Eunhee’s Diary -EunHae ‘dating’ Moment- [Fourth]

-Fourth-

The Trouble Maker

WARNING!!!! NC 17+ Bagi yang belum cukup umur, harap berpikir dua kali untuk membacanya! Karena kalau tidak, aku gak menanggung akibat yang ditimbulkannya!

 

——————————————————-

Entah sudah kali ke berapa Donghae melirik arloji hitam yang menghiasi pergelangan tangannya. Sejurus kemudian, lelaki tampan yang mengenakan T-shirt berwarna biru pekat dan hoodie abu-abu dengan kacamata hitam besar itu mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang sejak tadi ia genggam.

“Sial!” desisnya karena ponsel itu tak juga menunjukkan adanya tanda-tanda telpon atau pesan masuk.

Saat ini, Donghae sedang berdiri gelisah dengan sesekali mondar-mandir di depan pintu abu-abu muda flat Eunhee. Hampir satu jam dirinya menunggu pintu itu terbuka atau setidaknya ada balasan dari Eunhee untuk pesan yang dikirimkannya tadi. Tapi rupanya, Eunhee benar-benar marah hingga mengabaikannya seperti ini.

Donghae mengerang kesal lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Detik berikutnya lelaki tampan itu berlari menuruni tangga dan berhenti tepat di bawah jendela kamar Eunhee di halaman depan gedung bertingkat tiga itu. Senyumnya seketika terkembang mendapati sekelebat siluet tubuh Eunhee di balik tirai coklat muda yang menutupi jendela besar di lantai dua itu.

Mendadak rasa khawatirnya sirna berganti dengan keyakinan kuat bahwa Eunhee tak akan mungkin tega membiarkannya menunggu terlalu lama. “Eunhee-a! Aku akan menunggumu di sini!” jerit Donghae dan lelaki itu melihat siluet tubuh yang diyakininya Eunhee itu menjauh dari jendela.

“Hah… berapa kali pun kau menghindarinya Hee. Kau tak akan bisa bohong kalau kau mencintai dan mengkhawatirkanku,” lirih Donghae lalu memilih duduk pada bangku batu tanpa sandaran di pinggir jalan. Pandangan lelaki itu tak lepas dari jendela kamar Eunhee, yang hingga kini masih tertutup tirai.

Cukup lama Donghae menunggu. Keyakinannya sekali lagi nyaris goyah, apalagi saat merasakan setetes air jatuh membasahi punggung tangannya. Ketika menengadah, lelaki itu merasakan tetes-tetes air berikutnya membasahi wajahnya, yang semakin lama… tetesan itu semakin kerap dan menguat.

“Sial! Hujan!” makinya lalu hendak beranjak dari kursi batu itu namun urung ketika sekali lagi dirinya mendapati siluet tubuh Eunhee di balik tirai. “Ah, tidak. Kurasa… Tuhan membantu rencanaku dengan menurunkan hujan ini,” gumam Donghae yakin dengan seringai lebar di bibir tipisnya.

Kendati tetesan hujan kini telah berganti dengan guyuran keras dan membasahi sekujur tubuhnya. Donghae tak peduli. Lelaki itu tetap bertahan dengan keyakinannya, bahwa sesaat lagi. Gadis yang sangat dicintainya itu akan turun dan memintanya masuk.

Untuk kesekian kalinya Donghae menggigil ketika angin dan guntur keras terdengar. “Sial! Ayolah Hee… kau tega membiar…” Ucapan Donghae terhenti ketika detik berikutnya ia melihat sesosok gadis dengan T-shirt putih  dan hotpant abu-abu pekat menghampirinya dengan membawa payung biru muda besar di tangan. Senyum lelaki itu terbentuk sesaat kemudian, di tengah gigilan keras tubuhnya. “Aku tahu kau akan—“

“Sebenarnya apa yang ada dalam fikiranmu bodoh?! Kau mau aku dimarahi manajer juga fans-fans-mu karena membuat idola mereka sakit dengan berhujan-hujanan seperti ini?” omel Eunhee ketika gadis itu sudah tiba tepat di depan Donghae dan melindungi tubuhnya dari air hujan dengan payung besar. “Kau pikir dengan begitu aku akan memaafkanmu?” lanjut Eunhee kesal. “Kalau sampai itu terjadi, dan hidupku tidak tenang karena teroran fans-fansmu. Maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu Lee Donghae!” Eunhee mengancam.

Namun anehnya, Donghae hanya tersenyum kecil menanggapi segala omelan Eunhee.

“Ayo cepat bangun! Kau mau mati menggigil kedinginan di sini!” bentak Eunhee. “Dasar lelaki gila!”

