meraih ponselnya dengan perasaan kesal. “Jadi kau tak merindukan suamimu, eo?” keluhnya lalu mendial nomor 1, dalam daftar panggilan cepatnya.

Wae Hae?” Donghae mengernyit.

“Yak! Suamimu menelpon, kau bukannya senang. Besok aku berulang tahun, tak bisakah kau bersikap lebih manis Hee?”

“Lalu aku harus bilang apa? Apa kabar, sayang? Bagaimana harimu di sana? Menyenangkan? Begitu? Membosankan!”

“Yaaakkhh!! Neo?”

“Wae? Sudahlah Hae, kalau tak terlalu penting jangan menelpon. Aku sedang sibuk. Mr Hong—“

“Jangan sebut nama itu lagi!” potong Donghae cepat. Ia jelas masih kesal dengan kejadian seminggu yang lalu. Tepat di depan gedung COEX center, tempat Eunhee bekerja.

“Wae?”

“Apa kau masih perlu bertanya?”

“Ah, itu. Sudahlah Hae… aku sudah bilang kan kalau dia hanya atasanku. Aku—oh, Hae… maaf, Mr. Hong datang untuk mengecek pekerjaanku. Sampai nanti ya…”

Tut… tut… tut…

“Yaaakkhh!! Aiisshh… aku bahkan belum selesai bicara, dia sudah menutupnya saja?” keluh Donghae frustasi. “Dan lagi-lagi gara-gara ahjussi sialan itu. Menyebalkan!” Donghae membanting ponselnya ke sofa dengan gemas.

“Wae, Hyeong? Kau ditolak Noona lagi?”

“Mwooo?” Donghae melotot. Si kecil Jonghee sekali lagi mencari masalah. Nyaris saja ia membentak bocah itu lagi bila tak ada Donghwa yang tiba-tiba menengahi.

“Ah, Jonghee-a… Hyeong punya sesuatu yang bagus. Kajja! Kita lihat sama-sama,” ungkap Donghwa lalu buru-buru menggandeng bocah usil itu keluar ruangan.

Donghae mengerang kesal. Lalu melemparkan pantatnya ke sofa empuk di belakangnya. “Sialan kau Lee Eunhee… jadi si Hong Taesun itu lebih penting dari pada suamimu sendiri? Aiisshh… jinja!”

“Hyeong… aku dapat ide membalas si setan kecil itu.” Tiba-tiba Kyuhyun datang dan duduk di samping Donghae.

Donghae memalingkan wajah. Ia sedang tidak dalam mood yang baik untuk bermain-main. “Aku tak tertarik.”

“Yak! Hyeong… setidaknya, kau membantuku.” Kyuhyun mengurungkan niatnya membantah lagi ketika melihat air muka Donghae yang kusut masai. “Ya sudah Hyeong, biar aku saja yang melakukannya. Aku masih kesal karena dia membuatku jadi sasaran empuk kemarahan Jiae malam itu.”

Bila tidak dalam kondisi kesal, pasti Donghae sudah terkikik mendengar ocehan Kyuhyun itu. “Terserah padamu saja,” balas Donghae lalu cepat-cepat pergi ke kamarnya untuk menenangkan diri.

—————————————————

Donghae terbangun ketika jam menunjukkan pukul 8 malam. Di ruang tengah tampak Donghwa, dan Kyuhyun sedang asyik bertanding starcraft, sedangkan Ryeowook sibuk membantu Kim Hyangsook di dapur.

Donghae menguap lebar-lebar, dan berniat ke kamar mandi ketika mendengar suara mungil bocah yang tak pernah berhenti membuatnya kesal itu. “Hyeong, kenapa jam segini baru bangun? Pantas saja Noona kesal padamu, ternyata kau memang pemalas.”

Donghae menggeram tertahan. Ia masih kesal pada Eunhee setelah insiden teleponnya sore tadi, tak perlu ditambah lagi dengan olokan anak kecil ini. “Aku sedang malas membicarakan Noona-mu itu, sebaiknya kau jangan menyinggungnya lagi,” balas Donghae datar lalu melangkah cepat ke kamar mandi di ujung ruangan.

Setelah mandi, Donghae membawa laptopnya ke ruang tengah. Berniat bermain-main di dunia maya sembari menunggu ulang tahunnya tiba. Sekedar untuk menghibur diri setelah pertengkarannya dengan Eunhee sore tadi.

