It’s You -Part 3-

 Part 3

Author: EunheeHAE

Cast: Donghae (Aidѐn), Eunhee (OC), Cassia (OC), Adѐlle (OC), etc (selebihnya cari sendiri)

Genre: Fantasy, Romance, Family

Lenght: Chaptered

-Sun Hotel-

Suite-room hotel berbintang dengan dominasi warna coklat dan emas yang menghiasi hampir seluruh sudut kamar berluas 6 x 6 meter persegi itu, tampak sangat sunyi. Berbagai peralatan canggih dan sebuah ranjang berukuran King Size dengan ukiran dari kayu ebony kehitaman yang diplitur hingga permukaannya mengilap menjadi daya tarik tersendiri dari kamar tersebut. Lukisan besar bergambar pepohonan hijau seolah menjadi pemandangan kontras bila dibandingan dengan pemandangan yang tampak dari jendela besar yang mengarah langsung pada laut biru di hadapannya.

Cassia menguap lebar-lebar dan meregangkan otot-ototnya yang kaku ketika merasakan sinar matahari musim panas—yang menelusup masuk melalui tirai coklat susu yang menutup jendela besar di kamar itu—mengenai matanya. Untuk sesaat, gadis itu terhenyak mendapati seraut wajah tampan terpampang jelas di hadapannya.

Lelaki berwajah oriental dengan kulit kuning langsat, alis tebal dan hitam yang melengkung indah di atas mata sipitnya yang kini masih terpejam, hidung mancung yang seolah terpahat sempurna dan bibir mungil yang apabila melengkung, akan menimbulkan dua cekungan dalam pada kedua pipi tembamnya, untuk sejenak tampak begitu sempurna di mata Cassia. Gadis itu bahkan bisa kembali merasakan lembutnya bibir itu ketika menyentuh permukaan kulitnya semalam dan bagaimana ‘liar’nya permainan pria itu, walau kini wajah tampannya tampak begitu damai saat tengah terlelap.

Bagaimana mungkin ada Neirdos sesempurna ini? batin gadis itu jengah.

Ini bukan kali pertama bagi Cassia ‘bercinta’ dengan Neirdos yang ditemuinya. Karena ‘bercinta’ dengan lelaki-Neirdos bagi bangsa Nymph, adalah kebutuhan yang tak bisa dielakkan. Sebulan tanpa ‘bercinta’, bangsa Nymph bisa dipastikan akan kehilangan energinya. Bahkan tak pelak, mereka membunuh lelaki-lelaki yang pernah menjadi korbannya hanya untuk menghilangkan jejak. Tapi entah mengapa, lelaki ini tampak begitu istimewa di mata Cassia. Gadis itu bahkan bisa merasakan energi yang luar biasa dahsyat mengaliri tubuhnya setelah ‘penyatuan’ mereka terjadi.

Tanpa sadar, Cassia sudah mencondongkan tubuhnya untuk kembali merasakan bibir lembut itu menyentuh bibirnya. Bahkan ia bisa merasakan bulu kuduknya meremang ketika nafas hangat pria itu menyapu kulitnya yang telanjang.

Cetuk… cetuk… cetuk….

Bunyi bergeletuk yang ditimbulkan dari permukaan gelas kristal yang beradu dengan meja nakas membuat Cassia tersentak dan urung melaksanakan niatnya mencium lelaki itu. Bola mata berwarna hazel itu sontak membelalak lebar mendapati wajah Adѐlle di permukaan air yang mengisi gelas kristal itu.

“Yang Mulia!” Cassia bahkan nyaris membangunkan Siwon karena teriakannya yang tiba-tiba. “Apa yang kau lakukan?” tambahnya dengan suara lebih lirih setelah sebelumnya memastikan lelaki itu tak mendengar apapun.

Akhirnya, aku menemukan keberadaanmu,” balas Adѐlle mengabaikan keterkejutan sang Nymph. “Maaf kalau aku mengganggu acaramu Cassia.”

“Sama sekali tidak,” balas Cassia tenang, walau dalam hati gadis itu mengiyakan. “Dari mana kau tahu aku ada di sini?”

Aku bisa melacak di mana Merѐnia berada.” Tanpa sadar Cassia melirik jaket coklat tua—milik Eunhee—yang kini tersampir sembarangan di kursi malas, tepatnya pada pendar kebiruan yang tampak dari dalam saku jaket itu.

Dia hebat juga, batin Cassia masam.

“Ah, semalam terbawa kare—“

Tak perlu dijelaskan,” potong Adѐlle cepat. “Sebaiknya kita cepat kembali ke Aegeia dan memberikan batu itu, sebelum Ayahanda marah karena kakakku tak juga menyelesaikan misi-nya.

“Tapi bagaimana dengan Pangeran?”

Abaikan saja,” desis Adѐlle kesal. “Dia terlalu sibuk memikirkan roman-picisannya dengan Neirdos yang sedang sekarat itu.

“Tuan Puteri, apa kau benar-benar tak peduli pada kebahagiaan kakakmu?”