“Aku memang gila,” Eunhee terdiam dengan jantung berdebar ketika mendengar gumaman Donghae. “Dan kau tahu karena siapa aku gila?” Refleks gadis itu mundur selangkah ketika Donghae melangkah mendekatinya. “Kau, Lee Eunhee! Karena kau aku berbuat gila seperti ini,” desis Donghae membuat Eunhee menegang. “Dan kurasa, tak akan salah jika fans-fans-ku menghukummu kalau sampai terjadi sesuatu padaku.”

“Mwo?” Eunhee membelalak lebar. “Pulang saja! Jangan per—“

“Maafkan aku!” sela Donghae cepat dan menahan lengan Eunhee sebelum gadis itu sempat berbalik meninggalkannya. “Kumohon!”

“Untuk apa meminta maaf padaku? Aku bahkan bukan kekasihmu yang berhak melarangmu berhubungan dengan gadis cantik itu!”

“Kami hanya berteman! Tidak lebih!”

“Seperti kau dan aku?” Donghae terhenyak. Apa yang dikatakan Eunhee benar. Karena sampai kini, ia belum memproklamirkan secara resmi tentang hubungan mereka. “Sudahlah! Masuk ke rumah dan ganti pakaianmu! Lalu setelah itu… cepat pergi!” Eunhee berusaha menepiskan cengkraman Donghae dan gadis itu nyaris jatuh ketika dengan gerakan cepat Donghae justru menahan kedua lengan atasnya.

“Tidak! Jelas tidak sama seperti kita,” bantah Donghae dan lelaki itu mendengar Eunhee mengumpat pelan saat payung biru yang sebelumnya dipegang jatuh dan terbang tertiup angin. “Aku mencintaimu dan sebaliknya juga begitu.”

Eunhee mendengus. “Kau membuatku basah Lee Donghae! Lepaskan aku!” jerit gadis itu frustasi. “Aku tidak ingin mati kedinginan sepertimu!”

“Kau tidak akan mati kedinginan,” gumam Donghae tenang. “Karena ada aku yang akan selalu menghangatkanmu,” tambahnya sebelum akhirnya menyapu bibir Eunhee dengan bibirnya.

Eunhee merinding nyaman ketika merasakan sapuan lembut bibir Donghae di bibirnya. Awalnya gadis itu meringis sakit ketika Donghae terpaksa menggigit bibir bawahnya untuk membuka jalan. Tapi detik berikutnya, Eunhee kembali terlarut dalam setiap buaian bibir dan lidah Donghae yang bermain dalam rongga mulutnya. Gadis itu tanpa sadar memejamkan kedua matanya dan nyaris jatuh terduduk jika saja tak ada dua tangan kuat Donghae yang menahan tubuh bagian bawahnya. Sensasi aneh yang begitu nyata jelas terasa dan menjalar ke sekujur tubuh gadis itu. Dinginnya cuaca di tengah guyuran hujan lebat itu nyaris tak terasa karena kehangatan yang dibagi Donghae melalui desah nafasnya yang mampu menimbulkan api membara dalam batin Eunhee. Sungguh sensasi yang berbeda berkumpul menjadi satu.

“Mulai malam ini kau milikku! Dan tak akan kubiarkan siapapun memisahkanku darimu,” bisik Donghae di sela-sela ciuman panjangnya.

—————————————————–

Donghae tersenyum puas menatap hasil karyanya. Sebuah cupcake dengan topping berbentuk ikan kecil berhasil dibuatnya setelah semalaman ia tak bisa tidur karena perbuatan adik bungsu Eunhee. Untuk menghalau semua keinginan bodohnya ‘menerkam’ bocah kecil berusia tujuh tahunan yang jelas-jelas telah mengganggu waktu ‘pribadi’nya bersama sang istri, Donghae memutuskan tidak tidur dan keluar kamar. Sengaja menyibukkan diri dengan hobby barunya saat ini.

“Hah… Eunhee pasti akan senang melihat ini,” bisiknya puas dengan mengangkat piring kecil berisikan beberapa cupcake buatannya.

Lelaki itu berjalan dan membuka pintu kamar yang hingga kini masih tertutup rapat. Sekali lagi dengusan kesal terdengar ketika dirinya melihat bocah kecil yang kini terlelap dengan nyamannya di samping Eunhee.

Tak ingin membuang-buang waktu dengan marah-marah tak jelas. Donghae melangkah ke samping Eunhee. Menyentuh pipi wanita itu lembut dengan punggung tangannya. “Hee, bangunlah! Aku ada kejutan untukmu,” bisiknya pelan, khawatir si pengganggu kecil itu terbangun.

Eunhee mengerang pelan. Menggeliat dan berusaha membuka kedua matanya. “Euunghh… Hae, ada apa?” balasnya sembari mengucek kedua matanya.

“Jajaaang! Aku membuatkan cupcake ini untukmu Nyonya Lee.” Dengan senyum lebar Donghae memamerkan cupcake buatannya di hadapan Eunhee.

Eunhee tersenyum lalu beranjak duduk. “Kau yang membuatnya?”

