Dont Leave Me Alone, Pabo! [Ficlet] –HTILY Sekuel-

Dont Leave Me Alone, Pabo! [Ficlet] –HTILY Sekuel-

Kau tahu hal apa yang paling kubenci di dunia ini? Ya, tepat! Jawabannya adalah menunggu. Menunggu adalah hal yang paling membosankan dan membuang waktu. Hanya orang bodoh yang membiarkan waktu berharganya dibuang begitu saja hanya untuk melakukan hal semacam ini. Well, dan aku salah satu dari banyaknya orang bodoh itu. Sial! Di mana Aiden-menyebalkan itu? Kenapa ia belum juga tiba? Apakah begitu sulit meluangkan waktu untuk kekasihnya sendiri?

Espresso pesananku sudah tinggal separuh. Bila espresso ini habis dan ia belum muncul juga, lebih baik aku pergi saja. Tak ada gunanya menantinya lagi. Yeah, mood-ku hancur. Rencanaku untuk bisa menghabiskan waktu berdua di hari ulang tahun lelaki-bodoh itu, hancur sudah.

“Hai, sendirian?”

Aku mengangkat wajah. Alisku bertaut mendapati seorang lelaki kini berdiri di sampingku. Cukup tampan. Tapi bukan tipe-ku.

“Boleh aku duduk?”

Oh, dia bicara denganku?  Well, yeah… walau sudah cukup lama aku tinggal di negara ini. Tapi kuakui, perkembangan bahasa Korea-ku cukup buruk. Aku agak kesulitan menangkap apa maksud mereka karena gaya bicaranya yang cepat dan tak terlalu jelas.

“Hey, apa kau bisu nona?”

Dia bicara lagi. Sungguh, aku tak mengerti maksudnya. “Emm… sorry, My Korean is bad. Really Bad… so sorry.

Kulihat dia tersenyum. “Ah, Its Okay! I think you’re Korean. Sorry I’m mistaken you.”

“Ah, No. You’re right. I’m Korean, but… yeah, you know… I dont really know how to speak Korean language.”

Lagi-lagi dia tersenyum. Oh, yeah… kali ini kuakui, senyumnya menawan. Tapi tetap tak bisa mengalahkan senyum lelaki-bodoh bernama Aiden Lee itu. Errgghh… sebenarnya ke mana dia?

“Ah, My Name is Jongwoon. Kim Jongwoon. The owner of this cafѐ.” Ia mengulurkan tangannya padaku. Pria ini lucu, tubuhnya lumayan tinggi. Kepalanya sedikit lebih besar sedangkan jari-jarinya… yeah, terlihat sangat mungil.

“Euumm.. Ann Parker. Nice to meet you, Mr Kim.”

“Nice to meet you too.”

“Ehm…” Oh, bukankah ini suara Aiden? Benar! Lelaki bodoh itu kini berdiri di sisi meja. Sebentar, kenapa ekspresinya begitu? Apakah ia cemburu? Haha… lucu. Sangat lucu. Aku bisa menjamin, bila kau menjadi aku… kau akan tertawa terbahak-bahak saat ini juga. “Sudah selesai mengobrolnya?” Sungguh. Bila tak sedang di tempat umum, aku pasti sudah menyemburkan espresso yang kuminum pada orang di hadapanku.

Ouch… sial! Kebiasaannya membuat jantungku melompat belum juga hilang!

———————————————–

“Kenalan baru?”

Aku memutar kepalaku. Setelah sekian lama hening. Ia malah menanyakan hal itu? Yeah, setelah beberapa saat lalu ia membuatku malu dengan tiba-tiba saja menarik lenganku keluar dari cafe—padahal aku belum membayar minumanku—kini ia merajuk hanya karena aku mengobrol dengan lelaki bernama Kim Jongwoon itu? Hey, dia sudah dewasa atau belum? Hal begini saja membuatnya marah.

“Ya, begitulah,” jawabku acuh tak acuh.

Kudengar ia menggeram kesal. “Jadi kau marah karena aku datang terlambat?”

“Awalnya iya, tapi sekarang… aku marah karena kau seenaknya saja menuduhku bermain mata dengan lelaki lain.”

Dia mendengus. Marah? Oh, silakan saja! Akan lebih baik jika aku memiliki alasan untuk segera pergi dari sini. “Bagaimana aku tidak kesal. Seminggu yang lalu, Park Jungsoo, lalu Lee Sungmin, Choi Siwon… dan sekarang… siapa? Pemilik cafe itu? Kim Jongwoon?”