Oh, ayolah Cassia. Jangan mendebatku! Keselamatan Aegeia jauh lebih penting dibandingkan Neirdos itu. Kita tak punya waktu lagi, sebelum kakakku menemukan, kita harus sudah kembali ke Aegeia,” titah Adѐlle tegas lalu detik berikutnya wajah itu menghilang setelah pendar keperakan muncul di permukaan air.

Cassia menghela nafas, ia bukannya tak tahu akibat apa yang akan menimpa Neirdos bila berhubungan dengan batu berharga milik raja Aegeia itu. Tapi entah mengapa, ia merasa kasihan pada Donghae dan gadis itu, bila harus terpisahkan dengan cara seperti ini.

“Ah, Adѐlle benar. Untuk apa aku repot-repot memikirkannya. Pasti karena pengaruh…” Cassia tak melanjutkan gumamannya ketika pandangannya tertumbuk pada sosok tampan Siwon yang hingga kini masih asyik meringkuk di bawah balutan selimut coklat tua tebal. Tubuh Siwon yang bertelanjang dada dengan otot-otot kuat dan tegas, tampak begitu menggairahkan walau kini lelaki itu tengah terlelap. Tanpa bisa dicegah, otaknya mengulang kejadian ‘menggairahkan’ semalam hingga kedua pipi Cassia merona.

“Bila Nymph berhasil ‘bercinta’ dengan pasangan takdirnya, maka energinya akan bertambah sepuluh kali lipat dari sebelumnya. Bahkan, bila mereka bisa bersatu. Maka, ia akan memiliki kecantikan abadi yang tak akan goyah oleh waktu.”

Cassia menggeleng tegas. Dengan cepat gadis itu beranjak dari tempat tidur nyaman yang ditempatinya bersama Siwon. Tubuh sempurna berlekuk indahnya hanya terbalut kemeja putih kebesaran milik lelaki itu.

Tidak. Dia tak mungkin pasangan takdirku, tolak Cassia dalam hati.

-Donghae Beach-

Donghae menatap sendu gadis yang tertidur lemah di ranjang. Lelaki itu bahkan bisa merasakan denyut nadinya melemah dari waktu ke waktu. Saat pagi tadi menemukan gadis yang begitu dicintainya tak sadarkan diri, pertahanan dirinya hancur. Tangan kuatnya tak lepas menggenggam erat jemari Eunhee, seolah sama sekali tak ingin berpisah dengan gadis yang selama beberapa minggu terakhir mengisi hari-harinya.

“Bila aku tahu semuanya akan seperti ini. Aku tak akan membiarkanmu menyimpan terlalu lama Merѐnia itu Hee,” lirih Donghae pilu. “Maafkan aku…”

Donghae menyeka titik keringat di kening Eunhee, mendekatkan kepalanya dan mengecup kening lembut itu pelan. “Bertahanlah Hee,” bisik Donghae parau, seolah-olah gadis itu dapat mendengar ucapannya. “Aku akan berusaha menyelamatkanmu. Aku janji,” tambahnya dan tepat saat itu juga buliran air hangat jatuh yang detik berikutnya bulir-bulir air itu memadat dan mengkristal dengan cepat. Kristal-kristal tersebut berjatuhan di tempat tidur bertutup sprei katun jingga itu.

“Hey, bisakah kau minta ijin dulu sebelum masuk?”

“Kenapa aku harus minta ijin jika ini rumahku?”

“Tapi—“

BRAKK!!!

Donghae tersentak mendengar teriakan-teriakan seorang pria dan wanita ketika pintu kamar menjeblak terbuka. Matanya melebar mendapati seorang pria berwajah tampan berdiri tepat di depannya. “Siapa kau?” tanyanya seraya berdiri waspada.

“Harusnya aku yang bertanya, siapa kau? Kenapa ada di—Oh, tidak! Apa yang kalian lakukan pada adikku?” jerit lelaki tampan itu seketika menggeser tubuh Donghae dan menghambur ke tempat tidur di mana Eunhee berada. Lelaki itu lantas meraih tubuh Eunhee yang lunglai dan mengguncangnya. “Hee, kau kenapa? Oh, kumohon bangunlah! Aku sudah pulang!”

“Aku sudah berusaha menahannya,” terdengar suara Adѐlle yang sontak membuat Donghae menoleh.

Masih sedikit bingung, Donghae mengalihkan perhatiannya lagi pada pria yang kini sibuk mengkhawatirkan keselamatan Eunhee itu, dan sengaja bergumam. “Eunhee tak pernah bercerita kalau ia memiliki seorang kakak laki-laki.”

Detik itu juga, lelaki tampan—yang baru pertama dilihat Donghae—itu menoleh. Tatapannya menyelidiki Adѐlle dan Donghae bergantian seolah dua orang itu adalah sepasang makhluk asing yang telah mengganggu ketentraman hidup adiknya. “Kalian… sebenarnya makhluk apa?”

Menyedihkan!

Tak pantas rasanya bila disebut calon Raja

Bahkan menyelamatkannya saja aku tak bisa

Bagai lelaki tak berguna yang hanya menghancurkan hidupnya

Membuatnya terjebak antara hidup dan mati 

Donghae_

-Sun Hotel-

Cassia baru saja mengeringkan rambut panjangnya ketika dirinya mendapati Siwon tengah meneliti kristal biru safir yang menjadi hiasan liontin silver di tangannya. Seketika gadis itu menghambur, merebut benda itu dan membentak marah, “Aku paling tidak suka bila barang berhargaku disentuh orang lain.”