“Ssshh…” Donghae meletakkan telunjuknya di bibir Eunhee sembari melirik pada Jonghee yang masih terlelap di tempatnya. “Tentu saja, jangan sekali-sekali meragukan kemampuan patissier tampan ini,” sombong Donghae membuat Eunhee terkekeh geli.

“Yeah, lumayan bagus!” komentar Eunhee.

“Apa? Hanya lumayan?—Aisshh…” Donghae tiba-tiba mengacak rambutnya sendiri ketika menyadari dirinya lepas kontrol dan berteriak hingga nyaris saja membangunkan Jonghee. “Kaja! Kita di luar saja,” ajak Donghae sembari menarik lengan Eunhee.

———————————————————

“Jadi, kau tidak tidur semalaman karena membuat kue ini?”

Donghae tersenyum. “Yeah, jadi kau harus menghargainya!”

Mianhae…” Eunhee menunduk bersalah. Jadi semalaman kau tidak tidur karena perbuatan adikku? Batin Eunhee miris.

Mianhae?” ulang Donghae bingung. “Untuk apa minta maaf?”

“Karena aku, semalam kau terpaksa tidak tidur.”

“Bukan kau, tapi Jonghee,” koreksi Donghae.

“Jadi kau benar-benar marah?”

“Aku berbohong kalau kukatakan aku tidak marah.”

“Yeah, kau benar.”

Hening. Hanya dentang jam dan desah nafas mereka yang terdengar.

Donghae berdeham singkat lalu meraih bahu Eunhee agar bersandar pada tubuhnya. “Sudahlah! Lupakan saja yang semalam. Kita masih punya banyak waktu bukan?”

Eunhee beranjak dari pelukan Donghae dan tersenyum. “Tentu saja,” setujunya. “Jadi, apa aku boleh memakan cupcake buatanmu sekarang Tuan Patissier tampan? Mendadak… aku menginginkan ‘ikan’ itu.”

Donghae menyeringai nakal merasakan ekspresi menggoda di wajah Eunhee. “Tentu saja boleh. Ikan memang untuk disantap kucing.”

“Apa? kucing?”

“Yeah, kucing. Kau mau mencobanya sekarang kucing nakal?” tawar Donghae sembari mencubit hidung Eunhee pelan.

“Hmm… yeah, berikan aku satu suap cupcake itu,” Eunhee mengerling bagaikan seekor kucing yang benar-benar menginginkan ikan. “Tentunya menggunakan ‘sendok’ special Tuan Patissier!”

Sekali lagi Donghae menyeringai. Tatapan matanya berkilat-kilat nakal dengan cara yang menyenangkan. Disuapkannya sepotong cupcake ke dalam mulutnya sendiri dan dengan tatapan seduktifnya lelaki itu mendekatkan wajahnya pada wajah Eunhee. “Bisa kita mulai sekarang Nyonya Lee?” bisik Donghae agak kurang jelas karena cupcake memenuhi seluruh rongga mulutnya.

Eunhee tersenyum samar. “Tentu,” balasnya tak kalah menggoda dan nyaris saja menempelkan bibirnya di bibir Donghae ketika mendengar derit pintu terbuka.

“Oh, sial!” maki Donghae berusaha menelan dengan susah payah cupcake yang ada di mulutnya mendapati Jonghee tengah berdiri di depan pintu kamar mereka. Memandangi Donghae dan Eunhee seolah baru saja ketahuan mencuri ayam. “Kalau dia bukan adikmu, sudah kucincang-cincang tubuhnya dengan pisau,” gerutu Donghae pelan dengan tangan mengepal kuat. “Aww!” Donghae menjerit ketika merasakan cubitan Eunhee di pinggangnya.

“Ah, kau sudah bangun Jonghee-a.” Detik itu juga Eunhee beranjak dari sofa dan menghampiri sang adik.

“Apa yang Noona dan Hyeong lakukan?” dengan suara beningnya, bocah itu bertanya.

Seketika itu juga wajah Eunhee memerah. “A-ani… kami hanya sedang… makan kue,” bantah Eunhee. “Kau mau?” tawarnya dan dengan antusias Jonghee mengangguk. “Kaja!”

Donghae meringis frustasi sembari menatap Jonghee yang memakan dengan lahap hampir semua cupcake buatannya. “Enak Hyeong!” kata Jonghee senang dengan jempol teracung ke udara.

Dasar setan kecil! Donghae membatin kesal.

Ketika Jonghee baru akan mengambil cupcake terakhir yang tersaji di atas meja, dengan cepat Donghae mendahului dan tersenyum puas karena berhasil merebut cupcake itu lebih dulu. Apalagi saat melihat ekspresi kecewa Jonghee.

Hah… enak saja kau yang menikmatinya sendiri, sementara aku harus tidak tidur semalaman karena membuat kue ini, batin Donghae puas.