Pasti sudah banyak fans yang mengucapkan selamat padaku, batinnya senang sembari menghidupkan laptopnya dan menyambungkannya dengan internet.

“Aku tak akan memaksamu lagi Lee Eunhee, kalau kau memang tak peduli padaku… untuk apa aku peduli padamu?” gumamnya pelan sambil terus membaca mention-mention yang masuk di akun twitternya.

Bahkan sebelum jam 12 tiba, sudah banyak sekali yang mengucapkan selamat padanya dengan hashtag #HappyBirthdayDonghae. Ia masih ingat betul, bagaimana para ELF—sebutan untuk fans Super Junior—tahun lalu mencetak TTWW pada ulang tahunnya yang ke 26. Akankah tahun ini juga terjadi hal yang sama? Ah, ia tak tahu fans-nya akan memberikan kejutan apa lagi untuknya tahun ini. Yang jelas, ia sangat bersyukur memiliki banyak orang yang menyayanginya.

Tanpa sadar, Donghae tersenyum membaca beberapa mention yang masuk ke akun twitternya.

Shin Soojin @HaeJinLove
@donghae861015 Oppa, walaupun sekarang belum jam 12 malam, aku ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun untukmu #HappyBirthdayDonghae

Steffany @ELFishyHae
Aaaah! Hanya tinggal beberapa jam lagi kau akan bertambah tua Pangeranku Lee @donghae861015 #HappyBirthdayDonghae

Meefa Shou @MeeLoveHae
Aku tak sabar untuk cepat-cepat mengucapkan selamat ulang tahun untuk ikanku yang tampan #poke @donghae861015 #HappyBirthdayDonghae

Cho Neora @NeoraKyu
@donghae861015 Oppa, aku akan menunggu sampai jam 12 malam ini untuk mengucapkan selamat padamu ^^#HappyBirthdayDonghae

“Kau gila Hyeong? Kenapa senyum-senyum sendiri?”

“Yakkk… aiissshh! Ya Tuhan, kuatkan aku menghadapi anak semacam dia,” keluh Donghae lalu mendelik sewot pada Kyuhyun yang kini terkikik melihat kejadian itu.

Belum sempat Donghae melarang, tiba-tiba saja Jonghee merangsek di dekatnya dan duduk tepat dipangkuannya. Tangan kecil Jonghee dengan lihai menjalankan mouse komputer melihat-lihat apa yang sedang dibaca Donghae.

“Ini apa Hyeong?” tanyanya polos sembari menunjuk beberapa mention yang dibaca Donghae tadi.

Donghae menyeringai. “Itu? Kau tidak tahu?” Jonghee menggeleng sambil terus mengutak-atik laptop Donghae.

Dengan maksud menyombongkan diri, Donghae menjelaskan. “Itu adalah kata-kata selamat yang diucapkan penggemarku… kau tidak lihat? Banyak sekali yang mencintaiku. Bahkan dari berbagai negara.”

“Whooaahh… Hyeong, kau keren!” puji Jonghee dengan polosnya sembari menguap karena hari sudah malam. Donghae terpaku sesaat ketika tiba-tiba Jonghee memundurkan tubuh dan menyandarkan diri di dadanya. Entah mengapa, ada perasaan hangat menyeruak di dalam dirinya. Sejatinya ia memang menyukai anak-anak. Tapi sikap Jonghee yang seringkali membuatnya kesal, mau tak mau membuat Donghae sedikit sebal pada bocah itu.

Namun kini, melihat Jonghee terlelap dalam pangkuannya membuat sesuatu di dalam dirinya tersentuh. Donghae merasa bodoh. Selama ini ia begitu mudah terpancing amarah hanya karena olokan bocah kecil itu. Padahal bocah itu sama sekali tak menganggapnya musuh, bahkan kini ia biasa saja tertidur di pangkuannya seperti ini.

“Hae, biar kugendong Jonghee ke rumahnya. Siapa tahu bibi Lee kebingungan mencari putranya,” tawar Donghwa.

“Tidak usah Hyeong, biarkan saja dulu dia tidur. Aku takut dia terbangun karena belum terlalu nyenyak.”

Donghwa mengangguk. “Baiklah kalau begitu, kita tunggu setengah jam lagi saja,” katanya lalu kembali melanjutkan permainan starcraft-nya bersama Kyuhyun dan juga Ryeowook yang baru saja bergabung.