Siwon terhenyak. Matanya menyipit menatap gadis cantik yang hanya mengenakan jubah handuk berwarna putih di hadapannya. “Aku… aku hanya tak sengaja menjatuhkannya saat… mengambil jaket ini.”

“Tsk, biar bagaimanapun… kau sama sekali tak berhak Tuan,” desis Cassia angkuh lalu merebut jaket coklat di tangan pria itu. Walau alasan sebenarnya, ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada lelaki itu bila berurusan dengan Merѐnia. Seperti yang terjadi pada Neirdos-malang itu, pikir Cassia resah.

“Setelah apa yang terjadi semalam?” Cassia mematung. Tak jadi melangkahkan kakinya ke sisi ruangan yang lain ketika mendengar pertanyaan Siwon. Sekalipun mencoba memungkirinya, Cassia tak bisa menghindari gejolak yang kini timbul di dalam dadanya. Bahkan bila boleh mengaku, ia tak akan segan-segan berlutut untuk mendapatkan malam yang indah dan menggairahkan seperti yang dialaminya bersama Siwon semalam.

“Semalam… bukanlah alasan kuat untukmu dapat memilikiku,” balas Cassia datar, menghalau hasrat primitif untuk membungkam bibir pria itu dengan bibirnya ke tingkat paling rendah. “Karena malam-malam seperti itu, bukanlah hal baru bagiku.”

-Donghae Beach-

“Monster kejaaam!!!” Jonghyun menjerit frustasi setelah mendengar penuturan Donghae dan Adѐlle tentang apa yang terjadi pada Eunhee. Lelaki itu bahkan berniat menghadiahkan tinjunya pada Donghae, namun dengan secepat kilat Donghae mampu menghindar dan memiting satu tangan pria itu ke belakang tubuhnya. Sekalipun Jonghyun adalah juara Taekwondo di kelasnya, sama sekali bukan tandingan Donghae dan Adѐlle. “Lepaskan!” bentak Jonghyun gusar.

“Kumohon tenanglah!” desis Donghae. “Bukan saatnya bagimu untuk marah-marah,” ungkapnya pelan, walau jelas ia pun tak hentinya memarahi diri sendiri atas kejadian yang menimpa Eunhee. Namun demi menjaga wibawanya di depan Neirdos yang mengaku sebagai kakak Eunhee itu, Donghae berusaha menampilkan ketenangan menipu di wajahnya. “Sekalipun kau marah padaku, tak akan mungkin mengembalikan Eunhee seperti sedia kala.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” isak Jonghyun pilu, “Walau Eunhee bukan adik kandungku… tapi ia dan Ayahnya, sudah merawatku sejak kecil dan membiarkanku hidup berkecukupan. Merasakan betapa hangatnya kasih sayang keluarga yang tak pernah kumiliki sebelumnya.”

“Maafkan aku—“

“Aku tak butuh permintaan maafmu!” sungut Jonghyun berang.

“Aku tahu.” Donghae menunduk dalam-dalam, tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan yang kini melandanya. “Aku juga tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Eunhee. Jadi percayalah… aku akan menyelamatkannya, walau nyawaku taruhannya.”

“Apakah aku bisa memegang ucapan Monster jahat sepertimu?”

“Jangan mengatai kakakku seperti itu! Apa kau tidak bisa menangkap kesungguhan dan tekad kuat yang diungkapkan kakaku tadi?” timpal Adѐlle kesal, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan perdebatan Donghae dan Jonghyun. “Dasar Neir—“

“Adѐlle! Hentikan!” potong Donghae cepat, sebelum sang adik membuat Jonghyun menyesal telah mengungkapkan kata-kata kasar itu. “Kita sudah berbuat salah. Kau tak perlu menghukumnya.”

“Setelah keluarga mereka mengambil Merѐnia?” sungut Adѐlle.

“Bukan mereka yang mengambil. Tuan Lee hanya menemukan,” koreksi Donghae.

“Tapi—“

“Hentikan pertengkaran kalian Monster Laut-sialan!” Jonghyun menyela frustasi. “Kondisi adikku jauh lebih penting saat ini.”

“Apa katamu?” Adѐlle sudah bersiap-siap melayangkan kutukannya ketika sekali lagi Donghae berhasil mencegah.

“Sudahlah Adѐlle. Sebaiknya kau katakan, cara apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan Eunhee?” tuntut Donghae tegas.

——————————————————-

Eunhee mengerjap-ngerjapkan matanya pelan. Menatap bingung pada banyaknya wajah yang kini berada di depannya. Pikirannya masih kosong dan berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

Kening gadis itu berkerut bingung, “Kalian… ada apa denganku?” lirihnya heran sembari terus menatap bergantian wajah-wajah tegang di hadapannya.

“Syukurlah Hee, kau akhirnya sadar!” Eunhee tersentak merasakan seseorang menarik tubuhnya ke dalam dekapan hangat yang sudah lama tak dirasakannya.