Donghae menoleh ketika merasakan sikutan lengan Eunhee di pinggangnya. Tapi lelaki itu berlagak tidak peduli dan dengan seenaknya memakan cupcake terakhir yang ada di tangannya. Sementara Jonghee memperhatikan dengan tidak rela cupcake itu masuk ke dalam tenggorokan Donghae.

Eunhee yang melihat kejadian itu hanya menggelengkan kepalanya dan berdecak pelan. “Kau sama kekanakannya dengan Jonghee, Hae,” cibir Eunhee sebelum wanita itu beranjak dan menghampiri sang adik yang sampai kini masih merengut memandangi piring kosong di depannya. “Jonghee-a, hari ini kau mau jalan-jalan ke mana? Taman bermain, kebun binatang atau—“

“Taman bermain!” cetus Jonghee gembira. “Lalu setelah itu, ke kebun binatang!” tambahnya lagi.

Donghae mendengus. “Dasar rakus!”

“Hae!” Eunhee mengingatkan dan Donghae memalingkan wajahnya kesal lalu beranjak dari sofa untuk mengambil air minum.

“Kalau begitu, cepat bersiap-siap… kita akan berangkat secepatnya,” perintah Eunhee pada Jonghee.

“Ne, Noona!” jawab Jonghee riang. Tujuannya berlibur ke Seoul tidak akan sia-sia kali ini.

“Kau sudah bisa mandi sendiri kan? Sudah sana, Noona akan—“

“Mandikan! Aku tak bisa membersihkan punggungku! Tanganku terlalu pendek Noona.”

MWOOO?” Jonghee tersentak dan berjengit mundur ketika tiba-tiba saja Donghae sudah berdiri di sampingnya sembari berkacak pinggang.

“H-hyeong!” Jonghee mengerutkan badannya takut-takut.

“Kau menakutinya Hae,” Eunhee menengahi dan saat itu juga Jonghee bersembunyi di balik punggung Eunhee.

“Kau tidak dengar? Dia minta dimandikan?” bentak Donghae kesal.

“Lalu? Apa ada yang salah dengan itu?” balas Eunhee datar. “Jonghee masih kecil, dan kurasa itu wajar bagi anak seusianya untuk dimandikan. Lagipula, aku dan dia kakak beradik.”

ANDWAEEE!!! YA! Jonghee-a, kau sudah besar. Sudah bersekolah! Jangan merepotkan Noona-mu lagi. Mandi sendiri sana!” suruh Donghae tak rela.

Eunhee mendengus, antara geli dan kesal. “Jadi… kau cemburu pada Jonghee?”

“A-ani!” bantah Donghae lalu memalingkan wajahnya ke dapur.

Eunhee terkekeh, “Ya sudah kalau tidak cemburu. Kenapa harus marah? Jika kau juga sering meminta hal yang sama padaku. Kaja! Jonghee-a, kita mandi!”

MWOOO? Kita?”

—————————————————

Sementara Eunhee memandikan Jonghee. Donghae yang masih kesal memilih mengunci diri di kamar. Diam-diam lelaki itu tersenyum ketika teringat pada Diary merah Eunhee.

Daripada aku sibuk memikirkan si setan kecil itu, lebih baik aku membaca buku ini, batin Donghae lalu mulai membuka lembar demi lembar Diary itu.

-3 November 2009- 

Hae… apa kabar? Setelah dua hari yang lalu aku baikan dengannya. Mendadak hari-hariku menjadi indah. Hari itu, akan menjadi hari bersejarah bagiku. Ya, karena tepat tanggal 1 November itu, dia menyatakan diri sebagai kekasihku. Dan aku tak perlu ragu lagi tentang perasaannya padaku.

Oh, Hae… kalau aku ingat ciuman di tengah hujannya waktu itu. Rasanya pipiku masih sering memanas. Sensasi aneh itu masih terasa hingga saat ini. Di tengah dinginnya hujan, kehangatan bibirnya yang menghangatkan bibirku… ah… Kurasa… aku sudah gila karena sering sekali senyum-senyum sendiri karenanya! Menyebalkan!

Hmm… iya, besok aku akan pulang ke Mokpo. Walau tidak rela meninggalkannya di Seoul seorang diri dan harus berpisah dengannya selama seminggu ke depan. Tapi aku tak bisa menolak permintaan Eomma yang menyuruhku pulang karena bibi yang biasa membantu di rumah sedang ada keperluan keluarga di Jinan, hingga membuat Eomma kesulitan menjaga Jonghee. Adik bungsuku.

Sebenarnya aku heran, kenapa Appa masih saja menginginkan anak saat usiaku dan Minhee sudah menginjak usia remaja. Sedangkan Eomma sudah hampir 40 tahunan saat itu. Tapi yeah… aku tetap senang saat Jonghee lahir, karena akhirnya bisa memiliki adik lelaki. Walau usianya terpaut jauh denganku. Tak jarang, orang-orang sering mengira dia anakku. Tsk, menyebalkan! Memangnya aku setua itu?