Donghae beringsut sedikit. Memperbaiki posisinya agar lebih nyaman. Mulai hari ini ia berjanji, tak akan berlaku kekanak-kanakan lagi di depan Jonghee. Biar bagaimanapun anak itu masih kecil, wajar saja bila seringkali mengganggu atau bertingkah jahil. Orang dewasa sepertinya yang sebentar lagi sudah menginjak usia ke 27 tahun, seharusnya mengalah bukan?

Menghela nafas lelah, Donghae melirik jam dinding di sudut ruangan. Pukul 10 lewat 5 menit. Ulang tahunnya hanya tinggal 2 jam lagi, ia melirik sang Ibu yang kini masih sibuk membereskan dapur, beralih pada Kyuhyun, Ryeowook dan Donghwa yang sedang asyik berdebat di depan televisi lalu pada Jonghee yang kini tengah terlelap di pangkuannya.

Donghae tersenyum menatap wajah polos Jonghee. Jari telunjuknya terulur dan ditempelkan di kening Jonghee. “Mulai sekarang jangan ganggu Hyeong lagi, eo?” bisiknya walau jelas Jonghee tak akan mendengar ucapannya.

Mengalihkan tatapannya dari Jonghee, tatapan Donghae tak sengaja tertuju pada ponsel Galaxy SIII-nya yang tergeletak di sisi laptopnya. Lelaki itu menggeram tertahan saat teringat hingga kini Eunhee belum juga menghubunginya. Sekedar untuk mengucapkan selamat malam.

“Jadi benar, Mr. Hong-mu itu sekarang jauh lebih berharga dari aku?” cibir Donghae kesal lalu menyandarkan kepalanya di punggung sofa dan mendesah pasrah. “Baiklah Lee Eunhee, kalau itu maumu,” tambahnya lalu memejamkan matanya yang lelah.

———————————————————–

Donghae menggeliat. Menggulingkan tubuhnya ke samping. Lelaki itu tersentak merasakan tangannya menyentuh sesosok tubuh lain di sisinya. Cepat-cepat ia membuka mata, dan terbelalak mendapati seorang wanita yang sangat dirindukannya kini terlelap di sisinya. Lee Eunhee. Wanita itu tertidur dengan posisi menyamping menghadapnya.

Buru-buru ia bangun. Menampar kedua pipinya, mengira bahwa ini hanya mimpi. Tapi Donghae segera menyadari semua yang dilihatnya kini adalah kenyataan. Tapi kapan? Kapan wanita itu tiba di rumahnya? Dan seingatnya… semalam ia tertidur di sofa dengan Jonghee dalam pangkuannya. Tapi sekarang?

Refleks, Donghae melirik jam di samping kanannya. Pukul 5.35 pagi. Seketika matanya terbelalak. Ini bahkan sudah lewat dari ulang tahunnya. Mengapa teman-temannya tak membangunkannya semalam? Bukankah mereka sudah berjanji akan merayakan ulang tahunnya tepat jam 12 malam itu?

“Aiisshh… apa-apaan ini?” keluh Donghae sembari mengacak-acak rambut belakangnya.

“Euunghh… apa yang kau lakukan, Hae?” Suara Eunhee menarik perhatian Donghae. Lelaki itu cepat-cepat memalingkan wajahnya—pura-pura marah—saat Eunhee bangkit duduk di sampingnya. “Kau sudah bangun?”

Donghae tak menjawab. Ia sedikit kesal pada Eunhee. Walau sebenarnya, sebagian besar hatinya terharu karena sang istri repot-repot pulang ke Mokpo untuk merayakan ulang tahunnya. Bahkan dalam kondisinya yang sedang hamil besar.

“Yak!!! Lee Donghae, kau marah padaku, eo?”

“Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tak kau temani saja Mr. Hong-mu yang tampan itu?” sungut Donghae tanpa menoleh pada Eunhee.

“Aiisshh… jadi kau masih cemburu padanya?” Eunhee menarik bahu Donghae. “Tatap aku! Kau benar-benar tidak sopan pada lawan bicaramu!”

Donghae mengerucutkan bibirnya kesal. “Kemarin kau tak meneleponku seharian, saat kutelepon kau malah sibuk dengan Mr. Hong-mu itu.”