Hey, bukankah aku sedang marah padanya. Tapi kenapa rasanya aku ingin tertawa? Semenjak mengenalnya, kurasa aku memang harus memeriksakan kejiwaanku. “Sekarang, kau tak berbeda jauh dengan Spencer,” sindirku Dan kulihat dia melotot.

“Spencer? Kau merindukan Monyet jelek itu?”

“Setidaknya, ia mencintaiku dengan tulus.”

“Dan apakah kau menyesal telah melepaskannya, Ann?”

“What?”

Kulihat Aiden berdiri dan menarik lenganku agar mengikutinya. “Aku tidak ingin menghabiskan hari special ini dengan bertengkar tak jelas bersamamu. Ayo! Ada suatu tempat yang ingin kutunjukkan padamu!”

Tsk, dasar labil! Baru saja ia marah-marah, dan sekarang… ia bersikap seolah-olah aku yang mengacaukan acaranya. Menyebalkan!

***

Gyeongbok-gung. Begitu menurut Aiden nama tempat ini. Yeah, aku ingat sekarang. Malam itu, saat di Tower Bridge, ia memang pernah berjanji akan membawaku jalan-jalan ke istana raja Korea ini. Walau sekarang, istana ini sudah tak dipakai lagi. Berbeda dengan Inggris, yang hingga kini pemerintahannya berbentuk Monarki.

“Lihat! Mereka sedang berbaris untuk upacara penggantian pengawal kerajaan.” Aiden berceloteh. Matanya tak lepas menatap kumpulan orang berpakaian err… Korea jaman dulu yang kalau aku tak salah dengar bernama Hanbok di tengah-tengah halaman luas ini. “Seperti yang kubilang dulu, di sini juga ada acara semacam itu. Hanya saja, acaranya dilakukan setiap jam sekali,” tambahnya lagi, laksana seorang tour guide yang sedang menjelaskan area wisatanya pada wisatawan asing.

Aku hanya tersenyum kecil. Menyadari usahanya untuk menyenangkanku. Aku bodoh bila harus marah padanya, hanya karena kesalahan kecilnya tadi.

Refleks, kepalaku berputar ke arahnya ketika kurasakan lengannya melingkar di pinggangku. Dalam jarak sedekat ini, dia benar-benar tampan. Aku suka melihat profil wajahnya dari samping. Oh, kenapa mendadak cuaca musim gugur kali ini menjadi sedikit panas?

“Aku memang tampan, tak perlu menatapku begitu.”

“What?” Kutepiskan rengkuhannya di pinggangku dan berlari-lari kecil memasuki pintu istana di hadapanku. Di sini banyak sekali orang yang berkunjung. Memperhatikan setiap benda peninggalan bersejarah yang dipajang di setiap sudut ruangan.

Kakiku berhenti di depan sebuah lukisan tua. Di sana digambarkan seorang lelaki memakai pakaian kekaisaran korea berwarna biru. Di bawah lukisan itu ada keterangan yang menyatakan bahwa ia adalah salah satu Raja Korea pada dinasti Joseon. Raja Sukjong (1661-1720).

Aku masuk lagi ke areal itu. Memperhatikan beberapa guci peninggalan yang sangat berharga. Guci itu berukuran besar, sepertinya usianya sudah cukup tua. Tapi tunggu dulu, kenapa aku hanya sendiri? Di mana Aiden?

Kutolehkan kepalaku ke sana ke mari. Mengelilingi seluruh ruangan. Tapi Aiden tak nampak di manapun. Hey, sialan! Ke mana perginya dia?

——————————————–

Aku terengah. Lelah. Tak tahu sudah berapa lama aku mencari keberadaan lelaki-sialan itu, tapi hingga kini aku tak bisa menemukannya. Ia bagai hilang di telan bumi. Aku bisa gila! Apa sebenarnya yang diinginkannya? Ia sudah tahu aku tak terlalu lancar berbahasa Korea, dan sekarang dengan bodohnya dia meninggalkanku di tempat yang sama sekali asing bagiku. Menyebalkan!

Kududukkan tubuhku di sebuah kursi batu panjang di bawah pohon willow. Mataku masih berkeliaran menyapu setiap sudut tempat ini. Tapi nihil. Dia benar-benar tak ditemukan.

“Arrrgh… Aiden bodoh! Untuk apa dia mengajakku ke mari bila pada kenyataannya dia malah meninggalkanku? Sial!” Kuacak rambutku gemas. Tak peduli rambut itu akan berantakan karenanya. Aku bingung. Benar-benar bingung. Ya Tuhan! Tolong aku!