Donghae menutup mulutnya menahan geli. Jadi, kau juga merasa sebal dengan si setan kecil itu Hee? batin Donghae puas.

“Ah, jangan khawatir. Bocah tengil itu tak akan bisa lagi mengganggu kita,” cetus Donghae ketika sebuah ide mampir di otaknya.

———————————-

Dengan seringai lebar, Donghae menghampiri kamar lain yang ditempati Jonghee dan sempat mendengus ketika melihat Eunhee tengah sibuk menaburkan bedak di punggung Jonghee.

Setan kecil, kau akan kukembalikan ke alammu. Bersama dengan teman-temanmu yang lain, batin Donghae puas.

“Hai, kalian sudah siap?”

“Eo?” Eunhee terbelalak kaget ketika mendapati sang suami sudah bersiap-siap memakai T-shirt abu-abu dan Hoodie hijau pekat yang dipadu dengan celana pendek selutut. “Hae-a… kau bilang tadi tak bisa ikut—“

“Aku berubah pikiran!” potong Donghae cepat lalu berjongkok di hadapan Jonghee yang kini meringis ketakutan. “Hallo adik kecil, kau mau jalan-jalan dengan Hyeong?”

“Emmm… aku… emmm… Noona?” rengek Jonghee sembari melirik Eunhee meminta pendapat sekaligus bantuan.

Eunhee tersenyum lalu mengelus puncak kepala Jonghee. “Tenanglah, ada Noona yang akan menjagamu.”

“Ani,” Donghae menyeringai membuat kening Eunhee berkerut bingung. “Kita akan pergi berdua saja. Bagaimana?”

“Hae!”

“Kau tunggu di sini Hee, aku tak akan membunuh adikmu. Tenang saja,” katanya lalu tanpa menunggu persetujuan Jonghee—yang kini sudah selesai berganti pakaian—langsung menarik lengan bocah kecil itu agar mengikutinya. “Kita akan bersenang-senang!”

————————————————

Eunhee bergerak-gerak gelisah di sofa yang ditempatinya. Pikirannya sibuk memikirkan rencana apa yang dipikirkan Donghae untuk Jonghee. Ia yakin Donghae tak akan berbuat hal berbahaya pada sang adik. Tapi melihat seringai lebar yang ditunjukkan Donghae tadi, membuat Eunhee tak hentinya khawatir akan ide gila yang mungkin mampir dalam benak sang suami.

Mungkinkah jiwa evil Kyuhyun merasuk dalam tubuh Donghae, batin Eunhee gemas.

“Aigoo… apa yang kau pikirkan Hee? Jelas-jelas itu tidak mungkin,” Eunhee bergumam pada dirinya sendiri lalu meraih remote TV dan menyalakannya untuk menghilangkan semua prasangka buruknya pada sang suami.

Eunhee nyaris saja berdiri untuk meraih ponselnya dan mendial nomor Donghae ketika dirinya mendengar nada ‘tililit’ dari pintu. “Hae?” desis Eunhee lega tapi detik berikutnya ia dilanda panik saat tak menemukan Jonghee di sebelah Donghae. “Di-di mana adikku?”

Donghae menyeringai. “Tenanglah! Dia sudah senang sekarang.”

“Mwo? Senang? Jangan membuatku takut Hae!” desis Eunhee kesal.

“Kau tak perlu takut sayang…” Donghae meraih pinggang Eunhee dan menatap wanita itu dalam. “Aku bukan orang jahat yang biasa membunuh anak kecil.”

“Lalu? Di mana dia sekarang?”

“Bersama temannya.”

“Teman?” ulang Eunhee tak percaya. “Seingatku, dia tak memiliki teman seorang pun di sini.”

Donghae membelai kening Eunhee dengan punggung tangannya. “Oh, kau tak tahu Hee… adikmu itu banyak memiliki teman di sini.”

“Siapa?” desak Eunhee khawatir.

“Sudahlah, sebaiknya kita lanjutkan saja permainan kita semalam, huh? Bukankah kau juga menginginkannya setengah mati?” dengkur Donghae lalu menyurukkan wajahnya ke leher Eunhee.

“Hae, ayolah! Aku serius!”

“Aku juga serius Hee…” bisik Donghae sambil terus menggigit kecil leher dan tengkuk Eunhee hingga wanita itu mengerang merasakan sensasi aneh yang menjalar ke sekujur tubuhnya.

“Ayolah… Hae! Setidaknya… ah, katakan dulu di mana Jonghee?”

Donghae mengangkat kepalanya kesal. “Berhentilah mengkhawatirkannya Hee. Apa kau tidak percaya pada suamimu?” sungut Donghae marah.

“Mengingat bagaimana kesalnya dirimu karena perbuatan Jonghee selama seharian ini. Aku khawatir kau berbuat nekat  dengan…”

“Dengan apa? Membunuh atau menjual setan kecil itu?”