Eunhee tak dapat menyembunyikan kekehannya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya agar tak tergelak di depan Donghae. Melihat suaminya merajuk seperti ini, membuatnya geli. “Apakah bicara di telepon lebih penting bagimu, dibandingkan kehadiranku di sini?” Donghae menggeleng, tapi masih setia mengerucutkan bibirnya. “Kalau kau masih marah, lebih baik aku pulang sa—“

“Andwaeyo!” Donghae cepat-cepat menahan lengan Eunhee ketika wanita itu akan beranjak dari tempat tidur. “Aku senang kau di sini,” tambahnya lirih.

Eunhee tersenyum lebar. “Kalau begitu… kenapa wajahmu masih kusut begitu, eo?”

“Kau belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku!” rengek Donghae.

Kali ini Eunhee membiarkan dirinya terkekeh pelan. “Jadi kau marah karena itu? Kau bahkan lebih kekanakan dari Jonghee,” cibir Eunhee.

Donghae menunduk, dan semakin memajukan bibirnya beberapa centi ke depan. “Jonghee… aku sudah berjanji tak akan marah lagi padanya,” lirih Donghae nyaris tak terdengar.

Eunhee tergelak. Diraihnya wajah Donghae dengan menangkupkan dua telapak tangannya di pipi sang suami. “Saengil Chukhae, uri Wangjanim… kau sekarang sudah 27 tahun. Kuharap, kau bisa menjadi lelaki yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.”

Seketika, Donghae tersenyum lebar. Diletakkannya dua tangannya di atas tangan Eunhee yang kini masih menangkup wajahnya. “Saranghae… Lee Eunhee.”

Donghae baru mendekatkan wajahnya hendak mencium Eunhee, ketika teringat sesuatu yang sangat penting. “Emm… Hee, kenapa semalam kau tak membangunkanku?”

Eunhee membelaikan tangannya di rambut hitam Donghae yang baru saja dipotong dengan model terbaru beberapa waktu yang lalu. “Kau sedang tidur. Melihatmu dan Jonghee tidur bersama… mana mungkin aku dan yang lainnya tega membangunkanmu?”

“Iya, tapi—“

“Kulihat… Ryeowook dan Kyuhyun memang kecewa malam itu, karena pagi-pagi sekali… keduanya harus kembali ke Seoul,” potong Eunhee.

“Nah, benar kan? Harusnya kau membangunkanku… kasihan mereka berdua tak jadi berpesta bersama semalam. Aiisshh…” Donghae mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Sudahlah Hae… kau masih bisa merayakan ulang tahunmu bersama mereka di Seoul.”

Donghae akhirnya mengangguk, menyadari kebenaran dalam kata-kata Eunhee. “Kau benar juga,” katanya sembari tersenyum. “Jadi sekarang… di sini… aku bisa merayakannya berdua denganmu.”

“Jangan lupakan Donghwa Oppa dan Eommonim.”

“Ah, tentu saja.” Donghae menyeringai. “Tapi di kamar ini… hanya ada kita berdua sekarang,” tambah Donghae. “Lagi pula, kau belum memberikan hadiah padaku, eo?”

“Apa kehadiranku di sini bukan hadiah untukmu?”

“Itu belum cukup!”

“Aiissh… yak! Lee Donghae… apalagi yang kau inginkan?”

Poppo!” Dengan gaya manja, Donghae mengerucutkan bibirnya. Matanya terpejam. Sementara tangannya menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri.

Eunhee tentu saja terkekeh melihat tingkah suaminya. Kepalanya menggeleng-geleng heran. Sama sekali tak menyangka bahwa lelaki yang kini berada di depannya itu adalah ayah dari calon anak yang sedang dikandungnya.

Merasa Eunhee tak juga menciumnya, Donghae membuka matanya. Kembali lelaki itu mengerucutkan bibirnya kesal. “Yak! Hanya ciuman saja kau tak mau memberikannya, Lee Eunhee?”

Eunhee yang masih terkikik, berusaha menghentikan tawanya. “Aku dan kau baru bangun tidur, sebaiknya kita ke kamar mandi dulu untuk menyikat gigi dan membasuh muka.”

“Shireo!” Donghae menggeleng tegas. Tangannya meraih tangan Eunhee dan sekali lagi bertingkah manja di depan istrinya. “Poppo… Hee, jebalyo! Poppo… poppo…!