“Oppa? Jonghyun Oppa?” sebutnya baru menyadari kehadiran pria itu.

Jonghyun melepaskan pelukannya, menatap mata indah gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik kandung sendiri itu. Mata itu menampakkan gurat kehangatan dan kerinduan yang sangat dalam. Hampir dua tahun mereka berpisah, setelah Jonghyun—anak lelaki yang pernah diselamatkan Ayahnya—memutuskan untuk mengadu nasibnya di Seoul.

“Kupikir kau sudah tak ingat pada rumahmu Oppa,” tambah Eunhee ketika lelaki itu hanya diam menatapnya.

“Bodoh! Bagaimana aku bisa lupa pada keluargaku sendiri?” sungut Jonghyun lalu kembali menarik tubuh Eunhee ke dalam pelukannya.

Eunhee terkekeh pelan, gadis itu mengeratkan pelukannya pada tubuh Jonghyun. “Syukurlah, aku cukup kesepian tanpamu dan Appa.”

Gadis itu bisa merasakan kepala Jonghyun mengangguk pelan. “Mianhae…”

Merasakan ada sesuatu yang basah pada bagian punggungnya, Eunhee menjauhkan tubuh Jonghyun dan terkejut mendapati kakaknya itu menangis. “Oppa… kenapa kau…”

Gwaenchana!” Jonghyun cepat-cepat menghapus titik bening di wajahnya dan berusaha tersenyum pada gadis itu. “Aku hanya terlalu merindukanmu bodoh!”

“Hey, kau mengataiku bodoh?” sungut Eunhee kesal. Gadis itu tiba-tiba memutar bola matanya ketika teringat sesuatu. “Ah, apa kalian sudah berkenalan?” tanyanya tiba-tiba sembari menatap Donghae yang sejak tadi hanya berdiri diam di sisi ranjang. Pria itu terlihat tidak seperti biasanya. “Hey, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Eunhee heran ketika dua lelaki tampan tadi hanya saling bertukar pandang dan senyum tipis.

“Tidak ada apa-apa,” kata Jonghyun sembari mengusap bahu Eunhee, menenangkan.

“Kalau tidak ada apa-apa, lalu mengapa kalian semua menatapku seperti ini?” Gadis itu cepat-cepat memperhatikan Donghae, “Hae… jelaskan padaku!” paksa gadis itu.

“Bukankah kakakmu sudah menjelaskan,” ungkap Donghae pelan, lalu memposisikan dirinya di ranjang di sebelah Eunhee. “Kau pingsan karena kelelahan. Tapi syukurlah… kau sudah sehat.”

“Astaga! Berapa lama aku pingsan?” Eunhee menekan keningnya sendiri.

“Tidak lama,” Donghae tersenyum kecil. Menatap lekat-lekat wanita di depannya. Dalam hati memaki diri sendiri karena membuat gadis lugu itu terjebak dalam kehidupan yang begitu sulit.

“Oppa, waktu kita tidak banyak.” Donghae sontak berdiri mendengar gumaman Adѐlle yang berdiri sembari bersedekap di ambang pintu. Di sampingnya, Cassia memperhatikan apa yang terjadi sembari menggeleng pelan.

Eunhee yang sama sekali tak mengerti dengan pembicaraan mereka, mengernyit heran. “Apanya yang tidak banyak?”

Donghae kembali menoleh, menghela nafas kasar karena dilema berat kini menghimpitnya. Dia tak ingin kehilangan gadis itu, tapi ia pun tak sanggup berpisah terlalu lama dengannya untuk mendapatkan ‘sesuatu’ yang dikatakan Adѐlle mampu menyelamatkan Eunhee.

“Jelaskan padanya!” Sekali lagi Donghae terkesiap mendengar gumaman kasar Jonghyun. “Apa perlu aku yang menjelaskannya?” tambahnya keras membuat kening Eunhee semakin berkerut heran.

“Ada apa ini?” Eunhee memijat pelipisnya yang menegang frustasi. “Tolong jelaskan semuanya padaku!”

“Dia Mons—“

“Bisakah kau diam manusia bodoh!” Di luar dugaan Donghae, Adѐlle melangkah dan membekap mulut Jonghyun lalu menyeretnya keluar dari kamar itu. “Lanjutkan saja Oppa!” katanya sebelum menutup pintu kamar.

Meski heran dengan perubahan sikap Adѐlle yang awalnya selalu menentang hubungannya dengan Eunhee, Donghae memilih tak ambil pusing dan kembali memperhatikan gadis yang kini tampak bingung itu lekat-lekat. Menyimpan sebanyak-banyaknya memori tentang gadis itu di otaknya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Eunhee bertanya dengan tak sabar ketika dilihatnya Donghae hanya diam tak bersuara. “Tak seperti biasanya kau begini,” ungkap Eunhee bingung. “Mengapa Neora memanggil Jonghyun Oppa dengan sebutan manusia-bodoh? Kena—”

“Maafkan aku Hee,” sela Donghae lirih sembari meraih dan menggenggam erat tangan Eunhee.

“Apanya yang perlu kumaafkan?”