“Mwo? Setan kecil?”

“Oh, ayolah Hee! Lupakan dia… aku membutuhkanmu sekarang.” Sekali lagi Donghae menyurukkan kepalanya di leher Eunhee, namun dengan cepat Eunhee menengadahkan kepala Donghae dengan kedua tangannya.

“Kau menyuruhku melupakannya?” dengus Eunhee. “Kau tidak dengar apa kata Eomma kemarin? Selama di Seoul, Jonghee menjadi tanggung jawabku Hae… kau tak—hmmmphh”

Eunhee mengerang protes sembari meninju-ninju dada bidang Donghae ketika tiba-tiba lelaki itu membungkam bibirnya dengan ciuman yang cukup menuntut. Tinjunya melemah ketika merasakan ciuman Donghae semakin memabukkan dan nyaris saja membuat Eunhee lemas dengan sensasi menyenangkan yang ditimbulkannya.

“Tenanglah! Jonghee sedang bersenang-senang dengan teman setannya di neraka.”

“MWOOO?” Eunhee membelalak lebar. “Neraka katamu?” bentaknya sembari terengah.

———————————–

Sementara di tempat lain…

PRAAANGGG!!!

“Ya! Ya! Lee Jonghee… apa yang kau lakukan? Itu mangkuk keramik kesayangan Jiae?” Kyuhyun menjerit panik dan saat itu juga melempar PSP di tangannya.

“Hyeong, PSPmu!”

“Kyaaa!!! Setan kecil menyebalkan!” jerit Kyuhyun frustasi lalu menghampiri dan meratapi nasib PSP putihnya yang kini berserakan di lantai karena terlalu keras membentur dinding saat terlempar. “Hey, Ya! Ya! Jangan! Jangan sentuh komputerku! Ya! Lee Jonghee!”

Namun terlambat, Jonghee keburu memencet tombol—entah apa itu—yang mengakibatkan komputer Kyuhyun mati total.

“Aigoo… Lee Donghae! Tak cukup hanya kau saja yang merusak barang-barangku?” gerutu lelaki yang gemar bermain game itu. “Hey… Lee Jonghee! Jangan… jangan yang itu! Itu pigura kesayangan Jiae! Ya!”

PRAAANGG!!!

“IKAN MOKPO SIALAN!!! AWAS KAUUU!!!”

———————————————————–

“Jadi, kau menitipkannya di tempat Kyuhyun dan Jiae?” Eunhee membelai lembut rambut acak-acakan Donghae sembari menyandarkan dirinya di lengan sang suami. Menguap pelan merasakan kantuk yang mendesak setelah apa yang terjadi beberapa saat lalu.

“Hmm..” Donghae tetap memejamkan matanya lalu menarik selimut agar menutupi punggung telanjang Eunhee.

“Apa Kyuhyun mau?” desak Eunhee sembari membelaikan tangannya di dagu Donghae yang mulai terasa kasar karena pagi tadi, pria itu lupa bercukur.

“Bukankah dia sedang berlatih merawat anak? Lagi pula, Jonghee senang di sana karena Kyuhyun memiliki banyak game yang bisa dimainkannya,” ceritanya tenang walau jelas-jelas saat menitipkan Jonghee tadi, ia bisa melihat ekspresi tak terima Kyuhyun. “Apalagi sekarang Jiae sedang di luar kota, jadi dia pasti kesepian di rumah seorang diri.”

Eunhee tersenyum lebar. Merasa lega karena sang suami ternyata sangat peduli pada adiknya. “Begitu, kau benar juga,” katanya lega lalu menyurukkan kepalanya di leher Donghae. Mencium dan menggigiti pelan area itu, hingga Donghae menggelinjang senang dan tanpa sadar meremas kuat bokong Eunhee yang tampak semakin berisi karena kehamilannya.

“Sekali lagi Hee,” bisik Donghae tepat di telinga Eunhee ketika merasakan desakan gairah yang kembali meningkat setelah perlakuan Eunhee tadi. Eunhee tersenyum menanggapi. “Kau masih kuat kan anakku?” Donghae menatap dan mengelus lembut perut buncit Eunhee seolah-olah sedang meminta ijin langsung pada calon anaknya. Lalu detik berikutnya beralih menatap langsung mata sang istri. “Kau… juga kan?”

“Tentu!” balas Eunhee lalu…

Please Dont… Please Dont Say Good Bye!
Please Dont Please Dont Say Good Bye!

Donghae mengumpat ketika mendengar nada dering ponselnya karena sekali lagi sukses menyela kesenangannya. Setan kecil itu sudah pergi, sekarang siapa lagi setan lain yang menggangguku? Gerutu Donghae dalam hati.

“LEE DONGHAE!!! MATI KAU!” Donghae mengernyit dan dengan cepat menjauhkan telpon itu dari telinganya ketika mendengar teriakan Kyuhyun di seberang.

“Benar-benar setan!” desis Donghae kesal.