“Nanti setelah sikat gigi.”

Shireo… shireo… shireo!” rengek Donghae. “Aku mau sekarang! Kalau kau tak mau memberikannya untukku. Biar aku yang mencari sendiri.”

“Yakk! Lee Donghae! Apa yang kau—“

Tok tok tok…

“Hyeong! Buka pintunya!”

Donghae menggeram kesal. Lagi-lagi Lee Jonghee. Kapan bocah itu akan membiarkannya tenang? Oh, Donghae benar-benar kesal. Sekali lagi bocah itu mengganggu acaranya.

Sembari terkikik, Eunhee beranjak dari tempat tidur. “Hae, bukankah kau bilang tak akan marah pada Jonghee lagi. Tersenyumlah!” katanya mengingatkan.

Donghae menghela nafasnya kasar. Ya, ia ingat semalam telah berjanji seperti itu. Dan sama sekali tak menyangka bahwa bocah kecil itu akan kembali membuatnya kesal secepat ini. Mau tak mau, Donghae terpaksa turun dari tempat tidur. Lelaki itu kini berdiri di depan pintu, ketika Eunhee akan memutar kenop untuk adiknya yang hingga kini masih menggedor-gedor pintu kamar itu.

Tepat saat pintu menjeblak terbuka, Donghae terhenyak. Orang-orang yang sangat disayanginya kini berbaris di depan pintu. Menyanyikan jingle selamat ulang tahun untuknya.

“Saengil Chukhahamnida… Saengil Chukhahamnida… saranghaneun, Lee Donghae… Saengil Chukhahamnida…” nyanyi Ibunya, Donghwa, Lee Jaehee dan Park Minhye—mertuanya—Jonghee dan yang paling mengejutkan, teman-teman Super Junior yang sebelumnya sudah pulang ke Seoul kini berada di hadapannya.

Untuk sejenak Donghae masih terdiam di ambang pintu. Matanya sudah berkaca-kaca. Mungkin sebentar lagi, cairan bening itu akan keluar dan membasahi pipinya.

“Mau sampai kapan kau membiarkan Eomma memegang kue ini, Hae?” suara Kim Hyangsook menyentaknya.

Donghae cepat-cepat menghapus titik bening yang mulai menyelinap keluar di ujung matanya. Lelaki itu tersenyum lebar dan buru-buru mendekati Ibunya. Dikecupnya kening sang Ibu dan bergumam pelan. “Gomawo Eomma… karena telah melahirkanku ke dunia ini, hingga membuatku bertemu dengan orang-orang luar biasa seperti kalian.”

Hyangsook tersenyum hangat. Menatap lekat mata putra bungsunya yang kini sudah semakin dewasa. “Tiuplah lilinnya. Semuanya menunggu,” kata wanita tua yang masih cantik itu sembari melirik tamu-tamunya.

Donghae menunduk sebentar, dan meniup lilin-lilin di kue itu, sejurus kemudian tepuk tangan menggema dari semua yang hadir di situ. “Gomawo… Yeorobun!” katanya dengan berlinangan air mata.

—————————————————————

“Hyeong, hapus air matamu! Kau tak ingin diolok cengeng oleh setan kecil itu lagi, kan?” perintah Kyuhyun setelah mereka menyelesaikan acara sarapan bersama di kebun belakang rumah Donghae.

“Isshh… dan sekarang, setan besar yang mengolokku.”

“Kau memang cengeng!”

“Yaaakk!”

Kyuhyun terkekeh pelan. “Tapi aku sayang padamu.”

Seketika Donghae tertawa lebar. “Kau memang yang terbaik Kyuhyunnie!”

“Jadi mulai sekarang, kau tak boleh dekat-dekat dengan Eunhyuk.”

“Mwo? Apa maksudmu?” Donghae mengernyit heran.

“Karena kau milikku!”

“Aiiisshh… dasar setan!” pekik Donghae diiringi kekehan lebar Kyuhyun.

“Ya sudah Hyeong, nikmati pestanya. Aku mau makan makanan penutup dulu,” tambah Kyuhyun sambil menepuk pundak Donghae pelan.

Donghae hanya tersenyum menatap kepergian Kyuhyun, menghampiri teman-teman lainnya yang sedang asyik bercengkrama di taman.