“Semuanya.” Donghae tersenyum walau dalam hati ada rasa perih yang menyesakkan. Detik berikutnya Eunhee mengalihkan perhatiannya dari mata teduh Donghae pada kilau biru safir yang kini kembali menghiasi leher jenjangnya ketika lelaki itu mengangkat batu seukuran jari kelingking manusia itu.

Omo!” jerit Eunhee senang lalu mengelus lembut permukaan batu itu. “Di mana kau menemukannya?”

“Di saku jaketmu.”

Aigoo… sifat pelupaku semakin parah saja. Syukurlah!” desis Eunhee senang sembari tersenyum lebar. “Terima kasih banyak Hae.”

Donghae mengangguk. “Jagalah dengan baik.”

“Tentu!” Eunhee tak hentinya menatap batu berwarna biru safir itu seolah-olah sedang bercengkrama langsung dengan seseorang yang sangat dirindukannya. “Appa, aku tak menghilangkan benda ini,” bisik gadis itu pada dirinya sendiri.

“Hee…” sebut Donghae membuat Eunhee seketika mengangkat kepalanya menatap lelaki itu.

“Ah, maafkan aku. Aku terlalu rindu pada Appa-ku, sampai lupa kalau kau mau menyampaikan sesuatu padaku,” balas gadis itu riang. Jauh berbeda dari nada bicara sebelumnya.

“Aku tak menyangka, secepat itu kau melupakanku,” Donghae pura-pura merajuk.

“Hey, begitu saja kau marah,” Eunhee terkekeh pelan. “Katakan padaku ada apa? Jangan membuatku penasaran Hae,” desak Eunhee cepat.

Setelah sebelumnya menimbang-nimbang baik buruknya menceritakan yang sebenarnya terjadi pada gadis itu, Donghae berhasil membuka mulutnya dan berkata lambat-lambat, “Bukankah kakakmu sudah kembali… kurasa, tak akan masalah bagimu jika aku pergi.”

“Apa?” Seketika Eunhee merasakan penglihatannya mengabur. Sosok tampan di depannya tak lagi terlihat dengan jelas dan detik berikutnya lelehan air mata hangat mengalir di kedua pipinya. “Kau… akan meninggalkanku Hae?” Sekuat tenaga gadis itu berusaha menahan isakannya dengan mengigit kuat bibir bawahnya.

“Jangan menangis Hee,” bujuk Donghae sembari menyeka air mata yang terus mengalir di pipi lembut gadis itu.

“Kenapa Hae? Kenapa kau ingin meninggalkanku? Apakah karena dua gadis cantik itu, huh?” desak Eunhee gusar, gadis itu tak dapat lagi menahan emosinya memikirkan berbagai kemungkinan Donghae memilih meninggalkannya sendiri. “Aku sudah menduga kau memang tertarik dengan kedua gadis cantik itu…” Kali ini Eunhee bergumam lebih pada dirinya sendiri. Air matanya sudah berhenti mengalir. Dan sejurus kemudian gadis itu tertawa mengejek dirinya sendiri.  “Bodoh!” makinya pelan.

“Hee—“

“Lepaskan!” Eunhee menepis cengkraman Donghae di bahunya. “Pergilah! Jangan biarkan gadis-cantikmu menunggu terlalu lama!”

“Biar kujelas—“

“Kau tidak dengar?” bentak Eunhee berang. “Aku tak membutuhkanmu lagi,” katanya datar. “Seperti apa yang kau katakan tadi… kakakku, Lee Jonghyun sudah kembali. Dan itu artinya… aku tak membutuhkan kehadiranmu lagi di rumah ini.” Gadis itu membuang muka ke tempat lain. Sama sekali tak sudi menatap Donghae.

Merasakan sesuatu yang sakit, Donghae menyentuh dada kirinya. Menggigit bibir bawahnya agar air matanya tidak tumpah. Pria itu mencoba tersenyum meski hatinya terasa perih.

Ya, lebih baik begini. Bukankah pada akhirnya aku dan dia tak akan pernah bisa bersatu. Yang terpenting saat ini adalah… merebut Galѐnia dari tangan Raja Marcus untuk menyelamatkan Eunhee, tekad Donghae dalam hati.

“Kalau begitu, aku pergi dulu Hee.” Eunhee bahkan tak repot-repot memutar kepalanya ketika Donghae berpamitan. “Jaga dirimu baik-baik,” tambah Donghae lalu meninggalkan ruangan itu, walau enggan.

Sepeninggal Donghae, Eunhee menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Menyentuh kristal yang menghiasi leher jenjangnya. Gadis itu terisak, mencoba mencari ketenangan yang selalu dapat diberikan kristal itu sebelumnya. Tapi kini, rasa tenang itu tak juga hadir di hatinya. Semua yang didengarnya dari bibir Donghae, seolah menyesakkan ruang nafasnya dengan merenggut paksa pasukan oksigen yang berhasil dihirup.

“Kau tega Hae…” isak Eunhee pilu.

 

Mungkin salah bila aku menangis

Karena sesungguhnya aku tak pernah memilikinya

Hanya harapan kosong yang selama ini tertanam sia-sia

Tanpa ada sedikit pun kenyataan yang terungkap

Sangat bodoh memang…

Mencintai seseorang yang bahkan tak pernah memikirkanmu

Benar-benar sakit… dan menyesakkan 

Eunhee_

 

——————————————————–

Beberapa saat sebelumnya…

“Katakan padaku! Apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan Eunhee?” desak Donghae frustasi. Lelaki itu kembali menampakkan mata biru-nya yang berkilat-kilat penuh amarah.