Bodoh! Kenapa tiba-tiba saja ada air mata di pipiku? Aku menangis? Seperti anak kecil yang tersesat setelah ditinggalkan Ibunya berbelanja? Ini tidak lucu!

Kuhapus kasar air mataku dan menarik nafas dalam-dalam. Baiklah Aiden. Kalau itu yang kau inginkan. Aku lebih baik pulang saja.

Kakiku baru akan keluar melewati gerbang kayu di ujung jalan ketika mendengar keributan di satu sudut tempat itu. Mendadak, perasaanku menjadi gugup. Well, kuharap bukan kejadian yang sedang kupikirkan.

Aku memutar arah ke tempat itu. Menerobos kerumunan orang-orang yang sedang heboh dan meneriakkan sesuatu yang sama sekali tak kumengerti. Aku semakin penasaran. Tapi jantungku juga tak henti berdegup kencang. Separuh hati berharap, ini Aiden dan ia dalam keadaan baik-baik saja. Tapi separuh hati yang lain, ketakutan jika saja sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Aku terdiam di depan kerumunan orang itu. Jantungku mencelos. Sepertinya ada yang jatuh ke bawah perutku. Dia! Aiden. Memang benar. Tapi… apa yang dilakukannya dengan pakaian Raja Korea berwarna biru lengkap dengan aksesoris seperti dalam lukisan Raja Sukjong tadi?

Anehnya, banyak orang yang mengantre untuk bisa berfoto bersamanya. Apakah… ia semacam keturunan putra raja Korea atau… yang lainnya?

Aku terdiam ketika tiba-tiba Aiden mendekat. Tidak. Jangan coba-coba mempermalukanku di depan orang-orang ini. Hey, kenapa dia menarikku? Aiden! Hentikan!

“Annyeong Haseyo,” sapanya pada orang-orang yang sibuk mengantre untuk dapat berfoto bersamanya. Sebenarnya, aku membantu panitia memerankan sosok pangeran Korea adalah untuk memberi kejutan pada kekasihku.”

Aku bisa mendengar orang-orang itu ber-oh panjang dan bertepuk tangan. Sebenarnya apa yang dibicarakannya? Kalau tidak salah, ada satu kata yang kutangkap dan itu berhubungan dengan kata ‘kekasih’. Apa ia sedang mengumumkan pada mereka semua bahwa aku ini kekasihnya? Dia benar-benar norak!

Tapi kurasa… ia tampan juga memakai pakaian itu. Ah, sejak kapan kau pernah menilai bahwa lelaki-bodoh itu tak tampan Ann? Aku benar-benar sudah terbius pesonanya. Hingga ia memakai pakaian apapun, akan tetap terlihat tampan bagiku. Tsk, menyedihkan!

“Ann, aku pangeran tampan Korea… will you marry me?”

“Eh?” Dia.. dia… melamarku? Oh, tidak. Sesuatu yang hangat mengalir di jantungku. Kulihat ia tersenyum, dan seperti biasa… senyumnya benar-benar menawan.

“Ann, Please… answer me!”

Entah kenapa, kepalaku benar-benar kosong. Bingung. Tak tahu harus bersikap apa? Pandanganku teralih pada kotak hitam yang memperlihatkan cincin perak bertahtakan berlian di atasnya. Aku tak menyangka. Dia benar-benar serius.

“Emm…” Sial! Apa yang harus kulakukan? Suara riuh tepuk tangan dari penonton masih terdengar di telingaku. Apakah ini sebuah modus yang kau gunakan, agar aku tak bisa menolak lamaranmu, Aiden? “I’m sorry…”

Kulihat tangan Aiden yang memegang kotak kecil itu, diturunkan begitu saja. “Baiklah! Aku akan menunggu sampai kau mau.”

Riuh tepuk tangan bergema lagi. Aku terlihat seperti orang bodoh bila begini. “Aku belum selesai bicara, Aiden.” Seketika wajah Aiden kembali cerah. Ia tertawa lebar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainannya kembali.

“Aku tahu kau tak akan bisa hidup tanpaku. Buktinya… kulihat kau tadi menangis saat tak bisa menemukanku.”

Sial, dia melihatku menangis! Aku ketahuan! “Jangan senang dulu,” cetusku yang seketika membuat wajahnya kembali kusut. “Aku benar-benar minta maaf… karena aku tak bisa menikahimu, pangeran!” Entah mendapat keberanian dari mana? Aku bisa berkata selancar ini.