“Hae!” Donghae sontak menoleh mendengar suara Eunhee di belakangnya. Wanita yang kini tengah hamil besar itu tampak cantik walau hanya mengenakan gaun sederhana berwarna biru pucat bermodel A, renda-renda kecil menghiasi bagian dadanya.

“Wae?” sambutnya riang, sembari melingkarkan lengannya di pinggang Eunhee.

“Minhee titip salam untukmu. Dia minta maaf karena tak bisa hadir. Di kampusnya sedang ada kegiatan yang tak bisa ditinggalkan.”

Donghae tersenyum. Minhee. Adik perempuan Eunhee yang kini sedang kuliah di Daejeon. “Gwaenchana! Dia masih mengingatnya juga, aku sudah senang.”

“Mana mungkin dia lupa pada hari ulang tahun kakak ipar kesayangannya, eo?”

Donghae terkekeh. Lalu memutar tubuhnya menghadap Eunhee. Hingga kini posisinya berhadapan. “Benar juga, dia kan Elfishy.”

“Isshh… aku salah bicara,” cibir Eunhee dan Donghae hanya tertawa mendengarnya.

“Kalau kau… apa tidak ingin mengucapkan selamat pada Appa-mu, eo?” bisik Donghae sembari mengelus perut buncit Eunhee. “Omo! Omo! Dia… dia ‘menendang’!” pekik Donghae histeris. Saat merasakan sebuah pergerakan di perut sang istri.

Eunhee terkekeh pelan. “Mungkin itu caranya mengucapkan selamat padamu, Hae.”

Donghae lantas berjongkok. Lalu mengecup perut Eunhee penuh sayang. “Terima kasih Aegi-a, Appa sayang padamu,” bisik Donghae senang. Dan lelaki itu sekali lagi memekik girang ketika sang jabang bayi kembali ‘menendang’ di dalam sana. Setelah puas bercengkrama dengan sang anak, kini Donghae bangkit. Dipeluknya pinggang Eunhee agar istrinya itu berdiri lebih dekat. “Ngomong-ngomong… kau belum memberikan hadiahmu padaku, Hee,” dengkur Donghae, mengingatkan.

“Hadiah apa?” tanya Eunhee pura-pura tak tahu.

“Yang pagi tadi,” jelas Donghae sembari menunjuk bibirnya sendiri. “Poppo!” tambahnya lirih.

Entah mengapa, cara Donghae menyebut kata itu membuat Eunhee tak tahan untuk tertawa. Sangat imut dan menggemaskan. “Nanti, sekarang sedang banyak orang.”

“Aku tak peduli!” paksa Donghae.

Eunhee menggeleng-gelengkan kepalanya heran akan kekeraskepalaan suaminya itu. “Baiklah!” katanya lalu sedikit berjinjit untuk mendaratkan kecupan singkat di bibir Donghae. Benar-benar singkat. Nyaris hanya seperti angin yang lewat.

“Yakk! Hanya begitu saja?” protes Donghae tak terima.

Mengabaikan protesan Donghae, Eunhee justru bertanya dengan melingkarkan lengannya di pundak dan leher Donghae. “Hae, kau tahu siapa yang mengantarku ke stasiun semalam?”

Mendadak perasaan Donghae jadi tak nyaman. Mengapa sang istri tiba-tiba saja menanyakan hal itu padanya? “M-maksudmu?”

“Semalam aku berangkat dari Seoul agar sampai di sini tepat saat ulang tahunmu jam 12 malam. Dan kau harus berterima kasih pada orang yang telah mengantarku dengan selamat sampai di stasiun Seoul tanpa kurang sedikit pun,” jelas Eunhee panjang lebar.

“Siapa?” tanya Donghae datar. Dalam hati berharap, bukan berita yang akan membuatnya kesal.

“Hong Taesun!”

“MWOOO? DIA MAU MATI?”