Adѐlle menghela nafas frustasi, gadis itu lantas duduk di sofa beledu usang setelah sebelumnya melirik sinis pada Jonghyun yang berdiri mematung menatap keanehan dua makhluk di depannya. “Hanya satu cara yang bisa kau lakukan,” mulainya perlahan. “Tapi… aku tak yakin kau mampu melakukannya Kak!”

“Kau meragukan kemampuanku?”

“Aku bukannya meragukan kemampuanmu. Tapi dalam waktu sesingkat ini…”

“Katakan padaku!” bantah Donghae tegas.

“Galѐnia… apa kau pernah mendengar nama itu?” Donghae menggeleng dan Adѐlle mendecak karenanya. “Kau terlalu banyak membolos!”

“Aku tak butuh omelanmu!”

Adѐlle mendengus keras namun tak akhirnya menjelaskan. “Galѐnia adalah kristal belahan-jiwa Merѐnia. Selama Merѐnia tak disandingkan dengan belahan-jiwanya. Kristal itu akan terus menghisap energi setiap Neirdos yang membawanya. Sedangkan bagi Aegeian seperti kita, Merѐnia sangat membantu karena dapat menunjukkan di mana belahan jiwa kita berada.”

“Lalu… di mana aku bisa menemukan Galѐnia?” desak Donghae tak sabar.

“Kuharap kau masih mengingat kisah cinta terlarang nenek moyang kita, Putri Aleeina…” Kali ini Adѐlle tersenyum melihat sang kakak mengangguk.

“Dia mencintai Putera mahkota Raja Bumi, Gѐthios. Dan terpaksa meninggalkannya karena sang Ayah tidak setuju.”

Adѐlle mengangguk, “Diduga, Gѐthios yang menyimpan Galѐnia karena semenjak perpisahan mereka. Galѐnia yang sebelumnya tersimpan rapi di kuil Hymphe, menghilang.”

“Di mana tepatnya posisi raja bumi sekarang?”

Adѐlle sedikit geli ketika sepintas matanya melirik sosok Jonghyun yang berdiri dengan kening berkerut di sudut ruangan. “Sepertinya ada yang sedang bingung,” ejek gadis itu puas.

“Adѐlle!” Donghae mengabaikan gurauan sang adik karena sama sekali tak merasa terhibur. “Cepat katakan padaku!”

Adѐlle merengut kesal, “Geopegeia—kerajaan Bumi—kalau aku tak salah terka, berada di kaki gunung Bomun, Daejeon.”

“Antar aku ke sana!”

Adѐlle tertawa tanpa rasa humor. “Tanpa pasukan? Jangan harap kau bisa masuk dengan mudah kakak.” Kening Donghae berkerut meminta penjelasan. “Kau terlalu banyak bermain dengan ikan-ikan tak berguna itu!” decak Adѐlle sebal. “Geopegeia… saat ini dikuasai Raja Marcus yang terkenal akan kekejamannya. Raja Marcus tak akan membiarkan siapa pun menyusup masuk ke daerah kekuasaannya tanpa seijin darinya.”

“Aku akan meminta ijin darinya!”

Adѐlle sekali lagi tertawa, kali ini tawanya lebih keras dari sebelumnya namun tawa itu sarat akan nada mengejek. “Oh, kakak… lalu setelah kau meminta ijin masuk ke Geopegeia… kau juga akan meminta ijin mengambil Galѐnia dari tangan Raja Marcus? Itu lucu sekali.”

“Aku akan melakukannya!” Donghae berkeras.

“Tsk, kau terlalu banyak membaca dongeng menyedihkan itu!” sungut Adѐlle kesal. “Kurasa… roman-picisan itu membuat otakmu bergeser dari tempatnya.”

“Aku tak mau tahu… kau harus membantuku!” paksa Donghae tegas yang sekali lagi mengundang dengusan kesal Adѐlle.

“Dan kau akan meninggalkan Neirdos kesayanganmu… yang beberapa jam lagi akan mati itu!” Adѐlle mengingatkan, membuat Donghae terhenyak dan kembali teringat pada Eunhee. Adѐlle benar, bila Eunhee dibiarkan dalam beberapa jam lagi tak menggunakan Merenia, maka bisa dipastikan gadis itu akan mati karena kehabisan energi. “Sungguh rencana yang sia-sia!”

“Kau bilang apa? Adikku akan mati dalam beberapa jam lagi?” tiba-tiba tanpa diduga, Jonghyun beranjak dari tempatnya dan menjerit frustasi.

“Diam kau manusia bodoh!” rutuk Adѐlle sinis dengan kilatan mata biru yang seketika membuat Jonghyun gemetar.

“Aku akan mencari Merѐnia dulu… ya, itu yang akan kulakukan!” Donghae bergumam pada dirinya sendiri.