 

TBC

  

Mwahahaha…. STOP!!! STOP!!! STOP!!! Ini sudah terlalu banyak yang kuungkap. Klo ditambah lagi ntar aku dilaporin ke komisi perlindungan anak (?) karena telah menyebar pornografi pada anak di bawah umur #Plakk
Haduh… padahal tanganku gatel (?) banget pengen nerusin wkwkwk *diinjek*
Silakan! Ditunggu pendapatnya! Mian klo bagian ini agak aneh dan gak nyambung. Ini ulah otakku yang kepikiran yadong (?) mulu *dikemplang*
Hayooo Eunhae’s Mates! Silakan dibaca dan dinikmati (?) Errrr *ngumpet dalem selimut*

72 thoughts on “Eunhee’s Diary -EunHae ‘dating’ Moment- [Fourth]

  1. OMOO!!!
    yang ini yang ini astagahhhhhh!!!! entah kenapa aku deg-deg serrr bacanya eonnie kekekkee*otak yadong*

    setan kecil itu keren, dan ya ampun tuh ikan amis pervert banget disini.
    joaaaaaaaaaaa😀

  2. Ahahahaha tadi stalkerin fb eonni. Eh udh publish aja.
    Ampun deh hae kepikiran nitipin jonghee ke kyu? Sm aja ngirim tu anak ke neraka. Hahahaha

  3. jenjeng,..
    oke saeng muali dri yg part 4,..aigu
    wih ciuman di bwah hujan jd inget film hee,..
    basah..hangat dan mengairahkan,..eh?

    astga, hee masa cemburu dgn anak kecil, adik hee pula! geleng” kpla
    eh? DK dia berpengaruh pd kehidupannya… mau dong cup cake.a, cba kyu jg bsa masak,.. -____-

    hihhihi, setam kecil penganggu,..
    yakin bgd dh tu hae mau telen adq hee krn mengintrupsi apa yg dia mau…kekekekeke

    Aish! YA…..
    Apa itu, titip di suami saeng? mentang” sma” evil dan hua…… keramik dan pigura saeng di hancurkan,..
    Hae oppa kau berhutang padaku!

    Aigu, EunHae g da matinya soal ‘itu’ padahal lgi hamil bsa” tu ank keluar duluan,..#ditimpukin

    • Ah, iyee bener juga. Baru nyadar adegan di PK gitu yah? muahahaha *ditendang*
      DK??? apa itu? haha

      Hoakakak… Pisss!! minta ganti ruginya ama Jonghee tuh :p
      kan udah 6 bulanan, jadi gak masalah #PlakPolkkk

  4. yadong o.O
    *tutup mata* belum cukup umur #intip dikit
    nasib kyu kasian ya ckck sabar yaw :3
    buat donge, sabar y d terusinnya part selanjutnya :p

  5. Kyaaaaa sesama setan dilarang mendahului Kyu kkkkkk *apa coba mksdnya*

    Hae frustasi banget kayanya gara2 si jonghee hahaha..Bagus saeng FFnya..knp NC nya 17 knp bukan 20 keatas *ehh* #plak ketularan yadong jg kkkkkkk

    Ditunggu kelanjutannya yaa saeng ^^

  6. kyaaaa,,,,,kissue dibawah hujan,,,romantis bangeeeetttt

    hae-ya,,,,aq mau dong disuapin cupcake nya pake ‘sendok’ yg spesial*sodorinbibir* #plak*kkkkk

    oen jadi senyum” gaje nih bacanya gara” donghae sebel ma adek’y hee,,,,mana pake dikirim ke rumah kyu pula*setan ketemu setan*huahahaha,,,,
    omo,,,omo,,,,saeng,inget anak,,,,
    tapi klo bisa sih diperjelas “kegiatan’y” ,hehehe,,,#ketularanvirusyadongakut

    dtunggu ff’y yg lain🙂

    • Emang Eon!!! rasanya tuh ya… campur aduk bangett!! #sokIye
      namanya jadi RAINKISS #Plokk

      Halah… si Eonnie ngikut2 ajah :p

      Astagaaaa Eon! klo diperjelas ntar malah gak penasaran lagi donk! #ehhh

  7. eeerrrr…..hae bnr2 kkanak2an,wlaupn adk iparny emg nybelin,hehe…tepat bngt eon dti2pin ma evil kyu,biar skali2 dy ngrsain dijahilin ma ank2,kekeke
    ngmg2 hae dsni jd nakal bngt,g kpikiran yah,trnyt hae dh ktularan couple na,#lirikHyuk
    bca na g blh d resapi neh biar g kbwa yadong…hehehe
    dtngu slnjtny eon,fighting!!!