“Jadi… kau benar-benar menolakku?” Kulihat kedua alis tebalnya bertaut tak suka.

Aku tersenyum kikuk ketika menoleh ke tempat kerumunan pengunjung yang juga tampak kecewa dengan jawabanku tadi. “Maaf,” tambahku sembari menunduk.

Kudengar Aiden menghela nafasnya pelan. Dan berikutnya, kulihat ia melepaskan topi hitam tinggi yang dipakainya. Ekor mataku menangkap beberapa pengunjung juga mulai meninggalkan kami. Sepertinya mereka merasa, tak ada yang menarik lagi di sini. “Kau menyebalkan, Ann. Menolakku di depan umum. Apakah tak ada sedikit pun yang bisa kau lakukan untuk menyenangkanku di hari—“

Cepat, dan entah atas dorongan dari mana? Aku berjinjit dan mengecup bibirnya sekilas. Aku bahkan bisa merasakan pipiku sendiri memanas. Oh, apa yang telah kulakukan?

“—ulang tahunku,” tambahnya setengah tak sadar. “Kau—“

“Aku menolak menikahimu pangeran Korea, karena aku sudah berjanji akan menikahi seorang pemuda tampan sederhana bernama Lee Donghae atau yang biasa kupanggil Aiden Lee. Itu kelanjutan kalimatku yang belum sempat terselesaikan!”

Sekali lagi, aku bisa merasakan jantungku merosot ke dasar perutku. Saat tiba-tiba ia menarikku ke dalam dekapannya. Hangat. Nyaman. Aiden, jangan pernah menghilang lagi seperti tadi… jujur, aku takut. “I Love You, Ann Parker!” bisiknya tepat di telingaku dan detik berikutnya kudengar kembali riuh tepuk tangan penonton.

Kulepaskan pelukannya. Kurasakan jantungku menderu cepat ketika tangannya yang besar dan hangat menyematkan cincin perak itu di jari manisku. “Mulai hari ini, kau tak bisa pergi dariku Ann.”

Aku menyeringai lebar, ketika teringat aku belum mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. “Saengil Chukhae, Lee Donghae… Pabo!”

What? Siapa yang mengajarimu berkata begitu? Hey! Ann, mau pergi ke mana kau? Gadis bodoh!”

Thanks Dad, pelajaran bahasa Koreamu benar-benar berguna kali ini. Si bodoh itu harus menerima balasannya karena membuatku menangis dan menjadi objek memalukan hari ini. Haha… rasakan kau, Aiden! Calon suamiku!

FIN

28 thoughts on “Dont Leave Me Alone, Pabo! [Ficlet] –HTILY Sekuel-

  1. hahahaha… aiden dikerjain ann… makanya, dengar dulu penjelasan sampai lengkap… tentu aja ann gk akan nikah ma pangeran korea,, karena hatinya cuma buat aiden lee…. *ieuh…..*

  2. waaawwww…….wlaupun cm ficlet tp mnarik eon,ngingetin msa2 dlu wktu aiden hrus brsbar dg sifat angkuhnya hee,..:D
    tinggal nugu lnjutnya panful love neh eon,,hahaha*inget lagi

  3. wkwkwk,,,,,aiden dikerjain ann,,
    ann dipermalukan aiden,,,jadi impas deh🙂
    walau cuma ficlet tapi mampu mengobati kerinduan akan couple ini,,,,
    parahnya lagi ann cuma bisa belajar kata” makian,,,lol

    kapan” bikin cerita lanjutan lagi ttg ann-aiden ya saeng,,,klo sempet,hehehehe

  4. wakaka, kasian bget si abang ikan dikatain babo. ckck^^↵thor, buatin yg lnjtanx si kunyuk a.k.a spencer donk. pnsaran bnget deh ma hubngnx ma cwe *lupa namax*

  5. jenjeng,..oniie saeng datang,..
    astga telat bgd, tau ne WP lgi bersahabat ma saeng jd bru kemarin bsa di bka di lappy sendiri,..

    hua, dilamar raja korea,..eaaa dpn org” lgi dan astga hee sejak kapan kau cepat menangis hanya krn di tinggal donghae,..
    auwww, jd skrang selingkuhan hee bertambah sma abang jongwoon, cihuy lanjuttt,…

    sperti bysa kta” onnie keren dan rapi,…
    skali lgi mian bgd telatttttt komenya,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s