“Dalam waktu sesingkat ini?” Adѐlle mendesis, “Ayolah kakak! Kembalikan akal sehatmu! Lebih baik kita pergi dari sini, dan kembali pulang ke Aegeia. Ayahanda sudah—“

“Katakan padaku dimana kau menyimpan Merѐnia?!” Donghae menyela cepat ucapan Adѐlle. “Kau tak akan mengajakku pulang ke Aegeia jika tanpa Merѐnia di tangan!”

“Sial!” maki Adѐlle setelah menyadari kesalahannya.

  

Kendati sulitnya melebihi menggapai bintang di langit

Tak ada yang dapat menghentikan tekadku

Menyelamatkanmu adalah tujuan utama dalam hidupku

Meski nyawaku menjadi taruhannya

Donghae_

TBC

KYAAAAA!!!! Ya Tuhaaaan!!! Mudah2an gak GaJe!! Hikss… TT___TT
Udah lama gak bikin FF Fantasy, kagok lagi bikin lanjutan FF ini.
Maaf banget klo ceritanya jadi Aneh dan menyesatkan (?) begini. Saya cuma bisa berharap, kalian semua terhibur setelah membacanya *lebbe*
*sembunyi di kulkas* #ehh

32 thoughts on “It’s You -Part 3-

  1. eunhee mati beberapa jam lagi???andwaeeeeeeee

    ya ambruk (?) eunhee ngamuk kek sekali2,jngan menye2 gitu*dikeplak*

    ihiiiiiiir marcus nongol.rame dah..,,itu itu apaan eoo ga ditayangin(?) ini adegan siwonnya*plakk* otak minta direndem nih -,-

    buruan HAE!!! selametin eunhee !

    • Aduh, aku lupa nyelipin penjelasan klo Eunhee bakal mati klo gak pake Merenia… tapikan Merenia udah kembali say, jadi tenang ajah kkkk
      Halah… tetep aja nih, otakyadong!! xD

  2. huaaaahhhh ada my baby JOng….
    jonghyun oppanya eunhee?? g salah mak??? itu ada bapak marcus juga mau ikutan?? hiahahahha

    aku sukahhhh kapan lagi coba bisa bentak2 hae..
    besok aku kenalin couplenya Jonghyun,, Neora mah cuma buat Kyu,, #esssaaahhh

    aku mencintaimu,,,, #cium basah

    ehh park eon enak amat.. mau dong gantiin.. #plakkk

  3. huaaa…knp jd mkin galau gini eon..T.T
    wlau sblmy smpet sbel ma adelle tp da baikny jg trnyt,.
    salut sklgus kshn ma hae oppa,tp q hrap dy brhsl nylmtin nyawanya hee,.mg mrka bs brstu dh pkokny,smua kptusn da dtngn eonni neh,hehehe
    q brhrap g sad end dh eon,^^
    eonni fighting!!!!!!!!

  4. eonnniyaaaa,..

    mau brp jempol? gila keren, saeng ska gaya eon nulis,..eaaa

    omo, hee malang bgd nasibmu, ketergantungan sma bnda yg sbner.a membawa petaka,..

    eh? wonie, apa yg sudah kau lakukan semalam dgn gadis itu,…. -_______-

    eonni makin lama makin pinter buat qoutes,..^^b

    Sbentar, Marcus,.. >< owh, my lovely Kyu knpa jd org jahat cba, ayolah eonni saeng penasaran tingkat akut,…

  5. saengi-ah,,,,,,sumpah ya keren badai nih lanjutannya,,,,,,
    itu si adelle dipasangin ma jong aja abis lucu sih liat mereka berantem mulu,hehehe,,

    kyaaaa,,,,kyaa,,,ada selingkuhanku juga ternyata*lirik kyu*
    #dihajar sparkyu
    itu adegan abang kuda ma cassia napa g diliatin saeng?????
    *pasang tampang polos*

    ayo hae,,,,semangat buat nemuin pasangannya merenia yg apaan tuh namanya,oen lupa*plak*
    biar bisa cepet bersatu ma eunhee,,,,
    intinya,,,,semua DAEBAK!!!!!!

    lanjutannya jgn lama” ya saeng😉

    • haha…. GamsaHAE Eonnie!!! Aduh… jadi maluu #apadeh
      wah… belom2 udah ada yg tertarik ama mereka yah?? *lirik Adelle kkk
      Hadaahh… banyak Yadongers rupanya di sini #Ehmm

      mudah2an gak lama Eon! Tapi ngeliat jadwal padat… jadi gak yakin kkkk

  6. hhhuuuaahhhh >< eonnie kesan pertama dari nih ff aku mau kritik ah , msa baru bca lngsung tbc ? brarti kependekan eon , panjangin panjangin(?) *demo sama hae* #kkaaabbuurr wkwk
    trus itu pas si hee bangun trus hae mau pamit , rsanya mau aku tarik si hee jdi cewe kok lembek amet eon hrusnya dia teriak2 tu didepan hae *dijitak hae hee* dan donge ? wuuah eh abang dirimu cengeng ih *dibuang kekali aku* wkwkwk
    trus trus aku cengo pas si cassia sma siwon ? msa udh pagi bae *otak mulu eror* wkwk tpi tenang eon saya nggak ngrep kok cuma klo diksih ya saya baca😄 raja marcus ? *senggol kyu , dijitak lagi* asik ada pertempuran hyeong dan dongsaeng😀 wuahahah ayo siapa yg menang ? yg menang dpet pelukan aku (?) hahaha maunyah😀 dan yg terakhir tetep suka sifatnya adelle *toss cuek jutek dan kurang ajar (?) sama kakanya *emansipasi ade😄 oke ini komen kaya ffnya puanjang ya eon , mianhae😀