FIN

35 thoughts on “#HappyBirthdayDonghae [EunHae Moment]

  1. aku datang.. aku datang..
    kyaaaaa cute super sweettt momentnya.. gak tahan.. (alay mode)

    kkk
    tapi pertama- tama, mian ssaeng yang di “are you mad” kemaren aku belom comment, jadi comment-nya di gabung di sini ga papa kan??? (boleh ya..ya.. ya)
    hehehe ahh ga terasa oori haeppa udah ulang tahun lagi, bentar lagi punya anak d ma hee, gak sabar nunggu anaknya lahir..

    keren moment-nya ssaeng, ditunggu eunhae moment selanjutnya ya
    fighting!!!
    dan gak lupa
    saengil chukae DongHae oppa!!!!^^

    (ngomong- ngomong Mr. Hong makin eksis aja nie kkk)

  2. ga salah pernyataanku kemarin.. ahhh siluman Lee kau idolaku,,….
    campur aduk rasanya.. dan aku nangis waktu hae lagi di makam.. gila nyesek badai itu mah…

    @NeoraKyu ??? hahhahah id jaman kapan itu yah…. asekk aku nyempil lagi.. walo cuma nama doang,,,

    aslinya pengen ada adegan yg ‘iya-iya’ tapi mengingat lagi hamil ya sudahlah… #telen jonghee

    dan yang jadi pertanyaan kadonya mana?? cuma itu doang?? *cuma katamu?*

    but.. aku suka.. aku I’M MATES!!!!

  3. saengil chukkae uri yeobo,,,,lee donghae
    *ikuttiuplilin

    baru kelar baca satu ff,saking senengnya liat byk ff bertebaran di blog’y saeng,oen jadi bingung mo baca yg mana dulu🙂

    eunhae moment emang selalu sweet n romantis gilaaa,,,
    hae,,,hae,,,,kenapa sifat cemburuanmu itu bisa sampe stadium akhir gitu sih,ckckck
    tapi emang itu yg bikin eunhae moment terasa spesial🙂
    saeng DAEBAK,,,,,

    oen mau lanjut baca ff yg lain dulu ah,,,,
    pai pai,,,,

  4. wah, kyknya saya ktinggalan jauh..~,~
    smua uda pd komen dn ngsh slmat ke Abang Donghae ya? tp meski tlat, sampein slmat ultah ke abang Donghae dr ku ya unn, keke~..
    geli bgt bcanya, ak jg ikt2n cekikik.an krn tgkah Hae yg manja, mn trus2n sbel ma Jonghee, tp jonghee jg bandel..wkwk, lol~
    dan ya ampun, si eunhee smpe bela2in dtg ke mokpo walo dianter bossnya, bkin hae tmbh cmbru..xD
    ok, menghbur bgt unn, next part Eunhae moment saeng tnggu..^^

  5. HUAAAA BERASA KETINGGALAN BANGYAK! hiks hiks
    gara-gara uts nih u,u
    btw yang ini lanjutan are you mad kemaren kan ya?

    awalnya aaaahh Jonghee aku ngakak sama tingkah polos kamu “Eomma bilang, Noona tak bisa pulang karena sedang hamil.
    Siapa lagi yang membuat Noona hamil kalau bukan kau Hyeong.” haha Jonghee Jonghee kamu telalu polos nak
    tapi tiba-tiba berubah jadi sedih ni ya pas acara Donghae ngunjungin makam appanya T__T
    gatau kenapa pas Donghae bilang “Kau tahu Appa? Tak lama lagi… aku akan menjadi seorang Appa. Dan aku berjanji pada diriku sendiri…”
    itu feelnya dapet banget & berasa nyata banget, jadi pengen Donghae kawin+punya anak segera *eh
    ditambah lagi yg pas Jonghee tidur dipangkuan Donghae itu wahhh aku bayanginnya aja udah seneng
    Eunhee unnie cepet lahiranyaaaa udah ga sabar pengen liat EunHae junior ^o^

    eciee itu Eunhee bela-belain ke Mokpo buat Donghae ciyeee, tiap EunHae momentnya unyu sekaliii bikin senyum-senyum sendiri kekeke

  6. hua, akhirnya selese bca jg,..hehehehe
    hutang lunas,..

    “Aku juga,” sambung Kyuhyun yang mengerling pada Donghae, memberi isyarat pada lelaki itu dengan tatapan kau-tahu-maksudku-Hyeong.
    masih blum ngerti apa tatapan itu,..eaaaaa

    tapi omo disini liat sisi manja hae n sifat masih kecil pdahal dh umur 27,..
    aigu hae opppa knp kau tdk jg berubah pdal dh mau jd appa,.

    hee waduh keterlaluan nih cranya bikin hae cembukaur, matiin hp gitu aj dgn org yg sma buat hae cemburu,..bgs

    lucu” dh wktu byangin jonghee tidur di panguan hae yg bysanya g pernah akur, dsar setan kecil,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s