  8. Wkwkwkwkwkwkwk.. benar2 ngakak ngebayangin si Kyu ma Jonghee tadi setan kecil bertemu setan dewasa ckckckck… Udah ngebanyangin pasti Donghae nitipnya ke Kyu..😀

    Omo… Donghae mah parah cemburunya.. *geleng2kepala*
    Kok cemburu ma anak kecil dan adik kandungnya Eunhee?? Hahahahaha… Tapi tetap aja ceritanya keren..🙂 Ditunggu next nya thor..😉

  9. yadongg!!!! ketularan park eon…
    tapi kurang hot… #plakkkk
    tumben pendek mak..????

    mending si jonghee lempar kyu aja sekalian,,, hahahahah

    seru yakin,, jadi pengen ngrecoki eunhae jugaaaaaa

    • huakakak… kan cuma 17+
      Klo Park mah jangan diragukan lagi :p

      Haashhh… pendek mulu ah -,-
      Seneng banget ama yg panjang2 ye?? *digampar*

      YAAAKHHH!!! jangan coba2 gangguin kami! *siapin piso*

  10. aaa bagaimana ini pikiran ku teracuni oleh yadong *alay* wkwk
    unnie ni ya bikin-bikin yadong, demen baca ff nc pasti XP

    yg ciuman ditengah guyuran ujan itu so sweet banget aaa jadi pengen..

    kasian ya Kyu dititipin setan kecil sama Donghae
    kirain karna sama-sama ‘setan’ mereka be2 bakal akur ternyata engga😄
    eh eh kenapa disetop coba, padahal kan lagi enak *enak apanya ki?*
    readers kecewa ni unnie kkk

  11. Donghae senang, Kyuhyun sial…. hahahaha… ide yg bagus membawa jonghee ke sarang raja evil… hitung2 latihan klo ntr punya pangeran evil… bwahahahahahaha

    omo omo omo #tututpmata apaan tuh? aku kn belum cukup umur (?) *gk nyadar umur*
    kok aku suka ya.. setiap kali Hae kesel diinterupsi terus??
    cukup yadongnya,, saeng mw tobat dulu.. hahaha

  12. Ahahahahahaaaaa, part ini seru…. Liat Donghae yg blingsatan gara2 ga bs mesra2an ma Eunhee and Kyuhyun yg tanduknya keluar gara2 dititipin Jonghee sama si Donghae
    Next chapter please

  13. oh, astaga, saya baru baca..
    dan, astaga lg, *tutup mata*, it Eunhae ngapain? wkwkwk, tp syangnya trgnggu lg ya acr mrka? #plak..
    gak bs komen byk2 deh Unn, cm bs geli2 sndri..kyahahaha*evil laugh*XD

  14. Saengiii mian aku baru comeback,, jadi baru bisa comment sekarang…
    ehm.. ehm.. adegan di part ini ohok.. ohokk.. (apaan sih -.-) aku suka????
    hahaha, akhirnya jadi juga tu si Hae ma Hee bersenang- senang???
    Aku gak banyak omong deh, ehm intinya mari ditunggu kelanjutan kisah ini ocre.. ocree…
    reader galau pamit dulu ya.. bye saeng!!! ^^

  15. Annyeong, aku reader baru. Bangapta…

    Stelah ubek-ubek om google akhirnya nemu wp khusus DongHae. Aplagi stelah bc ff-nya, aku suka dengan gaya bahasanya author.

    Tp sprtinya ini msh PG17 bkn NC17. wkwkwkwk
    *KetahuanYadong

  16. Ah nanggung…aigo oppa masa cemburu ma anak 7thn sih.tapi kasian ma kyupa ga kebayang panik dan marahnya kyupa ngehadapin jonghee yg sama2 evil

  17. Anyeong, new readers. Young hee imnida😀 uweeee abang fishy mesum o_o wkwk seruuuu ff nya kerennnnn, cuma kurang banyak nc nya(?) /plakkk ketahuan pervert wkwk/ *lupakan -_-“

  18. aku cukup khawatir tadi waktu donghae oppa mau bersuka rela mengajak jonghee pergi bermain keluar, aku kira dia bakal ninggalin jonghee di taman bermain ehhh ternyata dia nitip jonghee ke rmh kyuhyun oppa kekke
    ff ini lucu karena jonghee yg sukses membuat donghae oppa kesal kekek

  19. Annyeong new reader🙂 titi imnida bangapta
    Omo *cengo kak ff mu itulohh… keren abis aku suka (y) wlaupun ada unsur *ekhm yadong nya kkk~ tapi bahasa nya halus gk vulgar jdi suka baca nya hahaha…
    *plak

  20. wkwkwkwk , donghae luchu .
    gk mao waktu’a di ganggu sama jonghee .
    kyu kasian banged , barang2’a pada di rusakin .
    ntar kalo jiae pulang liat perabotan’a pda hancur gmana yah ??

  21. ngakak oen >< eunhee mah ikutan jd wild girl xD trnyta bner dugaan ku klo joohee sm kyunhyun secara setan pling trkenal dia xD
    eh trnyta eunhee halimo_O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s