    • OMO!!! segini kurang panjang?? ckckck… heran deh, doyan banget ama yg panjang-panjang (?) #Ehhh
      Itu kan si Hee udah bentak2 Hae??? -,-
      Halah… gatel nih ah?? Minta digaruk yah? wkwkwk

  7. setelah sekian lama menunggu akhir’y nie ff muncul juga #apalah

    ko aku waktu baca serasa kya lg nonton film action ea tngang N seru bgt,
    keren

    sempet bingung waktu ada ribut2 kakak2’y eunhe datang *efek otak d anggurin terlalau lama* tp selebih’y keren,
    fell’y dapet truz jg kta2’y mdah d ikutin pokoko’y keren dhh,

    d tnggu next part’y ^^

  8. AAAAAAAAAAAAAA!!! seruuuuuuuuuuuuuuuuuu!!! palagi scene ku ma siwon #bias kekeke~~ gomawo lee ^^ *hugs*

    akhirnya muncul jg pasangan jiwa si rika.. kekeke~

    ini makin rumit tp makin asyik ceritanya!! ada raja bumi, si marcus ma galenia segala.. ckkck.. makin creative si lee..
    si Eunhee salah paham, padahal si ikan daa rela ngorbanin dirinya demi nyelamatin nyawa hee.. hoakakkkk.. tp bener itu obrolan dy ama adelle.. soal minta ijin masuk ke kerajaan bumi sama minta ijin ngambil galenianya.. hoakakk.. donge bener2 dongdong.. hahaha..

    lanjuuuuuutttt lee!!!

    • hahaha… MianHAE Park, kalo kau kecewa ama adeganmu ama Wonnie :p
      Aku takut klo dijelasin ntar pada kabur yg baca wkwkwkkw

      Gomawooo…. Gomawooo… aduh, dibilang Kreatip ama Author-Hebat… jadi MALUUU #Plokk
      si Donge emang dong2nya PARAHH banget! -_-
      okee… ditunggu ajah ^^

  9. waaahhhh yg d tungu2 akhir ny publish….
    perjuangan hae d mulai…
    wahhh kali ini berhadapan dgn marcus…kyuhyun kan???
    lanjutttt chingu fighting!!fighting!!!

  10. hualahhhh FF ini muncul jga ….
    Keren kok eon, gak gaje …!!

    Ida Imnida, aku reader baru
    Bangapseumnida eonni ^^
    Aku bru bca FF ini dari part 1 smpe yg ini, semuanya debakkk !!! Mian ya eonn baru komen skrang …
    Hehehe😄

  11. hyaaah..
    bru bisa bc skrg, sya tlat brapa hr nih..u.u..
    unn, tmbh seru deh critanya, nggk gaje..hehe.., dpt inspired drmana seh unn? nama2 yg dipake keren sih..hehe
    saya tnggu part slanjutny aja unn.. xD

  12. kmarin2 sayanya uda mulai kull ni unn, mkanya telat deh..
    ok, dg sbar akn sy tnggu..keke~
    ah, tny lg dong, jonghyun dsitu, lee jonghyun ya unn?

  13. walau sudah terlampau lama, aku tetep pengen comment ya ssaeng…
    kyaa.. andwe,, jangan pake meninggal si Hee-nya..
    Mwo!!! muncul Marcus Cho.. ooooo
    bisakah suamiku DongHae memperjuangkan cintanya??? (gak penting)
    ditunggu lanjutannya dongsaeng-a.. penasaran ..
    mian- mian-ya commentnya rada ga jelas gini, saya pergi dulu see you in next chapter (comment-ku maksudnya.. dasar SKSD -.-)

  14. hhmmmm…. kasian juga si eunhee.. jafi lemah gt…. dan bisa meninggal…

    jd pasangannya mernia itu yg bs menyelamatkan eunhee? tp itu ada d kerajaan marcs.. aq bayanginnya kyu.. bener kan? secara nama marcus dan kejam itu kan emang kyu. haha

    oh aiden… cepat temukan pasangan merenia itu….

  15. Nyesek nya part ini…
    😥

    Aiden harus menyelamatkan Eunhee…
    Andwae, Eunhee gak boleh meninggal… #prustasi

    marcus?? sepertinya kgk asing…. aish! Itu pasti setan bermarga Cho #haaaahh??

    Demi kecintaanku pada es krim, temukanlah galenia secepatnnya…
    SEMANGKAAA ^semangat kakak^

    Jgn biarkan Eunhee pergi Aiden….
    berjuanglah!!! aku selalu disimuuuuhhh… #garokkepalabanyakkutu ^abaikan^

    SEMANGKAAA>>>>SEMANGKAAAAAAA ikan lele kuuuuuuuuuuuuu :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s